Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Beruk Mentawai: Primata Endemik dari Kepulauan Mentawai
Tahukah kamu, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat memiliki tingkat endemisitas primata yang tinggi?
Salah satu primata endemik di Kepulauan Mentawai adalah beruk Mentawai. Artinya, beruk Mentawai tidak dapat ditemukan di wilayah manapun alias limited edition!
Nama latin dari beruk Mentawai adalah Macaca pagensis. Selain itu, primata ini juga memiliki nama lokal siteut dan bokoi. Julukan beruk Mentawai dalam bahasa Inggris disebut pagai island macaque.
Sama halnya dengan yaki si monyet hitam dari Sulawesi, beruk Mentawai juga memiliki status kritis di alam (critically endangered). Mengapa demikian?
Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Gambaran Umum, Habitat, dan Persebaran Beruk Mentawai
Beruk mentawai (Macaca pagensis) (Klaus Rudloff, Berlin | biolib.cz)
Beruk Mentawai memiliki ciri khas dengan bulu tebal berwarna abu-abu gelap dan ekornya yang pendek, membuatnya mudah dibedakan dari jenis monyet lainnya di Indonesia.
Habitat asli primata ini terutama terletak di hutan hujan tropis kepulauan Mentawai. Mereka menghuni berbagai jenis hutan, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan. Sayangnya, habitat ini terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia, seperti penebangan hutan dan konversi lahan untuk pertanian, yang menyebabkan habitat mereka terus menyusut.
Persebaran beruk Mentawai secara eksklusif hanya di Kepulauan Mentawai. Karena keterbatasan geografis dan habitat yang semakin terancam, populasi beruk Mentawai mengalami penurunan.
Keberadaan mereka yang hanya terbatas di wilayah tersebut menjadikan mereka sangat rentan terhadap kepunahan. Kesadaran akan perlindungan dan pelestarian habitat mereka menjadi sangat krusial untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini di masa depan.
Kebiasaan Makan dan Adaptasi Beruk Mentawai di Lingkungan Asli
Di lingkungan asli mereka, beruk Mentawai memiliki diet yang beragam dan seimbang yang terdiri dari buah-buahan, daun, bunga, dan kadang-kadang serangga. Ketersediaan makanan ini sangat bergantung pada musim dan jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar habitat mereka. Hal ini menunjukkan beruk Mentawai adalah spesies yang sangat adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sumber daya alam yang tersedia.
Selain diet, adaptasi beruk Mentawai juga pada cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Misalnya, mereka memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan memilih buah-buahan yang matang dan bergizi dari yang masih mentah. Keterampilan ini tidak hanya penting untuk kelangsungan hidup mereka, tetapi juga berperan dalam proses penyebaran biji, yang membantu dalam regenerasi hutan.
Dinamika Populasi dan Tantangan Konservasi Beruk Mentawai
Menurut IUCN, beruk Mentawai merupakan primata dengan status kritis di alam (critically endangered).
Di Indonesia sendiri, beruk Mentawai juga masuk ke dalam daftar satwa dilindungi, yaitu terdaftar di Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (PERMEN LHK) Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Sebagai satwa dilindungi, ada berbagai hal yang menjadi tantangan dalam konservasi beruk Mentawai:
Fluktuasi populasi: populasi beruk Mentawai mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan habitat, ketersediaan makanan, dan interaksi dengan spesies lain. Data terkini menunjukkan tren penurunan jumlah populasi, yang memicu kekhawatiran tentang kelangsungan hidup spesies ini.
Kehilangan habitat: pembukaan lahan untuk pertanian dan pembalakan menjadi tantangan besar dalam konservasi beruk Mentawai. Penebangan hutan mengurangi area hidup yang esensial bagi mereka untuk mencari makan dan berkembang biak, sehingga membatasi kemampuan dalam mempertahankan populasi yang sehat.
Konflik dengan manusia: bertambahnya aktivitas manusia di dekat habitat beruk Mentawai memperbesar kemungkinan terjadi konflik. Beruk Mentawai yang memasuki perkebunan mencari makanan bisa dianggap sebagai hama oleh petani, sehingga berisiko terhadap konflik yang berujung pada penganiayaan atau pembunuhan.
Penyakit: penularan penyakit dari manusia ke beruk Mentawai juga menjadi perhatian serius. Penyakit yang tidak umum di kalangan beruk bisa berakibat fatal, mengingat mereka tidak memiliki kekebalan terhadap patogen tersebut.
Keterbatasan genetik: populasi yang terisolasi cenderung memiliki variasi genetik rendah, yang meningkatkan risiko inbreeding dan mengurangi kekebalan terhadap penyakit serta adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Upaya konservasi: melindungi beruk Mentawai membutuhkan strategi konservasi menyeluruh, mencakup perlindungan habitat, edukasi masyarakat lokal, serta penelitian lebih lanjut mengenai ekologi dan biologi beruk Mentawai. Kerjasama antar lembaga konservasi, pemerintah, dan masyarakat setempat sangat penting dalam menjaga keberlangsungan spesies ini.
Interaksi Beruk Mentawai dengan Spesies Lain di Habitatnya
Di habitat aslinya, beruk Mentawai juga berinteraksi dengan primata endemik lain, termasuk:
Owa bilau (Hylobates klossii): owa bilau, kera kecil endemik Kepulauan Mentawai, sering terlihat bergelantungan dan berayun di antara dahan-dahan pohon. Peran mereka dalam penyebaran biji sangat penting untuk menjaga kesehatan hutan.
Simakobu (Simias concolor): dikenal juga sebagai monyet ekor babi karena ekor pendek yang mirip babi, simakobu lebih teritorial dan menghabiskan waktu di lantai hutan. Mereka berperan penting dalam proses penyebaran biji yang jatuh ke tanah, mendukung regenerasi hutan.
Joja (Presbytis potenziani) dan Presbytis siberu: kedua spesies surili ini aktif berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mengonsumsi daun muda dan buah-buah. Interaksi sering kali bersifat kompetitif dengan beruk Mentawai, terutama dalam hal akses terhadap sumber makanan.
Peran Masyarakat Mentawai Menjaga Hutan Habitat Bagi Beruk Mentawai
Masyarakat di daerah Mentawai bisa ikut andil juga dalam menjaga hutan habitat beruk Mentawai, lho. Bagaimana caranya?
Pengetahuan tradisional: masyarakat Mentawai punya pengetahuan tradisional mendalam tentang hutan dan spesies yang hidup di dalamnya, termasuk beruk Mentawai. Mereka menggunakan pengetahuan ini untuk berinteraksi secara berkelanjutan dengan alam, memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak ekosistem.
Praktik berkelanjutan: masyarakat setempat biasanya menerapkan metode pertanian dan perburuan berkelanjutan yang tidak mengganggu habitat asli beruk Mentawai. Misalnya, mereka menghindari penggunaan teknik penebangan dan pembakaran yang dapat merusak habitat hutan secara luas.
Partisipasi dalam program konservasi: banyak anggota masyarakat Mentawai aktif terlibat dalam program konservasi yang diinisiasi oleh pemerintah atau organisasi non-pemerintah. Keterlibatan ini termasuk patroli hutan, pemantauan populasi beruk, dan kegiatan reboisasi.
Edukasi dan kesadaran lingkungan: masyarakat Mentawai juga berperan dalam edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Mereka mengajarkan nilai dan pentingnya pelestarian hutan dan spesies endemik seperti beruk Mentawai kepada anak-anak dan remaja.
Pengelolaan konflik dengan satwa liar: masyarakat setempat telah mengembangkan strategi untuk mengelola konflik dengan satwa liar (termasuk beruk Mentawai), seperti penggunaan teknik penghalau yang tidak membahayakan. Ini dilakukan agar menjaga satwa liar tetap jauh dari lahan pertanian atau pemukiman.
