Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Perbedaan antara Habitat, Ekosistem, dan Bioma, Apa Saja?
Pernah mendengar istilah habitat, ekosistem, dan bioma, tapi bingung apa bedanya?
Ketiga konsep ini memang sering tertukar, padahal masing-masing punya fungsi dan makna penting dalam memahami dunia lingkungan.
Memahami perbedaan di antara ketiganya bikin kita lebih peka terhadap kondisi lingkungan. Apalagi, saat ini sekitar satu juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah akibat perubahan habitat dan rusaknya ekosistem.
Artikel ini akan membantumu mengenali perbedaan ketiganya secara mudah, lengkap dengan contoh nyata yang bikin penjelasannya makin jelas!
Definisi Umum Habitat, Ekosistem, dan Bioma
Definisi Habitat
Habitat adalah lingkungan spesifik tempat suatu organisme hidup dan memenuhi kebutuhan dasarnya, mulai dari makanan, air, perlindungan, hingga ruang untuk berkembang biak.
Kalau manusia punya rumah, kamar, atau lingkungan tempat tinggal, hewan dan tumbuhan pun punya “rumah” alami masing-masing. Itulah yang disebut habitat. Contohnya: kolam bagi katak, padang rumput bagi zebra, atau tanah lembap bagi cacing.
Definisi Ekosistem
Ekosistem adalah “keseluruhan lingkungan” yang mencakup makhluk hidup dan unsur tak hidup yang berinteraksi satu sama lain. Di dalam ekosistem terjadi aliran energi (misalnya rantai makanan) dan siklus materi (seperti air dan karbon) yang menjaga keseimbangannya.
Jika habitat diibaratkan rumah, maka ekosistem adalah rumah + seluruh aktivitas dan hubungan antar penghuninya. Ekosistem terdiri dari:
Bioma adalah kelompok ekosistem berskala besar yang memiliki pola iklim, vegetasi, dan organisme yang mirip secara global. Bioma bisa mencakup banyak ekosistem sekaligus, selama karakter lingkungannya serupa.
Skalanya jauh lebih luas daripada habitat atau ekosistem. Contohnya, hutan hujan tropis, sabana, gurun, tundra, taiga, hingga bioma laut.
Habitat berfokus pada tempat fisik dan kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan suatu spesies. Elemen utamanya meliputi:
Faktor abiotik: suhu, kelembapan, cahaya matahari, jenis tanah, dan ketersediaan air.
Sumber daya penting: makanan, tempat berlindung, area mencari makan, dan lokasi berkembang biak.
Sifatnya spesifik: setiap spesies bisa punya habitat yang berbeda, meskipun berada dalam area geografis yang sama. Misalnya, burung hutan tinggal di tajuk pohon, sementara serangga memilih lapisan tanah lembap di bawahnya.
Komponen Penyusun Ekosistem
Ekosistem jauh lebih kompleks karena melibatkan interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan fisiknya. Komponennya terbagi dua:
1. Komponen biotik (makhluk hidup)
Produsen: tumbuhan dan alga yang menghasilkan energi melalui fotosintesis.
Konsumen: hewan pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora), atau omnivora.
Pengurai: jamur dan bakteri yang menguraikan sisa organisme menjadi nutrisi bagi tanah.
2. Komponen abiotik (tak hidup): Cahaya matahari, suhu, curah hujan, air, tanah, dan udara.
Semua bagian ini saling terhubung. Misalnya, curah hujan memengaruhi pertumbuhan tanaman; jumlah tanaman memengaruhi populasi herbivora; dan seterusnya membentuk rantai hubungan yang menjaga keseimbangan ekosistem.
Komponen Penyusun Bioma
Bioma berada pada skala yang jauh lebih luas, sehingga komponennya disusun berdasarkan pola iklim dan vegetasi yang mendominasi wilayah tersebut. Unsur utamanya mencakup:
Iklim: Suhu rata-rata dan curah hujan adalah faktor kunci yang menentukan jenis bioma, seperti gurun, tundra, atau hutan hujan tropis.
Jenis tanah: Menentukan jenis tanaman yang bisa tumbuh dan memengaruhi karakter ekosistem di dalam bioma tersebut.
Vegetasi dominan: Misalnya hutan konifer di bioma taiga, rumput pendek di padang rumput, atau kaktus di gurun.
Fauna khas: Hewan yang beradaptasi khusus dengan kondisi iklim dan vegetasi bioma, misalnya unta di gurun atau beruang kutub di tundra.
Spesies dan Tingkatan Trofik Habitat, Ekosistem, dan Bioma
Spesies dan Tingkatan Trofik Habitat
Di tingkat habitat, perhatian kita tertuju pada satu spesies utama dan tempat yang memenuhi seluruh kebutuhannya. Habitat membahas bagaimana suatu organisme bertahan hidup: di mana ia tinggal, apa makanannya, dan kondisi lingkungan seperti apa yang ia perlukan.
Dalam sebuah habitat biasanya ada:
Spesies target: Organisme utama yang menjadi fokus, misalnya elang yang menghuni tebing batu.
Spesies pendukung: Organisme lain yang membantu kelangsungan hidup spesies target, contohnya tikus sebagai mangsa elang.
Karena habitat lebih fokus pada satu spesies, tingkatan trofik di sini hanya digunakan sebagai gambaran dasar, seperti:
Produsen: tumbuhan atau fitoplankton
Konsumen primer: herbivora seperti kelinci
Konsumen sekunder/tersier: karnivora seperti ular atau elang
Namun, pembahasan trofik biasanya tidak mendalam karena habitat bukan membahas sistem interaksi penuh, melainkan “rumah” untuk satu jenis makhluk hidup.
Spesies dan Tingkatan Trofik Habitat Ekosistem
Berbeda dengan habitat, ekosistem menyoroti hubungan antar-spesies dalam satu kesatuan lingkungan. Di sinilah tingkatan trofik menjadi sangat penting, karena ekosistem bergantung pada aliran energi dari satu tingkat ke tingkat lain.
Urutan tingkatan trofik dalam ekosistem umumnya:
Produsen (Trofik 1):Tumbuhan, alga, atau fitoplankton yang menghasilkan energi melalui fotosintesis.
Konsumen primer (Trofik 2): Herbivora seperti belalang, kambing, atau kelinci.
Konsumen sekunder (Trofik 3): Karnivora tingkat rendah seperti ular atau katak.
Konsumen tersier (Trofik 4): Predator puncak seperti elang, harimau, atau buaya.
Detritivor dan pengurai: Cacing tanah, jamur, dan bakteri yang menguraikan sisa organisme menjadi nutrisi bagi produsen.
Ekosistem tidak hanya membahas “siapa memakan siapa”, tapi juga bagaimana perubahan pada satu spesies dapat berdampak pada seluruh jaringan makanan (food web).
Spesies dan Tingkatan Trofik Habitat Bioma
Pada tingkat bioma, skala yang dibahas jauh lebih besar. Fokusnya bukan pada satu spesies atau satu ekosistem, melainkan pola besar yang terus berulang di berbagai wilayah dengan iklim dan vegetasi yang serupa.
Karakteristik trofik dalam bioma umumnya bersifat umum, seperti pola di padang rumput:
Produsen: rumput
Konsumen primer: herbivora besar seperti zebra, bison, atau rusa padang rumput
Konsumen sekunder/tersier: predator seperti singa, serigala, atau cheetah
Menariknya, pola ini ditemukan di berbagai padang rumput dunia walau spesiesnya berbeda-beda. Inilah yang membuat bioma lebih fokus pada struktur ekologi, bukan jenis spesies tertentu.
Secara umum, aliran energi dalam bioma dibedakan menjadi:
Bioma produktif: Seperti hutan hujan tropis yang memiliki produsen melimpah dan rantai makanan lebih panjang.
Bioma ekstrem: Seperti gurun atau tundra, yang memiliki rantai makanan lebih pendek karena keterbatasan sumber daya.
Contoh Habitat, Ekosistem, dan Bioma
Contoh Habitat
Gajah berjalan di rerumputan, habitatnya / Sumber: Britannica
Untuk memahami habitat secara lebih nyata, kita bisa melihat contoh langsung di alam. Bayangkan seekor gajah berjalan di hamparan rumput luas dengan latar Gunung Kilimanjaro di Tanzania.
