Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Pulih dari Luka, Marisa Dipulangkan ke TANAGUPA

SIARAN PERS

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan pelepasan satu individu orangutan (Pongo pygmaeus) di Bukit Daun Sandar, RPTN II Sempurna, Taman Nasional Gunung Palung, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Kamis (14/11).

Orangutan berjenis kelamin betina berusia 6 tahun ini sebelumnya diselamatkan dari kasus konflik manusia – orangutan oleh tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Barat, Balai TANAGUPA dan YIARI di salah satu kebun milik warga di Desa Riam Berasap, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara pada 10 Juli 2024. Marisa diselamatkan setelah induknya ditemukan mati di kebun warga. Berdasarkan hasil nekropsi oleh tim medis YIARI, kematian induknya diduga disebabkan oleh infeksi akibat luka yang cukup dalam di punggungnya. Sementara itu, Marisa juga ditemukan dengan luka parah di kaki kanannya. Luka ini diduga disebabkan oleh senjata tajam.

Melihat kondisi Marisa yang terluka, BKSDA Kalbar memutuskan untuk menitiprawatkan anak orangutan ini ke Pusat Penyelamatan Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Setelah empat bulan menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis dan perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan YIARI, Marisa dinyatakan pulih dan siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya yang lebih aman.

Pemeriksaan Marisa sebelum dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Koordinator tim medis YIARI, Fina Fadiah, menegaskan luka Marisa sudah sembuh dan dia bisa segera dikembalikan ke habitatnya. “Saat ini luka di Marisa sudah sembuh dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kami yakin sudah saatnya Marisa dipulangkan ke habitatnya. Ketika diselamatkan, luka di kakinya cukup parah. Ada fraktur terbuka yang sudah terinfeksi dan bernanah. Luka pada bagian kaki kanannya juga cukup dalam sampai menembus ke otot dan tulang. Untungnya, berkat kerja keras semua tim, saat ini lukanya sudah pulih dan Marisa siap dipulangkan ke TANAGUPA,” terangnya. Dia juga menjelaskan pemulihan ini tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga dengan psikisnya. “Kami merawat Marisa dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa. Kami berupaya mengurangi stresnya dengan meminimalkan kontak langsung dengan Marisa,” tambah Fina.

Untuk mencegah konflik serupa terjadi lagi, orangutan ini dilepaskan di kawasan yang jauh dari pemukiman dan kebun masyarakat. TANAGUPA dipilih menjadi tempat pelepasan karena berdasarkan titik lokasi penyelamatannya, Marisa diperkirakan berasal dari wilayah sekitar perbatasan TANAGUPA. Selain itu, Resort Daung Sandar juga dinilai cukup bagus, karena berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Balai TANAGUPA dan YIARI, jumlah dan jenis pakan masih cukup tinggi. Status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan Marisa di masa depan. Lokasi ini dikelilingi sungai yang bisa menjadi barier alami untuk mencegah orangutan kembali ke kebun masyarakat.

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari pusat rehabilitasi orangutan YIARI, tim berhasil sampai di titik pelepasan. Marisa pun dilepaskan di dalam kawasan TANAGUPA. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan masyarakat yang turut serta membantu membawa orangutan ke dalam kawasan taman nasional.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, Non-profit Organization (NGO), dan masyarakat dalam upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Silverius menekankan pentingnya peran bersama dalam menjaga keberlanjutan ini. “Kami mengundang seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat, untuk menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi satwa liar, terutama orangutan dan habitatnya. Penemuan orangutan di area kebun warga ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat kerjasama, terutama dengan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan habitat orangutan. Jika masyarakat yang tinggal di perbatasan habitat orangutan dapat hidup harmonis berdampingan, orangutan dapat terjaga keberlanjutannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.”

“Hal ini selaras dengan visi YIARI untuk menciptakan dunia di mana manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat. Ini juga mendukung arahan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam sambutannya di upacara serah terima jabatan menteri Kehutanan yang menekankan agar kita semua memiliki spirit bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan alam,” tutupnya.