Peran dalam ritual dan budaya: beruk Mentawai sering terlibat dalam cerita rakyat dan ritual masyarakat Mentawai, yang menunjukkan penghargaan dan rasa hormat mereka terhadap satwa ini. Keterlibatan ini membantu meningkatkan status beruk Mentawai sebagai spesies yang penting untuk dilestarikan.
Kesadaran bersama dalam melestarikan beruk Mentawai dan habitatnya merupakan langkah penting untuk keseimbangan ekosistem Kepulauan Mentawai secara keseluruhan.
Masyarakat setempat, bersama dengan pemerintah dan organisasi konservasi, memainkan peran krusial dalam menjaga hutan—paru-paru dunia ini—agar tetap lestari. Setiap tindakan yang kita ambil hari ini untuk konservasi beruk Mentawai adalah investasi bagi generasi mendatang, memastikan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia terjaga.
Yuk, bersama-sama kita mendukung inisiatif ini agar suara dari hutan Mentawai tidak pernah hilang ditelan zaman!
Referensi:
Supriatna J, Hendras E. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Pustaka Indonesia.
Bismarck M. 2012. Model konservasi primata endemik di Cagar Biosfer Pulau Siberut, Sumatera Barat (Conservation Strategy of Endemic Primate in Siberut Biosphere Reserve, West Sumatera). 9(2):151-162. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam.
Pulau Sulawesi adalah rumah bagi beberapa primata unik, termasuk yaki, yang hanya dapat ditemukan di wilayah ini.
Dikenal juga dengan nama ilmiah Macaca nigra atau Celebes Crested Macaque dalam bahasa Inggris, yaki memiliki berbagai nama lokal seperti monyet hitam sulawesi, bolai, dan wolai.
Berbeda dengan kera, yaki adalah jenis monyet yang memiliki ekor.
Sayangnya, yaki termasuk primata yang status konservasinya sangat kritis atau terancam punah di alam liar. Mari berkenalan lebih dekat dengan yaki dan pentingnya upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan spesies ini!
Pengenalan Yaki: Ciri Khas, Pakan, Sebaran, dan Habitat Alaminya
Yaki memiliki tubuh berwarna hitam, jambul di kepala, dan pantat merah muda. Pada musim kawin, pantat betina yaki membesar dan berwarna merah terang.
Perlu diingat, yaki adalah monyet dengan ekor pendek sekitar 20 cm, bukan kera. Yaki omnivora, memakan daun, bunga, biji, buah, umbi, serangga, moluska, dan invertebrata kecil. Spesies ini endemik di utara Sulawesi, khususnya di Cagar Alam Tangkoko-Batuangus, hidup di hutan primer dan sekunder dari dataran rendah hingga ketinggian 2.000 meter
Yaki memiliki struktur sosial yang terorganisir dengan baik, biasanya hidup dalam kelompok besar yang terdiri dari beberapa laki-laki, perempuan, dan anak-anak mereka. Kelompok ini dapat mencakup 5 hingga 25 individu, tetapi kelompok lebih besar dengan anggota hingga 100 individu juga telah diamati.
Dalam kelompok, yaki menunjukkan hierarki yang jelas dimana dominasi ditentukan melalui kekuatan dan usia, serta interaksi sosial seperti grooming (membersihkan bulu) yang memainkan peran penting dalam pembentukan dan pemeliharaan ikatan sosial.
Kelompok Macaca nigra atau Yaki (R.Rahasia | CC BY-SA 4.0 DEED | Wikimedia)
Interaksi antar anggota kelompok sering melibatkan perilaku bermain, saling menjaga, dan berbagi makanan, yang semuanya vital untuk koherensi sosial mereka.
Yaki juga terkenal dengan perilaku vokalisasi mereka yang rumit, yang digunakan untuk komunikasi dalam kelompok saat mencari makan atau menghadapi ancaman.
Selain itu, mereka mengadakan pertemuan rutin yang tampaknya bertujuan untuk memperkuat hubungan sosial dan hierarki dalam kelompok.
Ancaman Utama terhadap Kelangsungan Populasi Yaki
Inilah beberapa ancaman utama terhadap kelangsungan populasi yaki:
1. Kehilangan habitat
Kehilangan habitat merupakan ancaman paling serius yang dihadapi yaki di Sulawesi. Akibat ekspansi lahan pertanian, khususnya untuk perkebunan kelapa sawit dan coklat, serta pembangunan infrastruktur, luas hutan tempat yaki hidup terus berkurang.
Pembukaan lahan ini mengurangi area yang dapat digunakan untuk mencari makan dan berteduh, sekaligus memisahkan populasi yaki menjadi kelompok-kelompok kecil yang terisolasi.
Hal ini mengurangi kesempatan mereka untuk bertemu dan berkembang biak dengan yaki dari kelompok lain, yang secara jangka panjang dapat mengurangi keanekaragaman genetik dan kemampuan adaptasi populasi.
2. Perburuan
Perburuan menjadi ancaman utama lainnya bagi yaki, terutama untuk dikonsumsi sebagai daging bushmeat. Praktik ini terus berlanjut meskipun adanya hukum yang melarang perburuan yaki, biasanya karena kurangnya penegakan hukum dan kesadaran masyarakat lokal tentang status konservasi yaki.
Akibatnya, banyak yaki yang mati sebelum mencapai usia reproduksi, yang secara dramatis mengurangi kemampuan populasi untuk mempertahankan jumlah mereka, dan meningkatkan risiko kepunahan jangka panjang.
3. Konflik manusia-satwa liar
Konflik antara yaki dan manusia terjadi ketika yaki memasuki area pertanian untuk mencari makan, yang sering terjadi karena habitat alami mereka yang menyusut.
Petani, yang merasa terancam oleh kerugian ekonomi akibat rusaknya tanaman, biasanya mengambil tindakan keras, seperti pembunuhan atau pengusiran yaki. Selain membahayakan yaki, tindakan tersebut juga menciptakan siklus negatif antara manusia dan yaki, di mana tidak ada kepercayaan atau toleransi.
4. Perdagangan hewan peliharaan ilegal
Meskipun lebih sedikit dibandingkan dengan perburuan untuk daging, perdagangan yaki sebagai hewan peliharaan masih berlangsung dan berkontribusi terhadap penurunan populasi.
Anak yaki sering diculik dari ibu mereka dan dijual di black market, menyebabkan gangguan pada dinamika sosial kelompok dan meninggalkan anak yaki tanpa perlindungan dan asuhan yang diperlukan untuk bertahan hidup di alam liar.
5. Diversitas genetik terbatas
Populasi yaki yang terisolasi di Sulawesi menghadapi masalah diversitas genetik yang terbatas, membuat mereka rentan terhadap penyakit dan perubahan iklim.
Karena terbatasnya variasi genetik, penyakit baru atau perubahan lingkungan yang drastis bisa menyapu populasi yang tidak memiliki ketahanan genetik terhadap ancaman tersebut. Ini juga membatasi kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan habitat atau sumber makanan seiring waktu, memperburuk risiko kepunahan mereka.
Kontribusi Yaki dalam Penyebaran Biji dan Peran Ekologis
Berikut kontribusi yaki dalam penyebaran biji dan peran ekologis:
1. Penyebaran biji
Yaki berperan penting dalam proses penyebaran biji di hutan Sulawesi. Ketika mereka mengonsumsi buah, biji-biji tersebut melewati sistem pencernaan mereka lalu dibuang melalui kotoran di lokasi berbeda dari tempat buah tersebut dikonsumsi.
Proses ini menyebarluaskan biji ke area baru yang mungkin tidak terjangkau oleh proses alami lainnya, serta menempatkan biji dalam kondisi yang lebih baik untuk berkecambah, karena biji tersebut sering kali dibuang bersama dengan pupuk alami dalam bentuk kotoran yaki.
