Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!

Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.

Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭

Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan. 

Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.  

Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob! 

1. Genus Nycticebus (Kukang)

Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)

Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang!  Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.

Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢

Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat! 

Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.

Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas. 

Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.

Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa. 

 

2. Genus Tarsius (Tarsius)

Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal). 

Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved  (CC-BY-NC) | iNaturalist)

Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil. 

Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.

Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭

Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya. 

Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman. 

 

3. Genus Macaca (Makaka)

Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎

Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved  | iNaturalist)
Macaca nigra  (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)

Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.

Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi. 

Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya. 

Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit. 

4. Genus Presbytis (Surili)

Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.

Presbytis percura  (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas 
(Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger 
(Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)

Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani, Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis. 

Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍

Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda. 

P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat. 

Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).  

Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.

Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.

Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.

 

5. Genus Simias (Simakobu)

Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣

Simakobu , Simias concolor (Sam Morton | CC-BY-NC-SA 02 DEED |  flickr)
Simias concolor (IUCN Red List)

Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas. 

Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut. 

Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.

 

6. Genus Pongo (Orangutan)

Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭

Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!

(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
SpesiesOrangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)Orangutan sumatera (Pongo abelii)Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis)
HabitatHutan KalimantanHutan SumatraHutan Sumatra
Ciri WarnaWarna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga. Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantanBantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan. Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.

Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi. 

Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍

Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!

Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!

SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!

Elif Ivana Hendastari

Referensi : 

  1. https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/tarsius-siau-2/?lang=en  
  2. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Makaka 
  3. https://primata.ipb.ac.id/macaca-nigra-2/ 
  4. https://primata.ipb.ac.id/macaca-pagensis/  
  5. https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/simakobu-simias-concolor-primata-paling-terancam-di-dunia/?lang=en 
  6. https://indonesia.go.id/kategori/seni/859/indonesia-memiliki-tiga-spesies-orangutan#:~:text=Warna%20dan%20bulu%20orangutan%20sumatra,tebal%20daripada%20kerabatnya%20di%20Kalimantan
  7. https://museum.biologi.ugm.ac.id/2023/08/29/tiga-perbedaan-fisik-spesies-orang-utan/
  8. https://kukangku.id/kukang/jawa/  
  9. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
  10. Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8. 
  11. Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari

 

Potensi Transmisi Zoonosis pada Makaka, Berbahaya tapi Bisa Dicegah! 

Selamat Hari Makaka Internasional, Sobat #KonservasYIARI! Tanggal 16 Maret diperingati Hari Makaka Internasional. Hari makaka diperingati pertama kalinya pada tanggal 16 Maret tahun 2016, yang dilatarbelakangi oleh kecintaan serta upaya untuk melakukan pelestarian terhadap makaka di seluruh dunia.

Makaka adalah genus primata yang banyak ditemukan di dunia. Populasinya dapat ditemukan mulai dari Maroko, Aljazair, Afghanistan, Cina, Jepang, dan Asia Tenggara (Napier dan Napier 1985), banyak juga ya Sob! Di Indonesia Genus Makaka juga memiliki tingkat persebaran yang luas, terutama di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga kepulauan di Nusa Tenggara. Jenis makaka yang dapat ditemukan di Indonesia di antaranya ialah Macaca nemestrina, M. siberu, M. pagensis, M. nigra, M. nigrescens, M. tonkeana, M. ochreata, M. hecki, M. maura, M. fascicularis (Ruskhanidar et al. 2017)

  Aktivitas terlarang masyarakat terhadap Macaca Fascicularis (Monyet Ekor Panjang) di Suaka Margasatwa Angke Kapuk (YIARI)

makaka merupakan salah satu genus yang memiliki tingkat adaptasi cukup baik. Jadi, jangan heran ya Sob, kalau kalian lagi berkunjung ke lokasi yang dekat dengan tempat tinggal makaka ada kemungkinan kalian bakal disamperin hihihi. Seperti foto di atas, merupakan kejadian yang berlokasi di kawasan Suaka Margasatwa Angke Kapuk, Jakarta. Hal tersebut terjadi karena habitat makaka yang berdampingan secara langsung dengan aktivitas manusia yang menyebabkan makaka terbiasa bertemu manusia. 

