Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Catatan Magang dan Penelitian Dua Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera di Hutan Gambut Kabupaten Ketapang, Kalbar
YIARI membuka banyak peluang magang dan penelitian. Nah, baru-baru ini, tepatnya di akhir tahun 2023 lalu, ada dua mahasiswa Rekayasa Institut Teknologi Sumatera dari Program Studi Rekayasa Kehutanan yang melakukan magang di YIARI untuk melakukan penelitian bersama kami. Masing-masing dari mereka meneliti hal yang berbeda, alhasil pengalaman yang mereka dapatkan juga berbeda. Seperti apa, sih, kisah mereka selama bekerja bersama YIARI? Yuk, simak bersama-sama!
Kisah Magang Irfan Fauzi
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Nama saya Irfan Fauzi, sebenarnya banyak nama panggilannya, tapi saya lebih suka kalo di panggil Irfan. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di Institut Teknologi Sumatera dengan mengambil Program Studi Rekayasa Kehutanan yang berfokus pada konservasi satwa. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya diwajibkan untuk melakukan penelitian tugas akhir atau skripsi. Penelitian di bidang konservasi satwa liar termasuk kedalam penelitian yang memerlukan sumber daya yang tinggi mulai dari biaya yang besar, waktu yang lama dan kompetensi yang tinggi. Sempat berpikir untuk pindah ke bidang lain karena hal tersebut. Namun, ketika saya diposisi itu, tiba-tiba saya menerima pesan di group WhatsApp dari salah satu dosen bahwa ada NGO yang bergerak di bidang konservasi dan sedang mengadakan penerimaan penelitian mahasiswa, NGO tersebut adalah YIARI. Saya sudah mengenal YIARI sebelumnya, bahkan saya juga pernah mengundang salah satu orang hebat di YIARI yaitu Mas Robihotul Huda dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan oleh FORESTA ITERA. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meyakinkan diri saya untuk mengajukan diri melakukan penelitian bersama YIARI Ketapang.
Perjalanan Irfan Fauzi menuju Camp Punggur Rawan bersama tim YIARI (Dok: Istimewa)
Perjalanan saya bersama YIARI dimulai pada bulan November 2023. Pada dua bulan pertama (November – Desember 2023) saya menjalani kegiatan magang untuk mengenal lebih jauh tentang YIARI, belajar tentang materi sesuai topik yang saya ambil dan survey lapangan untuk menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Intinya dua bulan tersebut di berikan untuk persiapan penelitian saya agar diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Magang selesai pada pertengahan januari, kemudian penelitianpun di mulai. Saya diarahkan untuk penelitian di hutan desa pematang gadung (HDGP) dengan topik yang saya ambil yaitu tentang mamalia kecil dengan judul “Keanekaragaman Jenis Ordo Scandentia, Rodentia dan Chiroptera di Hutan Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat”.
Selama melakukan penelitian di Hutan Desa Pematang Gadung bersama dengan tim Biodiv banyak pengalaman menarik yang saya alami. Saat di HDGP saya tinggal di camp punggur rawan, camp yang menurut saya adalah keajaiban meskipun camp tersebut ketika musim penghujan, kita tidak akan menemukan daratan di sekelilingnya. Camp punggurawan berada sekitar 1 jam perjalanan menggunakan speedboat dari pelabuhan desa pematang gadung. Posisinya berada sekitar 200 meter dari sungai besar, dibangun diatas air, hanya musim kemarau camp tersebut memiliki dataran disekelilingnya. Ya benar-benar ajaib bagi saya yang sudah cukup sering ke hutan. Kenapa tidak? Hanya disini saya bisa mendapatkan akses internet yang kencang dalam hutan, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dengan pembimbing tugas akhir saya. Selain itu saya juga bisa mendapatkan energi listrik yang cukup baik siang maupun malam, karena di camp Punggur rawan energi listriknya tidak pernah terputus (24 jam). Kemudian dari segi logistik, hanya disini juga saya bisa merasakan minum es teh manis dalam hutan, bagi saya ini adalah salahsatu keajaiban. YIARI memang sangat mengerti terhadap karyawan-karyawannya dengan fasilitas terbaik yang sudah diberikan.
