Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Begadang Bersama Kukang: Pengalaman Magang Sharfina dan Marcella di YIARI Ciapus
Halo semuanya perkenalkan kami dari Kampus FIKKIA yang merupakan salah satu bagian dari kampus Universitas Airlangga, saat ini kami tengah melaksanakan program koasistensi satwa liar dan memutuskan untuk melakukan magang di Yayasan IAR Indonesia yang berfokus pada satwa liar yaitu kukang dan macaca yang berada di Bogor dimulai dari tanggal 21 juli – 9 Agustus 2025.
Sebelumnya perkenalkan nama kami adalah Sharfina Habibah Trisnawati dan Marcella Jessica Hartomoro. Selama kami magang di YIARI kami banyak sekali mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru terkait manajemen pengobatannya dan manajemen perkandangan.
Mengenal YIARI Ciapus dan Peran Rehabilitasi Kukang
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ciapus merupakan pusat rehabilitasi satwa liar yang berfokus pada pemulihan satwa agar dapat dilepasliarkan ke habitat aslinya. YIARI Ciapus menjadi tempat kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus hilleri) dan beberapa kukang kalimantan (Nycticebus borneanus) yang datang sebagai korban perdagangan atau serahan warga dirawat melalui pemeriksaan medis dan pelatihan perilaku alami.
Kukang yang sehat dan siap dilepas akan dikembalikan ke hutan dengan pemantauan ketat, sementara kukang yang cacat atau kehilangan gigi dirawat seumur hidup di kandang khusus yang menyerupai habitat alaminya. YIARI tidak hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menjaga kelestarian kukang di Indonesia.
Kukang: Primata Nokturnal yang Dilindungi
Kukang adalah primata yang aktif di malam hari, bergerak perlahan di antara dahan pohon sambil mencari pakan berupa buah, nektar, dan serangga. Primata kecil ini berperan penting dalam ekosistem sebagai penyebar biji dan pengendali serangga, namun populasinya terus menurun akibat perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat.
Pelaku perburuan liar sering melakukan pemotongan gigi pada kukang agar tidak mudah melukai saat diperdagangkan sehingga kukang mudah kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Hal tersebut yang menggerakan YIARI sebagai tempat pemulihan kesehatan dan perilaku alami kukang serta memastikan kukang-kukang dapat kembali menjalankan perannya di hutan sebagai bagian dari keseimbangan ekosistem.
Pada hari pertama pengenalan dan presentasi awal kami mendapatkan pengalaman dan teman baru dari Cornell University yang bernama Rikki dan Adora, namun kami hanya memiliki kesempatan saling mengenal selama 4 hari karena Rikki dan Adora akan melanjutkan magang di tempat lain. Selama 3 minggu kami magang di YIARI, kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa dalam bidang konservasi satwa liar terutama kukang seperti cek kesehatan satwa, perbedaan tiap spesies kukang, pemberian dan pemilihan pakan, observasi tingkah laku kukang, serta pemberian enrichment.
Foto perpisahan bersama Rikki dan Adora (Dokumentasi pribadi)
Belajar Manajemen Kesehatan Kukang
Foto kegiatan manajemen kesehatan kukang (Dokumentasi pribadi)
Selama magang kami diberikan kesempatan dan pengetahuan baru terkait kukang yang diberikan langsung oleh dokter hewan di YIARI yaitu drh. Imam, drh. Indri, drh. Cici, dan drh. Purbo. Kami mempelajari terkait manajemen kesehatan seperti pengobatan luka, pengecekan feses rutin, pemeriksaan geriatric, pemberian vitamin rutin, penimbangan dan pengukuran suhu serta pengecekan BCS yang berkaitan erat dengan tingkat kesehatan satwa dan potensi release satwa. Kami juga diberikan pengetahuan teoritis dalam penanganan satwa dengan adanya diskusi dan presentasi kasus secara intensif selama magang.
Foto kegiatan manajemen kesehatan kukang (Dokumentasi pribadi)
Belajar Manajemen Kandang dan Pemeliharaan Kukang
Pada pos kukang kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa karena dapat secara langsung memberikan dan menyiapkan pakan pada kukang, pemberian pakan enricment serta melakukan observasi perilaku kukang. Tantangan dalam pos kukang karena kukang merupakan hewan nokturnal kegiatan pemberian pakan sampai observasi perilaku kukang dilakukan pada malam hari. Memasuki area perkandangan kukangpun tidak boleh sembarang harus menggunakan sepatu boot, handscoon, dan masker sebagai tindakan biosekuriti.
Pemberian enrichment pada kukang (Dokumentasi pribadi)
YIARI Ciapus melakukan pemeriksaan fisik, X-Ray dan uji lab darah untuk menegakkan diagnosis dan pengambilan keputusan dalam pemberian pengobatan yang tepat. Kukang menjalani perawatan medis rutin berupa treatment luka, pemberian vitamin, obat cacing, hingga pemantauan berat badan. Pemeliharaan mengutamakan insting alami kukang dengan pemberian pakan alami melalui enrichment dan penempatan di kandang yang menyerupai hutan. Enrichment merupakan program pengayaan dengan komponen alam untuk membantu kukang melatih kemampuan memanjat, mencari makan, serta mempertahankan perilaku nokturnal. Interaksi dengan manusia dibatasi dan perilaku dipantau secara rutin, sehingga kesehatan dan insting alaminya terjaga agar memiliki peluang adaptasi yang lebih baik.
Pengalaman Seru: Mengenal Teknik Tulup
Praktik teknik tulup(Dokumentasi pribadi)
Selain mendapatkan wawasan baru terkait kukang, kami mendapatkan pengalam seru dengan melakukan teknik tulup yang merupakan salah satu teknik yang biasanya digunakan pada satwa liar untuk pemberian pengobatan atau anastesi. Kami mempelajari tentang titik-titik tubuh yang baik saat dilakukannya teknik tulup.
Pelajaran Berharga dari Aktivitas Malam Bersama Kukang
Aktivitas malam yang melibatkan kami secara langsung dengan kukang menjadi pengalaman berharga sekaligus menantang. Kami tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami pentingnya menjaga insting alami satwa liar agar tetap terpelihara dan memiliki peluang adaptasi yang lebih baik ketika kembali ke habitatnya.
Pengalaman yang kami dapatkan tidak lepas dari peran penting para dokter hewan, keeper satwa, dan staf YIARI lainnya yang dengan sabar membimbing kami. Pengetahuan medis, keterampilan praktis, serta pengalaman lapangan yang dibagikan kepada kami sangat membantu dalam memperluas pemahaman kami tentang konservasi satwa liar.
Terimakasih kami ucapkan kepada dokter hewan, keeper satwa, serta staff YIARI lainnya yang telah membimbing kami, memberikan pengalaman dan wawasan terkait konservasi satwa liar serta menanamkan pada kami tentang pentingnya pelestarian satwa liar dan peran kita dalam menjaga keanekaragaman satwa di Indonesia.