Gajah tersebut hidup di habitat padang rumput sabana, wilayah yang dipenuhi rumput tinggi, beberapa pohon, dan sumber air musiman. Habitat seperti ini menyediakan semua kebutuhan hidup gajah, seperti:
Makanan: rumput, daun, dan kulit pohon
Air: dari sungai atau genangan air saat musim hujan
Ruang jelajah: area luas untuk berpindah mencari sumber daya
Perlindungan: pohon-pohon besar sebagai tempat berteduh dari panas atau predator
Habitat sabana sangat penting bagi keberlangsungan hidup gajah. Perubahan kecil bisa langsung memengaruhi kesehatan dan populasi mereka. Gajah bergantung pada habitat stabil, sehingga kerusakan lingkungan menjadi ancaman serius bagi spesies ini.
Contoh Ekosistem
Ekosistem bawah laut: ikan berenang dan terumbu karang / Sumber: Jogjaprov
Beranjak dari satu spesies, kita masuk ke tingkat yang lebih kompleks: ekosistem. Salah satu contoh paling menakjubkan adalah ekosistem terumbu karang.
Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Di dalamnya terdapat interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan fisiknya:
Komponen Biotik
Produsen: alga dan fitoplankton
Konsumen primer: ikan herbivora seperti ikan kepe-kepe
Konsumen sekunder/tersier: ikan predator, seperti barakuda
Pengurai: bakteri dan organisme kecil yang menguraikan sisa organik
Komponen Abiotik
Cahaya matahari yang cukup karena perairan dangkal
Suhu air laut yang hangat dan stabil
Salinitas tertentu
Struktur karang sebagai tempat hidup berbagai organisme
Ekosistem ini sangat rentan terhadap gangguan, mulai dari pencemaran, penangkapan ikan berlebih, hingga pemanasan global yang menyebabkan coral bleaching. Jika salah satu komponen rusak, misalnya karangnya mati, maka seluruh ekosistem bisa runtuh.
Contoh Bioma
Pohon kering dalam bioma stepa atau padang rumput / Sumber: Kompas
Pada tingkat paling luas, kita mengenal bioma, kumpulan ekosistem dengan karakter iklim dan vegetasi serupa. Salah satu contohnya adalah bioma stepa, atau padang rumput kering.
Bioma stepa memiliki ciri:
Curah hujan rendah, lebih kering dari hutan tetapi masih mendukung vegetasi rumput
Vegetasi didominasi rumput dan semak pendek, dengan pohon yang sangat sedikit
Suhu ekstrem: panas di siang hari, dingin pada malam hari
Fauna khas: bison, rusa, serigala, dan burung pemangsa
Bioma stepa tidak hanya ada di satu tempat, tetapi tersebar di berbagai belahan dunia seperti:
Stepa Asia Tengah (Kazakhstan, Mongolia)
Prairie di Amerika Utara
Sabana Afrika (dengan vegetasi lebih banyak pohon)
Agar lebih jelas, berikut tabel perbandingan ketiganya:
Aspek Pembeda
Habitat
Ekosistem
Bioma
Pengertian
Tempat tinggal alami suatu organisme.
Interaksi antara makhluk hidup dan komponen lingkungan dalam satu kesatuan yang saling memengaruhi.
Kumpulan ekosistem berskala besar dengan pola iklim, vegetasi, dan organisme yang mirip.
Skala
Paling kecil dan spesifik untuk satu spesies.
Lebih luas karena mencakup banyak organisme dan faktor lingkungan.
Paling luas, mencakup banyak ekosistem dalam wilayah geografis besar.
Komponen Utama
Faktor abiotik dan sumber daya yang dibutuhkan spesies tertentu.
Komponen biotik (makhluk hidup) dan abiotik (fisik), beserta interaksinya.
Iklim, jenis tanah, vegetasi dominan, dan fauna khas.
Fungsi
Menyediakan kebutuhan dasar dan ruang hidup spesies.
Menjaga keseimbangan proses alam melalui aliran energi dan daur materi.
Menentukan karakter kehidupan pada tingkat global berdasarkan kondisi iklim.
Contoh
Lubang pohon sebagai habitat burung; kolam sebagai habitat katak.
Ekosistem hutan mangrove, ekosistem danau, ekosistem padang rumput.
Bioma hutan hujan tropis, gurun, tundra, savana.
Saatnya Lebih Peduli pada Lingkungan Kita
Memahami perbedaan antara habitat, ekosistem, dan bioma membantu kita melihat betapa luas dan rumitnya kehidupan di bumi. Ketiganya saling terhubung dan sama-sama berperan menjaga keseimbangan alam.
Mulai dari tempat tinggal satu spesies, interaksi antar-organisme, sampai pola iklim yang membentuk kehidupan dalam skala besar, semuanya adalah bagian dari satu kesatuan yang tak terpisahkan. Semoga pemahaman ini membuat kita semakin peduli terhadap kelestarian alam dan siap berkontribusi menjaga keberlanjutan bumi yang kita tinggali bersama!
Biomes, Ecosystems & Habitats — National Geographic Society Education [Buka]
Biomes, Ecosystems & Habitats (PDF) — National Geographic Magazine Media File [Buka]
Featured image: Gambar ilustrasi perbedaan habitat, ekosistem, dan bioma / Sumber: Kompas
Menjaga Keseimbangan Ekosistem: Manfaat, Contoh, dan Peran Masyarakat
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Pernahkah kamu berpikir bahwa langkah-langkah kecil yang kita lakukan bisa memberikan dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem?
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari cara-cara menjaga ekosistem dan memahami mengapa upaya tersebut sangat penting. Selain ini bermanfaat bagi kita sebagai generasi saat ini, langkah ini juga memberikan harapan agar generasi yang akan datang bisa menikmati lingkungan yang sehat dan seimbang.
Yuk, simak penjelasan lebih lanjut di artikel ini!
Pengertian Tentang Keseimbangan Ekosistem dan Mengapa itu Penting
Sederhananya, keseimbangan ekosistem adalah kondisi di mana berbagai komponen ekosistem, seperti tumbuhan, hewan, mikroorganisme, air, dan tanah, berada dalam hubungan yang stabil untuk mendukung keberlangsungan makhluk hidup.
Sobat #KonservasYIARI, berikut beberapa alasan mengapa keseimbangan ekosistem sangatlah penting:
1. Penyediaan sumber daya alam
Jika ekosistem seimbang, kebutuhan akan sumber daya alam seperti air bersih, udara sehat, dan tanah subur akan lebih terpenuhi.
Sebaliknya, kondisi ekosistem yang tidak seimbang bisa mengurangi kemampuan menyediakan sumber daya tersebut, sehingga berdampak langsung pada kualitas hidup kita sebagai manusia.
2. Menjaga rantai makanan
Setiap organisme memiliki peran penting dalam rantai makanan. Jika salah satu komponen terganggu (misalnya hilangnya predator), populasi hewan mangsa bisa melonjak. Alhasil, ini menyebabkan vegetasi rusak dan akhirnya mengganggu seluruh ekosistem.
3. Melindungi keanekaragaman hayati
Semakin tinggi tingkat keanekaragaman hayati, semakin stabil pula ekosistemnya. Hal ini terjadi karena setiap spesies berperan dalam fungsi ekosistem, seperti penyerbukan, pengendalian hama, dan lainnya.
4. Mengatur Iklim
Keseimbangan ekosistem memungkinkan peran dalam mengatur iklim melalui proses seperti penyerapan karbon oleh tanaman, yang penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Contoh Praktik yang Dapat Mendukung Keseimbangan Ekosistem
Ilustrasi penanaman hutan kembali (Pagguci)
Setelah mengetahui betapa pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, kita perlu menerapkan praktik-praktik yang mendukung keseimbangan tersebut. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita lakukan:
1. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
Istilah ini mungkin sudah sering sobat dengar, ya.
Mengurangi penggunaan, menggunakan kembali, dan mendaur ulang limbah sangat penting untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Ini karena banyaknya sampah plastik dan bahan-bahan lain yang sulit terurai.
