Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Mengenal 7 Satwa Nokturnal di Indonesia

Satwa nokturnal adalah kelompok satwa yang sangat unik. Hal ini dikarenakan mereka cenderung lebih aktif di malam hari ketimbang di siang hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hewan nokturnal adalah keadaan hewan yang sifatnya atau kebiasaannya aktif terutama pada malam hari. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya untuk menghindari predator yang memburu mereka, atau menghindari kompetisi dengan satwa lain dalam mencari makanan.

Indonesia sendiri memiliki beberapa jenis satwa liar yang termasuk dalam kelompok ini. Beberapa di antaranya mungkin sudah kita kenal baik sejak kecil, beberapa di antaranya mungkin terdengar asing di telinga kita. Beberapa dari satwa liar ini juga merupakan satwa asli Indonesia, alias endemik Indonesia. Yuk, kita simak 7 satwa nokturnal yang terdapat di Indonesia.

 

1. Landak

Foto: Rudiansyah | IAR Indonesia

Landak adalah satwa kelompok rodensia atau termasuk dalam kelompok satwa pengerat. Di Indonesia, mereka masuk ke dalam kelompok genus Hystrix sp. Mereka mudah dikenali dari ciri-ciri tubuhnya yang sangat mudah terlihat: kumpulan duri pada abdomen atau punggungnya.

Mereka termasuk satwa nokturnal yang ditandai dari kebiasaannya. Di siang hari, mereka bersembunyi di dalam lubang. Ketika malam tiba, mereka mencari makanan berupa bagian-bagian tumbuhan seperti akar, umbi, kulit kayu, dan buah-buahan.

 

2. Binturong

Foto: Rudiansyah | IAR Indonesia

Binturong yang biasa disebut juga dengan sebutan binturung atau bearcat dalam bahasa asing adalah contoh satwa penghuni malam lain yang hidup di Indonesia. Hewan dengan status konservasi “rentan” ini lebih aktif di malam hari ketimbang siang hari. Satwa dengan nama latin Arctictis binturong ini terkenal dari bau khasnya yang menyengat.

Aktivitas yang biasa dilakukan binturong di malam hari adalah mencari makanan seperti daging, telur, serangga, hingga buah-buahan dan dedaunan. Binturong diklasifikasikan atau dikelompokkan dalam kelompok hewan karnivora, alias hewan pemakan daging. Meski begitu mereka bisa memakan tumbuh-tumbuhan di luar pakan dagingnya.

 

3. Tarsius

Gursky’s spectral tarsier by T. R. Shankar Raman (CC-BY-SA 3.0)

Sebagian besar satwa kelompok tarsius adalah satwa endemik Indonesia yang tersebar di Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, serta pulau-pulau lain di sekitarnya. Mereka juga termasuk dalam kelompok satwa primata. Hal ini menjadikan hutan Indonesia sebagai habitat salah satu primata terlangka di dunia.

Kelompok primata tarsius juga terkenal karena merupakan kelompok primata dengan ukuran tubuh terkecil di dunia. Panjang tubuh dari kepala hingga tubuhnya hanya berkisar 10-15 cm. Di samping memiliki ukuran tubuh yang kecil, rupanya ia memiliki mata yang cukup besar untuk melihat di malam hari. Tiap bola matanya berdiameter 16 mm dan ternyata tidak bisa digerak-gerakkan. Itulah sebabnya tarsius membutuhkan leher yang mampu berputar hingga hampir 360o guna melihat sekelilingnya.

 

4. Burung Paruh-kodok

Foto: Reza Septian | IAR Indonesia

Burung paruh-kodok adalah kelompok burung unik yang termasuk dalam famili Podargidae. Kelompok burung paruh-kodok yang dapat ditemukan di Indonesia ada dua jenis, yaitu Brachostomus sp. Dan Podargus sp. Mereka adalah kelompok burung nokturnal yang kekerabatannya sangat dekat dengan burung cabak.

Kelompok burung ini dinamai paruh-kodok karena bentuk paruhnya yang melebar menyerupai mulut kodok. Paruh mereka yang lebar dan besar memudahkan mereka untuk memangsa serangga. Mereka juga memiliki ciri khas berupa warna bulu yang menyerupai daun dan batang pohon, sehingga membantu mereka untuk bersembunyi di dalam hutan.

 

5. Burung Hantu

Foto: Muhidin | IAR Indonesia

Di Indonesia terdapat tiga jenis kelompok burung hantu, yaitu Otus sp., Tyto sp., dan Phodilus sp. Burung ini adalah satwa predator. Satwa yang tidak asing di telinga kita ini terbang di malam hari untuk mencari mangsa berupa mamalia dan burung yang berukuran kecil.

Tahukah kamu bahwa mereka mampu memutar kepalanya hingga 270 derajat? Kemampuan tubuhnya yang unik ini membantu mereka dalam mencari mangsa. Ditambah dengan mata berukuran besar yang mampu melihat dalam cahaya yang redup, burung hantu dinobatkan sebagai salah satu satwa pemburu terhandal di malam hari.

 

6. Bangkong Serasah

Leptobrachium hasseltii, male by W.A. Djatmiko (Wie146) (CC-BY-SA 3.0)

Bersama dengan sebagian besar kelompok amfibi lain, bangkong serasah adalah satwa nokturnal. Bangkong serasah tinggal di bawah serasah hutan ketika siang hari saat menunggu malam datang. Karena kebiasaannya hidup di bawah serasah, kodok ini akhirnya dinamai bangkong serasah.

Kodok yang bernama latin Leptobrachium hasseltii tersebar di sepanjang Pulau Jawa hingga Lampung dan Pulau Bali. Satwa ini hidup di hutan hujan dan lahan basah. Saat ini, populasi spesies kodok ini masih cukup banyak. Meski begitu diperkirakan jumlahnya sedang mengalami penurunan.

 

7. Kukang

Foto: Reza Septian | IAR Indonesia

Kelompok kukang (Nycticebus) di samping satwa nokturnal, mereka juga merupakan satwa arboreal, yaitu satwa yang tinggal di atas pohon. Terdapat 5 (lima) jenis kukang di seluruh dunia, 3 (tiga) di antaranya berada di Indonesia. Jenis-jenis kukang yang berada di luar Indonesia yaitu kukang benggala atau Nycticebus bengalensis yang tersebar di India hingga Thailand, serta kukang kerdil (Nycticebus pygmaeus) yang tersebar di Indocina sebelah timur Sungai Mekong. Untuk ketiga kukang lainnya yang berada di Indonesia yaitu terdapat kukang sumatra (Nycticebus coucang), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis).