Artikel ini ditulis oleh Sharfina Habibah Trisnawati dan Marcella Jessica Hartomoro, mahasiswi Kampus FIKKIA Universitas Airlangga.
Pengalaman Magang dan Penelitian Lima Bulan Amel Bersama YIARI
Halo, nama saya Amelia Okta Sari, biasa dipanggil Amel. Saya merupakan mahasiswa semester 8 dari Institut Teknologi Sumatera Program Studi Rekayasa Kehutanan. Saya mendapat kesempatan melaksanakan magang dan penelitian di YIARI Batutegi. Saya tertarik untuk magang dan penelitian di YIARI Batutegi karena saya ingin belajar dan mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh yayasan ini.
YIARI merupakan lembaga non-profit yang memiliki komitmen kuat dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui berbagai program konservasi yang dijalankan, YIARI tidak hanya berfokus pada pelestarian primata, tetapi juga berupaya memahami berbagai tantangan di lapangan, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta membangun kerja sama dengan pemerintah dan komunitas lokal. Semangat dan dedikasi tersebut menjadi alasan utama yang mendorong saya untuk memilih YIARI sebagai tempat belajar dan bertumbuh melalui program magang dan penelitian.
Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan dari tanggal 20 Januari – 23 Mei 2025. Saya belajar banyak mulai dari memprogramkan SMART Mobile untuk inventarisasi kehati, pemasangan kamera trap hingga folderisasi, melakukan kegiatan Community Development (Comdev) berupa penyuluhan mengenai sosialisasi pendampingan petani berkelanjutan serta mengunjungi taman baca Jalosi Sanak Negeri. Selain itu, kegiatan lapangan yang saya ikuti yaitu kegiatan pendataan fenologi Ficus di Stasiun Riset Way Rilau, monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum serta kegiatan survei pelepasliaran Kukang Sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah.
Berkegiatan dengan anak-anak di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri (Amelia Okta Sari)
Pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum adalah kegiatan berlangsung selama 3 hari dimana ketika kegiatannya kita harus berjalan kaki menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Ficus tersebut sesuai dengan titik koordinat yang telah terdata di Apk Locus Map. Setelah ditemukan kemudian dicatat bagaimana kondisi Ficus tersebut dan seterusnya dilakukan sampai titik Ficus selesai. Kegiatan ini berlangsung dari pagi hari sampai sore hari, kemudian dilanjutkan survei pengamatan kukang pada malam harinya. Ketika akan berpindah tempat ke Talang Gadum saya mendapat pengalaman seru dan pertama kali bagi saya yaitu menyebrang menggunakan sampan dimana hanya bisa diisi oleh 2 orang saja dan harus menjaga keseimbangan.
Kemudian saat kegiatan survei pelepasliaran kukang sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah banyak hal menarik sekaligus menyenangkan yang terjadi. Kegiatan berlangsung selama 10 hari dan dilaksanakan bersama staf YIARI Bogor, yaitu Kang Rifqi, Kang Igud, Kang Uchi, dan Kang Marco, yang mendampingi selama proses survei di lapangan. Survei lapangan ini memberikan tantangan tersendiri karena kami harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup menanjak dan jarak yang tidak dekat untuk mencapai lokasi. Tantangan tersebut semakin terasa ketika memasuki hari kelima kegiatan yang bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan ibadah puasa. Kondisi fisik benar-benar diuji, namun hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga dalam proses pembelajaran di lapangan.
Kegiatan pendataan fenologi Ficus yang mencakup pencatatan kondisi Ficus (Amelia Okta Sari)
Selama kegiatan berlangsung, aktivitas survei dilakukan sejak pagi hingga sore hari, meliputi survei lokasi serta analisis vegetasi (anveg) untuk menilai kesesuaian habitat. Sementara itu, pada malam hari kami melanjutkan kegiatan dengan melakukan survei keberadaan kukang sebagai bagian penting dalam penilaian calon lokasi pelepasliaran. Pola kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai tahapan survei konservasi satwa secara menyeluruh. Meski melelahkan, kegiatan ini terasa sangat menyenangkan. Dukungan dan kebersamaan bersama staf YIARI Bogor menjadi penyemangat tersendiri, terutama ketika rasa lelah mulai terasa di lapangan. Canda dan suasana kekeluargaan yang terbangun membuat kegiatan tetap berjalan dengan penuh semangat. Melalui pengalaman ini, saya tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga mempelajari banyak hal dan materi baru mengenai kukang serta upaya konservasinya.
Penelitian yang saya lakukan di YIARI Batutegi adalah Kajian Pendahuluan Serangga Penyerbuk Ficus spp. di Blok Inti Hutan Lindung Batutegi. Saya dibantu oleh Mas Aris, Kang Nedi, Bang Irfan, Bang Gunawan, Mas Nari dan teman-teman dalam melaksanakan penelitian. Saya sangat berterima kasih atas bantuan mereka, terutama saat mengambil buah Ficus spp. dari pohon-pohon yang tinggi, karena tanpa pendampingan mereka, proses ini akan jauh lebih sulit. Selama kegiatan penelitian, saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hubungan unik antara pohon Ficus spp. dan serangga penyerbuknya. Setiap spesies Ficus spp. ternyata memiliki penyerbuk spesifik, seperti Ceratosolen constrictus pada Ficus fistulosa, Ceratosolen fusciceps pada Ficus callophylla, dan Ceratosolen appendiculatus pada Ficus virgata.
Saat berkegiatan bersama dengan Tim Lapangan (Amelia Okta Sari)
Dari hasil pengamatan, Ficus fistulosa menunjukkan jumlah penyerbuk paling tinggi, yang kemungkinan terkait dengan pola pembuahan dan ketersediaan buah pada fase reseptif yang lebih banyak dibandingkan spesies lainnya. Pengalaman ini memberikan saya pemahaman langsung mengenai pentingnya interaksi spesifik antara tumbuhan dan serangga. Saya belajar bahwa keseimbangan ekosistem sangat bergantung pada hubungan mutualisme yang unik ini, dan setiap detail kecil dalam interaksi tersebut memiliki peran yang krusial bagi kelangsungan hidup kedua spesies.
Lima bulan magang dan penelitian di YIARI Batutegi benar-benar penuh warna dan keseruan! Dari pagi sampai sore saya berkeliling hutan, mencatat pohon Ficus, mempelajari serangga penyerbuknya, sampai malamnya ikut survei kukang yang bikin deg-degan, apalagi ketika harus menyeberang sungai pakai sampan mini yang hanya muat dua orang. Setiap kegiatan mengajarkan sesuatu yang berbeda: kerja keras, ketelitian, dan pentingnya kebersamaan. Bersama staf dan teman-teman, saya merasakan sendiri bagaimana dedikasi dan kolaborasi membuat konservasi jadi nyata.
