Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Tiga Ibu Keren Penggerak Kegiatan Konservasi

Buat kalian yang lagi perlu banget motivasi biar makin semangat ngejalanin hidup, perlu banget nih baca kisah tiga ibu keren dari Kalimantan Barat yang berhasil bikin masyarakat di desa tempat mereka tinggal, untuk ngejaga lingkungan dan bikin kegiatan-kegiatan pertanian lokal yang bisa nambah-nambah pendapatan keluarga. Ciamik kan?

Nah, kisah pertama ini datang dari Bu Nuraini yang biasa dipanggil Bu Siti oleh warga di desanya. Oya, beliau ini tinggal di Desa Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Nah di Pega (ini panggilan keren Pematang Gadung, friend), cukup banyak warga yang kerjanya nambang emas secara ilegal. Tapi Bu Siti nggak ikut-ikutan, dia berusaha mengarahkan keluarga, terutama anak-anaknya untuk mencari nafkah yang nggak merusak alam. Hasilnya keren banget nih friend, salah satu putranya, menjadi salah satu teknisi mesin di salah satu perusahaan besar di Ketapang.  So, nggak heran kalau Bu Siti dan keluarganya ini jadi panutan di desanya.

Ibu Siti, salah satu tokoh perempuan di Desa Pematang Gadung (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Jadi wajar banget kan kalau kemudian kami menunjuk beliau jadi Fasilitator Desa untuk Desa Pematang Gadung dan Desa Sungai Besar di program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Yayasan IAR Indonesia. Beliau menyambut baik dan senang banget dengan tugasnya ini. Sejak tahun lalu, Bu Siti aktif ngajak ibu-ibu di desanya untuk melakukan patroli pengawasan api di lahan-lahan yang rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar hutan yang ada di desa Pematang Gadung. Ada cerita keren nih friend, jadi pernah nih Bu Siti menegur seorang Babinsa yang bertugas di desa mereka karena tidak pernah ikut dalam kegiatan patroli dan penyuluhan ke warga setempat terkait karhutla. Teguran Bu Siti ini ampuh banget bikin petugas tadi akhirnya aktif bersama Bu Siti dan kelompok perempuannya untuk melakukan penyuluhan non-formal dan patroli secara rutin ke kawasan-kawasan yang rawan.

Selain Bu Siti, ada juga nih ibu keren lainnya, yaitu Bu Mai, sapaan akrab buat Bu Maimun. Beliau ini tinggal di Desa Sukamaju, di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Lahir pada 20 Oktober 1970, Bu Mai adalah orangtua tunggal yang berhasil membesarkan dua anaknya hingga lulus dari perguruan tinggi. Keren banget kan! Meski kebayang beratnya jadi orangtua tunggal, Bu Mai ternyata tetap bisa aktif untuk memperhatikan desanya. Beliau aktif menjadi motor penggerak berbagai program baik di level desa, maupun kecamatan. Terhitung sejak 1997 hingga sekarang, beliau sudah aktif menjadi kader posyandu balita dan lansia, di PKK Kecamatan Muara Pawan, ketua HWK (Himpunan Wanita Karya Kecamatan Muara Pawan) dan salah satu tokoh penggerak PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) tahun 2010 hingga 2014.

Lengkapnya profil Bu Mai di berbagai organisasi inilah yang jadi alasan kuat buat kami untuk menunjuk beliau sebagai fasilitator desa dan sosok yang bisa mewakili Yayasan IAR Indonesia  dalam menjalankan program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sukamaju. Dengan visi ingin melibatkan perempuan dalam upaya mencegah karhutla yang menjadi permasalahan utama di Desa Sukamaju, beliau mendorong kelompok tani perempuan bernama “Srikandi Berjaya”. Perempuan-perempuan ini aktif menerapkan dan memberikan contoh bagaimana bertani dengan cara tidak membakar lahan, kepada masyarakat sekitar. Saat ini, kelompok Karang Taruna juga ikut berpartisipasi dalam mencegah karhutla dan juga menjaga lahan gambut dengan pengolahan lahan yang menggunakan bahan-bahan organik.

Ibu Mai telah membangun masyarakat di Desa Sukamaju untuk lebih peduli terhadap lingkungan lewat aktivismenya di organisasi desa (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Kemudian ada satu lagi nih ibu keren yang telah kami libatkan jadi penggerak kegiatan konservasi di desanya, yaitu Bu Halimah yang berusia 43 tahun, tinggal di Dusun Sekujang, Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Beliau orangtua tunggal yang membesarkan tiga anaknya sendirian dan merawat ibunya yang sudah berusia 70 tahun. Untuk mencari nafkah, beliau berladang dan berjualan sayur. Berat banget sebenarnya beban hidup Bu Halimah, terutama karena tiga anaknya semua masih bersekolah. Yang terbesar masih duduk di kelas dua SMA, dan dua anak lainnya di bangku SD. Jadilah anak sulungnya ini sekolah sambil bekerja untuk membantu biaya sekolah, dan anak kedua Bu Halimah juga membantu bekerja menyadap karet kalau sedang libur sekolah.

Meski berat, tapi Bu Halimah masih tetap bisa menyediakan waktu untuk aktif di program tani yang kami adakan untuk membantu warga di Nusa Poring. Untuk itulah, rekan-rekan Bu Halimah menunjuk beliau jadi ketua kelompok tani Lacok Kerojo yang artinya rajin bekerja. Di kelompok ini, Bu Halimah ngajak warga di dusunnya untuk melakukan budidaya sayuran lokal di lahan demplot mereka masing-masing, mencari sayur di hutan, dan kemudian menjual sayur ke Serawai. Kegiatan ini tidak hanya mendorong pelestarian jenis tanaman-tanaman sayur lokal, tapi juga memberikan kesempatan bagi para perempuan untuk mandiri dan mampu mencari tambahan nafkah bagi kebutuhan keluarganya.

Bu Halimah aktif di program tani yang kami adakan untuk membantu warga di Nusa Poring (Rudiansyah | IAR Indonesia)

So, keren-keren kan tiga ibu ini? Dengan segala kondisi mereka yang tak mudah dan senyaman kita-kita yang hidup di perkotaan, mereka tak pantang menyerah. Malah menginspirasi dan mendorong warga di desanya untuk ikut terlibat menjaga dan melestarikan lingkungannya.