“Penghuni” Camp Punggur Rawan setelah melakukan observasi di lapangan (Dok: Istimewa)
Topik yang saya ambil dalam penelitian ini mengharuskan kami untuk melakukan flying camp. Jangan tanya soal fasilitas, sudah pasti sangat memadai meskipun kegiatan ini jarang di lakukan oleh tim biodiv itu sendiri. Kegiatan flying camp ini benar-benar untuk memenuhi penelitian saya. Saya sangat terbantu banget penelitian bersama dengan YIARI. Selama pengambilan data saya dibantu oleh Tim patroli dan Tim biodiv yang isinya adalah orang-orang baik dan tulus dalam membantu penelitian saya. Banyak hal menarik yang saya alami ketika pengambilan data di hutan desa pematang gadung salahsatunya dalah dari segi medannya. Hutan desa pematang gadung didominasi oleh area gambut yang ketika berjalan rasanya ingin melepas sepatu dan memberikannya ke gambut, soalnya beberapa meter berjalan gambut selalu menahan sepatu saya. Namun hal tersebut terbayarkan dengan keanekaragaman satwa yang saya jumpai. Saya banyak berjumpa dengan satwa-satwa eksotis. Saya bertemu dengan orangutan, bekantan, monyet ekor panjang, burung rangkong, kucing kepala datar, beberapa jenis ular, burung dan terakhir saya bertemu dengan si pemburu bermata bola. Ya saya berjumpa dengan Tarsius, salahsatu yang membuat saya sedikit sombong dengan kawan-kawan saya. Kenapa tidak sombong, berjumpa dengan tarsius liar itu salahsatu anugerah, bagi kawan-kawan konservasi pasti tau alasannya. Perasaan cape, malas, jenuh itu terbayarkan oleh keanekaragaman satwa yang saya temui. Pokoknya seru dan banyak yang bisa saya dapatkan ketika magang bersama dengan YIARI, tidak dapat saya ceritakan satu persatu Intinya sangat-sangat-sangat memuaskan.
Kisah Magang Farros Daffa Churrifian
Saya Farros Daffa Churrifian, mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kurang lebih satu tahun lalu saya mencari informasi tempat magang di bidang konservasi yang sekaligus bisa melakukan penelitian. Namun salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah pesan yang berisi:
“Yang berminat magang dan riset terkait konservasi di areal Gambut/Hutan Desa di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan YIARI Ketapang silakan hubungi saya. Posisi magang dan penelitian terbuka untuk 2 orang.”
Tawaran yang menggiurkan dari Pak Muhajir, dosen saya, untuk bergabung dalam program magang dan penelitian di YIARI Ketapang menjadi awal dari sebuah petualangan yang penuh makna. Dengan fokus pada konservasi di areal gambut dan hutan desa di Ketapang, Kalimantan Barat, tawaran ini tidak hanya menjanjikan pengetahuan akademis, tetapi juga pengalaman lapangan yang tak terlupakan. Setelah menerima tawaran tersebut, saya merasakan antusiasme dan ketertarikan yang besar. Pertemuan dengan Pak Muhajir membuat saya semakin yakin bahwa langkah ini akan memberi dampak besar pada pengembangan pribadi saya di bidang konservasi satwa liar.
Untuk mengarungi hutan gambut, kami menggunakan speed boat supaya jarak yang ditempuh bisa lebih jauh (Dok: Istimewa)
Ketika tiba di kantor YIARI, saya disambut dengan hangat oleh tim yang ramah dan penuh semangat. Mereka seperti membuka pintu untuk kami sebagai anggota baru keluarga YIARI. Melihat kemegahan YIARI Ketapang secara langsung, dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, membuat saya semakin yakin bahwa saya telah membuat keputusan yang tepat.
Di lingkungan kerja yang hangat ini, saya bertemu dengan para mentor di Divisi Biodiversity seperti Bang Kenned, Bang Busran, dan Bang Lo’o. Mereka bukan hanya berbagi pengetahuan tentang pengolahan data di kantor, tetapi juga membimbing kami tentang kehidupan di lapangan. Dari mereka, saya tidak hanya belajar tentang aspek teknis pekerjaan, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang pentingnya keterlibatan aktif dalam konservasi alam. Salah satu momen puncak dalam perjalanan ini adalah ketika berada di Camp Punggur Rawan Hutan Desa Pematang Gadung. Camp ini terletak di atas sungai, menyajikan pengalaman yang unik dan mengesankan bagi kami sebagai peserta magang. Fasilitas yang disediakan tidak hanya memenuhi kebutuhan kami, tetapi juga menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman di tengah lingkungan yang alami dan indah.