Penelitian tentang hubungan spesifik antara pohon Ficus dan serangga penyerbuknya juga membuka mata saya ternyata detail terkecil di alam bisa punya peran besar dalam keseimbangan ekosistem. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa konservasi itu bukan cuma motivasi, tapi aksi nyata. Dan yang paling berkesan: setiap langkah kecil di hutan bisa berarti besar untuk masa depan satwa dan alam.
Artikel ini ditulis oleh Amelia Okta Sari, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.
Catatan Lapangan Magang dan Penelitian Davit bersama YIARI
Halo, Sobat #KonservasiYIARI!
Saya Davit Aditya, biasa dipanggil Davit. Sebagai mahasiswa semester delapan program studi Rekayasa Kehutanan ITERA, saya berkesempatan melakukan magang serta berkewajiban untuk menyelesaikan tugas akhir/skripsi. Disaat YIARI membuka peluang untuk melakukan magang dan penelitian, saya tanpa ragu langsung mengajukan diri. Mari simak paragraf singkat tentang cerita magang dan penelitian saya bersama dengan orang-orang yang tetap mempertahankan kelestarian alam di saat banyak orang yang memandang sebelah mata.
YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) merupakan suatu organisasi nirlaba yang berperan dalam upaya perlindungan primata serta habitatnya di Indonesia. Dalam mewujudkan upaya tersebut, YIARI berfokus dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pengembangan, edukasi, perlindungan habitat, dan kesehatan masyarakat. YIARI juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya mahasiswa untuk berkomitmen menjaga kelestarian dan keanekaragaman hayati demi generasi yang mendatang.
Foto bersama dengan tim lapang yang mendampingi selama berkegiatan (Davit Aditya)
Selama periode magang, saya mengerjakan tugas dan mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan langsung dengan alam dan masyarakat. Hal ini memberikan kesempatan saya untuk belajar lebih dalam mengenai konservasi satwa dan habitatnya, selain itu saya juga belajar bersosialisasi dengan masyarakat dari beberapa gapoktan yang dibina oleh YIARI.
Setiap kegiatan yang saya ikuti memiliki kesan yang berbeda-beda. Namun, karena saya orangnya itu suka kegiatan yang bersinggungan langsung dengan alam, kegiatan-kegiatan di alam sangat berkesan bagi saya terutama yang memacu adrenalin. Salah satu contohnya adalah kegiatan pemasangan plang batas kawasan hutan. Pada kegiatan ini saya ikut bersama Mas Mail, Mas Anang, dan Mas wahyu.
Kegiatan ini paling berkesan karena kegiatan ini diawali dengan perjalanan yang cukup jauh serta rute yang dilewati cukup ekstrim. Bahkan sepanjang perjalanan kami diguyur hujan lebat nonstop, dengan mengendarai motor dan barang bawaan yang lumayan banyak, beberapa kali kami jatuh bangun sampai mandi lumpur. Kami memasang empat plang batas yang titik pemasangannya saling berjauhan dan sesekali nyasar. Meskipun banyak rintangan yang dilewati, kegiatan ini malah jadi sangat berkesan dan seru bagi saya, mungkin kalo ada kesempatan lagi saya bakalan ikut sih…
Kegiatan pemasangan plang batas kawasan hutan (Davit Aditya)
Disela-sela kegiatan magang, saya juga melaksanakan penelitian saya di Stasiun Riset Way Rilau. Karena saya meneliti tentang kodok jadi saya lebih sering berkegiatan malam, diawal survey lokasi penelitian saya didampingi oleh Mas Mail dan Bang Irfan, saya diajak mengeksplor aliran-aliran sungai yang ada di sekitar camp. Pada saat pengambilan data saya lebih sering didampingi Mas Jum, Mas Gunawan, Mas Hendra, dan Bang Irfan.
Selain melakukan penelitian saya sendiri, saya juga terkadang membantu pengambilan data penelitian beberapa rekan saya. Disitu saya bersama Kang Nedi dan terkadang juga bersama Mas Ayun dan Mas Anang. Disela pengambilan data penelitian, terkadang saya diajak memancing dan memanah ikan bersama Mas Ayun dan Mas Gunawan, walaupun saya cuma jadi penonton dan tukang bawa ikannya aja sih…
Pengambilan data penelitian (Davit Aditya)
Selama periode magang bukan hanya keseruan yang saya dapat, berbagai pengalaman yang menjadi first time juga banyak saya dapatkan. Saya juga dipertemukan dengan orang-orang baik yang selalu menghibur saya dan menuntun setiap kegiatan dan tugas yang saya lakukan. Materi-materi yang saya dapatkan di kampus tidak dapat menggantikan apa yang saya dapat disini, dan hal ini juga yang menjadikan saya lebih peduli terhadap kelestarian alam di Indonesia, dan semoga kepedulian ini tidak berhenti di saya saja. See you in the next adventure! Salam lestari!
Artikel ini ditulis oleh Davit Aditya, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.
Cerita Lima Bulan Perjalanan Mey Bersama YIARI
Nama saya Meydilla Dian Saputri, biasa dipanggil Mey. Saya mahasiswa Rekayasa kehutanan, Fakultas teknologi industri, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Saat awal semester 8 kemarin, Saya beserta teman-teman berkesempatan untuk mengikuti program magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kesempatan ini tentu bukan datang dua kali, jadi rasanya sayang banget kalau dilewatkan.
Selama menjalani perkuliahan, saya memiliki ketertarikan yang kuat di bidang konservasi satwa. Ketertarikan ini pelan-pelan tumbuh jadi minat yang mendorong saya untuk terus belajar dan berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya. Berangkat dari minat tersebut, saya merasa YIARI adalah tempat yang tepat untuk magang dan melakukan penelitian, yang saya ketahui bahwa YIARI salah satu lembaga konservasi yang memiliki komitmen kuat dalam melindungi dan merehabilitasi satwa liar, khususnya primata seperti kukang dan orangutan. tidak hanya berfokus pada penyelamatan satwa, tetapi juga pada edukasi masyarakat dan pelestarian habitat, sangat sejalan dengan minat dan nilai-nilai yang saya pegang di bidang konservasi satwa
Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan selama 5 bulan, rasanya bukan waktu yang sebentar, tapi justru itu yang bikin pengalaman di sana jadi berkesan banget. Selama magang saya diberi kesempatan untuk belajar di semua divisi. Divisi Community Development, Perlindungan & Pengamanan Habitat (PPH), Biodiversity, dan Edukasi jadi benar-benar ngerasain langsung gimana kerja konservasi dari berbagai sisi. Nggak cuma belajar teori, saya juga langsung turun ke lapangan. Mulai pakai aplikasi SMART buat mengelola dan nyatet data lapangan (yang kalau nggak teliti bisa bikin pusing sendiri). Saya juga dikenalkan dengan bioakustik, belajar mengenali suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya rame, cuma kita aja yang jarang denger.
