Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kenapa Orangutan Bisa Sehat Meski Terinfeksi Malaria? Ini Rahasianya!

Kita sering mikir kalau tubuh yang sehat itu berarti benar-benar “bersih” dari penyakit. Tidak ada virus, tidak ada bakteri, apalagi parasit.

Tapi ternyata, di alam liar, ceritanya bisa berbeda.

Pada orangutan di Kalimantan, malaria bukan selalu jadi musuh yang harus dihindari mati-matian. Justru, dalam banyak kasus, mereka bisa membawa parasit malaria di dalam tubuhnya… tanpa terlihat sakit sama sekali.

Hal yang lebih mengejutkan, orangutan yang terlalu lama “bebas” dari malaria justru bisa jadi lebih rentan saat terinfeksi lagi.

Temuan ini datang dari penelitian berjudul “Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus)” yang dipimpin oleh Sanchez dan tim peneliti lintas institusi, termasuk YIARI, Freie Universität Berlin, dan University of Oxford.

Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sesuatu yang kita anggap berbahaya malah bisa berperan penting untuk menjaga mereka tetap sehat?

Penelitian selama hampir enam tahun ini mencoba menjawabnya, dan hasilnya mungkin akan mengubah cara kita melihat penyakit di alam liar.

Tidak Semua Infeksi Berarti Sakit

Orangutan kalimantan dilepasliarkan di atas pohon hutan TNBBBR (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Kalau dengar kata malaria, kebanyakan dari kita langsung membayangkan demam tinggi, tubuh lemas, dan kondisi yang cukup serius.

Tapi pada orangutan, ceritanya tidak selalu seperti itu.

Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan banyak orangutan membawa parasit malaria Plasmodium pitheci di dalam darah mereka, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali. Mereka tetap aktif, makan normal, bahkan berperilaku seperti biasa.

Kondisi ini disebut sebagai infeksi tanpa gejala (asimtomatik).

Artinya, tubuh mereka tidak benar-benar “mengusir” parasit tersebut, tetapi justru hidup berdampingan tanpa menimbulkan gangguan yang berarti.

Di sini, ada perbedaan penting yang perlu dipahami:

  • Terinfeksi berarti ada parasit di dalam tubuh
  • Sakit berarti tubuh tidak mampu mengendalikan infeksi tersebut

Pada orangutan, dua hal ini tidak selalu berjalan bersamaan.

Dari sini, muncul satu pertanyaan menarik: kalau infeksi ringan saja sudah cukup untuk “melatih” tubuh, lalu apa yang terjadi pada orangutan yang jarang atau tidak pernah terpapar sama sekali?

Penelitian 6 Tahun yang Mengungkap Rahasianya

Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti tidak hanya mengamati beberapa kasus lalu menarik kesimpulan. Mereka mengikuti kondisi orangutan dalam jangka panjang, dari Januari 2017 sampai Desember 2022, di pusat rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat.

Selama periode itu, tim peneliti mengumpulkan total 2.140 sampel darah dari 135 orangutan, dengan rata-rata lama pengamatan sekitar 4,3 tahun per individu. Dari jumlah itu, 1.351 sampel dari 132 orangutan digunakan untuk menganalisis pola infeksi tanpa gejala menurut kelompok umur.

Sampel darah ini diperiksa dengan dua cara utama:

  • Mikroskop, untuk melihat langsung ada tidaknya parasit malaria di dalam darah
  • PCR, yaitu tes laboratorium yang mencari jejak materi genetik parasit, sehingga infeksi tetap bisa terdeteksi meski jumlah parasitnya sangat sedikit

Dengan pendekatan ini, peneliti tidak hanya bisa melihat siapa yang terinfeksi, tetapi juga membandingkan:

  • seberapa sering infeksi muncul
  • seberapa tinggi kepadatan parasit di darah
  • kelompok umur mana yang lebih rentan mengalami malaria klinis atau sakit parah

Jadi, penelitian ini bukan sekadar mencatat “ada malaria atau tidak”, tetapi benar-benar mencoba membaca pola hubungan antara usia, riwayat paparan, dan risiko sakit pada orangutan.

Orangutan Muda Lebih Sering Terinfeksi, Tapi Justru Lebih Tangguh

Dari hasil pengamatan selama bertahun-tahun, peneliti menemukan pola yang cukup mengejutkan.

Kalau biasanya kita mengira yang sering terinfeksi pasti lebih rentan, pada orangutan justru tidak demikian.

Polanya seperti ini:

Kelompok UsiaInfeksi Tanpa GejalaKepadatan ParasitRisiko Sakit Parah
Infant (bayi)34,7%Tertinggi0 kasus
Juvenile (anak)Tertinggi (45,9%)TinggiRendah
Sub-adult26,5%TerendahSedang
Adult (dewasa)23,1%Lebih rendahTertinggi

Dari tabel ini, terlihat satu pola yang cukup kontras:

  • Orangutan muda lebih sering terinfeksi, bahkan dengan jumlah parasit yang tinggi
  • Orangutan dewasa lebih jarang terinfeksi, tetapi lebih sering mengalami kondisi serius

Artinya, frekuensi infeksi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keparahan penyakit.

