Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Kalau Banyak Capung, Berarti Lingkungannya Sehat? Batutegi Punya Jawabannya!
Pernah melihat capung terbang pelan di atas permukaan sungai?
Biasanya kita cuma menganggapnya bagian dari pemandangan alam. Datang sebentar, lalu pergi. Tidak terlalu dipikirkan.
Padahal, kehadiran capung sebenarnya bisa “bercerita” banyak hal.
Dari capung, kita bisa tahu apakah air di sungai itu masih bersih, apakah ekosistemnya masih seimbang, bahkan apakah lingkungan di sekitarnya masih sehat atau tidak.
Hal inilah yang ingin dipahami dalam penelitian berjudul “Inventory of Dragonfly Types (Odonata) Around The Batutegi Protected Forest River” oleh Widayanti dan tim.
Di Hutan Lindung Batutegi, Lampung, para peneliti mencoba membaca “cerita” itu, bukan lewat alat canggih, tapi lewat capung-capung yang beterbangan di tepi sungai.
Penelitian di Balik Capung Batutegi
Untuk memahami “cerita” dari capung-capung ini, para peneliti melakukan pengamatan langsung di kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung, tepatnya di sekitar aliran sungai yang menjadi habitat utama capung.
Penelitian ini dilakukan pada Januari 2024 di empat titik yang berbeda, mulai dari aliran sungai besar (bagian hulu dan hilir), sungai kecil, hingga area rawa dengan vegetasi semak. Tujuannya sederhana: melihat jenis capung apa saja yang hidup di masing-masing kondisi lingkungan tersebut.
Dibandingkan menggunakan alat yang rumit, pengamatan dilakukan dengan cara yang cukup sederhana. Para peneliti berjalan menyusuri jalur sepanjang sungai, mengamati capung yang terlihat, lalu menangkap dan mendokumentasikannya untuk diidentifikasi.
Pengamatan dilakukan dua kali dalam sehari:
pagi sekitar pukul 09.00
sore sekitar pukul 16.00
Waktu ini dipilih karena capung biasanya aktif terbang pada kondisi tersebut. Hasilnya, ditemukan keanekaragaman capung yang cukup tinggi di kawasan ini.
Apa yang Ditemukan di Sungai Batutegi?
Spesies capung Zygoptera di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi: (A) Neurobasischinensis jantan, (B) Neurobasis chinensis betina, (C) Heliochypa fenestrata, (D) Pseudagrionpruinosum, (E) Dhyspaea dimidiata (F) Copera marginipes, (G) Prodasineura collaris, (H)Nososticta coelestina. | Image via dokumentasi penelitian
Dari hasil pengamatan tersebut, peneliti berhasil mengidentifikasi 21 spesies capung yang tersebar di empat lokasi berbeda di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan Batutegi menyimpan keanekaragaman capung yang cukup tinggi.
Spesies-spesies ini berasal dari dua kelompok besar dalam ordo Odonata, yaitu Anisoptera (capung biasa) dan Zygoptera (capung jarum).
Beberapa poin penting dari temuan ini:
Total ditemukan 21 spesies capung dari 7 famili
Famili Libellulidae menjadi yang paling dominan dengan 13 spesies
Spesies capung tersebar berbeda di setiap lokasi pengamatan
Dominasi Libellulidae bukan hal yang mengejutkan.
Kelompok ini memang dikenal memiliki jumlah anggota yang besar dan mampu hidup di berbagai tipe habitat. Selain itu, capung dari famili ini juga merupakan predator yang aktif, sehingga lebih sering terlihat dibandingkan jenis capung lain yang lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan.
Namun, yang menarik bukan hanya jumlahnya, melainkan bagaimana capung tersebar di tiap lokasi. Tidak semua area memiliki jumlah dan jenis capung yang sama, yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di sekitar sungai sangat berpengaruh terhadap keberadaan mereka.
Kenapa Capung Bisa Banyak di Batutegi?
Spesies capung Anisoptera di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi: (A) Crocothemisservilia, (B) Orthetrum glaucum (betina), (C) Acisoma panorpoides, (D) Brachydiplax chalybea,(E) Neurothemis ramburii, (F) Orthetrum sabina, (G) Orthetrum chrysis, (H) Trithemis aurora, (I)Neurothemis fluctuans, (J) Orthetrum pruinosum, (K) Orthetrum testaceum, (L) Pantala flavences, (M) Trithemis festiva, (N) Phyllogomphoides bifasciatus
Setelah melihat hasilnya, muncul pertanyaan berikutnya: kenapa capung bisa begitu beragam di Batutegi?
Ternyata, jawabannya bukan cuma satu faktor. Ada beberapa kondisi lingkungan yang secara bersama-sama membuat kawasan ini cocok untuk capung:
Perairan sebagai habitat utama: Capung sangat bergantung pada air, terutama saat fase nimfa yang hidup di dalam perairan. Di Batutegi, keberadaan aliran sungai seperti Way Sekampung, Way Sangarus, dan Way Rilau menyediakan habitat yang ideal untuk siklus hidup capung.
Vegetasi sebagai tempat hidup: Tanaman di sekitar sungai berfungsi sebagai tempat capung bertengger, berlindung, dan bertelur.
Sumber makanan yang melimpah: Ekosistem sungai yang sehat menyediakan banyak mangsa seperti serangga kecil dan larva, yang menjadi sumber makanan bagi capung di berbagai fase hidupnya.
Kenapa Tidak Semua Sungai Punya Capung yang Sama?
Kalau dilihat sekilas, semua lokasi penelitian sama-sama berada di sekitar sungai. Tapi hasilnya berbeda: ada lokasi yang capungnya banyak, ada juga yang jauh lebih sedikit.
Dari sini, terlihat bahwa tidak semua habitat perairan punya kondisi yang sama di mata capung.
Beberapa temuan penting dari penelitian ini:
Sungai besar dan area terbuka cenderung lebih kaya spesies: Lokasi dengan aliran sungai besar dan area yang lebih terbuka mencatat jumlah capung yang lebih banyak.
Rawa dengan semak juga cukup mendukung: Area rawa yang tidak terlalu tertutup masih memungkinkan cahaya masuk, sehingga tetap mendukung aktivitas capung.
Sungai kecil dengan vegetasi rapat justru paling sedikit capungnya: Di lokasi ini, pepohonan dan semak yang terlalu lebat menghalangi masuknya cahaya matahari, sehingga jumlah capung yang ditemukan jauh lebih sedikit.
Bagi capung, habitat yang ideal bukan hanya soal ada air, tetapi juga soal akses cahaya matahari, struktur vegetasi, dan ruang untuk beraktivitas. Cahaya matahari penting karena membantu capung menghangatkan tubuh dan menguatkan otot sayap sebelum terbang.
Apa Makna Capung Ini Bagi Ekosistem Kita?
Dari hasil penelitian ini, kita tidak hanya mendapatkan daftar jenis capung yang hidup di Batutegi. Lebih dari itu, kita juga bisa membaca kondisi lingkungan di kawasan tersebut.
Beberapa hal penting yang bisa kita pahami:
Capung adalah bioindikator: Kehadiran dan keanekaragaman capung bisa menjadi petunjuk kondisi lingkungan. Semakin beragam jenis capung yang ditemukan, biasanya menunjukkan kualitas ekosistem perairan yang masih baik.
Temuan ini menjadi sinyal positif bagi Batutegi: Keanekaragaman capung yang ditemukan menunjukkan bahwa sungai di Batutegi masih mampu mendukung rantai makanan dan habitat yang cukup lengkap.
Keseimbangan habitat lebih penting daripada sekadar terlihat alami: Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas ekosistem ditentukan oleh kombinasi banyak faktor yang saling mendukung.
Ini baru awal, bukan gambaran lengkap: Penelitian ini merupakan inventarisasi capung pertama di Hutan Lindung Batutegi. Artinya, kemungkinan masih ada spesies lain yang belum terdata.
Capung bisa jadi alat pemantauan lingkungan ke depan: Temuan ini membuka peluang untuk menjadikan capung sebagai bioindikator dalam pemantauan kualitas perairan di masa depan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem sungai di Hutan Lindung Batutegi masih dalam kondisi yang cukup baik. Namun, kondisi ini tentu perlu dijaga agar tidak menurun di masa depan.
Salah satu langkah penting adalah menjaga kualitas perairan, karena capung sangat bergantung pada air yang bersih, terutama pada fase hidupnya di dalam air. Perubahan kecil pada kualitas air bisa berdampak besar pada keberadaan mereka.
Selain itu, vegetasi di sekitar sungai juga perlu dipertahankan dalam kondisi seimbang. Tidak terlalu terbuka, tapi juga tidak terlalu rapat, agar tetap mendukung kebutuhan capung akan tempat bertengger sekaligus akses cahaya matahari.
Penelitian ini juga membuka peluang untuk langkah selanjutnya, yaitu menjadikan capung sebagai bioindikator dalam pemantauan lingkungan. Dengan memantau keanekaragaman capung secara berkala, kita bisa lebih cepat mendeteksi perubahan kondisi ekosistem tanpa harus selalu bergantung pada alat yang kompleks.
Ketika Kita Mulai Memperhatikan Hal Kecil
Capung mungkin tidak pernah jadi perhatian utama. Tapi dari mereka, kita bisa melihat bagaimana sebuah ekosistem bekerja, atau mulai berubah.
Penelitian di Batutegi menunjukkan satu hal sederhana: kondisi alam tidak selalu terlihat dari hal besar, tapi justru dari hal-hal kecil yang sering kita lewatkan.
Dan mungkin, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, cukup dengan mulai memperhatikan.