Pengambilan data lapangan bersama tim YIARI (Meydilla Dian Saputri)
Selain itu, saya juga ikut terlibat dalam kegiatan edukasi di taman baca anak-anak. Di sini saya belajar kalau konservasi itu nggak melulu soal hutan dan satwa, tapi juga soal ngenalin dan nanemin rasa peduli sejak kecil, dengan cara yang santai dan menyenangkan dan saya juga ikut serta pendampingan kelompok tani (gapoktan) dalam program gulir kambing. Dari kegiatan ini saya makin paham kalau konservasi nggak bisa jalan sendirian, tapi harus barengan sama pemberdayaan masyarakat. Buat saya, semua pengalaman ini luar biasa, karena nggak semua orang punya kesempatan buat belajar selengkap ini dan langsung terjun ke lapangan. Capeknya dapet, ilmunya dapet, pengalamannya, lengkap deh.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama saya magang yaitu ikut serta dalam survei potensi habitat untuk lokasi pelepasliaran kukang sumatera yang dilaksanakan selama 10 hari di KPH Way Waya, tepatnya di Resort Sedang Agung yang meliputi pada blok Wana Sejahtera, Blok Sendang Sari dan Blok Menggeh Sipin. Mungkin bagi orang lain ini hal yang biasa saja tapi bagi saya adalah hal yang luar biasa. Selain karena kegiatannya yang menantang dan penuh pembelajaran, saya juga berkesempatan bekerja sama dengan “akang-akang bagor” yang asik banget, ada Kang Ricky (yang akrab dipanggil kang gepeng), Kang Uci, Kang Igud, dan Kang Marco.
Potret “Akang-akang Bagor” saat berkegiatan bersama di di Resort Sedang Agung(Meydilla Dian Saputri)
Mendengar cerita pengalaman dari akang-akang, saya bersyukur bisa dapat bertemu dan mengenal orang-orang yang hebat dan asik ini. Awalnya saya sempat ragu apakah saya bisa cepat beradaptasi, mengingat ini adalah pertemuan pertama dan langsung harus turun ke lapangan hampir dua minggu. Namun, suasana yang seru, asik dan kebersamaan selama di lapangan membuat semua rasa canggung itu hilang begitu saja, bahkan waktu terasa berjalan sangat cepat hingga akhirnya tiba saatnya untuk berpisah.
Penelitian yang saya lakukan berfokus pada kelimpahan relatif kukang sumatera di blok inti dan blok pemanfaatan KPH Batutegi. Dalam prosesnya, saya nggak jalan sendirian, saya banyak dibantu dan didampingi oleh staf YIARI Mas Ayun, Bang Irfan, Mas Anang, Bang Hendra, dan Nanang, serta teman-teman penelitian lainnya. Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan kebersamaan mereka, apalagi karena penelitian ini dilakukan pada malam hari, yang jelas butuh konsentrasi ekstra dan fokus penuh. Rasa lelah pasti ada, tapi selalu terbayar saat waktu istirahat diisi dengan canda tawa yang bikin capek terasa hilang. Bahkan ketika pulang pengamatan kami harus menyeberangi sungai yang sedang banjir sampai setinggi dada, semua itu sama sekali nggak mematahkan semangat justru jadi cerita dan pengalaman yang nggak terlupakan.
Lewat penelitian ini, saya berkesempatan untuk menggali lebih dalam kehidupan kukang, mulai dari kondisi habitatnya, jenis pakan yang dimanfaatkan, hingga pengaruh lingkungan di sekitarnya. Prosesnya jelas nggak mudah dan penuh tantangan, apalagi harus dilakukan dalam kondisi gelap, medan yang sulit, dan keterbatasan pengamatan malam hari. Tapi justru di situlah rasa penasaran saya tumbuh makin besar. Keingintahuan untuk memahami kukang secara lebih utuh bukan cuma sebagai satwa, tapi sebagai bagian dari ekosistem menjadi dorongan kuat yang bikin saya terus bertahan dan belajar sampai sekarang. Penelitian ini bukan sekadar tugas akademik, tapi perjalanan yang membentuk cara pandang saya tentang konservasi dan arti sebuah proses.
Kegiatan saat pengambilan data (Meydilla Dian Saputri)
Melalui kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YIARI atas kesempatan dan pengalaman berharga yang telah diberikan kepada kami para mahasiswa. Bagi saya, YIARI bukan hanya menjadi tempat penelitian dan magang, tetapi juga rumah belajar yang penuh dengan ilmu, pengalaman, semangat, serta dukungan yang luar biasa.
Artikel ini ditulis oleh Meydilla Dian Saputri, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.
Magang dan Penelitian Rasa Petualangan Anita di KPH Batutegi Bersama YIARI
Halo, Sobat #KonservasiYIARI!
Perkenalkan, saya Anita Fransiska Sihotang, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Di semester akhir perkuliahan, saya mendapat kesempatan untuk menjalani magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Buat saya, kesempatan ini benar-benar berharga, apalagi karena selama ini saya memang tertarik dengan kegiatan lapangan dan dunia konservasi. Selama magang di YIARI, saya terlibat dalam berbagai kegiatan dari beberapa divisi. Mulai dari belajar menggunakan aplikasi SMART untuk pencatatan data lapangan, ikut kegiatan Perlindungan dan Pengamanan Habitat, sampai kegiatan Community Development (Comdev). Dari sini saya makin paham kalau konservasi itu luas banget, nggak cuma soal hutan dan satwa, tapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengan alam.
Perjalanan menuju Stasiun Riset Way Rilau ditempuh menggunakan perahu (Anita Fransiska Sihotang)
Kegiatan lapangan yang saya ikuti cukup beragam. Di Stasiun Riset Way Rilau, saya ikut berbagai aktivitas lapangan yang menuntut ketelitian dan kesabaran. Di sini juga saya pertama kali benar-benar merasakan suasana hutan yang “hidup”. Saya menemukan dan mendengarkan langsung beberapa suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya ramai, cuma kita saja yang sering nggak peka. Momen-momen kecil seperti ini justru jadi pengalaman berkesan, karena terasa sangat dekat dengan alam.
Saya juga ikut monitoring Ficus di Mitra Jaya, menyusuri hutan untuk mengecek titik-titik pohon Ficus yang sudah terdata. Walaupun capek jalan kaki dan medan nggak selalu bersahabat, kegiatan ini bikin saya makin paham betapa pentingnya satu jenis pohon bagi keseimbangan ekosistem. Sambil jalan, kadang disuguhi pemandangan hutan yang bagus, kadang juga diuji sama jalur yang bikin napas ngos-ngosan.
