Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Pohon Jelutung: Manfaat, Distribusi Habitat, Ancaman, dan Strategi Pemanfaatan

Hai, sobat #KonservasYIARI!

Pernah mendengar pohon jelutung? Jika belum, mungkin tanpa sadar kita sudah menikmati manfaatnya.

Pohon ini merupakan salah satu jenis penghasil lateks atau getah alami yang memiliki banyak kegunaan di berbagai industri.

Pohon jelutung tumbuh subur di hutan tropis Asia Tenggara dan memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan.

Namun, keberadaannya kini terancam oleh deforestasi, alih fungsi lahan, serta eksploitasi berlebihan. Untuk menjaga keberlanjutannya, penting bagi kita memahami manfaat dan menerapkan strategi konservasi yang efektif, demi mendukung industri yang berkelanjutan serta ekosistem yang sehat.

Yuk, kenalan lebih jauh tentang pohon jelutung dan upaya pelestariannya!

Pengenalan dan Manfaat Ekonomi Jelutung

Secara umum, pohon jelutung terbagi menjadi dua jenis, yaitu jelutung rawa (Dyera costulata) dan jelutung darat (Dyera polyphylla atau Dyera lowii).

Pohon ini dikenal sebagai salah satu penghasil getah terbaik di dunia, berbeda dengan pohon lain yang biasanya dimanfaatkan kayunya. Tak heran, negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, sampai negara-negara di Eropa masih banyak mengimpor getah jelutung dari Indonesia.

Balok getah karet cetakan pohon jelutung (Hutanharapan.id)

Inilah berbagai manfaat pohon jelutung:

1. Sumber getah alami berkualitas tinggi

Pohon jelutung merupakan salah satu sumber utama lateks alami berkualitas tinggi. Lateks yang dihasilkan memiliki tingkat elastisitas dan daya tahan lebih baik dibandingkan getah karet biasa.

Hal ini membuat getah jelutung sangat diandalkan dalam berbagai industri, terutama yang memerlukan bahan dengan ketahanan tinggi dan fleksibilitas, seperti industri ban dan produk berbahan dasar karet lainnya.

2. Bahan baku industri

    Getah jelutung memiliki beragam aplikasi di industri, mulai dari pembuatan ban mobil sampai isolator kabel. Keunggulannya yang lebih elastis dan tahan lama membuatnya cocok digunakan sebagai bahan utama dalam industri tersebut.

    Selain itu, getah jelutung juga dimanfaatkan dalam pembuatan permen karet, cat, dan vernis akrilik, karena sifatnya yang mudah diolah dan stabil.

    3. Pendukung ekonomi lokal

      Keberadaan pohon jelutung memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal di sekitar habitatnya. Petani dan penduduk setempat dapat memanfaatkan pohon ini dengan menjual getahnya ke pasar lokal maupun internasional.

      Selain itu, kayu dari pohon jelutung juga bisa diolah menjadi produk mebel yang memiliki nilai jual tinggi, memberikan peluang tambahan bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

      4. Berpotensi menyerap karbon

        Sebagai bagian dari ekosistem hutan tropis, pohon jelutung berperan penting dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Proses ini membantu dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca, yang berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.

        Oleh karena itu, keberadaan pohon jelutung juga pada upaya pelestarian lingkungan global.

        5. Konservasi ekosistem gambut

          Pohon jelutung secara alami tumbuh di lahan gambut, yang merupakan ekosistem penting untuk menjaga keseimbangan hidrologis. Lahan gambut yang terjaga baik dapat mencegah banjir, menjaga kelembaban tanah, dan mengurangi risiko kebakaran hutan.

          Dengan demikian, pelestarian pohon jelutung berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan ekosistem gambut dan kesehatan lingkungan secara keseluruhan.