Ketika observasi, kami menyempatkan diri untuk beristirahat (Dok: Istimewa)
Meskipun medan lapangan yang kami hadapi adalah gambut yang terasa berat, tim lapangan YIARI, terutama Bang Yoyo dan Bang Ujang, senantiasa memberikan dukungan dan bimbingan yang sangat membangun. Mereka tidak hanya mengajar kami keterampilan teknis yang diperlukan di lapangan, tetapi juga memperkuat semangat dan tekad kami untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan.
Selama berada di YIARI, saya mempelajari berbagai kegiatan seperti identifikasi satwa dan penggunaan kamera jebak, serta melakukan sensus satwa dan pengolahan data. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan praktis saya, tetapi juga mengubah pandangan saya tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan memperhatikan ekosistem alam.
Kegiatan yang dilakukan selain belajar bersama tim Biodiversity YIARI, saya juga melakukan penelitian. Penelitian saya mengenai Preferensi Habitat Felidae menjadi tantangan yang nyata. Menghadapi medan yang berat untuk mencapai kamera jebak di setiap lokasi membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Meskipun terkadang terasa melelahkan, setiap langkah yang kami ambil di lapangan membawa kami lebih dekat pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan di alam liar dan ekosistem yang kompleks.
Dalam penelitian tersebut, seringkali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Jika mengalami hambatan, saya akan beristirahat sejenak agar membuka kembali pikiran saya dan melanjutkan apa yang saya kerjakan.
Namun, di tengah hambatan yang saya alami, saya juga mendapat bantuan dan arahan yang sangat berarti dari Bang Kenned dan Mbak Nova dari tim YIARI. Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing saya melalui setiap langkah analisis, mulai dari pemrosesan data hingga interpretasi hasil.
Kegiatan magang dan penelitian diakhiri dengan presentasi (Dok: Istimewa)
Dengan belajar bersama mereka, saya mulai memahami lebih dalam tentang logika dan metodologi di balik analisis data. Mereka tidak hanya mengajari saya cara menggunakan RStudio dengan efektif, tetapi juga memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana menerapkan berbagai teknik analisis sesuai dengan konteks penelitian. Melalui bimbingan mereka, saya berhasil menyelesaikan analisis data dan akhirnya sampai pada hasil yang signifikan.
Dalam perjalanan magang dan penelitian di YIARI Ketapang, saya telah dibimbing dengan penuh kesabaran dan semangat oleh tim yang luar biasa. Setiap tantangan dan hambatan yang saya hadapi telah menjadi pembelajaran berharga, dan saya merasa bertumbuh baik secara pribadi maupun profesional. Pengalaman ini tidak hanya memberi saya pengetahuan dan keterampilan yang berharga, tetapi juga menginspirasi saya untuk terus terlibat secara aktif di bidang konservasi satwa liar. Terima kasih kepada tim YIARI, atas dukungan, bimbingan, dan inspirasi yang diberikan. Pengalaman ini akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya.
7 Jenis Kura-kura Dilindungi di Indonesia
Tahu nggak sih? Nenek moyang dari satwa berumur panjang ini telah hidup dari zaman Jurassic dan sampai saat ini telah melewati 200-300 juta tahun evolusi sehingga mereka terbagi menjadi ratusan jenis spesies di bumi! Banyak banget ya Sobat IAR.
Di Indonesia sendiri, ada sekitar 38 spesies yang dapat dijumpai dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, populasi mereka saat ini kian menurun akibat perburuan, perdagangan, dan berkurangnya habitat alaminya. Hal ini membuat beberapa jenis dari kura-kura ini menjadi berstatus “dilindungi”.
Di sini kita akan membahas beberapa sahabat reptil kita yang hidup di Indonesia. Langsung saja yuk kita kenalan dengan mereka!
1. Kura-kura Ambon (Cuora amboinensis)
Kura-kura yang tergabung dalam famili geoemydidae ini memiliki banyak banget nama panggilan, lho! diantaranya adalah kuya batok, kura-kura dada, kura katup, kura kotak, dan lain-lain. Eksis banget ya si kuya batok ini! Kura-kura ini juga memiliki empat anak spesies, yakni C. a. amboinensis, C. a. couro, C. a. kamaroma, dan C. a. lineata
Kura-kura ini cukup dikenal oleh banyak orang karena persebarannya yang juga ada pada banyak wilayah. Kura-kura ini tersebar di Sulawesi, Maluku, Sumatera, Natuna, Jawa, Kalimantan, Bali, Sumbawa, dan Timor.