Selain kegiatan di hutan, saya juga ikut kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Salah satunya di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, tempat saya belajar kalau konservasi juga bisa dilakukan dengan cara yang santai dan menyenangkan. Bermain, membaca, dan ngobrol bersama anak-anak jadi pengalaman yang bikin hati hangat. Nggak kalah seru, saya juga ikut pendampingan kelompok tani (gapoktan), yang membuka pandangan saya bahwa konservasi akan lebih kuat kalau berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan magang meliputi mendongeng untuk anak-anak petani dampingan YIARI di Gapoktan Beringin 4, juga kegiatan pendampingan lainnya (Anita Fransiska Sihotang)
Pengalaman yang cukup berkesan bagi saya adalah saat pendampingan anak-anak gapoktan di Beringin 4. Di sinilah saya pertama kalinya berdongeng di depan anak-anak. Awalnya sempat grogi dan bingung harus mulai dari mana, tapi melihat antusiasme mereka, rasa canggung itu perlahan hilang. Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar bahwa menyampaikan pesan tentang alam dan kepedulian bisa dilakukan dengan cara yang ringan, dekat, dan menyenangkan.
Saya juga berkesempatan ikut kegiatan di Resort Batulima, seperti pengecekan kamera trap dan analisis vegetasi (anveg). Kondisi lapangannya cukup menantang: medan curam, udara dingin, dan akses ke lokasi harus naik motor lewat jalan tanah. Beberapa kali kami berkeliling lokasi di tengah hujan deras, yang bikin perjalanan jadi licin dan deg-degan. Tapi justru di situ serunya. Walaupun basah dan capek, suasana hutan dan spot-spot alam yang bagus bikin pengalaman ini terasa lengkap dan memacu adrenalin.
Perjalanan menuju Resort Batulima ditempuh melalui medan yang curam (Anita Fransiska Sihotang)
Selama magang, saya tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengalaman lapangan, tetapi juga bertemu dengan orang-orang baik yang selalu membantu dan menciptakan suasana kerja yang seru. Capek pasti ada, tapi selalu terbayar dengan kebersamaan, tawa, dan cerita-cerita kecil yang nggak akan saya temukan di bangku kuliah.
Foto bersama dengan teman-teman seperjuangan dan Tim YIARI (Anita Fransiska Sihotang)
Magang dan penelitian di YIARI menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dari hutan, masyarakat, hingga anak-anak, semuanya memberi pelajaran berbeda tentang arti konservasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk langkah saya ke depan, dan semoga semangat menjaga alam ini bisa terus tumbuh.
Terima kasih YIARI atas kesempatan dan cerita yang luar biasa. Sampai jumpa di petualangan berikutnya.
Salam Lestari! 🌿
Artikel ini ditulis oleh Anita Fransiska Sihotang, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.
Di Antara Data, Alam, dan Pembelajaran: Perjalanan Magang dan Penelitian Esa di YIARI
Halo, Sobat #KonservasiYIARI! Aku Siti Raesa, bisa panggil aku Esa, mahasiswi semester 8 dari Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera. Pada 20 Januari hingga 23 Mei 2025 aku menjalani magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Selama berada di YIARI, aku berkesempatan untuk belajar banyak kegiatan mulai dari pendampingan masyarakat sekitar hutan, edukasi, observasi di lapangan hingga pengolahan data hasil penelitian.
Awal Ketertarikan Magang dan Penelitian
Aku tertarik magang di YIARI karena aku ingin memahami lebih dalam tentang keanekaragaman tumbuhan, hal ini sejalan dengan judul penelitianku tentang keanekaragaman tumbuhan di Resort Batulima, yang merupakan salah satu Resort di Wilayah kerja YIARI. Selain itu menjadi bagian dari tim riset YIARI memberikan kesempatan bagiku untuk menerapkan ilmu kehutanan yang kupelajari di kampus dalam konteks nyata di lapangan. YIARI yang merupakan lembaga yang aktif di bidang konservasi dan penelitian ekologis memberikan lingkungan belajar yang ideak bagi mahasiswa seperti aku.
Kegiatan yang dilakukan selama magang
Selama magang aku terlibat dalam berbagai aktivitas disetiap divisinya, antara lain di divisi Community Development, melalui divisi ini aku terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, termasuk kelompok Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Salah satu bentuk kegiatan yang rutin dilakukan adalah mengikuti rapat dan pengarahan bersama masyarakat, yang bertujuan untuk menyampaikan informasi, berdiskusi mengenai kebutuhan di lapangan, serta membangun kesepahaman terkait pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Selain pendampingan kepada masyarakat, aku juga terlibat dalam kegiatan edukasi melalui program taman baca. Pada kegiatan ini aku ikut mendampingi anak-anak petani di sekitar hutan dengan mengajak mereka membaca buku, belajar bersama, serta melakukan aktivitas sederhana yang bersifat edukatif. Taman baca menjadi ruang yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal dunia literasi sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. Melalui kegiatan ini aku belajar bahwa upaya konservasi tidak hanya dilakukan di dalam hutan, tetapi juga melalui pembangunan sumber daya manusia, terutama sejak usia dini.
Kegiatan magang meliputi pendampingan masyarakat di sekitar kawasan hutan dan pendampingan anak-anak di taman baca (Siti Raesa)
Pengalaman yang Berkesan
Salah satu momen yang paling membekas bagiku adalah saat terjun langsung melakukan pengamatan di dalam kawasan hutan. Kesempatan untuk melihat, mencatat, dan mendokumentasikan berbagai jenis tumbuhan dari pohon berukuran besar hingga vegetasi kecil yang memiliki peran penting dalam ekosistem membuatku semakin memahami betapa berharganya keanekaragaman hayati. Dari proses tersebut, aku juga belajar untuk lebih sabar dan teliti, terutama ketika harus mengenali spesies tumbuhan yang memiliki karakteristik serupa.
Di samping itu, aku mendapatkan pendampingan langsung dari tim YIARI yang berpengalaman. Mereka tidak hanya membimbing dalam aspek teknis penelitian, tetapi juga memberikan wawasan tentang keterkaitan antara keanekaragaman tumbuhan dengan strategi konservasi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Pengamatan vegetasi di dalam kawasan hutan (Siti Raesa)
Pesan untuk Teman-Teman Mahasiswa
Untuk teman-teman yang sedang atau akan mengikuti magang atau penelitian: nikmati setiap prosesnya! Tantangan ada, tapi setiap langkah adalah pembelajaran yang berharga. Magang bukan hanya tentang mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga tentang memperluas wawasan, membangun keterampilan, dan menemukan arah di masa depan.
Artikel ini ditulis oleh Siti Raesa, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.
Macan Akar: Habitat, Ciri, Perilaku, dan Upaya Konservasinya
Pernah dengar tentang macan akar? Kamu mungkin mengira satwa ini sejenis harimau.
Padahal bukan.
Macan akar (Prionailurus bengalensis) adalah kucing liar berukuran kecil yang termasuk satwa dilindungi.