Ini membantu dalam regenerasi dan pertumbuhan hutan, serta mendukung keanekaragaman tumbuhan yang lebih besar.
2. Pemeliharaan keanekaragaman hayati
Dengan mengonsumsi dan menyebarkan biji dari berbagai jenis tumbuhan, yaki berkontribusi secara langsung terhadap pemeliharaan keanekaragaman hayati. Aktivitas mereka mendukung keseimbangan ekologis yang memungkinkan berbagai spesies tumbuhan untuk berkembang, yang penting untuk stabilitas dan kesehatan ekosistem hutan.
Keanekaragaman tumbuhan yang lebih tinggi mendukung berbagai jenis fauna, juga menciptakan ekosistem yang kaya dan resilien.
3. Peran dalam rantai makanan
Sebagai omnivora, yaki memiliki peran kunci dalam rantai makanan hutan Sulawesi. Mereka mengonsumsi serangga dan invertebrata kecil, membantu mengontrol populasi serangga dan mempertahankan kesehatan vegetatif ekosistem.
Kegiatan pemangsaan ini menciptakan keseimbangan antara populasi predator dan mangsa, mengurangi risiko satu spesies tertentu akan menjadi dominan, yang bisa merugikan ekosistem secara keseluruhan.
4. Interaksi dengan spesies lain
Aktivitas harian yaki sering menarik perhatian atau memicu interaksi dengan spesies lain dalam ekosistem, termasuk predator dan kompetitor.
Misalnya, keberadaan yaki menandakan sumber makanan yang kaya bagi predator seperti elang dan ular. Meskipun interaksi ini kadang-kadang kompetitif atau melibatkan pemangsaan, mereka adalah bagian dari dinamika ekologis yang lebih besar, membantu menjaga keseimbangan alam dan kesehatan ekosistem.
Upaya Konservasi Pelestarian Yaki
Melalui kebijakan, pemerintah Indonesia memasukkan yaki ke dalam daftar satwa dilindungi, yaitu terdaftar di Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (PERMEN LHK) Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Sementara itu. International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengkategorikan Yaki sebagai primata dengan status kritis di alam (critically endangered).
Lebih lanjut, berikut beberapa upaya konservasi pelestarian yaki:
Pembentukan dan pengelolaan cagar alam: wilayah seperti Cagar Alam Tangkoko-Batuangus telah ditetapkan sebagai habitat lindung untuk yaki. Pengelolaan area konservasi ini termasuk patroli rutin untuk mencegah perburuan ilegal dan pengawasan terhadap aktivitas manusia yang dapat mengganggu habitat yaki.
Restorasi habitat: program restorasi dilakukan untuk memperbaiki dan mengembalikan habitat yang telah rusak akibat deforestasi. Ini melibatkan penanaman kembali pohon-pohon asli dan rehabilitasi lahan untuk mendukung keberlangsungan populasi yaki di alam liar.
Program edukasi: meningkatkan kesadaran masyarakat lokal mengenai pentingnya yaki dan dampak negatif dari perburuan serta perdagangan ilegal. Edukasi di sekolah-sekolah dan melalui media sosial berfungsi untuk menyebarkan informasi tentang nilai konservasi yaki.
Keterlibatan masyarakat: mendorong masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam konservasi melalui pekerjaan sebagai pemandu ekowisata atau penjaga hutan. Selain membantu konservasi, program ini juga menawarkan alternatif ekonomi kepada masyarakat yang sebelumnya mungkin bergantung pada eksploitasi sumber daya hutan.
Studi ekologis dan genetik: penelitian terus dilakukan untuk memahami lebih baik perilaku, kebutuhan habitat, dan struktur genetik populasi yaki. Informasi ini penting untuk mengembangkan strategi konservasi yang efektif dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik yaki.
Monitoring populasi: program monitoring secara teratur membantu melacak jumlah populasi yaki, distribusi mereka, dan dinamika populasi. Ini penting untuk menilai keefektifan upaya konservasi yang sedang berlangsung dan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih.
Kolaborasi internasional: kerjasama antara pemerintah Indonesia, LSM internasional, dan universitas untuk melaksanakan dan mendanai proyek konservasi. Kerjasama ini juga melibatkan pertukaran pengetahuan dan sumber daya yang bisa memperkuat upaya konservasi.
Integrasi dengan kebijakan publik: mengintegrasikan upaya konservasi dengan kebijakan publik, seperti regulasi penggunaan lahan dan inisiatif pembangunan berkelanjutan, untuk mendukung pelestarian yaki di tingkat kebijakan dan praktik.
Pariama AJ, Langi MA, Tasirin JS. 2022. Perilaku yaki (Macaca nigra) di kandang habituasi Gunung Masarang. Jurnal UNSRAT. 14(3).
Hunawa DKD, Rmbang M, Marentek E. 2016. Kampanye pelestarian “yaki hitam” (Macaca nigra) oleh program selamatkan yaki di Kelurahan Batuputih Bawah Kecamatan Ranowulu Kota Bitung. e-Journal “Acta Diurna. 5(2).
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (PERMEN LHK) Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Feature image: Macaca nigra atau Yaki (Ari hidayat11 | CC BY-SA 4.0 DEED | Wikimedia)
Ini Dia Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan serta Cara Pencegahannya!
Halo Sobat #KonsevasYIARI!
Akhir-akhir ini, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin meningkat. Dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah karhutla di Indonesia tahun 2024 sampai bulan Juli mencapai 150 kejadian.
Bahkan, luas total hutan dan lahan yang terbakar mencapai sekitar 48.725 hektar sejak Januari 2024. Jika dibayangkan, luasnya seperti 68 kali luas lapangan sepak bola!
Bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sendiri telah ditetapkan sebagai bencana alam nasional karena selalu terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Dampak yang ditimbulkan dari karhutla tentu ga main-main, nih!
Melalui artikel ini, yuk kita kenali penyebab kebakaran hutan dan lahan, dampak, sekaligus cara pencegahannya!
Faktor Penyebab Karhutla
Pada dasarnya, faktor penyebab karhutla ada dua, yaitu manusia dan alam:
1. Faktor manusia
Aktivitas manusia yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar, serta kelalaian manusia saat berwisata alam.
Pembukaan lahan dengan cara dibakar marak dilakukan saat musim kemarau dan tidak terkendali. Tentu, musim kemarau merupakan musim di mana sangat minim sekali intensitas hujan sehingga dinilai dapat mempercepat proses pembakaran.
Pembukaan lahan dengan cara dibakar juga tidak dilengkapi dengan pengawasan, sehingga api bisa saja menjalar kemana-mana.
Perlu dipahami, pembukaan lahan dengan cara dibakar ini termasuk ilegal, ya. Karena sudah ada pelarangannya di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Api unggun sebagai salah satu aktivitas manusia saat berwisata alam di kawasan hutan (ValentynVolkov | Getty Images)
Selain itu, karhutla bisa terjadi karena kelalaian manusia, khususnya saat berwisata alam di kawasan hutan. Tak jarang para wisatawan membawa sumber api seperti kompor, korek, dan kembang api serta membuat api unggun saat berwisata alam.
Salah satu contoh kasusnya yang terjadi pada tahun 2023 silam di Bukit Teletubbies, Bromo. Percikan api dari kembang api yang dibawa oleh wisatawan terjatuh ke lahan sabana sehingga menyebabkan kebakaran.
2. Faktor alam
Faktor alam yang dapat menyebabkan karhutla biasanya terjadi saat musim kemarau panjang dan aktivitas vulkanik.
Kemarau panjang menyebabkan kenaikan suhu bahkan di wilayah hutan. Naiknya suhu secara ekstrim saat musim kemarau panjang serta wilayah hutan yang kering dapat menimbulkan terjadinya kebakaran hutan.