2. Konservasi hutan dan reforestasi
Hutan memegang peranan penting dalam menyerap karbon dioksida, menjaga siklus air, dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies. Langkah yang dapat kita lakukan adalah melindungi hutan yang ada, sekaligus melakukan penanaman pohon kembali di lahan yang telah mengalami deforestasi.
3. Penggunaan pupuk organik
Penggunaan pupuk organik dalam pertanian merupakan salah satu langkah penting dalam mewujudkan praktik pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pupuk organik berasal dari sumber alami seperti kompos, kotoran hewan, dan sisa tanaman, yang dapat memperkaya struktur tanah dan meningkatkan kesuburan tanpa menimbulkan pencemaran.
Penggunaan pupuk organik mendukung kehidupan mikroorganisme dalam tanah, yang berperan penting dalam proses dekomposisi dan penyerapan nutrisi.
4. Mengolah limbah domestik
Mengolah limbah domestik secara efektif merupakan salah satu langkah krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Dengan mengelola limbah rumah tangga—mulai dari sampah organik sampai limbah cair—dengan cara yang tepat, kita bisa mengurangi polusi yang masuk ke lingkungan.
Peran Masyarakat dan Kebijakan dalam Menjaga Keseimbangan Tersebut
Rabu (18/7/2018), Kepala Desa Tibubeneng beserta staf dan pedagang sekeliling pantai Berawa melakukan pelepasan Tukik (anak penyu) yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan pantai (https://desatibubeneng.badungkab.go.id/)
Sobat #KonservasYIARI, selain upaya-upaya yang telah disebutkan, kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan ekosistem juga memiliki peran krusial. Kesadaran ini bisa dibangun melalui pendidikan, kampanye, dan program-program kesadaran lingkungan.
Sebagai individu, tindakan nyata dan dukungan kita terhadap kebijakan lingkungan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Berikut beberapa kontribusi yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat dalam pelestarian ekosistem:
1. Keterlibatan dalam konservasi alam
Kita dapat terlibat secara aktif dalam upaya konservasi, seperti reforestasi, pengelolaan sampah, dan mendukung program pelestarian satwa liar. Keterlibatan masyarakat lokal sering kali secara signifikan meningkatkan keberhasilan inisiatif konservasi.
2. Pendidikan dan kesadaran lingkungan
Pendidikan lingkungan bisa mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap ekosistem. Menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem melalui program pendidikan di sekolah dan komunitas bisa membentuk perilaku yang lebih ramah lingkungan.
3. Dukungan untuk kebijakan lingkungan
Dukungan masyarakat terhadap kebijakan lingkungan yang dikeluarkan pemerintah memegang peranan penting dalam upaya pelestarian lingkungan. Hal ini mencakup berbagai aspek, seperti mendukung undang-undang yang bertujuan untuk konservasi alam, mengurangi penggunaan bahan plastik sekali pakai, dan mengadopsi kebijakan energi terbarukan.
Misalnya, dengan memilih untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat secara langsung berkontribusi pada pengurangan sampah dan pencemaran.
Demikian pula, mendukung inisiatif pemerintah dalam promosi penggunaan energi yang lebih bersih dan terbarukan seperti tenaga surya atau angin, bisa membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mengurangi jejak karbon.
4. Mengurangi jejak karbon
Kita bisa mengurangi jejak karbon melalui tindakan sehari-hari, seperti menggunakan transportasi umum, menghemat energi, dan mendukung produk ramah lingkungan. Perilaku seperti ini, jika dilakukan secara masif, dapat memberikan dampak besar dalam mengurangi emisi karbon.
Perlu dipahami bahwa menjaga keseimbangan ekosistem tidak hanya penting bagi pelestarian alam, tetapi juga esensial untuk melindungi keberlanjutan kehidupan manusia di bumi.
Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan upaya bersama yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, penerapan kebijakan pemerintah yang efektif, serta perubahan perilaku sehari-hari.
Setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga alam; mulai dari mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, hingga berpartisipasi dalam program reforestasi dan konservasi. Langkah-langkah kecil yang kita lakukan sekarang dapat membawa perubahan besar untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Mari ambil bagian dalam peran menjaga alam. Yuk, mulai dari sekarang!
Sampah Plastik: Ancaman bagi Lingkungan dan 13 Cara Efektif Menguranginya
Sobat #KonservasYIARI, bayangkan lautan biru yang tenang tiba-tiba berubah menjadi hamparan sampah plastik yang tak terhindarkan.
Setiap tahun, jutaan ton plastik terbuang ke lingkungan kita—lautan, sungai, dan bahkan lingkungan sekitar rumah. Kehadiran sampah plastik ini bukan hanya memperburuk pemandangan, tapi juga bertahan selama ratusan tahun, meracuni tanah dan air serta membahayakan kehidupan makhluk hidup.
Dari penyu sampai ikan, banyak hewan laut mengonsumsi plastik yang mereka anggap makanan, sering kali dengan akibat yang fatal. Lebih jauh, mikroplastik yang lepas ke dalam ekosistem kita berakhir di rantai makanan—dan pada akhirnya di piring kita—mengancam kesehatan kita dan merusak industri vital seperti pariwisata dan perikanan.
Saatnya bagi kita semua untuk bertindak. Dengan teknologi inovatif, kebijakan yang ketat, dan edukasi yang luas, kita dapat bergandengan tangan untuk memerangi polusi plastik dan melindungi keberlanjutan planet kita untuk generasi yang akan datang.
Dampak Sampah Plastik bagi Lingkungan
Seorang anak kecil bermain di tengah tumpukan sampah (Pixabay)
Berikut beberapa dampak negatif sampah plastik bagi lingkungan, sob:
1. Polusi laut
Sampah plastik yang masuk ke perairan laut membahayakan banyak spesies laut. Hewan seperti ikan, burung laut, dan penyu seringkali salah mengira plastik sebagai makanan. Ketika mereka menelan plastik, ini bisa menyumbat saluran pencernaan, menyebabkan kelaparan, dan pada akhirnya kematian.
Plastik yang mengapung di permukaan laut juga bisa menjebak hewan-hewan besar seperti anjing laut dan lumba-lumba, yang bisa mengalami cedera serius atau kematian.
Dampak ini tidak hanya mengancam kehidupan laut tetapi juga berdampak pada manusia, yang mungkin mengkonsumsi seafood terkontaminasi mikroplastik.
2. Kerusakan ekosistem
Saat plastik terurai menjadi mikroplastik, partikel-partikel kecilnya bisa menyebar dan mengkontaminasi ekosistem darat serta air. Ini termasuk tanah, sungai, dan lautan.
Mikroplastik dalam ekosistem bisa mengganggu rantai makanan, mulai dari organisme kecil seperti plankton hingga hewan di puncak rantai makanan, seperti predator besar.
3. Kesehatan manusia
Mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh hewan laut dapat diserap ke dalam jaringan mereka, menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan gangguan reproduksi.
Manusia, yang sering berada di puncak rantai makanan, juga berisiko terpapar mikroplastik melalui konsumsi ikan dan seafood yang terkontaminasi. Ini bisa berdampak negatif pada kesehatan manusia.
13 Cara Mengurangi Sampah Plastik
Menggunakan kotak makan reusable sebagai salah satu upaya mengurangi sampah plastik (Pixabay)
Sobat bisa berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik dengan cara berikut, loh!
1. Gunakan kantong belanja reusable
Mulailah membawa kantong belanja yang bisa dipakai ulang setiap kali kamu pergi berbelanja. Kantong ini biasanya terbuat dari bahan yang kuat dan tahan lama, seperti kain atau jaring.
Dengan menggantikan kantong plastik sekali pakai, kamu tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendukung upaya pengurangan polusi plastik.
Banyak toko bahkan menawarkan diskon bagi pelanggan yang membawa kantong sendiri, jadi ini bisa juga membantu menghemat pengeluaranmu.
2. Hindari produk dengan kemasan berlebihan
Saat berbelanja, carilah produk yang kemasannya minimal atau bahkan tanpa plastik. Produk dengan bahan kemasan yang ramah lingkungan, seperti kertas atau bahan biodegradable lainnya, adalah pilihan yang lebih baik.