Yuk, Ngerayain Hari Migrasi Burung dengan Baca Dua Buku Ini

Sob, tahu nggak kalau setiap tanggal 14 Mei, seluruh dunia merayakan hari migrasi burung. Nah pasti di antara kalian ada yang penasaran nih, kenapa sih migrasi burung tuh perlu dirayain. Ternyata penting banget, Sob. Migrasi burung itu ngasih keuntungan ekosistem dan berkontribusi penting buat kualitas hidup dan ekonomi kita. Sebagian keuntungannya itu dari mengontrol hama, penyerbukan tanaman, sampai jadi indicator penting buat kesehatan planet bumi ini. Karena penting itulah, tiap tahun, selalu ada tema yang dirayakan saat peringatan migrasi burung ini. Tahun ini, temanya Polusi Cahaya. Jadi nih, sinar atau cahaya artifisial itu makin banyak bertambah secara global setidaknya dua persen setiap tahun dan hal ini berpengaruh ke burung-burung. Polusi cahaya ini jadi ancaman saat burung-burung bermigrasi, bikin mereka disorientasi waktu terbang di malam hari, bikin mereka nabrak gedung-gedung, ngganggu jam internal mereka, bahkan sampai mempengaruhi kemampuan mereka melakukan migrasi jarak jauh.

Gajahan timur (Numenius madagascariensis), salah satu burung yang bermigrasi ke Indonesia (Erik Sulidra | IAR Indonesia)

Peran penting migrasi burung ini juga kami pandang berharga nih. Dan ini salah satunya kami tandai dengan menerbitkan dua buku fotografi yang menampilkan migrasi dan kekayaan keanekaragaman burung yang ada di sejumlah wilayah Indonesia. Penasaran dengan dua buku ini? Yang pertama, buku berjudul “Another Life” karya Erik Sulidra yang diterbitkan pada 2019 yang memperlihatkan satwa-satwa terutama burung yang tinggal atau singgah di Ketapang, Kalimantan Barat. Kemudian satunya lagi, buku “Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batu Tegi Lampung: Menyingkap Keragaman Jenis Burung di Hutan Lindung Batu Tegi” yang diterbitkan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, UPTD KPH Batu Tegi dan bersama kami, Yayasan IAR Indonesia. Nah, buku ini ditulis oleh Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia, Robithotul Huda.

Buat yang penasaran dengan ide awal mulanya buku ini diterbitkan, sini kita simak cerita dari masing-masing penulis. Baik Erik dan Huda, ternyata sama-sama kepikiran bikin buku ini pada 2015, Sob. Kalau Huda, idenya muncul karena ingin merekam potensi biodiversitas satwa di Batu Tegi hasil monitoring teman-teman staf di lapangan. “Terutama jenis-jenis burung, karena memang belum ada yang membuat. Ditambah lagi dengan hobi saya dan teman-teman di bidang fotografi hidupan liar,” ujar Huda.

Peluncuran buku Burung Liar Kawasan Hutan Lindung Batutegi karya Huda bersama Dishut Provinsi Lampung (Denny Setiawan | IAR Indonesia)

Nah kalau Erik, pas 2015 lagi dikompori tuh sama temannya buat bikin buku karena ternyata dia sudah punya banyak foto-foto tentang satwa liar terutama burung, sejak dia mulai menekuni hobi fotografi pada 2011. “Setelah itu saya mencari beberapa referensi di buku yang khusus menceritakan biodiversitas di Tanah Kayong dan foto-fotonya, ternyata sangat minim. Saya jadi semakin tertantang dan bersemangat untuk membuat buku, hitung-hitung sebagai sumbangan karya dokumentasi satwa di Tanah Kayong,” kata Erik.

Proses penulisan kedua buku ini seru banget lho. Erik Sulidra, cerita nih kalau motret satwa liar itu memang nggak gampang. “Satwa liar itu instingnya kuat. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur strategi di lapangan. Dan tidak setiap saat ketika kita pergi berburu foto itu bisa mendapatkan gambar, apalagi yang bagus. Jadi kadang saya dan teman-teman harus merayap di lumpur untuk bisa mendekati burung. Waktu itu saya ingat benar waktu motret burung migrasi di tepian pantai. Untuk mendekati burung-burung yang bertengger di beting-beting lumpur. Itu burungnya lagi makan dan kami mikir gimana caranya mendekati dengan lensa yang terbatas panjangnya. Akhirnya kami merayap dengan posisi tengkurap kayak latihan militer lah, dan prosesnya bisa 2-3 jam itu. Merayap, udah pasti tuh bahu pegel, sama nahan kamera supaya tidak terkena air asin,” kata Erik.

Kebayang kan ribetnya? Nah kata Erik, ini baru burung di pantai. Belum lagi kalau burung di hutan. Erik sharing nih kalau motret burung di hutan itu tantangannya banyak ranting dan daun yang menghalangi pandangan. Apalagi kalau burungnya cepet pindah-pindahnya. “Belum lagi jenis-jenis burung yang suka bertengger di puncak kanopi hutan. Lebih sulit lagi nampaknya, hanya dapat suaranya, jadi kami harus cari angle yang pas untuk bisa lihat burung yang ada di puncak pohon,” lanjut Erik.

Dari semua jenis burung yang pernah difotonya, Erik paling kesulitan saat harus memotret Enggang Gading. Kata dia, selain karena susah sekali ketemunya, habitatnya pun di hutan-hutan primer yang kondisinya masih bagus. Kemudian juga jenis burung yang pergerakannya di lantai hutan. “Kayak jenis-jenis ruai, jenis-jenis paok, ayam hutan, biasanya mereka sangat sensitif terhadap gerakan langkah kaki kita. Jadi belum nyampe kita ketemu burungnya, mereka udah tau dan kabur duluan,” tutur Erik.

Tampaknya sulit banget ya Sob? Well, Erik ngasih tips nih. Dia bilang, teknik terbaik untuk memotret satwa liar itu, tentukan spot pemotretan yang pas dengan obyeknya, kemudian bikin tempat persembunyian di spot itu, dan sebisa mungkin berkamuflase biar satwa-satwa liar itu nggak tahu kalau mereka mau dipotret.

