Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Biarlah yang Panjang Ekornya Saja

Hayo… nyindir siapa nih?

Ini bukan nyindir kok, ini kita lagi mau cerita soal si ekor panjang

 

Siapa tuh?

Ini nih, si Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

 

Oh, kenapa dengan mereka?

Jadi gini, waktu 9 Desember 2021 lalu, ada FGD nih di Ruang Rapat Komodo Ditjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem) tentang mengurai konflik monyet ekor panjang di Bogor dan sekitarnya. Nah, ternyata dari acara itu, baru ketahuan nih kalau yang panjang ternyata ga cuma ekornya aja. Konflik yang muncul ternyata panjang juga gaes.

 

I see, pantesan ngadain FGD ya. Siapa aja yang datang tuh?

Ada dari Pemadam Kebakaran Kota Bogor, Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Depok, Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Bogor, Dinas Kehutanan Provinsi Jabar, Balai Karantina Pertanian Tanjung Priok, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, Balai TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak), Balai Besar TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango), BBKSDA Jabar Bidang Wilayah I Bogor, Pusat Studi Satwa Primata, dan kemudian tentu saja kami dari IAR Indonesia.

Pembukaan FGD Mengurai Konflik MEP di Bogor (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)

Jadi kenapa sih FGD ini diadain?

Kalian tahu kan kalau akhir-akhir ini di daerah Bogor dan sekitarnya, Monyet Ekor Panjang (MEP) itu suka banget berkeliaran di sekitaran manusia, apalagi di daerah yang berbatasan dengan hutan tempat tinggal mereka. Ketika mereka ketemu manusia, kadang-kadang MEP ini suka gangguin manusia yang pada akhirnya berujung konflik. Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakannya, seperti hasil panen buah kalian dibawa kabur oleh MEP, atau mereka masuk ke rumah dan mengganggu orang di rumah dengan keberadaannya, atau bahkan terkadang MEP juga suka mengganggu anak-anak yang sedang bermain di depan rumahnya. Kalau konflik antara manusia dengan MEP ini dibiarkan saja dan tidak segera ditangani, maka masalah ini bisa berbuntut panjang seperti ekor MEP.

 

Dari kejadian-kejadian itulah maka lembaga-lembaga ini ngumpul untuk brainstorming gimana cari solusinya. Seru juga sih karena kami jadinya paham situasi-situasi yang dihadapi lembaga-lembaga ini terkait Monyet Ekor Panjang (MEP). Misalnya dari cerita Pak Andi Irawan dari BBKSDA Jabar, penyebab konflik MEP ini bervariasi. Ada yang karena tangkapan, kemudian ada juga karena pemeliharaan yang kemudian diserahkan ke BBKSDA karena pemiliknya bosan, dan juga karena habitatnya berkurang karena ada pembangunan di kawasan tempat habitat MEP ini berada. Lain lagi dengan cerita dari pihak TNGHS yang cerita kalau konflik di tempatnya biasanya terjadi di kawasan wisata. Kemudian dari Dinas Pertanian di Depok, sempet cerita kalau mereka sudah pernah mencoba melakukan penanganan MEP dengan kendang jebak, tapi tidak banyak kemajuan yang terjadi gaes, sehingga memang ada baiknya banyak sosialisasi nih sebagai upaya pencegahan. Wah banyak deh sebenarnya cerita-cerita yang terkumpul di acara tersebut. Yang pasti bermanfaat banget buat kita semua untuk sama-sama mikirin solusinya.

Masih ingat dengan Mas Huda, Manajer Resiliensi Habitat IAR Indonesia? Kali ini beliau memimpin diskusi lanjutan bersama peserta (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)

Terus apa dong solusinya?

Sebenarnya lebih tepatnya rekomendasi. Jadi dari acara itu, kita semua sepakat perlu adanya pemahaman dan sosialisasi peraturan terkait penanganan konflik satwa, khususnya monyet ekor kepada instansi/lembaga terkait sehingga penanganan konflik MEP dapat berjalan sinergis. Terus kita juga mikir perlu adanya koordinasi dan komunikasi antar instansi, lembaga, hingga komunitas setidaknya di Bogor dan sekitarnya untuk menindaklanjuti laporan konflik MEP dalam bentuk whatsapp grup. Nah kalau sudah ada WA Group kan enak nih komunikasinya, juga bisa share panduan-panduannya, karena itu perlu ada panduan penanganan konflik monyet ekor panjang biar jadi acuan mereka-mereka yang bekerja dalam menangani MEP. Kaitannya untuk pencegahan, FGD ini juga sepakat untuk perlunya diadain lebih banyak penyuluhan dan edukasi nih terutama buat kalian-kalian yang udah melihara MEP dan masyarakat yang ada di sekitar habitat MEP liar.