Saat ini, kukang telah masuk ke dalam salah satu satwa dilindungi. Hal ini disebabkan jumlah populasinya yang terus menurun di alam liar. Penurunan ini disebabkan oleh banyak hal, mulai dari perburuan satwa liar, pengurangan luasan habitat, hingga perdagangan satwa liar.

Sekarang Kita Cerita Tentang Hari Itu

Sekarang? Bukannya nanti?

Kalau nanti, itu judul film bro and sis. Sekarang, ada yang mau kita ceritain nih, tentang hari itu.

Wuih kayaknya ada sesuatu banget nih di hari itu

Yoi, sesuatu itu tentang si Lolyn.

Ih namanya cute banget

Yang cute nggak namanya kok. Nah, mupeng kan? Sini ngedeket, biar ceritanya lebih syahdu.

Jadi nih ya… Lolyn itu nama kukang jawa – tuh lihat dulu fotonya. Cute kan? Lolyn ini baru aja graduation nih. Dia udah dinyatakan lulus dari tempat rehabilitasi satwa punyanya IAR Indonesia. Nah sama dokter-dokter hewan di sana, Lolyn ini dirasa bakal siap nih kalau diantar pulang kembali ke hutan. So, jadilah Lolyn ini diantar oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai Taman Nasional GHS, sama kakak-kakak dari IAR Indonesia ke kawasan  Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Desember 2020 lalu.

 

 

Nah abis diantar pulang itu, dia nggak langsung ditinggal gitu aja. Lolyn ama beberapa temennya dipasangin alat khusus di lehernya, Namanya GPS-collar. Eits tenang aja, ini nggak bikin dia sakit kok. Alat ini buat memantau dia, siapa tahu dia nggak betah di hutan atau nggak bisa hidup mandiri. Nah kalau 3-6 bulan itu ternyata dia baik-baik aja, bisa main, bobok ciang, bobok malam, cari makan (nggak pake ojol ya), dia bisa tuh lulus. Kalau kita-kita tuh graduation pake toga, kalau kukang beda lagi sob graduationnya. Tanda dia lulus, perangkat GPS-collar-nya dilepas tuh sama kakak-kakak yang memantau dia.

Terus kenapa lulus? Emang dia isi kuis di hutan?

Wait a minute.. *glek seruput kopi*

Pernyataan lulus itu sebenarnya ungkapan kebahagiaan karena doi udah mampu beradaptasi dan perkembangan perilakunya sangat bagus. Mastiin ini penting banget, karena status kukang tuh masih Critically Endangered (CR) a.k.a terancam punah. Label CR ini udah terbilang gawat karena hanya satu tahap lagi menuju kepunahan di alam 🙁

I see…mesti dijagain bener tuh si Lolyn

Yoi, jadi sebelum dinyatakan lulus, kakak-kakak yang mantau dia setiap malam menyusuri hutan, mendaki gunung, lewati lembah *(auto terngiang lagu Ninja Hatori), untuk mencari keberadaan Lolyn dan mencatat perkembangan perilaku dia selama di alam bebas. Nggak tanggung-tanggung lho, pemantauan dilakukan dari matahari terbenam sampai fajar menyingsing.

Nah dari hasil pengamatan kakak-kakak selama hampir enam bulan itu, Lolyn telah memenuhi indikator kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Kata mereka, hal itu ditunjukkan dengan perkembangan perilakunya yang sangat bagus. Yeaay! Terus pasca-pelepasliarannya itu, dia terlihat aktif dan sekarang dia bisa benar-benar hidup tanpa pantauan. Gak cuma itu, pelepasan GPS-collar ini juga jadi tanda berakhirnya proses pengamatan terhadap Lolyn yang telah dilepasliarkan.

 

 

Congrat ya Lolyn! Jadi ini ya yang mau diceritain itu? So happy for you Lolyn!

Iya nanti disampaikan ke Lolyn. Jadi sesuatu yang mau diceritain tentang hari itu tuh tentang graduationnya Lolyn, sob. Karena untuk sampai ke tahap ini nggak gampang lho. Lagi-lagi, semua itu memerlukan tenaga, waktu, dan proses yang relatif panjang. Bayangin aja, selama sekitar setengah lusin purnama setelah dilepasliarkan, tim pemantau di lapangan terus mengamati perilaku Lolyn setiap malamnya. Si kukang lagi ngapain, jalannya ke mana aja, makan apa aja, sampai dia tidur di pohon mana, itu semua dicatat.

Terus nih, untuk bisa menemukan Lolyn, tim pemantau membawa perangkat yang bisa menerima sinyal dari GPS-collar yang terpasang di leher Lolyn. Biasanya nih, hasil catatan yang didapat kakak-kakak pemantau itu, menunjukkan perkembangan perilaku dan daya jelajah primata noktrunal itu sudah memiliki daerah jelajah yang stabil dan pintar memanfaatkan pakan alami. Terus juga, biasanya ada tuh catatan dia udah berkenalan dengan sesama kukang alias kukang liar.

Uhuy! Asoy! Terus-terus apa lagi ceritanya?

Udah dulu sob, mau lanjut ngejar kakak-kakak pemantau itu. Next time, kita cerita-cerita lagi tentang hari-hari yang sesuatu banget yak.

‘Cause You’re Beautiful

Any good news from the forest?

Hai hai Sobat IAR, iya nih ada kabar baik dari hutan. Tentang si Cantik.

Hah? Cantik? Ada yang cantik di hutan?

Ada dong! Nah karena dia cantik, makanya dikasih nama Cantik, sob.

Duh jadi penasaran. Siapa sih dia?

Ok, biar nggak makin penasaran, sini merapat. Jadi, Cantik itu nama orangutan istimewa yang baru aja dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang terdiri dari BKSDA Kalbar dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, bersama IAR Indonesia. Dia dilepasliarkan bareng empat orangutan lainnya, yaitu Tina, Tribun, Sigit, dan Pungky di bulan Mei 2021 lalu.

Wait, lepasliar itu apa sih?

Oh itu istilah buat satwa yang udah kelar direhabilitasi, terus selama masa rehabilitasi itu, dia udah keliatan bisa nih untuk kembali hidup di habitat alaminya, udah deh kita antar ke hutan which is rumah aslinya.

Ah I see. Terus kenapa si Cantik ini dibilang istimewa?