Tautan Jurnal
Inventory of Dragonfly Types (Odonata) Around The Batutegi Protected Forest River. Indonesian Journal of Biotechnology and Biodiversity. [Buka]
Featured image: Neurobasis chinensis (Tim Biodiv|YIARI)
Kenapa Interaksi Negatif Orangutan dan Warga Terus Terjadi? Ini Penyebab Sebenarnya
Di pinggir kebun nanas yang rapi dan berbuah lebat, seekor orangutan berdiri diam. Ia menatap lama ke arah buah-buah kuning di depannya. Dekat, sangat dekat. Tinggal melangkah sedikit saja, ia bisa makan.
Tapi ia tidak bergerak.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena satu langkah kecil itu bisa berujung besar: diusir, diserang, bahkan dibunuh.
Situasi seperti ini bukan cerita fiksi. Ini nyata terjadi di Lanskap Sentap Kancang, Ketapang, Kalimantan Barat, dan diteliti dalam jurnal “Human-Orangutan Conflict in Sentap Kancang Landscape, Ketapang District” oleh Runtu, Rifanjani, dan Darwati pada tahun 2024.
Orangutan yang masuk ke kebun warga ternyata bukan sekadar “hama” yang merusak. Dalam banyak kasus, mereka justru sedang berusaha bertahan hidup… setelah kehilangan rumahnya sendiri.
Kenapa Orangutan Bisa Sampai ke Kebun Warga?
Untuk memahami interaksi negatif ini, peneliti tidak hanya melihat dari jauh. Dalam studi yang dilakukan Runtu, Rifanjani, dan Darwati (2024), tim turun langsung ke lapangan selama sekitar lima bulan. Mereka mewawancarai warga, mengamati kondisi kebun, dan mengumpulkan data dari lembaga seperti YIARI untuk melihat gambaran utuh di lapangan.
Lonjakan interaksi negatif antara manusia dan orangutan di Sentap Kancang sangat berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar di tahun 2015 dan 2019. Kebakaran ini menghanguskan sebagian besar habitat orangutan, tempat mereka hidup sekaligus mencari makan.
Ketika hutan hilang, yang ikut hilang bukan cuma pohon, tapi juga sumber makanan alami. Dalam kondisi seperti itu, orangutan tidak punya banyak pilihan selain keluar dari habitatnya.
Dan tepat di luar hutan, mereka menemukan kebun-kebun warga yang penuh dengan buah dan sayur, sumber makanan yang paling mudah dijangkau.
Hal yang sering tidak disadari, kawasan ini bukan wilayah kecil biasa. Di Lanskap Sentap Kancang dan sekitarnya, diperkirakan ada sekitar 900–1.250 orangutan. Jumlah ini menjadikannya salah satu populasi penting di Kalimantan Barat.
Situasinya makin rumit karena sebagian besar wilayah ini merupakan hutan produksi, bukan kawasan konservasi. Artinya, perlindungannya lebih lemah dan lebih rentan mengalami perubahan, baik karena pembukaan lahan maupun kebakaran.
Apa yang Terjadi Saat Orangutan Masuk Kebun?
Potret kebun warga dan hasil tani yang kerap menjadi sasaran persinggahan orangutan/Sumber: International Journal of Social Science Research and Review
Begitu orangutan mulai masuk ke kebun, yang terjadi di lapangan tidak selalu se-ekstrem yang sering dibayangkan. Tidak semua kunjungan berakhir dengan kerusakan besar.
Dalam banyak kasus, orangutan hanya mengambil apa yang paling mudah dijangkau, seperti:
buah di bagian pinggir kebun
sayur yang siap panen
atau tanaman yang tidak terlalu terlindungi
Mereka datang, makan secukupnya, lalu pergi. Tapi di sinilah letak masalahnya.
Mayoritas warga di wilayah ini adalah petani dengan lahan yang relatif kecil, sekitar 0–2 hektare. Dengan skala seperti itu, hasil kebun bukan sekadar tambahan penghasilan, tapi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jadi ketika sebagian hasil panen diambil, dampaknya tetap terasa. Bukan karena jumlahnya selalu besar, tapi karena setiap bagian dari kebun punya nilai penting bagi pemiliknya.
Selain itu, jenis tanaman yang sering diambil juga bukan sembarangan. Biasanya yang diincar adalah komoditas yang cepat dipanen, mudah dijual, dan jadi andalan penghasilan warga. Bagi orangutan, kebun itu adalah sumber makanan yang mudah dijangkau. Bagi warga, itu hasil kerja yang nilainya besar untuk kebutuhan sehari-hari.
Kenapa Interaksi Negatif Ini Bisa Terjadi (dan Terus Berulang)?
Di Sentap Kancang, pola yang sama terus muncul dari waktu ke waktu.
Salah satu penyebab utamanya ada pada posisi kebun warga yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Tanpa pembatas yang jelas, pertemuan antara manusia dan orangutan jadi sulit dihindari.
Di beberapa lokasi, tidak ada zona penyangga yang bisa “menahan” pergerakan satwa. Kondisi ini diperkuat oleh beberapa faktor:
jarak kebun yang sangat dekat dengan area hutan
tidak adanya pagar atau pembatas yang efektif
tata ruang yang membuat kebun dan habitat saling bersinggungan
Karena faktor-faktor ini tidak banyak berubah, interaksi negatif pun ikut berulang. Setiap kali orangutan bergerak melintasi batas tersebut, potensi pertemuan dengan manusia selalu ada.
Ternyata, Interaksi Negatif Bukan Cuma Soal Kerugian
Menariknya, tidak semua warga memandang kehadiran orangutan dengan cara yang sama. Dari hasil wawancara peneliti, terlihat bahwa respons masyarakat terbentuk bukan hanya dari pengalaman langsung, tapi juga dari persepsi.
Secara umum, warga bisa dilihat dalam dua kelompok:
mereka yang pernah mengalami kerugian dan merasa dirugikan
mereka yang belum terdampak langsung, tapi merasa cemas
Kelompok pertama biasanya punya pengalaman konkret, melihat tanaman berkurang atau panen yang tidak sesuai harapan. Sementara kelompok kedua lebih dipengaruhi oleh rasa waspada, karena ada satwa liar berukuran besar yang muncul di sekitar aktivitas sehari-hari.
Keberadaan orangutan di dekat kebun atau rumah sudah cukup untuk memicu kekhawatiran.
Bukan hanya tentang apa yang benar-benar terjadi di kebun, tapi juga tentang bagaimana situasi itu dipersepsikan. Ketika pengalaman dan rasa takut bertemu, cara pandang terhadap orangutan bisa berubah.
Cara pandang yang awalnya biasa saja bisa berubah jadi lebih waspada, bahkan menolak kehadiran orangutan.
Bagaimana Warga Merespons Orangutan?
Tim Orangutan Protection Unit YIARI melakukan patroli di Desa Tempurukan (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Saat benar-benar berhadapan dengan orangutan, pilihan warga ternyata tidak selalu ekstrem seperti yang sering dibayangkan.
Dari data penelitian, mayoritas warga justru memilih langkah yang relatif aman:
68% melapor ke pihak berwenang seperti BKSDA atau lembaga konservasi
16% mencoba mengusir sendiri, biasanya dengan membuat suara keras
16% memilih menghindar atau pergi dari lokasi
Angka ini menunjukkan satu hal penting: sebagian besar warga tidak langsung bereaksi dengan kekerasan. Mereka cenderung mencari cara yang lebih aman, baik untuk diri sendiri maupun untuk satwa tersebut.
Orangutan yang masuk ke kebun atau area permukiman berpotensi dianggap sebagai “hama”. Jika interaksi negatif terus berulang tanpa penanganan yang tepat, bukan tidak mungkin muncul tindakan yang membahayakan, baik bagi manusia maupun orangutan itu sendiri.
Lantas, Bagaimana Solusinya?
Orangutan kalimantan Temon dan Mawa bersama di Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Orangutan punya wilayah jelajah yang luas dan ingatan terhadap sumber makanan. Artinya, ketika dipindahkan, mereka bisa kembali lagi ke lokasi sebelumnya, terutama jika di sana masih tersedia makanan. Jadi, memindahkan satwa bukan solusi jangka panjang.
Beberapa upaya yang sudah dilakukan antara lain:
patroli rutin oleh tim gabungan (termasuk YIARI dan BKSDA)
edukasi kepada warga agar tidak menyakiti satwa
penggunaan alat sederhana seperti meriam rakitan untuk mengusir tanpa melukai
Meriam rakitan yang dibuat oleh Partner Team/Sumber: International Journal of Social Science Research and Review
Selain itu, ada juga rekomendasi yang lebih jangka panjang, seperti:
membuat tanaman penyangga yang bukan sumber pakan orangutan di antara hutan dan kebun
membuka kemungkinan skema kompensasi atau ganti rugi bagi petani yang terdampak
Interaksi negatif seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan melindungi satu pihak. Warga perlu merasa aman, tapi orangutan juga tetap harus dilindungi. Butuh pendekatan yang lebih seimbang, yang melihat manusia dan orangutan sebagai dua pihak yang sama-sama terdampak.
Interaksi yang Kita Ciptakan Sendiri
Interaksi negatif antara manusia dan orangutan di Sentap Kancang bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, dan juga bukan masalah yang bisa selesai dengan satu langkah cepat.
Selama akar masalahnya belum dibenahi, situasi seperti ini akan terus muncul kembali.
Karena itu, tantangannya bukan lagi sekadar menjauhkan orangutan dari kebun warga, tapi mencari cara agar keduanya bisa tetap hidup berdampingan, tanpa harus saling mengorbankan.
Featured image: Orangutan kalimantan Rahman sedang berada di atas pohon, di Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Tautan Jurnal
Human Orangutan Conflict in Sentap Kancang Landscape, Ketapang District. International Journal of Social Science Research and Review. [Buka]
Kenapa Orangutan Bisa Sehat Meski Terinfeksi Malaria? Ini Rahasianya!
Kita sering mikir kalau tubuh yang sehat itu berarti benar-benar “bersih” dari penyakit. Tidak ada virus, tidak ada bakteri, apalagi parasit.