Pertimbangkan juga untuk membeli produk dalam jumlah besar atau yang menawarkan opsi isi ulang.
3. Bawa botol minum sendiri
Kurangi penggunaan botol plastik sekali pakai dengan membawa botol minum sendiri dari rumah. Botol yang bisa dipakai ulang, seperti yang terbuat dari stainless steel atau kaca, lebih tahan lama dan aman untuk kesehatan karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
4. Hindari sedotan plastik
Alih-alih menggunakan sedotan plastik sekali pakai yang sering menyumbang pada polusi plastik, pertimbangkan untuk menggunakan sedotan dari stainless steel, bambu, atau kaca. Sedotan jenis ini dapat digunakan berkali-kali, mudah dibersihkan, dan lebih tahan lama. Dengan beralih ke sedotan reusable, kamu dapat mengurangi jumlah plastik yang berakhir di lingkungan (terutama lautan), sekaligus membantu dalam upaya global untuk mengurangi sampah plastik.
5. Pilih wadah makanan reusable
Daripada menggunakan wadah plastik sekali pakai, pakailah wadah makanan dari kaca atau stainless steel yang lebih aman dan tahan lama. Wadah jenis ini tidak mengandung bahan kimia berbahaya yang bisa lepas ke makanan dan dapat digunakan berulang kali, sehingga mengurangi kebutuhan akan wadah plastik baru.
Wadah reusable juga lebih efektif dalam menjaga makanan tetap fresh.
6. Gunakan alat makan reusable
Ketika makan di luar atau membawa makanan dari rumah, bawalah alat makan reusable seperti sendok, garpu, dan sumpit yang terbuat dari bahan yang tahan lama seperti stainless steel atau bambu.
Alat makan ini bisa digunakan berulang kali dan membantu mengurangi jumlah alat makan plastik sekali pakai yang dibuang. Ini adalah cara praktis untuk mendukung gaya hidup zero waste dan mengurangi jejak ekologismu.
7. Belanja di pasar tradisional
Belanja di pasar tradisional merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Pasar biasanya menawarkan produk-produk fresh tanpa kemasan berlebih.
Dengan membawa kantong belanja dan wadah reusable, kamu bisa mengurangi sampah plastik sekaligus membantu menjaga produk tetap segar. Selain itu, kamu juga mendukung perekonomian lokal dan para petani atau produsen kecil dengan memilih pasar tradisional untuk belanja.
8. Daur ulang plastik
Daur ulang plastik adalah langkah krusial untuk meminimalkan dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.
Pisahkan plastik dari jenis sampah lain dan daur ulang sesuai dengan tipe materialnya. Setiap jenis plastik memiliki proses daur ulang berbeda, jadi penting untuk memahami cara pemisahan yang benar.
Saat ini, banyak kota sudah menyediakan fasilitas daur ulang yang dapat memudahkan proses daur ulang. Edukasi diri dan keluarga tentang pentingnya daur ulang juga dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
9. Kompos sampah organik
Mengompos sampah organik bisa mengurangi kebutuhan penggunaan kantong plastik serta volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Proses kompos mengubah sisa makanan dan material organik lainnya menjadi pupuk yang berguna untuk tanaman, mendukung pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesuburan tanah. Kamu bisa memulai dengan membuat tempat kompos sederhana di halaman belakang atau menggunakan sistem kompos dalam ruangan jika tinggal di apartemen.
10. Pakai produk kecantikan dan kebersihan tanpa plastik
Pilih produk kecantikan dan kebersihan yang menggunakan kemasan ramah lingkungan atau tanpa plastik. Alternatif seperti sabun batang, sampo batang, dan sikat gigi bambu biasanya lebih alami dan bebas dari bahan kimia berbahaya.
Memilih produk ini membantu mendukung industri yang berkomitmen pada praktik berkelanjutan dan mengurangi limbah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
11. Dukung kebijakan anti plastik
Dukung kebijakan pemerintah dan inisiatif organisasi yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan plastik. Berpartisipasilah dalam kampanye atau petisi yang mendorong pelarangan kantong plastik sekali pakai dan penggunaan sedotan plastik, serta dorong bisnis lokal untuk mengadopsi praktik yang lebih ramah lingkungan.
Dukunganmu terhadap kebijakan ini berperan dalam menciptakan perubahan sistemik yang penting untuk mengurangi polusi plastik.
12. Edukasi dan sosialisasi
Tingkatkan kesadaran tentang pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan dampaknya terhadap lingkungan. Bagikan pengetahuan dan sumber daya tentang bahaya plastik melalui media sosial, diskusi, atau seminar di komunitasmu.
Edukasi adalah kunci untuk menginspirasi lebih banyak orang agar mengambil tindakan dalam mengurangi penggunaan plastik.
13. Inovasi dan kreativitas
Terapkan cara-cara kreatif untuk mengurangi penggunaan plastik, seperti membuat tas belanja dari kaos lama atau kerajinan dari sampah plastik. Inovasi dalam menggunakan barang-barang bekas membantu mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang unik dan fungsional. Kreativitas dan inovasi dalam daur ulang membuka jalan bagi solusi baru yang dapat memotivasi orang lain untuk mengikuti jejakmu.
Sampah plastik menjadi masalah besar bagi lingkungan dan kesehatan kita. Namun, dengan tindakan sederhana dan dedikasi untuk mengurangi penggunaan plastik, kita dapat membawa perubahan yang signifikan.
Mulai dari diri sendiri dan ajaklah orang lain untuk turut serta dalam upaya menyelamatkan bumi dari polusi plastik. Bersama, kita dapat membangun lingkungan yang lebih bersih dan sehat untuk generasi yang akan datang. Mari kita ambil langkah konkret untuk mendukung kelestarian lingkungan mulai dari sekarang!
6 Fakta Julang Emas, Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga
Sobat #KonservasYIARI tau gak Indonesia memiliki total spesies burung yang kaya banget, totalnya sebanyak 1826 spesies! Salah satunya adalah julang emas, yang sebarannya luas banget. Wilayah sebarannya meliputi Butan Selatan, India Timur, Cina Barat Daya, Asia Tenggara dan Semenanjung Malaysia. Di Indonesia sendiri, julang emas tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, juga termasuk beberapa pulau lepas pantai.
Mereka umumnya hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 2.000 m. Namun jangan salah, Ia gak pernah asal pilih hutan untuk dijadikan habitatnya loh. Julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat karena membutuhkan area hutan yang luas dan terjaga.
Selain fakta tersebut, masih ada beberapa fakta lain burung dengan nama ilmiah Rhyticeros undulatus ini, yuk simak Sob!
1. Satu Keluarga dengan Rangkong
Yoi Sob, Julang emas termasuk dalam famili Bucerotidae, seperti rangkong, enggang, julang, dan kangkareng. Semua jenis burung tersebut dalam bahasa inggris biasa disebut dengan Hornbill. Burung-burung pada famili ini dikenal memiliki
Nama ilmiah ‘Buceros’ dalam bahasa Yunani memiliki arti tanduk sapi, yang merujuk pada bentuk paruhnya. Burung-burung pada famili ini memiliki paruh seperti tanduk sapi yang berwarna terang.
2. Merupakan Satwa Dimorfik
Julang emas jantan(Bobby Muhidin | YIARI)
Julang emas betina (Bobby Muhidin | YIARI)
Julang emas merupakan satwa termasuk dimorfik, yaitu satwa yang dengan penampakan berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan jenis kelamin dari burung ini dapat dilihat dari warna temboloknya, warna kepala, dan warna bulu pada tengkuk.
Tembolok (gular skin) adalah kantong leher burung yang bisa digunakan untuk menyimpan makanan. Warna tembolok julang emas jantan umumnya berwarna kuning terang dengan garis hitam, sedangkan tembolok betina berwarna biru. Warna kepala jantan julang emas krem dengan bulu kemerahan bergantung dari tengkuk, sedangkan kepala dan tengkuk betina berwarna hitam.