Tapi, jangan sampai kamu melakukan interaksi langsung dengan mereka ya! Karena makaka berpotensi membawa virus, bakteri, dan parasit yang bisa menularkan penyakit ke manusia. Penularan penyakit tersebut biasa disebut zoonosis, yang berarti penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Tau ga kenapa makaka bisa menimbulkan ancaman penyakit bagi manusia? Karena, makaka termasuk ke dalam ordo Primata yang memiliki kemiripan genetik, fisiologis dan perilaku dengan manusia (Schillaci et al. 2005). Satwa primata merupakan agen atau sumber penyakit zoonosis yang signifikan bagi manusia, karena dapat menularkan 25% penyakit menular yang muncul (emerging infectious disease) (Pedersen dan Davies 2009).

Lalu, bagaimana cara penularannya? Terdapat berbagai cara Infeksi bakteri dari makaka ke manusia nih Sob, baik secara langsung atau tidak langsung. Terinfeksi secara langsung jika kamu terkena gigitan atau cakaran dari makaka. Sedangkan infeksi secara tidak langsung di antaranya melalui air yang terkontaminasi, juga makanan yang terkontaminasi kista Entamoeba spp. Selain itu potensial utama infeksi yaitu dari fecal-oral dan kontak langsung antara manusia dan Non Human Primates¹ (Lastuti 2021). Untuk lebih jelasnya, bisa menyimak poster di bawah ini ya!

Cara Penularan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI) 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Lastuti (2021), pada Macaca fascicularis (monyet ekor panjang) di Taman Nasional Baluran menunjukkan hasil positif Entamoeba coli. Bakteri tersebut merupakan agen penyakit yang menginfeksi saluran pencernaan. Selain E.coli masih banyak agen penyakit yang dibawa makaka antara lain Plasmodium knowlesi yaitu parasit pada makaka di kawasan Asia Tenggara (Macaca nemestrina dan M. fascicularis), yang dapat menyebabkan malaria loh Sob. (Jongwutiwes et al. 2011; Millar dan Cox-Singh 2015). 

Ohiya, Kalian harus tahu bahwa salah satu zoonosis yang paling signifikan ialah tuberkulosis. Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (Une dan Mori 2007).

Lalu, bagaimana caranya supaya kita tidak tertular zoonosis? Sobat #KonservasYIARI bisa melakukan pencegahan dini dengan cara-cara sebagai berikut ya!

Cara Pencegahan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI) 

Potensi transmisi zoonosis harus diwaspadai karena dapat menyebabkan wabah pandemi. Hal ini bisa dipengaruhi peningkatan distribusi populasi manusia dan aktivitas manusia pada habitat satwa primata yang dapat memicu interaksi manusia dan satwa secara negatif.

Jadi tetap hati-hati dan waspada ya Sob! Jangan sampai tertular dan menularkan penyakit terhadap primata.

Selamat Hari Makaka Internasional!

Ria Risyanti

¹ Non Human Primates: Sekelompok mamalia yang terdiri dari simian – monyet dan kera – dan prosimian, seperti kukang dan tarsius. Monyet dibagi lagi menjadi dua sub kelompok: Monyet Dunia Lama , yang berasal dari Afrika dan Asia, dan Monyet Dunia Baru , yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan.

Referensi: 

Jongwutiwes S, Buppan P, Kosuvin R, Seethamchai S, Pattanawong U,33 Sirichaisinthop J, Putaporntip C. 2011. Plasmodium knowlesi malaria in humans and macaques, Thailand. Emerg Infect Dis. 17(10):1799–1806. doi:10.3201/eid1710.110349

Lastuti NDR, Lucia Tri Suwanti LT, Hastutiek P, Kurniawati DA , Puspitasari H (2021). Molecular Detection of Entamoeba spp in Long-tailed Macaque (Macaca Fascicularis) at Baluran National Park, Indonesia. Mal J Med Health Sci 17(SUPP2): 85-88, April 2021.

Napier JR, Napier PH. 1985. The Natural History Of The Primates. British Museum: London.

Pedersen AB, Davies TJ. 2009. Cross-species pathogen transmission and disease emergence in primates. Ecohealth. 6(4):496–508. doi:10.1007/s10393-010-0284-3.

Schillaci MA, Jones-Engel L, Engel GA, Paramastri Y, Iskandar E, Wilson B, Allan JS, Kyes RC, Watanabe R, Grant R. Prevalence of enzootic simian viruses among urban performance monkeys in Indonesia. Trop Med Int Health. 2005 Dec;10(12):1305-14. doi: 10.1111/j.1365-3156.2005.01524.x. PMID: 16359412.

Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. 2017. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. 14 (1): Jurnal Primatologi Indonesia.