Tapi ternyata, di alam liar, ceritanya bisa berbeda.
Pada orangutan di Kalimantan, malaria bukan selalu jadi musuh yang harus dihindari mati-matian. Justru, dalam banyak kasus, mereka bisa membawa parasit malaria di dalam tubuhnya… tanpa terlihat sakit sama sekali.
Hal yang lebih mengejutkan, orangutan yang terlalu lama “bebas” dari malaria justru bisa jadi lebih rentan saat terinfeksi lagi.
Temuan ini datang dari penelitian berjudul “Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus)” yang dipimpin oleh Sanchez dan tim peneliti lintas institusi, termasuk YIARI, Freie Universität Berlin, dan University of Oxford.
Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sesuatu yang kita anggap berbahaya malah bisa berperan penting untuk menjaga mereka tetap sehat?
Penelitian selama hampir enam tahun ini mencoba menjawabnya, dan hasilnya mungkin akan mengubah cara kita melihat penyakit di alam liar.
Tidak Semua Infeksi Berarti Sakit
Orangutan kalimantan dilepasliarkan di atas pohon hutan TNBBBR (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Kalau dengar kata malaria, kebanyakan dari kita langsung membayangkan demam tinggi, tubuh lemas, dan kondisi yang cukup serius.
Tapi pada orangutan, ceritanya tidak selalu seperti itu.
Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan banyak orangutan membawa parasit malaria Plasmodium pitheci di dalam darah mereka, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali. Mereka tetap aktif, makan normal, bahkan berperilaku seperti biasa.
Kondisi ini disebut sebagai infeksi tanpa gejala (asimtomatik).
Artinya, tubuh mereka tidak benar-benar “mengusir” parasit tersebut, tetapi justru hidup berdampingan tanpa menimbulkan gangguan yang berarti.
Di sini, ada perbedaan penting yang perlu dipahami:
Terinfeksi berarti ada parasit di dalam tubuh
Sakit berarti tubuh tidak mampu mengendalikan infeksi tersebut
Pada orangutan, dua hal ini tidak selalu berjalan bersamaan.
Dari sini, muncul satu pertanyaan menarik: kalau infeksi ringan saja sudah cukup untuk “melatih” tubuh, lalu apa yang terjadi pada orangutan yang jarang atau tidak pernah terpapar sama sekali?
Penelitian 6 Tahun yang Mengungkap Rahasianya
Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti tidak hanya mengamati beberapa kasus lalu menarik kesimpulan. Mereka mengikuti kondisi orangutan dalam jangka panjang, dari Januari 2017 sampai Desember 2022, di pusat rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat.
Selama periode itu, tim peneliti mengumpulkan total 2.140 sampel darah dari 135 orangutan, dengan rata-rata lama pengamatan sekitar 4,3 tahun per individu. Dari jumlah itu, 1.351 sampel dari 132 orangutan digunakan untuk menganalisis pola infeksi tanpa gejala menurut kelompok umur.
Sampel darah ini diperiksa dengan dua cara utama:
Mikroskop, untuk melihat langsung ada tidaknya parasit malaria di dalam darah
PCR, yaitu tes laboratorium yang mencari jejak materi genetik parasit, sehingga infeksi tetap bisa terdeteksi meski jumlah parasitnya sangat sedikit
Dengan pendekatan ini, peneliti tidak hanya bisa melihat siapa yang terinfeksi, tetapi juga membandingkan:
seberapa sering infeksi muncul
seberapa tinggi kepadatan parasit di darah
kelompok umur mana yang lebih rentan mengalami malaria klinis atau sakit parah
Jadi, penelitian ini bukan sekadar mencatat “ada malaria atau tidak”, tetapi benar-benar mencoba membaca pola hubungan antara usia, riwayat paparan, dan risiko sakit pada orangutan.
Orangutan Muda Lebih Sering Terinfeksi, Tapi Justru Lebih Tangguh
Dari hasil pengamatan selama bertahun-tahun, peneliti menemukan pola yang cukup mengejutkan.
Kalau biasanya kita mengira yang sering terinfeksi pasti lebih rentan, pada orangutan justru tidak demikian.
Polanya seperti ini:
Kelompok Usia
Infeksi Tanpa Gejala
Kepadatan Parasit
Risiko Sakit Parah
Infant (bayi)
34,7%
Tertinggi
0 kasus
Juvenile (anak)
Tertinggi (45,9%)
Tinggi
Rendah
Sub-adult
26,5%
Terendah
Sedang
Adult (dewasa)
23,1%
Lebih rendah
Tertinggi
Dari tabel ini, terlihat satu pola yang cukup kontras:
Orangutan muda lebih sering terinfeksi, bahkan dengan jumlah parasit yang tinggi
Orangutan dewasa lebih jarang terinfeksi, tetapi lebih sering mengalami kondisi serius
Artinya, frekuensi infeksi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keparahan penyakit.
Menariknya lagi, pada kelompok bayi bahkan tidak ditemukan kasus malaria klinis selama periode penelitian. Padahal, mereka tetap bisa membawa parasit dalam jumlah cukup tinggi di dalam darahnya.
Temuan ini memberi petunjuk bahwa sejak usia dini, tubuh orangutan kemungkinan sudah mulai beradaptasi terhadap keberadaan parasit malaria. Bukan dengan menghilangkannya sepenuhnya, tetapi dengan mengendalikannya agar tidak berkembang menjadi penyakit yang serius.
Sebaliknya, pada orangutan yang lebih tua, paparan yang lebih jarang justru bisa membuat tubuh mereka kurang siap ketika infeksi benar-benar terjadi.
Ternyata Sistem Imun Butuh “Latihan”
Dari seluruh hasil penelitian, ada satu pola yang paling menonjol: sistem imun orangutan tidak bersifat tetap, ia perlu terus “dilatih”.
Peneliti melihat kondisi kesehatan orangutan sangat dipengaruhi oleh riwayat paparan mereka terhadap malaria, terutama dalam satu tahun terakhir.
Secara sederhana, polanya seperti ini:
Orangutan yang sering terpapar malaria tanpa gejala cenderung punya risiko sakit parah yang lebih rendah
Orangutan yang lama tidak terpapar cenderung mengalami penurunan perlindungan imun
Dengan kata lain, tubuh orangutan tampaknya tidak selalu menghilangkan parasit sepenuhnya, tetapi belajar mengendalikannya. Konsep ini sering disebut sebagai “use it or lose it,” kalau tidak digunakan, kemampuan itu bisa perlahan hilang.
Bahaya yang Tidak Terduga: Saat Tubuh Terlalu “Bersih”
Peneliti menemukan bahwa orangutan yang tidak terpapar malaria selama sekitar satu tahun memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami sakit parah saat terinfeksi kembali.
Ada paparan dalam 12 bulan terakhir, sehingga infeksi cenderung tetap ringan
Tidak ada paparan selama 12 bulan, sehingga risiko sakit parah meningkat drastis
Dalam konteks ini, tubuh yang terlalu lama bebas dari parasit justru kehilangan kesiapan untuk menghadapi infeksi berikutnya. Ketika parasit kembali masuk, respons imun bisa menjadi kurang efektif, sehingga penyakit berkembang lebih serius.
Temuan ini juga menjelaskan kenapa sebagian kasus malaria klinis justru terjadi pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat infeksi dalam waktu lama.
Lalu, kalau kondisi ini terjadi pada orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi, apa dampaknya ketika mereka kembali ke alam liar?
Apa Artinya Ini untuk Konservasi Orangutan?
Orangutan bernama Mawa di atas pohon yang berada di Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Di pusat rehabilitasi, kondisi lingkungan sering kali lebih terkontrol. Dalam beberapa kasus, orangutan bisa saja lebih jarang terpapar parasit dibandingkan saat mereka hidup di hutan alami.
Sekilas, ini terlihat seperti hal yang baik. Tapi dari hasil penelitian ini, justru muncul sisi lain yang perlu diperhatikan. Saat mereka kembali ke alam liar (di mana paparan nyamuk dan parasit jauh lebih tinggi), risiko sakit parah bisa meningkat.
Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan:
Paparan alami dalam tingkat tertentu bisa membantu menjaga sistem imun tetap aktif
Riwayat infeksi menjadi faktor penting sebelum orangutan dilepasliarkan
Selain itu, perubahan lingkungan seperti deforestasi dan fragmentasi hutan juga bisa ikut memengaruhi pola penyebaran malaria. Jika ekosistem berubah, interaksi antara orangutan, nyamuk, dan parasit juga ikut berubah, dan ini bisa berdampak pada kesehatan populasi mereka dalam jangka panjang.
Tidak Selalu Harus Bersih untuk Tetap Sehat
Penelitian ini memberi satu pelajaran sederhana, tapi cukup mengubah cara pandang kita.
Dalam kadar tertentu, keberadaan parasit justru membantu sistem imun mereka tetap “siap siaga”. Tanpa paparan itu, tubuh bisa kehilangan kemampuan untuk merespons saat infeksi benar-benar datang.
Di alam liar, kesehatan bukan tentang menghilangkan semua risiko, tetapi tentang menjaga keseimbangan.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa tubuh (baik manusia maupun satwa liar) sebenarnya terus belajar dari lingkungannya. Dan terkadang, hal-hal yang terlihat berbahaya justru punya peran penting dalam menjaga kita tetap bertahan.
Tautan Jurnal
Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus). Jurnal Parasitology. [Buka]
Featured image:Orangutan kalimantan bernama Giet di atas pohon yang berada pada Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Mengapa Banyak Kukang Korban Perburuan Tampak Baik-Baik Saja?
Di hutan pada malam hari, menemukan kukang sebenarnya tidak terlalu sulit. Ketika disorot senter, mata mereka memantulkan cahaya kuning keemasan yang terlihat jelas di antara daun dan dahan.
Namun pantulan kecil itu juga bisa membawa bahaya.
