Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Beruang Madu “Azim” Kembali ke Hutan Setelah Pulih dari Jerat

 

Ketapang, 10 Maret 2025 — Satu individu beruang madu (Helarctos malayanus) jantan bernama Azim dikembalikan ke habitat alaminya di Hutan Lindung (HL) Gunung Tarak, Kalimantan Barat, setelah melalui proses penyelamatan, perawatan, dan pemulihan oleh tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Ketapang Selatan, serta YIARI.

Beruang Azim pertama kali teridentifikasi melalui kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh tim YIARI di HL Gunung Tarak untuk memantau keanekaragaman hayati pada November 2024. Dalam rekaman tersebut terlihat seekor beruang dengan jerat terpasang pada kaki depan kanan. Saat berjalan, Azim tampak tidak menggunakan kaki tersebut untuk berpijak.

“Ketika kami melihat beruang yang terjebak jerat itu, kami sangat sedih karena jerat tersebut mengganggu mobilitasnya dan tentu menyebabkan penderitaan serta rasa sakit,” ujar Argitoe Ranting, Direktur Operasional dan Program YIARI. “Penggunaan jerat sangat kejam karena menangkap satwa secara tidak manusiawi dan menyebabkan penderitaan berkepanjangan karena satwa tidak langsung mati. Kami segera melaporkan temuan ini kepada pihak terkait, kemudian memulai proses pencarian beruang tersebut serta memasang kandang jebak untuk menyelamatkannya.”

Setelah beberapa bulan upaya pencarian, tepatnya pada 27 Juni 2025, Azim akhirnya berhasil ditangkap menggunakan kandang jebak setelah selama lebih dari tujuh bulan, beruang tersebut bertahan hidup dengan kondisi kaki yang terjerat. Tim medis YIARI bersama petugas BKSDA Kalbar segera melakukan evakuasi dan pemeriksaan. “Kondisi beruang saat diselamatkan sangat kurus dan mengalami infeksi yang cukup parah,” kata dokter hewan YIARI, drh. Ishma Maula. “Beruang ini mampu bertahan hidup selama berbulan-bulan, tetapi jika tidak segera diselamatkan saat itu, kemungkinan besar ia bisa mati akibat infeksi luka dan juga kelaparan.”

Setibanya di klinik pusat rehabilitasi YIARI, Azim langsung menjalani perawatan intensif serta pengobatan untuk menyembuhkan luka yang parah. “Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan bahwa tulang kaki sudah bengkok karena jerat terpasang dalam waktu lama, dan beberapa jari terpaksa harus kami amputasi,” jelasnya lagi.

Setelah menjalani perawatan dan pengobatan dalam jangka waktu cukup lama, kondisi fisik Azim berhasil pulih dan luka-lukanya menunjukkan perkembangan yang baik. Oleh karena itu, tim memutuskan untuk mengembalikan Azim ke hutan alaminya di Gunung Tarak. “Meskipun kaki yang sebelumnya terkena jerat tidak dapat digunakan secara normal, kami yakin Azim memiliki kesiapan untuk kembali ke habitat alaminya,” tambah drh. Ishma.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan bahwa kasus Azim kembali menunjukkan ancaman nyata bagi satwa liar di Indonesia. “Perburuan dan penggunaan jerat masih menjadi salah satu ancaman serius yang tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi satwa liar, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup mereka. Kasus Azim mengingatkan kita bahwa perlindungan satwa tidak hanya berbicara tentang penyelamatan, tetapi juga tentang mencegah ancaman tersebut muncul di habitat mereka. Pelepasliaran ini menjadi momen penting sekaligus pengingat bahwa upaya perlindungan harus terus diperkuat,” ujarnya.