Erik dan tim mengarungi sungai untuk memotret burung (Petrus Kanisius | IAR Indonesia)

Kalau tantangan yang dihadapi Robithotul Huda hampir mirip. Tapi agak sedikit kompleks nih. Mulai dari proses pendataan, pendokumentasian, hingga menyusunnya menjadi tulisan yang padu. “Dalam proses pendataan misalnya, terdapat beberapa burung yang ternyata hilir mudik di sekitar kawasan Batutegi alias keluar-masuk kawasan, yang menyebabkan sulitnya menentukan burung apa saja yang pasti akan dimasukkan ke buku. Rangkong misalnya, dulu ia masih ditemukan di tahun 2009 berdasarkan pengamatan rekan-rekan Yayasan IAR Indonesia dan Ecopass, namun ketika saya dan tim melakukan monitoring saat ini, sudah tidak ada rangkong di daerah KPH Batutegi,” ujar Huda.

Dari segi pendokumentasian, Huda dan timnya cukup kesulitan ketika mengabadikan jenis burung yang pemalu seperti burung-burung semak dan territorial. Contohnya burung puyuh gonggong sumatra, salah satu burung endemik di Pulau Sumatra yang terkenal sulit untuk ditangkap kamera. Untuk penulisan, Huda menemukan tantangan dari segi penamaan spesies atau taksonomi burung liar di Batutegi. “Seperti yang kita ketahui, taksonomi burung itu sangat dinamis atau mudah berubah-ubah, sehingga cukup menyulitkan untuk mengklasifikasikan burung-burung yang sudah kami temukan dan dokumentasikan,” ujar Huda. “Untungnya, dalam pengelompokan ini, saya dibantu oleh seorang ornitologis yang sudah lama berkecimpung di dunia perburungan Indonesia yaitu James A. Eaton, penulis buku ‘Birds of the Indonesian Archipelago: Greater Sundas and Wallacea’,” tambah Huda.

Setelah kedua buku ini berhasil diterbitkan oleh Yayasan IAR Indonesia, kedua penulis ini punya harapan khusus nih, Sob. Erik berharap bukunya bisa tersebar luas biar orang-orang bisa lebih tahu keanekaragaman hayati di Tanah Kayong. “Syukur-syukur buku ini bisa jadi panduan lapangan bagi kawan-kawan lain yang sedang studi, atau melakukan pengamatan satwa di Tanah Kayong khususnya,” ujar Erik.

Sedangkan Huda, berharap buku ini bisa dibaca untuk para pelajar dan didistribusikan ke sekolah-sekolah. “Supaya murid-murid khususnya dan masyarakat tahu bahwa banyak burung-burung unik dan indah yang terdapat di sekitar mereka dan akhirnya mereka tergerak untuk melindungi burung-burung tersebut. Mengingat fungsi hutan lindung di daerah Batu Tegi mulai berubah karena lahan di daerah ini diolah oleh masyarakat menjadi berbagai macam peruntukan, perlu adanya pengingat bahwa masih ada keanekaragaman hayati di Batu Tegi yang perlu dijaga oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Huda.

Ria Utari/Heribertus Suciadi/Fattreza Ihsan

Our Wonder Women di Kehidupan Satwa

Nggak cuma Amazon yang punya Princess Diana, kami pun di Yayasan IAR Indonesia punya banyak Princess Diana a.k.a Wonder Woman yang selama ini berperan penting dalam merawat dan melatih satwa-satwa yang tengah dititipkan di pusat rehabilitasi kami di Bogor dan Ketapang, supaya di kemudian hari bisa kembali pulang ke habitatnya. Nah, mumpung kita abis merayakan Hari Kartini di 21 April lalu, kami mau ngenalin nih para wonder woman kami yang keren-keren.

Yang pertama tentu saja jajaran dokter hewan perempuan kami. Buat temen-temen yang ngikutin banget perjalanan kami, tentunya kenal dong ya dengan pendiri Yayasan IAR Indonesia, yaitu dokter Karmele Llano Sanchez. Dokter hewan kesayangan kami ini sibuk banget gaes. Maklum, selain mikirin kesehatan para satwa, sebagai direktur program, Dokter Karmele mesti ngerjain banyak hal, dari mikirin program and kegiatan yang bermanfaat buat masyarakat dan tentu saja lingkungan, sampai menjalin kerja sama dengan mitra-mitra pemerintahan maupun swasta. Kemudian ada satu lagi nih dokter hewan senior kami, yaitu drh. Wendi Prameswari, Animal Management Manager yang bertugas di Bogor. Dok Wendi ini gabung ke kami dari tahun 2011, gaes. Nah, waktu perayaan Hari Kartini, kami ngadain IG Live tuh bersama dua dokter hewan senior kami ini, di situ keduanya cerita banyak hal tentang suka duka, tantangan, dan kebahagiaan dalam menjalankan profesinya dan tentu saja sebagai perempuan yang ternyata ngasih banyak advantage dalam tugas mereka merawat satwa liar. Oiya, cuplikan ceritanya bisa dilihat di sini.

Selain kedua dokter senior ini, kami masih punya banyak wonder woman yang tugasnya berdekatan dengan satwa liar. Di Bogor, ada drh. Indri Saptorini dan di Ketapang ada drh. Siti Hajariah, drh. Inggil R Dewanti, drh. Fina Fadiah, dan drh. Andini. Nggak cuma dokter hewan yang tugasnya penting dalam merawat satwa liar. Ada juga babysitter dan paramedis yang kerjanya berat juga gaes. Di Ketapang, kami ada Ibu Siska Mislia, 45 tahun dan sudah bergabung dengan kami dari tahun 2014 sebagai perawat orangutan. Kemudian ada Kak Fitria Agustina, 28 tahun, yang bertugas sebagai paramedis. Kalau di Bogor, ada juga Teteh Julitasari yang menjadi perawat kukang terlama. Dia gabung dengan kami dari tahun 2018 dan sekarang sudah jadi koordinator pengelola satwa terutama khusus untuk kukang dan monyet.

drh. Indri sedang mengambil sampel darah dari monyet ekor panjang kandidat pelepasliaran (Reza Septian | IAR Indonesia)