3. Betina Menjaga dan Membesarkan Anak dari Lubang Sarang
Tau gak sih kalau burung-burung dari famili Bucerotidae ini memiliki sistem bertelur yang unik, Sob? Mereka membutuhkan lubang pohon alami sebagai tempat tinggal sementara individu betina, sekaligus untuk melindungi ia dan anaknya dari predator. Ia akan berada dalam sarang ini selama masa bertelur, hingga sang anak dinilai siap untuk belajar terbang.
Nah, lubang alami pada pohon tersebut kemudian ditutup menggunakan tanah, lumpur, kotoran dan sisa makanan, sampai besar lubang tersebut hanya sebesar paruh mereka aja. Lubang tersebut akan digunakan sebagai jalur jantan menyuapi betina dengan makanan yang sudah ia kumpulkan dari hutan, juga sebagai pintu mengeluarkan kotoran atau fesesnya.
Dengan jumlah telur yang biasanya berjumlah 2 butir, biasanya hanya satu anak burung yang selamat sampai dewasa. Spesies ini menghabiskan waktu bersarang sekitar 111-137 hari, dengan masa persiapan dan bertelur 13-14 hari, lalu masa pengeraman telur 40 hari dan masa perawatan anak burung 90 hari. Jadi dalam waktu tersebut, sang ibu harus tetap berada dalam sarang tersebut, loh! Luar biasa ya perjuangan sang Ibu!
4. Setia! Sang Jantan akan Memberi Makan Betina Selama Masa Bertelur
Julang emas jantan sedang memberi pakan pada sang betina yang berada di dalam lubang sarang (Aris Subagio | YIARI)
Selain karena monogami, spesies ini juga dikenal setia karena selama masa bertelur, sang jantan lah yang memiliki tugas penting untuk mencari pakan. Gak cuma untuk dirinya sendiri loh, tapi juga untuk sang betina di sarang, sweet banget ya. Makanan utama burung ini adalah buah-buahan seperti buah ficus. Selain itu burung ini juga akan memakan satwa kecil seperti serangga, kadal, katak, dan beberapa satwa kecil lain untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.
Julang emas jantan akan menyimpan pakan pada temboloknya, yang kemudian akan dikeluarkan satu per satu pakan dari dalam temboloknya ke ujung paruh. Ia kemudian memosisikan paruhnya untuk menyuapi sang betina.
Ketika sedang tidak dalam masa bertelur, julang emas akan terbang bersama pasangannya, atau dalam kelompok kecil. Mereka terbang dengan kepakan sayap yang berat dan suara keras.
5. Rentan Punah
1826 spesies burung di Indonesia pada 2023, menunjukkan peningkatan 11 spesies dari tahun sebelumnya. Namun juga menunjukkan pengurangan tiga spesies juga, Sob😞. Ternyata masih ada ancaman terhadap kelestarian burung Indonesia ya.
Kini julang emas Memiliki Status Konservasi Vulnerable atau rentan punah.Hilangnya luasan hutan karena kebakaran hutan, maupun perambahan wilayah hutan menjadi ancaman hilangnya habitat julang emas ini. Ia juga terancam dari perburuan liar karena bentuk paruhnya yang unik. Sedangkan dari cerita diatas, coba bayangkan deh apa yang akan terjadi kalau sang jantan diburu. Otomatis dengan memburu satu julang jantan sama dengan membunuh seluruh keluarga julang, kan? 😭
YIARI rutin melakukan pendataan keanekaragaman hayati satwa dan tumbuhan di beberapa lokasi, salah satunya ialah Hutan Lindung Batutegi. Fungsi pendataan kehati ini adalah untuk melihat potensi kawasan dan kesesuaian kawasan tersebut untuk habitat atau kehidupan satwa liar.
Pendataan jenis burung di kawasan HL Batutegi sendiri telah dilakukan sejak tahun 2009, namun kegiatan ini belum dilaksanakan secara rutin. Survey keragaman satwa mulai dilakukan secara khusus dengan membuat jalur-jalur pengamatan di blok inti kawasan HL Batutegi pada akhir tahun 2016.
Berdasarkan kompilasi data yang telah dilakukan dari 2009 hingga 2021, jumlah jenis burung di kawasan HL Batutegi telah mencapai 245 jenis yang tergabung ke dalam 61 famili. Salah satu spesies yang ditemukan ialah burung langka dan terancam punah ini, julang emas.
6. Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga
Jadi tahu kan Sob, untuk bisa berkembangbiak, julang emas membutuhkan pohon yang besar dan tinggi dengan lubang alami. Pohon dengan karakteristik ini tentunya hanya bisa ditemukan pada area hutan yang luas dan terjaga dong? Karena itu, julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat hutan.
Perkembangbiakan julang emas di wilayah HL Batutegi menunjukkan bahwa kondisi hutan di KPH Batutegi sehat, luas, aman, dan terjaga. Wilayah ini bisa menjadi habitat yang baik bagi sang julang emas tentunya karena peran KPH Batutegi, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan YIARI, yang senantiasa melakukan patroli hutan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam di dalamnya!
Faktanya, hutan juga membutuhkan spesies ini untuk dapat lestari, loh! Dengan daya jelajahnya yang luas, ia dapat membantu penyebaran berbagai benih tumbuhan. Regenerasi vegetasi hutan dapat terjadi secara alami melalui benih tumbuhan sisa makanan atau yang terkandung pada fesesnya.
Semoga kita semua makin sadar akan pentingnya peran julang emas untuk hutan. Satwa cantik dengan suara unik ini seharusnya tetap lestari bebas di hutan ‘kan, bukan di dalam kandang? 🐦🌳
Kemp AC, Boesman PFD. 2020. Wreathed Hornbill (Rhyticeros undulatus). In del Hoyo J; Elliott A; Sargatal J & Christie DA. (eds.). Handbook of the Birds of the World. Vol. Volume 6: Mousebirds to Hornbills. Barcelona: Lynx Edicions. ISBN 978-8487334306.
Robithotul Huda. 2022. Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batutegi, Lampung. Menyingkap Keragaman Burung di Hutan Lindung Batutegi. YIARI (ID): Bogor.
Featured image: Uci Sanusi | YIARI
Fathia Rosatika
Yuk, Kenali 3 Primata Endemik Pulau Jawa!
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Satwa endemik merupakan satwa yang hidup atau mendiami wilayah tertentu secara alami dan tidak ditemukan di wilayah lain. Keberadaan satwa endemik memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Namanya juga satwa endemik ya Sobat! Jika satwa ini punah, sudah pasti tidak ada lagi spesies yang bisa menggantikan perannya. Dan dipastikan ekosistem akan kehilangan keseimbangan.
Primata berperan membantu pepohonan di hutan dalam proses berkembang biak sebagai penebar bebijian dan juga pengatur pertumbuhan pepohonan di hutan.
Primata endemik dapat kita temui di berbagai hutan Indonesia, salah satunya hutan di Pulau Jawa. Namun sayangnya banyak masyarakat Indonesia bahkan di Pulau Jawa yang belum mengetahui keberadaan primata endemik tersebut.
Oleh sebab itu yuk kita kenali 3 primata endemik Pulau Jawa!
1. Owa Jawa
Owa jawa termasuk kedalam kelompok kera kecil yang mendiami hutan di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah.
Owa jawa memiliki rambut berwarna abu-abu dengan lengan yang lebih panjang dari ukuran tubuh dan kakinya. Owa jawa yang memiliki nama latin Hylobates moloch ini sangat menyukai aktivitas berayun di pohon (brankiasi).
Hylobates moloch (Rob Banks, all rights reserved / iNaturalist)
Hal unik lainnya owa jawa merupakan primata yang setia dan hidup berkelompok kecil. Owa jawa memiliki suara yang khas dimana salah satu fungsinya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Bahkan suaranya seperti penyanyi sopran lho! 😮
Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan owa jawa kini terancam punah (endangered). Hal ini disebabkan karena banyaknya yang menjadikan owa jawa sebagai peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Kukang Jawa
Kukang jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus ini merupakan primata nokturnal. Masyarakat mengganggap kukang sebagai primata yang lucu dan menggemaskan, padahal kukang memiliki bisa yang dapat menyebabkan demam dan pembengkakkan pada tubuh manusia.