Une Y, Mori T. 2007. Tuberculosis as a zoonosis from a veterinary perspective.Comp Immunol Microbiol Infect Dis. 30(5–6):415–425. doi:10.1016/j.cimid.2007.05.002. 

Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!

Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯 

Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita! 

Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.

Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!

1. Kehebatan si Petani Hutan

Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob? 

Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru. 

Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi. 

Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏

Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan. 

Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh. 

Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂

2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan

Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga. 

Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)

Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.

Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba. 

Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya. 

Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎 

3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba

Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯

Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)

Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.  

Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁 

Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.

Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.

Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi. 

SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!

Illustrasi: Imam Arifin

 

Elif Ivana Hendastari 

Referensi:

 

Hutan Kalimantan, Habitat bagi Primata di Indonesia

Halo Sobat #KonservasYIARI!

Tentu Sobat tahu ya bahwa hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia, hal ini disebabkan karena luasnya lho!  menurut BPS dikutip dari databoks.katadata.co.id luas hutan Kalimantan tahun 2021 mencapai 28.526.033 ha.

Berbagai jenis pohon tumbuh disana, bahkan orang lebih mengenal hutan Kalimantan dengan sebutan Borneo. Borneo berasal dari nama pohon Borneol yang banyak tumbuh di hutan Kalimantan. 

Tidak heran jika hutan Kalimantan menjadi habitat berbagai jenis satwa liar khususnya bagi primata. Mulai dari primata kecil hingga primata besar seperti orangutan.  

Banyak jenis primata membutuhkan pepohonan yang tinggi untuk beraktivitas, mencari makan, membuat sarang, dan bermain. 

Namun sangat disayangkan Sobat, tidak banyak masyarakat yang mengetahui jenis-jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan. 

Oleh sebab itu, yuk kita simak berbagai jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan!

1. Bekantan

Bekantan merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan yang banyak ditemukan pada ekosistem gambut seperti hutan mangrove, rawa, dan hutan pantai. Monyet dengan ciri-ciri khas hidung yang panjang ini memiliki nama ilmiah Nasalis larvatus

Bekantan (Nasalis larvatus) (Gazagazasanid / CC BY-SA 4.0 DEED)

Bekantan juga sering disebut monyet belanda, mungkin karena rambutnya berwarna cokelat kemerahan ya Sobat. Bekantan juga merupakan primata diurnal dimana banyak melakukan aktivitas di siang hari. Selain itu, bekantan merupakan perenang yang ulung karena memiliki selaput kulit seperti katak pada bagian telapak kaki dan tangannya.

Ohiya Sobat, saking bangganya karena memiliki primata endemik dan unik ini, bekantan dijadikan landmark Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Patung setinggi 6,3 meter ini dibuat di tepi Siring Sungai Martapura. Bahkan bekantan dijadikan maskot salah satu tempat rekreasi, yaitu Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta. 

Monumen Bekantan di Banjarmasin (Astari28 / CC BY-SA 4.0 DEED)
Maskot Dunia Fantasi, Jakarta (Putra15894 / Lisensi Dokumentasi Bebas GNU)

Namun sayangnya menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan bekantan kini terancam punah (endangered), tentu salah satu penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan hutan. Padahal ya Sobat, bekantan ini memiliki fungsi sebagai pengatur silvikultur hutan dengan memakan daun dan pucuk pepohonan.

2. Orangutan 

Orangutan merupakan kera besar yang hanya berada di Asia, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia habitat orangutan hanya berada di hutan Sumatra dan Kalimantan, loh!

Hutan Kalimantan menjadi habitat salah satu jenis orangutan, yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Tahu gak Sob? Orangutan Kalimantan merupakan hewan arboreal terbesar di dunia loh! 🤩

Orangutan kalimantan / bornean orangutan (Pongo pygmaeus) (matthewkwan, some rights reserved (CC-BY-ND) / iNaturalist)

Orangutan kalimantan memiliki ciri fisik rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan, dengan gradasi warna pada wajah dimulai dari merah muda, merah hingga hitam. Primata endemik hutan Kalimantan ini memiliki lengan yang panjang serta jakun yang besar untuk mengeluarkan suara yang besar memanggil rombongan orangutan. 

Keberadaan orangutan kalimantan menurut IUCN kini kritis di alam (critically endangered). Sedih sekali ya Sobat! Kalau kita lihat orangutan dan hutan memiliki hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Orangutan berperan sebagai penyebar biji-bijian dan membantu pepohonan di hutan untuk beregenerasi. 