Tugas-tugas para wonder woman ini nggak bisa dipandang enteng gaes. Nih ya, kami coba ceritain singkat-singkat aja, karena sebenarnya kalau mau diceritain semua, bakalan jadi novel. Pertama tugas perawat satwa nih atau sering disebut animal keeper atau babysitter untuk orangutan yang masih bayik-bayik. Teh Julitasari cerita nih, tugas dia waktu jadi keeper dan satu-satunya keeper perempuan nih, dari bersihin kandang sampai ngasih makan kukang dan monyet. Tugas ini hampir sama dengan Bu Siska. Dari ngasih makan dan minum orangutan, dia juga harus memantau aktivitas mereka dari pagi sampai sore. “Jadi babysitter tidak mudah. Saya harus membuat mereka punya sifat alami seperti di alam bebas. Namun terkadang ada orangutan yang selalu ingin dekat dan sulit untuk jauh dari saya. Sering kali saya harus menghindar dan terpaksa mengusir orangutan ini supaya menjauhi saya dan mau naik ke atas pohon,” cerita Bu Siska nih gaes.

Lain lagi dengan cerita paramedis. Kak Fitri cerita nih kalau dia tuh ngeri-ngeri sedap saat harus menangani orangutan yang agresif. “Mesti pintar-pintar menghindar sambil tetap melakukan tugas sebagai tim medis. Solusinya ketika harus mengambil darah, menimbang, atau memeriksa kesehatan orangutan yang agresif, biasanya didampingi rekan kerja lainnya,” ujar Kak Fitri. Tapi meski serem-serem gimana, Kak Fitri enjoy aja dengan pekerjaannya. Dia merasa banyak hal-hal baru yang didapatinya setelah bekerja, yang jauh beda dengan kuliahnya dulu.

Kak Fitri juga sedang membantu mengambil sampel darah dari orangutan (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Kalau drh. Andini, menarik nih pendapatnya soal tantangan kerjaannya gaes. Dokter usia 27 tahun ini justru menilai tantangannya itu ada di manusianya nih. “Memang bekerja dengan satwa liar yang dilindungi tidak bisa dibilang mudah, banyak kendala dalam menghadapai satwa liar, tetapi menurut saya tantangan terberat justru mengedukasi masyarakat bahwa satwa liar adalah hewan liar yang hakikatnya harus berada di alam dan merdeka di hutannya,” katanya. Bener banget nggak sih.

Soal medan pekerjaan yang harus nuntut dokter-dokter hewan perempuan ini masuk keluar hutan, ini memang jadi tantangan berat buat mereka. “Sering kali medan yang harus dilalui di lapangan cukup sulit, misalnya harus berjalan atau bahkan berlarian di tengah rawa gambut yang cukup dalam. Untuk berjalan saja sudah susah. Di sini perlunya kami memaksa diri untuk punya tenaga dan daya tahan yang ekstra,” kata drh. Fina Fadiah. Kebayang tuh, kalau nggak wonder woman, pasti udah pada nyerah tuh.

Orangutan juga perlu diperiksa kesehatannya, oleh karena itu drh. Fina membantu mengeceknya (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Dengan berbagai situasi dan kondisi menantang itulah, kami sendiri salut banget sama para wonder woman yang bertahan hingga sekarang seperti misalnya Teh Julita yang seorang ibu tunggal, dulunya bekerja sebagai penjaga mainan anak-anak di minimarket, kemudian sekarang ahlinya dalam mendata perilaku satwa. Perjalanan para perempuan hebat ini tentunya sangat menginspirasi apalagi saat mendengar para Kartini ini cerita bahwa kebahagiaan dan kebanggaan mereka saat merawat satwa liar itu ketika satwa-satwa ini bisa kembali ke alam liar.

Ria Utari/Heribertus Suciadi

Jalan Ninja Untuk Konservasi Satwa

So… siapa nih yang lagi kita omongin?

Robithotul Huda atau akrab disapa dengan Mas Huda. Dia ini salah satu manajer kompeten kami, gaes. Senior kami yang bergabung sejak 2011 ini udah melanglang buana mengepalai sejumlah kegiatan-kegiatan utama kami, dan saat ini memimpin program Resiliensi Habitat.

Waw, udah 1 dekade ya. Eh BTW kerjaannya Mas Huda ngapain aja ya? Belum cukup paham nih hehehe (laugh)

Hahaha, okee. Dijelasin yaa. Jadi, kerjaannya itu mengelola kegiatan-kegiatan yang sangat erat hubungannya dengan pelepasliaran dan pemantauan satwa, penjagaan habitat, pelibatan masyarakat untuk menjaga habitat, hingga penelitian. Bareng-bareng timnya, Mas Huda mempersiapkan lokasi pelepasliaran satwa, juga membantu pengembangan masyarakat dan edukasi konservasi di desa-desa wilayah konservasi.

Banyak juga ya kerjaannya. Jadi penasaran nih sama orangnya, boleh ketemu gak?

Boleh banget! Dipanggilin dulu ya

Halo Mas Huda, gimana kabarnya?

Halo..halo… sehat.

Mas Huda, penasaran nih sama awal mulanya berkarier di dunia konservasi itu bagaimana?

Awal mula ketertarikan saya di dunia konservasi itu dimulai dari masa kuliah saya. Saya dulu kuliah S1 di jurusan biologi Universitas Islam Malang. Pada awal masa kuliah, saya belum begitu tertarik dengan berkarier di konservasi. Saya cenderung fokus pada kegiatan ekstrakurikuler saya di bidang seni teater. Rupanya, justru dari kegiatan seni itulah ketertarikan saya terhadap isu konservasi mulai muncul. Saya mulai mencoba menggabungkan aktivitas kesenian saya dengan keahlian akademik saya di bidang biologi dan lingkungan. Contohnya dengan mengadakan kegiatan seni bertemakan lingkungan dan konservasi alam seperti membuat repertoar-repertoar bertemakan Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, penanaman, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan lainnya. Sejak itulah saya mulai berpikir, apakah sebaiknya saya turut berkecimpung di dunia praktis konservasi. Oleh sebab itu saya mulai mengembangkan diri saya di dunia konservasi dan begitulah awal mula saya berkarir di dunia konservasi.