Bagi sebagian pemburu, cahaya dari mata kukang justru menjadi penanda yang memudahkan mereka membidik sasaran dengan senapan angin. Tanpa suara ledakan keras, peluru melesat menembus tubuh kecil primata nokturnal ini.
Yang mengejutkan, luka akibat tembakan tersebut tidak selalu terlihat.
Banyak kukang yang diselamatkan dan dibawa ke pusat rehabilitasi tampak masih mampu bergerak, memanjat, bahkan makan seperti biasa. Namun ketika dokter hewan melakukan pemeriksaan rontgen, gambaran yang muncul di layar sering kali berbeda: peluru masih bersarang di dalam tubuh mereka.
Temuan inilah yang diungkap dalam penelitian berjudul “Clinical Evaluation and Pathological Findings of Air Rifle Shot in Slow Lorises (Nycticebus spp.) at the Animal Rehabilitation Center of Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor Regency.”
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan tim dari Universitas Padjadjaran bersama YIARI ini mencoba melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh kukang korban tembakan senapan angin.
Perburuan Kukang dengan Senapan Angin Masih Terjadi
Kasus kukang yang terkena tembakan ternyata bukan kejadian yang jarang. Hal ini terlihat dari data di Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Bogor.
Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis rekam medis kukang yang masuk ke pusat rehabilitasi selama 2015–2022. Dari data tersebut, tercatat:
492 rekam medis kukang
51 kasus yang berkaitan dengan luka akibat peluru atau tembakan
Angka ini menunjukkan bahwa perburuan dengan senapan angin masih menjadi ancaman nyata bagi kukang di alam liar.
Untuk melihat dampaknya lebih dekat, peneliti kemudian memilih 16 kukang jawa (Nycticebus javanicus) dengan data medis paling lengkap. Kukang-kukang ini berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat, seperti Bandung, Ciamis, Bogor, Majalengka, Cirebon, dan Kuningan.
Dari sinilah peneliti mulai menelusuri satu pertanyaan penting: apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh kukang setelah terkena tembakan?
Ketika Tubuh Kukang Diperiksa Lebih Dekat
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan serangkaian pemeriksaan medis pada kukang yang menjadi bagian dari studi ini. Tujuannya adalah melihat apakah ada luka yang tidak terlihat dari luar.
Beberapa metode yang digunakan antara lain:
pemeriksaan klinis, untuk menilai kondisi fisik kukang secara umum
rontgen (radiografi), untuk mendeteksi peluru yang mungkin tertinggal di dalam tubuh
pemeriksaan jaringan dan organ, untuk mengetahui kerusakan yang terjadi di bagian dalam tubuh
Pemeriksaan ini penting karena luka akibat tembakan tidak selalu tampak jelas di permukaan tubuh. Dari luar, beberapa kukang masih terlihat mampu bergerak atau memanjat seperti biasa.
Namun ketika hasil rontgen diperiksa, gambaran yang muncul sering kali berbeda dari yang terlihat.
Peluru dapat tetap tertanam di dalam tubuh, tersembunyi di antara jaringan otot, tulang, atau bahkan berada dekat dengan organ penting. Dalam beberapa kasus, tubuh kukang juga membentuk jaringan di sekitar peluru, sehingga benda asing tersebut tampak seperti “terbungkus” di dalam jaringan tubuh.
Ketika hasil rontgen dianalisis lebih lanjut, para peneliti menemukan gambaran yang cukup mengejutkan. Dari pemeriksaan terhadap 16 kukang dalam studi ini, terdapat total 29 peluru yang masih tertanam di dalam tubuh mereka.
Beberapa peluru yang berhasil dikeluarkan dari tubuh kukang/Sumber: Jurnal Advances in Animal and Veterinary Sciences
Peluru-peluru tersebut tidak hanya berada di satu lokasi, tetapi tersebar di berbagai bagian tubuh, di antaranya:
kepala – 8 peluru
dada (toraks) – 6 peluru
bahu – 4 peluru
lengan depan – 3 peluru
panggul (pelvis) – 3 peluru
leher – 2 peluru
kaki belakang – 2 peluru
perut – 1 peluru
Temuan ini menyatakan, satu individu kukang bisa saja terkena lebih dari satu tembakan. Bahkan pada salah satu kasus, seekor kukang jawa jantan dewasa yang diselamatkan dari Cirebon ditemukan memiliki lima peluru sekaligus di dalam tubuhnya, yaitu di area kepala, leher, dan bahu.
Beberapa peluru yang berhasil dikeluarkan dari tubuh kukang/Sumber: Jurnal Advances in Animal and Veterinary Sciences
Selain peluru yang tertanam, pemeriksaan medis juga menemukan berbagai kondisi luka lain yang cukup serius, seperti:
gigi patah
luka pada langit-langit mulut (palatum)
pembengkakan kelenjar akibat infeksi benda asing
Dalam beberapa kasus, peluru yang tertinggal juga memicu terbentuknya jaringan di sekitarnya. Hal ini membuat peluru tampak seperti terbungkus oleh jaringan tubuh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa luka akibat tembakan tidak selalu hanya berupa luka terbuka, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan yang tersembunyi di dalam tubuh kukang.
Mengapa Kepala Kukang Sering Menjadi Sasaran?
Dari hasil penelitian ini, peneliti juga menemukan pola menarik. Dari total peluru yang terdeteksi, bagian kepala menjadi lokasi yang paling sering terkena tembakan.
Hal ini ternyata berkaitan dengan perilaku alami kukang di alam.
Saat beristirahat atau tidur di atas pohon, kukang biasanya menggulung tubuhnya seperti bola di atas dahan. Dalam posisi ini, bagian kepala sering menjadi bagian tubuh yang paling terlihat dari bawah.
Selain itu, kukang memiliki lapisan khusus pada matanya yang membantu mereka melihat dalam kondisi cahaya yang sangat minim. Ketika terkena cahaya senter pada malam hari, mata kukang akan memantulkan cahaya berwarna kuning keemasan.
Pantulan inilah yang sering membuat kukang mudah terlihat di tengah gelapnya hutan.
Bagi peneliti, kemampuan ini merupakan adaptasi alami yang membantu kukang beraktivitas di malam hari. Namun bagi pemburu, pantulan tersebut justru menjadi penanda yang memudahkan mereka menemukan kukang di antara dahan pohon.
Karena sumber pantulan berasal dari mata, arah tembakan sering kali langsung mengarah ke kepala. Akibatnya, luka pada bagian ini berisiko lebih serius karena berada dekat dengan organ penting seperti:
otak
mata
saluran pernapasan
Dalam beberapa kasus, peluru yang menembus area wajah juga dapat menyebabkan luka pada langit-langit mulut dan memicu infeksi berat. Cedera seperti ini tentu memperburuk peluang kukang untuk bertahan hidup setelah terkena tembakan.
Tidak Semua Kukang Korban Tembakan Bisa Diselamatkan
Setelah peluru ditemukan melalui rontgen, langkah berikutnya adalah menentukan apakah peluru tersebut bisa dikeluarkan atau tidak. Keputusan ini tidak selalu mudah, karena posisi peluru di dalam tubuh kukang bisa sangat beragam.
Dalam praktiknya, dokter hewan biasanya mempertimbangkan beberapa hal sebelum melakukan operasi, seperti:
lokasi peluru di dalam tubuh
kedalaman peluru dari permukaan kulit
risiko kerusakan organ vital jika peluru diangkat
Peluru yang berada tepat di bawah kulit atau di dalam jaringan otot biasanya masih memungkinkan untuk diangkat melalui operasi. Namun jika peluru tertanam terlalu dalam atau berada dekat organ penting, operasi justru bisa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi kukang.
Karena itu, dalam beberapa kasus dokter memilih tidak mengangkat peluru dan hanya memberikan perawatan medis untuk mencegah infeksi serta membantu proses pemulihan.
Dari total 29 peluru yang ditemukan pada kukang-kukang yang diteliti, 16 peluru berhasil diangkat melalui operasi. Sisanya tetap berada di dalam tubuh karena posisinya terlalu berisiko untuk dikeluarkan.
Hasil akhirnya menyatakan, tidak semua kukang korban tembakan dapat bertahan hidup. Dari 16 individu yang diamati dalam penelitian ini:
12 kukang berhasil selamat setelah menjalani perawatan
4 kukang lainnya tidak tertolong karena luka yang terlalu parah
Apa Manfaat Penelitian Ini bagi Perlindungan Kukang?
Selain mengungkap kondisi luka pada kukang korban tembakan, penelitian ini juga memberikan informasi penting bagi penanganan medis di pusat rehabilitasi satwa.
Temuan tentang lokasi peluru, jenis cedera, serta kondisi jaringan tubuh membantu dokter hewan menentukan langkah pemeriksaan dan perawatan yang lebih tepat. Misalnya, kapan pemeriksaan rontgen perlu dilakukan dan dalam kondisi seperti apa peluru dapat diangkat melalui operasi atau sebaiknya dibiarkan karena terlalu berisiko.
Data dari kasus-kasus ini juga memberikan gambaran tentang pola perburuan yang terjadi di lapangan. Dengan mengetahui wilayah asal kukang yang tertembak, peneliti dan pengelola konservasi dapat lebih mudah mengidentifikasi area yang membutuhkan pengawasan dan perlindungan habitat yang lebih kuat.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya membantu memahami luka yang dialami kukang, tetapi juga memberikan dasar pengetahuan yang penting untuk meningkatkan upaya penyelamatan dan perlindungan satwa tersebut di masa depan.
Luka yang Tak Terlihat dari Perburuan Kukang
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan tim menunjukkan bahwa dampak perburuan kukang sering kali lebih serius daripada yang terlihat. Luka akibat tembakan tidak selalu tampak jelas dari luar, tetapi dapat meninggalkan peluru dan kerusakan di dalam tubuh yang sulit diketahui tanpa pemeriksaan medis.
