Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Edukasi Hari Primata Lampung, Kenalkan Konservasi Sejak Dini!
Pada 9 Februari 2025, kegiatan edukasi dalam rangka peringatan Hari Primata Indonesia sukses diselenggarakan di Dusun Beringin 4, Lampung. Acara ini meliba tkan sebanyak 52 anak-anak dari keluarga petani, yang berasal dari jenjang pra-PAUD sampai SMP.
Kegiatan ini bukan sekadar perayaan simbolis, melainkan sebuah langkah nyata dalam menanamkan kesadaran lingkungan dan pentingnya konservasi sejak usia dini. Melalui serangkaian aktivitas seperti pengenalan jenis-jenis primata Indonesia, mewarnai, mendongeng, sampai permainan edukatif, anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain, mengenal primata lebih dekat, serta memahami peran penting mereka dalam ekosistem.
Ingin tahu bagaimana anak-anak di Dusun Beringin 4 belajar mencintai alam sambil bermain? Simak selengkapnya di artikel ini!
Apa Tujuan dan Output dari Kegiatan Perayaan Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4?
Kegiatan edukasi dalam rangka Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4 bukan hanya bertujuan untuk memperingati hari penting ini, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam upaya konservasi satwa liar.
Menurut Jurnal Primatologi Indonesia, Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 59 spesies primata dari 11 genus, yang tersebar di berbagai habitat mulai dari hutan hujan tropis hingga pegunungan.
Sayangnya, keberadaan mereka semakin terancam oleh perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan hutan yang masif.
Melalui kegiatan ini, YIARI merancang pendekatan edukatif yang menyasar anak-anak dari keluarga petani sebagai langkah awal membangun kesadaran kolektif sejak dini. Adapun tujuan utamanya mencakup:
Memberikan pendampingan intensif kepada anak-anak petani dampingan dalam memahami pentingnya pelestarian satwa liar.
Meningkatkan pengetahuan anak-anak mengenai berbagai jenis primata di Indonesia dan fungsi ekologisnya.
Menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini, agar terbentuk kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Melakukan survei dan pendataan persepsi anak-anak serta keluarga mereka untuk mendukung keberlanjutan program edukasi konservasi.
Rangkaian Kegiatan untuk Edukasi Konservasi Primata
Berikut rangkaian kegiatan ini:
1. Penyampaian Materi: Mengenal Primata dan Habitatnya
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mengenal primata dan habitatnya (Tim Edukasi | YIARI)
Sesi ini menjadi inti dari kegiatan edukasi konservasi. Anak-anak dikenalkan pada berbagai jenis primata yang hidup di Indonesia, seperti orangutan, lutung, dan tarsius. Mereka juga diajak memahami peran ekologis primata, misalnya sebagai penyebar biji tanaman yang membantu regenerasi hutan.
Materi disampaikan melalui media visual seperti gambar dan video edukatif agar lebih menarik dan mudah dicerna. Selain itu, anak-anak juga dikenalkan dengan berbagai ancaman nyata yang dihadapi primata, seperti deforestasi, perburuan liar, dan perdagangan satwa ilegal.
Melalui sesi ini, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus diharapkan menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap satwa liar.
2. Mewarnai
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mewarnai(Tim Edukasi | YIARI)
Mewarnai menjadi salah satu kegiatan favorit yang menyenangkan sekaligus mendidik. Anak-anak diberikan sketsa bergambar primata khas Indonesia untuk diwarnai sesuai dengan imajinasi mereka.
Kegiatan ini mengasah kemampuan motorik dan kreativitas, serta menjadi sarana mengenal satwa lebih dekat melalui pendekatan visual dan artistik.
Dengan tema yang sesuai, mewarnai menjadi media pembelajaran yang efektif untuk memperkuat pemahaman anak tentang jenis dan ciri khas primata Indonesia.
3. Mendongeng
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mendongeng(Tim Edukasi | YIARI)
Dongeng adalah salah satu metode paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak-anak. Dalam sesi ini, mereka diajak mendengarkan cerita yang mengangkat tema pentingnya menjaga hutan dan melindungi satwa liar.
Cerita disampaikan dengan alur yang menarik serta tokoh-tokoh hewan yang mudah dikenali dan disukai oleh anak-anak.
Melalui dongeng, anak-anak dihibur sekaligus belajar bahwa tindakan manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa di alam liar. Pesan moral yang disampaikan mampu membentuk kesadaran ekologis dan menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini.
4. Games Edukasi
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu games edukasi(Tim Edukasi | YIARI)
Bagi anak-anak, belajar akan lebih menyenangkan jika dilakukan melalui permainan. Dalam sesi ini, tim YIARI mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai permainan edukatif setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan lainnya.
Permainan yang disajikan dirancang untuk melatih kerja sama tim, ketelitian, serta kemampuan berpikir kritis. Dengan metode belajar sambil bermain ini, anak-anak menjadi lebih mudah memahami isu-isu konservasi dan lebih sadar akan pentingnya menjaga primata serta lingkungan hidup mereka.
5. Membaca Buku
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu membaca(Tim Edukasi | YIARI)
Selain mendengarkan dongeng, anak-anak juga diajak untuk membaca buku-buku bertema konservasi satwa liar. Buku-buku ini berisi cerita inspiratif serta informasi menarik mengenai primata dan ekosistem hutan tempat mereka hidup.
Kegiatan membaca ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai konservasi melalui literasi, serta meningkatkan minat baca anak-anak. Melalui cerita yang dikemas secara ringan dan edukatif, diharapkan anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan menghargai kehidupan satwa liar di sekitarnya.
6. Survei Persepsi Anak-anak
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu survei persepsi anak-anak(Tim Edukasi | YIARI)
Sebagai bagian dari evaluasi program dan upaya perbaikan berkelanjutan, tim YIARI juga melakukan survei terhadap anak-anak dan keluarga mereka. Survei ini bertujuan untuk menggali pemahaman, sikap, serta tingkat kesadaran mereka terhadap konservasi primata.
Hasil survei akan menjadi dasar dalam merancang program edukasi selanjutnya agar lebih relevan dan efektif. Dengan melibatkan partisipasi langsung dari peserta, pendekatan ini membantu memastikan kegiatan konservasi benar-benar berdampak dan diterima oleh masyarakat, terutama generasi muda.