3. Kukang

Kukang merupakan primata yang dijuluki satwa yang lucu dan menggemaskan, padahal Sobat kukang itu merupakan satwa berbisa. Kukang memiliki cairan bisa dilengannya dan taring yang tajam. Apabila bisa tersebut tersalurkan ke tubuh manusia melalui gigitannya dapat menyebabkan demam dan pembengkakan.  

Di Pulau Kalimantan terdapat tiga  jenis kukang, yaitu kukang kalamasan kalimantan (Nycticebus menagensis), kukang kalimantan (Nycticebus borneanus), dan kukang kayan (Nycticebus kayan).

Kukang kalimantan / bornean slow loris (Nycticebus menagensis) (Phil Benstead, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Status konservasi dari ketiga jenis kukang yang hidup di hutan Kalimantan ini adalah rentan (vulnerable). Waduh jangan sampai status konservasi ini naik ya Sobat!

Kukang merupakan satwa nokturnal yang sangat menyukai sari bunga kaliandra. Kukang memiliki peran penting bagi ekosistem sebagai pengendali hama serangga, membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan.

Sekarang ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menyamakan kukang dengan kungkang lho! Tentu mereka berbeda ya. Coba Sobat lihat gambar berikut ini untuk melihat perbedaan kukang dan kungkang. 

Kukang kayan / kayan river slow loris 
 (Nycticebus kayan) (mike_hoit, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Kungkang / sloths (Travis Kurtz, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

4. Owa

Owa merupakan kera kecil yang setia lho! Owa merupakan satwa monogami, setia dengan pasangannya. Owa banyak menghabiskan waktunya di atas pohon atau biasa disebut satwa arboreal. 

Jenis owa endemik Pulau Kalimantan adalah owa kalawat (Hylobates muelleri). Wilayah sebarannya berada di bagian tenggara dan timur Pulau Kalimantan, tepatnya di sebelah timur Sungai Barito, Kalimantan Selatan hingga sebelah utara Sungai Karangan, Kalimantan Timur. 

Owa kalawat / Müller’s bornean gibbon (Hylobates muelleri) (Mike Prince / CC BY 2.0 DEED)

Owa kalawat menyukai kanopi hutan yang rapat, hal ini disebabkan Ia suka sekali berayun (brankiasi). Owa kelawat memiliki suara yang unik hal ini berguna untuk mempertahankan wilayahnya.

Primata endemik ini memiliki tubuh yang ditutupi oleh rambut berwarna cokelat atau abu-abu dan dilengkapi dengan alis yang berwarna terang.

Menurut IUCN, owa kalawat kini terancam punah (endangered). Banyak mitos-mitos mengenai obat-obatan yang berasal dari owa kalawat menjadikan satwa ini banyak diburu. Alasan lain yang membuat populasi spesies ini menurun ialah deforestasi.

5. Lutung

Jenis lutung yang hidup di hutan Kalimantan adalah Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus). Lutung kelabu merupakan monyet yang hidup arboreal dengan ciri-ciri memiliki rambut tubuh berwarna hitam dengan ujung warna putih atau kelabu. 

Lutung kelabu / silvered lead monkey (Trachypithecus cristatus) (Wilson Yau, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Eits Sobat, faktanya bayi lutung kelabu memiliki warna rambut oranye lho! Seiring masa pertumbuhan warna tersebut berubah menjadi kelabu. 

Bayi lutung kelabu (Wilson Yau, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Lutung kelabu merupakan lutung berukuran sedang dengan status konservasi menurut IUCN adalah rentan (vulnerable). Salah satu penyebabnya adalah masyarakat menganggap lutung kelabu adalah hama. 

Ohiya Sobat, lutung juga diangkat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia, yaitu Lutung Kasarung. Siapa disini Sobat yang pernah mendengar cerita rakyat tersebut?

Itulah Sobat beberapa jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan, sebenarnya jika kita ulik lagi masih banyak loh! Jadi tidak heran ya jika hutan Kalimantan menjadi habitat bagi primata.

Namun sangat disayangkan hampir seluruh jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan berada dalam status konservasi yang sangat mengkhwatirkan. Jadi sudah menjadi tanggung jawab kita untuk turut serta dalam menjaga kelestarian hutan dan tentunya primata di Indonesia. 