Coraknya yang mencolok, sifatnya yang pemalu, dan aktivitasnya yang lebih banyak terjadi pada malam hari membuatnya menjadi salah satu predator kecil paling misterius di alam. Yuk kenalan lebih dekat dengan si kecil gesit ini!
Wilayah Persebaran Macan Akar
Macan akar, yang secara ilmiah dikenal sebagai Prionailurus bengalensis, merupakan salah satu kucing liar dengan persebaran terluas di Asia.
Spesies ini dapat ditemukan mulai dari:
Pakistan
India
Nepal
Bhutan
Afghanistan
Tiongkok
Serta wilayah Asia Tenggara seperti:
Vietnam
Laos
Thailand
Filipina
Myanmar
Malaysia
Indonesia
Di Indonesia sendiri, macan akar dapat dijumpai di beberapa pulau besar seperti Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.
Persebaran yang sangat luas ini menyebabkan munculnya beberapa subspesies yang berbeda, yang biasanya dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, pola warna bulu, ketebalan rambut, hingga siklus reproduksi.
Setiap kawasan memiliki karakteristik yang sedikit berbeda, sehingga macan akar beradaptasi secara khusus sesuai lingkungan tempat tinggalnya.
Habitat Macan Akar
Tiga petugas BKSDA Jawa Timur mengembalikan seekor macan akar ke habitat alaminya (Source: https://ksdae.menlhk.go.id/)
Macan akar merupakan kucing liar yang mampu hidup di berbagai jenis habitat. Mereka dapat ditemukan di lingkungan seperti:
Hutan tropis dataran rendah
Hutan gugur
Hutan konifer
Padang rumput
Semak belukar
Serta area pinggiran hutan yang masih memiliki tutupan vegetasi.
Selain itu, macan akar juga mampu bertahan di dataran tinggi hingga 3.000 meter di atas permukaan laut, termasuk wilayah pegunungan dengan curah hujan rendah. Kondisi ini menunjukkan tingkat adaptasi yang cukup tinggi.
Namun, macan akar tidak hidup di lingkungan seperti daerah stepa atau wilayah beriklim sangat kering. Hal ini karena ketersediaan vegetasi dan sumber air di kawasan tersebut tidak mencukupi kebutuhan berburu dan berlindung.
Dua ekor anak macan akar berjalan di rerumputan hijau (Source: https://ksdae.menlhk.go.id/)
Macan akar memiliki tubuh yang relatif kecil dibandingkan kucing liar lainnya, namun tetap lincah dan berotot. Panjang tubuhnya berkisar 44,5–107 cm, dengan ekor sepanjang 23–44 cm, dan berat tubuh antara 3–7 kilogram.
Tubuhnya ramping dengan kaki yang cukup panjang, serta terdapat selaput yang jelas di antara jari-jarinya, membantu mereka bergerak di habitat lembap atau saat berenang. Kepalanya kecil dengan moncong pendek dan telinga bulat, memberi tampilan khas yang mudah dikenali.
Beberapa ciri visual lainnya meliputi:
Empat garis gelap memanjang dari dahi hingga leher
Bintik-bintik serta pola garis gelap di tubuh dan ekor
Bulu berwarna cokelat kekuningan pucat
Bagian perut berwarna putih
Variasi panjang dan warna bulu sesuai lingkungan tempat tinggalnya
Perpaduan pola garis dan bintik inilah yang membuat macan akar terlihat mirip “mini leopard”, sehingga sering disalahpahami sebagai satwa yang lebih besar dari ukuran aslinya.
Reproduksi Macan Akar
Macan akar tidak memiliki musim kawin yang seragam di seluruh wilayah persebarannya. Umumnya, reproduksi terjadi pada musim semi atau periode cuaca hangat yang mendukung pertumbuhan anak.
Pada masa berkembang biak, macan akar mengalami:
Masa birahi selama 5–9 hari
Masa kehamilan sekitar 56–70 hari
Dalam satu kali kehamilan, betina biasanya melahirkan 2–4 anak. Anak-anak ini lahir di dalam sarang yang aman dan akan tinggal di sana hingga berusia sekitar satu bulan sebelum mulai mengikuti induknya.
Macan akar juga diketahui membentuk ikatan pasangan jangka panjang, di mana kedua induk bekerja sama membesarkan anak selama 7–10 bulan, hingga mereka cukup mandiri untuk berburu sendiri.
Perilaku dan Kebiasaan Makan Macan Akar
Seekor macan akar sedang berjalan di atas dedaunan kering (Source: https://ksdae.menlhk.go.id/)
Macan akar merupakan satwa soliter yang lebih aktif berburu pada malam hari (nokturnal), meskipun beberapa individu juga dapat terlihat beraktivitas pada siang hari.
Mereka memiliki kemampuan berenang dan memanjat yang sangat baik, sehingga sering beristirahat di atas pohon atau bersembunyi di semak berduri yang rapat untuk menghindari predator maupun manusia. Karena sifatnya yang pemalu, macan akar relatif sulit diamati di alam liar.
Untuk menandai wilayah kekuasaannya, macan akar biasanya melakukan beberapa perilaku khas seperti:
Menyemprotkan urin
Meninggalkan kotoran di tempat terbuka
Menggosokkan kepala pada batang atau permukaan keras
Mencakar permukaan untuk meninggalkan tanda visual dan aroma
Sebagai karnivora, macan akar berburu dengan teknik serangan mendadak (ambush). Mereka bergerak pelan dan senyap, lalu melompat cepat dan menggigit mangsa dengan presisi. Indera penglihatan, pendengaran, dan penciumannya sangat tajam, membantu mereka mendeteksi mangsa dalam kondisi minim cahaya.
Jenis makanan macan akar cukup beragam, meliputi:
Tikus dan hewan pengerat kecil
Burung, kelelawar, dan kelinci kecil
Kadal, ular, dan amfibi
Berbagai jenis serangga
Keanekaragaman mangsa ini menunjukkan bahwa macan akar adalah predator oportunistik yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.
Peran Macan Akar dalam Ekosistem
Macan akar memiliki beberapa peran penting dalam menjaga keseimbangan alam, di antaranya:
Mengendalikan populasi hewan pengerat, terutama tikus dan mamalia kecil lain yang dapat menjadi hama pertanian atau penyebar penyakit.
Menjaga stabilitas rantai makanan, karena mereka berperan sebagai predator tingkat menengah yang menghubungkan konsumen kecil dengan predator besar.
Membantu menjaga kesehatan hutan, dengan menekan jumlah herbivora kecil yang berpotensi merusak vegetasi muda.
Bertindak sebagai indikator kesehatan habitat, karena populasi yang stabil menandakan bahwa ekosistem masih memiliki tutupan vegetasi dan ketersediaan mangsa yang cukup.
Menjaga keseimbangan energi dalam ekosistem, memastikan setiap tingkat trofik berfungsi dengan proporsional.
Status Konservasi Macan Akar
Macan akar termasuk salah satu kucing liar yang masih memiliki persebaran luas di Asia, namun statusnya tetap perlu mendapat perhatian.
