Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

9 Fakta Unik Ekidna (Echidna), Satwa Purba yang Masih Bertahan

Kalau kamu baru pertama kali melihat ekidna, mungkin kamu akan mengira satwa ini mirip landak.

Padahal, ekidna jauh lebih unik dari sekadar satwa berduri. Ia adalah mamalia purba yang masih bertahan hingga hari ini dan punya banyak “keunikan nyeleneh” yang jarang dimiliki mamalia lain. Mulai dari cara berkembang biak yang tidak biasa, kemampuan bertahan hidup di lingkungan ekstrem, sampai perannya dalam ekosistem, ekidna menyimpan cerita evolusi yang panjang dan menarik.

Penasaran apa yang membuat satwa ini berbeda dari mamalia lainnya?

Yuk, kenali ekidna lebih dekat di pembahasan berikutnya!

Mengenal Ekidna sebagai Satwa Monotremata

Ekidna bukan mamalia biasa. Satwa ini termasuk kelompok kecil mamalia yang masih mempertahankan ciri-ciri sangat kuno dalam sejarah evolusi. Untuk memahami kenapa ekidna begitu unik, kita perlu mengenal dulu kelompok tempatnya “bernaung”, yaitu monotremata.

Klasifikasi Ilmiah Monotremata

Monotremata adalah kelompok mamalia paling primitif yang masih hidup hingga sekarang. Berbeda dari mamalia pada umumnya, satwa dalam kelompok ini berkembang biak dengan cara bertelur, tetapi tetap menyusui anaknya setelah menetas.

Secara ilmiah, monotremata hanya terdiri dari dua kelompok besar, yaitu ekidna dan platipus. Keduanya memiliki kombinasi ciri yang tidak biasa, seperti:

  • Bertelur, tetapi menghasilkan susu untuk anaknya
  • Tidak memiliki puting susu, sehingga anak menjilat susu dari permukaan kulit induknya
  • Struktur tulang dan sistem metabolisme yang berbeda dari mamalia modern

Keunikan inilah yang membuat monotremata sering disebut sebagai “jembatan evolusi” antara reptil purba dan mamalia masa kini. Ekidna menjadi salah satu contoh nyata bagaimana satwa purba bisa bertahan di tengah perubahan lingkungan selama jutaan tahun.

Asal Nama dan Sejarah Evolusi Tachyglossidae

Nama “ekidna” berasal dari mitologi Yunani, merujuk pada makhluk setengah manusia dan setengah ular. Nama ini dipilih karena penampilan ekidna yang dianggap unik dan tidak lazim, terutama dengan tubuh berduri yang mencolok.

Dalam klasifikasi ilmiah, ekidna termasuk dalam famili Tachyglossidae, yang berarti “lidah cepat”.

Nama tersebut sangat menggambarkan cara hidup ekidna. Satwa ini mengandalkan lidah panjang dan lengket untuk menangkap mangsa kecil seperti semut dan rayap. Dari sisi evolusi, ekidna diperkirakan telah ada sejak puluhan juta tahun lalu dan mengalami perubahan yang sangat minimal dibandingkan mamalia lain.

Baca juga:

9 Fakta Unik Ekidna

Ekidna adalah mamalia yang memiliki banyak keunikan. Selain bertelur, hewan endemik Australia satu ini juga dikenal sebagai penggali andal. Adapun, berikut beberapa fakta unik tentang ekidna yang harus kamu ketahui.

1. Ekidna adalah Satwa Menyusui yang Bertelur (Tachyglossus aculeatus)

Salah satu fakta paling mengejutkan tentang ekidna adalah cara berkembang biaknya. Meski termasuk mamalia, ekidna tidak melahirkan, melainkan bertelur. Namun setelah telur menetas, anak ekidna tetap mendapatkan susu dari induknya.

Hal yang membuatnya semakin unik, ekidna tidak memiliki puting susu. Susu diproduksi melalui pori-pori khusus di kulit induk, lalu dijilat langsung oleh anaknya. Sistem ini tergolong sangat primitif dan jarang ditemukan pada mamalia modern.

Secara ringkas, proses reproduksi ekidna berlangsung sebagai berikut:

  • Induk betina bertelur dan menyimpan telur di dalam kantong perut sementara
  • Telur menetas setelah sekitar 10 hari
  • Anak ekidna menyusu tanpa puting hingga cukup kuat untuk hidup mandiri

2. Termasuk Mamalia Paling Purba yang Masih Hidup (Monotremata)

Ekidna termasuk kelompok mamalia monotremata, yaitu mamalia paling primitif yang masih bertahan hingga saat ini. Kelompok ini diperkirakan sudah ada sejak lebih dari 100 juta tahun lalu, jauh sebelum mamalia modern berkembang pesat.