Bayangkan Sobat jika hutan rusak atau hilang? Tentu satwa liar di dalamnya juga akan hilang dan punah, lho! 😨

Referensi : 

  1. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/04/29/sebuah-ikon-dari-banjarmasin-patung-bekantan 
  2. https://pantaugambut.id/kabar/rasau-dan-bekantan#:~:text=Dalam%20ekosistem%20gambut%2C%20bekantan%20memiliki,yang%20kemudian%20tumbuh%20semakin%20lebat
  3. https://prcfindonesia.org/bekantan-monyet-unik-dari-pulau-kalimantan/
  4. https://museum.biologi.ugm.ac.id/2023/08/29/tiga-perbedaan-fisik-spesies-orang-utan/
  5. https://betahita.id/news/lipsus/5814/tiga-spesies-orangutan-indonesia-begini-ciri-khasnya-.html?v=1608672443
  6. https://kukangku.id/jenis-jenis-kukang-di-dunia-7-jenisnya-hidup-di-indonesia/
  7. https://yiari.id/kukang-dan-tantangan-konservasinya/#:~:text=Kukang%20memiliki%20peran%20penting%20di,atau%20tumbuhan%20hutan%20itu%20sendiri.
  8. https://gardaanimalia.com/owa-kelawat-primata-endemik-kalimantan-yang-terancam-punah/ 
  9. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Lutung_Kelabu#:~:text=Lutung%20Kelabu%20atau%20dalam%20nama,ujung%20warna%20putih%20atau%20kelabu
  10. https://kalsel.antaranews.com/berita/115812/lutung-primata-eksotik-penghuni-baru-camp-riset-tim-roberts 
  11. Featured image: Gunung Lumut, Kalimantan Timur; Jan van der Ploeg / CC BY-NC-ND 2.0 DEED

Elif Ivana Hendastari 

Implementasi Konsep One Health, BKSDA Sumsel Gelar Seminar dan Pelatihan Penanganan Primata Hasil Sitaan

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama The Aspinall Foundation Indonesian Program (TAF-IP) menyelenggarakan seminar sehari dan pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan pada Senin (30/01), di kantor Resort Konservasi Wilayah IV Kota Palembang. Kegiatan ini guna penyelamatan dan penanganan primata hasil sitaaan atau serahan sukarela untuk melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan protokol dan prosedur yang ada serta mengantisipasi potensi terjadinya zoonosis.

Salah satu konsep yang tumbuh mengenai hubungan manusia, satwa liar, dan lingkungan adalah One Health. Konsep ini lebih menekankan kemanunggalan kesehatan manusia, kesehatan satwa, kesehatan tumbuh-tumbuhan, kesehatan lingkungan, dengan kesehatan planet bumi sebagai sebuah kesatuan. Pendekatan One Health dilaksanakan dengan tiga prinsip, yaitu komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Hadir sebagai narasumber dalam seminar ini, Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, drh. Ida Mansur dari TAF-IP, dan drh. Wendi Prameswari dari YIARI, yang dilanjutkan dengan pelatihan melalui fasilitasi dari TAF-IP dan YIARI.

Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata mengatakan bahwa 80% satwa liar bernilai penting dan terancam punah berada di luar kawasan konservasi, sehingga menyebabkan potensi interaksi negatif satwa dan manusia. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan konservasi perlu didukung dengan upaya konservasi pada kawasan di sekitarnya.

Dokter hewan Purbo Priambada dan dokter hewan Wendi Prameswari memeragakan cara penanganan kukang sumatra yang tepat dan aman bagi para peserta pelatihan (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Telah banyak regulasi terkini yang menjadi jalan tengah, misal koridor, bagaimana kawasan bernilai konservasi tinggi dikelola bersama oleh para pihak. Selain itu, juga terdapat pedoman bagaimana memperkuat dan mempertahankan kawasan konservasi tanpa membuka konflik baru, seperti kemitraan konservasi di dalam kawasan konservasi dan perhutanan sosial di luar kawasan konservasi”, kata Kepala Balai Ujang saat menyampaikan paparannya dengan tema perlindungan satwa liar di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera Selatan.

Narasumber lainnya, drh. Ida Masnur dari TAF-IP menyampaikan materi tentang pengelolaan primata di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS)-Primata Jawa di Jawa Barat dan PRS-Lutung Jawa di Jawa Timur. Saat ini terdapat tiga jenis primata yang dikelola, yaitu lutung jawa (Trachypithecus auratus), surili jawa (Presbytis comata), dan owa jawa (Hylobates moloch). Dalam panduan rehabilitasi satwa yang dipedomani, Best Practise Guidelines for the Rehabilitation and Translocation of Gibbons, drh. Ida menjelaskan skema rehabilitasi satwa meliputi kedatangan satwa-karantina, fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pemeriksaan kesehatan, pengayaan perilaku, kajian lokasi pelepasliaran, dan animal welfare.