Kuya Batok memiliki status endangered (EN) pada IUCN red list. Di Indonesia sendiri, kura-kura ini belum dilindungi secara hukum. Kura-kura ini banyak ditemukan di wilayah rawa, sawah, serta sungai berarus lambat dan sedang. Walaupun spesies ini dikatakan sebagai spesies omnivora, pakan yang dikonsumsi mereka tetap didominasi oleh pakan nabati atau tumbuh-tumbuhan.
Kura-kura dari famili testudinidae ini biasa disebut sebagai baning sulawesi dan merupakan satwa endemik asal Sulawesi. Pada masyarakat etnis Kalili Sulawesi, kura-kura forsteni ini memiliki nama lain, yaitu bantiluku.
Kura-kura ini termasuk dalam kategori terancam dengan level kritis (critically endangered) pada IUCN dan appendiks II pada CITES. Di Indonesia, kura-kura ini belum dilindungi secara hukum.
Kura-kura forsteni banyak ditemui di hutan musim campuran. Pakan darikura-kura ini dapat beragam mulai dari rumput, daun tanaman, buah-buahan, cacing, serta serangga kecil. Oleh karena itu, kura-kura forsteni dikatakan sebagai satwa omnivora (pemakan segala).
3. Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)
Kura-kura dari famili geoemydidae ini merupakan satwa endemik pulau Sulawesi yang memiliki status konservasi critically endangered pada IUCN dan dikategorikan pada apendiks II pada CITES. Dewasa ini, populasi kura-kura hutan sulawesi kian menurun karena tingkat kerusakan alam dan habitatnya yang juga kian tinggi. Rendahnya populasi kura-kura hutan sulawesi di alam juga disebabkan oleh daur dan tingkat reproduksinya yang rendah.
Kura-kura hutan sulawesi biasa dijuluki sebagai kura-kura betet karena bentuk moncongnya yang mirip dengan paruh burung betet. Kura-kura ini merupakan hewan diurnal yang beraktivitas di daratan dan hanya menggunakan habitat perairan untuk aktivitas istirahat dan kawin.
Sesuai namanya, kura-kura moncong babi memang memiliki moncong yang mirip dengan babi. Selain itu, kura-kura ini juga dijuluki sebagai fly river turtle yang lagi-lagi julukannya didasari oleh morfologi yang dimilikinya. Keempat tangannya memiliki bentuk seperti sayap atau sirip renang seperti pada penyu laut. Sehingga ketika dia berenang, kelihatannya seolah-olah ia sedang terbang! Morfologi ini sangat memudahkan mereka untuk hidup sehari-hari dimana sebagian besar aktivitasnya dilakukan di air.
Kura-kura ini adalah satwa endemik Papua yang banyak ditemukan di sungai-sungai di Irian Jaya, yaitu di daerah Danau Jamur hingga daerah Merauke. Sebarannya saat ini telah sampai ke Australia bagian utara.
Satwa dalam famili Carettochelyidae ini dikategorikan sebagai endangered oleh IUCN. Oleh Indonesia sendiri, satwa ini telah tercatat sebagai satwa yang dilindungi di bawah Peraturan Menteri LHK no. 106 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.
Kura-kura ini juga dijuluki sebagai spiny turtle karena tepian tempurungnya yang berbentuk duri (spine). Kura-kura ini tersebar di Kalimantan, Sumatera, Riau, Bangka Belitung, Natuna, Nias, Malaysia, bahkan hingga Thailand.
Kura-kura ini merupakan hewan herbivora yang hidup di habitat dengan sungai-sungai dengan kedalaman air dangkal. Satwa ini telah dikategorikan sebagai satwa terancam (endangered) oleh IUCN. Sayangnya, penurunan populasinya hingga kini terus menerus terjadi diakibatkan perdagangan liar dan perburuan. Karena keindahan bentuknya, banyak orang ingin menjadikannya sebagai hewan peliharaan tanpa mempedulikan kelestarian satwa ini di habitat aslinya. Hal ini tentu tidak patut ditiru ya!
Satwa herbivora ini masuk ke dalam kategori critically endangered oleh IUCN. Hukum di Indonesia juga telah memasukkan tuntong laut dalam daftar satwa yang dilindungi dalam permen LHK no. 106 tahun 2018. Tuntong laut disebut juga sebagai “beluku”. Ia tersebar di Kalimantan, Sumatera, Malaysia, sampai Thailand.