Temuan ini membantu membuka gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya dialami kukang korban tembakan. Melalui pemeriksaan seperti rontgen, luka-luka yang sebelumnya tersembunyi akhirnya bisa terdeteksi dan ditangani dengan lebih tepat.
Bagi kukang di alam liar, luka seperti ini mungkin tidak selalu terlihat. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa di balik tubuh yang tampak baik-baik saja, bisa saja ada cedera serius yang terus mereka bawa.
Featured image: Mata kukang mematulkan cahaya berwarna kuning keemasan saat disorot senter di malam hari/Rendi Afandi YIARI
Tautan Jurnal
Clinical Evaluation and Pathological Findings of Air Rifle Shot in Slow Lorises (Nycticebus spp.) At The Animal Rehabilitation Center of Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor Regency. Advances in Animal and Veterinary Sciences. [Buka]
Tanpa Menebang Hutan, Petani Lampung Bisa Raup Rp37 Juta Setahun
Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Tanggamus ketika para petani mulai masuk ke kebun mereka di kawasan Batutegi, Lampung. Di bawah naungan pohon durian dan kemiri, tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan pisang, cabai, bahkan kolam ikan di sudut lahan.
Kebun seperti ini memang tidak terlihat seperti perkebunan pada umumnya. Di satu lahan, banyak jenis tanaman tumbuh bersamaan. Namun justru dari pola tanam inilah para petani mendapatkan penghasilan yang cukup besar.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Ulin: Jurnal Hutan Tropis (2025) meneliti 261 petani di tiga kelompok tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) di KPH Batutegi. Hasilnya, sistem agroforestri menyumbang sekitar 72 hingga 89 persen dari total pendapatan petani, dengan penghasilan rata-rata mencapai puluhan juta rupiah per tahun.
Menariknya, semua itu dilakukan tanpa harus menebang hutan.
Di Batutegi, hutan tetap berdiri, sementara kebun tetap menghasilkan. Lalu, bagaimana sistem agroforestri ini bisa menjadi sumber penghidupan utama bagi petani sekaligus tetap menjaga fungsi hutan?
Agroforestri di Hutan Kemasyarakatan Batutegi
Di kawasan Batutegi, para petani mengelola lahan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), salah satu program Perhutanan Sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan negara secara legal dan berkelanjutan.
Sistem yang mereka terapkan adalah agroforestri, yaitu pola tanam yang menggabungkan berbagai jenis tanaman dalam satu lahan. Di kebun-kebun ini, kopi biasanya menjadi komoditas utama, lalu dipadukan dengan tanaman lain yang punya fungsi berbeda.
Dalam satu lahan, misalnya, petani bisa menanam:
Tanaman utama: kopi
Pohon penaung: durian, kemiri, jengkol, atau alpukat
Tanaman sela: pisang, cabai, dan sereh
Susunan seperti ini membuat kebun tetap produktif sepanjang tahun karena setiap tanaman punya waktu panen yang berbeda.
Sebagian petani juga menambahkan kegiatan lain ke dalam sistem ini, seperti:
Budidaya ikan di kolam kecil
Beternak lebah madu
Memelihara kambing
Semua elemen ini saling mendukung. Tanaman menyediakan naungan dan pakan, sementara kotoran ternak bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami.
Meski lahan yang mereka kelola berada di kawasan hutan lindung, petani tidak menebang pohon untuk dijual sebagai kayu. Mereka hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti kopi, buah-buahan, dan rempah.
Dari sistem inilah sebagian besar penghasilan petani di Batutegi berasal.
Agroforestri Jadi Sumber Pendapatan Utama Petani
Seberapa besar sebenarnya peran agroforestri bagi penghasilan petani di Batutegi?
Penelitian terhadap 261 petani dari tiga gabungan kelompok tani (gapoktan) di KPH Batutegi menunjukkan bahwa agroforestri menyumbang sekitar 72 hingga 89 persen dari total pendapatan petani. Artinya, sebagian besar penghasilan rumah tangga mereka berasal dari kebun agroforestri, bukan dari pekerjaan lain di luar lahan.
Rata-rata pendapatan agroforestri di tiap gapoktan juga cukup menonjol:
Gapoktan
Pendapatan agroforestri
Sumber Makmur
37,8 juta per tahun
Wanatani Lestari
28,4 juta per tahun
Mandiri Lestari
34,1 juta per tahun
Pendapatan ini berasal dari berbagai hasil kebun yang dipanen sepanjang tahun, mulai dari kopi hingga buah-buahan dan rempah.
Sementara itu, pekerjaan lain di luar kebun agroforestri, seperti buruh tani, berdagang, atau membuka usaha kecil, hanya menyumbang sekitar 11 hingga 28 persen dari total pendapatan petani.
Jika dihitung dari total pendapatan rumah tangga per bulan, angkanya secara umum mendekati atau melampaui UMP Lampung tahun 2023, meski ada perbedaan antar-gapoktan.
Temuan ini menunjukkan, kebun agroforestri bukan hanya berperan dalam menjaga kawasan hutan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi rumah tangga petani.
Kopi Jadi Tulang Punggung Pendapatan
Di kebun agroforestri Batutegi, ada banyak jenis tanaman yang tumbuh bersama. Namun dari semua komoditas tersebut, kopi tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi petani.
Penelitian menunjukkan, kopi menyumbang sekitar 32 hingga 46 persen dari total pendapatan agroforestri di ketiga gapoktan yang diteliti. Tidak heran jika tanaman ini menjadi komoditas utama yang paling diandalkan petani.
Selain kopi, ada beberapa komoditas lain yang juga memberi tambahan penghasilan, meski kontribusinya lebih kecil, seperti:
Lada: sekitar 3–20 persen
Cengkeh: sekitar 1–11 persen
Durian: sekitar 2–9 persen
Kemiri: sekitar 2–6 persen
Menariknya, ada satu komoditas yang produksinya sangat tinggi di kebun petani, tetapi kontribusinya terhadap pendapatan justru kecil: pisang.
Di banyak kebun agroforestri Batutegi, pisang tumbuh cukup melimpah. Tanaman ini cepat dipanen dan relatif mudah dibudidayakan. Namun karena harga jualnya rendah, nilai ekonominya tidak sebesar kopi atau beberapa tanaman lainnya.
Temuan yang dilakukan Manurung dan tim menunjukkan bahwa dalam sistem agroforestri, banyaknya hasil panen tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya pendapatan. Nilai ekonomi setiap komoditas tetap menjadi faktor penting.
Selain itu, komposisi tanaman di kebun juga tidak selalu sama. Beberapa kebun memiliki lebih banyak pohon buah seperti durian atau kemiri, sementara yang lain lebih didominasi tanaman seperti jengkol atau petai. Perbedaan komposisi inilah yang ikut memengaruhi besarnya pendapatan petani di tiap gapoktan.
Diversifikasi Kebun Membuat Pendapatan Lebih Stabil
Salah satu kekuatan utama agroforestri adalah keberagaman tanaman dalam satu lahan. Bagi petani, ini bukan sekadar soal variasi tanaman, tetapi juga strategi untuk menjaga kestabilan penghasilan.
Di kebun agroforestri Batutegi, tanaman biasanya memiliki waktu panen yang berbeda. Secara sederhana, petani membaginya menjadi dua kelompok:
Kategori Tanaman
Contoh Tanaman
Karakteristik
Tanaman yang cepat dipanen
Pisang, cabai, sereh
Dapat dipanen dalam waktu relatif singkat sehingga memberikan pemasukan lebih cepat bagi petani.
Tanaman jangka panjang
Kopi, durian, kemiri, cengkeh
Membutuhkan waktu lebih lama untuk berproduksi, tetapi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi sumber pendapatan utama.
Dengan kombinasi seperti ini, petani tidak harus menunggu satu musim panen saja untuk mendapatkan pemasukan. Saat kopi belum dipanen, mereka masih bisa menjual pisang atau cabai. Ketika musim panen kopi tiba, pendapatan biasanya meningkat lebih besar.
Strategi ini juga membantu petani menghadapi risiko. Jika harga salah satu komoditas turun atau panennya gagal, masih ada tanaman lain yang bisa menjadi sumber penghasilan.
Karena itu, agroforestri sering dianggap sebagai sistem pertanian yang lebih tahan terhadap ketidakpastian ekonomi maupun kondisi alam.
Menjaga Hutan Sekaligus Menghasilkan Uang
Agroforestri tidak hanya memberikan penghasilan bagi petani, tetapi juga membantu menjaga fungsi ekologis hutan, terutama di kawasan lindung seperti Batutegi.
Dalam sistem ini, pohon-pohon besar tetap dipertahankan di dalam kebun. Berbeda dengan pertanian monokultur yang biasanya membuka lahan secara luas, agroforestri justru menggabungkan berbagai tanaman di bawah naungan pohon.
Karena itu, kebun tetap produktif tanpa kehilangan fungsi ekologisnya. Beberapa manfaat ekologis dari sistem agroforestri antara lain:
Menjaga tata air, sehingga kawasan hutan tetap mampu menyimpan cadangan air tanah
Mengurangi erosi tanah, terutama di daerah lereng atau perbukitan
Menjaga kesuburan tanah melalui siklus alami daun gugur dan bahan organik
Mendukung keanekaragaman hayati, karena kebun yang beragam menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa
Hal yang tidak kalah penting, petani di kawasan HKm Batutegi tidak menebang pohon untuk dijual sebagai kayu. Mereka hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti kopi, buah-buahan, atau rempah.
Dengan cara ini, fungsi hutan lindung tetap terjaga, sementara masyarakat di sekitarnya tetap bisa mendapatkan penghidupan dari lahan yang mereka kelola.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski sistem agroforestri di Batutegi terbukti mampu memberikan penghasilan yang cukup baik bagi petani, bukan berarti sistem ini berjalan tanpa tantangan. Penelitian tersebut menemukan beberapa kendala yang masih dihadapi petani di lapangan.