Wah, menarik, Mas. Berarti setelah kuliah, Mas Huda langsung bekerja di lembaga konservasi?

Ya, awalnya saya bergabung dengan Profauna. Di Profauna saya jadi semakin tertarik lagi untuk berkecimpung di dunia konservasi. Sebab pengalaman di Profauna sangat luas, terutama mengenai advokasi isu konservasi dan penyelamatan satwa di pusat penyelamatan satwa (PPS). Setelah dari Profauna, saya juga sempat bergabung dengan beberapa yayasan dan organisasi lingkungan, PPS, dan organisasi pemberdayaan masyarakat, sebelum akhirnya bergabung ke IAR Indonesia pada tahun 2011.

Pengalaman apa aja nih Mas yang pernah didapat semenjak bergabung dengan IAR Indonesia?

Kalau di awal, dulu saya masuk sebagai perawat monyet ekor panjang macaca. Kemudian saya berkesempatan untuk bergabung dengan tim pelepasliaran. Saya kemudian diberi tanggung jawab lebih untuk mengembangkan tim pelepasliaran ini menjadi Divisi Survey-Release-Monitoring (SRM), yaitu divisi yang fokus pada pelepasliaran satwa liar yang direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia-Bogor.

Ooh, memang satwa apa saja yang pernah Mas Huda dan tim lepasliarkan?

Di antaranya yang pernah saya dan tim lepasliarkan itu ada mulai dari primata seperti orangutan, lutung, kukang, monyet ekor panjang, beruk, lalu burung-burungan seperti merak, julang dan rangkong-rangkongan, hingga reptil-reptil seperti kura-kura moncong babi.

Wow, banyak juga ya satwa yang pernah dilepasliarkan. Kira-kira selama berkarier di dunia konservasi ada pengalaman apa yang paling berkesan dan tidak pernah terlupakan?

Bagi orang yang bergerak di bidang perawatan dan rehabilitasi satwa itu momen yang paling berkesan itu adalah ketika satwa yang telah direhabilitasi berhasil dilepasliarkan. Itu adalah masa yang paling mengharukan bagi saya.

Ada juga pengalaman mengenai kegiatan pelepasliaran yang unik. Contohnya seperti ketika melepasliarkan beruk. Ternyata ketika dilepasliarkan di hutan, beruk tersebut tidak langsung beranjak masuk ke hutan, tetapi justru mengejar kami staf pelepasliaran dan berusaha untuk memeluk atau menggigit pakaian kami. Meskipun hal tersebut cukup membuat panik, namun hal tersebut secara otomatis menjadi hal yang bisa dikenang dan cukup seru.

Selain itu, adalah ketika waktu kegiatan kami juga sempat bertemu dengan salah satu pemburu atau orang yang melakukan aktivitas ilegal lain, saya pikir itu menjadi tantangan bagi kita karena ternyata setelah kita melakukan penyelamatan satwa liar, kampanye, dan penyuluhan terhadap masyarakat sekitar, ternyata masih ada saja yang melakukan beberapa aktivitas ilegal terhadap satwa liar dan habitatnya. Tetapi itu juga salah satu yang berkesan bagi kita karena itu yang menjadikan tantangan dalam pekerjaan ini.

Menarik banget cerita-ceritanya Mas! Mau tanya satu lagi nih, apa sih yang buat Mas Huda bisa bertahan di kerja konservasi selama hampir satu dekade ini?

Secara umum di konservasi harus berbasis hal-hal yang berkelanjutan. Aspek ekologi itu harus masuk di semua lini dan saya berusaha untuk memasukkan aspek ini dalam setiap usaha manusia. Contohnya pembangunan berkelanjutan, maka aspek ekologinya harus masuk dalam perencanaan pembangunan tersebut. Karena ada beberapa hal yang hanya bisa diberikan oleh alam, ada fungsi-fungsi yang tidak bisa digantikan oleh sistem manusia secara buatan. Misalnya aviari atau pengandangan burung, akan ada fungsi-fungsi alami yang tidak dapat dipenuhi oleh pengandangan burung. Burung memiliki fungsinya di alam yang apabila dipelihara di kandang maka burung tidak dapat menjalankan fungsinya sehingga alam kehilangan salah satu komponen pendukungnya.

Selain itu saya ingin membagikan pengalaman-pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan mengenai lingkungan hidup dan konservasi kepada orang-orang sekitar. Dimulai dari keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas. Harapannya setelah membagikan ilmu dan pengalaman mengenai lingkungan hidup, generasi-generasi selanjutnya dapat meneruskan semangat dalam bidang konservasi alam.

Wah, menginspirasi sekali. Semoga semangat dalam menjaga alam bisa selalu konsisten ya Mas! Terima kasih banyak, Mas Huda!

Aamiin, sama-sama!

Everything you need to know about Rohadi

Jadi siapa yang kita bicarain nih?

Rohadi.

Rohadi? Siapa tuh?

Oke, jadi kali ini kita mau kenalin kamu sama salah satu staf kita. Dia ini koordinator tim patrol, sensus satwa, sama survei fenologi di Hutan Desa Pematang Gadung.  Namanya Rohadi. Kalau sehari-hari sih panggilannya Ketus, katanya itu panggilan dia waktu kecil dari orang-orang di kampungnya. 

Kampung di mana tuh?

Kampungnya di desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Ooh, jadi dia kerja di kampungnya sendiri?

Yak betul. Asyik deh, soalnya kampung Bang Ketus letaknya di dekat hutan, namanya Hutan Desa Pematang Gadung. Luas hutan gede banget cuy, 7000 hektar. Kondisinya juga masih bagus, pohon-pohonnya rapet, dengan berbagai macam jenis, dan satwa-satwanya beragam juga, dari buaya ada, orangutan pun juga ada. Nah, ngelihat kekayaan alam inilah, Bang Ketus yang lahir 36 tahun lalu ini terpanggil untuk bekerja di Yayasan IAR Indonesia, supaya bisa ngejagain kekayaan alam di hutan desa ini gaes.

Got it. Terus kerjaannya Bang Ketus ini ngapain aja?

