Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Restorasi Mangrove – Jalan Berliku Penanaman Bakau

Masih ingat kan dengan logo baru kami? Di logo baru kami, terdapat karakter pohon yang kami ambil inspirasinya dari mangrove. Kami mengambil karakter pohon ini berangkat dari aksi nyata kami dalam melakukan penanaman dan restorasi mangrove, terutama di pesisir Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Ketapang. Kegiatan restorasi mangrove yang kami kerjakan bersama PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK) ini memang masih tergolong muda. Kami memulai proyek ini dari tahun 2021. Meskipun baru dua tahun, kami sudah menanam lebih dari 50.000 bibit mangrove di area seluas 15 ha yang tersebar di delapan desa dan empat kecamatan di Kabupaten Ketapang. Dalam penanaman mangrove ini, kami sangat memperhatikan spesies mangrove asli pada masing-masing lokasi sehingga kami menanam lima jenis mangrove yaitu, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera sp., dan Avicennia Alba

Kegiatan ini juga melibatkan lebih dari 100 orang warga desa yang berperan aktif dalam melakukan pembibitan, penanaman, dan perawatan. Tidak hanya itu, mereka juga menganyam ecopolybag dari daun nipah lho untuk pembibitan mangrovenya. Jadi kegiatan ini tidak meninggalkan sampah plastik bekas polybag yang justru mengancam kelestarian ekosistem mangrove dan berpotensi mematikan bibit mangrove yang ditanam.

Tim penanaman di Desa Sungai Besar, Kalimantan Barat terdiri dari para ibu peduli lingkungan (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Menanam mangrove itu juga nggak semudah nanam pohon pisang. Salah satu tantangan terbesar dalam penanaman mangrove adalah anakan mangrove itu sangat rentan dan mudah mati dibandingkan dengan anakan pohon yang ada di daratan atau hutan selain hutan mangrove. Kami melakukan pengamatan dan mendapati bahwa pertumbuhan anakan mangrove itu hanya tumbuh 10 cm per tahun dan harus menahan terpaan ombak serta cuaca yang sering berubah. Hal ini yang sering kali kurang dipahami dalam kegiatan restorasi mangrove di Indonesia. Pada kebanyakan restorasi mangrove di Indonesia, kegiatan yang dilakukan hanya fokus pada penanaman dengan pemahaman bahwa mangrove sama dengan pohon lainnya dan perlakuannya pun harus sama: Tanam-tinggal-hidup. Fokusnya hanya pada tanam tanpa pemahaman mendasar sehingga berujung kegagalan.

Program restorasi mangrove memang bukan hanya sekadar tanam dan tinggal. Mangrove yang ditanam perlu dirawat dan dipantau pertumbuhannya, juga dilakukan tanam sisip bila diperlukan. Bahkan, perlu langkah-langkah strategis yang cukup panjang sebelum penanaman ini dilakukan untuk memastikan program restorasi mangrove ini berumur panjang dan berkelanjutan.

Di tahap awal kami melakukan pendekatan persuasif kepada para pemangku kepentingan, terutama masyarakat untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka. Kami juga membentuk komunitas pemuda yang diberi nama SHIELD (sahabat Hijau Eco Lestari Desa) Sungai Besar yang dapat bergerak setiap saat serta untuk mendapatkan dukungan dari banyak pihak.

Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama Yayasan IAR Indonesia turut menanam mangrove di Desa Kuala Tolak, Kalimantan Barat. Penanaman mangrove di desa ini sudah mencapai lebih dari 1000 bibit (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Kemudian kami melakukan survei biodiversitas pada ekosistem mangrove dan pemetaan lokasi yang paling terdampak dan perlu dilakukan rehabilitasi. Kami juga melakukan penguatan kelompok masyarakat yang akan melakukan rehabilitasi mangrove dengan mengadakan pelatihan keterampilan dalam melakukan rehabilitasi mangrove.

