Begadang Bersama Kukang: Pengalaman Magang Sharfina dan Marcella di YIARI Ciapus
Halo semuanya perkenalkan kami dari Kampus FIKKIA yang merupakan salah satu bagian dari kampus Universitas Airlangga, saat ini kami tengah melaksanakan program koasistensi satwa liar dan memutuskan untuk melakukan magang di Yayasan IAR Indonesia yang berfokus pada satwa liar yaitu kukang dan macaca yang berada di Bogor dimulai dari tanggal 21 juli – 9 Agustus 2025.
Sebelumnya perkenalkan nama kami adalah Sharfina Habibah Trisnawati dan Marcella Jessica Hartomoro. Selama kami magang di YIARI kami banyak sekali mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru terkait manajemen pengobatannya dan manajemen perkandangan.
Mengenal YIARI Ciapus dan Peran Rehabilitasi Kukang
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ciapus merupakan pusat rehabilitasi satwa liar yang berfokus pada pemulihan satwa agar dapat dilepasliarkan ke habitat aslinya. YIARI Ciapus menjadi tempat kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus hilleri) dan beberapa kukang kalimantan (Nycticebus borneanus) yang datang sebagai korban perdagangan atau serahan warga dirawat melalui pemeriksaan medis dan pelatihan perilaku alami.
Kukang yang sehat dan siap dilepas akan dikembalikan ke hutan dengan pemantauan ketat, sementara kukang yang cacat atau kehilangan gigi dirawat seumur hidup di kandang khusus yang menyerupai habitat alaminya. YIARI tidak hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menjaga kelestarian kukang di Indonesia.
Kukang: Primata Nokturnal yang Dilindungi
Kukang adalah primata yang aktif di malam hari, bergerak perlahan di antara dahan pohon sambil mencari pakan berupa buah, nektar, dan serangga. Primata kecil ini berperan penting dalam ekosistem sebagai penyebar biji dan pengendali serangga, namun populasinya terus menurun akibat perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat.
Pelaku perburuan liar sering melakukan pemotongan gigi pada kukang agar tidak mudah melukai saat diperdagangkan sehingga kukang mudah kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Hal tersebut yang menggerakan YIARI sebagai tempat pemulihan kesehatan dan perilaku alami kukang serta memastikan kukang-kukang dapat kembali menjalankan perannya di hutan sebagai bagian dari keseimbangan ekosistem.
Pada hari pertama pengenalan dan presentasi awal kami mendapatkan pengalaman dan teman baru dari Cornell University yang bernama Rikki dan Adora, namun kami hanya memiliki kesempatan saling mengenal selama 4 hari karena Rikki dan Adora akan melanjutkan magang di tempat lain. Selama 3 minggu kami magang di YIARI, kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa dalam bidang konservasi satwa liar terutama kukang seperti cek kesehatan satwa, perbedaan tiap spesies kukang, pemberian dan pemilihan pakan, observasi tingkah laku kukang, serta pemberian enrichment.

Belajar Manajemen Kesehatan Kukang

Selama magang kami diberikan kesempatan dan pengetahuan baru terkait kukang yang diberikan langsung oleh dokter hewan di YIARI yaitu drh. Imam, drh. Indri, drh. Cici, dan drh. Purbo. Kami mempelajari terkait manajemen kesehatan seperti pengobatan luka, pengecekan feses rutin, pemeriksaan geriatric, pemberian vitamin rutin, penimbangan dan pengukuran suhu serta pengecekan BCS yang berkaitan erat dengan tingkat kesehatan satwa dan potensi release satwa. Kami juga diberikan pengetahuan teoritis dalam penanganan satwa dengan adanya diskusi dan presentasi kasus secara intensif selama magang.

Belajar Manajemen Kandang dan Pemeliharaan Kukang
Pada pos kukang kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa karena dapat secara langsung memberikan dan menyiapkan pakan pada kukang, pemberian pakan enricment serta melakukan observasi perilaku kukang. Tantangan dalam pos kukang karena kukang merupakan hewan nokturnal kegiatan pemberian pakan sampai observasi perilaku kukang dilakukan pada malam hari. Memasuki area perkandangan kukangpun tidak boleh sembarang harus menggunakan sepatu boot, handscoon, dan masker sebagai tindakan biosekuriti.

YIARI Ciapus melakukan pemeriksaan fisik, X-Ray dan uji lab darah untuk menegakkan diagnosis dan pengambilan keputusan dalam pemberian pengobatan yang tepat. Kukang menjalani perawatan medis rutin berupa treatment luka, pemberian vitamin, obat cacing, hingga pemantauan berat badan. Pemeliharaan mengutamakan insting alami kukang dengan pemberian pakan alami melalui enrichment dan penempatan di kandang yang menyerupai hutan. Enrichment merupakan program pengayaan dengan komponen alam untuk membantu kukang melatih kemampuan memanjat, mencari makan, serta mempertahankan perilaku nokturnal. Interaksi dengan manusia dibatasi dan perilaku dipantau secara rutin, sehingga kesehatan dan insting alaminya terjaga agar memiliki peluang adaptasi yang lebih baik.
Pengalaman Seru: Mengenal Teknik Tulup

Selain mendapatkan wawasan baru terkait kukang, kami mendapatkan pengalam seru dengan melakukan teknik tulup yang merupakan salah satu teknik yang biasanya digunakan pada satwa liar untuk pemberian pengobatan atau anastesi. Kami mempelajari tentang titik-titik tubuh yang baik saat dilakukannya teknik tulup.
Pelajaran Berharga dari Aktivitas Malam Bersama Kukang
Aktivitas malam yang melibatkan kami secara langsung dengan kukang menjadi pengalaman berharga sekaligus menantang. Kami tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami pentingnya menjaga insting alami satwa liar agar tetap terpelihara dan memiliki peluang adaptasi yang lebih baik ketika kembali ke habitatnya.
Pengalaman yang kami dapatkan tidak lepas dari peran penting para dokter hewan, keeper satwa, dan staf YIARI lainnya yang dengan sabar membimbing kami. Pengetahuan medis, keterampilan praktis, serta pengalaman lapangan yang dibagikan kepada kami sangat membantu dalam memperluas pemahaman kami tentang konservasi satwa liar.
Terimakasih kami ucapkan kepada dokter hewan, keeper satwa, serta staff YIARI lainnya yang telah membimbing kami, memberikan pengalaman dan wawasan terkait konservasi satwa liar serta menanamkan pada kami tentang pentingnya pelestarian satwa liar dan peran kita dalam menjaga keanekaragaman satwa di Indonesia.
Artikel ini ditulis oleh Sharfina Habibah Trisnawati dan Marcella Jessica Hartomoro, mahasiswi Kampus FIKKIA Universitas Airlangga.