Jadi, si Cantik ini istimewa karena meski dia udah kehilangan kaki kirinya, dia tetep bisa lho manjat-manjat pohon, cari makanan, pokoknya lincah banget nggak kalah ama temen-temennya yang lengkap anggota badannya. So karena itu, Cantik dinilai oke nih dan siap buat dilepasliarkan.

 

 

Wah keren! Btw kakinya kenapa ya kok ngga ada satu?

Jadi gini ceritanya. November 2016 lalu, ada warga nih datang ke pusat penyelamatan IAR Indonesia di Sungai Awan. Ini tuh di Ketapang, Kalimantan Barat. Nah, warga ini bawa bayi orangutan liar yang kaki kirinya terluka parah. Mereka bilang kalau mereka menemukan orangutan ini sendirian di hutan dan kakinya kejepit di antara dua batang kayu besar. Meski waktu itu tubuhnya lemah, bayi orangutan ini kelihatan banget punya semangat hidup yang tinggi.

Ya ampun kasihan banget 🙁

Iya, kasihan deh kondisinya waktu itu. So tim medis IAR pun segera memeriksa kondisi bayi orangutan ini yang kemudian dinamain Cantik. Dari pemeriksaan itu, ternyata ada infeksi dan pembusukan parah pada luka di kakinya. Sepertinya karena lukanya dia itu sudah berumur beberapa hari tanpa perawatan sehingga infeksinya sudah menyebar semakin parah.  Udah gitu, kondisinya diperparah dengan dehidrasi dan malnutrisi. Langsung deh tim medis IAR Indonesia ngerawat dia secara intensif dan dipantau selama 24 jam sehari selama beberapa minggu. Selama perawatan intensif ini, kakinya yang mengalami nekrosis parah mulai rontok sedikit demi sedikit.  Meski tim medis sudah melakukan yang terbaik dengan memberikan obat-obatan, antibiotik, infus, serta perawatan intensif, tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kakinya yang sudah membusuk kecuali amputasi. Sedih banget deh. Amputasi ini mau nggak mau dilakukan biar infeksinya nggak makin parah dan mengancam nyawanya.

Haduuuh… Terus terus terus?

Dibantu oleh dokter bedah satwa liar berpengalaman dari Hongkong, akhirnya operasi amputasinya sukses tanpa ada komplikasi. Namun ceritanya nggak berhenti di situ sob. Masih banyak yang harus dilalui Cantik biar sembuh total. Selain berjuang memulihkan luka dan membiasakan hidup dengan satu kaki, Cantik juga harus berjuang memulihkan traumanya. Soalnya nih, kalau kita nemuin bayi orangutan sendirian, hampir pasti banget induknya sudah meninggal. Soalnya, orangutan tuh kalau masih kecil, dia hidup dengan mommy-nya sampai usia 6-8 tahun. Kebayang kan sedihnya ngebayangin sekecil itu ngelihat mommy-nya mati?

 

 

Hiks… sedih banget dengernya..

Iya banget. Nah maka dari itu sob, abis operasi, Cantik dirawat dan dimonitor banget oleh tim medis IAR Indonesia selama berminggu-minggu pasca operasi sebelum akhirnya bisa bergabung dengan orangutan lainnya di dalam sekolah hutan. Well…tahu kan sekolah hutan? Ini tuh sebenarnya istilah buat ngajarin satwa-satwa biar nanti bisa mandiri kalau udah balik ke hutan, sob. Tempatnya mirip hutan, banyak pohon, dan orangutan-orangutan ini diajari macem-macem deh, dari manjat pohon, gelantungan, bikin sarang, dan tentu saja cari makan. Nah pas di sekolah hutan ini, Cantik ternyata keren banget. Dia pintar lho, meski satu kakinya udah nggak ada, dia lincah dan terampil di atas pohon. Apalagi cepet banget pas diajari bikin sarang dan cari makan sendiri.

Wuih hebat. Bravo Cantik!

Iya dia emang keren banget. Karena itulah, ngelihat perkembangan pesatnya itu, 4,5 tahun sekolah nih, dia siap lulus sob. Nah, graduation-nya dibawa ke hutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

Ih serunya! Kayaknya keren nih lokasi graduationnya.

Yoi. TNBBBR ini hutannya mantap banget sob, apalagi buat tempat hidup satwa liar dan dilindungi. Apalagi dari hasil survei nih, jumlah dan jenis pakan orangutan di kawasan ini berlimpah dan jumlah populasi asli orangutan di situ masih sedikit. Selain itu, karena status hutannya adalah taman nasional, jadi aman buat rumah Cantik dan teman-temannya. Maka dari itu, sejak tahun 2016 nih, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bersama dengan IAR Indonesia, udah ngelepasin 56 orangutan ke TNBBBR.

Jauh gak sih perjalanannya ke sana?

Lumayan jauh sih, bayangin aja, untuk memulangkan Cantik ke habitat aslinya, tim harus menempuh perjalanan darat sejauh lebih dari 700 kilometer dari sekolahnya Cantik. Udah gitu, masih harus dilanjut pakai perahu motor selama satu jam dan dua hari berjalan kaki di dalam kawasan TNBBBR untuk mencapai titik pelepasan.

Wuidih, jauh juga ya… Itu yakin Cantik bisa survive di TNBBBR?

No worries. Biar ngepastiin Cantik dan teman-temannya aman sentausa di sana, ada tim monitoring yang rutin memantau mereka setiap hari sejak mereka bangun pagi sampai saatnya bobok. Udah kayak CCTV deh. Selain itu, kami juga ada dokter hewan yang stand by 24 jam 7 hari seminggu di sana. Jadi amanlah kalau kenapa-kenapa. So, itu sob kabar seru dari hutan. Nanti kalau ada yang seru lagi, kita kabari lagi yak.

9 Satwa Liar Endemik di Pulau Jawa yang Terancam Punah

Pulau Jawa adalah rumah bagi sebagian satwa endemik Indonesia. Hewan-hewan endemik tersebut adalah hewan kharismatik yang kemudian menjadi simbol maupun logo taman nasional. Mereka juga memegang peranan penting bagi ekosistem di mana mereka tinggal.

Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang memiliki status terancam punah sebagai akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat lingkungan. Perdagangan dan perburuan satwa liar menjadi salah satu faktor utamanya.

Namun, dengan edukasi yang baik dalam mengenal satwa-satwa menarik ini, kita dapat mengurangi laju berkurangnya jumlah mereka di alam kita. Mari kita simak dan sebarkan informasi mengenai satwa liar endemik di Indonesia ini supaya para satwa liar yang indah ini dapat tetap lestari di hutan kita.