Harapan dan Dampak Edukasi Konservasi Primata
Dengan adanya edukasi konservasi primata, terdapat beberapa harapan dan dampak edukasi yang bisa dicapai dalam jangka pendek maupun panjang, antara lain:
1. Peran Penting Primata dalam Ekosistem
Primata memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. Mereka berfungsi sebagai penyebar biji, pengendali populasi serangga, hingga indikator alami terhadap kesehatan lingkungan. Sayangnya, ancaman terhadap populasi primata terus meningkat akibat perburuan liar, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat.
Upaya konservasi primata tidak bisa hanya mengandalkan kalangan ilmuwan atau aktivis lingkungan semata. Keterlibatan masyarakat luas, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus, menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan spesies ini di masa depan.
2. Edukasi Konservasi untuk Generasi Muda
Melalui kegiatan edukatif dalam rangka Hari Primata Indonesia, YIARI menanamkan nilai-nilai konservasi kepada anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Anak-anak dikenalkan pada keanekaragaman primata Indonesia serta diajak memahami bagaimana perilaku manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup mereka.
Aktivitas seperti mendongeng, mewarnai, membaca buku, hingga bermain permainan edukatif menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi. Dengan metode ini, anak-anak diharapkan mengalami proses pembelajaran yang membekas secara emosional.
3. Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak mengenai pentingnya pelestarian primata dan lingkungan hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa tindakan sederhana, seperti tidak membeli atau memelihara satwa liar, dapat memberikan dampak besar terhadap kelestarian ekosistem.
Di masa depan, edukasi ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih sadar lingkungan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian satwa liar. Anak-anak yang tumbuh dengan nilai-nilai konservasi berpotensi menjadi agen perubahan yang mendorong terciptanya masyarakat yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
4. Membangun Masa Depan yang Harmonis
Kegiatan edukasi seperti Hari Primata Lampung membuktikan proses pembelajaran yang dikemas secara menyenangkan mampu menumbuhkan rasa empati yang mendalam terhadap alam. Selain memahami pentingnya melindungi primata, anak-anak juga terdorong untuk terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, relawan, dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semangat yang ditunjukkan anak-anak Dusun Beringin 4 menjadi bukti bahwa pendidikan dan konservasi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Program seperti ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah, sehingga semakin banyak anak-anak Indonesia yang tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya konservasi. Mari bersama-sama menjaga sahabat hutan kita—primata—demi masa depan bumi yang lestari, harmonis, dan berkelanjutan!
Pengalaman Herma dan Isna Magang Multidivisi: Belajar SMART Patrol sampai Membuat Pestisida Nabati
HERMA YULIANTIKA
Proses melepaskan plastik sambungan stek pucuk bibit alpukat bersama kelompok tani beringin 4 (Dok. pribadi)
Halo, Sobat #KonservasYIARI saya Herma Yuliantika kerap disapa dengan panggilan herma. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sumatera, program studi S1 Rekayasa Kehutanan semester 6, Saya berasal dari Kotabumi Utara, Lampung Utara. Sebagai seorang mahasiswa Rekayasa Kehutanan, saya tertarik untuk mengikuti magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) untuk mengeksplorasi kegiatan di YIARI, kemudian saya juga pernah mengikuti kegiatan di YIARI sebagai volunteer penelitian kupu-kupu pada Agustus 2022.
Saya memiliki minat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengendalian hama & penyakit atau pemeliharaan tanaman, salah satunya yaitu pestisida nabati. Salah satu divisi di YIARI yaitu Community Developmet (Comdev) memiliki program pendampingan dan monitoring terhadap Gapoktan, salah satunya yaitu pembuatan pestisida nabati yang diaplikasikan di persemaian. Hal tersebut membuat saya semakin tertarik magang di YIARI.
Aktivitas saya selama magang lebih dominan mengikuti kegiatan COMDEV bersama bang Aji Mandala. Saya mengikuti kegiatan pendampingan dan monitoring peternakan dan persemaian di kelompok tani Sumber Makmur, di lokasi tersebut juga saya melakukan wawancara dengan mas wawan dan ibu sri mengenai pestisida nabati yang sudah mereka aplikasikan sebagai bahan pengetahuan saya dalam melakukan penelitian, hasil dari wawancara yang saya dapatkan bahwa kelompok tani yang dibina oleh YIARI cenderung memiliki kemajuan berpikir dalam pengelolaan pertanian yang ditandai dengan penggunaan pestisida nabati yang lebih dominan dibandingkan pestisida kimia.
Kemudian, saya juga mengikuti monitoring persemaian di kelompok tani beringin 4 dan balai rejo. Saat monitoring persemaian di beringin 4, saya bersama anggota kelompok tani mencoba membuat pestisida nabati sebagai bahan penelitian saya yang terbuat dari bahan brotowali dan sereh wangi yang diaplikan pada hama ulat dan penggerek buah kopi.
Hasil diskusi yang saya dapatkan dari kelompok tani beringin 4, penggerek buah kopi menjadi permasalahan yang cukup merugikan petani, oleh sebab itu saya memilih penggerek buah kopi sebagai bahan uji coba pestisida nabati. Hasil pengujian mortalitas yang dilakukan, pestisida nabati cenderung efektif pada hama ulat dan penggerek buah kopi di semua perlakuan hanya yang membedakan lamanya waktu kematian hama.
Herma bersama kelompok tani membuat pestisida nabati dari sereh wangi dan brotowali(Dok. pribadi)
Saya berkesempatan untuk belajar menggunakan aplikasi SMART oleh Mas Ari Sutopo, beliau mengajarkan penggunaan smart desktop dan mobile. Kemudian, saya juga berkesempatan mengikuti kegiatan edukasi oleh kak inggit dalam acara ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri.
Saya juga belajar mengidentifikasi satwa dari hasil camera trap Batutegi yang didampingi oleh bang Aris, saat mengidentifikasi satwa tersebut saya cukup senang karena di hutan batutegi khususnya blok inti masih terdapat satwa yang sebelumnya belum pernah saya lihat secara langsung yaitu kuau, landak, kancil, musang leher kuning, linsang, babi, beruang, dan lain sebagainya.
Kegiatan akhir yang saya ikuti yaitu acara Hari Bebas Plastik Sedunia di gunung tanggamus bersama IAR-BOLANG LANSIA, dari acara tersebut saya jadi memiliki pengalaman mendaki di campground gunung tanggamus dan membuka pemikiran saya mengenai bahaya nya sampah plastik terhadap lingkungan.
