Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Harapan Baru Ucil: Rela Berhenti Sekolah Demi Keluarga

Nama saya Perdi, biasa dipanggil Ucil. Saya berasal dari Dusun Beloyang Mentatai, tepatnya di kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Usia saya saat ini 15 tahun.

Sebagai anak pertama, saya rela tidak melanjutkan sekolah demi mencari uang. Ini saya lakukan agar bisa membantu keluarga, terutama menyekolahkan kedua adik saya. Jujur, saya tidak bisa berharap banyak dari kedua orangtua. Meski mereka juga bekerja, sekolah adik-adik saya tidak begitu diperhatikan.

Kadang, saya merasa sedih karena kami tidak punya apa-apa. Saya juga iri sama kawan-kawan yang dengan mudahnya meminta ke orangtuanya. Saya justru harus bekerja mati-matian, baru bisa mendapatkan apa yang saya mau.

Saya berhenti sekolah sejak kelas tiga SD. Iri sebenarnya melihat orang-orang yang punya gelar SMA atau sarjana. Sedangkan saya, menulis saja kesulitan. Saya pernah menangis sendiri, memikirkan kehidupan saya yang seperti ini.

Kegiatan Mini Pameran Kahiu Academy, Ucil pertama kali melakukan presentasi didepan umum terkait konservasi dan kerusakan hutan (Tim edukasi | YIARI)

Anak Sekecil itu Terpaksa Kerja Kayu

Sejak kecil, saya terpaksa ikut kerja kayu. Awal kerja kayu, saya bertugas membantu menyapu membersihkan serpihan. Upahnya hanya 25 ribu per hari. Dua tahun setelahnya saya belajar memikul kayu.

Karena saya masih kecil, saya diberi tugas memikul balok kayu ukuran 4 meter dan tebal 10 cm. Dalam sebulan saya rata-rata bisa memikul 100 batang. Jika produksi sedang ramai, bisa sampai 200 batang per bulan.

Penghasilan yang didapat dari pikul kayu dalam sebulan bisa mencapai 4 juta. Tapi bersih yang bisa saya bawa pulang hanya setengahnya saja karena biaya-biaya lain. Setiap balok yang saya pikul sebenarnya dihargai 80 ribu, tapi itu harus dibagi lagi dengan tukang potong.

Selama bekerja kayu, kaki kiri saya pernah sobek terkena kayu. Kalau saya ingat-ingat, bisa saja kaki saya patah waktu itu.

Kerja kayu memang memberikan penghasilan lumayan, itu juga kalau kuat badannya. Kalau sudah tua atau tenaga kurang, sudah pasti tidak banyak yang bisa diambil. Lama-lama, kerja kayu tidak bisa diandalkan. Belum lagi resiko kerjanya.

Kegiatan menanam padi di pulau rangkong saat praktek lapangan kelas pertanian di Kahiu Academy  (Tim edukasi | YIARI)

Kesempatan untuk Belajar

Tuhan sepertinya menunjukkan jalan buat saya. Tuhan memberikan saya kesempatan sekali lagi untuk belajar bersama Kahiu Academy. Di Kahiu, saya punya teman baru. Bahagia bisa tertawa dan bercanda bersama mereka. Di program ini, saya banyak belajar hal baru, menambah ilmu dan pengalaman.

Awalnya memang tidak mudah. Saya merasa malu. Hanya lulusan kelas 3 SD. Sikap dan perilaku saya labil dan mudah emosi. Saya senang bisa bercanda dengan teman-teman, tapi saya juga mudah tersinggung. Sikap ini kadang membuat suasana menjadi tidak nyaman bagi teman-teman.

 Atas bimbingan kak Dieka dan kakak-kakak di YIARI, saya banyak belajar untuk lebih terbuka. Belajar meminta maaf. Teman-teman juga banyak membantu. Mendukung saya belajar menulis. Membuat saya jadi lebih percaya diri.

Apa yang saya dapat di Kahiu tidaklah sia-sia. Saya bisa komputer. Belajar mengetik, meski lama karena jari-jarinya belum terbiasa. Saya belajar membuat presentasi. Saya juga belajar membuat rencana finansial. Belajar fotografi, juga belajar edit desain menggunakan Canva.

Di salah satu tugas tentang rencana masa depan, saya tuliskan di presentasi, mau buka usaha foto dan kafe, kelak. Tapi baru-baru ini, saya pikir untuk mencoba berkebun. Setelah mendapatkan pelatihan pertanian dari pak Eko, saya rasa ini bisa dilakukan sepulang nanti ke dusun. Kami punya tanah, sayang kalau tidak dimanfaatkan.