Banyaaak, lihat aja tuh, nama jabatannya aja panjang, koordinator patroli dan sensus satwa serta survei fenologi IAR Indonesia. Jadi salah satu tanggungjawabnya mengkoordinir tim patroli untuk mengamankan kawasan hutan desa dari pembalakan liar, pemburu, tambang ilegal, dan lain-lain, pokoknya banyak deh ancaman kelestarian hutan desa itu. Selain itu dia juga masih harus bertanggungjawab sama sensus satwa liar dan survei fenologi. Oh iya, total tim dia ada 15 orang.

Okayyy.. Terus kalau sensus satwa gimana tuh? Ngitungin satu-satu warga hutan kayak ngitung penduduk Indonesia?

Yaaa enggak gitu juga kali, kan nggak bisa juga kita ngetuk sarang pohon, keluar bapak burung terus kita nanya-nanya soal keluarganya. Nggak mungkin juga kan kita datengin sarang beruang atau buaya satu-satu. Bukannya kita disuguhi makanan, malah kita nanti yang jadi makannya. Kalau sensus satwa ini, dia sama timnya jalan-jalan di satu jalur yang udah ditentukan sebelumnya. Jalur-jalur ini ada banyak buat meng-cover luasnya hutan desa. Kita sebut jalurnya ini transek, masing-masing panjangnya empat kilo. Bang Ketus ini sama timnya udah harus di titik awal transek dari jam setengah 6 pagi, padahal jarak transek dari kamp tempat tim ini tinggal di tengah hutan ini ada yang jauh lho. Ada yang sampe 7,5 kilometer.

Whooaa, jauh juga yak. Jam berapa tuh Bang Ketus sama timnya berangkat dari kamp biar nggak telat?

Lumayan, kalau ditambah menyusuri transek bolak balik perjalanan pulang ke kamp, ya sehari itu mereka bisa jalan kaki lebih dari 20 kilometer. Dan kalau pas dapet lokasi transek yang jauh mereka udah harus bangun jam 2 pagi. Mulai jalan jam 3 pagi supaya gak telat.

Nggak ngantuk tuh? Pagi amat ya?

Ya pasti awalnya ngantuk, tapi namanya juga tanggungjawab. Kenapa harus pagi-pagi benar, karena jalan di Hutan Desa Pematang Gadung ini enggak gampang. Ini kan hutan gambut, jadi tanahnya itu sering digenangi air, terutama pas pasang. Pas lagi pasang tinggi airnya bisa sampai sepinggang lho. Dan lumpurnya juga lumayan tebal. Susah lah pokoknya perjalanannya. Diceritain aja capek, apalagi jalaninnya.

Terus… terus… kalau udah di transek ngapain aja?

Kalau udah di transek ya mereka nyusurin jalan itu pelan-pelan, perhatikan sekitar, nengok kanan kiri atas bawah, lihat-lihat kalau ada burung, atau reptil, atau orangutan, rusa, beruang, satwa apa aja lah. Semua itu dicatat lho. Nggak cuma kalau ketemu atau lihat hewannya aja, misalnya ketemu jejak rusa di tanah atau bekas cakar beruang di pohon, atau kotoran orangutan itu juga dicatat sebagai perjumpaan jejak.

Hmmm, mesti teliti yak. Kalau survei fenologi apaan lagi tuh?

Iya kudu teliti dan paham ama kondisi hutan dan mempelajari satwa dan jejak-jejaknya. Mana yang jejak rusa, mana yang jejak beruang, sampai jenis-jenis burung yang ada. Kalau survei fenologi lain lagi. Fenologi ini gampangnya survei pohon yang biasa dan bisa jadi pakan orangutan. Dan di sini, Rohadi dan timnya bertanggungjawab untuk memantau perkembangan pohon pakan orangutan setiap bulan. Ini dilakukan  biar tau kapan pohon ini mulai berbunga, kapan muncul buahnya, sampai kapan buah ini mateng. Pohonnya sudah ditentukan di awal sih, jadi Rohadi dan timnya tinggal mantau perkembangan pohon ini tiap akhir bulan. Jadi kalau mau tahu kapan pohon ini itu berbuah dan kapan nggak berbuah tinggal tanya ke Rohadi langsung.

I see… Banyak juga ya kerjaan dan tanggungjawabnya. Awalnya gimana sih Bang Ketus ini bisa kerja dengan IAR?

Jadi awalnya dulu tuh Rohadi kerja jadi petani. Dia punya ladang gitu. Nah tahun 2012, IAR Indonesia masuk ke Desa Pematang Gadung, bantu untuk mengelola Hutan Desanya itu. Dari awal Rohadi ini udah tertarik sama IAR karena dia suka dengan alam. Meskipun kebanyakan orang seusia dia waktu itu kerja di tambang, dia nggak mau sama sekali. Akhirnya tahun 2016, dia gabung ke IAR, awalnya staf biasa, tapi karena kerjanya bagus dan punya jiwa kepemimpinan, jadinya baru setahun kerja, dia udah dipercaya buat jadi koordinator.

Keren juga yaa… Motivasi dia sebenarnya apa sih?

Kalau ditanya ini, dia jawabnya simple aja sih, dia cuma pengen hutan dan lingkungan tempat kelahirannya selalu lestari, jadi anak cucunya nanti bisa juga lihat hutan dan satwa di dalamnya. Dia juga dari awal udah ngenalin anaknya ke hutan. Anaknya sering diajak ke kamp di dalam hutan. Katanya sih supaya dari kecil sudah sadar dan peduli buat lestarikan alam dan lingkungan.

Duh jadi pengen kayak Bang Ketus deh…

Bisa… bisa… mulai aja dengan sering-sering main ke hutan, trekking, dan tentu saja…cintai alam di sekitar kita.

Penghargaan untuk Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap

Riuh tepuk tangan pecah di ruang pertemuan Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang saat perwakilan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang, Adi Mulya memberikan penghargaan Petani Pemanfaatan Lahan Tanpa Bakar kepada Sujana. Pria parubaya ini merupakan petani asal Desa Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat yang konsisten menjaga lingkungan.

“Pemberian penghargaan yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Orangutan Internasional ini merupakan komitmen pemerintah daerah dalam upaya pelestarian lingkungan,” ucap Benyamin, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan IAR Indonesia.