 

1. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)

Badak Jawa (Foto: Balai Taman Nasional Ujung Kulon)

Badak jawa yang biasa disebut badak bercula satu adalah salah satu spesies satwa liar terlangka di Indonesia. Sebab spesies badak jawa saat ini diperkirakan tersisa tidak lebih dari 74 ekor. Kemampuan reproduksi yang rendah ditambah aktivitas perburuan badak jawa untuk diambil culanya adalah penyebab utamanya.

Sekarang, hewan eksotis ini sedang berada dalam program konservasi intensif secara in-situ di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Program ini membawa kabar gembira bagi kita karena terbukti mampu meningkatkan populasi badak jawa. September 2020 lalu, TNUK mengkonfirmasi keberadaan dua ekor bayi badak yang membawa harapan akan terjaganya kelestarian populasi badak jawa.

 

2. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus)

kukang malam hari di pohon

Kukang Jawa (Foto: Reza Septian)

Kukang jawa adalah primata eksotis yang hidup secara nokturnal, alias aktif di malam hari. Ia mencari makanan di malam hari guna menghindari pemangsa. Ia memiliki ciri khas yaitu memiliki kelenjar racun di bawah ketiaknya yang digunakan untuk mempertahankan diri dari pemangsa pula.

Saat ini kukang jawa dilindungi oleh undang-undang Indonesia. Organisasi internasional CITES juga melindungi kukang jawa dalam daftar Appendix I-nya. Oleh karena itu, seharusnya tidak ada yang boleh memburu atau memeliharanya lagi. Sebab apabila perburuan terus dibiarkan, dikhawatirkan jumlah populasinya di alam akan kian menurun dan lama-kelamaan akan punah.

 

3. Babi Kutil (Sus verrucosus)

babi kutil merumput

Babi Kutil (Foto: BBKSDA Jawa Timur)

Jenis hewan liar endemik yang satu ini mungkin terdengar asing di telinga kita. Satwa tersebut tidak lain adalah babi kutil. Babi kutil adalah jenis babi yang hanya terdapat di Pulau Jawa dan Pulau Bawean. Babi ini juga biasa disebut babi jawa atau babi bagong.

Perawakan dari babi kutil sangat mirip dengan babi hutan. Babi kutil bisa ditemukan di hutan dan padang rumput meskipun sangat sulit untuk menemukannya. Banyak ahli yang sebelumnya mengira spesies ini sudah punah dikarenakan mereka kesulitan untuk menemukannya. Untungnya, babi kutil ini teramati pada tahun 2017. Penyebab terancam punahnya babi ini dikarenakan tingginya tingkat konflik dengan manusia akibat berkurangnya habitat sehingga babi turun ke pemukiman warga untuk mencari makanan.

 

4. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas)

macan tutul menguap

Macan Tutul Jawa (Foto: BBKSDA Jawa Barat)

Macan tutul jawa adalah salah satu satwa predator yang terancam punah di Indonesia. Jenis satwa ini adalah subspesies dari macan tutul biasa (Panthera pardus). Oleh masyarakat di Pulau Jawa, macan tutul jawa kadang disebut juga macan kumbang.

Macan tutul jawa saat ini berada di ambang kepunahan. Pada tahun 2008, tercatat jumlah populasi macan tutul jawa tidak lebih dari 250 ekor. Menurut para ahli dan pejabat pemerintah, penyebab berkurangnya populasi macan tutul adalah berkurangnya habitat alaminya di hutan.

 

5. Banteng Jawa (Bos javanicus javanicus)

Banteng jawa di padang rumput

Banteng Jawa (Foto: Robithotul Huda)

Banteng Jawa adalah salah satu subspesies dari jenis banteng biasa (Bos javanicus). Jenis satwa liar ini, meskipun sangat dikenal di masyarakat sebagai hewan yang kuat, rupanya juga dikenal sebagai hewan yang terancam punah. Keberadaannya saat ini dilindungi oleh Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, serta Taman Nasional Bali Barat.

Terdapat beberapa penyebab berkurangnya populasi dari banteng jawa ini. Di antaranya adalah berkurangnya habitat akibat pembukaan lahan untuk kebun oleh manusia. Banteng juga mengalami ancaman pemangsa dari anjing hutan ajag, yaitu jenis anjing hutan yang berperawakan mirip serigala.

 

6. Owa Jawa (Hylobates moloch)

owa jawa di atas pohon

Owa Jawa (Foto: Robithotul Huda)

Owa jawa adalah salah satu jenis primata di Indonesia. Spesies ini tersebar di Pulau Jawa di bagian Provinsi Jawa Barat dan Banten. Sayangnya, spesies ini juga merupakan spesies yang dilindungi.

Satwa liar ini terkenal akan suara lolongannya yang khas dan terkenal nyaring. Menurut peneliti, suaranya dapat terdengar hingga 1 kilometer jauhnya. Lolongan ini biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan owa jawa lain.

 

7. Surili Jawa (Presbytis comata)

Surili jawa di atas pohon

Surili Jawa (Foto: Robithotul Huda)

Primata asli Indonesia lain yang dilindungi karena terancam punah yaitu surili jawa. Primata unik ini juga merupakan salah satu primata yang cukup dikenal di Jawa Barat. Jenis satwa liar ini tersebar di Jawa Barat dan Banten.

Satwa pemakan tumbuhan dedaunan, bunga, dan biji-bijian ini kini tidak tersisa banyak. Sekarang populasinya hanya tersisa sekitar 2.500 ekor. Oleh karena itu Pemerintah segera mengeluarkan berbagai kebijakan untuk segera melindungi dan melestarikannya.

 

8. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)

elang jawa bertengger

Elang Jawa (Foto: Denny Setiawan)

Burung ini merupakan penjelmaan dari Garuda, lambang negara Indonesia. Spesies ini adalah salah satu jenis burung yang dilindungi dan tersebar di hutan-hutan di Pulau Jawa. Elang jawa adalah burung predator. Ia memangsa mamalia kecil seperti tikus atau burung-burung kecil. Ia juga memiliki daya jelajah luas. Ia mampu terbang mencapai 400 hektar dari sarangnya.

Yang patut kita perhatikan adalah penyebabnya terancam punahnya. Di samping perburuan liar, kemampuan reproduksi yang rendah membuatnya sangat rentan mengalami penurunan populasi. Ia hanya mampu bertelur sekali setahun. Apabila hal tersebut terus dibiarkan, khawatirnya Elang Jawa akan benar-benar punah.