 Saya sudah coba hitung-hitung. Hasil panen dari bertani pasti selalu habis diambil oleh pasar di Serawai dan Menukung. Kalau ini bisa dijalankan dengan serius, pasti bisa jadi penghasilan tetap setiap bulannya.

Untuk jalankan usaha ini, saya juga bisa ajak kedua orangtua bantu kerja di kebun. Saya berharap, hasil yang didapat dari berkebun nantinya bisa membantu adik saya melanjutkan sekolahnya, lulus hingga SMA atau jadi sarjana. Atau, mewujudkan rencana masa depan saya, buka kafe.

Semoga ini menjadi jalan baik bagi saya dan keluarga.

Kegiatan Mini Pameran Kahiu Academy (Tim edukasi | YIARI)

Tentang Kahiu Academy

Kahiu Academy merupakan program pembinaan dan peningkatan keterampilan yang dikhususkan bagi remaja. Program ini menyasar remaja putus sekolah atau lulusan setingkat SMA, yang masih memiliki motivasi untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Saat ini, Kahiu Academy telah terlaksana hingga batch kedua, dengan jumlah keterlibatan sebanyak 35 peserta.

Peserta Kahiu Academy berasal dari berbagai desa mitra YIARI di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kegiatan berlangsung selama empat bulan, dengan beragam pelatihan dan keterampilan seperti komputer, bahasa Inggris, penerapan pertanian, teknik las, mengemudi, dan lainnya. Selain itu, ada juga kelas-kelas yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta pengembangan sikap dan perilaku positif terhadap diri sendiri, juga bagi konservasi alam.

Selepas dari Kahiu, peserta diharapkan dapat lebih mandiri untuk mengembangkan potensi diri di dunia usaha, bekerja, melanjutkan pendidikan, ataupun bidang lainnya yang bisa diterapkan sesuai dengan minatnya.

Tim Edukasi YIARI Ajak Anak-Anak Berkreasi Mendaur Ulang Sampah Di Hari Peduli Sampah Nasional

Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), tim edukasi YIARI di Lampung dan Kalimantan Barat lagi kompakan nih bikin kegiatan sama adik-adik mengenai sampah. Kegiatan yang punya tajuk “Daur Ulang Sebelum Dibuang” ini juga merupakan ajang kreativitas buat adik-adik berkreasi dengan sampah.

Kebetulan banget, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada HPSN 2024 ini mengangkat tema utama yaitu “Atasi Sampah Plastik Dengan Cara Produktif”. Tema ini dipilih sebagai bentuk dukungan dan dorongan terhadap partisipasi masyarakat dalam upaya pengolahan sampah melalui usaha produktif.

Meski lokasi kegiatannya beda-beda, tentunya tim edukasi punya misi khusus untuk menyisipkan pesan lingkungan selama berkegiatan. Setidaknya dari pesan yang tipis-tipis tersebut, adik-adik bakal lebih aware sama isu sampah. Kelak, kepedulian mereka semakin menyala sama lingkungan.

Aksi Bersih Sampah di Sekolah

Di tanggal 22-23 Februari, tim edukasi Ketapang YIARI berkolaborasi dengan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dinas Perkim-LH) menginisiasi kegiatan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Kegiatan kolaborasi ini juga melibatkan kakak-kakak mahasiswa Politap Negeri Ketapang sebagai kakak pendamping.

Edukasi daur ulang sampah kepada siswa sekolah di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kalimantan Barat dibimbing oleh kakak-kakak dari Dinas Perkim-LH (Edukasi/Media | YIARI)

Menurut Kak Vio nih, selaku koordinator edukasi di Pematang Gadung. Adik-adik di sekolah masih terbiasa jajan dan membuang sampahnya sembarangan. Oleh karena itu, saat kegiatan berlangsung kak Vio menerapkan aturan khusus kepada siswa-siswa.

“Kita imbau adik-adik nih buat bawa bekal makan dan minum sendiri dari rumah, supaya mereka terbiasa mengurangi produksi sampah,” kata kak Vio menjelaskan aturan selama kegiatan berlangsung.

Di hari pertama, Dinas Perkim-LH memaparkan materi mengenai kreasi-kreasi daur ulang dari sampah plastik. Baru setelah itu, siswa diberi waktu untuk membuat kreasinya sendiri.