 

Wah looks good! Semoga hasilnya bener-bener bisa dijalankan ya…

Amin!! Biarlah yang panjang cukup ekornya si MEP aja ya, konfliknya pendek-pendek aja. Sukur-sukur nggak ada.

 

Ria Utari/Fattreza Ihsan

Kehilangan Rumah Habitatnya, Berat Ditranslokasi ke Hutan Sentap Kancang

Pasca kebakaran hutan dan lahan di daerah Ketapang, Kalimantan Barat, pekerjaan untuk memulihkan kembali kondisi kerusakan alam ini ternyata masih terus berlanjut. Terutama dalam hal menyelamatkan satwa-satwa yang kehilangan ruang hidupnya. Pekerjaan terbaru adalah menyelamatkan Berat, orangutan jantan berbobot lebih dari 80 kg. Pada akhir pekan lalu, tepatnya Jumat, 8 November 2019, tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari IAR Indonesia menerima laporan  warga tentang keberadaan orangutan ini di lahan konsesi sawit di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat.

Menindaklanjuti laporan ini, tim OPU IAR Indonesia segera menuju lokasi dan menemukan keberadaan orangutan ini yang beraktivitas di tanah karena tidak ada lagi pohon tinggi. Kondisi hutan di sekitar kebun sawit itu sudah terbakar dan tidak ada lagi tempat hidup yang layak bagi orangutan ini sehingga ia memasuki lahan kebun dan memakan umbut-umbut sawit untuk bertahan hidup. Melihat kondisi di lokasi yang tak memungkinkan orangutan ini bisa melanjutkan hidup,  tim OPU memutuskan untuk mentranslokasi orangutan ini yang kemudian dinama “Berat” ke hutan yang lebih baik. Kegiatan penyelamatan ini dilakukan bersama BKSDA Kalbar pada hari Minggu 10 November 2019.

Setelah menjalani proses pemeriksaan medis oleh tim dokter IAR Indonesia, Berat yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun, kemudian ditranslokasi ke hutan Sentap Kancang, yang dinilai lebih sesuai sebagai habitat barunya karena hutan tersebut masih menyediakan pepohonan dan tanaman yang cukup sebagai pakannya. Selain itu kepadatan populasi orangutan di hutan ini belum terlalu tinggi sehingga ia masih memiliki ruang hidup yang sesuai bagi karakter orangutan sebagai satwa yang soliter.

Sebelumnya, hanya dalam jangka waktu 2 bulan, IAR Indonesia telah menyelamatkan 6 individu orangutan korban kebakaran di Ketapang. “Berat adalah korban kebakaran 2019 yang ke 7 hanya di areal sekitar ketapang saja. Ancaman kebakaran sudah menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan orangutan dan juga menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong efek rumah kaca dan perubahan iklim,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Selain kerugian lingkungan kita harus memperhitungkan Kerugian ekonomi bagi pemerintah, bagi masyarakat dan bagi seluruh dunia akibat kebakaran juga karena kebakaran adalah permasalahan kita Bersama,” tambahnya.

Penyelamatan dan translokasi Berat ini memperlihatkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan sejak pertengahan tahun ini, memerlukan kerja sama semua pihak dalam memulihkan kembali kondisi hutan. Kesadaran warga yang semakin meningkat terhadap penyelamatan satwa juga turut mendukung pekerjaan-pekerjaan petugas penyelamat satwa di lapangan, dengan cara segera melaporkan keberadaan satwa dilindungi yang kehilangan hutan sebagai rumah hidupnya. Namun yang terutama, ke depannya, upaya masyarakat juga sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan serta praktik-praktik yang merusak ekosistem dan keseimbangan alam.

Dengan Satu Mata, Junai Melanjutkan Hidup di Gunung Tarak

Ketapang, Kalbar –  Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya, ia diselamatkan dalam kondisi mata kiri mengalami kebutaan. Saat diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada 20 September lalu, Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya. Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut.

Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya.

Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai pada Senin, 11 November 2019.

Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017. Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014.

Untuk memastikan kondisi Junai terus selamat dan mampu melanjutkan hidupnya, IAR Indonesia menempatkan tim patroli dan monitoring yang telah berada di sana sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan.

Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.

“Sebelumnya kami pernah juga melepaskan orangutan yang satu kakinya lumpuh akibat peluru pada tahun 2016 di HL Gunung Tarak, orangutan ini kami pantau setiap hari selama beberapa bulan dan terbukti bahwa orangutan ini mampu bertahan hidup dengan normal walaupun salah satu kakinya lumpuh akibat ada belasan peluru yang beberapa di antaranya mengenai saraf tulang belakangnya,” ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia. “Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,”tambahnya lagi.

 

Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez,

Orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin. Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai. Orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung, dimana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya. Jika peluru sampai kena kedua matanya, orangutannya bisa menjadi cacat untuk selamanya dan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya. Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut”

Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T.

Sebagai penggiat konservasi, kita mempunya satu pekerjaan rumah, yakni membangun pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada hutan, ekosistem dan satwa liar. Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, tapi penganiayaan terhadap satwa liar masih saja terus berlangsung. Penyelamatan satwa liar sudah sering dilakukan, namun itu tidak akan pernah cukup selama kita tidak mampu merubah mindset masyarakat dan generasi muda untuk lebih ramah pada satwa liar.

Pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimatan Barat, Untad Dharmawan

Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologis pada suatu ekosistem dalam hal ini adalah ekosistem hutan. Karena masing-masing dari setiap komponen yang ada dalam kesatuan ekosistem tersebut pada dasarnya memiliki peran dan relung ekologisnya masing2-masing sehingga akan tercipta suatu keseimbangan yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya.

Orangutan sebagai salah satu dari satwa langka yang dilindungi adalah merupakan Satwa khas bumi Kalimantan yang saat ini kehidupannya “terancam punah” akibat berbagai macam tekanan terhadap keberadaan hutan sebagai habitat kehidupan Orangutan. Tekanan berupa deforestasi, desertifikasi, overeksploitasi hutan, kebakaran hutan dan ditambah lagi perburuan liar semakin mengancam keberadaan orangutan itu sendiri.

Upaya yang telah dilakuan oleh Lembaga IAR indonesia selama ini dengan terus berupaya menyelamatkan, merawat, merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan ke habitatnya patut kita apresiasi. Selain ini merupakan langkah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan fungsi hutan, juga ini merupakan upaya sadar kita untuk  “memanusiakan manusia” sebagai khalifah dimuka bumi.

Rumah Baru Untuk Orangutan Korban Karhutla di TANAGUPA

Tim gabungan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Barat (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi (SKW) I Ketapang Resort Sukadana dan IAR Indonesia mentranslokasikan tiga orangutan korban kebakaran hutan ke kawasan Resort Kubang di dalam areal Taman Nasional Gunung Palung di Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Jumat (27/9).

Ketiga orangutan yang diberi nama Arang, Bara dan Jerit ini terpaksa ditranslokasikan karena habitat asal mereka sudah habis terbakar. Arang dan Bara diselamatkan di Desa Sungai Awan Kiri, Senin (16/9) sedangkan Jerit diselamatkan di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara pada Sabtu (21/9), meskipun diselamatkan di tempat dan waktu yang berbeda, masalah yang mereka hadapi sama, yaitu kebakaran hutan dan ancaman manusia.

Ketika diselamatkan, kondisi mereka cukup memprihatinkan karena selain badannya sangat kurus , mereka juga mengalami dehidrasi akibat kekurangan makanan. Ditambah lagi dengan ditemukan adanya luka membusuk akibat lilitan jerat di kaki orangutan Jerit dan ditemukan 2 butir peluru di dekat mata orangutan Arang. Kondisi ini menunjukan bahwa selain terancam oleh kebakaran hutan yang menghanguskan rumahnya, orangutan juga rentan mendapat serangan dari manusia ketika terusir dan mencari kehidupan di luar habitat aslinya.

Tim gabungan bergegas mengavakuasi Bara dan Arang ke Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Sei Awan, Muara Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Tim medis IAR Indonesia sudah memastikan kondisi ketiga orangutan ini dalam keadaan baik. “Saat ini kondisi ketiga orangutan ini sudah sehat dan siap dikembalikan ke habitatnya,” ujar AdvisorTim Medis IAR Indonesia, drh. Joost Philippa. “Kami melakukan operasi pengangkatan peluru di muka Arang pekan lalu dan sekarang lukanya sudah sembuh, begitu juga dengan luka akibat jerat di kaki Jerit,” jelasnya lagi.