          6. Memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan

            Pohon jelutung memiliki masa panen panjang, yakni sekitar 15-20 tahun. Hal ini memungkinkan petani dan masyarakat di sekitar hutan jelutung untuk mendapatkan penghasilan dalam jangka panjang dari penyadapan getah secara berkelanjutan.

            Dengan siklus panen yang dapat dilakukan setiap minggu, potensi pendapatan ini bisa terus berkembang tanpa merusak lingkungan, asalkan pengelolaan dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai prinsip konservasi.

            Distribusi dan Habitat Jelutung

            Pohon jelutung tersebar luas di wilayah hutan tropis di Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

            Di Indonesia sendiri, pohon ini banyak ditemukan di Sumatra, Kalimantan, dan sebagian wilayah Sulawesi. Jelutung umumnya tumbuh di dua jenis habitat utama, yaitu lahan rawa dan lahan dataran tinggi, yang membedakannya menjadi dua spesies utama: jelutung rawa (Dyera costulata) dan jelutung darat (Dyera polyphylla atau Dyera lowii).

            Ilustrasi ketinggian pohon jelutung (Kompasiana)

            1. Jelutung rawa

              Jelutung rawa tumbuh subur di kawasan lahan gambut dan hutan rawa. Habitat ini biasanya memiliki kadar air tinggi dengan tanah berlapis gambut tebal.

              Jelutung rawa mampu tumbuh di kondisi tanah yang tergenang air dan tetap berfungsi sebagai tanaman yang mendukung ekosistem lahan basah, termasuk dalam menjaga keseimbangan hidrologis dan mencegah penurunan permukaan tanah.

              Kondisi ideal bagi jelutung rawa mencakup lahan yang lembab, sinar matahari yang cukup, dan temperatur hutan tropis yang hangat. Habitat ini juga sering kali berfungsi sebagai penyimpan karbon alami, mengingat kemampuan lahan gambut dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

              2. Jelutung darat

                Sebaliknya, jelutung darat tumbuh di habitat dataran tinggi dan hutan-hutan tropis dengan tanah yang lebih kering dibandingkan lahan gambut. Spesies ini umumnya ditemukan di hutan dataran rendah hingga menengah, dan cenderung lebih tahan terhadap kondisi tanah yang tidak terlalu basah.

                Meskipun tumbuh di dataran lebih tinggi, jelutung darat tetap memerlukan curah hujan yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya. Pohon ini sering ditemukan di area yang lebih dekat dengan permukiman, sehingga memungkinkan pengelolaan dan pemanenan getah secara lebih intensif oleh masyarakat lokal.

                Secara keseluruhan, distribusi pohon jelutung mencerminkan perannya yang penting dalam ekosistem tropis dan kontribusinya terhadap keanekaragaman hayati.

                Namun, saat ini habitat jelutung terancam oleh deforestasi, konversi lahan menjadi perkebunan atau pertanian, serta praktik penyadapan yang tidak berkelanjutan. Upaya pelestarian habitat jelutung harus mempertimbangkan karakteristik ekologi dan kebutuhan spesifiknya, sehingga populasinya tetap dapat terjaga dalam jangka panjang.

                Ancaman dan Strategi Konservasi Jelutung

                Pohon jelutung, meskipun memiliki nilai ekonomi dan ekologis yang signifikan, menghadapi sejumlah ancaman yang mengancam kelangsungan hidupnya.

                Berikut beberapa ancaman utama yang dihadapi:

                1. Deforestasi dan konversi lahan

                  Deforestasi adalah ancaman terbesar bagi pohon jelutung. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertanian, dan pembangunan infrastruktur seringkali mengakibatkan konversi lahan hutan jelutung. Hal ini menyebabkan hilangnya habitat alami dan mengurangi populasi pohon jelutung secara drastis.

                  Proses konversi lahan gambut menjadi area pertanian atau perkebunan juga berdampak buruk pada ekosistem gambut, di mana jelutung rawa tumbuh.