“Kita dorong siswa-siswa ini belajar mengolah sampahnya dengan kreativitas,” ucap Bang Yusuphan dari Dinas Perkim-LH selepas memberikan materi.

Bang Yusuphan berharap agar sampah plastik yang masih memiliki nilai guna tidak langsung dibuang begitu saja, tapi diolah kembali menjadi produk yang kreatif.

“Ga usah malu menggunakan barang daur ulang. Malu itu kalau buang sampah sembarangan,” kata kak Vio menimpali.

Pada hari kedua setelahnya, kegiatan dilanjutkan kembali dengan aksi bersih sampah di lingkungan sekitar sekolah. Tak disangka, ternyata sampah yang berhasil mereka kumpulkan mencapai 196 kg nih. Sebagai penutup kegiatan, adik-adik siswa SDN 23 Matan Hilir Selatan diajak melakukan penanaman pohon di halaman sekolahnya.

Bercerita tentang Miko si Mikroplastik

Lain halnya dengan tim edukasi Batutegi, Lampung yang melakukan kegiatan di 23 Februari 2024. Berkolaborasi dengan Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, kegiatan HPSN diisi terlebih dulu dengan mendengarkan cerita tentang perjalanan Miko si Mikroplastik.

“Kisah Miko ini merupakan buku karya dari kak Elif,” tutur Hinggrit yang merupakan tim edukasi Batutegi. Kak Elif yang dimaksud adalah relawan YIARI yang juga aktif di komunitas lingkungan ASA Konservasi. 

Pada cerita si Miko, adik-adik dikenalkan dengan sampah plastik yang berasal dari pecahan-pecahan plastik yang hancur. Pecahan plastik ini berukuran sangat kecil sekali hingga tak lagi nampak dilihat oleh mata.

Plastik yang tak dapat terurai, hanya berubah wujud menjadi serpihan mikro. Serpihan plastik ini ternyata tetap menjadi masalah baru bagi lingkungan sekitar. Tanpa kita sadari, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini bisa terjadi jika lingkungan yang tercemar mikroplastik termakan oleh hewan yang kemudian dikonsumsi oleh manusia.

Lambat laun, keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia dapat menyebabkan sakit dan penyakit. Ini lah pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga bisa membahayakan ekosistem alami.

“Melalui buku ini, adik-adik kita ajak mengenal jauh tentang sampah plastik yang tak kasat mata. Setidaknya mereka jadi tahu bahwa akibat membuang sampah sembarangan itu tidak hanya berakibat banjir saja. Ada hal lain yang justru tidak kita lihat dampak buruknya,” ucap kak Hinggrit menjelaskan.

Di akhir kegiatan, adik-adik kemudian diajak berkreasi mendaur ulang sisa sampah yang biasa ditemui sehari-hari. Baik itu sampah kering dari tumbuhan, juga sampah plastik bekas minuman.

Di Batutegi, adik-adik dari Taman Baca Jalosi Sanak Negeri membuat kerajinan gantungan kunci dari limbah organik (Edukasi/Media | YIARI)

Alumni Kahiu Academy Inisiatif Bersih Sampah di Desa

Tidak mau kalah, beberapa alumni Kahiu Academy batch 2 juga memiliki inisiatif serupa yang dilakukan di lingkungannya masing-masing. Sepulang dari Kahiu Academy, Ucil, Andika dan William yang berasal dari Desa Mawang Mentatai mengajak adik-adik SDN 26 Mentatai Beloyang kegiatan aksi bersih sampah di lingkungan sekolah.

“Saya senang bisa berbagi ke sekolah tempat saya belajar dulu,” kata Ucil yang dulu sempat menjadi siswa di SDN 26 Mentatai Beloyang. 

Ucil dan kawan-kawan senang bisa berbagi hal positif yang selama ini mereka dapatkan selama mengikuti Kahiu Academy. Selain mengajak kegiatan aksi bersih sampah, mereka bertiga juga mengajarkan materi tentang melindungi hutan dan satwa-satwa dari kerusakan.

Bergeser di desa sebelah, kegiatan serupa juga dilakukan oleh Aldi bersama tim edukasi Melawi di Desa Nusa Poring. Aldi mengajak adik-adik di dusunnya untuk melakukan aksi bersih sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Dari sampah yang terkumpul, mereka mengubahnya menjadi kreasi barang bekas.