Tim pelepasan bersiap dari pusat rehabilitasi IAR Indonesia sejak subuh. Tim medis melakukan pemeriksaan terakhir sebelum tim berangkat menuju Batu Barat. Perjalanan darat ditempuh selama 4 jam dan dilanjutkan dengan perahu melintasi sungai selama 1 jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama setengah jam menuju titik pelepasan.

Kawasan Batu Barat yang masuk ke dalam areal TANAGUPA ini dipilih berdasarkan hasil survey pra-pelepasan yang dilakukan oleh Balai TANAGUPA dan tim IAR Indonesia. “Berdasarkan survei lapangan yang telah kami lakukan bersama, jumlah populasi orangutan di kawasan ini masih rendah dan jumlah jenis pakan orangutan masih cukup tinggi sehingga lokasi ini sangat cocok untuk mentranslokasikan orangutan. Selain itu, status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan orangutan di dalamnya,” jelas Manager Lapangan IAR Indonesia, Argitoe Ranting.

Pernyataan Kepala Balai TANAGUPA, Ari M. Wibawanto: Untuk di TANAGUPA sendiri kami memiliki 3 alternatif tempat translokasi yang sudah kami survei daya dukungnya yaitu Riam Bekinjil, Bukit Kubang dan Bukit Daun Sandar. Kami sudah menerima 7 individu Orangutan yang ditranslokasikan ke kawasan kami, 5 diantaranya ke Bukit Kubang. Langkah kami ke depan bersama para pihak terkait yaitu BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia akan melakukan survei lokasi-lokasi lain yang cocok untuk dijadikan tempat translokasi agar populasi Orangutan tidak menumpuk di satu tempat saja. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup Orangutan. Apabila tempat translokasi hanya terbatas di 3 tempat tadi, kami khawatir justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Translokasi sebenarnya adalah solusi terakhir dalam upaya penyelamatan Orangutan. Seharusnya yang kita lakukan bersama adalah menjaga habitat Orangutan yang tersisa sekarang. Arang, Bara dan Jerit adalah contoh bahwa Orangutan benar-benar berada di dalam ancaman. Oleh karena itu saya mengajak semua masyarakat dan juga semua pihak untuk tidak melakukan pembakaran hutan,  tidak menebang hutan dan juga tidak melakukan perburuan liar

Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor: Keberhasilan BKSDA Kalbar bersama mitra YIARI melakukan penyelamatan satwa liar, khususnya orangutan, dari lokasi lahan/hutan yg terbakar kali ini, di satu sisi merupakan sebuah capaian tetapi di sisi lain menggambarkan sebuah keprihatinan yang mendalam. Kegiatan penyelamatan tersebut hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil, dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yg seharusnya diambil untuk menghentikan dan mencegah bencana yg berkelanjutan dan berulang ini. Sebuah bencana yg berdampak luas dan mematikan bagi kehidupan.

Pernyataan Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez: Kami sangat mengapresiasi upaya dari TANAGUPA untuk menjaga biodiversity dan habitat orangutan. Landscape TANAGUPA dan sungai putri merupakan suatu metapopulasi orangutan yang cukup penting dengan jumlah yang diperkirakan 3,280 (PHVA 2016) dengan viabilitas cukup tinggi. Orangutan ini berasal dari metapopulasi tersebut dari lokasi di pinggir habitat yang sedang dibawah tekanan dari gangguan kebakaran dan konflik. Oleh karena itu tempat yang paling tepat untuk translokasi orangutan ini adalah di TANAGUPA, lokasi yang masih aman dan berada dalam metapopulasi yang sama. Orangutan ini jadi korban kebakaran, tetapi sangat beruntung sekali karena tim dari BKSDA dan IAR bisa menyelamatkan mereka, dan bisa dikembalikan ke hutan yang aman di TANAGUPA. Kami senang sekali karena 3 orangutan ini bisa selamat dan bisa kembali ke alam untuk melanjutkan hidupnya”

Dukungan dan Keterlibatan Kaum Perempuan Menjadi Faktor Penting Kegiatan Konservasi

Dalam kegiatan pelepasliaran lima individu orangutan yaitu Japik, Kibo, Manis, Santi, dan Bujing yang dilakukan IAR Indonesia, bersama BKSDA Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di kawasan hutan TNBBBR pada 28 Juli 2019, keikutsertaan kaum perempuan dari desa-desa penunjang di sekitar TNBBBR, yaitu desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai, menjadi pengalaman istimewa. Untuk pertama kalinya, sekitar belasan perempuan dari desa-desa tersebut dilibatkan sebagai porter yang membawa muatan logistik hingga peralatan seluruh peserta tim pelepasliaran.