Panduan rehabilitasi satwa tersebut juga dipedomani oleh YIARI dalam penanganan satwa. Dalam pemaparannya, drh. Wendi Prameswari dari YIARI menerangkan bahwa saat ini terdapat dua lokasi PRS Primata yang dikelola YIARI yaitu di Bogor (rehabilitasi kukang) dan Ketapang (rehabilitasi orangutan).

Peserta dari tiap instansi mengemukakan pendapat dan belajar bersama mengenai penanganan yang baik dan tepat bagi primata, terutama mereka yang dievakuasi dari hasil pemeliharaan, perdagangan, ataupun perburuan (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Penanganan atau proses evakuasi yang dilakukan YIARI terbagi menjadi dua upaya, yaitu rilis atau rehabilitasi. Proses rilis dapat dilakukan dengan kriteria kondisi kesehatan bagus, misalnya pada kukang dengan kondisi gigi bagus dan lengkap, tidak ada luka, serta mata normal. Sebaliknya, dilakukan rehabilitasi jika kondisi kesehatannya tidak baik”, ungkapnya.

Dalam pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan, peserta diedukasi penerapan praktik handling satwa dan penanaman microchip pada satwa kukang sebagai obyek pembelajaran. Tujuan pemasangan microchip pada satwa adalah untuk identifikasi dan memudahkan penelusuran keberadaan satwa tersebut.

Selain diikuti jajaran pegawai Balai KSDA Sumatera Selatan dan petugas PRS-RKW IV Kota Palembang, pada seminar dan pelatihan ini turut hadir dari unsur Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang, dan Yayasan ALOBI.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan

SIAR Vol 2: Maret 2019

Selain kembalinya enam individu orangutan dan 16 kukang sumatera ke habitatnya, Maret ini kami juga mengajak kalian untuk mengunjungi Ulak Medang yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Simak kisah selengkapnya di sini. Selamat membaca!

Populasi Primata Makin Menurun di Indonesia. Ini Penyebabnya…

Penulis : Donny Iqbal

Sumber : Mongabay

Populasi primata di alam liar disinyalir jumlahnya kian menyusut. Dari 40 jenis primata yang hidup di Indonesia, hampir seluruhnya berada pada kondisi terancam punah. Misalnya di Jawa Barat yang memiliki luasan hutan sekitar 800.000 hektare ini menjadi habitat primata endemik seperti owa jawa (Hylobates moloch), lutung jawa (Trachypithecus auratus), surili (Presbytis) dan kukang jawa  (Nycticebus javanicus).

Dewasa ini, keberadaan primata itu justru mengalami penurunan tajam akibat tingginya pembukaan lahan kawasan hutan (deforestasi) serta masifnya perburuan liar untuk dijualbelikan.

Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Primata International Animal Rescue (IAR) Indonesia telah menerima 27 ekor kukang jawa hasil dari perdagangan online dan sitaan oleh penegak hukum di wilayah Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat, pada akhir Januari 2017.

Hal itu menunjukan bahwa masih tingginya angka perburuan dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang primata. Padahal International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah merilis status kukang masuk kategori terancam punah (critically endangered).

Kukang hasil sitaan dalam perawatan medis di Pusat Rehabilitasi Primata IAR, Bogor. Foto: International Animal Rescue
Kukang hasil sitaan dalam perawatan medis di Pusat Rehabilitasi Primata IAR, Bogor. Foto: International Animal Rescue

Manager Program IAR Indonesia Robithotul Huda mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir populasi kukang terus mengalami penurunan. Hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja diprediksi sekitar 1000 kukang keluar dari habitatnya akibat praktik perburuan dan perdagangan ilegal.

“Kami belum berani mengeluarkan angka populasi kukang di alam liar. Tetapi menurut data IAR berdasarkan hasil pantauan dari perdagangan di media sosial, pemeliharaan serta penyerahan dari masyarakat angkanya sekitar segitu. Bahkan bisa jadi angka tersebut bertambah,” paparnya

Dia mengungkapkan, saat ini tren perdagangan kukang jawa atau javan slow loris lebih tinggi ketimbang kukang borneo (Nycticebus menagensis) dan kukang besar (Nycticebus coucang). Pola skema perdagangannya pun telah mengalami perubahan yang tadinya kukang dipajang di pasar – pasar hewan, kini beralih menggunakan media sosial.