Beberapa tantangan utama yang masih dihadapi petani antara lain:
Harga pisang masih rendah. Produksinya cukup tinggi di kebun agroforestri Batutegi, tetapi nilai jualnya relatif kecil karena jenis yang banyak ditanam adalah pisang janten (pisang uli) yang harganya lebih murah dibandingkan beberapa jenis pisang lainnya.
Integrasi peternakan belum banyak dimanfaatkan. Dari ratusan petani yang diteliti, hanya sebagian kecil yang mengembangkan usaha peternakan seperti ikan, lebah madu, atau kambing, padahal kegiatan ini berpotensi menambah pendapatan sekaligus menyediakan pupuk organik bagi kebun.
Akses pasar masih terbatas. Banyak petani masih menjual hasil panen kepada pengepul lokal, sehingga pilihan pasar menjadi sempit dan harga jual sering kali kurang menguntungkan.
Beberapa tantangan tersebut menunjukkan bahwa sistem agroforestri masih bisa dikembangkan lebih jauh. Dengan pengelolaan dan dukungan yang tepat, peluang untuk meningkatkan pendapatan petani sebenarnya masih cukup besar.
Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan antara lain:
Diversifikasi produk olahan: Pisang yang produksinya melimpah bisa diolah menjadi keripik, sale pisang, atau tepung pisang yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Begitu juga dengan kopi yang bisa diproses menjadi kopi bubuk kemasan.
Penguatan pemasaran melalui gapoktan: Dengan kerja sama yang lebih kuat melalui gapoktan, petani memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mendapatkan harga yang lebih adil.
Dari Hutan yang Dijaga, Penghidupan Tumbuh
Kisah para petani di Batutegi menunjukkan bahwa menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak selalu harus saling bertentangan.
Melalui sistem agroforestri, satu lahan bisa menghasilkan banyak hal sekaligus: kopi, buah-buahan, rempah, bahkan hasil peternakan. Di saat yang sama, pohon-pohon tetap berdiri dan fungsi hutan sebagai penyangga lingkungan tetap terjaga.
Temuan penelitian ini memberi gambaran bahwa dengan pengelolaan yang tepat, hutan tidak hanya bisa dilindungi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
Batutegi mungkin hanya satu contoh, tetapi dari sini terlihat bahwa hutan dan penghidupan masyarakat sebenarnya bisa tumbuh bersama.
Tautan Jurnal
Kontribusi Agroforestri terhadap Pendapatan Petani Hutan Kemasyarakatan di KPH Batutegi, Provinsi Lampung. Ulin – J Hut Trop. [Buka]
Featured image: Ilustrasi hutan yang menerapkan agroforestri/Sumber: Pexels
Agroforestri Kopi di Batutegi dan Pelajaran dari Hutan
Pagi di lereng Batutegi, Lampung, selalu dimulai dengan dua aroma yang bercampur di udara: kopi robusta yang baru dipanen dan tanah hutan yang masih lembap.
Di tempat ini, kebun kopi tidak berdiri sendiri. Di antara batang kopi tumbuh pohon jengkol, durian, kemiri, dan berbagai tanaman lain yang menaungi lahan seperti kanopi hutan kecil. Sekilas, kebun ini bahkan lebih mirip hutan daripada perkebunan.
Bagi sebagian orang, menanam kopi di kawasan hutan lindung mungkin terdengar seperti masalah. Namun bagi petani di Batutegi, keduanya justru bisa berjalan berdampingan melalui sistem agroforestri.
Artikel ini mengulas temuan penelitian “Pemetaan Pola Agroforestri Kopi dengan Metode Transect Walk di KPH Batutegi” yang dilakukan oleh Wijaya dan tim dari Universitas Lampung. Penelitian ini memetakan bagaimana petani mengelola kebun kopi di kawasan hutan lindung melalui sistem agroforestri.
Hutan Kemasyarakatan dan Tantangan Mengelola Kebun di Kawasan Lindung
sebelum membahas lebih jauh tentang agroforestri kopi di Batutegi, kita perlu memahami satu konsep penting: Hutan Kemasyarakatan (HKm).
HKm merupakan bagian dari program perhutanan sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola lahan di kawasan hutan negara secara legal, tanpa mengubahnya menjadi lahan terbuka atau perkebunan monokultur. Tujuannya adalah agar masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi, sementara fungsi ekologis hutan tetap terjaga.
Salah satu aturan penting dalam pengelolaan HKm tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.105 Tahun 2018 yang menetapkan bahwa setiap hektar lahan harus memiliki minimal 400 pohon pelindung.
Keberadaan pohon pelindung ini penting karena membantu menjaga kondisi lingkungan hutan, seperti:
mempertahankan siklus air
mengurangi risiko erosi
menjaga kesuburan tanah
menyediakan habitat bagi satwa
Menariknya, bagi petani kopi robusta, keberadaan pohon pelindung sebenarnya bukan hambatan. Tanaman kopi justru membutuhkan naungan untuk tumbuh optimal, dengan intensitas cahaya sekitar 60 persen.
Tantangannya adalah menemukan keseimbangan yang tepat. Jika pohon pelindung terlalu sedikit, tanaman kopi bisa terkena panas berlebih. Sebaliknya, jika terlalu rapat, cahaya yang masuk ke kebun menjadi terlalu sedikit.
Karena itu, banyak petani mulai menerapkan agroforestri kopi, yaitu sistem budidaya yang menggabungkan tanaman kopi dengan berbagai jenis pohon dalam satu lahan.
Untuk melihat bagaimana pola ini diterapkan di lapangan, para peneliti kemudian memetakan kondisi kebun kopi petani di kawasan KPH Batutegi.
Hutan Kemasyarakatan dan Tantangan Mengelola Kebun di Kawasan Lindung
Sebelum membahas lebih jauh tentang agroforestri kopi di Batutegi, kita perlu memahami satu konsep penting: Hutan Kemasyarakatan (HKm).
HKm merupakan bagian dari program perhutanan sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola lahan di kawasan hutan negara secara legal, tanpa mengubahnya menjadi lahan terbuka atau perkebunan monokultur. Tujuannya adalah agar masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi, sementara fungsi ekologis hutan tetap terjaga.
Keberadaan pohon pelindung ini penting karena membantu menjaga kondisi lingkungan hutan, seperti:
mempertahankan siklus air
mengurangi risiko erosi
menjaga kesuburan tanah
menyediakan habitat bagi satwa
Menariknya, bagi petani kopi robusta, keberadaan pohon pelindung sebenarnya bukan hambatan. Tanaman kopi justru membutuhkan naungan untuk tumbuh optimal, dengan intensitas cahaya sekitar 60 persen.
Tantangannya adalah menemukan keseimbangan yang tepat. Jika pohon pelindung terlalu sedikit, tanaman kopi bisa terkena panas berlebih. Sebaliknya, jika terlalu rapat, cahaya yang masuk ke kebun menjadi terlalu sedikit.
Karena itu, banyak petani mulai menerapkan agroforestri kopi, yaitu sistem budidaya yang menggabungkan tanaman kopi dengan berbagai jenis pohon dalam satu lahan.
Untuk melihat bagaimana pola ini diterapkan di lapangan, para peneliti kemudian memetakan kondisi kebun kopi petani di kawasan KPH Batutegi.
Penelitian Agroforestri Kopi di KPH Batutegi
Penelitian ini dilakukan pada November 2023 di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi, Lampung. Studi yang dilakukan oleh Wijaya dan tim dari Universitas Lampung ini melibatkan tiga kelompok tani pengelola lahan HKm, yaitu:
Gapoktan Mandiri Lestari
Gapoktan Sumber Makmur
Gapoktan Wanatani Lestari
Untuk memetakan kondisi kebun, peneliti menggunakan metode transect walk, yaitu pengamatan lapangan dengan berjalan menyusuri kebun secara sistematis sambil mencatat kondisi vegetasi dan struktur lahan.
Beberapa hal yang diamati dalam metode ini meliputi:
jenis tanaman yang tumbuh di kebun
jumlah dan sebaran pohon pelindung
jarak tanam kopi
kombinasi tanaman yang ditanam bersama kopi
kondisi lanskap dan struktur vegetasi
Melalui pendekatan ini, peneliti dapat melihat langsung bagaimana pola agroforestri terbentuk di lapangan.
Dua Pola Agroforestri Kopi yang Ditemukan
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kebun kopi di KPH Batutegi dapat dibagi ke dalam dua pola utama, yaitu agroforestri sederhana dan agroforestri kompleks.
Perbedaan keduanya terlihat dari jumlah jenis pohon pelindung, kerapatan tajuk, dan susunan vegetasi di dalam kebun:
1. Agroforestri Sederhana
Model Pola Tanam Agroforestri Sederhana Mandiri Lestari
Pada pola ini, kebun kopi hanya dikombinasikan dengan beberapa jenis pohon pelindung, biasanya kurang dari lima jenis.
Beberapa tanaman pelindung yang paling sering ditemukan antara lain jengkol (Archidendron pauciflorum) dan petai (Parkia speciosa).
Kedua jenis pohon ini termasuk Multi-Purpose Tree Species (MPTS), yaitu pohon yang memiliki lebih dari satu manfaat. Selain berfungsi sebagai penaung kopi, buahnya juga memiliki nilai ekonomi bagi petani.
Ciri utama agroforestri sederhana antara lain:
jumlah jenis pohon pelindung relatif sedikit
tajuk kebun lebih terbuka
jarak tanam kopi lebih teratur, biasanya sekitar 2,5 m × 2,5 m
Di beberapa lokasi, petani juga menanam tanaman lain sebagai tanaman sela, seperti pisang, lada, cabai, dan terong. Tanaman tambahan ini membantu petani mendapatkan sumber pendapatan lain selain kopi.
2. Agroforestri Kompleks
Model Pola Tanam Agroforestri Kompleks Sumber Makmur
Berbeda dengan pola sederhana, kebun dengan agroforestri kompleks memiliki keragaman tanaman yang jauh lebih tinggi.