Vegetasi pada musim kemarau (Jaka Firman Purnama | CC BY-SA 4.0 DEED | Wikimedia)
Wilayah hutan yang berada di sekitar pegunungan berapi juga berpotensi mengalami kebakaran. Seperti saat terjadi letusan gunung berapi, lahar yang dikeluarkan akan mengenai wilayah hutan sehingga terjadi kebakaran hutan.
Apa Saja Dampak Karhutla bagi Kehidupan?
Karhutla memberikan dampak kerusakan dan kerugian, baik bagi lingkungan, satwa liar, dan manusia:
1. Hilangnya habitat flora dan fauna
Hutan merupakan habitat dari berbagai jenis flora dan fauna tak terkecuali flora dan fauna endemik. Ketika terjadi karhutla , tentu api akan melahap apapun yang berada di dalam hutan. Melahap pepohonan yang bahkan tingginya sudah melebihi monumen nasional di Jakarta. Melahap sarang-sarang satwa liar seperti burung dan orang utan. Bahkan melahap satwa liar itu sendiri.
Sebagai contoh kebakaran hutan terparah yang terjadi di Australia pada tahun 2019-2020, lahan hutan seluas 12,6 juta hektar terbakar, menewaskan sekitar 3 miliar hewan. Banyak spesies menjadi terancam punah atau hampir punah sebagai akibatnya. Koala yang merupakan satwa liar endemik Australia terlalap api saat kebakaran terjadi.
2. Penyumbang gas rumah kaca
Gas rumah kaca yang dikenal sebagai penyumbang besar terhadap perubahan iklim dan pemanasan global adalah karbon dioksida. Saat terjadi karhutla, proses pembakaran akan menghasilkan dan melepas gas karbon dioksida terlebih jika lahan yang terbakar adalah lahan gambut. Lahan gambut mengandung konsentrasi karbon yang sangat tinggi loh Sob!
Merujuk ke data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), karhutla yang terjadi di seluruh Indonesia selama periode Januari-Juli 2023 sudah menghasilkan emisi karbon sekitar 9,60 juta ton.
3. Mengganggu kesehatan manusia
Karhutla dapat menjangkau wilayah di luar areal kebakaran, karena menghasilkan kabut asap tebal yang jangkauannya luas. Sebaran kabut asap hasil karhutla dapat mencapai wilayah perkotaan dan pemukiman warga yang menyebabkan perubahan kualitas udara sehingga terjadi pencemaran udara.
Kabut asap akibat karhutla dapat mengganggu kesehatan manusia, seperti bronkitis kronis, menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi lokal pada selaput lendir di hidung, mulut dan tenggorokan, iritasi pada mata dan kulit, menimbulkan keluhan gatal, mata berair, peradangan dan infeksi yang memberat.
Karhutla yang terjadi pada tahun 2019 di Provinsi Riau menyebabkan beberapa wilayah di provinsi tersebut tertutup oleh kabut asap selama beberapa waktu. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kota Pekanbaru (2019), jumlah penderita ISPA di Pekanbaru meningkat saat bencana kabut asap akibat karhutla melanda Provinsi Riau.
Setelah kita mengetahui apa saja faktor penyebab dan dampak dari karhutla, saatnya kita melakukan aksi pencegahan karhutla nih Sob!
3 Cara Mencegah Karhutla
Mencegah kebakaran hutan dan lahan bisa dilakukan dengan cara berikut:
1. Pemantauan lokasi titik rawan kebakaran
Pemantauan terhadap lokasi yang memiliki potensi karhutla dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan terhadap titik lokasi rawan karhutla. Selain itu, dibutuhkan juga pemetaan terhadap desa penyangga atau sekitar hutan sebagai upaya pencegahan dan akses utama jika terjadi karhutla.
Pemantauan ini biasanya dilakukan oleh instansi terkait (seperti polisi hutan) saat berpatroli. Upaya kolaborasi ketika pemantauan juga bisa dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar lokasi rawan karhutla.
2. Menghindari membuat api di area hutan dan lahan
Masyarakat yang tinggal di sekitar areal hutan ada baiknya tidak melakukan pembakaran lahan dan pembakaran sampah dekat area hutan, yang berpotensi menyebabkan api menjadi lebih besar.
Bagi para wisatawan yang hendak melakukan wisata ke hutan dan lahan, dihimbau untuk lebih memperhatikan sumber api yang dibawa, seperti korek, kompor, dan saat membuat api unggun. Ada baiknya memastikan seluruh sumber api padam sempurna.
3. Melaporkan pada petugas setempat
Jika karhutla terjadi, segera melapor ke petugas setempat atau pihak berwenang seperti kepala desa atau polisi hutan. Hal ini berguna agar segera dilakukan langkah lanjutan, sehingga api tidak semakin besar dan meluas.
Partisipasi dan Peran Masyarakat Dalam Pencegahan Karhutla
Dalam upaya pencegahan karhutla, dibutuhkan semangat kolaboratif antar berbagai pihak terutama dibutuhkan partisipasi dan peran masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat menjadi garda terdepan dalam pencegahan karhutla terutama masyarakat yang berada dekat dengan area hutan.
Melalui inisiasi individu, tokoh masyarakat, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), sampai pendampingan oleh instansi pemerintah, kini bermunculan berbagai aktivitas dalam upaya pencegahan karhutla.
Prinsipnya, upaya pencegahan karhutla dilakukan secara swadaya, kolektif, dan partisipatif.
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang merupakan salah satu LSM dalam bidang konservasi, turut berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan karhutla. YIARI berkolaborasi dan melakukan pembinaan terhadap komunitas The Power of Mama (TPoM), yaitu melibatkan peran masyarakat (khususnya ibu-ibu) dalam upaya pencegahan karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Informasi di atas semoga dapat menambah informasi mengenai karhutla, ya.
Tidak perlu turun langsung ke lapang kok, ada cara lain yang bisa kita lakukan. Salah satunya turut serta menyebarluaskan informasi mengenai karhutla ini!
Referensi:
Mulia P, Nofrizal, Dewi WN. 2021. Analisis dampak kabut asap karhutla terhadap gangguan kesehatan fisik. Jurnal Ners Indonesia. 12(1): 51-66.
Widiatmoko WP, Astiani D, Muin S. 2022. Faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut dan upaya pengendalian masyarakat di lanskap Bentang Pesisir Padang Tikar Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Hutan Lestari. 10(4): 901-916.
Feature image: Fire forest (Kongdigital | Getty Images)
Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!
Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan?
Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera.
Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan kesejahteraan hewan atau ‘five freedoms’, adalah suatu kondisi di mana kebutuhan alami dan esensial hewan terpenuhi secara memadai.
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh John Webster pada tahun 1994 dan kini telah menjadi standar global minimal untuk kesejahteraan hewan.
Prinsip kesejahteraan satwa sangat penting dalam konservasi ex-situ, yaitu penanganan satwa liar yang tidak berada dalam habitat asli mereka. Prinsip ini menjadi acuan utama saat berinteraksi dengan hewan serta dalam pembuatan habitat buatan seperti kandang.
Kebanyakan, prinsip ini diterapkan oleh lembaga konservasi untuk tujuan umum seperti di kebun binatang, serta oleh lembaga spesialis seperti Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang fokus pada rehabilitasi primata seperti kukang, orangutan, dan berbagai jenis makaka.
Di YIARI, prinsip kesejahteraan satwa dijadikan sebagai dasar dalam proses rehabilitasi hingga pelepasliaran kembali ke alam liar.
Lalu, apa saja sebenarnya kelima prinsip kesejahteraan satwa? Dan bagaimana penerapannya di YIARI?
Untuk menjawab itu, kami berkesempatan berbincang dengan drh. Nur Purba Priambada, salah satu Dokter Hewan di YIARI. Yuk, simak penjelasannya!