Kukang jawa memiliki garis cokelat melintang pada punggungnya dan lingkaran cokelat berbentuk berlian di sekitar matanya. Kukang jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang sebarannya berada di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Nycticebus javanicus (Carlos N. G. Bocos, all rights reserved / iNaturalist)
Menurut IUCN kukang jawa memiliki status konservasi kritis di alam (criticallyendangered). Selain perdagangan dan pemeliharaan masih banyak mitos di masyarakat yang percaya dengan khasiat dengan memakan daging kukang bahkan minyak kukang. Padahal Sobat, belum ada penelitian yang membuktikan akan khasiat tersebut!
3. Lutung Jawa
Lutung jawa atau lebih dikenal dengan sebutan lutung budeng merupakan jenis lutung dengan rambut berwarna hitam pekat. Namun Sobat, bayi lutung jawa memiliki warna rambut kuning keemasan yang berangsur-angsur akan berubah menjadi hitam. Menurut IUCN, lutung jawa memiliki status konservasi rentan (vulnerable).
Satwa dari keluarga Cercopithecidae yang memiliki nama latin Trachypithecus auratus yang terpecah menjadi dua sub-spesies berdasarkan wilayah persebarannya, yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.
Trachypithecus auratus auratus adalah subspesies lutung yang hidup di daerah Jawa Timur, Bali, Lombok, P. Sempu, dan Nusa Barung.
Berbeda halnya dengan Trachypithecus auratus mauritius yang merupakan sub-spesies lutung jawa yang merupakan satwa endemik Pulau Jawa dalam jumlah yang cukup terbatas seperti di Jawa Barat dan Banten.
Trachypithecus auratus mauritius (m choi azis, all rights reserved / iNaturalist)
Ohiya Sobat! Lutung dianggap satwa yang menyeramkan dan menurut cerita rakyat dari Sunda, lutung merupakan kutukan dari perwujudan seorang pangeran. Yup benar sekali! Cerita rakyat ‘Lutung Kasarung’. Lutung kasarung digambarkan sebagai makhluk buruk rupa.
Sobat! Dari ketiga jenis primata endemik Pulau Jawa di atas semua memiliki status konservasi yang mengkhawatirkan. Sebagai masyarakat Indonesia kita harus turut serta dalam menjaga keberlangsungan habitat ataupun primata endemik tersebut.
Primata endemik memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem. Bayangkan Sobat jika primata endemik punah? Apakah Sobat bisa menggantikan perannya? Jangan sampai kelak generasi muda Indonesia hanya mengenal sebatas nama saja tanpa melihat langsung primata endemik tersebut hidup di alam liar.
Featured image: Hutan Halimun salah satu habitat owa jawa (Ade javanese / CC BY-SA 4.0 DEED)
Elif Ivana Hendastari
Mikroplastik, si Kecil yang Memberikan Dampak Besar
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Tahukan Sobat pada awalnya plastik diciptakan sebagai pengganti akan penggunaan paper bag. Seiring berjalannya waktu, plastik diproduksi secara massal dan sekarang ini menjadi ancaman bagi kehidupan. Sekarang ini plastik dapat ditemukan diseluruh segmen kehidupan di bumi, mulai dari barang-barang rumah tangga, kosmetik, bahkan di dalam tubuh kita. Lho kok bisa ya plastik ada di tubuh kita?
Plastik memiliki sifat yang elastis, murah, fleksibel, dan tidak bisa terurai. Plastik yang sudah tidak terpakai akan menjadi sampah plastik. Sampah plastik dengan ukuran besar yang tidak diolah atau bahkan berkeliaran di lingkungan dapat menjadi ukuran yang sangat kecil.
Saking kecilnya, kita tidak bisa melihat dengan mata saja, Sobat bisa menyebutnya dengan mikroplastik. Mikroplastik merupakan sampah plastik dengan ukuran kurang dari atau sama dengan 5 milimeter. Sudah banyak Sobat penelitian yang membuktikan keberadaan mikroplastik ini. Mikroplastik dapat masuk ke dalam rantai makanan melalui makanan seperti ikan, kerang, dan sayur serta buah yang telah terkontaminasi mikroplastik dan berakhir pada tubuh kita.
Sampah plastik yang menumpuk (CC0 1.0 DEED)
Penelitian dipublikasikan di jurnal Science of the Total Environment dengan judul Detection of microplastics in human lung tissue using μFTIR spectroscopy (Deteksi mikroplastik pada jaringan paru-paru manusia menggunakan spektroskopi μFTIR) menemukan mikroplastik pada jaringan paru-paru manusia.
Buku yang berjudul Rekam Jejak Mikroplastik yang baru-baru ini dipublikasi oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) merangkum seluruh penelitian mengenai mikroplastik dan ditemukan bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan.
Mikroplastik masuk ke dalam rantai makanan (Referensi : Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat)
Seperti penurunan IQ, penyakit paru-paru, penuruan metabolisme tubuh, gagal ginjal, memicu gangguan hormon, gangguan saraf, dan menyebarkan bakteri infeksikus.
Lantas bagaimana ya Sobat agar kita bisa membantu untuk menahan serta menyuarakan polusi sampah plastik dan mikroplastik agar tidak semakin besar?
Tentunya dengan cara yang mudah dan skala kecil yaitu melakukan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) terhadap sampah rumah tangga. Dan memulai melakukan pengolahan sampah mandiri di rumah masing-masing.
Ohiya Sobat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) turut serta juga dalam menyuarakan isu polusi plastik dengan kegiatan pemberdayaan, sosialisasi, ataupun edukasi kepada komunitas dan kelompok masyarakat. Selain itu YIARI menerapkan konsep 3R dalam pelaksanaan kegiatannya.
Memperingati Hari Bumi 2022, YIARI melaksanakan kegiatan bersih-bersih dengan mengajak masyarakat sekitar (Rudiansyah | YIARI)
Tahun lalu, tepatnya pada bulan April 2022 dalam rangka memperingati Hari Bumi YIARI melaksanakan dua kegiatan yang dilakukan secara serentak di Kalimantan Barat.
Kegiatan ini dirancang dengan konsep 3R, konsep 3R dalam kegiatan ini diwujudkan dengan mengurangi (reduce) penggunaan plastik sekali pakai dengan mengarahkan peserta dan pengunjung untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Mendaur ulang sampah plastik (recycle) dengan membuat bungkus kerajinan dari bungkus kemasan bekerjasama dengan Bagian Pengelolaan Sampah dan Limbah Berbahaya Dinas Perkim-LH untuk kemudian dipamerkan. Terakhir, YIARI mewujudkan konsep penggunaan kembali (reuse) barang bekas dengan menampilkan perkusi yang menggunakan barang bekas sebagai instrumen musiknya.
Memperingati Hari Bumi 2022 YIARI menampilkan perkusi menggunakan barang bekas (Rudiansyah | YIARI)
Di tahun ini tepatnya bulan Juli 2023 dalam rangka memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia YIARI mengadakan diskusi santai berkolaborasi dengan komunitas penggiat alam di Gunung Tanggamus, Lampung.
YIARI Memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia 2023 bersama komunitas di Gunung Tanggamus, Lampung (Tim Edukasi | YIARI)
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para komunitas pegiat alam mengenai isu polusi plastik dan mikroplastik. Konsep kegiatan yang sangat seru dan menyenangkan, bersama peserta melakukan pendakian menuju campsite di atas Gunung Tanggamus. Para peserta diajak untuk berdiskusi dan berlomba untuk mengumpulkan sampah di sepanjang jalur pendakian. Total sampah anorganik yang dikumpulkan seberat 51,5 kg! Luar biasa ya Sobat! Tidak lupa juga YIARI dan peserta menanam pohon di sekitar campsite.
Menimbang sampah yang berhasil dikumpulkan oleh peserta (Tim Edukasi | YIARI)
Begitulah Sobat hal-hal yang bisa kita jadikan contoh untuk melakukan gerakan dalam mengurangi sampah plastik dan menyuarakan isu mikroplastik.
Sampah plastik atau mikroplastik merupakan bom waktu yang saat ini mengancam kehidupan bumi baik itu manusia maupun satwa liar. Jangan takut untuk melakukan gerakan atau hal kecil dalam mendukung upaya pengurangan penggunaan plastik.
