Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Investasi Bagi Bumi dengan Restorasi

By the way gaes, kemarin pas Hari Bumi 22 April, kalian masih ingat dengan tema tahun ini kan ya? So tahun ini tuh, dunia ngerayain Hari Bumi dengan tema “Invest in Our Planet. What Will You Do?”. Kayaknya nggak perlu dijelasin panjang lebar deh, karena tagline ini tuh udah kode keras banget supaya kita segera mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang bisa merusak bumi terutama yang bikin iklim di bumi makin ga jelas. Di website earthday.org aja udah dibilang tuh: “Now is the time for the unstoppable courage to preserve and protect our health, our families, our livelihoods.” Tuh kan!

Nah, kami di Yayasan IAR Indonesia udah mulai dari sejak kami berdiri nih, yaitu 14 tahun lalu, untuk ngejalani program-program yang tujuannya untuk merawat dan memulihkan bumi terutama kawasan hutan. Salah satunya program restorasi nih. So, apa sih program restorasi ini? Restorasi ini bukan jenis restoran lho, ini tuh penanaman pohon di lahan-lahan hutan. Sesuai namanya, tujuannya itu supaya kawasan hutan yang rusak atau kehilangan pohon-pohon, jadi terestorasi atau terpulihkan kembali, alias ada lagi tuh anggota keluarga pepohonannya.

Persiapan bibit pohon yang hendak ditanam (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Sejarahnya kami bikin program ini berasal ketika nerima banyak laporan soal orangutan yang masuk ke kawasan Desa Pematang Gadung, di Kalimantan Barat. Jadilah konflik tuh. Warga desa kesel karena orangutan pada masuk ke perkebunan mereka dan makan hasil kebun. Mereka kayak gini tentu ada sebabnya, ya iyalah. Habitatnya mulai terganggu, berkurang kawasan hutannya, sehingga pohon-pohon yang biasanya jadi sumber pakan mereka mulai menipis. Hal ini makin parah sewaktu ada kejadian kebakaran hutan di kawasan Pematang Gadung pada 2015.   

Setahun kemudian, tepatnya 2016, kami mulai deh program restorasi ini. Kami melakukannya di lahan tidur terbuka serta area hutan yang sempat terdampak kebakaran hutan. Tujuan utama restorasi ini sebenarnya buat memperbaiki habitat orangutan dengan cara menanam pohon-pohon yang bisa menjadi sumber pakan buat orangutan. Jadi kan kalau di hutan sumber makanan mereka sudah cukup, mereka nggak akan masuk ke lahan manusia.

So, kita mulai tuh program ini dengan tentu saja menanam pohon-pohon yang disukai orangutan. Apa aja tuh? Banyak sebenarnya. Kita sebut sebagian ya. Ada kayu ara, medang, ubah, rambutan hutan, nangka hutan, dan kubing. Nah, abis menanam, masih ada lanjutannya tuh. Kami kemudian harus memastikan pohon-pohon itu tumbuh besar dengan baik.

Penanaman pohon di lahan restorasi (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Untuk tahapannya sendiri, kami memulai penanaman dengan melakukan survei lokasi terlebih dulu. Survei lokasi ini untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam dan bisa tumbuh di area itu. Setelah melakukan survei, tim restorasi harus melakukan pembersihan dan bikin plot tanam. Pembersihan ini perlu dilakukan karena semak dan rumput yang ada bisa menganggu pertumbuhan tanaman. Setelah bersih dan plot tanam terbentuk, dilakukan pencarian bibit, penyemaian, dan penanaman. Bibit yang dipilih biasanya diambil dari hutan di sekitar lokasi restorasi supaya bibit yang ditanam cocok dengan kondisi area tanam. Tujuannya ya biar tanaman yang ditanam ini mampu bertahan di musim panas dan musim penghujan. Setelah bibit ditanam, tim akan melakukan monitoring, perawatan, dan penanaman sisip untuk menggantikan bibit yang ditemukan mati. Monitoring ini dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman.

Restorasi ini tidak sesimpel menanam dan bersantai menunggu pohon tumbuh besar. Tantangannya lumayan banyak lho, salah satu yang paling besar adalah cuaca. Kadang, kalau sedang musim hujan, air akan membanjiri lokasi tanam sehingga mengakibatkan banyak bibit yang mati akibat busuk akar. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah menanam bibit asli yang memang cocok dengan daerah tersebut. Kalau kematian bibit tidak bisa dihindari, biasanya tim restorasi akan melakukan tanam sisip di musim kemarau untuk menggantikan bibit yang mati.

Musim kemarau tuh pelik juga gaes. Apalagi kalau kemaraunya panjang beut. Potensi kebakaran hutan dan lahan jadi meningkat. Nah, biar bibit-bibit itu nggak mati, aktivitas penyiraman ditingkatkan dan membuat sekat bakar dengan pohon jenis leban, gelam, dan ubah yang mampu hidup bahkan saat sudah terbakar. Meskipun upaya pencegahan sudah dilakukan semaksimal mungkin, pada tahun 2019 terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan 98% areal restorasi di Hutan Desa Pematang Gadung habis terbakar. Meskipun begitu, tim kami tidak putus asa. Kami kembali bekerja keras dan akhirnya, dalam waktu satu tahun, lokasi ini kembali hijau.