Sejak tim IAR Indonesia bersama perwakilan BKSDA Kalbar dan Balai TNBBBR tiba di lokasi desa, para perempuan tangguh ini masing-masing membagi muatan untuk ditempatkan ke dalam tengkalang (keranjang tradisional berukuran besar dari bahan rotan) yang kemudian mereka usung di punggung mereka.  Mereka menempuh perjalanan satu jam dengan perahu, dilanjutkan berjalan kaki selama tiga hingga empat jam melintasi hutan, untuk tiba di Kamp Teluk Ribas yang menjadi lokasi penempatan kelima orangutan di kandang habituasi, sebelum dilepasliarkan. Muatan masing-masing orang ini berkisar 20-30 kg.

Para perempuan tangguh yang menjadi porter logistik ini berasal dari desa penyangga kawasan TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Mengikuti perjalanan para perempuan ini sungguh mengagumkan. Mereka berjalan dengan tangkas dan gesit melewati jalur setapak yang naik turun serta kondisi jalanan yang licin dan berlumpur di banyak bagian setelah berhari-hari sebelumnya diguyur hujan. Ketangguhan mereka sangat patut diacungi jempol, tak kalah dengan para porter pria yang membawa kandang kelima orangutan.

Ketangguhan mereka tak hanya dari sisi fisik. Keikutsertaan mereka dalam pelepasliaran ini memperlihatkan keuletan mereka dalam mencari nafkah bagi keluarga. Sehari-hari, kebanyakan perempuan di desa-desa penunjang TNBBBR ini bekerja di ladang atau di kebun karet. Sebagian dari mereka juga kerap diperbantukan oleh IAR Indonesia untuk menjadi juru masak di Kamp Teluk Ribas, yang merupakan kamp bagi tim survei dan monitoring satwa liar di TNBBBR dan juga sesekali menjadi porter logistik bagi keperluan kamp.

Menyusuri sungai hingga berjalan kaki memasuki pedalaman hutan TNBBBR dengan jalan menanjak dan licin tak menjadi hambatan para porter perempuan tangguh ini. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara dan tujuan IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Keterlibatan perempuan begitu penting, karena merekalah pihak yang memegang peranan dalam mengatur keuangan keluarga, baik untuk keperluan sehari-hari maupun ketika mereka memerlukan biaya tambahan bagi keperluan kesehatan dan pendidikan.

Sebelum terlibat dalam kegiatan-kegiatan IAR Indonesia, kebanyakan keluarga di desa sekitar TNBBBR, menebang pohon dan menjualnya ataupun menjual satwa liar untuk mendapatkan biaya tambahan. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari, masyarakat sekitar memenuhi kebutuhannya dengan berladang.

“Kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia. Mereka mendapatkan penghasilan alternatif yang dapat menggantikan pemasukan yang biasa mereka dapatkan dari pembalakan liar dan membantu melestarikan hutan. Khususnya ketika bekerja dengan wanita, mereka akan pulang ke rumah dengan penghasilan tambahan untuk membantu keluarga mereka. Memberdayakan perempuan adalah salah satu cara paling efektif untuk menyelamatkan hutan. Oleh karena itu kami percaya bahwa peran perempuan dalam konservasi sangat penting dan mata pencaharian alternatif yang mencakup perempuan harus dipromosikan,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

“Saya senang sekali dan selalu menunggu jika ada kegiatan pelepasliaran, karena saya bisa mendapat rezeki tambahan. Memang capek sekali, tapi jika dikerjakan beramai-ramai jadi tidak terasa lelah,” ujar Yati, 38 tahun, salah satu porter yang terlibat.

Kegembiraan Yati juga bertambah ketika anak keduanya, Dea, terpilih menjadi salah satu dari 20 anak dari desa-desa sekitar TNBBBR yang mendapatkan beasiswa pendidikan dari IAR Indonesia. Kebahagiaannya ini menjadi penawar duka setelah kematian suaminya pada Mei lalu. Yati dan para perempuan lainnya ini, bisa menjadi salah satu bukti bahwa melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan bermisi lingkungan hidup, merupakan faktor penting karena merekalah sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga bagi anak-anak mereka. (DRU)