Dalam menangani permasalahan sampah plastik dibutuhkan peran seluruh pihak bahkan dibutuhkan peran dari Sobat!
Ingat, sekecil apapun gerakan yang Sobat lakukan, yakinlah akan memberikan dampak yang besar, sama seperti mikroplastik.
Featured image: Mikroplastik pada sedimen pantai pengamatan menggunakan mikroskop stereo | Elif Ivana Hendastari
Elif Ivana Hendastari
Hutan Kalimantan, Habitat bagi Primata di Indonesia
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Tentu Sobat tahu ya bahwa hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia, hal ini disebabkan karena luasnya lho! menurut BPS dikutip dari databoks.katadata.co.id luas hutan Kalimantan tahun 2021 mencapai 28.526.033 ha.
Berbagai jenis pohon tumbuh disana, bahkan orang lebih mengenal hutan Kalimantan dengan sebutan Borneo. Borneo berasal dari nama pohon Borneol yang banyak tumbuh di hutan Kalimantan.
Tidak heran jika hutan Kalimantan menjadi habitat berbagai jenis satwa liar khususnya bagi primata. Mulai dari primata kecil hingga primata besar seperti orangutan.
Banyak jenis primata membutuhkan pepohonan yang tinggi untuk beraktivitas, mencari makan, membuat sarang, dan bermain.
Namun sangat disayangkan Sobat, tidak banyak masyarakat yang mengetahui jenis-jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan.
Oleh sebab itu, yuk kita simak berbagai jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan!
1. Bekantan
Bekantan merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan yang banyak ditemukan pada ekosistem gambut seperti hutan mangrove, rawa, dan hutan pantai. Monyet dengan ciri-ciri khas hidung yang panjang ini memiliki nama ilmiah Nasalis larvatus.
Bekantan (Nasalis larvatus) (Gazagazasanid / CC BY-SA 4.0 DEED)
Bekantan juga sering disebut monyet belanda, mungkin karena rambutnya berwarna cokelat kemerahan ya Sobat. Bekantan juga merupakan primata diurnal dimana banyak melakukan aktivitas di siang hari. Selain itu, bekantan merupakan perenang yang ulung karena memiliki selaput kulit seperti katak pada bagian telapak kaki dan tangannya.
Ohiya Sobat, saking bangganya karena memiliki primata endemik dan unik ini, bekantan dijadikan landmark Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Patung setinggi 6,3 meter ini dibuat di tepi Siring Sungai Martapura. Bahkan bekantan dijadikan maskot salah satu tempat rekreasi, yaitu Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta.
Monumen Bekantan di Banjarmasin (Astari28 / CC BY-SA 4.0 DEED)
Maskot Dunia Fantasi, Jakarta (Putra15894 / Lisensi Dokumentasi Bebas GNU)
Namun sayangnya menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan bekantan kini terancam punah (endangered), tentu salah satu penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan hutan. Padahal ya Sobat, bekantan ini memiliki fungsi sebagai pengatur silvikultur hutan dengan memakan daun dan pucuk pepohonan.
2. Orangutan
Orangutan merupakan kera besar yang hanya berada di Asia, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia habitat orangutan hanya berada di hutan Sumatra dan Kalimantan, loh!
Hutan Kalimantan menjadi habitat salah satu jenis orangutan, yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Tahu gak Sob? Orangutan Kalimantan merupakan hewan arboreal terbesar di dunia loh! 🤩
Orangutan kalimantan / bornean orangutan (Pongo pygmaeus) (matthewkwan, some rights reserved (CC-BY-ND) / iNaturalist)
Orangutan kalimantan memiliki ciri fisik rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan, dengan gradasi warna pada wajah dimulai dari merah muda, merah hingga hitam. Primata endemik hutan Kalimantan ini memiliki lengan yang panjang serta jakun yang besar untuk mengeluarkan suara yang besar memanggil rombongan orangutan.
Keberadaan orangutan kalimantan menurut IUCN kini kritis di alam (criticallyendangered). Sedih sekali ya Sobat! Kalau kita lihat orangutan dan hutan memiliki hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Orangutan berperan sebagai penyebar biji-bijian dan membantu pepohonan di hutan untuk beregenerasi.
3. Kukang
Kukang merupakan primata yang dijuluki satwa yang lucu dan menggemaskan, padahal Sobat kukang itu merupakan satwa berbisa. Kukang memiliki cairan bisa dilengannya dan taring yang tajam. Apabila bisa tersebut tersalurkan ke tubuh manusia melalui gigitannya dapat menyebabkan demam dan pembengkakan.
Di Pulau Kalimantan terdapat tiga jenis kukang, yaitu kukang kalamasan kalimantan (Nycticebus menagensis), kukang kalimantan (Nycticebus borneanus), dan kukang kayan (Nycticebus kayan).
Kukang kalimantan / bornean slow loris (Nycticebus menagensis) (Phil Benstead, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)
Status konservasi dari ketiga jenis kukang yang hidup di hutan Kalimantan ini adalah rentan (vulnerable). Waduh jangan sampai status konservasi ini naik ya Sobat!
Kukang merupakan satwa nokturnal yang sangat menyukai sari bunga kaliandra. Kukang memiliki peran penting bagi ekosistem sebagai pengendali hama serangga, membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan.
Sekarang ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menyamakan kukang dengan kungkang lho! Tentu mereka berbeda ya. Coba Sobat lihat gambar berikut ini untuk melihat perbedaan kukang dan kungkang.
Kukang kayan / kayan river slow loris (Nycticebus kayan) (mike_hoit, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)
Kungkang / sloths (Travis Kurtz, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)
4. Owa
Owa merupakan kera kecil yang setia lho! Owa merupakan satwa monogami, setia dengan pasangannya. Owa banyak menghabiskan waktunya di atas pohon atau biasa disebut satwa arboreal.
Jenis owa endemik Pulau Kalimantan adalah owa kalawat (Hylobates muelleri). Wilayah sebarannya berada di bagian tenggara dan timur Pulau Kalimantan, tepatnya di sebelah timur Sungai Barito, Kalimantan Selatan hingga sebelah utara Sungai Karangan, Kalimantan Timur.
Owa kalawat / Müller’s bornean gibbon (Hylobates muelleri) (Mike Prince / CC BY 2.0 DEED)
Owa kalawat menyukai kanopi hutan yang rapat, hal ini disebabkan Ia suka sekali berayun (brankiasi). Owa kelawat memiliki suara yang unik hal ini berguna untuk mempertahankan wilayahnya.
Primata endemik ini memiliki tubuh yang ditutupi oleh rambut berwarna cokelat atau abu-abu dan dilengkapi dengan alis yang berwarna terang.
Menurut IUCN, owa kalawat kini terancam punah (endangered). Banyak mitos-mitos mengenai obat-obatan yang berasal dari owa kalawat menjadikan satwa ini banyak diburu. Alasan lain yang membuat populasi spesies ini menurun ialah deforestasi.
5. Lutung
Jenis lutung yang hidup di hutan Kalimantan adalah Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus). Lutung kelabu merupakan monyet yang hidup arboreal dengan ciri-ciri memiliki rambut tubuh berwarna hitam dengan ujung warna putih atau kelabu.
Lutung kelabu / silvered lead monkey (Trachypithecus cristatus) (Wilson Yau, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)
Eits Sobat, faktanya bayi lutung kelabu memiliki warna rambut oranye lho! Seiring masa pertumbuhan warna tersebut berubah menjadi kelabu.
Bayi lutung kelabu (Wilson Yau, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)
Lutung kelabu merupakan lutung berukuran sedang dengan status konservasi menurut IUCN adalah rentan (vulnerable). Salah satu penyebabnya adalah masyarakat menganggap lutung kelabu adalah hama.
Ohiya Sobat, lutung juga diangkat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia, yaitu Lutung Kasarung. Siapa disini Sobat yang pernah mendengar cerita rakyat tersebut?
Itulah Sobat beberapa jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan, sebenarnya jika kita ulik lagi masih banyak loh! Jadi tidak heran ya jika hutan Kalimantan menjadi habitat bagi primata.