Menurut IUCN Red List, macan akar dikategorikan sebagai Least Concern (LC), yang berarti populasinya secara global masih dianggap stabil. Meski begitu, kondisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan situasi di tingkat lokal, terutama di wilayah yang mengalami tekanan habitat tinggi.
Ancaman utama yang dihadapi macan akar meliputi:
Hilangnya habitat akibat deforestasi, ekspansi pertanian, serta pembangunan permukiman
Perburuan dan perdagangan ilegal, termasuk untuk dipelihara secara ilegal maupun karena konflik dengan manusia
Fragmentasi habitat yang menyebabkan terputusnya jalur jelajah dan menurunnya kualitas ekosistem
Potensi penularan penyakit dari hewan domestik, terutama di kawasan yang berbatasan dengan desa atau kebun
Meskipun secara global berstatus LC, perlindungan tetap penting karena di beberapa wilayah populasinya mengalami penurunan dan rentan terhadap perubahan lanskap. Di Indonesia, macan akar masuk dalam satwa yang dilindungi, sehingga perburuan, kepemilikan, dan perdagangan tanpa izin resmi merupakan pelanggaran hukum.
Upaya konservasi macan akar melibatkan berbagai pendekatan yang bertujuan menjaga populasinya tetap stabil di alam liar. Meski berstatus Least Concern secara global, spesies ini tetap menghadapi berbagai ancaman lokal yang perlu ditangani secara berkelanjutan. Upaya yang saat ini dilakukan meliputi:
Perlindungan hukum melalui peraturan nasional yang melarang perburuan dan perdagangan macan akar, termasuk pengawasan terhadap kepemilikan ilegal sebagai hewan peliharaan.
Penguatan penegakan hukum oleh BKSDA dan aparat terkait untuk mencegah perburuan, perdagangan satwa liar, serta mengamankan individu yang disita untuk kemudian dilepasliarkan jika memungkinkan.
Perlindungan dan restorasi habitat, terutama menjaga tutupan hutan dan mengurangi fragmentasi yang menghambat pergerakan dan ruang jelajah macan akar.
Program pelepasliaran dan rehabilitasi, seperti yang dilakukan beberapa balai konservasi dengan mengembalikan individu hasil sitaan ke habitat alaminya setelah melalui proses observasi kesehatan dan perilaku.
Edukasi masyarakat, khususnya di daerah penyangga hutan, untuk mengurangi konflik manusia–satwa serta meningkatkan pemahaman tentang pentingnya peran macan akar dalam ekosistem.
Pemantauan populasi melalui kamera jebak dan survei lapangan untuk mengetahui kondisi populasi terkini serta mendeteksi perubahan perilaku atau ancaman baru di habitatnya.
Pengelolaan interaksi dengan hewan domestik guna mengurangi risiko penularan penyakit seperti FIV dari atau ke kucing peliharaan.
Macan Akar dan Harapan bagi Hutan Kita
Macan akar mungkin berukuran kecil, tetapi perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem tidak bisa diremehkan. Sebagai predator alami yang membantu mengontrol populasi hewan pengerat, satwa ini berkontribusi besar terhadap kesehatan hutan dan lingkungan sekitar.
Namun, keberadaannya tetap menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya habitat hingga perdagangan ilegal.
Melindungi macan akar berarti menjaga stabilitas ekosistem yang menjadi penopang kehidupan banyak spesies lain, termasuk manusia. Semakin sedikit gangguan manusia, semakin besar peluang macan akar untuk terus bertahan di hutan-hutan Indonesia dan Asia.
Dengan memahami dan mendukung upaya konservasi, kita turut memastikan masa depan yang lebih lestari bagi macan akar dan seluruh satwa liar yang berbagi rumah di bumi ini!
Leopard-cat | Definition, Habitat, & Facts — Encyclopædia Britannica [Buka]
Melepasliarkan Kucing Hutan di Awal Tahun 2023 — Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KSDaE) [Buka]
Leopard Cat – Species Profile — Thailand National Parks [Buka]
Featured image:Tampak depan seekor macan akar (Source: https://bbksda-riau.id/)
Magang di YIARI, Mengintip Kegiatan Lala Melepasliarkan Kukang Ke Hutan
Dari Goresan Desain Menuju Jantung Konservasi
Diantara tumpukan tugas magang, Lala, siswi kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 1 Leuwiliang, menemukan panggilan tak terduga. Bukan pada kanvas digital, melainkan di hutan lebat Taman Nasional Ujung Kulon.
Sebagai bagian dari program magang di divisi edukasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Lala berkesempatan mendokumentasikan proses pelepasliaran delapan individu Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang telah direhabilitasi. Sebuah kolaborasi penting untuk menyeimbangkan ekosistem itu terjadi pada 14 Agustus 2025 berkat kolaborasi antara BBKSDA Jawa Barat, BTNUK, dan YIARI.
Sebelum kegiatan pelepasliaran dilakukan, hal penting yang harus dilakukan adalah proses pemeriksaan kesehatan setiap individu kukang bersama tim dokter hewan dan animal keeper yang telah merawat kukang selama proses rehabilitasi. Dari Banowati yang pernah diselamatkan di Yogyakarta hingga Agam yang selamat dari sengatan listrik, setiap kukang memiliki kisahnya. Namun, melihat kukang-kukang ini bergelantungan dengan lincah, siap kembali ke alam liar, adalah visual paling puitis yang pernah Lala lihat, jauh lebih hidup dari desain apa pun di layar digital.
Lala dan tim berfoto dengan pose salam kukang setelah berhasil melepasliarkan kukang di Taman Nasional Ujung Kulon. (Hulwia Malik|YIARI)
Berbagi Cerita & Menginspirasi Generasi Baru
Perjalanan Lala mengikuti proses pelepasliaran bukan ending dari cerita ini. Selama lima hari pasca pelepasliaran, Lala dan tim edukasi mengunjungi dua Sekolah Dasar dan satu Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Sumur. Sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), habitat baru bagi delapan individu kukang. Di sana, Lala dan tim tidak hanya membagikan materi konservasi, tapi juga berbagi pengalaman pribadi tentang upaya konservasi kukang dan pentingnya kukang untuk ekosistem bagi kehidupan manusia.
Ini adalah momen pertama bagi Lala, bercerita tentang dunia konservasi yang ternyata sangat luas dan menarik, jauh dari bayangan membosankan sekedar duduk dan menatap layar kode warna. Lala menyadari bagaimana peran DKV bisa masuk ke dalam dunia konservasi; tidak hanya sekedar membuat poster, mendesain website, namun memproduksi konten visual yang kuat bagi konservasi kukang yang juga dibutuhkan banyak pengalaman dan pengetahuan.