Biasanya tuntong laut hidup pada muara dan bagian sungai yang dekat dengan laut serta masih terpengaruh oleh pasang surutnya. Selain itu, mereka juga mendiami daerah rawa-rawa dan sungai kecil. Spesies ini akan mudah ditemui di hutan bakau (Kegler 2011). Uniknya, saat musim kawin berlangsung, satwa ini melakukan migrasi layaknya penyu laut! Untuk bertelur, tuntong laut lebih suka menaruh telurnya di wilayah dengan pasir pantai. Saat menetas, orang yang nggak tahu pasti bakal mengira bayi-bayi tuntong laut itu tukik! Hahaha
6. Kura-kura Leher Ular Pulau Rote (Chelodina mccordi)
Jadi ini kura-kura atau ular sih?
Hahaha! Ini kura-kura ya! Lehernya aja yang mirip ular.
Kura-kura dengan morfologi unik ini dapat ditemui di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Kura-kura leher ular merupakan anggota dari keluarga Cheloniidae dan dibedakan lagi menjadi dua sub spesies, yakni C. m. mccordi, dan C. m. timorensis.
Kura-kura leher ular memiliki status IUCN terancam level kritis (critically endangered) dan tergolong pada apendiks II dalam CITES. Satwa ini telah dilindungi dalam peraturan menlhk no. 106 tahun 2018. Populasinya di alam dapat dikatakan hampir punah, bahkan di Pulau Rote sendiri kura-kura ini sudah tidak dapat dijumpai karena maraknya perburuan dan perdagangan ilegal yang tidak bertanggungjawab. Baru-baru ini beberapa individu kura-kura leher ular hasil perdagangan ditarik dari Singapura dan dikembalikan ke Indonesia untuk tujuan pengawetan dan pelestarian kembali di wilayah asalnya.
Kalo kura-kura yang bawa samurai itu termasuk nggak? Ettt hahaha, nggak ya! Itu mah kura-kura ninja!
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi:
(Inggris) Kegler B (2011). “Callagur borneoensis”. Animal Diversity Web. Diakses tanggal 04 Mei 2022.
Leucocephalon yuwonoi, https://reptile-database.reptarium.cz/species?genus=Leucocephalon&species=yuwonoi. Diakses tanggal 10 Mei 2022.
Penulis: Alfatheya Diva
Menyambut Utha: Kukang Malang yang Tersesat
Welcome, Utha! We’re happy to see you!
Ada pendatang baru nih #SobatIAR! Kenalin, ini namanya Utha.
Utha adalah kukang jawa (Nycticebus javanicus) berjenis kelamin jantan. Utha diserahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cirebon untuk dititiprawatkan di Yayasan IAR Indonesia terhitung mulai tanggal 10 Mei 2022 kemarin.
Utha ketika hendak dititiprawatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cirebon di Yayasan IAR Indonesia (Tim SRM | IAR Indonesia)
Pada awalnya, Utha adalah kukang yang ditemukan dan diselamatkan dari pinggir jalan oleh warga di Kuningan, Jawa Barat. Utha tersesat di wilayah pemukiman warga. Lho.. kok bisa ya? Utha abis main kemana sih? Diduga Utha bisa sampai di pemukiman warga karena ia menjelajah ke pinggir hutan ketika mencari makan, lalu mengalami kecelakaan atau diburu pemburu hingga terluka. Who knows.. Sayangnya, Utha tidak bisa diwawancara guys.
Selain tersesat, pada saat itu Utha tampak sedang dalam keadaan sakit. Karena warga yang menyelamatkan Utha bingung harus melapor dan menyerahkan Utha kepada siapa, akhirnya warga tersebut memutuskan untuk memelihara Utha untuk sementara waktu. Utha dipelihara oleh warga selama kurang lebih satu bulan sampai akhirnya diserahkan ke pihak yang berwenang, yakni BKSDA Cirebon.
Hasil rontgen Utha sedang diperiksa oleh tim medis Yayasan IAR Indonesia untuk mengetahui penyebab luka di matanya (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Pada kedatangannya di Yayasan IAR Indonesia, Utha berada dalam kondisi kurang sehat, mengalami sejumlah luka di bagian kepala, mata kanannya mengalami kebutaan serta rongga matanya masuk ke dalam. Selain itu, Utha juga didiagnosa mengalami dehidrasi. Huhuhu, kasian Utha😢💔. Walaupun demikian, beruntungnya taring dan gigi Utha masih lengkap dan utuh.