1. Bebas dari lapar dan haus
Inilah prinsip pertama kesejahteraan satwa! Prinsip ini melibatkan penyediaan pakan dan air minum yang memadai, karena kedua hal ini merupakan kebutuhan dasar semua makhluk hidup, termasuk manusia, Sob!
Penting untuk memastikan jenis pakan yang diberikan sesuai dengan makanan alami dari masing-masing spesies, lengkap dengan nutrisi yang seimbang. Akses ke pakan dan air juga harus mudah, dengan penempatan yang disesuaikan dengan perilaku alami satwa.
Sebagai contoh, YIARI menyiapkan pakan untuk kukang dengan berbagai improvisasi agar pakan tersebut setidaknya mendekati makanan alami mereka, termasuk pemberian getah (meskipun getahnya instan), serangga, nektar, hingga sayuran sebagai pengganti buah hutan yang kaya serat.
Selain itu, ada juga persiapan enrichment untuk kukang, seperti madu yang dibungkus dengan daun, yang dilakukan oleh tim Animal Management di YIARI.
Persiapan penyediaan enrichment kukang, madu yang dibungkus dengan daun(Animal Management | YIARI)
Sementara itu, untuk makaka, YIARI menyediakan buah dan sayuran dengan kandungan nutrisi yang seimbang. Semua ini adalah hasil dari kajian mendalam bersama para ahli nutrisi, bertujuan untuk memastikan kesejahteraan satwa tersebut terpenuhi dengan baik.
Prinsip selanjutnya adalah memastikan satwa bebas dari rasa tidak nyaman. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan satwa terhadap tempat tinggal atau naungan atau sarang yang sesuai dengan habitat aslinya.
Selain itu, Sobat harus memerhatikan faktor lingkungan yang meliputi kelembapan, ventilasi, pencahayaan, dan temperatur. Tentu faktor lingkungan harus sesuai dengan kondisi alami habitat satwa tersebut.
Penggunaan lampu cahaya merah untuk mengurangi intensitas cahaya tinggi di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Denny Setiawan | YIARI)
Dalam prinsip kedua ini, YIARI menyesuaikan intensitas cahaya pada kandang kukang, mengingat kukang adalah satwa nokturnal. Selain itu, YIARI menggunakan cahaya merah, yang memiliki tingkat intensitas cahaya rendah saat melakukan pengambilan gambar satwa. Hal ini dilakukan agar satwa tetap merasa aman dan nyaman.
3. Bebas dari sakit, luka, dan penyakit
Prinsip ketiga ini menekankan satwa tidak boleh terpapar pada stimulasi yang menyakitkan seperti pemukulan, penyiksaan, atau pengikatan yang terlalu kencang. Ingat, Sob, satwa juga memiliki perasaan dan mampu merasakan sakit!
Lebih lanjut, penting untuk memastikan satwa bebas dari luka, baik luka fisik maupun internal, dan terhindar dari sumber penyakit apapun. Dalam kondisi kandang atau lingkungan urban, penyakit dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pakan yang tidak segar atau sudah busuk.
Interaksi dengan manusia juga dapat menjadi sumber penyakit, karena manusia dan satwa dapat saling menularkan penyakit, yang dikenal sebagai zoonosis.
Di YIARI, penerapan prinsip ini diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala pada primata yang sedang menjalani rehabilitasi.
Pengecekan kesehatan secara berkala terhadap kukang yang dilakukan oleh Dokter Hewan di YIARI (Reza Septian | YIARI)
4. Bebas mengekspresikan perilaku alamiah
Prinsip keempat menekankan pentingnya memungkinkan satwa untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Ini termasuk menyediakan atau menambahkan fasilitas di kandang yang mendukung pengayaan kandang, atau yang sering disebut enrichment.
Contoh dari penerapan ini adalah penyediaan enrichment harian untuk makaka, seperti rumah jamur yang memungkinkan mereka bersembunyi di kandang rehabilitasi. Sementara itu, untuk kukang, enrichment disediakan secara bulanan dengan lebih beragam, termasuk batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang-lubang pohon yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi atau bermain.
Penyediaan enrichment di kandang makaka berupa rumah jamur(Animal Management | YIARI)Penyediaan enrichment lorong bambu di kandang kukang (Reza Septian | YIARI)
Selain itu, YIARI juga mengelola beberapa pulau khusus yang diperuntukkan untuk rehabilitasi orangutan. Pulau-pulau tersebut dijadikan tempat agar orangutan dapat merasakan kehidupan di alam liar dan bebas mengekspresikan perilaku alami selama masa rehabilitasi. Ini semacam simulasi kehidupan di habitat asli mereka, Sob!
Beberapa pulau yang digunakan YIARI untuk rehabilitasi orangutan termasuk Pulau Pak Ali, Pulau Setrum, Pulau Monyet, dan Pulau Rangkong.
Orangutan di pulau yang digunakan untuk rehabilitasi orangutan (Heribertus Suciadi | YIARI)
Penting juga untuk menyediakan kesempatan bereproduksi dan bersosialisasi, karena seperti manusia, satwa juga memiliki kebutuhan sosial. Di YIARI, kukang dikelompokkan dengan individu lain untuk merangsang perilaku sosial mereka, yang dapat membantu mengurangi stres yang mungkin mereka alami sebelumnya.
Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu aktivitas satwa. Ada satwa yang aktif di siang hari (diurnal) dan yang aktif di malam hari (nokturnal). Penting untuk tidak mengganggu satwa di luar waktu aktif mereka, seperti memberi makan pada waktu yang salah.
Sama seperti manusia, Sobat pasti akan merasa terganggu jika dibangunkan dari istirahat, bukan?
Prinsip terakhir ini sebenarnya merupakan prinsip paling sulit untuk dipenuhi, yaitu bebas dari rasa takut dan tertekan. Prinsip ini sulit dilakukan pada satwa liar dan belum terdomestikasi.
Pada prinsip kelima, yang menjadi sumber ketakutan dari satwa justru datang dari pemelihara atau manusia. Bagi satwa, manusia adalah objek asing yang bisa menjadi ancaman. Tak hanya itu suara bising kendaraan juga bisa menyebabkan satwa tertekan.
Di YIARI, prinsip kelima ini dapat dilakukan dengan berusaha mengurangi kontak langsung antara manusia dengan satwa.
Oh iya, Sob! Karena YIARI adalah lembaga konservasi khusus, akses ke kandang rehabilitasi sangat terbatas. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan langsung, seperti dokter hewan dan perawat satwa, yang diizinkan masuk ke area kandang rehabilitasi di YIARI. Bahkan mereka pun harus menjalani berbagai tes kesehatan yang ketat sebelum diperbolehkan masuk, lho!
Dokter hewan dan perawat satwa sedang bertugas di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Reza Septian | YIARI)
Pastinya, dokter hewan memiliki tugas utama untuk memeriksa kesehatan satwa dan mengamati perilaku mereka. Sementara itu, perawat satwa mendukung dokter dengan memberikan pakan, menambahkan enrichment, dan juga melakukan observasi perilaku satwa.
Bagaimana, Sob? Semoga Sobat selalu ingat akan lima prinsip kesejahteraan satwa dan menjadi lebih bijak dalam berinteraksi dengan mereka, ya👍
Memang menjadi dilema, sebab pada umumnya satwa liar hidup bebas di alam tanpa interaksi dengan manusia. Jadi, sebaiknya Sobat tidak memelihara satwa liar secara pribadi tanpa alasan yang jelas!
Teguh IG, Masy’ud B, Rachmawati E. 2010. Kajian pengelolaan kesejahteraan satwa di Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang Sumatera Selatan. Media Konservasi. 15(1):26-30.