Melihat mata para siswa berbinar saat tim edukasi menunjukkan foto-foto kukang dan cerita di baliknya, itu adalah “bensin” emosional yang menyulut semangat Lala untuk terus belajar. Lala berharap dan bergumam dengan lirih, semoga di antara puluhan antusiasme siswa ini, akan ada satu, tiga, atau sepuluh orang yang terinspirasi untuk menjadi penjaga alam di masa depan. Menjadi garda dan benteng kokoh untuk kehidupan satwa liar dan habitatnya di mana pun mereka akan tumbuh kelak.
Bercerita dan menyemai inspirasi untuk merawat kukang di hutan, kunjungan edukasi ke Sekolah Dasar di Kecamatan Sumur (Hulwia Malik|YIARI)
Mendengarkan Hutan dan Hati Warga
Di malam hari, Lala juga berkesempatan untuk hadir dalam kegiatan ngaji rutin malam Kamis dengan warga setempat. Kesempatan ini dimanfaatkan betul untuk bertanya dan berdiskusi sepanjang malam. Bukan hanya tentang kukang, tetapi juga tentang kehidupan, tantangan, dan kearifan lokal di bibir hutan Ujung Kulon, rumah badak jawa, macan tutul, dan satwa liar kebanggan Indonesia. Lala belajar bahwa konservasi tidak bisa dilakukan sendiri, butuh dukungan penuh dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.
Menggali informasi, mendengarkan cerita, dan memahami pandangan masyarakat tentang hutan lebatnya semak, hingga derasnya riak lautan Ujung Kulon. “Ini mengajarkan saya satu hal; untuk melindungi alam, kita harus terlebih dahulu memahami manusianya. Saya juga merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian kecil dari cerita pelepasliaran yang luar biasa ini. ”, ujar Lala sambil tersenyum.
Arah Baru Konservasi
Lala, siswi kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi Visual SMK Negeri 1 Leuwiliang (Lala/Dokumentasi Pribadi)
Alih-alih menjadi sekadar penonton, Lala, seorang siswa SMK, mengambil peran aktif dalam upaya konservasi. Ia terjun langsung dan mengikuti setiap tahapan yang rumit dalam proses pelepasliaran satwa liar. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa konservasi bukanlah hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan urusan bersama.
Sebagaimana yang ditekankan oleh Kepala BTNUK, Ardi Andono, dan Kepala BBKSDA Jawa Barat, Agus Arianto, kunci keberhasilan konservasi adalah kolaborasi dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, organisasi seperti YIARI, hingga generasi muda seperti Lala, semua memiliki peran penting.
Pelepasliaran delapan individu kukang ini lebih dari sekadar sebuah acara. Ini adalah sebuah narasi besar yang penuh dengan harapan, kolaborasi, dan semangat untuk melestarikan kekayaan alam Indonesia.
Pengalaman Magang Syifa: Langkah Awal Menuju Karier dalam Konservasi Satwa
Halo, sobat #KonservasYIARI! Mari berkenalan dengan Syifa Syafira Oktaviani, sering dipanggil Syifa. Ia adalah mahasiswa Kedokteran Hewan dari Universitas Udayana di Bali.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Syifa menantikan wisudanya di bulan Juni. Menunggu kesempatan melanjutkan ke Program Profesi Dokter Hewan, Syifa memilih untuk mengisi waktu dengan magang di YIARI, pusat rehabilitasi satwa di Bogor.
Yuk, simak kisah magangnya!
Motivasi Magang
Dorongan kuat untuk terjun ke dunia konservasi satwa liar membuat Syifa mencari pengalaman praktis.
Dengan cita-cita menjadi dokter hewan satwa liar, ia merasa penting untuk mendalami tidak hanya teori kedokteran hewan, tetapi juga praktik manajemen hewan.
Ini membawanya pada kesempatan magang di pusat rehabilitasi satwa yang dikelola oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.
Membantu drh.Imam melakukan monitoring anestesi pada tindakan operasi (Dok. Pribadi)
Pengalaman Magang di YIARI
Magangnya berlangsung selama tiga minggu, dari 13 Mei sampai 3 Juni 2024.
Selama waktu tersebut, Syifa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan praktis yang diarahkan oleh tim animal management YIARI.
Pembelajarannya meliputi berbagai aspek kedokteran hewan, mulai dari pemeriksaan fisik dasar hingga prosedur-prosedur medis lanjutan yang dibutuhkan oleh satwa yang direhabilitasi.
Melakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan feses metode natif. drh. Indri sedang melakukan pemeriksaan biokimia darah (Dok. Pribadi)
Belajar dengan Pakar
drh. Indri, drh. Imam, dan drh. Purbo selaku dokter hewan YIARI menjadi mentor Syifa selama magang.
Dari drh. Indri, Syifa mempelajari pemeriksaan fisik dasar seperti mengukur suhu, berat badan, dan melakukan perkusi abdomen. Beliau juga mengajarkan Syifa tentang pemeriksaan penunjang seperti metode natif untuk feses dan biokimia darah, serta tindakan-tindakan medis seperti kastrasi pada kucing.
drh. Imam memperkenalkan Syifa pada teknik pemeriksaan darah, termasuk penghitungan white blood cell count dan differential. Pengalaman praktis dengan drh. Imam juga termasuk monitoring anestesi selama operasi, serta berkesempatan mengobati kambing warga yang mengidap scabies.
drh. Purbo memberikan pengetahuan teoritis dan praktis melalui diskusi intensif. Syifa juga berkesempatan mempresentasikan proyek yang dikerjakannya selama magang, termasuk studi kasus tentang suspect chronic kidney injury pada kukang jawa yang dinamai Harbol.
Membantu menyisir bulu kukang yang menggumpal pada saat pemeriksaan fisik (Dok. Pribadi)
Pengalaman di Pos Macaca dan Kukang
Di pos macaca, Syifa belajar mengenai pemberian enrichment, persiapan pakan, pembersihan kandang, dan observasi perilaku Macaca nemestrina serta Macaca fascicularis.
Sementara di pos kukang (yang beraktivitas di malam hari) ia belajar tentang kebutuhan khusus kukang jawa dan kukang sumatera, mulai dari enrichment hingga pemberian pakan dan observasi perilakunya.
Tiga minggu berharga di YIARI telah memperluas pengetahuan dan pengalaman Syifa dalam konservasi satwa. Selain mengasah kemampuan praktisnya, kegiatan ini juga memperkuat komitmennya terhadap pelestarian satwa liar.
Syifa berterima kasih atas peluang luar biasa ini dan berharap bisa memberikan kontribusi lebih banyak lagi di masa depan. Terima kasih Yayasan IAR Indonesia, atas kesempatan belajar yang begitu inspiratif!
Syifa Syafira Oktaviani
_
Ingin memiliki pengalaman magang di YIARI seperti Syifa? Sobat #KonservasYIAR bisa kirimkan detail permohonan magang melalui email atau WhatsApp kami untuk diproses lebih lanjut ya 😉🙏