                  2. Eksploitasi berlebihan

                    Permintaan getah jelutung yang tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional, mendorong praktik penyadapan berlebihan. Penyadapan tanpa mengikuti prosedur yang tepat dapat merusak kesehatan pohon dan mengurangi produktivitasnya.

                    Praktik ini biasanya dilakukan tanpa mempertimbangkan jeda waktu yang dibutuhkan pohon untuk memulihkan diri, sehingga mempercepat kerusakan dan bahkan kematian pohon.

                    3. Kebakaran hutan dan degradasi lahan

                      Kebakaran hutan, terutama di lahan gambut, merupakan ancaman serius bagi habitat jelutung. Lahan gambut yang kering sangat rentan terhadap kebakaran, yang dapat menghancurkan hutan jelutung dan mengurangi populasi pohon secara signifikan.

                      Selain itu, pengeringan lahan gambut untuk kepentingan lain juga dapat menyebabkan degradasi lahan, sehingga mengganggu pertumbuhan dan regenerasi alami pohon jelutung.

                      4. Perubahan iklim

                        Pohon jelutung sangat sensitif terhadap perubahan iklim, terutama karena pergeseran pola curah hujan dan kenaikan suhu. Kondisi ini dapat memengaruhi siklus pertumbuhan dan penyadapan getah.

                        Curah hujan yang tidak menentu atau musim kemarau berkepanjangan dapat memperlambat pertumbuhan jelutung. Sementara suhu lebih tinggi memicu kebakaran lahan gambut.

                        Bibit Jelutung Rawa di Kelompok Tani Hutan (KTH) Tella Serasan, Muara Enim (wikigambut.id)

                        Untuk melindungi pohon jelutung dari ancaman-ancaman tersebut, diperlukan langkah-langkah konservasi yang efektif. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan:

                        1. Pengelolaan hutan berkelanjutan

                          Pengelolaan hutan secara berkelanjutan, termasuk penerapan prinsip-prinsip agroforestri, dapat membantu mempertahankan habitat alami jelutung sekaligus memaksimalkan manfaat ekonominya.

                          Agroforestri memungkinkan pohon jelutung ditanam bersama dengan tanaman lain, menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan stabil serta mendukung sumber pendapatan masyarakat lokal.

                          2. Penyadapan ramah lingkungan

                            Praktik penyadapan ramah lingkungan harus diterapkan untuk mengurangi kerusakan pada pohon. Penggunaan teknik penyadapan yang benar dan pengaturan jadwal penyadapan yang teratur dapat membantu menjaga kesehatan pohon dan meningkatkan produktivitas jangka panjang.

                            Pelatihan bagi petani dan masyarakat setempat tentang metode penyadapan yang berkelanjutan juga penting untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi.

                            3. Restorasi habitat

                              Restorasi habitat, khususnya lahan gambut yang terdegradasi, berguna dalam memperbaiki kondisi lingkungan tempat jelutung tumbuh. Upaya ini mencakup reboisasi, pemulihan lahan gambut yang rusak, serta perlindungan sumber daya air agar tetap mendukung pertumbuhan jelutung.

                              Restorasi juga berfungsi sebagai langkah mitigasi perubahan iklim dengan memperkuat peran hutan jelutung sebagai penyerap karbon.

                              4. Perlindungan kawasan konservasi

                                Pembentukan dan pemeliharaan kawasan konservasi yang melindungi habitat jelutung sangat diperlukan. Dengan memberikan status perlindungan resmi, kawasan ini akan lebih terlindungi dari kegiatan konversi lahan dan penebangan ilegal.

                                Kolaborasi dengan pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal dapat membantu menjaga keberlanjutan kawasan ini.

                                5. Peningkatan kesadaran masyarakat

                                  Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pohon jelutung bagi ekonomi lokal dan ekosistem adalah kunci dalam strategi konservasi. Edukasi publik melalui kampanye, pelatihan, dan program berbasis masyarakat dapat meningkatkan pemahaman dan dukungan terhadap pelestarian jelutung.