Kepala Balai TANAGUPA, Himawan Sasongko mengatakan “Pelepasliaran anak orangutan ini adalah bentuk harapan baru setelah kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia. Kami berkomitmen untuk memastikan ia dapat hidup mandiri di habitat alaminya. Dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menggantikan peran induk orangutan dengan menjamin pulihnya kesehatan fisik dan psikis serta perilaku di pusat rehabilitasi dan kemudian memberikan tempat hidup yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya, tapi yang perlu diingat adalah seberapapun hebat dan majunya pengetahuan kita, kita tidak akan pernah, sekali lagi tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang induknya di alam. Melalui upaya pelepasliaran ini, kami berharap anak orangutan dapat menemukan kembali kehidupan baru di habitat alaminya serta menjadi simbol pentingnya harmoni antara manusia dan satwa liar.”

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang  bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan,  pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI  juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara  habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

YIARI: +62 821-5346-2720  (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)

Translokasi dan Pelepasliaran Kukang, Monyet Ekor Panjang, serta Beruk di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

 

Siaran Pers

Lampung, 27 Juli 2024 – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan mitra kerja Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan program translokasi dan pelepasliaran satwa. Acara ini diadakan di Kawasan Hutan Resort Balik Bukit, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Satwa yang dilepasliarkan adalah empat individu kukang sumatera (Nycticebus coucang), empat individu beruk (Macaca nemestrina), dan dua puluh individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di Indonesia.

 

Proses translokasi salah satu satwa ke kandang habituasi (Rendi Afandi | YIARI)

Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa telah menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat rehabilitasi YIARI yang memiliki perjanjian kerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat. Mereka dipersiapkan kembali ke alam setelah beberapa di antaranya diserahkan oleh masyarakat Jawa Barat, disita dari aktivitas perdagangan ilegal oleh Pihak Kepolisian (Polda Metro Jaya), atau ditemukan terlibat dalam konflik di sekitar area rehabilitasi. Proses rehabilitasi meliputi penilaian mendalam terhadap kesehatan fisik dan perilaku, memastikan mereka siap beradaptasi dengan lingkungan aslinya.

Pentingnya translokasi dan pelepasliaran terletak pada perannya dalam memulihkan populasi satwa di habitat asli mereka, mengurangi konflik antara manusia dan satwa, serta mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu. Selain membantu memastikan kelangsungan hidup satwa-satwa di alam liar, kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.

Perjalanan menuju kandang habituasi di dalam kawasan hutan TNBBS (Fattreza Ihsan | YIARI)

Resort Balik Bukit di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena menyediakan ekosistem yang ideal untuk keberlangsungan hidup berbagai satwa. Area ini menawarkan berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sekunder hingga tepi hutan dan perkebunan, yang semuanya mendukung kehidupan kukang, monyet ekor panjang, dan beruk. Faktor penting lain dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan pakan alami yang melimpah, seperti tumbuhan, serangga, reptil, dan burung kecil. Selain itu, tingkat kesadaran dan dukungan dari masyarakat setempat juga membantu meminimalkan potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa-satwa yang dilepasliarkan.

Kegiatan seremoni translokasi yang merupakan kolaborasi multipihak (Fattreza Ihsan | YIARI)

Rangkaian kegiatan pelepasliaran turut mengundang masyarakat setempat di Kecamatan Balik Bukit untuk berpartisipasi dalam acara pembukaan rangkaian pelepasliaran satwa. Pada acara pembukaan, masyarakat setempat diimbau untuk lebih peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar di alam. Harapannya, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan wilayah konservasi TNBBS.