Huda menambahkan, hasil pantauan perdagangan satwa di media Sosial Facebook dan Instagram yang terdeteksi ada sekitar 350 grup. Tahun 2016, IAR menemukan 550 ekor kukang diperjualbelikan di 35 grup aktif. Kondisi tersebut menorehkan catatan kelam penurunan populasi kukang di habitatnya.

Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, merupakan hutan lindung yang aman bagi kehidupan kukang di alam liar. Foto: IAR Ketapang
Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, merupakan hutan lindung yang aman bagi kehidupan kukang di alam liar. Foto: IAR Ketapang

Hal senada juga dikatakan Sigit Ibrahim, Kepala Perawat Satwa Primata The Aspinall Foundation. Menurutnya, banyak faktor yang mempengaruhi penurunan populasi primata di habitat alaminya. Permasalahan terbesar konservasi primata yaitu tingginya aktivitas perburuan. Selain itu, pembukaan lahan juga menjadi permasalahan serius yang bisa memicu terjadinya konflik.

Sigit memaparkan, faktor dominan yang terjadi sekarang adalah alih fungsi lahan kawasan hutan menjadi ladang pertanian palawija dan kopi sehingga berimbas pada penyempitan kawasan habitat. primata memiliki sifat aboreal (hidup diatas pohon) dan sangat tergantung pada keberadaan hutan yang berkanopi.

Dia menerangkan, permasalahan pembukaan lahan sering terjadi di perbatasan antara hutan konservasi dengan hutan lindung dibawah Perum Perhutani. Dengan konsep pengembangan ekonomi masyarakat, sehinga muncul program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

“Yang menjadi masalah kadang ada petani nakal yang menanam palawija dengan lahan garapannya diperluas. Asalnya menanam dilahan milik perhutani tetapi akhirnya malah nempel-nempel ke hutan konservasi sehingga secara tidak langsung berpengaruh,” katanya.

Rehabilitasi Primata

Fokus utama Aspinall yakni melakukan rehabilitasi primata endemik seperti owa jawa, lutung jawa  dan surili. Saat ini, koleksi satwa yang sedang dalam proses rehabilitasi di karantina sebanyak 48 ekor terdiri dari 3 spesies primata. Jumlah tersebut bertambah semenjak kedatangan 15 lutung jawa dari Inggris, akhir Desember 2016 lalu.

Sejauh ini, untuk pelepasliaran owa jawa , Aspinal masih mengutamakan kawasan Cagar Alam (CA) Gunung Tilu seluas 8000 hektare di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dikatakan Sigit, keberadaan owa jawa yang sudah termonitor di CA Gunung Tilu berkisar antara 40 – 45 ekor. Jumlah tersebut masih fluktuatif mengingat belum sepenuhnya kawasan terjelajahi. Masih ditempat yang tidak begitu jauh dengan CA Gunung Tilu, pihaknya juga sedang mengembangkan kawasan baru untuk pelepasliaran di kawasan Situ Patengang yang secara alami telah dihuni oleh surili dan lutung jawa.

Disinggung soal kondisi hutan di Jawa Barat, dia berujar perlu adanya kajian kawasan secara khusus untuk mengetahuinya secara komprehensif. Contohnya, kawasan pelepasliaran perlu di mulai dari mengamati ketersedian pakan, luasan daerah, ekosistem lingkungan dan kondisi sosial masyarakat setempat.

Aspek – aspek itu penting dilakukan guna melancarkan proses pelepasliaran satwa liar dan biasanya memakan waktu paling sebentar 3 – 6 bulan. Untuk itu, tahun 2017 pihaknya berencana akan melakukan pelepasliaran owa jawa di Taman Nasional Halimun – Salak.

Dia menegaskan, demi terjaganya kelestarian kawasan hutan serta ekosistem yang ada perlu menumbuhkan kembali kearifan lokal yang mulai memudar. Seperti unsur pamali (pantangan) dikembalikan lagi sehingga masyarakat tahu kapan harus masuk hutan dan di wilayah mana saja yang bisa dimanfaatkan.

Penyerahan Primata

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, sejak awal tahun 2017 telah menerima penyerahan 26 ekor primata terancam punah dari masyarakat, terakhir penyerahaan kukang jawa berusia 2 bulan pada Minggu (05/02/2017).