                                  Keterlibatan masyarakat setempat sebagai penjaga ekosistem juga dapat membantu menciptakan solusi konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

                                  Sobat #KonservasYIARI,

                                  bagi masyarakat lokal, terutama di daerah Sumatera dan Kalimantan, pohon jelutung menjadi sumber penghidupan penting, terutama getahnya. Banyak masyarakat lokal menggantungkan penghidupan mereka pada produksi lateks atau getah jelutung.

                                  Menjaga populasi dan keberlanjutan pohon jelutung akan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat lokal. Sebagai salah satu sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi tinggi, pohon jelutung menyimpan banyak peran. 

                                  Yuk, kita manfaatkan keberadaan pohon jelutung dengan bijak! budayakan mengolah alam sekitar dengan optimal dan bijak ya, sobat.

                                  Referensi:

                                  Feature image: Gambutkita.org

                                  https://www.cifor-icraf.org/knowledge/publication/27408/

                                  https://journal.ipb.ac.id/index.php/konservasi/article/download/13925/10452/0

                                  https://youtu.be/cfw7VwAKnfY?si=WWZAIss_tcawOBUy

                                  https://bahrulrambe.blogspot.com/2019/04/paper-ekonomi-sumber-dayahutan-medan_11.html

                                  https://www.foreststreesagroforestry.org/news-article/icraf-explores-why-people-matter-and-jelutung-holds-promise-for-indonesias-peat/

                                  https://www.researchgate.net/publication/277249567_Jelutung_Rawa_Teknik_Budidaya_dan_Prospek_Ekonominya

                                  https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jss/article/view/6150

                                  Ambil Peran dalam Konservasi Burung Indonesia melalui Kegiatan PPBI

                                  Sobat #KonservasYIARI suka mengamati lingkungan sekitar gak? Atau pernah ikut pengamatan satwa? Gimana kalau pengamatan burung? Pada 5 – 7 Mei 2023 lalu, tim dari YIARI ikut serta dalam kegiatan Pertemuan Pengamat Burung Indonesia Kesepuluh (PPBI X) nih, di Desa Penatahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

                                  PPBI merupakan kegiatan pertemuan pengamat burung yang rutin dilakukan setiap tahunnya dengan lokasi yang berbeda-beda. Namun, kegiatan ini sempat terhenti nih sob akibat pandemi Covid-19, dan kegiatan kesepuluh ini merupakan kegiatan pertama yang dilaksanakan lagi setelah masa 2 tahun vakum tersebut.

                                  Foto bersama peserta PPBI X pada hari pertama (Prema Ananda)

                                  Kegiatan ini diselenggarakan oleh komunitas Satwa Alam Bali (SAB) yang dibantu oleh para sponsor dari Sol Benoa, Oemah Padi, YIARI, Jelajah Alam Indonesia, Canon, Museum Patung Burung, Birding Indonesia, Birdpacker, Pondok Edukasi Pangkung Capung, Bogor Nature Wildlife Photography, dan Sriwijaya Camera Denpasar.

                                  Total peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 110 dan berasal dari berbagai daerah, loh! Selain dari Bali, banyak peserta yang berasal dari Pulau Lombok dan Pulau Jawa (Jakarta, Jogja, Jawa Tengah, Malang, Surabaya, serta Kediri), bahkan dari provinsi NTT (Sumba-Flores) dan Kalimantan barat (Pontianak)!

                                  Peserta terdiri dari berbagai macam profesi, seperti mahasiswa, staff BKSDA (Balai Konservasi Sumberdaya Alam), staff Balai Taman Nasional, pengusaha, pegiat LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dokter hewan, hingga dokter manusia.