Feature image : YIARI | Design by Elif Ivana Hendastari
Perlu Diketahui! 7 Jenis Plastik ini Sering Kita Pakai
Sobat #KonservasYIARI pada mulanya plastik diciptakan manusia sebagai pengganti paper bag, loh! Seiring berjalannya waktu plastik diproduksi secara besar-besaran.
Tidak hanya itu, kini plastik sudah menjadi pencemar lingkungan seperti kemasan plastik sekali pakai 😲
Bahkan plastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan penyakit yang disebut dengan mikroplastik. Mengerikan sekali bukan Sob?
Oleh sebab itu, untuk turut serta dalam upaya memerangi pencemaran plastik Sobat harus tahu terlebih dahulu mengenai jenis-jenis plastik yang umum digunakan pada kemasan.
Tidak hanya satwa liar ya Sob! Plastik juga beragam jenisnya! Tentunya jenis ini berdasarkan bahan yang menyusun plastik tersebut. Biasanya setiap kemasan plastik diberi kode daur ulang berbentuk segitiga dengan angka mulai dari 1 hingga 7.
Yuk langsung kita bahas!
Jenis plastik dengan kode daur ulang (Design by Elif Ivana Hendastari | Canva)
1. Kode 1 : PETE atau PET (Polythylene Terephthalate)
Kode 1 (tokoplas.com)
Kode 1 yaitu PETE atau PET lebih dikenal dengan plastik kemasan sekali pakai. Sering digunakan untuk kemasan botol air mineral.
Jenis plastik ini tidak dapat dipakai berulang kali karena dapat meningkatkan risiko baterai dan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh 😟. Jadi Sobat harus membuangnya setelah dipakai ya!
Plastik ini memiliki wujud transparan dan cenderung tipis. Plastik jenis ini akan melunak pada suhu 80°C. Biasanya para tukang loak lebih banyak menerima plastik jenis ini untuk ditukarkan ya Sob!
2. Kode 2 : HDPE (High-Density Polyethylene)
Kode 2 (tokoplas.com)
Selanjutnya, Kode 2 yaitu HDPE yang merupakan plastik paling sering dijumpai di berbagai jenis botol untuk kebutuhan sehari-hari, yaitu botol air minum (tumbler), botol susu, botol deterjen, botol sampo, botol pelembap, mainan, dan beberapa tas plastik.
Plastik jenis ini merupakan plastik paling aman untuk digunakan kembali atau berkali-kali. Wujudnya kaku, kuat, keras, buram terkadang putih, lebih tahan terhadap suhu tinggi, dan mudah didaur ulang. Jenis plastik ini akan melunak pada suhu 75°C Sob! 🫠
Namun Sob, walau HDPE merupakan jenis plastik paling aman untuk mengemas makanan dan minuman, tapi tetap dianjurkan untuk dipakai sekali saja.
3. Kode 3 : V atau PVC (Polyvinyl Chlorida)
Kode 3 (tokoplas.com)
Kode 3, V atau PVC, nah Sobat tidak asing ya dengan PVC? Ya benar biasanya digunakan untuk bahan pembuatan pipa.
Plastik jenis ini paling sulit didaur ulang, dapat ditemukan pada botol-botol cairan pembersih komersil, pembungkus kabel, dan pipa plastik. Oleh sebab itu PVC relatif tahan terhadap sinar matahari dan beragam cuaca ya Sob!
Walaupun tahan terhadap segala kondisi, namun tidak disarankan untuk digunakan mengemas makanan dan minuman. Jenis PVC akan melunak pada suhu 80°C Sob!
Mengapa ya Sob? Kandungan DEHA (Diethylhydroxylamine) yang ada di dalamnya akan bereaksi cepat saat bersentuhan langsung dengan makanan yang tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan ginjal dan hati 🥲
4. Kode 4 : LDPE (Low-Density Plyethylene)
Kode 4 (tokoplas.com)
Plastik jenis ini dibuat menggunakan minyak bumi (thermoplastic). Plastik jenis ini memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap reaksi kimia, maka LDPE tergolong cukup aman nih Sob untuk membungkus makanan atau minuman 👍
Biasanya ditemukan pada kantong plastik tipis transparan, kresek, plastik pembungkus, atau botol minuman yang dapat diperas. LDPE akan melunak pada suhu 70°C Sob!
5. Kode 5 : PP (Polypropylene)
Kode 5 (tokoplas.com)
Plastik jenis ini bersifat kuat, ringan, dan tahan terhadap panas. Plastik jenis ini mempu menjaga bahan di dalamnya dari berbagai gangguan luar seperti kelembapan, minyak, dan bahan kimia.
PP biasa ditemukan pada botol minuman, botol bayi, kotak makanan, sedotan, gelas, serta wadah margarin dan yoghurt. Jenis plastik yang kuat seperti PP dapat melunak pada suhu 140°C.
6. Kode 6 : PS (Polystyrene)
Kode 6 (tokoplas.com)
Kode 6 merupakan jenis plastik yang sulit untuk didaur ulang, biasanya Sobat akan menemukan PS pada styrofoam.
Jenis plastik ini sangat tidak disarankan untuk digunakan sebagai pembungkus makanan atau minuman. Tapi Sobat kalau kita lihat masih banyak ya penjual yang membungkus makanan dan minuman dengan styrofoam, hal ini disebabkan harganya yang sangat murah. Bahan styrene yang terkandung dalam PS dapat dengan mudah menyebar pada makanan yang tentunya berbahaya untuk kesehatan otak, hormon estrogen, reproduksi, pertumbuhan, serta sistem syaraf 😭
7. Kode 7 : Other (BPA, Polycarbonate, dan LEXAN)
Kode 7 (tokoplas.com)
Jenis plastik kode 7 lebih sering digunakan dalam pembuatan aksesoris kendaraan atau pabrik. Kemasan dengan kode 7 sering digunakan sebagai bahan baku galon, botol saus, dan penutup gelas kopi.
Namun sayangnya Sob plastik jenis ini banyak digunakan untuk botol minum bayi yang sebenarnya tidak dianjurkan karena mempunyai kandungan zat seperti BPA (Bisphenol A) yang dapat mengganggu kerja hormon-hormon tubuh. Jadi Sob jika mencari botol minum pilihlah botol yang memiliki kode BPA Free ya!
Setelah Sobat mengetahui arti dari setiap kode pada kemasan plastik, sekarang giliran Sobat nih untuk lebih cermat dalam menggunakan plastik, kalau perlu lebih baik mengurangi penggunannya ya!
Dalam memperingati Hari Sampah Plastik Nasional 2024 yang jatuh pada tanggal 21 Februari, yuk Sobat kita mengambil peran dalam usaha mengurangi penggunaan sampah plastik.
Mulai dari hal simpel ya melakukan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri, yaitu 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle)!
Astuti AD, Wahyudi J, Ernawati A, Qorro S. 2020. Kajian pendirian usaha biji plastik di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Jurnal Litbang. 16(2):95-112.
Feature image : Sampah plastik di Pulau Tidung Besar (Elif Ivana Hendastari)
Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.
Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭
Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan.
Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.
Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob!
1. Genus Nycticebus (Kukang)
Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)
Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang! Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.
Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢
Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat!
Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.
Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas.
Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.
Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Genus Tarsius (Tarsius)
Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal).
Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil.
Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.
Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭
Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya.
Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman.
3. Genus Macaca (Makaka)
Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎
Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved | iNaturalist)
Macaca nigra (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)
Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.
Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi.
Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya.
Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit.
4. Genus Presbytis (Surili)
Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.
Presbytis percura (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas (Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger (Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)
Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani,Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis.
Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍
Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda.
P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat.
Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).
Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.
Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.
Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.
5. Genus Simias (Simakobu)
Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣
Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas.
Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut.
Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.
6. Genus Pongo (Orangutan)
Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭
Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!
