Benarkah Kelinci Bergaris Sumatera Masih Ada? Kamera Hutan Batutegi Menjawabnya!
Di hutan Sumatera, ada satu jenis kelinci yang sangat jarang terdokumentasi manusia: kelinci bergaris sumatera (Nesolagus netscheri).
Tubuhnya dihiasi garis-garis hitam khas, tetapi tentang satwa ini, pengetahuan ilmiah masih sangat terbatas. Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1880, namun foto pertamanya di alam liar baru berhasil didapat lebih dari satu abad kemudian.
Karena jarang terlihat, keberadaan dan habitatnya masih terus dipelajari hingga sekarang.
Salah satu upaya terbaru datang dari penelitian berjudul “Camera Trap Records of Sumatran Striped Rabbits (Nesolagus netscheri) in Batutegi Protection Forest, Lampung, Indonesia” oleh Robithotul Huda dan rekan-rekannya.
Dengan menggunakan kamera jebak di Hutan Lindung Batutegi, Lampung, para peneliti akhirnya berhasil merekam kemunculan satwa langka ini di alam liar.
Bagaimana Peneliti Menemukan Kelinci yang Nyaris Tak Pernah Terlihat?
Foto kamera jebak seekor kelinci belang sumatera di Hutan Lindung Batutegi (a) serta foto siang hari di lokasi yang sama yang menampilkan habitatnya (b). / Dokumentasi penelitian
Untuk mendeteksi keberadaan satwa yang jarang terlihat, para peneliti menggunakan kamera jebak, yaitu kamera otomatis yang akan mengambil foto ketika ada hewan melintas di depannya.
Dalam penelitian ini, kamera dipasang di Hutan Lindung Batutegi, Lampung, sebuah kawasan hutan seluas sekitar 58.000 hektare.
Penelitian dilakukan oleh tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi, yang mengelola kawasan tersebut.
Kamera ditempatkan di dua blok hutan utama, yaitu Way Sekampung dan Rindingan. Pemantauan berlangsung cukup lama, dari 2017 sampai 2023.
Dari rekaman kamera inilah akhirnya muncul bukti keberadaan kelinci bergaris sumatera di kawasan tersebut.
Beberapa temuan penting dari rekaman kamera antara lain:
- 42 foto independen kelinci bergaris sumatera berhasil terekam
- semua foto menunjukkan individu yang sendirian
- satwa ini aktif pada malam hari
- waktu kemunculan paling sering terjadi pada 19.00–21.00 dan 02.00–03.00.
Sebagian besar rekaman berasal dari area dengan ketinggian sekitar 1.438–1.600 meter di atas permukaan laut.
Namun beberapa individu juga terekam di ketinggian yang jauh lebih rendah, yaitu 366 mdpl dan 454 mdpl, yang sebelumnya jarang dikaitkan dengan habitat spesies ini.
Apa yang Diungkap Kamera Hutan tentang Kehidupan Kelinci Ini?
Selain merekam keberadaannya, kamera jebak juga memberi petunjuk tentang jenis habitat yang digunakan kelinci bergaris sumatera di dalam hutan.
Dari lokasi kamera, peneliti melihat satu pola yang cukup jelas: kelinci ini sering muncul di area dengan vegetasi bawah yang rapat.
Beberapa elemen habitat yang ditemukan di sekitar titik rekaman antara lain:
- semak-semak rapat
- rotan
- pakis
- anakan pohon
- lapisan serasah daun yang tebal
Vegetasi seperti ini dapat memberi perlindungan alami bagi satwa kecil yang menghindari area terbuka.
Di beberapa lokasi kamera, peneliti juga mencatat keberadaan tanaman Cyrtandra spp. Tanaman bawah hutan ini sebelumnya pernah diduga menjadi salah satu sumber makanan kelinci bergaris sumatera.
Meski penelitian ini tidak secara langsung mengamati perilaku makan satwa tersebut, keberadaannya di sekitar lokasi rekaman memberi petunjuk menarik tentang kemungkinan dietnya.
Hal lain yang cukup menarik, kamera-kamera ini sebenarnya tidak dipasang khusus untuk mencari kelinci. Metode survei yang digunakan lebih umum dipakai untuk memantau mamalia besar, seperti harimau.
Namun kamera yang ditempatkan di jalur satwa justru beberapa kali merekam kelinci bergaris Sumatera yang melintas.
Kenapa Temuan di Batutegi Penting?

Selama ini, laporan tentang kelinci bergaris sumatera lebih sering datang dari kawasan taman nasional besar, seperti:
- Taman Nasional Kerinci Seblat
- Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Karena itu, keberadaan spesies ini di Hutan Lindung Batutegi menjadi temuan yang cukup penting. Artinya, kelinci bergaris Sumatera tidak hanya bertahan di kawasan konservasi besar, tetapi juga dapat ditemukan di hutan lindung di luar taman nasional.