                                  Keseruan peserta PPBI X melihat hasil foto serta mengidentifikasi burung yang dilihat (Prema Ananda)

                                  Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan yang mewakili Bupati Tabanan pada tanggal 5 Mei 2023 pukul 17.00 di Gedung Serbaguna Aula Desa Penatahan. Selain kepala dinas pertanian, hadir pula Camat Penebel dan Kepala Desa Penatahan saat pembukaan acara.

                                  Selama 3 hari, para pengamat burung dari berbagai wilayah ini berdiskusi, melakukan pengamatan, dan mengabadikan potret burung liar melalui foto dengan tujuan konservatif, untuk saling menjaga dan bangga terhadap biodiversitas yang dimiliki Indonesia.

                                  Kegiatan dilakukan di areal persawahan Desa Penatahan dan hutan di sekitar pura luhur batukaru. Desa Penatahan dan Kawasan Batukaru dipilih sebagai lokasi kegiatan karena kekentalan budaya bali serta konsep Tri Hita Karana-nya, yang berarti tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagiaan bagi umat manusia. Lokasi ini juga memiliki beberapa jenis burung yang sudah sulit ditemui di tempat lain, seperti jenis bondol oto-hitam (Lonchura ferruginosa) dan juga beluk-watu jawa (Glaucidium castanopterum).

                                  Foto bersama peserta PPBI X pada hari ketiga (Key Miyamoto)

                                  Pada sesi diskusi, terungkap bahwa hingga kini masih banyak terjadi perburuan dan perdagangan burung di seluruh Indonesia. Karena hal tersebut, seluruh peserta pun menyepakati komitmen untuk mengupayakan kegiatan preventif terhadap eksploitasi burung di alam liar. Bentuk komitmen tersebut akan dikerjakan pada tahun 2023 dan diperkenalkan pada pertemuan pengamat burung selanjutnya pada tahun 2024 yang rencananya akan dilaksanakan di Desa Mendolo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

                                  Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

                                  5 Fakta Tentang Pentingnya Mangrove yang Harus Kalian Ketahui

                                  Halo Sobat #KonservasYIARI, sudah tahukah kalian tentang mangrove?

                                  Nah, mangrove merupakan kawasan yang disusun oleh jenis-jenis tanaman yang hidupnya di air payau atau air laut. Salah satu jenis tanaman tersebut adalah bakau. Pasti kalian sudah pernah mendengar mengenai tanaman ini kan?

                                  Tahukah kalian manfaat mangrove untuk lingkungan?

                                  Jika kalian sudah pernah melihat kawasan hutan mangrove, pernahkah kalian memikirkan sebenarnya apa manfaat dari mangrove ini? Apakah hanya sekedar hiasan? Oh tentu tidak, berikut merupakan manfaat dari hutan mangrove yang bisa dirasakan oleh lingkungan sekitarnya. Simak terus ya.

                                   

                                  1. Mencegah abrasi dan erosi tanah
                                  Mangrove mencegah abrasi dan erosi (Dj Onces Saputra, CC-BY 3.0)

                                  Pernahkah kalian melihat wilayah pantai yang semakin terkikis? Serem juga kan jika nanti dimasa yang akan dating wilayah pantai semakin hilang karena terkikis. Hal tersebut ternyata bisa dicegah dengan cara memanfaatkan hutan mangrove. Hutan mangrove memiliki akar yang dapat melindungi tanah di wilayah pesisir. Nah, oleh karena itu tanaman atau hutan mangrove dapat menjadi pelindung wilayah pantai dari pengikiran tanah akibat air yang ada.

                                  2. Habitat bagi banyak hewan
                                  Hewan yang tinggal di kawasan mangrove (Sigarwengi, CC BY-SA 4.0)

                                  Rindangnya hutan mangrove ternyata sangat bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Berbagai macam hewan juga dapat tinggal di dalam hutan mangrove ini. Hewan tersebut merasa cocok tinggal dalam hutan mangrove karena tersedia banyak sumberdaya yang dapat mereka makan.