Jumlah jenis pohon pelindung biasanya lebih dari lima jenis, sehingga struktur vegetasinya menyerupai hutan alami. Beberapa tanaman yang sering ditemukan antara lain:
durian (Durio zibethinus)
kemiri (Aleurites moluccanus)
mahoni (Swietenia mahagoni)
pulai (Alstonia scholaris)
pisang (Musa paradisiaca)
Selain itu, terdapat pula beberapa jenis pohon kayu seperti johar, sonokeling, dan waru.
Karakteristik utama agroforestri kompleks meliputi:
keragaman tanaman lebih tinggi
tajuk kebun lebih rapat dan berlapis
jarak tanam kopi cenderung lebih rapat, sekitar 2 m × 2
Di beberapa kebun, petani juga menanam lada sebagai tanaman tumpang sari. Tanaman lada biasanya merambat pada pohon pelindung yang sekaligus berfungsi sebagai penopang.
Keragaman tanaman dalam sistem ini memberikan berbagai manfaat ekologis, seperti:
membantu menjaga keseimbangan ekosistem kebun
mengurangi risiko serangan hama
meningkatkan ketahanan lahan terhadap perubahan iklim
Petani juga memiliki sumber penghasilan yang lebih beragam, mulai dari kopi, buah-buahan, hingga kayu.
Namun penelitian ini juga menunjukkan satu hal penting: jumlah jenis pohon saja tidak selalu menentukan kualitas agroforestri. Untuk memahami hal ini, para peneliti kemudian melihat lebih jauh bagaimana sebaran dan struktur pohon di dalam kebun.
Temuan Penting Penelitian: Sebaran Pohon Lebih Penting daripada Jumlah Jenis
Hasil penelitian di KPH Batutegi menunjukkan bahwa agroforestri tidak cukup dinilai dari banyaknya jenis pohon yang ada di kebun. Yang tak kalah penting adalah bagaimana pohon-pohon itu tersebar dan membentuk struktur vegetasi di dalam lahan.
1. Banyak Jenis Pohon Belum Tentu Berarti Lebih Baik
Agroforestri kompleks sering dianggap lebih ideal karena memiliki lebih banyak jenis tanaman. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa banyaknya jenis pohon tidak otomatis membuat suatu kebun lebih baik.
Kualitas agroforestri juga ditentukan oleh susunan vegetasi di dalam kebun, termasuk seberapa merata pohon-pohon pelindung tumbuh di seluruh lahan.
2. Sebaran Pohon yang Merata Lebih Menentukan
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran sebaran pohon pelindung di dalam kebun.
Jika pohon hanya terkonsentrasi di satu titik, sementara bagian lain terlalu terbuka, keseimbangan lingkungan kebun bisa terganggu. Dampaknya antara lain:
area yang terlalu rapat akan kekurangan cahaya matahari
area yang terlalu terbuka membuat tanaman kopi terpapar panas berlebih
kondisi mikroklimat kebun menjadi kurang stabil
Sebaliknya, pohon yang tersebar lebih merata dapat membantu:
menjaga naungan bagi tanaman kopi
mempertahankan kelembapan tanah
mengurangi risiko erosi
mendukung keanekaragaman hayati di kebun
3. Penambahan Pohon Baru Masih Terbatas
Penelitian ini juga menemukan bahwa penambahan pohon baru setelah izin HKm diterbitkan masih relatif rendah.
Di beberapa kelompok tani, hanya sekitar 6–10 persen pohon yang berusia di bawah dua tahun. Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanaman pohon pelindung masih perlu terus diperkuat.
Karena itu, pengembangan agroforestri di kawasan ini masih membutuhkan:
pendampingan yang berkelanjutan
dorongan untuk menanam pohon pelindung baru
pengelolaan kebun yang lebih terencana
Pelajaran dari Petani Batutegi untuk Masa Depan Agroforestri
Penelitian di KPH Batutegi memperlihatkan bahwa petani memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengelola kebun kopi mereka. Perbedaan ini terlihat dari pilihan tanaman, intensitas pengelolaan, hingga tingkat keragaman pohon pelindung di masing-masing lahan.
1. Mandiri Lestari: Kopi dan Lada dalam Satu Lahan
Di Mandiri Lestari, petani banyak menggabungkan kopi dengan lada dalam sistem tumpang sari. Dalam pola ini, pohon pelindung tidak hanya menaungi kopi, tetapi juga menjadi penopang bagi tanaman lada. Strategi ini membuat satu lahan bisa menghasilkan lebih dari satu komoditas bernilai ekonomi.
2. Sumber Makmur: Vegetasi Tumbuh Lebih Alami
Di Sumber Makmur, sebagian petani tinggal cukup jauh dari lahan garapan. Karena itu, kebun tidak selalu dikelola secara intensif. Menariknya, kondisi ini justru membuat vegetasi di beberapa kebun berkembang lebih alami dan membentuk struktur lahan yang cukup beragam.
3. Wanatani Lestari: Keragaman Pohon Paling Tinggi
Wanatani Lestari mencatat keragaman jenis pohon pelindung paling tinggi di antara ketiga kelompok tani. Beberapa kebunnya tampak menyerupai hutan kecil dengan tajuk yang berlapis. Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan antaranggota kelompok masih bervariasi, sehingga tidak semua lahannya memiliki kondisi yang sama.
Dari ketiga contoh ini terlihat bahwa agroforestri bukan sistem yang seragam. Setiap kelompok tani punya cara sendiri dalam menyesuaikan kebun dengan kondisi lahan, kebutuhan ekonomi, dan pola pengelolaan masing-masing.
Ketika Kopi dan Hutan Tumbuh Bersama
Kisah petani kopi di KPH Batutegi menunjukkan, menjaga hutan dan mencari penghidupan tidak selalu harus menjadi pilihan yang saling bertentangan.
Melalui agroforestri, para petani menemukan cara untuk menjalankan keduanya sekaligus. Kebun kopi tetap produktif, sementara pohon-pohon pelindung membantu menjaga keseimbangan lingkungan di sekitarnya.
Namun penelitian ini juga memberi pengingat penting: keberhasilan agroforestri tidak hanya bergantung pada banyaknya jenis pohon yang ditanam, tetapi juga pada bagaimana pohon-pohon tersebut dikelola dan tersebar secara seimbang di dalam kebun.
Dengan pengelolaan yang tepat, kebun kopi tidak hanya menjadi lahan produksi, tetapi juga bagian dari lanskap hutan yang tetap hidup, produktif, dan berkelanjutan. Dari Batutegi, kita belajar bahwa pertanian dan konservasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Di Balik Ramainya Pasar Burung: Risiko Penyakit yang Jarang Disadari
Pasar burung masih jadi tempat favorit para penghobi untuk mencari burung peliharaan. Dari burung kicau bersuara merdu sampai jenis yang langka, deretan sangkar di pasar selalu ramai didatangi pembeli.
Namun di balik suasana yang terlihat biasa itu, ada hal yang jarang terpikirkan: risiko kesehatan yang mungkin tersembunyi di dalamnya.
Hal inilah yang diteliti oleh Fajrini dan rekan-rekannya dalam sebuah studi yang terbit di Scientific Journal in Conservation of Natural Resources and Environment (Media Konservasi) pada 2025. Dalam studi tersebut, para peneliti melihat lebih dekat bagaimana perdagangan satwa liar berlangsung di Indonesia, mulai dari asal-usul satwa sampai akhirnya sampai ke pedagang di pasar.
Artikel ini merangkum beberapa temuan utama dari penelitian tersebut, mulai dari sulitnya melacak asal-usul satwa, aturan yang belum sepenuhnya sinkron, hingga mengapa pasar bisa menjadi titik paling rapuh dalam pengawasan kesehatan satwa.
Dari Hutan sampai Pasar: Rantai Perdagangan Satwa yang Panjang
Dalam studi yang dipublikasikan di Scientific Journal in Conservation of Natural Resources and Environment (Media Konservasi) tahun 2025, para peneliti mencoba melihat lebih dekat bagaimana satwa liar bisa sampai ke tangan pembeli di pasar.
Hasilnya menunjukkan, perjalanan satwa sebelum sampai ke pasar sebenarnya cukup panjang. Seekor burung yang dijual di pasar biasanya tidak datang langsung dari satu sumber, melainkan melewati beberapa tahap perdagangan.
Dalam banyak kasus, rantai tersebut melibatkan beberapa pihak, seperti:
penangkar atau pengambil satwa di alam,
pengumpul lokal,
pengepul atau distributor,
hingga akhirnya pedagang di pasar.
Setiap tahap dalam rantai ini seharusnya dapat dilacak melalui dokumen resmi. Di Indonesia, pergerakan satwa umumnya disertai dokumen seperti Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) yang berfungsi mencatat asal-usul serta perpindahan satwa.
Dokumen tersebut penting karena membantu memastikan bahwa satwa yang diperdagangkan berasal dari sumber yang legal dan dapat dipantau pergerakannya. Selain itu, informasi ini juga penting untuk pengawasan kesehatan satwa.
Namun dalam praktiknya, sistem pelacakan ini tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa kasus yang dianalisis dalam penelitian tersebut, informasi tentang asal-usul satwa bisa terputus ketika satwa berpindah tangan dari satu pelaku perdagangan ke pelaku lainnya.
Ketika informasi ini tidak lagi lengkap, proses penelusuran menjadi jauh lebih sulit, baik untuk memastikan legalitas perdagangan maupun untuk melacak potensi risiko penyakit.
Rantai Pengawasan Sering Terputus Sebelum Satwa Sampai ke Pasar
Dari pemetaan rantai perdagangan tersebut, studi ini menemukan satu masalah penting: pengawasan yang seharusnya mengikuti pergerakan satwa dari sumber hingga pasar tidak selalu berjalan utuh.