Banyak pengalaman menarik selama magang di YIARI, baik di lapangan atau di kantor. Kegiatan COMDEV merupakan kegiatan yang paling berkesan untuk saya karena di COMDEV saya mendapatkan ilmu baru mengenai pengelolaan pertanian dan peternakan yang bijak, serta meningkatkan jiwa bersosialisasi bersama kelompok tani. Hal menarik lainnya yaitu saya banyak bertemu orang-orang yang hebat di YIARI ataupun komunitas-komunitas lain yang menambah ilmu pengetahuan saya.
ROISNA YURISBA
Proses pembuatan pestisida nabati dengan bahan disekitar lingkungan masyarakat (Dok. pribadi)
Hai teman-teman, nama saya Roisna Yurisba biasa dipanggil Isna. Saya adalah mahasiswa semester 6 Program Studi S1 Rekayasa Kehutanan dari Institut Teknologi Sumatera, saya berasal dari Tanggamus. Saya tertarik melakukan kegiatan magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dikarenakan Program Studi yang saya tempuh memiliki kegiatan yang sama dengan YIARI, sehingga saya dapat peluang untuk belajar, mengasah keterampilan, mengeksplorasi minat, berkontribusi dan dapat membuka pandangan tentang masa depan.
Saya mengenal YIARI saat Bapak Robithotul Huda, S.Si., M.Ling menghadiri acara Seminar Nasional Hasil Ekspedisi Observasi Lingkungan Kehutanan (ORANGUTAN) yang diadakan oleh Himpunan FORESTA serta rekomendasi teman yang pernah menjadi volunteer di naungan YIARI.
Kegiatan yang telah saya lakukan selama sebulan magang di YIARI Indonesia antara lain mempelajari penggunaan dan mengolah data di SMART App yang berguna untuk mengumpulkan data yang terjadi di sekitar lingkungan didampingi oleh Bang Ari, berkesempatan dapat mengidentifikasi dan mengetahui persebaran satwa liar yang ada di kawasan Batutegi dari camera trap yang didampingi oleh Bang Aris dan melakukan kegiatan Community Development (Comdev) diantaranya menghadiri ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri di Batutegi.
Di sana saya melihat bagaimana antusiasnya anak-anak dalam memeriahkan acara tersebut, saat itu saya bertanya kepada keluarga pemilik Taman Baca tersebut dan menyatakan bahwa anak-anak sangat senang membaca buku bahkan datang ke Taman Baca sebelum waktu yang ditentukan, mengikuti pemantauan dan evaluasi terhadap Gapoktan di Sumber Makmur, Beringin 4, dan Balai Rejo dimana saya mengetahui bagaimana cara melakukan persemaian yang baik terhadap jenis tanaman yang berbeda, pembuatan JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi).
Kemudian saya berkesempatan diajak oleh Kak Inggit untuk mengikuti edukasi Peringatan Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia yang diadakan di Gunung Tanggamus. Penelitian yang saya lakukan di YIARI adalah uji efektivitas insektisida nabati menggunakan bahan buah maja dengan campuran kunyit yang dilakukan di desa Beringin 4 bersama Gapoktan yang dibantu oleh Bang Aji.
Pembuatan Pestisida Nabati Buah Maja dan Kunyit yang Dibantu Oleh Petani Gapoktan Beringin 4 (Dok. pribadi)
Menurut hasil wawancara bersama Gapoktan desa Beringin 4 menyatakan bahwa hama penggerek buah dapat menyebabkan kerusakan sebesar 20 % yang mengakibatkan buah kopi mengalami pembusukan. Sehingga dengan dibantu dalam pencarian buah maja dan kunyit di lahan petani diharapkan hasil Insektisida Nabati yang telah saya buat dapat mematikan hama tersebut dan menjadi solusi bagi petani kopi. Menurut saya hasil desa yang di bina oleh YIARI sangat berdampak positif bagi pola pikir warga yang dulunya bekerja sebagai pemburu sekarang fokus terhadap persemaian dan warga setempat sangat aktif mengikuti kegiatan dari YIARI seperti berkontribusi mengikuti sekolah lapang.
Selain ramah lingkungan, alasan warga memilih menggunakan pestisida nabati dibandingkan pestisida kimia adalah rendah residu terpaparnya pada hewan, penggunaan lebih aman, bermanfaat bagi kesehatan manusia, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati setempat untuk dijadikan sebagai pestisida nabati sehingga saya mendapatkan pengalaman selama magang di YIARI seperti saya memperoleh banyak pengalaman baru, meningkatkan semangat yang tinggi terhadap pengetahuan baru, saya senang bertemu dengan warga yang dapat bertukar informasi terkait pertanian dan bagaimana mengelola tanaman yang baik serta para staf YIARI yang mau membagikan pengetahuannya kepada saya.
Lomba Cepat Tepat “Hutan dan Kehidupan”: Bersama Young Forester Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Generasi Muda
Dalam rangka memberi pendidikan dan penyadartahuan lingkungan kepada generasi muda, terutama generasi Z di Provinsi Lampung, Young Forester mengadakan kegiatan rangkaian Lomba Cepat Tepat (LCT) dan Workshop “Hutan dan Kehidupan”. Young forester adalah organisasi binaan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung yang terdiri dari rimbawan dan staf muda lembaga pemerintahan. Tahap penyisihan LCT dilakukan pada 11 Desember secara daring, dan babak final pada 14 Desember 2023 di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Bandar Lampung. Kegiatan LCT ini didukung oleh berbagai pihak dan instansi di masyarakat, meliputi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP), Rainforest Alliance, Pertamina, dan Tanggamus Electric Power. Kompetisi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa di tahun sebelumnya yaitu Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” di Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Mengingat kegiatan lomba cepat tepat yang sukses dan berdampak bagi para peserta yang diadakan pada tahun sebelumnya, pada tahun ini Dinas Kehutanan Provinsi Lampung mengajak Young Forester untuk melakukan suatu kegiatan positif dengan tetap mengutamakan unsur konservasi didalamnya, sehingga diadakannya kembali kegiatan Lomba Cepat Tepat pada tahun ini dengan isu dan keragaman hayati di seluruh hutan Provinsi Lampung. Dari 56 tim yang terdiri dari 3 orang per sekolah yang mendaftar di babak penyisihan online, sebanyak 30 tim lolos ke dalam babak perempat final.