 

Contact Person

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

BBTNBBS: 0812-7976-238 (Decis Maroba, S.Hut., M.Sc)

BBKSDA Jawa Barat: 0822-1656-2150 (Ery)

BKSDA Bengkulu: 08117388100

YIARI: 0815-4621-7456 (Fathia)

 

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dalam upaya konservasi primata Indonesia melalui penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), reintroduksi/pelepasliaran satwa liar tersebut ke habitat alaminya, hingga pemantauan pasca lepas liar. YIARI memiliki fasilitas Pusat Rehabilitasi Satwa Ciapus yang juga berfungsi sebagai kantor dari YIARI, di Jl. Curug Nangka. Kp. Sinarwangi RT004/RW005, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari – Ciapus, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Sei Awan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. YIARI juga didukung oleh International Animal Rescue (IAR) dan bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi, instansi pendidikan, hingga sektor privat. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, kami berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.

Mengantar 7 Kukang Jawa ke Gunung Koneng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, mengawali tahun 2024 ini dengan melepasliarkan 7 (tujuh) individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi. Satwa ini termasuk ke dalam satwa dilindungi menurut PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018. Kegiatan kepasliar ini dilakukan hari Jumat, 19 Januari 2024 di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, Balai Taman Nasional Gunung Halimun–Salak, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.

Tujuh kukang jawa yang akan dilepasliarkan ini terdiri dari enam individu kukang jantan bernama Paw-paw, Klap, Kilat, Teru, Ciban, Cibon, serta satu kukang betina bernama Ciben. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat, serta Balai KSDA Yogyakarta. Selain itu, terdapat pula Kukang yang merupakan serahan warga melalui pusat penyelamatan satwa, yang kemudian dititip rawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk menjalani penanganan medis dan proses rehabilitasi sebelum dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan informasi sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Kawasan Resort PTN Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi PTNW III Sukabumi–TNGHS merupakan area pelepasliaran yang sesuai, karena merupakan bagian habitat sebaran kukang jawa. Pertimbangan utama dalam menentukan lokasi rilis adalah daerah yang relatif jauh dari pemukiman, relatif aman dari perburuan atau gangguan, serta terdapat ketersediaan pakan. Lokasi tersebut juga dinilai sesuai berdasarkan kajian kesesuaian habitat pelepasliaran satwa yang dilakukan oleh TNGHS.

Melewati tebing-tebing terjal, tim gabungan pelepasliaran membawa para kukang jawa dalam kandang transport. (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kawasan TNGHS dinilai memiliki ketersediaan pakan potensial Kukang yang melimpah, diantaranya terdapat tumbuhan Puspa (Schima wallichii), Bubuay (Plectocomia elongata), Suwangkung (Caryota rumphiana), Rotan (Calamus sp.), serta tumbuhan herba dan pancang lainnya. Terdapat juga jenis-jenis serangga, reptil dan burung kecil seperti kutilang yang juga merupakan pakan kukang.

Populasi kukang jawa jarang dijumpai di kawasan ini sehingga tingkat kompetisi para kukang yang akan dilepasliarkan untuk mencari makanan menjadi rendah. Dengan tingkat ancaman dan gangguan yang dinilai rendah, juga kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal berbatasan dengan kawasan tersebut sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga satwa liar, menjadikan kawasan memenuhi semua syarat dan cocok untuk menjadi lokasi pelepasliaran. Titik pelepasliaran yang berada di TNGHS ini berjarak sekitar 124 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil selama 4 jam, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.

Tahapan pra-translokasi dan pelepasliaran dilakukan dengan membangun kandang habituasi terlebih dahulu, yang terbuat dari jaring dan bambu dengan luas sekitar 18 m2, sebanyak kurang lebih 5 unit. Kandang habituasi berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama 4-5 hari di dalam kawasan TNGHS. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI mengamati perilaku dan kesehatan seluruh kukang tersebut. Apabila dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.