Adik-adik dari Desa Nusa Poring di Kabupaten Melawi memamerkan hasil karya daur ulang mereka (Edukasi/Media | YIARI)

Jauh di seberang pulau, Sandi menginisiasi gerakan bersih pantai di Pulau Cempedak tempat ia tinggal. Komitmen ini sempat diutarakannya saat penutupan Kahiu Academy. Aksi bersih pantai ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap minggu bersama anak-anak sekitar.

“Sampah plastik bukan hanya bikin tak elok pemandangan, tapi juga merusak ekosistem,” kata Sandi.

Menurut Sandi, potensi alam Pulau Cempedak ini bisa rusak akibat sampah. Apalagi, Pulau Cempedak merupakan salah satu tempat konservasi mangrove dan Dugong. Sandi berharap, aksi kecilnya ini akan diikuti oleh masyarakat lainnya untuk bersama-sama merawat Pulau Cempedak.

Mulai dari Belajar Hal Baru hingga Mengenali Diri: Kisah Inspiratif Fira di Kahiu Academy

Saat pertama kali ditawari mengikuti Kahiu Academy, saya membutuhkan waktu untuk bisa menentukan jawaban. Jika saya bersedia mengikuti Kahiu, maka saya harus keluar dari zona nyaman dan pergi ke suatu tempat yang belum pernah saya singgahi.

Ditambah lagi, itu akan berlangsung dalam jangka waktu yang menurut saya lumayan lama. Bertemu dengan orang baru, tempat yang baru, dan juga suasana baru yang entah akan seperti apa.

Hingga pada akhirnya, saya memutuskan untuk ikut Kahiu Academy. Tidak ada salahnya untuk mencoba dan mempelajari hal baru. Pikir saya waktu itu.

Di hari pertama, saya berkenalan dengan teman-teman dari Melawi dan Batu Lapis. Kami yang berasal dari Ketapang baru datang ketika pembelajaran sudah dimulai. Hal ini membuat saya sedikit merasa segan karena seperti orang baru datang.

Padahal, saya termasuk anak yang mudah bergaul dan cepat beradaptasi. Namun ternyata cukup sulit untuk bisa berbaur, khususnya dengan peserta laki-laki. Dengan peserta perempuan, kami bisa menjalin pertemanan dengan mudah. Masih ada kecanggungan memang antara peserta laki-laki dan perempuan.

Kegiatan Fira saat Menjadi Peserta Kahiu Academy, Salah Satunya yaitu Kelas Pertanian dengan pak Eko yang Membahas Hubungan Timbal balik Kehidupan (Tim Edukasi Kahiu Academy | YIARI)

Belajar keterampilan dan hal-hal baru

Di Kahiu Academy, ada banyak kelas yang harus kami ikuti. Kelas-kelas ini terasa menyenangkan karena ada banyak hal baru yang saya pelajari. Terutama di kelas self assesment. Buat saya, ini membuat saya lebih mengenal diri saya lebih jauh lagi.

Saya belajar untuk bertanya dan jujur kepada diri saya sendiri. Apa yang saya sukai, dan apakah saya mau menjalaninya. Tanpa saya sadari, saya semakin menantikan kelas-kelas berikutnya yang akan diberikan.

Kami juga diajarkan komputer. Di kelas ini kami dibedakan berdasarkan tingkatan. Ada yang basic dan middle. Pembagian kelas ini cukup efektif, karena secara basic saya sempat mempelajari selama di sekolah. Sehingga materi yang diberikan seperti melanjutkan apa yang sudah dipelajari di sekolah.

Sayangnya, hal serupa tidak berlaku di kelas bahasa Inggris. Bersama teman-teman yang lain, kami belajar dari basic. Memang, tidak semua peserta Kahiu ini memiliki jenjang pendidikan yang sama. Pengetahuan dasar setiap peserta jelas berbeda-beda. Meski begitu, setiap kelas tetap menyenangkan untuk saya ikuti.

Tidak semua peserta memiliki minat yang antusias di setiap kelas yang diberikan. Jujur saja, peserta yang kurang berminat pada suatu materi akan cenderung bermain-main atau tidak serius. Terkadang, saya khawatir kalau hal ini bisa mempengaruhi semangat peserta yang lainnya saat mereka benar-benar ingin belajar dan mempraktekannya kelak di rumah masing-masing.

Perubahan sikap menjadi lebih baik

Selama di Kahiu Academy, kami tidak hanya belajar soal keterampilan saja. Kami juga diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan konservasi. Seperti tidak memelihara satwa liar di rumah.