Ciri-ciri purba yang masih dimiliki ekidna antara lain:

  • Struktur tulang yang lebih sederhana dibandingkan mamalia lain
  • Suhu tubuh relatif rendah dan tidak stabil
  • Metabolisme yang lambat

Karena karakteristik tersebut, ekidna sering dijuluki sebagai “fosil hidup”. Keberadaannya membantu ilmuwan memahami bagaimana mamalia awal berevolusi dan beradaptasi dari waktu ke waktu.

3. Duri Ekidna Bukan Sekadar Pelindung (Echidna spines)

Sekilas, duri ekidna memang mengingatkan pada landak. Namun, fungsi duri pada ekidna tidak hanya sebagai perlindungan pasif. Duri ini merupakan hasil adaptasi jangka panjang untuk menghadapi predator alami di habitatnya.

Saat merasa terancam, ekidna tidak lari. Sebaliknya, satwa ini akan:

  • Menggulung tubuhnya hingga hanya duri yang terlihat
  • Menggali tanah dengan cepat untuk menyembunyikan bagian tubuh yang lunak
  • Menyisakan duri di permukaan sebagai “peringatan” bagi predator

4. Ekidna Bisa “Merasa” Mangsa dengan Indra Listrik (Electroreception)

Seekor echidna sedang mencari minum di alam bebas. (pixabay.com/I_Love_Bull_Terriers)

Ekidna memiliki kemampuan langka yang disebut elektroresepsi, yaitu kemampuan mendeteksi sinyal listrik lemah yang dihasilkan oleh makhluk hidup lain. Indra ini membantu ekidna menemukan mangsa yang tersembunyi di dalam tanah atau di balik serasah hutan.

Elektroresepsi bekerja melalui reseptor khusus di moncong ekidna dan sangat berguna karena:

  • Mangsa seperti semut dan rayap sulit terlihat secara visual
  • Ekidna sering mencari makan di malam hari atau di area tertutup
  • Lingkungan tanah membuat penciuman saja tidak cukup

5. Ekidna Memiliki Lidah Panjang dan Lengket (Tachyglossidae)

Ekidna tidak memiliki gigi. Sebagai gantinya, satwa ini mengandalkan lidah yang panjang, ramping, dan sangat lengket untuk menangkap mangsa. Lidah ekidna dapat bergerak dengan cepat keluar-masuk moncong, sehingga efektif untuk menjangkau semut dan rayap di celah sempit.

Adaptasi ini membuat ekidna sangat efisien sebagai pemakan serangga tanah, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di habitatnya.

Beberapa adaptasi penting terkait cara makannya antara lain:

  • Lidah bisa menjulur jauh melebihi moncong
  • Air liur lengket membantu mangsa menempel
  • Rahang kuat berfungsi menghancurkan mangsa tanpa mengunyah

6. Metabolisme Ekidna Sangat Rendah (Metabolisme)

Dibandingkan mamalia lain, ekidna memiliki metabolisme yang jauh lebih rendah. Suhu tubuhnya relatif dingin dan dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan. Strategi ini memungkinkan ekidna bertahan di wilayah dengan ketersediaan makanan terbatas.

Namun, sisi lainnya adalah ekidna menjadi satwa yang bergerak lambat dan sangat bergantung pada kondisi habitat yang stabil.

Metabolisme rendah memberi beberapa keuntungan, seperti:

  • Menghemat energi saat makanan langka
  • Memungkinkan bertahan hidup di lingkungan ekstrem
  • Mengurangi kebutuhan makan dalam jangka panjang

7. Tidak Semua Ekidna Itu Sama (Zaglossus)

Banyak orang mengira ekidna hanya satu jenis. Padahal, saat ini terdapat beberapa spesies ekidna yang masih hidup, dengan ciri dan persebaran yang berbeda.

Perbedaan spesies ini terlihat dari ukuran tubuh, panjang moncong, serta habitat alaminya.

Spesies ekidna yang dikenal antara lain:

  • Tachyglossus aculeatus – ekidna moncong pendek
  • Zaglossus bruijnii – ekidna moncong panjang barat
  • Zaglossus bartoni – ekidna moncong panjang timur
  • Zaglossus attenboroughi – ekidna moncong panjang Sir David

8. Indonesia Menjadi Habitat Penting Ekidna (Papua)

Tak banyak yang menyadari bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam konservasi ekidna. Beberapa spesies ekidna moncong panjang diketahui hidup di wilayah Papua dan Papua Barat, terutama di kawasan hutan pegunungan.