Saat ini Utha sedang diberikan sejumlah pengobatan dan perawatan untuk memulihkan kondisi fisiknya oleh para dokter hewan dari Yayasan IAR Indonesia di Ciapus, Bogor. Harapannya, kondisi Utha akan terus membaik agar Utha punya kesempatan untuk dilepasliarkan kembali pada habitat aslinya nanti.
Alfatheya Diva
Sering Tertukar, Satwa Berbisa atau Satwa Beracun?
Emangnya beda, ya?
Sebenarnya berbisa dan beracun adalah dua hal yang berbeda, lho! Bisa diartikan sebagai zat beracun yang diproduksi oleh tubuh dan disuntikkan oleh bagian tubuh tertentu, seperti gigi, taring, dan sengat. Sementara itu, racun diartikan sebagai toksin biologis yang terdapat dalam suatu bagian tubuh.
Jadi, dapat disimpulkan kalau bisa adalah racun yang disalurkan dengan perantara, sedangkan racun adalah zat yang dikeluarkan secara pasif.
Bisa dimiliki oleh satwa berbisa sebagai bentuk pertahanan diri atau sebagai cara untuk mendapatkan mangsa. Sementara itu pada satwa beracun, racun hanya digunakan sebagai bentuk pertahanan diri. Satwa memiliki cara yang berbeda-beda untuk menyalurkan bisa dan menyimpan racun pada tubuhnya.
Satwa berbisa contohnya seperti ular, komodo, tawon, dan kalajengking. Bisa ular disalurkan melalui taring dan tersusun dari neurotoksin yang merusak sistem saraf dan atau hemotoksin yang merusak jaringan darah. Sedangkan pada lebah dan tawon, mereka menyalurkan bisa melalui sengat dari ujung abdomennya yang mengandung melittin (Sumarto dan Koneri 2016). Selain itu, bisa juga dapat disalurkan melalui bagian tubuh lain yang dimiliki seperti gigi dan duri.
Sementara itu pada contoh hewan beracun, yakni katak dan ikan buntal, mereka menyimpan racun mereka pada bagian tubuh seperti kulit dan duri. Racun ini akan menimbulkan dampak negatif pada pemangsa atau objek pengganggu, seperti gejala keracunan, sakit, bahkan hingga kematian. Dampak negatif ini akan memberikan efek jera pada pemangsa atau objek pengganggu sehingga mereka tidak mendekati satwa beracun tersebut lagi.
By the way, primata ada nggak sih yang berbisa atau beracun?
Ada dong! Kaget gak? Pasti nggak kepikiran kan?
Kukang (Nycticebus sp.) adalah satu-satunya satwa primata yang memiliki bentuk pertahanan diri berupa bisa. Caranya juga unik banget! Bisa yang disalurkan oleh gigi kukang nggak diproduksi langsung di mulutnya, melainkan dari lengannya! Bisa ini diproduksi oleh kelenjar brakialis.
Menurut penelitian Ankel-Simons pada tahun 2007, kelenjar brakialis dimiliki kukang di bagian siku tangan. Sebagai sistem pertahanan diri, kelenjar ini akan melakukan sekresi bisa ketika kukang merasa terancam. Ancaman yang memicu perilaku ini dapat berupa kehadiran satwa lain atau manusia. Hasil sekresi dari kelenjar brakialis tersebut lah yang dikatakan berbahaya apabila telah bercampur dengan saliva kukang.
Foto: Reza Septian | IAR Indonesia
Bisa ini kemudian menempel pada mulut dan gigi kukang saat kukang melakukan grooming (membersihkan diri). Pada keadaan dimana kukang merasa terancam, kukang juga akan mengangkat lengannya dengan sengaja dan menjilat-jilat bagian lengannya untuk mengumpulkan bisa pada rongga mulutnya. Nah, baru deh, kukang akan menggigit objek ancaman dengan giginya yang sudah penuh dengan bisa!
Jangan main-main, lho! Digigit oleh kukang nggak hanya sakit, tapi juga menimbulkan efek samping yang bikin ngeri. Gigitan kukang dapat menyebabkan luka, pembengkakan, kejang, alergi, demam, ruam, gatal, penurunan tekanan darah, pingsan, bahkan kematian!
Waduh hahaha.. Padahal kukang kelihatannya gemas dan lucu ya..