Sebelumnya ini saya anggap ini adalah hal yang sepele. Tapi setelah memahaminya, saya akhirnya sadar kalau hal tersebut berdampak besar bagi kehidupan kita sendiri. Seperti menularkan penyakit, atau justru sebaliknya.

Saya juga baru tahu mengenai kesejahteraan satwa, terutama bagi hewan peliharaan. Selama ini saya hanya mengira bahwa hewan peliharaan itu cukup diberi makan dan minum saja. Ternyata ada hal-hal lain yang akhirnya saya baru tahu dan sadari. Hewan peliharaan juga harus terpenuhi kesehatan dan mengekspresikan perilakunya.

Selain itu juga ada pembelajaran tentang Sex Education. Selama di sekolah, kata ini sangat tabu untuk didengar. Padahal, ini seharusnya menjadi pembelajaran penting yang wajib diajarkan di sekolah. Bahkan, orangtua juga memiliki peran penting dalam memberikan pengertian tentang pergaulan dan memilih pertemanan.

Di usia seperti saya dan teman-teman, kami sangat rentan terjerumus pada kenakalan remaja. Kami masih sangat labil dan mencoba mencari jati diri. Pentingnya Sex Education ini mengajarkan kami akan sebab akibat agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.

Kahiu Academy benar-benar telah membuka mata saya. Ternyata, masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan jenjang sekolah yang diwajibkan pemerintah. Mereka putus sekolah, dan terpaksa bekerja kayu di hutan dan Taman Nasional. Mereka juga rata-rata usianya masih di bawah umur.

Minimnya akses kepada pendidikan dan informasi, menjadikan mereka tidak mengetahui akan dampak yang nantinya ditimbulkan. Sedangkan oknum yang mempekerjakan, justru meraup keuntungan yang begitu besar. Yang pada akhirnya, dampak kerugian besar ini akan dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Perubahan sikap juga menjadi sesuatu yang saya dan teman-teman rasakan selama mengikuti Kahiu. Saya ingat betul, di satu minggu pertama, ada teman kami yang tidak bisa mengontrol emosinya, pemarah, dan juga tidak percaya diri. Sekarang, saya melihat perubahan yang positif dari dirinya dan juga saya pribadi. Saya sangat senang, karena kami bisa menjadi lebih baik dan jauh lebih percaya diri.

Kini, saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk belajar di Kahiu Academy. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dan terapkan kelak ketika kembali pulang. Terima kasih banyak telah mendukung dan mendampingi kami. Memberikan fasilitas, waktu, tenaga dan tentunya biaya yang tidak sedikit. Semoga ini menjadi kebaikan bagi kita semua.

Fira dan Dokter Karmele Llano Sanchez saat Penutupan Acara Kahiu Academy (Tim Edukasi Kahiu Academy | YIARI)

Tentang Fira

Fira Mutia adalah salah seorang peserta Kahiu Academy YIARI batch 2 tahun 2023. Fira berasal dari Sungai Besar, Kabupaten Ketapang. Gadis berusia 24 tahun ini berencana melamar kerja di beberapa perusahaan selepas program Kahiu Academy. Fira yang hobi membaca memiliki ketertarikan untuk menulis, dan berharap bisa membuat sebuah novel kelak.

Memupuk Asa Remaja Putus Sekolah Bersama Kahiu Academy

Sambil terbata-bata, Ucil berbicara di depan kelas. Terlihat jelas raut wajahnya tegang saat mengenalkan dirinya sendiri. Namun tidak hanya dia, suasana serupa juga terlihat dari peserta lainnya yang mendapat giliran setelahnya.

Padahal, kelas saat itu hanya didampingi oleh Dieka, fasilitator yang juga menjabat sebagai Manager Program Edukasi di Melawi, Kalimantan Barat.

“Gapapa klo hari ini kalian deg-degan,” ujar Dieka menenangkan setelah semua peserta mengenalkan dirinya satu persatu.

“Mudah-mudahan, nanti kalian bakal terbiasa buat bicara di depan ya,” kata Dieka menyemangati.

Usai sesi perkenalan, kelas dibubarkan. Peserta dibolehkan untuk beraktivitas bebas. Asal dilakukan di sekitar Learning Centre-YIARI.

Beberapa peserta mulai asik bermain bola voli di lapangan. Sebagian lainnya, sibuk main gawai yang terkoneksi dengan internet. Sesuatu yang jarang mereka nikmati di daerahnya masing-masing.