Menariknya lagi, pada kelompok bayi bahkan tidak ditemukan kasus malaria klinis selama periode penelitian. Padahal, mereka tetap bisa membawa parasit dalam jumlah cukup tinggi di dalam darahnya.

Temuan ini memberi petunjuk bahwa sejak usia dini, tubuh orangutan kemungkinan sudah mulai beradaptasi terhadap keberadaan parasit malaria. Bukan dengan menghilangkannya sepenuhnya, tetapi dengan mengendalikannya agar tidak berkembang menjadi penyakit yang serius.

Sebaliknya, pada orangutan yang lebih tua, paparan yang lebih jarang justru bisa membuat tubuh mereka kurang siap ketika infeksi benar-benar terjadi.

Ternyata Sistem Imun Butuh “Latihan”

Dari seluruh hasil penelitian, ada satu pola yang paling menonjol: sistem imun orangutan tidak bersifat tetap, ia perlu terus “dilatih”.

Peneliti melihat kondisi kesehatan orangutan sangat dipengaruhi oleh riwayat paparan mereka terhadap malaria, terutama dalam satu tahun terakhir.

Secara sederhana, polanya seperti ini:

  • Orangutan yang sering terpapar malaria tanpa gejala cenderung punya risiko sakit parah yang lebih rendah
  • Orangutan yang lama tidak terpapar cenderung mengalami penurunan perlindungan imun

Dengan kata lain, tubuh orangutan tampaknya tidak selalu menghilangkan parasit sepenuhnya, tetapi belajar mengendalikannya. Konsep ini sering disebut sebagai use it or lose it,” kalau tidak digunakan, kemampuan itu bisa perlahan hilang.

Bahaya yang Tidak Terduga: Saat Tubuh Terlalu “Bersih”

Peneliti menemukan bahwa orangutan yang tidak terpapar malaria selama sekitar satu tahun memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami sakit parah saat terinfeksi kembali.

  • Ada paparan dalam 12 bulan terakhir, sehingga infeksi cenderung tetap ringan
  • Tidak ada paparan selama 12 bulan, sehingga risiko sakit parah meningkat drastis

Dalam konteks ini, tubuh yang terlalu lama bebas dari parasit justru kehilangan kesiapan untuk menghadapi infeksi berikutnya. Ketika parasit kembali masuk, respons imun bisa menjadi kurang efektif, sehingga penyakit berkembang lebih serius.

Temuan ini juga menjelaskan kenapa sebagian kasus malaria klinis justru terjadi pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat infeksi dalam waktu lama.

Lalu, kalau kondisi ini terjadi pada orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi, apa dampaknya ketika mereka kembali ke alam liar?

Apa Artinya Ini untuk Konservasi Orangutan?

Orangutan bernama Mawa di atas pohon yang berada di Pusat Rehabilitasi YIARI  (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Di pusat rehabilitasi, kondisi lingkungan sering kali lebih terkontrol. Dalam beberapa kasus, orangutan bisa saja lebih jarang terpapar parasit dibandingkan saat mereka hidup di hutan alami.

Sekilas, ini terlihat seperti hal yang baik. Tapi dari hasil penelitian ini, justru muncul sisi lain yang perlu diperhatikan. Saat mereka kembali ke alam liar (di mana paparan nyamuk dan parasit jauh lebih tinggi), risiko sakit parah bisa meningkat.

Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan:

  • Paparan alami dalam tingkat tertentu bisa membantu menjaga sistem imun tetap aktif
  • Riwayat infeksi menjadi faktor penting sebelum orangutan dilepasliarkan

Selain itu, perubahan lingkungan seperti deforestasi dan fragmentasi hutan juga bisa ikut memengaruhi pola penyebaran malaria. Jika ekosistem berubah, interaksi antara orangutan, nyamuk, dan parasit juga ikut berubah, dan ini bisa berdampak pada kesehatan populasi mereka dalam jangka panjang.

Tidak Selalu Harus Bersih untuk Tetap Sehat

Penelitian ini memberi satu pelajaran sederhana, tapi cukup mengubah cara pandang kita.

Dalam kadar tertentu, keberadaan parasit justru membantu sistem imun mereka tetap “siap siaga”. Tanpa paparan itu, tubuh bisa kehilangan kemampuan untuk merespons saat infeksi benar-benar datang.

Di alam liar, kesehatan bukan tentang menghilangkan semua risiko, tetapi tentang menjaga keseimbangan.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa tubuh (baik manusia maupun satwa liar) sebenarnya terus belajar dari lingkungannya. Dan terkadang, hal-hal yang terlihat berbahaya justru punya peran penting dalam menjaga kita tetap bertahan.

Tautan Jurnal

Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus). Jurnal Parasitology. [Buka]

Featured image:Orangutan kalimantan bernama Giet di atas pohon yang berada pada Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)