 

9. Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus)

burung trulek jawa

Trulek Jawa (Foto: Lorenzo Vinciguerra/OBI)

Burung trulek jawa adalah burung yang pernah dinyatakan punah, namun akhirnya statusnya diubah menjadi kritis pada tahun 2000. Burung ini adalah burung pantai, artinya hanya ada di sekitar pantai karena ia sangat bergantung mencari makanan di sekitar laut.

Burung ini menjadi sangat terancam punah dikarenakan perburuan yang intensif serta pengurangan habitat secara masif.

Menyelamatkan Suga si Kukang

Kukang ini Bernama Suga. Ia datang di pusat rehabilitasi kami dengan keadaan penuh luka di bagian wajah dan lengannya. Begitu Suga datang, tim kami segera melakukan penanganan medis kepadanya. Ia berhasil sampai ke pusat rehabilitasi kami berkat laporan warga Ciamis kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ciamis pada 9 Juni 2021.

 

Berdasarkan laporan, kukang ini adalah kukang jantan. Ia terluka akibat berkelahi dengan kukang jantan lainnya ketika mempertahankan wilayahnya. Kukang jantan biasa berkelahi dengan cara menggigit bagian tubuh lawannya menggunakan giginya yang tajam. Gigitannya juga berbisa sehingga mampu melukai hewan lain dengan cukup parah.

 

Kukang dicukur bulunya

Pencukuran bulu Suga si Kukang untuk mempermudah penanganan medis

 

Kondisi Suga cukup mengenaskan. Wajahnya lebam dan penuh darah. Begitu pula dengan tangannya. Ia mendapatkan perawatan intensif dan menjalani penanganan medis berupa pembersihan luka di wajah dan tangannya. Rambutnya juga terpaksa kami cukur akibat kotor oleh darah yang mengering, sehingga menyulitkan kami melakukan pemberian obat.

 

Meski begitu Suga masih memiliki harapan untuk bisa kembali ke alam liar, sebab ia masih memiliki gigi yang utuh dan tubuh yang sehat. Setelah rehabilitasi dan pemeriksaan lebih lanjut di pusat rehabilitasi kami, besar kemungkinannya untuk dapat dilepasliarkan kembali bersama kawan-kawan kukangnya yang lain. Ia dijadwalkan akan menjalani pemeriksaan rontgen untuk mengecek tulang dari benda asing seperti peluru angin. Selain itu ia juga akan diperiksa di laboratorium kami apakah ia bebas dari penyakit-penyakit lainnya.

 

Mari dukung Suga yang terinspirasi dari Suga BTS ini untuk cepat pulih dari luka yang dideritanya. Kamu bisa ikut membantu dengan cara berdonasi melalui laman donasi kami di di. Atau kamu bisa bantu untuk membagikan kisah-kisah konservasi kami di media sosialmu.

8 Burung Unik yang Teramati di Pulau Kalimantan

Hutan Kalimantan adalah salah satu pusat biodiversitas yang unik di Indonesia. Hal ini dikarenakan hutan Kalimantan terbentuk dari tumpukan serasah membentuk lahan gambut. Hutan di atas lahan gambut tersebut menyimpan potensi biodiversitas yang sangat beragam, di antaranya adalah jenis burung.

Burung-burung yang teramati di Pulau Kalimantan terkenal unik dan indah pula. Banyak di antaranya menjadi simbol daerah maupun Taman Nasional. Meski begitu, akhir-akhir ini para burung tersebut berada di ambang kepunahan. Hal ini dikarenakan semakin berkurangnya populasi mereka karena berkurangnya habitat sebagai tempat tinggal para burung.

Keadaan ini membuat kita harus segera membantu mereka. Namun, sebelum itu kita tentunya harus mengenal terlebih dahulu, apa saja burung-burung yang dapat diamati di hutan Kalimantan? Bagaimana keadaan mereka saat ini dan seberapa terancamnya mereka? Mari kita simak daftar burung unik yang teramati di Kalimantan yang terancam punah.

 

1. Gajahan Timur (Numenius madagascariensis)

Gajahan Timur (Foto: Erik Sulidra)

Gajahan timur adalah salah satu burung langka yang ada di Indonesia. Keberadaannya sangat sulit untuk ditemukan di alam saat ini. Gajahan timur adalah burung akuatik. Ia mencari makanan di tepi pantai. Dengan betuk paruhnya yang unik, ia mengais hewan-hewan kecil di pantai yang berlumpur.

Spesies ini sering bermigrasi ke arah utara (Mongolia dan Rusia) untuk berkembang biak. Mereka bermigrasi ketika musim panas datang di daerah tersebut.

Burung ini terancam punah karena berkurangnya lahan yang layak sebagai habitatnya di sekitar wilayah migrasinya. Hal ini menjadikan perawatan pantai menjadi sangat penting.

 

2. Kedidi Besar (Calidris tenuirostris)

Kedidi Besar (Foto: Erik Sulidra)

Spesies ini juga merupakan burung akuatik. Mereka mencari makanan di pantai berlumpur. Biasanya mereka memakan cacing dan udang-udangan.

Kedidi besar juga merupakan burung migran. Ketika musim panas, spesies ini terbang ketika ke Rusia untuk berkembang biak, kemudian kembali ke Australia dan Asia Tenggara – termasuk Indonesia – ketika musim dingin.

Sama seperti burung gajahan timur, burung kedidi besar memiliki ancaman berupa berkurangnya habitat yang layak di sekitar jalur migrasinya.

 

3. Betet Ekor-panjang (Psittacula longicauda)

Betet Ekor-panjang (Foto: Erik Sulidra)

Jenis burung liar yang satu ini adalah burung endemik. Artinya hanya terdapat di Indonesia dan sekitarnya. Persebarannya memang hanya meliputi Indonesia dan Malaysia. Spesies burung betet ini selain terkenal karena warna bulunya yang berwarna-warni, ia juga memiliki suara yang nyaring seperti berteriak. Burung ini seringkali terbang di pohon-pohon tinggi di hutan atau bahkan di taman-taman kota.

Sayangnya burung ini saat ini terancam punah karena perburuan dan perdagangan liar, serta berkurangnya habitat alami burung betet ini. Hal ini menyebabkan upaya pelestariannya menjadi sangat penting.

