Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Beruk Mentawai: Primata Endemik dari Kepulauan Mentawai

Tahukah kamu, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat memiliki tingkat endemisitas primata yang tinggi?

Salah satu primata endemik di Kepulauan Mentawai adalah beruk Mentawai. Artinya, beruk Mentawai tidak dapat ditemukan di wilayah manapun alias limited edition!

Nama latin dari beruk Mentawai adalah Macaca pagensis. Selain itu, primata ini juga memiliki nama lokal siteut dan bokoi. Julukan beruk Mentawai dalam bahasa Inggris disebut pagai island macaque.

Sama halnya dengan yaki si monyet hitam dari Sulawesi, beruk Mentawai juga memiliki status kritis di alam (critically endangered). Mengapa demikian?

Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Gambaran Umum, Habitat, dan Persebaran Beruk Mentawai

Beruk mentawai (Macaca pagensis) (Klaus Rudloff, Berlin  | biolib.cz)

Beruk Mentawai memiliki ciri khas dengan bulu tebal berwarna abu-abu gelap dan ekornya yang pendek, membuatnya mudah dibedakan dari jenis monyet lainnya di Indonesia.

Habitat asli primata ini terutama terletak di hutan hujan tropis kepulauan Mentawai. Mereka menghuni berbagai jenis hutan, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan. Sayangnya, habitat ini terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia, seperti penebangan hutan dan konversi lahan untuk pertanian, yang menyebabkan habitat mereka terus menyusut.

Persebaran beruk Mentawai secara eksklusif hanya di Kepulauan Mentawai. Karena keterbatasan geografis dan habitat yang semakin terancam, populasi beruk Mentawai mengalami penurunan.

Keberadaan mereka yang hanya terbatas di wilayah tersebut menjadikan mereka sangat rentan terhadap kepunahan. Kesadaran akan perlindungan dan pelestarian habitat mereka menjadi sangat krusial untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini di masa depan. 

Kebiasaan Makan dan Adaptasi Beruk Mentawai di Lingkungan Asli

Di lingkungan asli mereka, beruk Mentawai memiliki diet yang beragam dan seimbang yang terdiri dari buah-buahan, daun, bunga, dan kadang-kadang serangga. Ketersediaan makanan ini sangat bergantung pada musim dan jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar habitat mereka. Hal ini menunjukkan beruk Mentawai adalah spesies yang sangat adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sumber daya alam yang tersedia.

Selain diet, adaptasi beruk Mentawai juga pada cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Misalnya, mereka memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan memilih buah-buahan yang matang dan bergizi dari yang masih mentah. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk kelangsungan hidup mereka, tetapi juga berperan dalam proses penyebaran biji, yang membantu dalam regenerasi hutan.

Dinamika Populasi dan Tantangan Konservasi Beruk Mentawai

Menurut IUCN, beruk Mentawai merupakan primata dengan status kritis di alam (critically endangered).

Di Indonesia sendiri, beruk Mentawai juga masuk ke dalam daftar satwa dilindungi, yaitu terdaftar di Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (PERMEN LHK) Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Sebagai satwa dilindungi, ada berbagai hal yang menjadi tantangan dalam konservasi beruk Mentawai:

  • Fluktuasi populasi: populasi beruk Mentawai mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan habitat, ketersediaan makanan, dan interaksi dengan spesies lain. Data terkini menunjukkan tren penurunan jumlah populasi, yang memicu kekhawatiran tentang kelangsungan hidup spesies ini.
  • Kehilangan habitat: pembukaan lahan untuk pertanian dan pembalakan menjadi tantangan besar dalam konservasi beruk Mentawai. Penebangan hutan mengurangi area hidup yang esensial bagi mereka untuk mencari makan dan berkembang biak, sehingga membatasi kemampuan dalam mempertahankan populasi yang sehat.
  • Konflik dengan manusia: bertambahnya aktivitas manusia di dekat habitat beruk Mentawai memperbesar kemungkinan terjadi konflik. Beruk Mentawai yang memasuki perkebunan mencari makanan bisa dianggap sebagai hama oleh petani, sehingga berisiko terhadap konflik yang berujung pada penganiayaan atau pembunuhan.
  • Penyakit: penularan penyakit dari manusia ke beruk Mentawai juga menjadi perhatian serius. Penyakit yang tidak umum di kalangan beruk bisa berakibat fatal, mengingat mereka tidak memiliki kekebalan terhadap patogen tersebut.
  • Keterbatasan genetik: populasi yang terisolasi cenderung memiliki variasi genetik rendah, yang meningkatkan risiko inbreeding dan mengurangi kekebalan terhadap penyakit serta adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
  • Upaya konservasi: melindungi beruk Mentawai membutuhkan strategi konservasi menyeluruh, mencakup perlindungan habitat, edukasi masyarakat lokal, serta penelitian lebih lanjut mengenai ekologi dan biologi beruk Mentawai. Kerjasama antar lembaga konservasi, pemerintah, dan masyarakat setempat sangat penting dalam menjaga keberlangsungan spesies ini.