Secara teori, setiap perpindahan satwa seharusnya tercatat melalui dokumen resmi sehingga asal-usulnya bisa dilacak. Namun dalam praktik perdagangan, informasi ini sering kali terputus sebelum satwa sampai ke tingkat pedagang pasar.
Beberapa kondisi yang ditemukan dalam analisis penelitian ini antara lain:
Dokumen asal-usul tidak selalu ikut sampai pedagang, terutama setelah satwa berpindah tangan beberapa kali.
Peran pelaku perdagangan tidak selalu jelas, misalnya antara pengumpul, distributor, atau penjual kembali.
Informasi tentang sumber satwa menjadi semakin terbatas ketika satwa sudah berada di pasar.
Ketika rantai informasi ini terputus, pengawasan menjadi jauh lebih sulit dilakukan. Otoritas tidak selalu dapat memastikan dari mana satwa berasal, bagaimana jalur perdagangannya, atau apakah satwa tersebut berasal dari sumber yang legal.
Bagi para peneliti, celah ini menjadi salah satu titik penting dalam tata kelola perdagangan satwa di Indonesia. Tanpa sistem pelacakan yang konsisten dari hulu hingga hilir, pengawasan legalitas maupun kesehatan satwa menjadi lebih rentan.
Situasi ini juga berkaitan dengan risiko kesehatan. Ketika asal-usul satwa tidak dapat ditelusuri dengan jelas, potensi penyebaran penyakit menjadi lebih sulit dipantau.
Hal inilah yang kemudian membawa perhatian penelitian ini ke kondisi pasar, tempat berbagai satwa dari daerah berbeda akhirnya berkumpul dalam satu ruang.
Ketika Berbagai Satwa Berkumpul di Pasar
Beberapa burung yang berada di dalam sangkar/Pexels
Penelitian ini juga menyoroti kondisi pasar sebagai titik pertemuan berbagai satwa dari daerah yang berbeda. Di pasar burung, misalnya, burung dari berbagai wilayah bisa ditempatkan berdekatan dalam satu area, meskipun sebelumnya hidup di habitat yang berbeda.
Ketika satwa-satwa tersebut berkumpul dalam ruang yang sama, peluang pertukaran patogen pun meningkat. Jika salah satu satwa membawa virus atau bakteri, patogen tersebut dapat lebih mudah berpindah ke satwa lain di sekitarnya.
Menurut analisis dalam studi ini, beberapa kondisi di pasar dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit, di antaranya:
Kepadatan sangkar, yang membuat satwa dari berbagai jenis ditempatkan sangat berdekatan.
Perpindahan satwa dari berbagai daerah, sehingga patogen dari habitat yang berbeda dapat bertemu dalam satu tempat.
Stres selama proses perdagangan, misalnya akibat perjalanan panjang atau lingkungan pasar yang ramai.
Kontak dengan kotoran atau lingkungan sangkar, yang dapat menjadi media penyebaran patogen.
Situasi seperti ini membuat pasar satwa bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang yang memungkinkan patogen berpindah dari satu satwa ke satwa lain.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, kondisi tersebut menjadi perhatian karena beberapa penyakit pada satwa dapat menular ke manusia. Penyakit yang berpindah dari satwa ke manusia inilah yang dikenal sebagai zoonosis.
Regulasi Banyak, tetapi Pengawasannya Tidak Selalu Terhubung
Untuk memahami mengapa celah pengawasan ini bisa terjadi, studi tersebut juga menelaah berbagai aturan yang mengatur perdagangan satwa di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa regulasi sebenarnya sudah cukup banyak, tetapi tersebar di berbagai sektor yang berbeda.
Dalam analisis mereka, peneliti mengidentifikasi sekitar 40 regulasi yang berkaitan dengan perdagangan satwa dan pencegahan zoonosis. Aturan-aturan tersebut berasal dari berbagai bidang, mulai dari konservasi satwa liar, perdagangan, hingga kesehatan.
Masalahnya, setiap sektor memiliki fokus yang berbeda sehingga pengawasannya tidak selalu berjalan sebagai satu sistem yang utuh. Beberapa pihak yang terlibat dalam pengawasan perdagangan satwa antara lain:
Instansi konservasi, yang berfokus pada perlindungan satwa liar dan pemanfaatannya.
Instansi kesehatan manusia, yang menangani pengendalian penyakit pada masyarakat.
Instansi kesehatan satwa atau peternakan, yang memantau kondisi kesehatan satwa.
Instansi perdagangan, yang mengatur aktivitas jual beli di pasar.
Pemerintah daerah dan pengelola pasar, yang mengawasi operasional pasar sehari-hari.
Karena tanggung jawabnya tersebar di berbagai lembaga, koordinasi pengawasan sering kali menjadi tidak sederhana. Informasi tentang asal-usul satwa, kondisi kesehatannya, hingga jalur distribusinya tidak selalu mengalir dengan lancar antar sektor.
Akibatnya, ketika satwa sudah sampai di pasar, sebagian informasi penting tersebut sering kali tidak lagi lengkap. Dalam analisis penelitian ini, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pasar satwa menjadi titik paling rapuh dalam rantai pengawasan perdagangan satwa.
Pasar Satwa Belum Memiliki Standar Kesehatan Khusus
One Health: menjaga satwa dan lingkungan, berarti melindungi nyawa manusia/Sumber: Pixabay
Selain melihat rantai perdagangan dan regulasinya, studi ini juga menyoroti kondisi pasar tempat satwa-satwa tersebut dijual. Dari pengamatan yang dilakukan, peneliti menemukan sebagian besar pasar satwa di Indonesia belum memiliki standar kesehatan yang dirancang khusus untuk perdagangan satwa liar.
Menurut analisis dalam studi tersebut, pasar satwa seharusnya memiliki beberapa pengaturan khusus untuk mengurangi risiko penyakit, seperti:
Ruang karantina, untuk memisahkan satwa yang baru datang atau menunjukkan tanda-tanda sakit.
Sistem pengelolaan limbah satwa, terutama kotoran yang berpotensi menjadi media penyebaran patogen.
Sirkulasi udara yang memadai, agar patogen tidak mudah bertahan di lingkungan pasar yang padat.
Pemisahan jenis satwa, sehingga satwa dari habitat atau wilayah berbeda tidak langsung ditempatkan berdekatan.
Tanpa pengaturan tersebut, pasar satwa pada akhirnya hanya berfungsi sebagai tempat transaksi. Padahal, dengan jumlah satwa dan pengunjung yang datang setiap hari, pasar juga menjadi titik penting dalam pengawasan kesehatan satwa.
Temuan ini menunjukkan, upaya pencegahan zoonosis tidak cukup dilakukan di tingkat konservasi atau kesehatan masyarakat saja. Kondisi pasar, sebagai tempat bertemunya satwa, pedagang, dan pengunjung, juga perlu menjadi bagian dari sistem pengawasan yang lebih terintegrasi.
Hal inilah yang kemudian mendorong peneliti untuk menekankan pentingnya pendekatan yang melibatkan berbagai sektor sekaligus, yang dikenal sebagai pendekatan One Health.
Pendekatan One Health sebagai Rekomendasi Penelitian
Melihat berbagai celah yang ditemukan sepanjang rantai perdagangan satwa (mulai dari asal-usul yang sulit dilacak hingga lemahnya pengawasan di pasar), penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih terintegrasi. Salah satu konsep yang disoroti adalah One Health.
Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan saling berkaitan. Artinya, upaya mencegah penyakit tidak bisa hanya dilakukan oleh satu sektor saja, tetapi membutuhkan kerja sama lintas bidang.
Dalam konteks perdagangan satwa dan pasar burung, pendekatan ini berarti pengawasan perlu melibatkan berbagai pihak secara bersamaan, antara lain:
Instansi konservasi, untuk memastikan pemanfaatan satwa tidak mengancam populasi di alam.
Instansi kesehatan manusia, untuk memantau potensi penyakit zoonosis pada masyarakat.
Instansi kesehatan satwa atau peternakan, untuk mengawasi kondisi kesehatan satwa yang diperdagangkan.
Pemerintah daerah dan pengelola pasar, yang berada di garis depan dalam pengawasan aktivitas di pasar.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya memperkuat koordinasi antar lembaga agar sistem pengawasan tidak berjalan secara terpisah-pisah. Dengan koordinasi yang lebih baik, informasi tentang asal-usul satwa, jalur perdagangan, hingga kondisi kesehatan satwa dapat dipantau secara lebih konsisten.
Pada akhirnya, studi ini menunjukkan perdagangan satwa tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi atau hobi semata. Cara satwa diperdagangkan, dipelihara, dan diawasi juga memiliki dampak langsung terhadap kesehatan manusia.
Karena itu, memperkuat tata kelola perdagangan satwa, mulai dari sumber hingga pasar, menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko zoonosis di masa depan.
Ketika Kesehatan Manusia, Satwa, dan Lingkungan Saling Terhubung
Penelitian yang dilakukan Fajrini dan tim mengungkapkan, risiko zoonosis dalam perdagangan satwa tidak muncul secara tiba-tiba. Risiko tersebut berkaitan dengan berbagai celah yang masih ada dalam tata kelola perdagangan satwa, mulai dari sulitnya melacak asal-usul satwa hingga lemahnya pengawasan di tingkat pasar.
Karena itu, memperkuat sistem pengawasan dari hulu hingga hilir menjadi langkah penting. Melalui koordinasi yang lebih baik antar sektor serta penerapan pendekatan One Health, pengawasan terhadap perdagangan satwa dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
Tidak hanya untuk melindungi satwa dan lingkungan, tetapi juga untuk menjaga kesehatan manusia.
Featured image: Burung yang berada di dalam sangkar/Sumber: Pexels
Tautan Jurnal
Wildlife Trade Governance and Zoonosis in Indonesia: Gap from Source to Market Place. Media Konservasi Journal. [Buka]