(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Spesies
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orangutan sumatera(Pongo abelii)
Orangutan tapanuli(Pongo tapanuliensis)
Habitat
Hutan Kalimantan
Hutan Sumatra
Hutan Sumatra
Ciri Warna
Warna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.
Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga.
Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantan
Bantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.
Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan.
Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.
Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi.
Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍
Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!
Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8.
Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari
Terungkap, 6 Cara Simpel Menjalin Relasi Cinta dengan Alam Versi YIARI!
Selamat bulan Februari Sobat #KonservasYIARI! Banyak yang bilang bulan Februari adalah bulan penuh cinta. Tak heran ya karena pada tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia.
Ohiya Sob! 14 Februari juga merupakan hari lahir Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Di tahun 2024 ini merupakan ulang tahun ke-16 YIARI. Selamat ulang tahun YIARI!
Hubungan kasih sayang atau relasi cinta tidak hanya terbentuk antar sesama manusia ya Sob! Relasi cinta juga terbentuk antar manusia dengan lingkungannya (alam). Namun, sekarang ini relasi cinta manusia dengan alam semakin terputus.
Banyak faktor penyebabnya Sob! Seperti pembangunan yang menyebabkan hilangnya lahan bermain alam di wilayah urban. Namun sekarang ini sudah banyak dibangun hutan kota ya. Selain itu beberapa pemberitaan media yang menimbulkan persepsi bahwa bermain ke alam itu menyeramkan dan ekstrem 😣
Lantas bagaimana ya cara kita agar menjaga relasi cinta dengan alam tetap terjaga? Di hari ulang tahun ke-16 ini, YIARI ingin berbagi cara simpel yang dapat Sobat lakukan untuk menjalin relasi cinta Sobat dengan alam. Yuk kita simak!
1. Jalan Kaki Sehat
Suasana jalan kaki sehat YIARI (Rendi Afandi | YIARI)
Jalan kaki memiliki segudang manfaat Sob! Dikutip dari jurnal “Medicine and Science in Sports and Exercise”, berjalan dianggap sebagai “obat ajaib” oleh para dokter karena dapat membantu mengurangi risiko beberapa penyakit kronis 😯
Jalan kaki merupakan olahraga paling mudah, murah, tanpa biaya, dan minimal peralatan serta minimal risiko cedera. Selain itu, dengan berjalan kaki kita bisa melatih kepekaan kita dengan lingkungan sekitar.
YIARI telah mencoba melaksanakan agenda jalan kaki sehat dimana pesertanya adalah staff YIARI. Tidak muluk, YIARI memilih jalur terdekat dengan kantor sejauh 3,5 km di wilayah kaki Gunung Halimun Salak.
Jalan kaki memberikan segudang manfaat ya Sob! Tidak hanya kesehatan fisik yang terjaga namun mendekatkan diri kita dengan lingkungan sekitar. Sobat bisa melakukannya di rumah dengan memilih jalur ke hutan kota atau pun ke rumah sanak saudara!
2. Kerja Bakti Bersama
Suasana kerja bakti YIARI (Rendi Afandi | YIARI)
Sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar, namun lebih asik dan seru jika dilakukan dengan bersama-sama bukan?
Kerja bakti biasanya dijadwalkan dan dilakukan bersama-sama, tentu tujuannya untuk membersihkan lingkungan sekitar kita.
Kerja bakti secara langsung mendekatkan diri kita dengan lingkungan seperti mengambil sampah yang berserakan, mengecat gapura atau dinding, dan berkomunikasi dengan sesama manusia untuk bekerja sama membersihkan lingkungan.
Tentu Sobat, YIARI rutin melakukan kerja bakti di lingkungan kerja atau kantor. Mulai dari mengganti pot tanaman, mengecat dinding, dan membersihkan tumbuhan liar.
Selain itu, YIARI juga mengadakan kegiatan kerja bakti bersama teman-teman komunitas mulai dari wilayah pesisir hingga pegunungan loh! 😎
Kegiatan Bersih Pantai Tanjung Beladang, Kalimantan Barat (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Kegiatan Trash Hunter di Gunung Tanggamus, Lampung (Elif Ivana Hendastari)
Wah tidak hanya menjaga kebersihan, bonusnya kita bisa lebih dekat lagi ya dengan lingkungan kita👍Yuk Sobat agendakan dengan teman-teman sekitar rumah kalian untuk mengadakan kerja bakti!
3. Mengunjungi Lembaga Konservasi
Relasi cinta kita dengan alam dapat dibangun dengan mengunjungi lembaga konservasi terdekat dengan rumah kita yang bisa diakses untuk umum, seperti Kebun Binatang.
Kebun binatang yang terdapat di Jakarta adalah Kebun Binatang Ragunan. Tentu disana Sobat bisa banyak mengenal satwa Indonesia. Mulai dari mamalia hingga reptil 👏
Selain itu ada juga lembaga konservasi untuk tumbuh-tumbuhan seperti Kebun Raya Bogor, kurang lebih satu jam ya Sobat dari Jakarta.
Kebun raya bogor (Cep Budhi Darma | CC BY-SA 4.0 DEED | Wikimedia)
Pusat Rehabilitasi YIARI (Bobby Muhidin | YIARI)
YIARI sendiri juga merupakan lembaga konservasi, namun untuk kepentingan khusus. Jadi tidak terbuka untuk umum ya Sob!
YIARI merupakan pusat rehabilitasi satwa sama seperti rumah sakit, bedanya ini untuk satwa ya Sob! Jadi tidak bisa sembarang orang berkunjung 😬
Seru bukan bisa mengunjungi lembaga konservasi! Bukan saja ilmu yang didapatkan namun semakin kenal kita dengan alam semakin terjaga relasi cinta kita dengan alam! Tentunya semakin lestari alam kita!
4. Berkolaborasi dengan Komunitas Penggiat Alam
HPI Lampung (Tim Edukasi | YIARI)
Menjalin dan menumbuhkan rasa cinta dengan alam dapat dilakukan dengan cara berkolaborasi. Dengan berkolaborasi akan menambah pengetahuan kita lebih cepat seputar alam.
Sobat bisa ikut bergabung dengan komunitas penggiat alam seperti komunitas backpacker yang sudah banyak dan mudah ditemui. Selain itu, sekarang ini di daerah urban sedang marak komunitas lari 🏃
Ada juga komunitas berkebun dan mengolah sampah rumah tangga yang bisa teman-teman ikuti di media sosial.
YIARI tentu banyak melakukan kolaborasi di setiap kegiatannya untuk menyuarakan pesan konservasi. Tidak hanya komunitas penggiat alam, YIARI juga berkolaborasi dengan teman-teman di sekolah dasar hingga menengah atas.
Baru-baru ini dalam memperingati Hari Primata Indonesia (HPI) 2024, YIARI mengadakan kegiatan edukasi bersama teman-teman di Kecamatan Air Naningan, Lampung.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi YIARI untuk turut serta membangun relasi cinta generasi muda dengan alam. Mengenalkan berbagai jenis primata Indonesia! Seru sekali ya kegiatan edukasi seperti ini 👍
5. Berwisata Alam
Kemah ceria, Gunung Tanggamus, Lampung (Bobby Muhidin | YIARI)
Kemah konservasi, Hutan Lindung Batutegi, Lampung ( Denny Setiawan | YIARI)
Cara lainnya adalah dengan turun langsung atau berkunjung ke alam, berwisata alam. Banyak Sob lokasi wisata alam yang dekat dengan ibu kota! Seperti wilayah Jakarta Utara yang dekat dengan pesisir atau laut, Kepulauan Seribu, dan kawasan tracking Sentul.
Sobat bisa melakukan banyak kegiatan alam disana dengan fasilitas yang telah lengkap. YIARI juga melakukan kegiatan berwisata alam dengan mengundang berbagai komunitas.