Plt. Kepala KPH Ketapang Selatan, Nursiah, S.Hut, M.Hut., mengatakan, “Kepedulian kita terhadap kelestarian satwa liar salah satunya yaitu penyelamatan seekor beruang madu (Helarctos malayanus) bernama Azim di kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Beruang tersebut pertama kali terdeteksi melalui kamera jebak dalam kondisi kaki terjerat kawat yang menyebabkan luka serius dan menghambat pergerakannya. Temuan ini ditindaklanjuti melalui kerja sama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelola Hutan Wilayah Ketapang Selatan, serta YIARI. Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Pertama, penggunaan jerat masih menjadi ancaman nyata bagi satwa liar di kawasan hutan. Jerat bersifat tidak selektif dan dapat menangkap berbagai jenis satwa, termasuk spesies yang dilindungi. Kedua, keberhasilan penyelamatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi multipihak merupakan kunci keberhasilan dalam upaya konservasi. Ketiga, keberadaan beruang madu di Gunung Tarak merupakan indikator bahwa kawasan hutan tersebut masih memiliki nilai ekologis yang tinggi dan perlu terus dijaga.” 

“KPH sebagai pengelola kawasan hutan, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian ekosistem, dan berperan strategis dalam menjaga integritas ekosistem melalui penguatan perlindungan hutan, pengawasan aktivitas ilegal, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Oleh karena itu, kita perlu memperkuat beberapa langkah strategis, antara lain meningkatkan patroli perlindungan hutan, memperluas monitoring keanekaragaman hayati, serta memperkuat pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. Konservasi satwa liar tidak hanya berkaitan dengan penyelamatan individu satwa, tetapi juga menyangkut perlindungan habitat serta pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Saya berharap kasus Azim ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga hutan berarti juga menjaga kehidupan yang ada di dalamnya. Sebagai pengelola kawasan, KPH memiliki peran strategis dalam menjaga integritas ekosistem melalui penguatan perlindungan hutan, pengawasan aktivitas ilegal, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Pelepasliaran Azim di Gunung Tarak bukan hanya keberhasilan penyelamatan individu satwa, tetapi juga simbol penting bahwa upaya konservasi hutan dan satwa liar harus terus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan,” tambahnya

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menyampaikan, “Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan satu satunya jenis beruang yang ada di Indonesia dan juga merupakan jenis beruang terkecil di dunia. Persebaran beruang ini berada di Kalimantan dan Sumatera. Terbatasnya habitat akibat perubahan fungsi lahan, masih adanya perburuan dengan jerat merupakan beberapa faktor ancaman bagi kelestarian Beruang Madu si pemanjat pohon ini. Edukasi atau penyadartahuan tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati harus terus digalakkan agar semua pihak bahu membahu menjaga kekayaan keanekaragaman hayati milik kita. Stop berburu. Stop pasang jerat. Satwa liar juga makhluk ciptaan Tuhan yang wajib kita jaga.”

Proses penyelamatan hingga pelepasliaran Azim melibatkan tim dari BKSDA Kalimantan Barat, KPH Ketapang Selatan, YIARI, serta masyarakat lokal. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan setiap tahapan, mulai dari penyelamatan, perawatan, pemeriksaan kesehatan, hingga pengembalian satwa ke habitatnya, berjalan sesuai prinsip kehati-hatian dan kesejahteraan satwa. Kisah Azim menunjukkan bahwa ancaman terhadap satwa liar, termasuk jerat, masih perlu menjadi perhatian bersama agar lebih banyak satwa dapat diselamatkan dan kembali hidup bebas di alam. Keberhasilan pelepasliaran Azim juga menjadi bukti bahwa penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada evakuasi, tetapi membutuhkan proses pemulihan menyeluruh serta sinergi multipihak.


Tentang Beruang Madu

Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan spesies beruang terkecil di dunia yang hidup di hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Satwa ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk melalui penyebaran biji dan interaksinya dengan vegetasi hutan. Di Indonesia, satwa ini menghadapi ancaman serius berupa kehilangan habitat, perburuan, perdagangan ilegal, serta jerat yang dapat menyebabkan luka berat bahkan kematian. Secara global beruang madu berstatus Vulnerable menurut IUCN dan tercantum dalam Appendix I CITES. Di Indonesia, beruang madu merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Tentang YIARI

YIARI merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.

Email: informasi@yiari.or.id

Website: yiari.or.id

Dokumentasi kegiatan dapat diunduh pada tautan berikut:

Dokumentasi

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Balai KSDA Kalbar: +62 811-5776-767 (Call Center BKSDA Kalbar)

YIARI: +62 821-5346-2720  (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI