Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Giet, Korban Perdagangan Satwa Liar

Menjelang sore tanggal 17 Agustus 2015 silam, para dokter di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangitan YIARI Ketapang mendadak sibuk. Mereka menyambut Giet, bayi orangutan jantan berumur kurang dari 5 bulan yang diselamatkan dari Desa Merawa, Kecamatan simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Kondisi Giet sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya penuh dengan borok kelabu akibat penyakit kulit yang dideritanya. Mukanya yang tidak luput dari penyakit ini bahkan membuat wajahnya seperti mumi yang membatu.

Kisah Giet berawal dari laporan Center Orangutan Protection bahwa ada orangutan yang dijadikan peliharaan masyarakat di Desa Merawa. Riskan dan Miran, tim Human Orangutan Conflict Response Team (HOCRT) keliling, yang kebetulan berada di dekat Simpang Hulu segera menuju Desa Merawa untuk melakukan klarifikasi laporan. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah orang yang memelihara orangutan.

Pemilik Giet bercerita bahwa dia mendapatkan Giet dari seseorang yang tidak dikenalnya di Randau Hulu. Orang tersebut menawarkan Giet seharga Rp.400.000. Karena merasa kasihan, akhirnya Giet dibeli dan dipelihara di rumah. Menurut pengakuannya Giet sudah dipelihara selama dua bulan. Selama dipelihara, Giet hanya diberi makan susu kental manis.

Selama dipelihara, Giet diletakan di dalam kardus bekas mi instan dan diletakkan di luar rumah. Karena diperlakukan dengan tidak benar, Giet mengalami sakit kulit. Awalnya dimulai di bagian telinga, kemudian menyebar ke muka, dan akhirnya seluruh badan terkena imbasnya. Pemiliknya yang tidak mengerti cara merawat orangutan hanya memberinya kapsul Dumex saja.

Miran menjelaskan bahwa penyakit yang diderita orangutan sangat mungkin menular ke manusia, demikian juga sebaliknya. Selain itu, memelihara orangutan juga bisa diancam dengan hukuman pidana dan denda. Setelah mengetahui kerugian memelihara orangutan, pemiliknya menyerahkan orangutan kepada Miran untuk dirawat. Pemiliknya berkisah bahwa dia sempat berpikiran untuk meyerahkan orangutan tersebut ke kebun binatang di Pontianak, tetapi tidak mengetahui bagaimana caranya menyerahkannya.

Miran segera menghubungi Gail dan Adi selaku manager YIARI untuk melaporkan temuannya dan meminta rekomendasi. Gail dan Adi yang menyadari kondisi Giet yang kritis meminta Miran untuk segera membawa Giet ke YIARI untuk dirawat.

Miran dan Riskan yang hanya membawa sepeda motor terpaksa membawa Giet ke Ketapang dengan sepeda motor. Giet dimasukkan ke dalam kardus dan dipangku oleh Riskan dalam perjalanan selama hampir 9 jam menuju YIARI.

Sesampainya di klinik YIARI, jarum infus dan jarum suntik berbagai ukuran bergantian menembus kulitmnya. Karena kondisinya yang kritis, Giet harus menjalani perawatan intensif dan berada dalam pengawasan dokter jaga selama 24 jam sehari.

Berkat kerja keras para dokter hewan dan perawat satwa, kini kondisi Giet sudah jauh lebih baik. Dia sudah bisa berdiri dan pemeriksaan terakhir menyatakan bahwa kulitnya sudah 100% pulih