 

4. Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)

Rangkong Badak (Foto: Erik Sulidra)

Rangkong badak adalah salah satu hewan yang eksotis tidak hanya bagi Indonesia, tetapi seluruh dunia. Spesies ini juga adalah hewan endemik di wilayah Indonesia dan Malaysia. Rangkong badak adalah burung pemakan buah, sehingga seringkali disebut ‘petani hutan’. Oleh karena itu berkurangnya pohon di hutan sangat mempengaruhi kemampuan mencari makannya.

Di samping itu hewan ini sangat mudah untuk dikenali. Spesies ini memiliki balung yang khas di kepalanya. Kira-kira apa fungsi dari balung ini?

 

5. Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus)

Kangkareng Hitam (Foto: Erik Sulidra)

Kangkareng hitam adalah salah satu jenis burung enggang terkecil. Ukurannya hanya berkisar 60-65 cm. Satwa liar ini juga disebut sebagai petani hutan bertubuh kecil sebab fungsinya di alam adalah dengan memancarkan biji dari buah yang dimakan.

Menurut Rangkong Indonesia, dalam rentang tahun 2000–2012, diperkirakan 18,1% habitat kangkareng hitam telah berkurang. Hal ini menyebabkan turunnya populasi kangkareng hitam. Pasalnya, burung ini membutuhkan pohon berdiameter besar dengan tinggi sekitar 20–50 meter sebagai tempat bersarang.

 

6. Bangau Storm (Ciconia stormi)

Bangau Storm (Foto: Erik Sulidra)

Burung akuatik dengan paruh merah ini tersebar luas di Sumatra dan Kalimantan. Burung bangau storm tinggal di daerah lahan basah seperti rawa-rawa, sungai, hutan rawa, dan gambut.

Saat ini burung liar ini termasuk salah satu burung yang terancam punah. Menurut Redlist IUCN populasinya di seluruh dunia hanya tersisa sekitar 260-330 ekor. Penyebab utama berkurangnya populasi bangau storm adalah berkurangnya habitat satwa Indonesia ini.

 

7. Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus)

Bangau Tongtong (Foto: Erik Sulidra)

Burung bangau tongtong merupakan salah satu burung yang bertubuh besar, dengan panjang tubuhnya mencapai 1,15 meter dan rentang sayap kurang lebih dua meter. Burung ini juga terkenal tenang dan hidup soliter. Mereka baru berkelompok ketika musim kawin tiba.

Burung berkepala botak ini saat ini hanya tersisa tidak lebih dari 10.000 ekor yang tersebar di Asia Tenggara dan Asia Selatan, menjadikannya salah satu burung yang terancam punah di dunia.

 

8. Rangkong Gading (Rhinoplax vigil)

Rangkong Gading (Foto: Erik Sulidra)

Burung rangkong gading adalah burung enggang yang paling terancam punah. Hal ini disebabkan oleh perburuan liar oleh para pemburu baik dalam negeri maupun luar negeri. Balung dari rangkong inilah yang diincar oleh pemburu karena memiliki ciri khas berupa balung yang lebih keras dan padat daripada enggang yang lain serta memiliki bentuk yang khas.

Upaya perlindungan rangkong ini sudah dilakukan oleh Pemerintah dan organisasi perlindungan hewan. Saat ini perburuan dan perdagangan balung/cula dari rangkong sudah dilarang.

 

Itulah burung-burung unik yang teramati di Pulau Kalimantan yang terancam punah. Mengingat banyaknya burung yang terancam kepunahan, mari kita bantu melindungi populasi mereka di alam. Hindari perburuan satwa liar terutama burung serta tidak merusak habitat mereka. Hal ini supaya para satwa liar dapat hidup secara bebas dan tentram di alam.

Nanjung, Beruang Bertangan Satu Kembali ke Alam Liar

Nanjung tidak pernah menyangka, setelah kehilangan habitat, dia juga kehilangan sebelah lengannya. Semuanya berawal ketika seorang warga desa Sungai Nanjung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, sengaja memasang tali jerat untuk mengangkap beruang yang memasuki kebun miliknya. Pemasang jerat mengaku memasang jerat karena ada beberapa beruang yang sering memasuki kebunnya dan memakan madu yang ada di pondoknya. Jerat yang dipakai adalah tali nilon sepanjang 2,5 meter yang dipasang di belakang pondoknya. Jerat ini dipasang pada sore hari dan keesokan paginya, Rabu, 20 November 2019 seekor beruang tampak terkena jerat.

Warga yang mengetahui adanya jerat ini kemudian melaporkan beruang ini kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang. Menindaklanjuti laporan ini, tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang bersama tim IAR Indonesia meluncur ke lokasi.

Ketika tim datang, beruang jantan yang kemudian diberi nama Nanjung ini tampak stress dan agresif, dengan putus asa berusaha menarik dirinya lepas jadi jerat. Usaha yang terlihat sia-sia karena makin keras beruang menarik tangannya, makin erat pula jerat itu mengikat tangannya.

Tim memutuskan menggunakan sumpit untuk membius beruang berbobot 40 kg ini. Setelah berhasil dibius, tim memotong jerat yang sudah menyiksanya sehari semalam dan dokter hewan IAR Indonesia membersihkan luka-lukanya.

Ketika itu, Nanjung dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia yang mempunyai fasilitas perawatan satwa untuk menjalani perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Empat hari setelah berada di kendang karantina IAR Indonesia, tim medis menemukan pembengkakan pada tangan kanan Nanjung yang terkena Jerat.

Hari berikutnya, kondisi Nanjung memburuk, tulang jari tangan kanannya mencuat karena lapisan kulit dan daging yang membungkusnya sudah rusak dan sebagian membusuk. Setelah melalui pemeriksaan lebih jauh dengan mengunakan sinar X dan melakukan diskusi yang melibatkan BKSDA Kalbar, tim medis memutuskan untuk mengamputasi tangan orangutan ini pada tanggal 25 November 2019. Amputasi dilakukan sebatas lengan untuk mencegas infeksi dan pembusukan menyebar lebih jauh.

Hasil pemeriksaan ulang pada tanggal 1 Desember menunjukan lukanya sudah pulih dan saat ini Nanjung sudah siap dikembalikan ke habitatnya. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari 1 bulan, kahirnya Nanjung bisa pulang ke habitat aslinya. BKSDA Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia bekerjasama dengan PT. Hutan Ketapang Industri (HKI) melepaskan Nanjung ke Kawasan Hutan milik PT. HKI di Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat, 17 Januari 2020.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L.Sanchez mengatakan meskipun kehilangan lengannya,  beruang ini akan mampu bertahan hidup di alam. “Kami yakin beruang ini akan mampu bertahan hidup karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Selain itu kecerdasan yang dimiliki beruang ini akan menambah kesempatannya untuk bertahan hidup di alam,” ujarnya.