Interaksi Beruk Mentawai dengan Spesies Lain di Habitatnya

Di habitat aslinya, beruk Mentawai juga berinteraksi dengan primata endemik lain, termasuk:

  • Owa bilau (Hylobates klossii): owa bilau, kera kecil endemik Kepulauan Mentawai, sering terlihat bergelantungan dan berayun di antara dahan-dahan pohon. Peran mereka dalam penyebaran biji sangat penting untuk menjaga kesehatan hutan.
  • Simakobu (Simias concolor): dikenal juga sebagai monyet ekor babi karena ekor pendek yang mirip babi, simakobu lebih teritorial dan menghabiskan waktu di lantai hutan. Mereka berperan penting dalam proses penyebaran biji yang jatuh ke tanah, mendukung regenerasi hutan.
  • Joja (Presbytis potenziani) dan Presbytis siberu: kedua spesies surili ini aktif berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mengonsumsi daun muda dan buah-buah. Interaksi sering kali bersifat kompetitif dengan beruk Mentawai, terutama dalam hal akses terhadap sumber makanan.

Peran Masyarakat Mentawai Menjaga Hutan Habitat Bagi Beruk Mentawai

Masyarakat di daerah Mentawai bisa ikut andil juga dalam menjaga hutan habitat beruk Mentawai, lho. Bagaimana caranya?

  • Pengetahuan tradisional: masyarakat Mentawai punya pengetahuan tradisional mendalam tentang hutan dan spesies yang hidup di dalamnya, termasuk beruk Mentawai. Mereka menggunakan pengetahuan ini untuk berinteraksi secara berkelanjutan dengan alam, memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak ekosistem.
  • Praktik berkelanjutan: masyarakat setempat biasanya menerapkan metode pertanian dan perburuan berkelanjutan yang tidak mengganggu habitat asli beruk Mentawai. Misalnya, mereka menghindari penggunaan teknik penebangan dan pembakaran yang dapat merusak habitat hutan secara luas.
  • Partisipasi dalam program konservasi: banyak anggota masyarakat Mentawai aktif terlibat dalam program konservasi yang diinisiasi oleh pemerintah atau organisasi non-pemerintah. Keterlibatan ini termasuk patroli hutan, pemantauan populasi beruk, dan kegiatan reboisasi.
  • Edukasi dan kesadaran lingkungan: masyarakat Mentawai juga berperan dalam edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Mereka mengajarkan nilai dan pentingnya pelestarian hutan dan spesies endemik seperti beruk Mentawai kepada anak-anak dan remaja.
  • Pengelolaan konflik dengan satwa liar: masyarakat setempat telah mengembangkan strategi untuk mengelola konflik dengan satwa liar (termasuk beruk Mentawai), seperti penggunaan teknik penghalau yang tidak membahayakan. Ini dilakukan agar menjaga satwa liar tetap jauh dari lahan pertanian atau pemukiman.
  • Peran dalam ritual dan budaya: beruk Mentawai sering terlibat dalam cerita rakyat dan ritual masyarakat Mentawai, yang menunjukkan penghargaan dan rasa hormat mereka terhadap satwa ini. Keterlibatan ini membantu meningkatkan status beruk Mentawai sebagai spesies yang penting untuk dilestarikan.

Kesadaran bersama dalam melestarikan beruk Mentawai dan habitatnya merupakan langkah penting untuk keseimbangan ekosistem Kepulauan Mentawai secara keseluruhan.

Masyarakat setempat, bersama dengan pemerintah dan organisasi konservasi, memainkan peran krusial dalam menjaga hutan—paru-paru dunia ini—agar tetap lestari. Setiap tindakan yang kita ambil hari ini untuk konservasi beruk Mentawai adalah investasi bagi generasi mendatang, memastikan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia terjaga.

Yuk, bersama-sama kita mendukung inisiatif ini agar suara dari hutan Mentawai tidak pernah hilang ditelan zaman!