Setelah kegiatan restorasi ini berjalan dengan lancar di Desa Pematang Gadung, program yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung, serta Dinas Kehutanan Kalimantan Barat ini semakin berkembang dan dilanjutkan di beberapa lokasi lain seperti Hutan Lindung Gunung Tarak di Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Kayong Utara, serta di pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Desa Sungai Awan, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.

Sampai saat ini total sudah tertanam lebih dari 100 ribu bibit di lahan seluas 201 ha di wilayah Kalimantan Barat. Targetnya nih gaes, kebutuhan pakan orangutan liar terpenuhi dengan banyaknya pohon yang tumbuh dan hidup dengan baik di area yang semakin bertambah.

Salah satu lokasi restorasi kami di Pulau Rangkong, Ketapang, Kalimantan Barat (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Tidak hanya bermanfaat bagi alam dan orangutan, program restorasi ini juga membantu perekonomian warga desa. Di Desa Pematang Gadung sendiri, progam ini memberikan pekerjaan kepada 21 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok pembuat ecopolybag. Ya, kita nanem pohonnya pake ecoplybag yang terbuat dari anyaman daun nipah, jadi program kami ini anti plastik ya gaes. Selain itu, program ini juga menyediakan lapangan pekerjaan yang melibatkan 22 orang di seluruh site restorasi untuk melakukan penanaman dan perawatan pohon. So, inilah sebagian upaya kami bagi bumi. What about you?

Memulihkan Hutan Hujan untuk Generasi Masa Depan

Belum pudar dari ingatan ketika pada akhir Juli 2019, selepas makan siang bersama, kami mendadak disibukan dengan informasi adanya kebakaran besar, tidak jauh dari lokasi hutan rehabilitasi orangutan IAR Indonesia Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang. Asap hitam pekat membubung ke udara menyesakan napas, serpihan arang dan abu beterbangan dibawa angin memerihkan mata. Sejak hari itu, selama hampir dua bulan penuh, kami berjuang sekuat tenaga memadamkan api yang berkobar siang dan malam.

Lahan Restorasi Sungai Deras yang terbakar

Dibantu dengan berbagai pihak mulai dari TNI, Polisi, Pemda, BPBD, BPK, Damkar, dan masyarakat sekitar, kami akhirnya berhasil menghentikan si jago merah sebelum bisa menyentuh sekolah hutan kami, tempat orangutan rehabilitasi menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuan bertahan hidup di alam sebagai orangutan.

Api memang telah padam, namun dampaknya mengerikan dan masih terasa hingga saat ini. Kebakaran ini turut menghancurkan rumah bagi ribuan spesies tumbuhan dan ratusan jenis burung dan mamalia. Sebagian besar adalah satwa langka seperti macan tutul, beruang madu, burung enggang, trenggiling, dan orangutan Kalimantan. Sejak kebakaran 2019 ini, belasan orangutan telah diselamatkan dari kawasan yang terbakar dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah.

Orangutan-orangutan malang ini dengan putus asa mencari makan di kebun warga dan seringkali menyebabkan konflik dengan manusia.Walaupun berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke hutan yang lebih aman, hal ini bukanlah solusi utama atas permasalahan konflik manusia-orangutan. Kabar buruk lainnya, 98% lahan restorasi kami di Sungai Deras di dalam kawasan Hutan Desa  yang kami bangun sejak tahun 2017 untuk mengembalikan hutan hujan yang hancur karena kebakaran 2015 habis terbakar oleh kebakaran 2019 ini.

 

Sejumlah staf restorasi IAR Indonesia merawat bibit pohon hutan di dalam rumah pembibitan Sungai Deras di dalam kawasan Hutan Desa Pematang Gadung

Meskipun demikian, kami tidak putus asa. Pelan tapi pasti, kami tetap melanjutkan komitmen kami untuk memulihkan hutan yang hancur. Untuk menyelamatkan hutah hujan yang tersisa serta keanekaragan hayati di dalamnya, IAR Indonesia terus bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pematang Gadung dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melakukan proyek restorasi di Hutan Desa Pematang Gadung dan Hutan Lindung Gunung Tarak di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

Sampai saat ini, kami telah berhasil menanam lebih dari 40 ribu bibit pohon hutan di lahan seluas 75 hektar. Jumlahnya akan terus bertambah dengan adanya ribuan bibit pohon yang sudah siap tanam. Selain penting untuk mengembalikan hutan dan membantu orangutan dan spesies lainnya , proyek ini juga penting sebagai mata pencaharian alternatif bagi warga desa. Proyek restorasi ini melibatkan serta memberikan pekerjaan kepada puluhan orang sebagai pencari bibit tanaman hutan, penyemai, penanam, serta perawat pohon sampai berusia 2 tahun. Proyek restorasi ini sempat meraih penghargaan utama dalam kategori Lingkungan dan Konservasi di Charity Awards 2019, sebuah penghargaan paling bergengsi dan telah lama dilakukan di sektor amal. Penghargaan yang diberikan di London Tower ini dianugerahkan ke IAR untuk proyek restorasi di Kalimantan untuk melindungi orangutan Kalimantan dan spesies yang terancam punah lainnya.