Kahiu Academy

Perkenalan dari salah satu peserta Kahiu Academy 2 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Hingga empat bulan ke depan, 18 remaja yang terpilih akan mengikuti program Kahiu Academy, sebuah program yang digagas oleh YIARI sejak 2022. Program ini sendiri merupakan program pendidikan keterampilan bagi remaja putus sekolah hingga lulusan SMA.

Peserta yang dipilih berasal dari beragam desa yang menjadi progam pendampingan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat. Seperti Desa Nusa Poring, Desa Mawang Mentatai, Desa Batu Lapis, Desa Sungai Besar, Desa Pematang Gadung, Pulau Cempedak, Desa Tanjung Baik Budi, Desa Kuala Tolak dan Desa Sungai Besar.

Proses pemilihan peserta dilakukan melalui serangkaian tahapan selama tiga bulan lebih. Dimulai dari pengenalan program Kahiu kepada remaja-remaja setempat. Kemudian pengumpulan informasi terhadap kandidat calon peserta yang berminat.

Jika proses awal tersebut telah memenuhi penilaian dan kelayakan, maka syarat terakhir adalah dukungan dan izin orangtua. Hal ini untuk memastikan bahwa peserta akan mengikuti seluruh kegiatan Kahiu hingga selesai nantinya.

Kahiu Academy memang ditujukan untuk membantu anak-anak putus sekolah di desa-desa dampingan YIARI, khususnya yang berbatasan dengan hutan.

Seringkali, keterbatasan pendidikan ini menjadi alasan mereka untuk melakukan pekerjaan yang menghabiskan waktunya di dalam hutan. Seperti berburu, atau penebang kayu ilegal.

Sayangnya, terkadang hasil yang mereka dapatkan dan tak seberapa itu lebih cepat habis untuk hal-hal yang konsumtif dan nirfaedah.

Melalui program Kahiu Academy, para peserta akan diberikan beragam materi keterampilan. Mulai dari keterampilan komputer, pertanian organik, pengelasan, mengemudi, fotografi, hingga kelas literasi keuangan yang dapat membantu mereka dalam pengelolaan dana.

Selain keterampilan, tentunya ada juga materi-materi tambahan lainnya yang bertujuan mengenalkan peserta terhadap upaya-upaya konservasi. Hal-hal yang tentu saja merupakan bagian dari visi misi YIARI terhadap pelestarian satwa dan alam.

Di samping itu, pengembangan karakter yang positif pada setiap peserta juga menjadi harapan yang tumbuh selama program ini berlangsung.

Sambutan dari Argito Ranting selaku Direktur Program YIARI (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Motivasi untuk Belajar

“Saya ingin ikut Kahiu karena saya tertarik belajar pertanian,” ucap Deli saat proses wawancara.

Deli yang berasal Batu Lapis mengungkapkan alasannya ini karena melihat ibunya yang berladang dan menjual hasil sayurnya.

“Kalau saya punya ilmu tentang bertani, nanti bisa dipakai untuk bantu ibu di ladang,” terang Deli menjelaskan harapannya.

Lain halnya dengan Andika. Remaja yang putus sekolah saat kelas 2 SMP ini lebih tertarik belajar komputer. Saat ditanya motivasinya mengikuti Kahiu Academy, Andika hanya ingin mengubah nasib keluarganya.

“Bapak saya kerja kayu. Saya berhenti sekolah karena ingin bantu bapak. Dia sudah tua,” papar Andika menceritakan alasannya.

“Tapi saya tidak mau kerja kayu seperti bapak. Kalau saya sama seperti bapak, mungkin nanti anak saya juga nasibnya sama seperti saya,” kata Andika.

Kisah Ucil bisa jadi lebih menyentuh. Dia putus sekolah sejak kelas 3 SD. Pengalaman dirisak saat sekolah membuatnya enggan untuk lanjut sekolah. Baginya, sekolah itu tempat yang horor.

Di usia saat itu, Ucil bahkan sudah mulai ikut bekerja kayu, sempat pula menjadi kernet perahu. Bahkan hubungannya dengan orangtuanya pun tidaklah harmonis. Selama ia bekerja, penghasilan yang didapat selalu diminta untuk membantu melunasi hutang keluarga.

“Saya diusir dari rumah sama bapak,” Ucil menceritakan dirinya.

“Gara-gara saya minta bapak supaya berhenti minum-minum,” tambahnya.