Terakhir kami melakukan implementasi rehabilitasi mangrove dengan memilih benih mangrove yang sesuai jenisnya dengan lokasi tanam, penyemaian benih hingga menjadi bibit unggul dan memiliki tingkat survival rate yang tinggi, perawatan semasa tahap penyemaian secara intensif dan partisipatif, penanaman bibit mangrove yang siap dan melakukan monitoring hingga perawatan pasca panen selama mungkin hingga bibit mangrove dewasa dan stabil pertumbuhannya.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam restorasi mangrove adalah akuntabilitas program. Sistem monitoring, reporting dan verifikasi (MRV) rehabilitasi mangrove harus bersifat transparan sehingga masyarakat mengetahui efektivitas dari program tersebut karena menggunakan dana publik. Sistem MRV yang andal dan transparan sangat perlu untuk meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas program rehabilitasi mangrove. Jangka waktu pemantauan selama 5 tahun dapat digunakan mengingat tingginya risiko biofisik lingkungan dan sosial yang mungkin terjadi di kawasan sekitarnya.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Galih Hakim dan Heribertus

Jenis-jenis Hutan Berikut Ini Bikin Kamu Jadi Pengen Keliling Dunia!

Hutan merupakan vegetasi penyumbang oksigen dan penyerap karbon terbesar di dunia. Terlepas dari fungsinya yang besar bagi kehidupan makhluk hidup di bumi, ternyata hutan punya jenis yang beragam dan tersebar di berbagai belahan dunia loh! Keberagaman jenis hutan ini dipengaruhi oleh iklim, tinggi dataran tanah, curah hujan, suhu dan sifat tanah setempat. Lantas apa saja ya jenis hutan yang ada di berbagai belahan dunia?

1. Hutan Taiga

Hutan Taiga di daerah utara Negara Rusia (PtG, CC-BY-SA 3.0)

Hutan ini berada di daerah yang beriklim subtropis pada daerah pegunungan. Biasanya tumbuhan yang ada di ekosistem ini bersifat homogen loh! Atau atau hanya terdiri dari satu jenis tumbuhan saja yakni tumbuhan berdaun jarum atau disebut juga conifer. Tumbuhan yang ada di sini akan kelihatan selalu hijau (evergreen) sepanjang musim meskipun suhu saat musim dingin mencapai dibawah nol derajat. Sayangnya tidak terlalu banyak spesies hewan atau tumbuhan yang bisa beradaptasi di hutan taiga ini. Hutan taiga ini banyak tumbuh di negara Rusia dan Kanada yang mempunyai suhu bulanan rata-rata -20°C – 10°C.

2. Hutan Campuran Daerah Dingin (Temperate Mixed Forest)

Hutan Campuran Daerah Dingin (Px Here, CC0 1.0)

Hutan campuran daerah dingin ini biasanya diisi oleh vegetasi pohon yang memiliki jenis daun jarum dan daun lebar serta bercampur juga dengan hutan cemara. Hutan ini bisa ditemui pada daerah yang beriklim sedang seperti Australia, Afrika, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan dengan suhu bulanan rata-rata -5°C – 18°C dan curah hujan  250 mm – 100 mm per tahun.

3. Hutan Evergreen Daerah Sedang (Sub-Tropical Evergreen Forest)

Hutan Evergreen Daerah Sedang di Gunung Yae, Okinawa, Jepang (Kugel, CC-BY-SA 2.0)

Hutan evergreen atau juga disebut dengan hutan yang selalu hijau adalah jenis hutan yang pohonnya mempertahankan daun sepanjang tahun. Sifat hutan ini tentunya terlepas dari musim dan jenis daun. Pohon hutan evergreen ini biasanya terdiri dari pohon runjung, hemlock, kayu putih, sikas, dan lain-lain. Hutan evergreen ini ada di wilayah suhu hangat dengan suhu bulanan rata-rata 10°C – 20°C serta curah hujan 250 mm –100 mm per tahun. Terdapat di Asia (China Selatan, Jepang Selatan), Pegunungan Himalaya di bawah 150m di atas permukaan laut, Australia Utara, New Zealand dan Amerika (Florida, Chilli, Brazilia Tenggara dan Pegunungan Andes ketinggian mencapai 1.500 m di atas permukaan laut).