Suasana saat pertandingan perempat final Lomba Cepat Tepat “Hutan dan Kehidupan” (Fattreza Ihsan | YIARI)
Di babak final, SMA Negeri 2 Kota Agung berhasil menyabet juara pertama. Disusul oleh SMA YP Unila yang meraih juara kedua dan SMA Negeri 1 Purbolinggo yang meraih juara ketiga. Salah seorang anggota tim yang mewakili juara pertama ini, Frenika Rorensia mengungkapkan kesannya mengenai bagaimana ia mendapatkan pengalaman dan ilmu baru yang ia tidak dapatkan di sekolah ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba ini.
“Saya menjadi lebih paham mengenai isu perubahan iklim, karena kami mempelajari lagi mengenai perubahan iklim untuk mengikuti lomba ini. Ada beberapa hal yang tidak dipelajari di sekolah mengenai isu perubahan iklim, seperti materi mengenai SDGs (Sustainable Development Goals)”, ujar Franika.
Momen Pemberian Piala dan Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah, M.Si., kepada para peserta dari SMA Negeri 2 Kota Agung (Fattreza Ihsan | YIARI)
Kesan dari peserta LCT ini juga sejalan dengan tujuan kegiatan yang disampaikan oleh Eko Prasetyo, S.Hut., Penyuluh Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung selaku Ketua Pelaksana LCT ini, dimana kesadaran mengenai isu lingkungan harus segera disampaikan kepada para generasi muda. “Sebagai penyuluh kehutanan, dalam menghadapi generasi generasi muda, terutama anak sekolah, kita harus bisa menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga hutan itu penting bagi mereka, secara tidak langsung,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan sarana untuk mendekatkan pendidikan konservasi kepada masyarakat muda di Lampung.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah, M.Si., momen kegiatan LCT ini juga menjadi strategi dalam mendorong pengembangan staf muda Dinas Kehutanan yang tergabung dalam organisasi Young Forester ini. “Tanpa adanya batasan fungsi, tanpa adanya batasan atasan-bawahan, saya harap kegiatan ini mampu mengeksplor potensi-potensi para staf muda kami. Karena merekalah yang nantinya akan memegang jabatan penting dalam pemerintahan sebagai ASN,” tegasnya.
Kegiatan LCT “Hutan dan Kehidupan” ini kemudian ditutup dengan workshop dari lembaga swadaya masyarakat yang beroperasi di Sumatera. Di antaranya ialah pemaparan dari YIARI, WCS-IP, Rainforest Alliance, serta komunitas Pramuka Saka Wanabakti. Masing-masing lembaga memberi penyuluhan dan penyadartahuan terkait bidang-bidang kerjanya bagi para siswa SMA/SMK yang hadir di acara ini.
Bijak Berwisata dan Berinteraksi dengan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Masih ingatkah Sobat KonservasYIARI dengan kasus serangan monyet ekor panjang yang bernama monpai di salah satu objek wisata? Selain dalam bentuk serangan, interaksi negatif dengan monpai dapat mengakibatkan penularan penyakit (zoonosis). Jadi penyakit ini menular dari satwa vertebrata ke manusia atau sebaliknya melalui infeksi patogen seperti bakteri, virus, fungi dan parasit secara alami. Semua hal itu bisa terjadi jika Sobat KonservasYIARI tidak bijak dalam berwisata. Bukannya menghilangkan kepenatan, justru malah mendatangkan petaka!
Lalu bagaimana sih cara agar kita bisa berwisata dengan bijak dan aman?
1. Hindari memberi makan kepada monpai
Monpai memiliki makanan alaminya sendiri yang disesuaikan dengan anatomi tubuhnya. Pemberian makan sembarangan dapat menimbulkan masalah bagi monpai, pengunjung wisata, maupun masyarakat sekitar. Insting alami monpai akan tumpul akibat ketergantungan pada sumber makanan dari pengunjung dan mendorong perilaku memalak. Lebih parahnya lagi ketika wisata sepi, monpai bisa saja mencari makanan ke pemukiman warga atau warung di tempat wisata.
Monyet ekor panjang memakan pisang di Suaka Margasatwa Muara Angke. Apabila makaka semakin sering diberi makanan oleh manusia, maka ia akan semakin ketergantungan dengan kita (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
2. Hindari kerumunan kelompok monyet
Baik di alam maupun di tempat penangkaran ex-situ, monpai hidup dalam kelompok besar. Induk monpai selalu melindungi anak-anaknya, mereka tidak segan-segan untuk menyerang secara tiba-tiba apabila merasa terganggu. Wah alih-alih berwisata justru bisa berujung pada celaka. Jadi sebisa mungkin untuk menghindari kerumunan kelompok monyet ekor panjang saat berwisata.
Sekelompok monyet ekor panjang atau monpai di hutan (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
3. Hindari berswafoto dengan monpai
Jika ingin mengambil foto satwa liar, kita dapat mengambilnya dari jarak yang aman dan lakukan tanpa harus menyentuh serta mengganggu monpai. Kemudian abadikanlah monpai dengan tingkah laku dan ekspresi alaminya. Tindakan berswafoto yang tidak bijak dapat menggiring persepsi yang bertentangan dengan tujuan konservasi. Selain itu interaksi yang terlalu dekat dengan monpai saat swafoto dapat menularkan penyakit (zoonosis).
Konflik antara monyet ekor panjang dan manusia akan semakin mudah terjadi seiring berkurangnya jarak antara manusia dan MEP (Fakultas Kehutanan UGM)
4. Bawa kembali sampahmu
Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.
Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.
Penyediaan tempat sampah yang cukup di lokasi wisata sangat penting dilakukan untuk mengurangi konflik antara manusia dan monpai (Tim HMC | Yayasan IAR Indonesia)
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi :
Nanda IMAP. 2020. Analisis risiko penularan zoonosis dari serangga konsumsi. Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia. 2(2): 132-155.
Rahman H, Sartika. 2022. Upaya pencegahan travel disease dalam persepsi travel agent. Jurnal penelitian kesehatan suara forikes.
Elif Ivana Hendastari & Cahya Riza Haromaen
Keseruan Conservation Camp Batutegi di Hari Primata Indonesia 2023
Bagaimana Sabtu-Minggu kalian? Diisi dengan apakah?