Habitat ini penting karena:

  • Menyediakan makanan alami yang melimpah
  • Memiliki suhu dan kelembapan yang sesuai
  • Relatif minim gangguan dibandingkan wilayah lain

9. Ekidna Menghadapi Ancaman Serius di Alam Liar

Meski mampu bertahan selama jutaan tahun, ekidna kini menghadapi ancaman yang semakin besar akibat aktivitas manusia. Populasinya cenderung menurun, terutama pada spesies ekidna moncong panjang.

Ancaman utama terhadap ekidna meliputi:

  • Kerusakan dan fragmentasi habitat
  • Perburuan tradisional di beberapa wilayah
  • Perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan pangan

Baca juga:

Status Konservasi Ekidna

Ekidna moncong pendek yang sedang beraktivitas di alam bebas. (pixabay.com/pen_ash)

Status konservasi ekidna berbeda-beda, tergantung spesies dan wilayah persebarannya. Mengutip data dari San Diego Zoo Wildlife Alliance Animals & Plants, penilaian status ini merujuk pada klasifikasi resmi dari IUCN, lembaga internasional yang menilai tingkat ancaman kepunahan satwa di seluruh dunia.

Berikut gambaran status konservasi masing-masing spesies ekidna:

  • Tachyglossus aculeatus (ekidna moncong pendek): Diklasifikasikan sebagai Risiko Rendah (Least Concern). Spesies ini masih memiliki persebaran yang relatif luas dan populasi yang stabil dibandingkan ekidna moncong panjang. Meski demikian, perlindungan habitat tetap penting untuk mencegah penurunan populasi di masa depan.
  • Zaglossus attenboroughi (ekidna moncong panjang Sir David): Berstatus Kritis (Critically Endangered). Wilayah persebarannya sangat terbatas, kurang dari 20 kilometer persegi. Populasinya diperkirakan terus menurun, bahkan ada kekhawatiran bahwa spesies ini sudah punah di alam liar.
  • Zaglossus bruijnii (ekidna moncong panjang barat): Juga masuk kategori Kritis (Critically Endangered). Penurunan populasi terjadi akibat hilangnya habitat dan tekanan aktivitas manusia di wilayah sebarannya.
  • Zaglossus bartoni (ekidna moncong panjang timur): Dikategorikan sebagai Rentan (Vulnerable). Meski diperkirakan masih terdapat sekitar 10.000 individu dewasa, jumlah ini terus menurun, dan spesies ini telah punah di beberapa bagian wilayah asalnya.

Perbedaan status konservasi ini menunjukkan,meskipun sebagian ekidna masih relatif aman, spesies lain berada di ambang kepunahan. Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya perlindungan habitat, pemantauan populasi, serta peningkatan kesadaran publik untuk menjaga keberlangsungan ekidna di alam.

Menjaga Ekidna, Menjaga Jejak Evolusi Alam

Ekidna bukan sekadar satwa dengan penampilan unik. Satwa ini merupakan bagian penting dari sejarah evolusi mamalia di bumi. Cara hidupnya yang masih mempertahankan banyak ciri purba menjadikan ekidna bernilai tinggi, baik dari sisi ilmiah maupun ekologis.

Sayangnya, keberadaan ekidna (terutama spesies ekidna moncong panjang) kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Kerusakan habitat, tekanan aktivitas manusia, dan perubahan lingkungan membuat satwa yang telah bertahan jutaan tahun ini justru semakin rentan di masa kini.

Dengan melindungi habitat alami dan mendukung upaya konservasi, kita turut memastikan satwa purba seperti ekidna tetap dapat hidup dan menjalankan perannya di ekosistem, bukan hanya dikenal melalui buku atau catatan ilmiah di masa depan.

Referensi:

  • New South Wales (NSW) Governtment. Echidnas. [Buka]
  • Public Broadcasting Service (PBS). Echidna Fact Sheet. [Buka]
  • San Diego Zoo Wildlife Alliance Animals & Plants. Echidna. [Buka]
  • Zoo Victoria. Short-beaked Echidna. [Buka]
  • Department for Environment and Water. Everything you need to know about echidnas. [Buka]
  • Australian Wildlife Society. The Echidna. [Buka]
  • Britannica. Echidna. [Buka]
  • Featured image: Ekidna moncong pendek yang sedang beraktivitas di alam bebas. (pixabay.com/Serpae)