4. Hutan Hujan Tropis (Tropical Rain Forest)

Hutan Hujan Tropis di Gunung Cameroon (Atabong Amstrong, CC-BY-SA 4.0)

Masyarakat adat dapat dikatakan sebagai garda terdepan dalam menjaga hutan. Mereka hidup dan bergantung pada Hutan hujan tropis ini tersebar di wilayah sekitar equator atau garis khatulistiwa yang punya suhu bulanan rata-rata 20°C – 50°C, curah hujan tinggi sepanjang tahun (2.000mm – 5.000mm) serta tingkat kelembapan tinggi. Hutan ini ditumbuhi oleh pohon yang bersifat heterogen atau bermacam jenis seperti Swietinia, Mora, Cedrella, Ocotea, Virolla (Amerika); Terminalia, Khaya, Triplochiton, Anchomea (Afrika); Dipterocarpus (Asia Tenggara).  Hutan hujan tropis terdapat di Asia Tengara (Indonesia, Filipina, dan Malaysia), Afrika (Lembah Congo, Zaire, Nigeria, Kenya), Amerika Tengah, Amerika Selatan (Lembah Amazone).

5. Hutan Gugur Daun

Hutan Gugur Daun di India (Riddhi Parmar, CC-BY-SA 4.0)

Hutan ini termasuk dalam jenis hutan kering karena tumbuh pada daerah dengan suhu bulanan rata-rata 21°C – 32°C, curah hujan 1.250-2000 mm per tahun dan periode bulan kering > 5 bulan. Hutan ini bisa ditemukan di Afrika, Asia, Amerika, dan Australia. Jenis pohon: Khaya dan Anogeisus (Sudan); Jati (Asia); Swetenia (New Mexico, Brazilia Tengah, Argentina); dan Eucaplytus (Australia).

6. Hutan Sabana (Savanna Woodland)

Hutan Sabana di National Park of Upper Niger (Yakoo 1986, CC-BY-SA 4.0)

Hutan sabana berada di wilayah yang memiliki suhu bulanan rata-rata -15C – 25C, curah hujan 90 mm – 1.500 mm per tahun dan periode bulan kering antara 4 – 5 bulan. Jenis tanaman relatif kebal pada tingkat kelembapan dan kadar curah hujan rendah. Vegetasi yang ada di hutan sabana ini terdiri atas padang rumput yang diselingi oleh pohon-pohon tinggi atau perdu. Terdapat di Eropa, Australia, Afrika, Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Utara.

7. Hutan Belukar dan Berduri (Thorn and Scrul Forest)

Hutan Belukar dan Berduri di Telangana, India (Adityamadhav83 CC-BY-SA 3.0)

Hutan belukar biasanya ada di daerah yang cenderung kering dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun dan periode bulan kering lebih dari 6 bulan per satu tahun. Sebagian besar vegetasi tersebar dengan daun kecil dan berduri serta lapisan bawah yang rendah. Hutan ini dapat ditemukan di Asia dan Amerika Selatan dengan jenis tanaman Cactus, Leguminoseae, Bombax, dan Euphorbiasae.

8. Hutan Lumut

Hutan Lumut di Alishan, Taiwan (WT Shared, CC-BY-SA 4.0)

Hutan lumut ini punya penampakan fisik yang unik dan tumbuh menutupi dasar hutan dengan bentuknya imut namun dalam jumlah besar. Tidak hanya itu, vegetasi sekitarnya terdiri dari pepohonan kerdil yang juga ditumbuhi lumut dan lumut kerak. Hutan lumut ini tumbuh secara alami di puncak suatu pegunungan dengan suhu rendah dan area yang tertutup kabut. Jadi hutan lumut ini akan mudah ditemukan di daerah yang dingin serta pada dataran yang tinggi dengan ketinggian diatas 2500 mdpl.

9. Hutan Bakau

Hutan Bakau di Pantai Gosong Telaga, Singkil Utara, Aceh Singkil (Heriyanto Harepa, CC-BY-SA 4.0)

Hutan bakau biasanya tumbuh di daerah pantai. Namun dapat juga tumbuh di daerah teluk dan muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jenis pohonnya terdiri dari api-api (Avicenia sp.), pedada (Sonneratia sp.), bakau (Rhizophora sp.), lacang (Bruguiera sp.), nyirih (Xylocarpus sp.), nipah (Nypa sp.).

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi :

https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/jenis-hutan-di-dunia
https://www.environmentbuddy.com/plants-and-trees/types-of-forests/
https://www.treehugger.com/types-of-forests-definitions-examples-5180645
https://www.earthreminder.com/different-types-of-forests-in-the-world/

Cahya Riza Haromaen