Manajer Animal Management selaku Dokter Hewan YIARI, drh. Nur Purba Priambada mengantar Teru ke kandang habituasinya. Teru adalah kukang jawa yang berasal dari serahan warga ke BBKSDA Jawa Barat tahun 2023 silam. (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat,  Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan, “Kami mengapresiasi hasil kerja bersama antara Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI, serta Balai TNGHS. Kami sangat berbahagia karena dapat mengawali tahun  2024 ini dengan memulai kembali rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, melepas liar 7 (tujuh) individu kukang, satwa liar paling banyak yang diselamatkan dan dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI. Kami berharap momen ini menjadi momentum penambah erat ikatan kebersamaan dan penambah semangat melestarikan satwa liar dilindungi, perlu diingat bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, kebahagiaan hidupnya berada di tengah hutan bukan di tengah rumah anda, apalagi di kandang peliharaan.”

Ir.Irzal Azhar, M.Si, selaku kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengapresiasi kerjasama multipihak dalam upaya konservasi biodiversitas. “Kami memberikan apresiasi kepada YIARI dan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang telah bekerjasama dengan kami dalam konservasi biodiversitas di TNGHS, khususnya pelestarian kukang jawa melalui upaya rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dengan kegiatan ini kami berharap keseimbangan populasi kukang jawa khususnya dan ekosistem TNGHS secara keseluruhan dapat dipertahankan sehingga kawasan TNGHS tetap dapat memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan.”

Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak atas kerjasamanya pada kegiatan pelepasliaran ini. Semoga kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam upaya konservasi satwa liar, terutama kukang bisa terus terjaga, bahkan meningkat. Semoga kesadaran semua pihak dalam melindungi hutan sebagai rumah satwa-satwa liar juga terus meningkat. Hal ini tentunya untuk mewujudkan kelestarian satwa liar agar dapat terus hidup dengan aman di habitat alaminya.”

.

Komunitas The Power of Mama Terima Penghargaan Nasional Clean Air Championship Award

Pada 17 November 2023, komunitas The Power of Mama (TPoM) menerima penghargaan “Clean air Championship Award 2023” tingkat petani, MPA, perorangan wilayah Kalimantan. Penerimaan penghargaan ini diwakili oleh Maimun bertempat di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center, Kota Bogor, Jawa Barat. Penghargaan yang diberikan oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia ini merupakan bentuk apresiasi dalam rangka program udara bersih Indonesia.

Menurut Prof. Bambang Hero Saharjo, selaku Ketua Tim Seleksi Penerima Awards di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional untuk tiga kategori, penghargaan ini pertama kali diadakan pada tahun 2022. “Latar belakang adanya penghargaan ini di antaranya kami melihat peran dari penerima award ini. Ada yang dari MPA (masyarakat peduli api), kemudian ada yang dari petani, kemudian ada yang dari masyarakat, perorangan. Kemudian juga ada dari instansi, seperti dari DLHK. Kemudian dari manggala agni, sampai ke tingkat perorangan. Menurut kami itu sangat penting dalam hal memberi support dan semangat semua level untuk sepakat menciptakan udara bersih. Kami juga dibantu oleh satu tim research dari United Kingdom yang menetapkan 7 kriteria untuk pemilihan penerima award ini. Jadi sebetulnya ini penghargaan internasional,” ujar Prof. Bambang Hero Saharjo yang juga merupakan Direktur Regional Fire Management Research Center (RFMRC) South East Asia di bawah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB.

Dalam pidato yang disampaikan di depan para tamu undangan acara penghargaan ini, Maimun sangat mengapresiasi dukungan yang diterima The Power of Mama terutama dari YIARI dan The Orangutan Project (TOP).