Masa lalu Ucil yang kelam terlihat ketika sesi awal yaitu mengenali diri sendiri. Di sesi ini, Ucil kesulitan menuliskan hal-hal yang ia sukai. Meski begitu, Dieka tidak khawatir. Dia melihat motivasi Ucil untuk belajar setelahnya.

“Malam-malam dia WA, minta buku dan pulpen untuk menulis. Dia bilang mau belajar supaya bisa lebih mengenali diri,” kata Dieka menceritakan pengalamannya tentang Ucil.

Perkenalan dari salah satu peserta Kahiu Academy 2 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Memupuk Asa

Kebanyakan dari peserta memiliki latar belakang keluarga yang bekerja di hutan. Berburu dan kerja kayu seakan menjadi pilihan bagi yang tidak memiliki banyak pilihan dan keterampilan.

Beberapa keluarga lainnya ada juga yang sudah bertani. Sayangnya, sistem ladang berpindah masih menjadi pilihan utama. Yang mana proses ini seringkali dilakukan dengan cara membuka hutan dan pembakaran lahan.

Sejak awal pelibatan, peserta memahami bahwa tidak ada jaminan pekerjaan atau modal biaya yang akan diberikan oleh YIARI setelah program selesai.

Meski begitu, pendampingan akan tetap dilakukan oleh fasilitator untuk memantau perkembangan peserta.

Dengan peningkatan keterampilan yang diberikan di Kahiu Academy, tentu saja harapannya adalah membuka peluang kerja yang lebih luas bagi peserta, atau peluang lainnya yang bisa mereka kembangkan di desa masing-masing.

Setidaknya, peningkatan keterampilan ini menjadi modal penting agar tidak terus terjebak pada pekerjaan merambah hutan, yang suatu saat bisa saja tak mampu lagi mereka pikul.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Apa kabar Kukang: Refleksi 10 Tahun IAR Indonesia Menyelamatkan Kukang

Tidak mudah, itu adalah kata yang tepat untuk mereflesikan bagaimana upaya penyelamatan kukang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia selama satu dekade terakhir. Dinamika yang muncul begitu beragam dan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Sebagai pusat rehabilitasi kukang pertama di Indonesia, saat itu tidak banyak acuan dan literatur yang bisa digunakan untuk menangani perawatan kukang di pusat rehabilitasi. Namun karena itu pula, IAR Indonesia akhirnya bisa membuat sebuah standar prosedur komperehensif yang ideal untuk diterapkan oleh lembaga-lembaga lain di pusat penyelamatan satwa lainnya.

Sejak 2008, IAR Indonesia memfokuskan programnya untuk membantu merawat kukang yang menjadi korban perburuan, perdagangan dan pemeliharaan. Selama itu pula, lebih dari 3.500 individu kukang diselamatkan serta menjalani perawatan di pusat rehabilitasi yang berlokasi di Curug Nangka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Permasalahan yang kerap terjadi pada kukang di tahun-tahun pertama itu sangat tinggi. Di mana angka perdagangannya mencapai 7.000 individu per tahun. Fakta tersebut menjadi dasar bagi lembaga konservasi dunia (IUCN) mengkategorikan status kepunahan satwa untuk meratifikasi ulang status kukang (terutama kukang jawa) menjadi Kritis (Critically Endangered), yang berarti satu tingkat di bawah punah.

Hingga kini, status tersebut masih bertahan setelah lebih dari satu dekade berlalu.

Meski data mengenai angka perdagangan kukang telah mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir yaitu sekitar 2.000 individu per tahun, namun populasi di alam tetap masih dalam ancaman dan tanda tanya besar. Berapa lagi yang masih tersisa dan sampai kapan akan bertahan. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri karena masih minimnya penelitian di lapangan.

Penuh tantangan

Upaya yang dilakukan IAR Indonesia di awal dekade memang penuh dengan tantangan. Mulai dari fasilitas yang belum memadai, jumlah kukang yang masuk, hingga kondisi kesehatan satwa yang tak sepenuhnya baik.

Idealnya, fasilitas pusat rehabilitasi hanya mampu menampung 100 individu kukang. Kapasitas ini tak hanya dipengaruhi oleh area yang terbatas pada lahan seluas 1 hektar, akan tetapi juga dipengaruhi oleh SDM tenaga medis dan perawat satwa. Daya tampung yang ideal akan berdampak pada kesejahteraan satwa yang menjadi etika dasar dalam memperlakukan satwa.