Penelitian ini juga menemukan hal menarik di salah satu lokasi penelitian, yaitu blok hutan Rindingan.
- luas kawasan ini hanya sekitar 2.000 hektare
- tetapi sekitar 38% rekaman kelinci berasal dari area ini
Dari enam kamera jebak yang dipasang di Rindingan, kelinci terekam di hampir semua titik.
Temuan ini menunjukkan bahwa petak hutan yang relatif kecil pun dapat menjadi habitat penting bagi spesies langka, sehingga menjaga fragmen hutan yang tersisa tetap memiliki nilai besar bagi kelangsungan satwa liar.
Hutan yang Terpecah: Tantangan bagi Satwa Langka
Meski kelinci bergaris sumatera masih ditemukan di Batutegi, kondisi lanskap di sekitar kawasan ini sudah banyak berubah.
Dahulu Batutegi merupakan bagian dari bentang hutan Bukit Barisan yang luas. Namun seiring waktu, sebagian area di sekitarnya berubah menjadi:
- kebun kopi
- lahan pertanian
- permukiman
Perubahan ini membuat hutan yang tersisa menjadi terfragmentasi, tidak lagi terhubung seperti dulu. Bagi satwa yang bergantung pada tutupan hutan rapat, kondisi ini dapat menimbulkan beberapa risiko:
- ruang hidup semakin terbatas
- jalur pergerakan satwa terputus
- populasi terisolasi satu sama lain
Di Batutegi sendiri, kelinci bergaris sumatera ditemukan di dua blok hutan utama: Way Sekampung dan Rindingan. Kedua area ini dipisahkan oleh lanskap yang sudah banyak dipengaruhi aktivitas manusia.
Jika konektivitas antar hutan terus berkurang, populasi yang terpisah ini bisa menjadi semakin rentan dalam jangka panjang.
Apakah Perburuan Menjadi Ancaman?
Perburuan sering menjadi ancaman besar bagi banyak satwa liar. Namun dalam penelitian di Batutegi, para peneliti tidak menemukan indikasi adanya perburuan sistematis terhadap kelinci bergaris sumatera.
Selama periode pemantauan, tidak ada bukti aktivitas perburuan yang terlihat di sekitar lokasi kamera jebak.
Meski begitu, ancaman ini tetap tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Di beberapa wilayah lain di sumatera, kelinci bergaris sumatera pernah dilaporkan:
- diburu untuk konsumsi
- diperdagangkan sebagai hewan peliharaan eksotis
Karena populasinya kemungkinan kecil dan keberadaannya jarang terdeteksi, tekanan sekecil apa pun dapat berdampak besar bagi kelangsungan hidup spesies ini.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Melindunginya?

Setelah keberadaan kelinci bergaris sumatera terdeteksi di Batutegi, langkah berikutnya adalah memastikan habitatnya tetap terjaga dan populasinya terus dipantau.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami kondisi spesies ini dengan lebih baik, misalnya:
- berapa banyak individu yang hidup di kawasan tersebut
- bagaimana pola pergerakan mereka di dalam hutan
- area mana yang paling penting bagi kelangsungan hidupnya
Selain itu, menjaga tutupan hutan yang tersisa juga menjadi hal yang sangat penting. Ketika fragmen hutan terus menyusut, populasi satwa yang sudah kecil akan semakin rentan.
Di lapangan, upaya perlindungan kawasan ini juga sudah berjalan. KPH Batutegi bersama YIARI telah melakukan berbagai kegiatan konservasi, termasuk patroli rutin dan pemantauan satwa untuk mengurangi aktivitas ilegal di kawasan hutan.
Langkah-langkah ini membantu menjaga Batutegi tetap menjadi habitat bagi berbagai spesies langka yang hidup di dalamnya.
Para peneliti juga mengusulkan agar Batutegi dipertimbangkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Status ini dapat memperkuat pengelolaan kawasan dan membuka dukungan yang lebih besar bagi perlindungan keanekaragaman hayati di lanskap tersebut.
Harapan dari Hutan Batutegi
Rekaman kamera jebak di Batutegi memberi satu pesan yang cukup jelas: hutan ini masih menjadi tempat hidup bagi kelinci bergaris sumatera.
Setiap temuan seperti ini membantu peneliti memahami sedikit demi sedikit kehidupan satwa yang selama ini jarang terlihat di alam.
Lebih dari itu, temuan ini juga menunjukkan bahwa hutan lindung di luar taman nasional pun bisa memiliki peran penting bagi konservasi satwa langka.
Selama kawasan seperti Batutegi tetap terjaga, masih ada peluang bagi kelinci bergaris sumatera untuk terus bertahan di alam liar.
Tautan Jurnal
Camera Trap Records of Sumatran Striped Rabbits (Nesolagus netscheri) in Batutegi Protection Forest, Lampung, Indonesia. Jurnal Media Konservasi. [Buka]
Featured image: Kelinci Sumatera yang langka / Image via Wikipedia