Sabtu-Minggu kali ini kami mengisinya dengan kegiatan yang positif, lho. Untuk memperingati Hari Primata Indonesia, kami bersama para pemuda dari Kabupaten Tanggamus, Lampung bersama-sama belajar mengenai konservasi sambil berpetualang dalam acara Batutegi Conservation Camp. Acara ini dilaksanakan pada pada tanggal 28-29 Januari kemarin di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kegiatan yang diinisiasi oleh KPH Batutegi dan YIARI berkolaborasi dengan Kukangku dan Gibbonesia, serta komunitas peduli lingkungan di Tanggamus, Lampung ini dilangsungkan untuk menginisiasi pembentukan pemuda pro-konservasi.
Tahukah kamu apa itu pemuda pro-konservasi? Mereka adalah salah satu elemen masyarakat yang penting dalam upaya perlindungan alam ini. Para pemuda ini bisa menjadi generasi penerus kegiatan konservasi, terutama di Hutan Lindung Batutegi. Mengingat banyaknya kegiatan perusakan hutan di sekitar kita saat ini seperti penebangan ilegal, perburuan satwa liar, dan perambahan hutan, perlu adanya upaya untuk melindungi alam yang harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat dan pihak yang tinggal dan hadir di sekitar kawasan konservasi, dan dalam hal ini diwujudkan dengan pembentukan pemuda pro-konservasi ini.
Para peserta yang berjumlah 36 orang dan berasal dari berbagai komunitas pecinta alam ini berangkat dari Basecamp Yayasan IAR Indonesia di Air Naningan, Lampung pada siang hari. Selama perjalanan kurang lebih 2 jam menggunakan kendaraan darat dan perahu, akhirnya mereka sampai di Basecamp Yayasan IAR Indonesia di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Way Rilau. Setibanya para peserta, mereka mendirikan tenda masing-masing sebelum akhirnya berkumpul bersama panitia dan mendapatkan materi konservasi. Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan di Conservation Camp ini dikemas dalam kegiatan yang rekreatif sekaligus edukatif supaya para peserta bisa memahami dengan baik.
Para peserta Batutegi Conservation Camp sedang menonton bersama video edukasi konservasi bertemakan biodiversitas di Batutegi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Pada hari pertama kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30 sore. Kegiatan dimulai dengan diskusi bersama Mas Huda, Senior Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia untuk berkenalan dengan keanekaragaman hayati di wilayah konservasi Hutan Lindung Batutegi. Setelah istirahat, sholat, dan makan malam, mereka mendapatkan materi konservasi lewat pemutaran video mengenai profil Yayasan IAR Indonesia dan video edukasi di pandu oleh Mas Huda dan Kak Agung, Manajer Kampanye Yayasan IAR Indonesia. Kegiatan hari pertama diakhiri dengan sarasehan antara peserta dan panitia. Kami mengobrol santai mengenai tujuan pembentukan wadah untuk pemuda konservasi sekaligus sharing pengalaman-pengalaman unik dan berkesan selama berkegiatan di alam.
Besok minggunya, tepatnya jam 6 pagi, kami mulai hari dengan sarapan bersama dan senam. Kegiatan pagi dimulai dengan senam karena setelah itu kami langsung tancap gas dengan kegiatan di lapangan. Kegiatan lapangan pertama adalah penanaman bibit pohon loa, salam, dan beringin. Pada kegiatan ini kami bersama-sama menanam 18 bibit di sekitar sungai daerah Way Rilau.
Bersama KPH Batutegi, kami menanam 18 pohon di sekitar sungai di Kawasan Way Rilau Hutan Lindung Batutegi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Setelah kegiatan penanaman, kita melanjutkan dengan eksplorasi alam di sekitar Camp. Di sela-sela eksplorasi, ada juga pemaparan penggunaan camera trap alias kamera penjebak untuk pengamatan satwa liar. Selain itu, juga ada pengenalan rotan sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu yang bisa dimanfaatkan masyarakat di sekitar hutan. Kegiatan tracking ini berlangsung hingga tengah hari menuju kolam alam untuk rehat. Setelah itu para peserta kembali ke Camp untuk siap-siap kembali pulang.
Anggi Agustian, salah satu peserta Conservation Camp mewakili Komunitas Lentera Nusantara berpendapat bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang seru yang bisa menambah wawasan para pesertanya terkait konservasi di Lampung. “Pengalaman di sini kita bisa mendapatkan banyak sekali pengalaman, wawasan, ilmu, pengetahuan, yang sebelumnya memang kita kuranglah dalam hal itu. Jadi kita berterimakasih sekali kepada YIARI dan juga KPH Batutegi telah memberikan kita semua kesempatan untuk belajar bersama-sama tentang apa sih yang ada di KPH Batutegi ini terutama keanekaragaman hayati yang ada di sini,” ujarnya. Redi Yuliawan juga mengatakan kalau Kemah Konservasi ini sangat memuaskannya dalam mendapat ilmu lebih banyak terkait konservasi dan siap untuk menyebarluaskannya di komunitasnya. “Sudah ada dalam pikiran saya untuk mengikuti materi-materi yang sudah diberikan dan terutama melestarikan hutan dan populasi hewan-hewan yang ada di dalam hutan tersebut,” jelasnya.
Kak Aris dari Yayasan IAR Indonesia sedang menjelaskan penggunaan kamera penjebak dan fungsinya kepada para peserta Batutegi Conservation Camp (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Penyuluh KPHL Batutegi Provinsi Lampung menyatakan kalau pihak KPHL Batutegi sangat terkesan dengan pembawaan materi konservasi yang menarik dan menyenangkan kepada para peserta. “Harapannya ke depannya bisa mengedukasi lebih banyak orang lagi terkait primata yang ada di Indonesia terkait kelestariannya, bagaimana cara kita melestarikan, bagaimana cara kita menindaklanjuti apabila kita menemukan pertunjukan-pertunjukan topeng monyet di jalanan, dan istilahnya, sekecil apapun itu perbuatan kita, kita bisa menyelamatkan primata dengan cara kita sendiri,” jelasnya.
Mas Huda sangat berharap bahwa dengan kegiatan ini , para peserta yang tergabung dengan komunitas pecinta alam ini dapat memandu komunitasnya untuk mulai memahami pentingnya konservasi hutan di sekitar mereka. “YIARI bersama KPH Batutegi mencoba merangkul komunitas-komunitas tersebut untuk bisa membantu dalam perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya dengan membuat kegiatan inisiasi forum pemuda peduli konservasi di lampung, khususnya di Tanggamus. Kegiatan ini adalah permulaan dan akan ditindaklanjuti dnegan kegiatan lainnya,” terangnya.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Serba-Serbi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di 2022
Nggak kalah dengan banyaknya konser musik di tahun ini setelah tiga tahun kita tahan napas nggak berani ngapa-ngapain karena pandemi, tahun ini Yayasan IAR Indonesia (YIARI) pun mulai banyak banget kegiatan seru yang melibatkan masyarakat nih Sob. Sepanjang tahun ini, tim community development kami terus melakukan inovasi-inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal berbatasan langsung dengan wilayah hutan.
Cerita seru pertama yang kami mau share adalah kegiatan peningkatan produksi pertanian padi di Desa Pematang Gadung dan pertanian tebu di Desa Tanjung Baik Budi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di daerah ini, kami membantu masyarakat meningkatkan hasil pertaniannya dengan memberikan pendampingan dan pelatihan pembuatan dan penggunaan pupuk serta pestisida organik yang dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Hasilnya gak main-main nih, di lokasi yang sama seluas 2.250 meter persegi, jadi bisa menghasilkan 240 gantang gabah atau sekitar 624 kg, padahal dulunya di lahan yang sama cuma bisa menghasilkan panen 80 gantang atau sekitar 208 kilogram aja. Dengan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan perawatan yang baik dan benar, hasil panen bisa meningkat sampai 3 kali lipat lho! Keren kan ya bapak ibu petani di sana? Oh iya, buat kalian yang bingung, 1 gantang gabah kira-kira 2,6 kg sementara 1 gantang beras kira-kira 4 kg ya.
Program ini diadakan karena kami melihat bahwa minat masyarakat untuk bertani cenderung menurun karena rendahnya pengetahuan dan keterampilan pertanian sehingga hasil panen tidak maksimal. Penurunan minat ini menyebabkan banyak lahan tidur dan tidak tergarap sementara intervensi dan ancaman terhadap hutan semakin meningkat. Beberapa petani juga masih menerapkan pola pertanian yang tidak ramah lingkungan, misalnya dengan pembukaan lahan dengan cara dibakar dan penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang justru membahayakan lingkungan dan menurunkan produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
Nggak cuma meningkatkan hasil pertanian, program ini juga berhasil meningkatkan jumlah petani yang menggarap lahannya secara organik dan meningkatkan jumlah lahan. Dari yang sebelumnya hanya 7 petani di lahan seluas 2.259 meter persegi, sekarang sudah menjadi 25.000 meter persegi lahan yang sudah ditanami dengan metode pertanian berkelanjutan dengan melibatkan 23 orang petani yang kita dampingi. Kita tunggu saja hasil panennya tahun depan ya.
Petani tebu binaan kami di Desa Tanjung Baik Budi menunjukkan tebu yang sudah siap panen. (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Kalau di Pematang Gadung kami menanam padi, di Tanjung Baik Budi kami menanam tebu. Kok tebu? Ya karena memang lahannya cocok untuk menanam tebu dan warga desa juga familiar dengan tanaman ini serta penjualan hasil panennya cenderung mudah di Kabupaten Ketapang.
Tebu ini dipasarkan kepada masyarakat sekitar desa maupun pedagang es tebu yang ada di kota Ketapang dengan berkisar antara 4.000 – 5.000 rupiah per batang. Sebagian lagi diolah langsung oleh para petani menjadi gula tebu dengan harga jual 17,000/kg. Pada musim panen pada pertengahan tahun kemarin, penghasilan kotor yang didapat para petani ini mencapai lebih dari 100 juta rupiah.
Kegiatan ini melibatkan 16 petani dan sudah berjalan sejak awal tahun dengan penanaman 7500 batang tebu di lahan seluas 5000 meter persegi. Sama seperti di Pematang Gadung dan semua pertanian dampingan kami, pertanian tebu ini juga menggunakan pupuk organik. Dengan memanfaatkan lahan tidur yang ada, sekarang para petani ini sedang dalam proses pembuatan demplot di lahan seluas 50.000 meter persegi.
Kalau kalian penasaran dengan kegiatan pendampingan masyarakat lainnya, tenang saja, kami masih konsisten menjalankan program-program kami kok. Kami masih melanjutkan program-program kami yang lain seperti perahu sayur, pembuatan ecopolybag dan sebagainya. Karena kami yakin, satwa akan sejahtera bila masyarakat juga sejahtera.
Para Ibu Komunitas The Power of Mama sedang belajar merakit drone yang akan digunakan untuk patroli pengendalian api di Kabupaten Ketapang (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)
Di tahun ini kami juga menginisiasi pembentukan The Power of Mama, sebuah komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Komunitas ini memiliki kegiatan yang bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat di desa tempat mereka tinggal untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal.
The Power of Mama yang didirikan pada 6 Juni 2022 ini terdiri dari para perempuan usia 25 hingga 50-an tahun yang tinggal di empat desa di wilayah Ketapang, Kalbar, yaitu Desa Pematang Gadung, Sungai Besar, Sukamaju, dan Sungai Awan Kiri. Saat ini kegiatan berfokus pada patroli dan monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.
Kami juga terus melakukan restorasi sebagai salah satu upaya kami untuk mengembalikan keanekaragaman hayati yang rusak akibat kebakaran hutan. Di tahun ini, kami melakukan restorasi di Taman Nasional Gunung Palung, Hutan Desa Pematang Gadung, dan di Desa Sungai Awan. Di tahun ini, sampai bulan Oktober 2020, total kami telah menanam 17.777 pohon di lahan seluas 34 ha. Secara total kami telah menanam lebih dari 115 ribu bibit pohon di lahan seluas 235 ha sejak tahun 2017.
Petani anggota Gapoktan Sumber Makmur sedang menyiram bakal pupuk organik dengan starter pupuk (Tim Comdev | Yayasan IAR Indonesia)
Selain kegiatan pendampingan masyarakat di Pulau Kalimantan, kita juga ada nih program serupa yang dijalankan di Pulau Sumatra, tepatnya di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Di Tanggamus yang kaya akan hutan alami yang masih asri ini, kami mendampingi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam membangun sistem pertanian ramah hutan, yaitu wanatani alias agroforestri yang tidak memerlukan pembukaan lahan hutan. Hingga saat ini sudah ada tiga Gapoktan yang masuk dalam dampingan kami. Mereka terdiri dari sembilan Kelompok Tani Hutan (KTH) yang beranggotakan total 52 orang. Karena mereka sedang membangun sistem pertanian yang ramah hutan, kami mengajak para petani untuk menambah keahlian-keahlian bertani mereka melalui berbagai macam pelatihan. Di antaranya adalah pembuatan pupuk organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman, teknik perbanyakan tanaman, hingga peningkatan kapasitas keorganisasian.
Di samping kegiatan peningkatan kapasitas petani Gapoktan kami juga mendampingi kegiatan penyemaian bibit tanaman wanatani sejak tahun 2021. Di tahun kemarin, para petani telah berhasil menyemai sebanyak 2960 benih. Nah di tahun ini, hingga November saja jumlah bibit yang disemai sudah lebih banyak dari tahun kemarin yaitu berjumlah 3895 benih. Benih yang menyemai terdiri dari berbagai macam tanaman produksi. Di antaranya adalah alpukat, durian, pinang betara, dan aren.
Begitu padatnya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang kami lakukan di tahun ini, semoga tahun depan kita bisa terus tancap gas bikin yang lebih seru lagi ya Sob.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Heribertus Suciadi/Fattreza Ihsan
Dinas Kehutanan Lampung Adakan Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” Tingkat SMA
Dinas Kehutanan Provinsi Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, KPH Batutegi, KPH Pematang Neba, Forum Taman Bacaan Masyarakat Tanggamus, dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) menyelenggarakan Lomba Cepat Tepat (LCT) Konservasi dan Literasi tingkat SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Tanggamus pada 26-27 Oktober 2022. Kegiatan yang didukung oleh Tanggamus Electric Power, PT. Tirta Investama Tanggamus, Institut Bakti Nusantara, dan Jawara Internet Sehat Lampung ini diikuti oleh 36 tim yang berasal dari 27 sekolah se-Tanggamus Raya. Kompetisi dilangsungkan di Kampus Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Tanggamus, Lampung.
LCT dengan tema “Literasi Konservasi” ini diadakan sebagai ajang pembelajaran kepada para siswa di tingkat SMA/SMK dan sederajat untuk lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Sebelum lomba dilaksanakan, peserta dibekali dengan kisi-kisi soal berupa pengetahuan alam di wilayah Kabupaten Tanggamus, pengetahuan konservasi di Indonesia, juga pengetahuan biodiversitas burung liar di KPH Batutegi. Sebelumnya, sebagai bahan pengetahuan, masing-masing tim mendapatkan Buku Burung Liar di Kawasan KPH Batutegi yang diterbitkan oleh YIARI.
Empat tim SMA/SMK dari Kabupaten Tanggamus berkompetisi secara sportif di kegiatan Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” (Didin Setiawan | IAR Indonesia)
Kegiatan LCT ini juga dihadiri dan dibuka oleh Bupati Tanggamus, Dewi Handajani, S.E., M.M. Beliau mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi adanya LCT “Literasi Konservasi” yang diselenggarakan oleh berbagai instansi dan komunitas di Kabupaten Tanggamus. “Harapannya, kegiatan LCT ini bisa memberikan pentingnya kesadaran untuk menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga alam,” ujarnya.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah yang hadir dalam acara ini menyatakan bahwa paradigma konservasi saat ini tidak hanya berfokus pada perlindungan habitat, tetapi juga pemberdayaan masyakarat. “Dengan diadakannya kegiatan LCT “Literasi Konservasi” ini, diharapkan dapat mendorong budaya baca para siswa di Kabupaten Tanggamus. Selain itu, LCT ini juga dapat memperkenalkan para siswa dengan pengetahuan mengenai konservasi hutan,” ujar Ir. Yanyan Ruchyansyah menambahkan.
Bupati Kabupaten Tanggamus, Dewi Handajani, menerima Buku Burung Liar di Kawasan KPH Batutegi karya Robithotul Huda dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)
Ketua Pelaksana LCT “Literasi Konservasi” sekaligus staf YIARI, Nur Istiqomatu Rosyidah, S.Si. menyatakan lomba cepat tepat ini tidak akan terlaksana tanpa adanya kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak. “Saya turut senang acara ini dapat berlangsung dengan lancar dan sukses. Yang terpenting kegiatan ini dapat menginisiasi upaya pendidikan konservasi lebih lanjut di wilayah Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya,” ujarnya.
Pada hari pertama, tim yang terdiri masing-masing tiga orang mengikuti babak penyisihan bersama empat tim lainnya. Tim yang memiliki nilai tertinggi lolos untuk maju ke babak semifinal pada hari selanjutnya. Kemudian pada semifinal dipilih tiga tim terbaik untuk bertanding pada babak terakhir yaitu babak final. Juara 1 dari LCT ini adalah SMA Negeri 2 Kotaagung, disusul oleh SMA Negeri 1 Sumberrejo di posisi kedua, SMA Negeri 1 Semaka di posisi ketiga, dan SMA Negeri 1 Kotaagung yang mendapat peringkat harapan. Para juara diberi penghargaan secara langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus, Hi. A.M. Syafi’i, S.Ag. Di samping hadiah berupa uang tunai, trofi, dan piagam penghargaan, para pemenang juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti field trip ke wilayah blok inti KPH Batutegi bersama tim Yayasan IAR Indonesia.
Para pemenang LCT mendapatkan piagam penghargaan dan piala dari Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus, A.M. Syafi’i (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Kelahiran Istimewa Anak Kucing Emas di Hutan Lindung Batutegi
Di tengah ancaman yang semakin tinggi terhadap kawasan hutan di Provinsi Lampung khususnya kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Batutegi, tim survei dari KPHL Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menemukan bahwa beberapa jenis satwa mampu bertahan hidup dan berkembang biak dengan baik di hutan ini. Salah satu satwa tersebut ialah kucing emas asia (Pardofelis temminckii). Dari hasil survei, terlihat induk kucing ini sedang membawa anaknya dan di tempat lain terlihat anak kucing ini sedang beraktivitas bersama induknya.
Penemuan aktivitas anak kucing ini terekam oleh kamera jebak (camera trap) pada bulan Mei 2022 lalu. Hal ini tentunya sangat menggembirakan namun juga menjadi tantangan ke depan untuk bisa mempertahankan kawasan KPHL Batutegi supaya tetap terjaga dengan baik. Ruang bagi satwa liar adalah salah satu komponen penting supaya mereka tetap mampu bertahan hidup dan berkembang biak dalam kawasan hutan ini.