“Masalah sebenarnya tidak akan selesai dengan melepaskan Nanjung ke habitat yang lebih aman. Kasus beruang terkena jerat di kebun warga hanyalah gejala, dan besar kemungkinan kasus seperti ini akan terulang lagi. Penyakit sebenarnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan satwa liar dilindungi serta konversi dan alih fungsi hutan menjadi kebun dan pemukiman. Hutan yang kian menyempit menjadikan ruang gerak beruang ini makin terhimpit. Tidak apa pilihan lain baginya untuk bertahan hdup selain mencari makan di rumah warga,” jelasnya lagi.

Status konservasi beruang di IUCN ada vulnerable atau terancam. Meskipun beruang madu dilindungi oleh undang-undang di Indonesia sejak tahun 1973 dan bahkan diperkuat dengan PP no 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, beruang madu saat ini terancam oleh perusakan habitat, kebakaran hutan, serta perburuan untuk peliharaan atau untuk diambil bagian tubuhnya.

Pernyataan dari kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta: Sudah saatnya manusia harus berubah. Sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan. Semua bencana alam, konflik satwa dan lain lain hanyalah pesan. Pesan yang disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. Ingat lah bahwa konflik2 satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama sedang menuju pada kepunahan.

Inventarisasi dan Pemantauan Satwa Liar untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati

Satwa liar memiliki peranan penting di dalam keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Keanekaragaman jenis dan keanekaragaman fungsionalnya berkontribusi pada dinamika proses dari ekosistem ini. Misalnya, beberapa kelompok mamalia dan burung terlibat langsung dalam proses regenarasi hutan melalui polinasi, pemencaran biji, dan siklus nutrisi. Namun demikian, mereka terus terancam oleh perburuan, fragmentasi, dan kehilangan habitat. Semua faktor ancaman tersebut dapat menyebabkan kepunahan lokal dan pada akhirnya akan berdampak pada dinamika ekosistem hutan secara keseluruhan.

Kemampuan untuk secara langsung memantau status dan perubahan dari populasi-populasi satwa liar dalam konteks spasial-temporal adalah elemen kunci dari konservasi dan pengelolaan ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. Inventarisasi populasi satwa liar merupakan langkah penting pertama dalam penyediaan data dasar (baseline) untuk memahami struktur, kekayaan, kelimpahan, dan sebaranya di habitat alami.

Tim survey biodiversity memasang kamera jebak di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Di Kalimantan Barat, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah salah satu kawasan penting sebagai “rumah” bagi satwa liar dan beragam kekayaan hayati lainya. Selain avifauna (burung) dan herpetofauna (reptil dan amfibi), mamalia merupakan kelompok satwaliar dengan kekayaan dan keragaman serta peran ekologis yang sangat penting. IAR Indonesia sejak mulai aktif berkegiatan di TN Bukit Baka Bukit Raya pada 2015, menaruh perhatian pada keberlangsungan populasi-populasi satwa liar di kawasan konservasi ini. Salah satunya, pada April 2019, dilakukan kegiatan inventarisasi dan pemantauan satwa liar menggunakan perangkap kamera yang masih berlangsung hingga sekarang. Perangkap kamera banyak digunakan dalam studi satwa liar dalam dekade terakhir karena dinilai cukup efisien dan mudah dilakukan.

Survei tersebut bertujuan untuk memperoleh daftar inventarisasi dari semua spesies mamalia serta satwa liar lainya. Selain itu, secara lebih spesifik, survei perangkap kamera bertujuan mengestimasi kekayaan jenis, mengevaluasi upaya pengambilan sampel, mengukur keanekaragaman spesies dan kelimpahan relatif, serta memperkirakan tingkat okupansi dari komunitas satwaliar. Hasil survei ini kemudian diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar dalam rencana pemantauan dan pengelolaan populasi satwa liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di masa mendatang.

Kucing Teluk ( Pardofelis badia) yang tertangkap kamera jebak di kawasan TNBBBR.

Dari sebanyak 21 unit kamera jebak yang dipasang di area seluas ±7,4 kilometer persegi (±740 hektar), di dalam 1.424 hari perangkap kamera kami mencatat sedikitnya terdapat 17 jenis satwa liar termasuk 15 jenis mamalia berukuran sedang dan besar serta dua jenis burung. Sejak April 2019 hingga Agustus /2019, kami memperoleh total 148 gambar independen, di antaranya dapat diidentifikasi hingga tingkat spesies. Spesies yang paling sering tertangkap perangkap kamera adalah beruk (Macaca nemestrina, 32 foto) dengan rerata tingkat jebakan 3,32 foto independen per 100 hari jebak, diikuti oleh kijang merah (Muntiacus atherodes, 20 foto, tingkat jebakan 2,04), dan kijang muntjak (Muntiacus muntjak, 15 foto, tingkat jebakan 1,47). Beruk merupakan spesies yang tertangkap jebakan hampir di semua lokasi perangkap kamera.

Kami mendeteksi keberadaan beberapa spesies yang terdaftar dalam Daftar Merah IUCN termasuk trenggiling (CE), beruang madu (VU), dan ruai (NT). Dalam survei kami, ada sepuluh species resident seperti ruai, musang, dan babi berjanggut. Sementara itu terdapat tujuh spesies lain yang jarang terdeteksi yang hanya tercatat satu kali selama periode sampling (hingga Agustus 2019). Salah satu spesies yang paling jarang dijumpai adalah trenggiling yang terdaftar sebagai Kritis dalam Daftar Merah IUCN 2017 dan Appendix I CITES. Trenggiling adalah salah satu dari satwa yang dilindungi yang paling banyak diburu dan dieksploitasi di Asia Tenggara. Seperti spesies trenggiling lainnya, trenggiling Sunda diburu untuk kulit, sisik, dan dagingnya, digunakan dalam pembuatan pakaian dan obat tradisional. Meskipun dilindungi, perdagangan ilegal telah menyebabkan penurunan ukuran populasi jenis ini dengan cepat.