Ibu Maimun selaku perwakilan The Power of Mama saat menyampaikan pidatonya (Fattreza Ihsan | YIARI)

“Ini suatu penghargaan yang sangat luar biasa, kalau bagi saya orang biasa, ini adalah mimpi. Tapi tentu ini merupakan suatu tanggung jawab yang bakal kami emban ke depannya. Saya berdiri di sini hari ini sebagai perwakilan dari salah satu anggota organisasi kami, yaitu The Power of Mama. Kami dari The Power of Mama itu terinspirasi oleh Ibu Dokter Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI, karena beliau adalah inisiator kegiatan dari komunitas ini, dan oleh ibu Menteri LHK kita, Ibu Siti Nurbaya, karena beliau adalah sosok perempuan yang menjadi contoh bagi kami untuk bergerak dan berjuang di bidang lingkungan hidup. Kami tidak dibayar dan bukan merupakan suatu instansi, namun sebagai relawan yang bergerak di bidang lingkungan. Jadi kami menjadi bagian dari komunitas ini semata-mata dari hati nurani kami,” ujar Maimun, 53 tahun, yang berasal dari Desa Suka Maju, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Sejumlah dukungan yang telah diterima The Power of Mama, disampaikan lebih lanjut oleh Maimun dalam pidatonya. Ia menjelaskan bahwa kelompok The Power of Mama telah menerima sejumlah program peningkatan kapasitas. Di antaranya pelatihan menggunakan drone untuk memantau kawasan yang rawan kebakaran, SMART Patrol, public speaking, dan pemadaman kebakaran. “Kami berharap The Power of Mama ini akan semakin berkembang, semakin maju, juga bisa menginspirasi kaum wanita, kaum ibu-ibu, tentunya yang ada di pedesaan. Karena kebakaran hutan dan lahan itu tentu beradanya di pedesaan, seperti desa kami yang sering terjadi kebakaran. Semoga kegiatan komunitas kami ini bisa diterima di masyarakat, kami mengharapkan itu bantuan dan dorongan dari semua pihak pemerintah yang ada di Indonesia,” ujar Maimun yang juga aktif sebagai fasilitator desa dan penggerak pertanian organik di desanya.

The Power of Mama yang didirikan pada 8 Juni 2022 ini merupakan komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Komunitas ini bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat sekitar untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal. Saat ini kegiatan berfokus pada patroli dan monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.

Selain penghargaan untuk tingkat petani, MPA, perorangan, penghargaan serupa juga diberikan pada tingkat Manggala Agni atau BPBD dan tingkat kelompok di wilayah Kalimantan dan Sumatera (Fattreza Ihsan | YIARI)

YIARI sebagai lembaga yang menginisiasi kemunculan The Power of Mama, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas prestasi yang didapatkan kelompok yang sekarang telah berjumlah 92 ibu-ibu rumah tangga dari 6 desa di Ketapang. “Mereka perempuan hebat yang telah berhasil memberikan inspirasi bagi kita semua, terutama bagi komunitas di sekeliling mereka. Tanggung jawab mereka tidak putus hanya di rumah tangga, tetapi mereka berperan aktif dalam menjaga lingkungan untuk kita semua. Kita harus saling memberi dukungan dan inspirasi sebagai sosok perempuan yang punya peran sangat penting dalam menjaga lingkungan seperti ibu Siti Nurbaya, Menteri LHK yang tidak pernah berhenti menjadi inspirasi untuk kami semua. Kami juga sangat berterima kasih kepada para pihak yang telah memberikan pengakuan atas kerja keras mereka yang telah bekerja dengan sukarela mengamankan lingkungan desa mereka dari kerusakan alam, terutama api. Kami dari YIARI berharap, kemunculan The Power of Mama ini akan menumbuhkan inisiatif-inisiatif masyarakat dalam menjaga alam dan bumi ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI.

Sejalan dengan harapan YIARI ini, Prof. Bambang Hero Saharjo mengungkapkan bahwa perlu banyak upaya-upaya masyarakat untuk menjaga kualitas udara. “Ketika kita bicara tentang kualitas udara itu, tidak berkaca pada hari ini saja. Karena bisa jadi apa yang terjadi sekarang itu adalah kulminasi dari perjalanan-perjalanan sebelumnya.  Di situlah kita melihat ada peran dari masing-masing, apakah itu perorangan, co-leadership dan sebagainya.”