Adi Mulya (kiri) saat memberikan penghargaan Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap kepada Sujana (kanan) di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang.
Adi Mulya (kiri) saat memberikan penghargaan Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap kepada Sujana (kanan) di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang. Rudiansyah/IAR Indonesia.

Dengan tema “Pahlawan untuk Langit Biru” yang diusung pada perayaan Hari Orangutan Internasional tahun ini, Benyamin mengungkapkan bahwa tema ini mengandung pesan kuat. Kebakaran hutan dan lahan selalu menjadi ancaman serius terhadap habitat orangutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Bahkan beberapa area pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia nyaris terbakar dalam kebakaran masif di sumatera dan kalimantan pada 2019 silam.

“Untuk itu, kami sangat menghargai para petani yang melakukan pemanfaatan lahan tanpa bakar. Sujana memperoleh penghargaan atas konsistensinya melakukan pemanfaatan lahan tanpa bakar sejak 1 dekade lalu,” tambahnya. Selain memberikan penghargaan, untuk mendukung pekerjaan Sujana, IAR Indonesia juga memberikan benih tanaman dan seperangkat alat pertanian.

Pemberian penghargaan ini dihadiri oleh Kapolsek Muara Pawan, perwakilan Camat Muara Pawan, Balai Penyuluh Pertanian Muara Pawan, staf Balai Taman Nasional Gunung Palung, Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Ketapang, perwakilan Danramil 1203-12 Matan Hilir Utara, Kadus Pematang Merbau, Ketua RT 07 dan RT 10.

Untuk melibatkan kaum perempuan dan anak-anak, IAR Indonesia juga mengadakan lomba foto kontes ibu anak dan lomba video dakwah konservasi secara daring untuk kaum perempuan.

Perempuan-perempuan tangguh dari desa penyanggah kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Perempuan-perempuan tangguh dari desa penyanggah kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Selain memberikan penghargaan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren dan mengadakan lomba secara daring, pada perayaan hari Orangutan Internasional ini IAR Indonesia juga melakukan kegiatan nonton bareng di beberapa tempat. Antara lain di Taman Baca Inovator di Desa Pematang Gadung, Sekolah adat Arus Kualan di Desa Balai Pinang, dan Pastoran Wisma Emaus di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi.

Film yang disajikan adalah film mengenai kebakaran hutan dan Lahan tahun 2019, serta dua film mengenai orangutan berjudul Kisahku dan Masa Depan Rumahku yang menceritakan kehidupan orangutan bernama Peni dan film dokumenter mengenai perjuangan dan perjalanan pelepasliaran orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya berjudul Into the Wild.

Kegiatan nonton bareng yang mayoritas diikuti oleh anak-anak usia sekolah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa hutan dan satwa yang dilindungi sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan agar di masa depan kita dan anak cucu bisa menikmati keindahan alam serta dapat melihat satwa yang sudah hampir punah.

“Melalui perayaan IOD 2020 ini kita semua tentunya berharap agar dapat terus berkomitmen dan konsisten dengan perlindungan orangutan melalui edukasi yang baik dan benar agar seluruh lapisan masyarakat terus berperan aktif dalam perlindungan orangutan dan habitatnya,” pungkas  Benyamin

Kala Hidup Jakaria Untuk Kesejahteraan Kukang

Sekilas rupa, dia tampak seperti orang kebanyakan. Perawakannya sedang, dengan wajah mudah tersenyum. Sosoknya juga kerap melempar gurauan di kala senggang. Dia adalah Jakaria (38). Sejak 2009 silam, Jakaria menjadi perawat satwa dan menangani kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung di bawah perawatan pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai seorang ahli, dedikasinya sebagai perawat kukang tak diragukan. Kemampuan yang kini ia miliki pun dimulainya dari nol.

Bagi dia, merawat kukang bukan sekadar pekerjaan biasa. Butuh nyali besar untuk memulainya. Karena konsekuensi nyata yang timbul dari pilihan itu, selain riskan tergigit kukang, bersiap tidak bisa menikmati jam tidur seperti orang pada umumnya akan menjadi rutinitas sehari-hari. Hal itu bukan tanpa dasar. Kukang merupakan primata nokturnal atau aktif di malam hari, yang menantang dirinya untuk bisa ikut menyesuaikan kehidupan kukang.

“Mulanya memang sulit untuk beradaptasi dengan jam tidur yang tidak biasa. Tapi demi misi memberikan kesejahteraan bagi kukang yang bernasib tak beruntung, apapun tantangannya perlahan dapat teratasi,” ungkapnya.

Berkat giatnya, Jakaria kini begitu piawai menangani kukang yang berada dalam masa pemulihan. Dari menyiapkan pakan, treatment kandang, mengamati perilaku hingga melakukan handling. Khusus handling, jika tak pandai, bukan tidak mungkin kukang dapat melukai tangannya dengan sekali gigitan.

“Saya sudah tidak mengingat persis berapa kali digigit kukang, tidak terhitung,” ujar dia seraya berusaha mengingat kembali momen pertamanya digigit kukang. Namun begitu, yang paling persis Jakaria iingat adalah saat efek gigitannya tidak hanya membuat tangannya terluka, tapi juga membuatnya sulit tertidur menahan nyeri.

Jakaria (kanan) saat membantu tim medis memeriksa kondisi kukang di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Selama sekitar satu dekade, pria kelahiran Bogor 38 tahun silam ini menjadi perawat kukang. Dalam kurun waktu itu juga dia banyak mengenyam pelajaran dan pengalaman penting yang membuatnya menjadi seperti saat ini. Dia bahkan mengaku, perasannya dengan kukang sudah begitu terikat. Sebagian besar dari sekitar 150 individu kukang yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi, mampu ia kenali. Dari bentuk fisik, perilaku, hingga karakter tertentu pada setiap indvidu.

“Terlebih jika kukang itu sudah lama tinggal dan berada di pusat rehabilitasi, saya tahu persis karakter dan keseharian mereka,” tambah dia. Kendati begitu, selamanya tinggal di pusat rehabilitasi bukanlah harapan dirinya terhadap kukang-kukang itu. Sebab sejatinya, kukang harus hidup di tempat yang sesungguhnya. Mereka memiliki hak yang sama dengan makhluk hidup yang lain. Seperti tempat tinggal yang aman di habitat, mendapatkan pakan alami, bebas berekspresi dan melangsungkan hidup generasinya tanpa ada gangguan.

