Pusat Belajar Bahari: Upaya YIARI Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Pulau Cempedak
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan kesadaran lingkungan di Pulau Cempedak, Kalimantan Barat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) membangun sebuah fasilitas edukatif bernama Pusat Belajar Bahari.
Proyek ini tidak dilaksanakan secara mandiri, melainkan melibatkan kolaborasi aktif dengan masyarakat lokal, para pemangku kepentingan setempat, serta mahasiswa magang dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi (FIST).
Peresmian Pusat Belajar Bahari dilaksanakan pada 27 Februari 2025 dan dibuka secara hangat oleh Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez. Dalam momen simbolis tersebut, pembukaan ditandai dengan penyingkapan tirai pada spanduk bertuliskan “Pusat Belajar Bahari”, sebagai lambang dimulainya perjalanan edukatif di kawasan pesisir ini.
Seperti apa kisah di balik pembangunannya? Simak selengkapnya di bawah ini!
Kolaborasi YIARI dengan BPSPL Pontianak
Pembangunan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak. Kepala BPSPL Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menyambut positif inisiatif YIARI dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta pelestarian lingkungan di wilayah pesisir tersebut.
“Hari ini kita bersyukur menyaksikan dimulainya sebuah inisiatif yang luar biasa, yakni Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak,” ujar Syarif dalam sambutannya.
Ia juga menekankan kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara YIARI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BPSPL Pontianak. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi contoh nyata kerja sama lintas sektor dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir.
Tak lupa, Syarif menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan proyek ini. Ia menilai para pendukung Pusat Belajar Bahari adalah individu maupun kelompok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan kelestarian lingkungan hidup.
Acara Dihadiri oleh Lebih dari 100 Orang Warga
Siapa sangka, pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak mendapat sambutan yang begitu antusias dari masyarakat setempat. Antusiasme tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir, yakni lebih dari 100 orang, terdiri atas sekitar 70 orang dewasa dan 30 anak usia sekolah.
Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan masyarakat terhadap inisiatif pembangunan Pusat Belajar Bahari.
Lebih dari sekadar menjadi audiens, warga juga terlibat aktif dalam sesi interaktif bersama tim edukasi dari YIARI, menunjukkan ketertarikan dan harapan besar terhadap masa depan pendidikan di wilayah mereka.
Syarif menyebut acara tersebut sebagai momen yang sangat bermakna bagi warga Pulau Cempedak. Ia menyoroti tingginya semangat partisipasi yang ditunjukkan oleh masyarakat sejak awal hingga akhir acara.
“Mulai dari sesi sambutan, pembukaan spanduk sebagai simbol dimulainya kegiatan, hingga pengenalan Pusat Belajar kepada masyarakat—semuanya menjadi momen yang penuh makna,” ungkap Syarif.
Sesi Membaca Membuat Acara Lebih Berwarna
Kemeriahan acara pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak semakin terasa dengan hadirnya sesi membaca buku. Buku-buku yang dibacakan merupakan hasil donasi dari Lina Katarsasmita—seorang ibu, guru, dan life coach yang telah lama berkontribusi dalam berbagai program edukasi YIARI.
Selain itu, beberapa koleksi buku juga berasal dari mahasiswa magang UKDW dan FIST yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Sesi membaca ini disambut dengan antusias, terutama oleh anak-anak. Mereka terlihat begitu antusias mengikuti jalannya kegiatan, menjadikan momen ini sebagai salah satu sorotan utama dalam acara.
Seusai sesi membaca, tim edukasi YIARI melanjutkan dengan sesi storytelling, membawakan cerita-cerita yang tak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral dan edukatif tentang kehidupan dan lingkungan sekitar.
Sesi membaca ini disambut dengan antusias oleh warga, terutama anak-anak. Setelah sesi membaca selesai, tim edukasi YIARI juga mengadakan sesi story telling untuk membagikan cerita-cerita yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik, meningkatkan pemahaman tentang banyak aspek kehidupan dan alam sekitar.
Syarif menilai sesi interaktif seperti membaca dan bercerita tidak hanya memperkaya acara secara emosional, tetapi juga memperkuat nilai edukatif dari inisiatif Pusat Belajar Bahari.
“Kegiatan ini semakin berwarna dengan kehadiran tim edukasi YIARI, interaksi yang menyenangkan bersama anak-anak, serta pembacaan buku-buku donasi dari Ibu Lina,” ujar Syarif. Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi seperti inilah yang menjadi kunci keberhasilan sebuah program berbasis komunitas.
Pusat Belajar Bahari Jadi Ruang untuk Tumbuh Bersama
Kehadiran Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak diharapkan menjadi langkah nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan masyarakat pesisir. Melalui fasilitas ini, warga memiliki ruang untuk belajar bersama, memperluas wawasan, membangun jejaring sosial, dan tumbuh sebagai komunitas yang peduli terhadap lingkungan dan masa depan bersama.
“Harapannya, pusat pembelajaran bahari ini bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus belajar dan tumbuh bersama, serta semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut,” ujar Syarif.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Semoga ini menjadi langkah awal dari banyak hal baik yang akan datang,” tambahnya.
Melalui pengembangan ruang-ruang belajar yang inklusif, YIARI membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Di saat yang sama, kolaborasi menjadi fondasi utama dalam setiap program.
YIARI terus menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, untuk kesejahteraan generasi masa kini dan mendatang.
Featured image: Pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak (Muffidz Ma’sum | YIARI)