Namun sangat disayangkan hampir seluruh jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan berada dalam status konservasi yang sangat mengkhwatirkan. Jadi sudah menjadi tanggung jawab kita untuk turut serta dalam menjaga kelestarian hutan dan tentunya primata di Indonesia.
Bayangkan Sobat jika hutan rusak atau hilang? Tentu satwa liar di dalamnya juga akan hilang dan punah, lho! 😨
Featured image: Gunung Lumut, Kalimantan Timur; Jan van der Ploeg / CC BY-NC-ND 2.0 DEED
Elif Ivana Hendastari
Mengenal Ragam Ekosistem Satwa Liar di Indonesia
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Selain itu Indonesia kaya akan ragam ekosistem satwa liar mulai dari daratan hingga perairan.
Keanekaragaman ekosistem di Indonesia beriringan pula dengan beragamnya habitat satwa liar. Satwa liar menempati relung habitatnya masing-masing, hal ini disebabkan karena berbagai faktor seperti kebutuhan akan pakan dan perilaku.
Seperti owa yang merupakan primata arboreal dimana banyak menghabiskan hidupnya di atas tajuk-tajuk pepohonan hutan belantara. Berbeda dengan komodo si satwa purba dan endemik yang hanya ditemukan di padang rumput sabana Nusa Tenggara Timur.
Ohiya Sobat, di dalam suatu ekosistem serangkaian interaksi dapat terjadi baik antar spesies (biotik) ataupun bagian alam yang tidak hidup (abiotik).
Oleh sebab itu, yuk kita simak ragam ekosistem satwa liar yang ada di Indonesia!
1. Ekosistem Darat
Ekosistem darat atau terestrial di Indonesia meliputi ekosistem padang rumput sabana dan hutan hujan tropis.
Ekosistem padang rumput sabana didominasi oleh rumput dan semak-semak, biasanya ditumbuhi oleh pohon-pohon berjenis pendek. Ekosistem ini umumnya berada di wilayah pulau kecil atau dekat pesisir.
Ekosistem padang rumput sabana di Indonesia berada di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon , TN Baluran, dan TN Komodo.
Sabana Taman Nasional Baluran (EkoKintokoKusumo / CC BY-SA 4.0 DEED)
Sabana merupakan habitat bagi mamalia seperti banteng (Bos javanicus), rusa timor (Cervus timorensis), dan kerbau liar (Bubalus bubalis). Satwa tersebut membutuhkan habitat yang kaya akan rerumputan.
Sabana Taman Nasional Komodo (Mufidqa91 | CC BY-SA 4.0 DEED)
Sabana TN Komodo merupakan satu-satunya sabana di Indonesia yang menjadi habitat bagi satwa purba komodo (Varanus komodoensis).
Sobat pasti tahukan komodo merupakan satwa dilindungi? bahkan TN Komodo ditetapkan sebagai warisan dunia lho! Kehadiran rumput dan semak di Sabana TN Komodo menjadi penting bagi pakan komodo salah satunya adalah rusa.
Selanjutnya nih ada ekosistem hutan hujan tropis Sobat!
Kondisi Sungai di Gunung Lumut, Kalimantan Timur, Indonesia (Jan van der Ploeg | CC BY-NC-ND 2.0 DEED)
Letak geografis Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis. Jadi tidak salah ya Sobat jika Indonesia didominasi oleh ekosistem hutan hujan tropis.
Salah satu hutan hujan tropis di Indonesia berada di TN Tanjung Puting. TN Tanjung Puting menjadi habitat bagi kera besar asia yaitu orangutan.
Orangutan kalimantan di Taman Nasional Tanjung Puting (Rezky Putri Harisanti | CC BY-SA 4.0 DEED)
Orangutan membutuhkan pohon-pohon besar dan tinggi untuk membuat sarang yang tentunya tersedia di hutan. Hutan menyediakan pakan alami bagi orangutan yang sangat melimpah ruah. Selain itu orangutan membantu hutan sebagai petani hutan untuk menyebarkan biji-bijian.
Keberadaan ekosistem hutan hujan tropis juga penting bagi kehidupan manusia. Hutan sebagai daerah resapan dan penyedia sumber air bagi kehidupan manusia. Bahkan hutan merupakan tempat bagi masyarakat adat atau rimba untuk tinggal dan menetap.
Masyarakat Utik dan Hutan Adat Mereka (Hendrojkson | CC BY-SA 2.0 DEED)
Selain itu hutan menyediakan kekayaan alam yang dibutuhkan bagi manusia seperti kayu. Dan tentunya hutan berperan dalam mengatur iklim dunia lho Sobat! Ternyata hutan memiliki peran yang sangat penting ya.
2. Ekosistem Perairan
Ekosistem perairan atau aquatik di Indonesia tentu beranekaragam juga nih Sobat! Seperti ekosistem sungai dan laut.
Ekosistem sungai merupakan ekosistem perairan yang menghubungkan daratan dengan lautan serta dekat sekali dengan kehidupan manusia. Bahkan manusia juga menjadikan sungai sebagai sumber air, sarana transportasi, dan aktivitas sehari-hari. Namun siapa sangka, sungai merupakan habitat bagi satwa juga!
Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Herusutimbul | CC BY-SA 4.0 DEED)
Banyak satwa liar seperti ikan, reptil, serangga bahkan mamalia yang menjadikan sungai sebagai habitat. Banyak spesies katak membutuhkan sungai atau perairan sebagai tempat berkembang biak dan nursery.
Salah satu sungai di Indonesia yang menjadi habitat bagi si lumba-lumba air tawar adalah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam menjadi habitat bagi pesut mahakam (Orcaella brevirostris).
Pesut mahakam (suebsa, some rights reserved | CC-BY-NC | iNaturalist)
Keberadaan pesut mahakam berperan sebagai indikator bagi kualitas lingkungan. Pesut mahakam akan mendiami daerah perairan dengan kedalaman yang sesuai untuknya, bila keberadaan pesut mahakam tidak dapat ditemukan di perairan tersebut, maka menandakan perairan tersebut telah mengalami pendangkalan.
Selain itu pesut mahakam dapat berguna bagi nelayan dalam menentukan lokasi dan waktu untuk mencari ikan.
Pesut mahakam kini terancam punah akibat banyaknya pencemaran air dan aktivitas manusia, pesut mahakam sering sekali terjebak jaring nelayan.
Ekosistem perairan lainnya adalah ekosistem laut, Indonesia memiliki luas lautan yang lebih luas dibanding dengan daratan. Tidak salah jika Indonesia dijuluki sebagai negara maritim ya Sobat!
Taman Laut Raja Ampat, Papua (Sfw_2503 | CC BY-SA 4.0 DEED)
Ekosistem laut tentu sangat beragam juga, mulai dari pesisir hingga laut dalam. Banyak satwa liar yang hidup di lautan, bahkan lautan pun tidak memiliki batas yang nyata. Sehingga banyak satwa liar di lautan yang melakukan migrasi.
Pemandangan bawah laut di Distrik Misool, Raja Ampat (Fakhrizal Setiawan`| CC BY-SA 4.0 DEED)
Ekosistem laut di Indonesia yang terkenal akan keindahan bawah lautnya adalah Taman Nasional Laut (TNL) Raja Ampat. TNL Raja Ampat berada di pusat coral triangle yang menyebabkan banyaknya spesies karang hidup disana.
Pari manta (CC0 1.0 DEED)
Selain itu di TNL Raja Ampat Sobat juga bisa menemukan ikan pari manta besar (Mobula birostris).
Bagaimana Sobat? Bukankah sangat luar biasa kaya ya Indonesia ini, mulai dari ekosistem hingga satwa liar. Mulai dari wilayah hutan hingga laut lepas. Seluruh kekayaan alam tersebut saling berinteraksi bahkan manusia pun ikut terlibat didalamnya dan membutuhkan kekayaan alam tersebut pula.
Dalam memperingati hari habitat dan satwa liar yang jatuh pada Oktober 2023, yuk sama-sama kita berpikir dan merenung kembali, apakah kita sudah turut serta menjaga kekayaan alam ini? Atau justru menjadi perusak?