Seekor kucing emas asia betina terekam oleh kamera jebak berjalan bersama anaknya di tengah Hutan Lindung (HL) Batutegi. Meski hanya terlihat sekilas, penemuan ini merupakan tanda bahwa kawasan HL Batutegi adalah daerah yang cocok untuk kehidupan satwa liar, terutama kucing emas (KPHL Batutegi)
KPHL Batutegi bersama dengan YIARI masih melakukan pendataan terhadap potensi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan hutan tersebut dengan menggunakan camera trap kamera penjebak. Kamera dipasang dengan sistematis berdasarkan grid yang telah ditentukan yaitu 2×2 km dan tersebar di seluruh kawasan khususnya blok inti. Hasil sementara pemasangan kamera penjebak ini mendapatkan beberapa satwa seperti harimau sumatra, beruang madu, macan dahan, kambing hutan, serta banyak jenis satwa lainnya. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan survei yang pernah dilakukan pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 2018.
Pada Maret 2022 lalu, Dinas kehutanan Provinsi Lampung, KPHL Batutegi dan YIARI memublikasi sebuah buku tentang potensi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan KPH Batu tegi khususnya jenis burung dengan judul “Burung Liar Kawasan Hutan KPHL Batutegi: Menyingkap Keragaman Burung di Hutan Lindung Batu Tegi”. Dalam buku tersebut disebutkan tentang temuan-temuan jenis burung yang tersebar di kawasan Hutan Lindung Batutegi dengan total 245 jenis burung yang ditemukan yang tergabung dalam 61 famili. Hal ini merupakan salah satu buah dari hasil pendataan dan monitoring biodiversitas yang konsisten oleh KPHL Batutegi dan YIARI.
Menjaga hutan tidaklah mungkin dilakukan sendiri oleh pengelola kawasan yaitu KPHL Batutegi. Untuk itu maka berbagai pihak bersama-sama menjaga dan merawat hutan ini agar tetap lestari. Hal ini dilakukan supaya masyarakat mendapatkan manfaat yang besar dari kelestariannya.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Mengantar Enam Kukang Sumatera ke Hutan Lindung Batutegi
Pada hari Senin, 25 Juli 2022, Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama BKSDA Bengkulu SKW III Lampung, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Batutegi, dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) melepasliarkan enam individu kukang sumatera (Nycticebus coucang) hasil rehabilitasi di Kawasan Hutan KPHL Batutegi Blok Way Rilau Resor Way Sekampung, Lampung.
Keenam kukang sumatera tersebut berjenis kelamin betina sebanyak 3 ekor yaitu Bernama Tigan, Murphy, dan Anjay, dan jantan sebanyak 3 ekor yaitu bernama Sukhoi, Lulu, dan Terserah.
Tigan adalah kukang serahan dari BBKSDA Jawa Barat pada November 2021, sedangkan Murphy serahan dari BBKSDA Jawa Timur pada bulan dan tahun yang sama, keduanya merupakan kukang yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi oleh warga. Lulu adalah kukang yang diselamatkan oleh BBKSDA Jawa Barat SKW I Serang dari perdagangan satwa liar ilegal pada November 2013. Ketiganya dititiprawatkan di pusat rehabilitasi satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk menjalani penanganan medis dan proses rehabilitasi sebelum dikembalikan lagi ke habitat aslinya.
Tim pelepasliaran membawa kandang transport berisi kukang yang akan dipindahkan ke kandang habituasi (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Ketiga kukang lainnya, Anjay, Sukhoi, dan Terserah merupakan kukang sumatera yang direhabilitasi sejak bayi di pusat rehabilitasi satwa Yayasan IAR Indonesia Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sukhoi mulai dirawat sejak 14 Mei 2012. Kemudian, Anjay dan Terserah masing-masing mulai dirawat sejak 9 Juni 2020 dan 14 Maret 2021.
Lokasi area pelepasliaran enam kukang sumatera ini ditetapkan setelah melalui proses survei. Kawasan Hutan KPHL Batutegi dinilai memenuhi persyaratan yang diperlukan seperti karakteristik habitat, yaitu berupa hutan campuran, hutan dataran rendah dengan gugus perbukitan yang mempunyai struktur dan komposisi yang beragam. Kawasan yang berada pada ketinggian 200 – 1700 m dpl ini memiliki ketersediaan pakan melimpah, seperti tumbuhan kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), tepus (Hornstedtia megalochelius), meranti (Shorea ssp.), suren (Toona sureni), dan tumbuhan herba lainnya serta serangga, reptil dan burung kecil yang juga merupakan pakan kukang. Kondisi populasi kukang sumatera yang stabil dan sering dijumpai di kawasan ini, ditambah tingkat ancaman dan gangguan yang rendah, serta kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal berbatasan dengan kawasan tersebut sudah memiliki kesadaran mengenai pentingnya menjaga kukang menjadikan kawasan ini ditetapkan sebagai lokasi yang tepat untuk pelepasliaran.
Jarak yang ditempuh menuju lokasi ±27 kilometer dari Batutegi dengan transportasi darat, dilanjutkan dengan perahu lalu berjalan kaki. Kegiatan ini diawali dengan membangun kandang habituasi yang berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Proses habituasi dilakukan selama satu minggu, dengan mengamati perilaku dan kesehatan keenam kukang tersebut. Apabila dinilai baik dalam beradaptasi dilingkungan barunya, maka dapat dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.
Tigan sedang merayap di lantai kandang habituasi ketika sedang diamati perilaku adaptasinya oleh tim monitoring (Rizazul Tri | IAR Indonesia)
Kepala Plt. Balai BBKSDA Jawa Barat, Himawan Sasongko, S. Hut., M. Sc., menyatakan “Kami berharap satwa ini akan beradaptasi dengan baik di habitatnya di Kawasan Hutan Lindung Batutegi serta berkembangbiak di masa depan.
Direktur Program YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan, “Semoga dengan pelepasliaran kukang sumatera ini ke habitatnya, kita semua bisa terus menjaga alam dan terutama hutan supaya makin banyak rumah tempat satwa-satwa liar itu bisa kembali pulang. Dukungan dari pemerintah, terutama dalam hal ini pihak BBKSDA Jawa Barat, BKSDA Bengkulu dan KPH Batutegi Lampung sangat kami apresiasi dan semoga makin banyak pihak-pihak pemerintah dan masyarakat bisa terlibat dalam kegiatan semacam ini.”
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.