Kepala BBKSDA Jawa Barat, Sustyo Iriyono, mengatakan penyerahan satwa dilindungi dari masyarakat ke pihak yang berwenang perlu mendapat apresiasi. Meskipun secara tidak langsung adanya indikasi bahwa masyarakat masih banyak memelihara satwa dilindungi. Namun begitu, setidaknya ada upaya baik untuk pelestarian dan munculnya kesadaran dari masyarakat.

Dia menerangkan, tingginya angka perdagangan dan kecenderungan rusaknya habitat oleh banyaknya penggunaan lahan secara sporadis telah berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup serta penurunan populasi primata.

Dalam hal alih fungsi lahan, kata Sustyo, pemerintah daerah juga mesti dipahamkan mengenai peraturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).  Sebab posisi pemerintah dalam RTRW sangat penting mencegah terjadinya perambahan hutan dan pembangunan yang tidak sesuai kaidah lingkungan. Sehingga tidak hanya kondisi konservasi tanah dan air yang terjaga tapi juga keberadaan satwa didalamya.

Pada konteks rehabilitasi, pihak BBKSDA Jabar tidak menggelontorkan anggaran khusus dikarenakan keterbatasan ABPN yang tidak mencukupi. Maka dari itu pihaknya membangun kemitraan dengan Yayasan/LSM seperti IAR dan Aspinal yang fokus pada penyelamatan satwa dari kepunahan.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Jawa Barat, berhasil menggagalkan penyelundupan 34 kukang jawa (Nycticebus javanicus) Selasa, (18/10/2016) lalu. Foto : Humas Polda Jabar.
Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Jawa Barat, berhasil menggagalkan penyelundupan 34 kukang jawa (Nycticebus javanicus) Selasa, (18/10/2016) lalu. Foto : Humas Polda Jabar.

Sustyo menargetkan akan melakukan penguatan di sektor konservasi sekaligus menambah kapasitas jaringan bersama kemitraan guna menjaga kelestarian habitat dalam waktu 2 tahun kedepan. Agar upaya konservasi optimal, dia meminta kepada penghobi satwa dilidungi agar menyerahkan kepada pihaknya agar dapat dilepasliarkan kembali supaya kenaragaman hayati Indonesia yang kaya tetap ada dalam keseimbangan ekosistem utuh.

“Lebih baik satwa itu hidup di alamnya. Jikalau ingin hobi memelihara, alangkah baiknya bila merawat anak yatim karena itu jauh lebih bermanfaat dan sudah jelas kebaikannya menurut ajaran agama,” tandasnya.

Untuk Manusia

Mungkin sebagian orang sering mempertanyakan, adakah manfaat praktis dari penyelamatan satwa liar dari ancaman kepunahan selain karena sisi eksotisnya? Apa yang akan terjadi dengan manusia saat eksistensi satu spesies satwa punah?

Peneliti LIPI Bogor, Wirdateti mengungkapkan bahwa keberadaan primata dalam satu ekosistem berperan sebagai penebar benih tanaman. Tentu hal itu sangat berpengaruh terhadap mekanisme alam, semisal proses reboisasi hutan yang dapat berjalan secara alami.

“Benih yang tumbuh dari biji yang sebarkan primata atau satwa lainnya akan jatuh ke tanah lalu menjadi pohon baru sehingga ketersedian air bagi manusia tetap terjaga. Jika salah satu rantai makanan terputus, maka akan mengganggu keseimbangan dan jadi kerugian juga bagi manusia,” paparnya.

Keberadaan owa jawa, surili, lutung jawa, kukang dan primata lainya dibutuhkan dalam sebuah hubungan rantai makanan. Lebih baik bila keberadannya tetap pada habitat aslinya.  Wirdateti berujar kelestarian satwa di alam liar dapat memberikan manfaat bagi manusia untuk jangka panjang walaupun tidak langsung dirasakan.

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) saat berada di kandang Habituasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).  Sebelum dilepasliarkan kukang harus berada di kandang habituasi selama 4 minggu untuk beradptasi terhadap lingkungan liarnya.  Foto Donny Iqbal
Kukang jawa (Nycticebus javanicus) saat berada di kandang Habituasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelum dilepasliarkan kukang harus berada di kandang habituasi selama 4 minggu untuk beradptasi terhadap lingkungan liarnya. Foto Donny Iqbal