Tahun 2023 lalu, YIARI mengadakan kegiatan Kemah Ceria di Gunung Tanggamus, Lampung dalam rangka memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia. Sebanyak 8 komunitas turut serta dalam kegiatan ini.
Tidak hanya keceriaan dan keseruan, YIARI juga mengadakan diskusi santai dengan berbagi cerita seputar sampah plastik dan keadaan tempat wisata di Indonesia yang belum memiliki sistem manajemen sampah yang baik.
Hal tersebut juga disebabkan banyaknya pengunjung yang tidak bertanggung jawab dengan membuang sampah sembarangan 😭
Ada juga nih Sob, Kemah Konservasi di Hutan Batutegi, Lampung. Kegiatan ini dihadiri oleh 14 komunitas. Kegiatan ini dilaksanakan dengan harapan dapat menjadi inisiasi pembentukan pemuda konservasi.
Saat berwisata alam ada tiga hal yang harus selalu Sobat ingat!
Jangan mengambil apapun selain gambar, jangan meninggalkan apapun selain jejak, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu 👍
6. Menanam Bibit Pohon
Kegiatan penanaman mangrove di Kalibaru (Muffidz Ma’sum | YIARI)
YIARI bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk membuat ecopolybag (Rudiansyah | YIARI)
Nah cara yang terakhir untuk menjalin relasi cinta dengan alam versi YIARI adalah dengan menanam bibit pohon.
Manfaat dari pohon sendiri tentunya untuk menjaga sirkulasi udara di sekitar kita. Dan manfaat dengan skala besar adalah menjaga agar tanah tetap kokoh dan tidak terjadi longsor.
YIARI juga sama nih Sob! Tentunya bersama teman-teman komunitas melakukan kegiatan penanaman bibit pohon. Kegiatan ini dilakukan di daerah pesisir dengan menanam mangrove hingga pegunungan.
Dalam kegiatan penanaman ini, YIARI telah mengganti plastic polybag dengan ecopolybag. Tentunya ecopolybag ini terbuat dari bahan organik yang ramah lingkungan dan sekaligus mengurangi penggunaan plastik juga ya Sob!
Sobat juga bisa melakukan kegiatan penanaman ini di halaman rumah masing-masing. Tenang Sob! Jika di rumah Sobat tidak memiliki halaman, Sobat bisa menggunakan pot ya!
Mudah bukan Sobat? Seperti kata pepatah ya Sob! Tak kenal maka tak sayang, yuk kenali dan lebih dekat dengan alam atau lingkungan sekitar rumah Sobat. Tidak hanya alam lestari, namun kesehatan kita juga akan terjaga!
Feature image : YIARI | Design by Elif Ivana Hendastari
Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!
Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯
Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita!
Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.
Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!
1. Kehebatan si Petani Hutan
Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob?
Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru.
Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi.
Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏
Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan.
Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh.
Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂
2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan
Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga.
Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)
Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.
Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba.
Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya.
Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎
3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba
Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯
Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)
Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.
Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁
Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.
Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.
Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
Romdhoni H, Komala R, Sigaud M, Nekaris KAI, Sedayu A. 2018. Studi pakan kukang jawa (Nycticebus javanicus Goeffroy, 1812) di Talun Desa Cipaganti, Garut, Jawa Barat. Journal of Biology. 11(1): 9-15.
Satwa endemik merupakan satwa yang hidup atau mendiami wilayah tertentu secara alami dan tidak ditemukan di wilayah lain. Keberadaan satwa endemik memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Namanya juga satwa endemik ya Sobat! Jika satwa ini punah, sudah pasti tidak ada lagi spesies yang bisa menggantikan perannya. Dan dipastikan ekosistem akan kehilangan keseimbangan.
Primata berperan membantu pepohonan di hutan dalam proses berkembang biak sebagai penebar bebijian dan juga pengatur pertumbuhan pepohonan di hutan.
Primata endemik dapat kita temui di berbagai hutan Indonesia, salah satunya hutan di Pulau Jawa. Namun sayangnya banyak masyarakat Indonesia bahkan di Pulau Jawa yang belum mengetahui keberadaan primata endemik tersebut.
Oleh sebab itu yuk kita kenali 3 primata endemik Pulau Jawa!
1. Owa Jawa
Owa jawa termasuk kedalam kelompok kera kecil yang mendiami hutan di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah.
Owa jawa memiliki rambut berwarna abu-abu dengan lengan yang lebih panjang dari ukuran tubuh dan kakinya. Owa jawa yang memiliki nama latin Hylobates moloch ini sangat menyukai aktivitas berayun di pohon (brankiasi).
Hylobates moloch (Rob Banks, all rights reserved / iNaturalist)
Hal unik lainnya owa jawa merupakan primata yang setia dan hidup berkelompok kecil. Owa jawa memiliki suara yang khas dimana salah satu fungsinya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Bahkan suaranya seperti penyanyi sopran lho! 😮
Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan owa jawa kini terancam punah (endangered). Hal ini disebabkan karena banyaknya yang menjadikan owa jawa sebagai peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Kukang Jawa
Kukang jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus ini merupakan primata nokturnal. Masyarakat mengganggap kukang sebagai primata yang lucu dan menggemaskan, padahal kukang memiliki bisa yang dapat menyebabkan demam dan pembengkakkan pada tubuh manusia.
Kukang jawa memiliki garis cokelat melintang pada punggungnya dan lingkaran cokelat berbentuk berlian di sekitar matanya. Kukang jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang sebarannya berada di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Nycticebus javanicus (Carlos N. G. Bocos, all rights reserved / iNaturalist)
Menurut IUCN kukang jawa memiliki status konservasi kritis di alam (criticallyendangered). Selain perdagangan dan pemeliharaan masih banyak mitos di masyarakat yang percaya dengan khasiat dengan memakan daging kukang bahkan minyak kukang. Padahal Sobat, belum ada penelitian yang membuktikan akan khasiat tersebut!
3. Lutung Jawa
Lutung jawa atau lebih dikenal dengan sebutan lutung budeng merupakan jenis lutung dengan rambut berwarna hitam pekat. Namun Sobat, bayi lutung jawa memiliki warna rambut kuning keemasan yang berangsur-angsur akan berubah menjadi hitam. Menurut IUCN, lutung jawa memiliki status konservasi rentan (vulnerable).
Satwa dari keluarga Cercopithecidae yang memiliki nama latin Trachypithecus auratus yang terpecah menjadi dua sub-spesies berdasarkan wilayah persebarannya, yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.
Trachypithecus auratus auratus adalah subspesies lutung yang hidup di daerah Jawa Timur, Bali, Lombok, P. Sempu, dan Nusa Barung.
Berbeda halnya dengan Trachypithecus auratus mauritius yang merupakan sub-spesies lutung jawa yang merupakan satwa endemik Pulau Jawa dalam jumlah yang cukup terbatas seperti di Jawa Barat dan Banten.
Trachypithecus auratus mauritius (m choi azis, all rights reserved / iNaturalist)
Ohiya Sobat! Lutung dianggap satwa yang menyeramkan dan menurut cerita rakyat dari Sunda, lutung merupakan kutukan dari perwujudan seorang pangeran. Yup benar sekali! Cerita rakyat ‘Lutung Kasarung’. Lutung kasarung digambarkan sebagai makhluk buruk rupa.
Sobat! Dari ketiga jenis primata endemik Pulau Jawa di atas semua memiliki status konservasi yang mengkhawatirkan. Sebagai masyarakat Indonesia kita harus turut serta dalam menjaga keberlangsungan habitat ataupun primata endemik tersebut.
Primata endemik memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem. Bayangkan Sobat jika primata endemik punah? Apakah Sobat bisa menggantikan perannya? Jangan sampai kelak generasi muda Indonesia hanya mengenal sebatas nama saja tanpa melihat langsung primata endemik tersebut hidup di alam liar.