Empat mamalia terestrial yang juga jarang dijumpai yang kami deteksi dengan hanya satu foto adalah landak, kucing batu, tufted ground squirrel, dan biawak dumeril. Hampir semua dari tujuh satwa yang jarang tersebut relatif sulit diamati karena kualitas gambar yang rendah, dan perilakunya yang tergolong satwa nokturnal. Selama kegiatan IAR di TNBBBR berjalan, staf lapangan jarang menjumpai ruai, trenggiling sunda, dan atau kucing batu. Hal ini menunjukkan bahwa kamera jebak cukup berguna untuk menginventarisir satwa liar yang elusive (sulit dijumpai). Dua spesies burung, ruai, dan crested partridge yang kami deteksi terdaftar sebagai spesies yang hampir terancam (NT), Appendiks II dan III CITES. Ruai yang tertangkap kamera jebak sebanyak tujuh kali dikenal sebagai satwa endemik Kalimantan.

Dari hasil kami, evaluasi tentang berapa lama kamera harus dioperasikan masih belum dapat ditentukan secara tepat karena kurva akumulasi masih belum menunjukkan daerah plateu. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa upaya survei yang lebih lama dan lebih besar masih diperlukan untuk merekam beberapa spesies satwa liar lainya. Pada prinsipnya, semakin besar ukuran sampling atau periode pengambilan sampel yang lebih lama, semakin banyak spesies akan dicatat. Kurva sampling ini naik relatif cepat pada awalnya, kemudian jauh lebih lambat dalam sampel selanjutnya seiring bertambahnya taksa yang jarang dijumpai. Hasil survei kami menunjukkan bahwa usaha pengambilan sampel yang lebih besar atau periode sampling yang lebih lama masih diperlukan. Diharapkan ketika kurva akumulasi spesies mencapai asimtot, kita dapat cukup yakin bahwa seluruh spesies yang ada di lokasi survei telah tercatat.

Indeks keanekaragaman spesies juga digunakan sebagai parameter dasar untuk program pengelolaan satwa liar yang bertujuan untuk memantau struktur dan komposisi komunitas satwa liar dari waktu ke waktu. Indeks keanekaragaman yang paling umum digunakan dalam ekologi adalah keanekaragaman Shannon dan keanekaragaman Simpson. Keanekaragaman Shannon dan Simpson meningkat seiring dengan meningkatnya kekayaan jenis, untuk pola kemerataan tertentu, dan meningkat seiring dengan meningkatnya kemerataan. Estimasi indeks keanekaragaman kami menunjukkan bahwa komunitas satwa liar di Resor Mentatai di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.

Penulis: Ahmad Jabbar

Menjaga Kelestarian Bentang Alam Batutegi

Tak seperti biasanya, rumah bercat kuning di ujung jalan itu terlihat ramai. Dua orang tampak mondar-mandir bergantian membawa tas besar, sementara satunya fokus mengikat barang-barang di atas motor trail. Sabtu (24/07) pagi itu menjadi waktu yang sibuk bagi tim IAR Indonesia mengemas perlengkapan dan bersiap masuk ke hutan untuk melakukan survei di kawasan Hutan Lindung Batutegi.

Survei Keanekaragaman Hayati dengan menggunakan metode smart-patrol ini rutin dilakukan dan merupakan salah satu program kerja sama antara IAR Indonesia dengan Kesatuan Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Batutegi sebagai pengelola kawasan. Sebagai informasi, smart-patrol adalah aplikasi penunjang tim lapangan yang bukan sekadar perangkat untuk mengumpulkan data, namun lebih dari itu, dikembangkan berdasarkan pengalaman praktis dan dibuat untuk membantu perlindungan kawasan konservasi.

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung, kaya akan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Selain memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan seperti tata air, pengendali erosi, dan pemelihara kesuburan tanah, kawasan dengan luasan sekitar 58.000 ha tersebut juga menjadi daerah aliran sungai (DAS) prioritas di Provinsi Lampung, karena fungsinya sebagai catchment area untuk sumber air irigasi.

Tidak hanya itu, HL Batutegi menjadi salah satu rumah dari beragam jenis primata seperti, siamang (Hylobates syndactylus), kukang sumatera (Nycticebus coucang), owa (Hylobates spp), lutung simpai (Presbytis melalophos) serta menjadi habitat yang nyaman bagi kambing gunung (Capricornis sumatraensis), beruang madu (Helarctos malayanus), kucing emas (Pardofelis temminckii), dan tapir (Tapirus indicus).

Survei rutin dilakukan untuk menginventarisir keragaman hayati di kawasan HL Batutegi.

Untuk menjaga kebermanfaatan dan potensi keragaman hayati di dalamnya bukanlah hal mudah. Sejumlah ancaman seperti perburuan satwa, pembukaan lahan secara ilegal yang sering mengintai menjadi tantangan untuk menjaga kelestarian bentang alam Batutegi.

“Secara berkala, seraya melakukan inventarisasi keragaman hayati tidak jarang saya menemukan jerat, jejak perburuan hingga perambahan hutan di dalam kawasan,” tutur Miftakhul Huda, Koordinator IAR Indonesia untuk Program Konservasi Batutegi. Batutegi lanjut Huda bukan sekadar hutan, melainkan sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya yang harus dijaga dan dikelola secara bijak.

Huda mengungkapkan, survei yang dilakukan sejak awal 2019 ini menemukan setidaknya puluhan kasus aktivitas perburuan satwa liar di dalam kawasan HL Batutegi. Temuan tersebut berupa berbagai jenis jerat seperti sling kawat, rotan, getah, hingga jaring untuk menangkap burung. Menurut dia, tingginya angka temuan tanda perburuan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya populasi satwa liar. Hal ini berdampak buruk bagi keberadaan dan kelangsungan hidup satwa liar dan ekosistem di dalamnya.

Selain ancaman, tanda-tanda keberadaan satwa juga teridentifikasi lewat survei ini. Tanda itu terdiri dari tapak/jejak, suara, cakaran, kubangan, bekas pakan, kotoran, sarang dan gesekan badan yang terdiri dari kelas primata, aves, dan mamalia. Ini menggambarkan potensi HL Batutegi yang memang kaya akan keragaman hayatinya.

Lewat Program Survei Keanekaragaman Hayati yang dilakukan secara berkala bersama KPHL Batutegi, IAR Indonesia berupaya menjaga dan melestarikan bentang alam HL Batutegi. Kegiatan ini berupa pendataan kekayaan keragaman hayati yang dilakukan secara rutin bersama Polhut KPHL, masyarakat lokal, serta relawan. Pelibatan masyarakat di sini bertujuan untuk dapat menumbuhkan rasa memiliki dan menjaga HL Batutegi. “Selain pendataan, semua temuan yang dicatat tentu nantinya diharapkan menjadi rekomendasi dan strategi pengelolaan konservasi kawasan Batutegi selanjutnya,” tutup Huda.