Namun kenyataan selama ini berkata lain. Sampai saat ini masih ada kukang yang masuk ke sini dengan beragam kondisi. Ada yang cukup baik, tapi tak sedikit yang memprihatinkan karena menjadi korban pedagangan ilegal atau telah lama menjadi hewan peliharaan. Karenanya butuh waktu yang relatif panjang untuk merawat dan memulihkan mereka.

Untuk itu, dia bersama timnya berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan kesejahteraan kukang-kukang selama di bawah perawatan IAR Indonesia. “Meski tak seperti hutan, tempat tinggal mereka yang menyediakan beragam kebutuhannya, saya selalu menaruh harapan penuh agar mereka dapat menikmati kebebasannya kembali setelah selesai menjalani masa pemulihan. Upaya keras ini semata hanya untuk memberikan kesempatan kehidupan kedua bagi mereka,” pungkas dia.

IAR Indonesia Berduka Atas Wafatnya Reinhard Behrend, Pendiri Rainforest Rescue

Sahabat, kami berduka atas kepergian pendiri Rainforest Rescue, Reinhard Behrend. Tidak ada kalimat untuk mengungkapkan kesedihan yang kami rasakan saat ini. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga dan semua anggota Rainforest Rescue di masa sulit seperti ini.

Kami mengingat sosok Reinhard sebagai seorang pria yang hebat, baik hati dan merupakan pendukung besar pekerjaan kami selama bertahun-tahun. Reinhard membantu kami dalam memberikan kebebasan sejati bagi orangutan yang telah diselamatkan di rumah hutan hujan mereka. Tidak hanya itu, Reinhard juga mendukung peningkatkan mata pencaharian masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan, dan berjuang untuk melindungi hutan hujan kita beserta satwa di dalamnya.

Kami yakin, Reinhard akan sangat dirindukan oleh banyak orang. Ia akan dikenang sebagai sosok yang mengobarkan semangat kebaikan bagi lingkungan, yang berjuang tanpa lelah untuk melindungi lingkungan secara global dan hutan hujan kita. Kami akan terus berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Indonesia dan melindungi keanekaragaman hayati yang mereka lindungi atas namanya.

Bunga Citra Lestari, Mengejar Pendidikan di Kota Demi Meraih Cita-Cita

”Saya mau menjadi dokter. Saya ingin meringankan beban orangtua saya dan menggapai cita-cita saya,” ujar Bunga Citra Lestari dengan mantap ketika ditanya mengapa dia mau mengikuti program beasiswa Yayasan IAR Indonesia (YIARI). Menjadi dokter merupakan profesi yang didambanya sedari kecil. Gadis yang akrab disapa Bunga ini lahir di Dusun Nangai Dawai, 21 Juni, 16 tahun silam. Secara administratif, dusun ini masuk Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Sama seperti kampung yang masuk dalam wilayah Desa Mawang, kampung-kampung yang masuk dalam desa Nusa Poring juga terlibat secara langsung dengan program pelepasliaran orangutan yang dilakukan IAR Indonesia bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Anak anak dari kampung-kampung yang terlibat langsung dengan program tersebut mendapat tawaran untuk mengikuti program beasiswa, terutama anak-anak yang berprestasi tetapi tidak mampu secara finansial.

Secara finansial Bunga termasuk anak yang kurang beruntung. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang kurang mampu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, orang tuanya bergantung pada hasil ladang dan hasil hutan, terutama kayu. Karena itu, sejak kecil gadis yang mempunya hobi menyanyi dan memasak ini sudah dibiasakan dengan pekerjaan berat seperti membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah tangga dan bahkan tidak jarang dia pergi menoreh karet dan menjualnya untuk mendapatkan uang tambahan. Itu semua dia lakukan untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya.

Bagi anak-anak tidak mampu seperti Bunga, sekolah sangat penting untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Mereka sangat berharap bahwa dengan sekolah mereka dapat membawa perubahan bagi hidup mereka ke depan. Di sisi lain meraih Pendidikan yang lebih tinggi bukanlah perkara yang mudah. Tidak adanya sekolah menengah atas di kampung mereka menyebabkan sekolah terasa sangat mahal karena mereka tidak hanya harus membayar biaya sekolah, tetapi mereka juga harus menanggung biaya hidup di kota yang tidak murah.

Itulah sebabnya ketika mengetahui adanya program beasiswa dari YIARI, tanpa banyak tanya, anak kedua dari tiga bersaudara langsung mendaftarkan diri. Bagi Bunga, program beasiswa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin untuk membuka peluang yang lebih baik ke depan. Dia sangat berharap dengan mengikuti program ini terbuka peluang untuk bisa kuliah kedokteran.

Gadis yang kini belajar di SMU Santa Maria Nanga Pinoh ini rajin berangkat sekolah dan tidak pernah sekalipun alpa serta aktif di kelas. Bunga termasuk anak yang cerdas dan cepat dalam memahami pelajaran. Tidak hanya aktif di kelas, Bunga juga rajin mengikuti ekstrakurikuler pramuka dan futsal, bahkan gadis yang jago bela diri ini juga rajin mengikuti pertandingan karate di tingkat kabupaten.

Bunga tidak sendirian, bersama 16 temannya, mereka bersama-sama berjuang melanjutkan pendidikan di kota, jauh dengan keluarga mereka dengan sejuta harapan akan masa depan yang lebih cerah. “Bagi saya, pendidikan sangat penting, tidak peduli dengan dengan kemampuan saya yang terbatas, saya tidak akan menyerah,” ujar buah cinta dari pasangan Yohanes Nake dan Semi Wati ini. Dia sempat berpikir untuk mencari kerja untuk mengumpulkan uang jika setelah lulus SMP tidak ada biaya sekolah. “Adanya kesempatan beasiswa dari IAR ini membuat saya semakin termotivasi untuk menggapai impiannya sebagai dokter suatu hari nanti. Saya ingin membantu orang-orang di kampung saya yang masih kekurangan akses dan fasilitas kesehatan,” tutupnya.