#Keeper Kukang : Rosdian Barnas keeper asli Taman Sari
Ayah dari 1 orang anak ini seharusnya bekerja sebagai security di Yayasan IAR Indonesia. Tetapi sejak tahun 2010 lalu, Kang Acong begitu orang-orang mengenalnya adalah seorang keeper Kukang. Semua itu berawal dari Kang Acong yang merupakan seorang penjaga Villa di sekitar Yayasan IAR, kemudian karena yayasan menampung banyak Kukang di kandang rehabilitasi yang berarti IAR kekurangan keeper. Ditariklah Kang Acong untuk menjalankan tes kesehatan, karena darah Kang Acong cocok dan bersih maka Kang Acong diterima menjadi seorang keeper.
Kemudian Kang Acong di training selama 3 bulan. Kang Acong tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk belajar banyak. Disitulah Kang Acong mulai menikmati pekerjaannya sebagai seorang keeper. Apa saja yang harus dipersiapkan pada saat masuk ke kandang, bagaimana mengenali satu persatu kukang.
“Masuk kandang harus pake seragam IAR, pake masker, sarung tangan, sepatu boot harus dipake, jas hujan, dan yang paling penting lagi itu senter, soalnya kita kan kerjanya malem hari dan gelap kalo gak bawa senter kan susah jadinya,” begitu jelasnya dengan sedikit guyonan.
Tidak hanya itu, Kang Acong juga memperhatikan dan melakukan pekerjaan kandang, mulai dari menyapu dan membersihkan tempat pakan Kukang, tempat minum, steril kandang hingga menebang pohon yang sudah banyak daunnya.
“Kalo lagi bersih kandang, kan pastinya siang hari. Berhubung kukang tidur dalam kandang, nggak mungkin dikeluarin jadi ya dibiarin aja. Tapi kalo lagi tebang pohon, kukangnya harus dikeluarin lah takutnya kan nanti kena dibadan kukangnya,” tutur lelaki berumur 30 tahun ini.
Tidak dapat dipungkiri lagi, siapapun yang menjadi keeper kukang pasti pernah mengalami yang namanya digigit kukang. Begitu pula dengan kang Acong.
“Saya pernah beberapa kali digigit kukang, namanya juga pemula karena belum tau gimana cara memegangnya waktu bantuin ngobatin Kukang diklink bersama ibu Karmele dan volunteer sempat teriak makanya buat panic mereka. Rasanya itu panas waktu habis digigit, terus malamnya meriang soalnya kukang punya racun dilengannya,” begitu lanjutnya.
Keadaan yang membosankan bagi Kang Acong selama menjadi keeper adalah ketika selama 2 tahun tidak pernah ikut monitoring, release, maupun survey. Hal ini lah yang akhirnya terwujud pada 2015.
“Waktu itu 2 tahun kita nggak kemana-mana, kalo nggak salah 2013-2014 kita dikandang aja, rutinitasnya gitu-gitu terus ya namanya kerja pasti ada masa bosannya. Oleh karena itu, kalo lagi diajak keluar kemana aja untuk survey, monitoring maupun release kita pasti seneng banget. Barulah pada 2015 kita diajak ke Kalimantan, Gunung Salak,” sambung Kang Acong
Kang Acong juga menceritakan pengalamannya ketika diajak survey di Kalimantan, monitoring ke Lampung dan juga mengikuti Monitoring ke Leuiliang, Gunung Salak 1.
“Disini kan pengetahuannya terbatas, waktu ikut ke Kalimantan selama 25 hari pengalaman bertambah wawasan terbuka jadi lebih tau banyak apa saja hewan yang hidupnya nocturnal, nggak cuma itu aja bisa berinteraksi dengan masyarakat berbeda suku dengan kita, bisa mengenal banyak orang disana kayak volunteer juga jadi dapat kenalan. Selain itu waktu ikut monitoring ke Leuiliang, Gunung Salak 1 pernah ke sasar, kita kan bertiga dan ketiga-tiganya itu baru sekali ikut monitoring karna nggak tau jalan kita nyasar lama banget karna gelap juga. Tapi akhirnya walau lama kita tetap ketemu jalan,” senyum Kang Acong merekah sembari membayangkan keadaannya saat itu.
Ketika ditanya apa harapan Kang Acong kedepannya untuk IAR, Kang Acong menatap jauh kedepan.
“Pernah dengar waktu itu, kalo yayasan mau dipindah karena keeper terganggu dengan adanya kawasan hotel disamping pusat rehabilitasi. Bagaimana tidak, waktu itu pernah ada bola yang masuk ke kandang, untungnya siang hari kalo itu malam terus dimakan kukang gimana? Mati dong jadinya kukang. Kalo yayasan dipindah, otomatis pekerjaan kita akan diambil alih oleh orang lain. Harapannya semoga pihak Hotel bisa saling mengkondisikan keadaan yang sudah tau bahwa disebelahnya ada yayasan rehabilitasi satwa. Sehingga kedepannya tidak akan terjadi lagi hal serupa,” demikian Kang Acong menutup pembicaraan.
Dewi Puspita_Volunteer from Universitas Sriwijaya