                                  3. Menyerap emisi karbon
                                  Suasana sejuk tanpa polusi di Kawasan hutan mangrove (Lakshmiclicks, CC BY-SA 4.0)

                                  Kalian tau gak sih sebenarnya perubahan iklim dan cuaca seperti sekarang ini tuh bisa untuk diatasi? Nah, cara mengatasinya adalah dengan menanam hutan mangrove ini. Hutan mangrove berperan sangat penting dalam proses pengurangan emisi karbon. Hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat dalam hutan mangrove dapat menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi karbon organik yang disimpan didalam biomassa tubuhnya yaitu seperti pada akar, batang, daun dan bagian lainnya. Nah inilah yang bikin udara di lingkungan sekitarnya menjadi lebih segar.

                                   

                                  4. Menjaga kualitas air
                                  Kualitas air yang terjaga di sekitar hutan mangrove (Ms.mii, CC BY-SA 4.0)

                                  Hal ini adalah hal yang haram dilakukan ketika kamu berada Kalau kalian pernah bermain ke lokasi wisata hutan mangrove maka kalian akan tau kotoran-kotoran yang tersangkut pada akar-akar tumbuhan yang ada didalamnya. Hal tersebut yang akan menjadikan kualitas air disekitarnya menjadi terjaga. Hutan mangrove juga dapat menyerap semua jenis logam berbahaya yang terkandung dalam air sehingga kualitas air menjadi terjaga. Coba deh kalian bandingkan air yang ada dalam sekitar hutan mangrove dengan air yang tidak berada dalam lingkungan mangrove.

                                  5. Tempat rekreasi
                                  Wisata mangrove yang didatangi banyak pengunjung (Macipul, CC BY-SA 4.0)

                                  Nah kalau sudah tahu apa saja hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan ketika di hutan, harus ditaati ya. Kelestarian Nah kalo yang ini sih yang kalian tunggu-tunggu. Hutan mangrove dapat memenuhi kebutuhan kalian dalam bermedia sosial. Wilayah hutan mangrove yang rimbun dan dikelola dengan baik akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tidak sedikit wisata mangrove yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Jadi hutan mangrove ini dapat menjadi salah satu opsi kalian untuk menikmati waktu libur yah Sobat #KonservasYIARI.

                                  Sekarang bagaimana? Sudah pada tersadar kan betapa pentingnya mangrove untuk lingkungan di sekitarnya? Perlu diingat, hal diatas merupakan sebagian kecil saja peran mangrove untuk lingkungan sekitarnya. Jadi, masih banyak banget manfaat yang dihasilkan dari hutan mangrove untuk lingkungan. Yuk sama-sama kita jaga kelestarian hutan mangrove agar selalu memberikan manfaat untuk kehidupan. Jaga Mangrove, Selamatkan Bumi!

                                  Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

                                  Referensi :
                                  https://lindungihutan.com/blog/hutan-mangrove/
                                  https://www.kompas.com/sains/read/2021/09/02/123200323/7-manfaat-hutan-mangrove-bagi-lingkungan-dan-kehidupan
                                  https://lindungihutan.com/blog/manfaat-hutan-mangrove/

                                  Ravy Nur Aziz

                                  Ingin ke Hutan? Eitss Perhatikan Hal Ini Dulu Ya!

                                  Berbicara tentang hutan, penulis langsung teringat kepada cuitan dari Fiersa Besari yang mengatakan “Di hutan, saya senang berlama-lama. Karena di kota terlalu banyak drama”. Hutan memang menjadi tempat favorit bagi banyak orang.

                                  Beberapa orang menilai bahwa hutan dapat dijadikan tempat yang nyaman untuk melepaskan penat. Namun seperti kata pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, pada saat di hutan ada hal yang boleh dilakukan dan juga hal yang tidak boleh dilakukan. Nah berikut merupakan hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan ketika kamu sedang berada di hutan.