Referensi: 

  1. Supriatna J, Hendras E. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Pustaka Indonesia.
  2. Setiawan A, Mittermeier RA, dan Whittaker D. 2020. Macaca pagensis. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: e.T39794A17949995. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T39794A17949995.en. Accessed on 27 August 2024.
  3. Bismarck M. 2012. Model konservasi primata endemik di Cagar Biosfer Pulau Siberut, Sumatera Barat (Conservation Strategy of Endemic Primate in Siberut Biosphere Reserve, West Sumatera). 9(2):151-162. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
  4. https://www.liputan6.com/hot/read/5620716/bmkg-gempa-mentawai-yang-perlu-diawasi-secara-ketat-ada-3-patahan-aktif#:~:text=Mentawai%20adalah%20wilayah%20yang%20dikenal,lempeng%20Indo%2DAustralia%20dan%20Eurasia.&text=Liputan6.com%2C%20Jakarta%20Berdasarkan%20data,Australia%20di%20sekitar%20Samudera%20Hindia

Translokasi dan Pelepasliaran Kukang, Monyet Ekor Panjang, serta Beruk di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

 

Siaran Pers

Lampung, 27 Juli 2024 – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan mitra kerja Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan program translokasi dan pelepasliaran satwa. Acara ini diadakan di Kawasan Hutan Resort Balik Bukit, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Satwa yang dilepasliarkan adalah empat individu kukang sumatera (Nycticebus coucang), empat individu beruk (Macaca nemestrina), dan dua puluh individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di Indonesia.

 

Proses translokasi salah satu satwa ke kandang habituasi (Rendi Afandi | YIARI)

Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa telah menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat rehabilitasi YIARI yang memiliki perjanjian kerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat. Mereka dipersiapkan kembali ke alam setelah beberapa di antaranya diserahkan oleh masyarakat Jawa Barat, disita dari aktivitas perdagangan ilegal oleh Pihak Kepolisian (Polda Metro Jaya), atau ditemukan terlibat dalam konflik di sekitar area rehabilitasi. Proses rehabilitasi meliputi penilaian mendalam terhadap kesehatan fisik dan perilaku, memastikan mereka siap beradaptasi dengan lingkungan aslinya.

Pentingnya translokasi dan pelepasliaran terletak pada perannya dalam memulihkan populasi satwa di habitat asli mereka, mengurangi konflik antara manusia dan satwa, serta mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu. Selain membantu memastikan kelangsungan hidup satwa-satwa di alam liar, kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.

Perjalanan menuju kandang habituasi di dalam kawasan hutan TNBBS (Fattreza Ihsan | YIARI)

Resort Balik Bukit di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena menyediakan ekosistem yang ideal untuk keberlangsungan hidup berbagai satwa. Area ini menawarkan berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sekunder hingga tepi hutan dan perkebunan, yang semuanya mendukung kehidupan kukang, monyet ekor panjang, dan beruk. Faktor penting lain dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan pakan alami yang melimpah, seperti tumbuhan, serangga, reptil, dan burung kecil. Selain itu, tingkat kesadaran dan dukungan dari masyarakat setempat juga membantu meminimalkan potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa-satwa yang dilepasliarkan.

Kegiatan seremoni translokasi yang merupakan kolaborasi multipihak (Fattreza Ihsan | YIARI)

Rangkaian kegiatan pelepasliaran turut mengundang masyarakat setempat di Kecamatan Balik Bukit untuk berpartisipasi dalam acara pembukaan rangkaian pelepasliaran satwa. Pada acara pembukaan, masyarakat setempat diimbau untuk lebih peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar di alam. Harapannya, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan wilayah konservasi TNBBS.

 

Contact Person

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

BBTNBBS: 0812-7976-238 (Decis Maroba, S.Hut., M.Sc)

BBKSDA Jawa Barat: 0822-1656-2150 (Ery)

BKSDA Bengkulu: 08117388100

YIARI: 0815-4621-7456 (Fathia)

 

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dalam upaya konservasi primata Indonesia melalui penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), reintroduksi/pelepasliaran satwa liar tersebut ke habitat alaminya, hingga pemantauan pasca lepas liar. YIARI memiliki fasilitas Pusat Rehabilitasi Satwa Ciapus yang juga berfungsi sebagai kantor dari YIARI, di Jl. Curug Nangka. Kp. Sinarwangi RT004/RW005, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari – Ciapus, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Sei Awan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. YIARI juga didukung oleh International Animal Rescue (IAR) dan bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi, instansi pendidikan, hingga sektor privat. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, kami berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.