Kasus penegakan hukum yang terjadi di tahun 2013 merupakan kasus terbesar dalam sejarah kejahatan perdagangan kukang. 238 individu kukang sumatera berhasil diselamatkan, lalu dititiprawat di pusat rehab IAR Indonesia.

Kehadiran ratusan kukang secara tiba-tiba tentu tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas yang ada. Meski begitu, IAR Indonesia tetap berusaha untuk memberikan perawatan kepada seluruh kukang, dengan kata lain, tim harus bekerja ekstra untuk itu semua.

Menyembuhkan yang sakit

Di setengah dekade pertama, 70% kukang yang diterima oleh IAR Indonesia berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Seperti, rusaknya gigi akibat dipotong paksa, malnutrisi, infeksi kulit, cacingan dan sederet kasus kesehatan lainnya. Tidak semua kukang dengan kondisi buruk tersebut bisa bertahan lama, beberapa di antaranya seakan mampir hanya untuk berpamitan, sebelum tindakan medis sempat diberikan.

Selain gigi yang dipotong oleh pedagang, tingginya angka kasus kesehatan kukang besar dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan. Pemberian pakan yang tidak sesuai, kebersihan kandang, hingga interaksi antara pemelihara dan satwa.

Di IAR Indonesia, proses menyembuhkan kukang harus melalui prosedur yang panjang. Semua itu dilakukan agar kukang bebas dari luka maupun penyakit yang mungkin diidap.

Untuk memastikan hal tersebut, selama dua minggu pertama di pusat rehab, kukang akan melalui proses karantina dan juga pemeriksaan. Mulai dari cek fisik, hingga cek laboratorium.

Satu individu kukang menjalani pengecekan fisik dan pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Dengan menggunakan mesin x-ray, pemeriksaan fisik kukang tidak hanya sekedar kasat mata. Kondisi tulang tulang yang bengkok menjadi catatan penting bahwa kukang peliharaan tumbuh dengan perlakuan dan nutrisi buruk. Belum lagi masalah baru yang akhir-akhir ini sering ditemukan, teror senapan angin.

Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut akan ditentukan apakah perlu dilakukan tindakan medis seperti operasi atau lolos menuju tahap berikutnya.

Pemeriksaan laboratorium juga tak kalah pentingnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya penyakit zoonosis yang berpotensi menular kepada manusia atau satwa lainnya. Dalam hal ini uji darah dan tubercolosis harus dilakukan karena kukang peliharaan rentan terpapar penyakit.

Proses pemeriksaan kesehatan di atas hanya bagian dari keseluruhan rangkaian perawatan, yang tentunya membutuhkan biaya besar dan tak sebanding dengan angka perdagangannya.

Menyiapkan pulang ke habitat

Tidak semua kukang memiliki kesempatan untuk bisa kembali ke habitatnya. Kondisi fisik yang cacat menjadi penilaian utama dalam penentuan ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kukang untuk bertahan hidup di alam liar nantinya.

Kukang-kukang tanpa gigi adalah salah satu kondisi yang rentan jika harus dilepasliarkan. Meski secara insting liar, mereka akan kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan predator, ataupun kukang liar di alam. Termasuk pula kemampuan mereka mencari pakan alami yang bersumber dari batang kayu keras.

Bukan itu saja, kukang yang terlalu lama dalam pemeliharaan menunjukkan perilaku abnormal yang sulit untuk dipulihkan. Perubahan perilaku satwa tersebut tentu akan menyulitkan jika ia harus dilepaskan kembali ke alam.

Mengembalikan insting liar satwa tentu tidak mudah. Perlu perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan untuk merangsang kembali insting mereka. Oleh karena itu, pengayaan selama perawatan sangat dibutuhkan agar naluri kukang terdorong ke sifat liarnya.

Aktivitas dan perilaku kukang selama di kandang perawatan perlu dipantau dengan metode ilmiah, sehingga hasil yang didapat menjadi sebuah evaluasi dalam penentuan kelayakan pelepasliaran.

Tak ada standar yang pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan kukang selama direhabilitasi. Ada yang cepat, ada juga yang lama. Semua itu kembali kepada kemampuan individu satwa.

Kini, ada 160 individu kukang yang menjadi bagian perawatan pusat rehab IAR Indonesia. 120 lebih di antaranya akan dirawat hingga akhir hayat. Sisanya menanti harapan terwujud untuk bisa pulang ke habitatnya dan kembali berperan bagi alam.