BKSDA Jakarta dan YIARI Luncurkan Buku Panduan Mitigasi Interaksi Negatif Manusia-Monyet Ekor Panjang di Wilayah Urban
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta bekerja sama dengan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan kegiatan diseminasi Buku Panduan Mitigasi Interaksi Negatif Manusia – Monyet Ekor Panjang (MEP) di Wilayah Urban: Studi Kasus Lanskap Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis, 30 Oktober 2025. Kegiatan ini menunjukan upaya serius dan komitmen bersama dalam upaya pelestarian MEP di Indonesia.
Buku panduan yang didiseminasikan ini berisi pengetahuan praktis dan langkah-langkah mitigasi bagi para pemangku kepentingan dalam menangani interaksi negatif antara manusia dan MEP, khususnya di kawasan urban. Tujuan utamanya adalah memastikan penanganan interaksi dilakukan secara adil bagi manusia dengan tetap memperhatikan etika dan kesejahteraan satwa, dengan mempertimbangkan aspek ekologi, sosial, dan kesejahteraan hewan.
Sejak tahun 2011, BKSDA Jakarta bersama Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta dan YIARI telah melakukan berbagai upaya mitigasi interaksi negatif manusia – MEP di lanskap Muara Angke. Upaya ini mencakup penanganan lapangan, edukasi masyarakat, penyadartahuan, dan penghalauan rutin yang dilakukan secara berkelanjutan. Pengalaman selama hampir 14 tahun tersebut menjadi dasar penyusunan buku panduan lapangan/praktis ini.
Dalam sesi pemaparan, Elisabet R.R.B. Hutabarat selaku Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI sekaligus salah satu penulis, menjelaskan bahwa buku panduan ini merupakan bentuk dokumentasi pengalaman lapangan sekaligus panduan praktis yang dapat diadaptasi di wilayah lain di Indonesia. “Kami berharap buku panduan ini menjadi rujukan bagi petugas lapangan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi interaksi dengan monyet ekor panjang secara bijak, tanpa merugikan kedua pihak,” ujarnya.
Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi interaktif, tanya-jawab, serta penandatanganan notulensi kesepahaman dan kesepakatan bersama pembentukan Tim SATGAS/POKJA dan rencana aksi Penanganan Mitigasi Interaksi Negatif Manusia – MEP di Kawasan Urban, Lanskap Muara Angke. Langkah ini menjadi wujud nyata kolaborasi lintas sektor dalam menangani isu konservasi satwa liar di wilayah perkotaan.
Kepala BKSDA Jakarta, Didid Sulastiyo, S.Hut., M.Si menyampaikan harapannya tentang diseminasi buku ini. “Kami berharap buku ini dapat menjadi pedoman yang merepresentasikan praktik terbaik (best practices) dalam penanganan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke dan sekitarnya.”
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan tentang pentingnya penanganan secara cepat terkait interaksi negatif antara manusia dan MEP di Muara Angke dan harapannya buku ini dapat dijadikan best practice untuk membuat buku panduan MEP di Indonesia “Kami menekankan pentingnya penanganan cepat terhadap interaksi negatif antara manusia dan MEP di Muara Angke, seraya berharap buku panduan ini dapat menjadi praktik terbaik untuk penyusunan panduan MEP serupa di seluruh Indonesia. Kami juga berharap panduan ini menjadi rujukan praktis yang menegaskan bahwa solusi interaksi manusia dan monyet harus melibatkan kolaborasi multipihak dan tidak dapat diselesaikan secara parsial.”
Melalui diseminasi ini, BKSDA Jakarta, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, serta YIARI menegaskan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan kemitraan lintas pihak untuk menjaga keberlanjutan populasi MEP di tengah tekanan urbanisasi. Upaya ini juga menjadi bagian dari kontribusi nyata terhadap target nasional konservasi satwa liar dan pengelolaan keanekaragaman hayati di wilayah perkotaan.
***
Tentang monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) atau MEP merupakan salah satu jenis primata yang banyak beraktivitas di wilayah perbatasan hutan yang biasanya bersinggungan (overlap) dengan aktivitas manusia. MEP di Indonesia tersebar luas di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Sejak tahun 2022 MEP berstatus endangered secara global, sedangkan secara regional berstatus least concern (IUCN, 2025). Hal tersebut berbeda karena berdasarkan data-data penelitian yang dikumpulkan menyebutkan bahwa MEP termasuk jenis multi-male, multi-female, perkembangbiakan cepat setiap tahunnya, mudah beradaptasi di berbagai tipe habitat.
Tentang BKSDA Jakarta
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian kehutanan. BKSDA DKI Jakarta mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam, dan Taman Buru serta konservasi jenis tumbuhan dan satwa liar baik didalam maupun diluar kawasan.
Tentang YIARI
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.
Email: informasi@yiari.or.id
Website: www.bksdadki.com / www.yiari.or.id
Dokumentasi kegiatan dapat diunduh pada tautan berikut:
Dokumentasi Diseminasi Buku Panduan
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:
Elisabet R.R.B. Hutabarat, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI: 087820610580
Call Center BKSDA Jakarta : 081289643727