                                   

                                  3 hal yang boleh dilakukan ketika di hutan

                                  1. Menanam pohon

                                  Menanam pohon untuk menyelamatkan kehidupan (Heri Nugroho, CC BY-SA 4.0)

                                  Kegiatan penanaman pohon merupakan kegiatan yang dapat menjaga ekosistem serta kelestarian hutan. Pohon yang ditanam dapat menjadi pengganti pohon yang sudah ditebang atau rusak. Banyak sekali manfaat yang didapat dari kegiatan menanam pohon dihutan. Jadi, kalian boleh melakukan hal ini ya.

                                  2. Berfoto

                                  Berfoto di hutan(Yusufpurnomo, CC BY-SA 4.0)

                                  Zaman sekarang mungkin berfoto adalah kegiatan wajib yang harus dilakukan ketika mengunjungi sebuah tempat. Kalau tidak begitu mungkin akan dinilai kurang update oleh yang lainnya. Nah berfoto merupakan kegiatan yang boleh dilakukan ketika berada di hutan. Bahkan ada yang bilang kalau sedang berada di hutan, “Jangan ambil apapun kecuali gambar”. Namun hal ini tetap harus disertai etika yang baik ya.

                                  3. Camping atau berkemah

                                  Camping di hutan (Teteu, CC BY-SA 2.0)

                                  Tidak jarang tujuan orang ke hutan adalah untuk kegiatan camping. Camping atau berkemah adalah hal yang sah-sah saja dilakukan ketika di hutan. Namun ingat ya, kalau camping tetap jaga kelestarian dan kebersihan lingkungan. Sebagai makhluk yang menikmati manfaat akan hutan, kita juga harus membalasnya dengan cara merawat serta menjaganya.

                                   

                                  3 hal yang tidak boleh dilakukan ketika di hutan

                                  1. Membuang sampah sembarangan

                                  Tumpukan sampah yang mengotori lingkungan (Purplepix, CC BY 2.0)

                                  Hal ini adalah hal yang haram dilakukan ketika kamu berada di hutan. Hal ini akan membuat hutan kehilangan keasriannya. Sampah yang ditinggalkan di hutan akan menyebabkan pencemaran lingkungan hutan. Jadi, ketika sedang di hutan maka bawa pulang sampahmu ya!

                                  2. Menebang pohon sembarangan

                                  Akibat dari penebangan pohon secara liar (CC BY-SA 3.0)

                                  Penebangan pohon di hutan secara liar jelas-jelas tidak diperbolehkan. Hal ini dapat merusak ekosistem serta kelestarian hutan. Penebangan hutan juga dapat mengakibatkan bencana seperti tanah longsor dan banjir. Masih ingin menebang pohon sembarangan? Mending tidak usah ke hutan ya, hutan juga tidak butuh orang yang tidak bertanggung jawab kok.

                                  3. Berburu satwa liar atau satwa dilindungi

                                  Orang sedang mencari target perburuan (USFWS Headquarters, CC BY 2.0)

                                  Coba bagi kalian yang tidak sadar akan kelestarian satwa, tolong banget jangan ke hutan ya. Hutan adalah habitat bagi banyak satwa. Tentunya satwa di hutan tidak boleh diganggu kehidupannya agar tetap lestari. Coba deh kamu bayangkan kalau satwa di hutan habis karena diburu oleh setiap orang demi kepentingan pribadinya, menyedihkan bukan? Ekosistem yang sudah terbentuk di hutan pun akan terganggu akibat dari perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab tersebut.

                                  Nah kalau sudah tahu apa saja hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan ketika di hutan, harus ditaati ya. Kelestarian hutan memang tergantung pada manusia yang memanfaatkannya. Ketika kita memberikan kebaikan pada hutan maka hutan akan memberikan kebaikan pula pada kita. Maka, jaga dan lindungi hutan untuk hidup yang berkelanjutan ya! Salam Lestari!

                                  Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

                                  Ravy Nur Aziz