Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kolaborasi Lembaga Konservasi untuk meningkatkan Kapasitas dalam Pemeriksaan Satwa

Halo Sobat #KonservasYIARI ! Pada tanggal 5 – 9 Juli 2023 dokter hewan kami dan tim berkelana ke Palembang dan Bangka, loh! Ngapain ya?

Jadi, pada tanggal tersebut diadakan acara bertajuk “Pelatihan dan Upaya Peningkatan Kapasitas dalam Pemeriksaan Medis Satwa di Lembaga Konservasi”. Kegiatan ini terbagi di dua lokasi, yaitu di PRS (Pusat Rehabilitasi Satwa) Punti Kayu di Palembang pada 5 – 6 Juli, dan PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Alobi di Bangka pada 8 – 9 Juli.

Sobat #KonservasYIARI tau gak sih kalau Indonesia itu memiliki 59 jenis spesies primata endemik yang hidup tersebar pada beberapa pulau di Indonesia? Nah, sebagian besar primata di Indonesia itu termasuk dalam kategori dilindungi melalui Peraturan Menteri LHK 106 tahun 2018, karena populasinya yang semakin berkurang di habitatnya. Akan sangat disayangkan jika primata endemik ini punah kan? . Makanya, untuk memaksimalkan upaya konservasi mempertahankan keberadaan serta kesejahteraan mereka di alam,  diadakan acara pelatihan ini!

Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk workshop pemeriksaan kesehatan satwa liar ini merupakan kolaborasi antara BKSDA Sumatera Selatan bersama The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAF-IP), Alobi Foundation, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Para dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Yayasan Kalaweit dan OIC-SRA (Orangutan Information Center-Sumatera Rescue Alliance) juga turut berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan kali ini. Perwakilan dokter hewan kami yang berangkat ke Sumatera Selatan untuk menjadi bagian dari acara tersebut ialah drh. Nur Purba Priambada dan drh. Imam Arifin , bersama beberapa tim kami.

Pemeriksaan kesehatan satwa yang dilakukan di antaranya ialah pemeriksaan fisik, pemeriksaan x-ray, pengambilan sampel darah, serta penanganan dan pengobatan satwa. Satwa yang diperiksa diantaranya ialah siamang, owa, kukang, dan kura-kura bajuku. Selain itu, ada pula kegiatan diskusi interaktif hasil kegiatan dan diskusi berbagi cerita kasus perawatan, penanganan, dan pengobatan satwa.

Rangkaian kegiatan pelatihan dan upaya peningkatan kapasitas dalam pemeriksaan medis (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Oiya, ada good news loh, Sob!  Ada yang bikin happy banget nih meski awalnya tidak direncanakan, yaitu kegiatan pelepasliaran kukang! Jadi ketika pemeriksaan di PPS Alobi, setelah dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis, juga pemberian rekomendasi terkait masalah kesehatan, nutrisi, perilaku, dan lingkungan fisik, 2 dari 5 kukang yang diperiksa ternyata dinyatakan sudah siap menghadapi dunia nyata, eh maksudnya alam liar! Jadi, di akhir kegiatan, pihak BKSDA dan Alobi Foundation melepasliarkan kedua kukang tersebut di Tahura Bukit Mangkol.

Kegiatan pelatihan ini adalah tindak lanjut dari kegiatan peningkatan kapasitas BKSDA Sumatera Selatan yang dilaksanakan pada Januari 2023 lalu. Kamu bisa baca ceritanya di sini ya: Implementasi Konsep One Health, BKSDA Sumsel Gelar Seminar dan Pelatihan Penanganan Primata Hasil Sitaan , Seminar Sehari dan Pelatihan.

Harapannya,  pelatihan ini dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan satwa yang ditangani oleh personil medis di tiap-tiap lembaga konservasi. Semoga akan ada kegiatan kolaborasi konservasi yang dapat diikuti lebih banyak lembaga ya, karena upaya konservasi adalah perjuangan bersama, kan? Panjang umur konservasi Indonesia!

Peserta pelatihan dan upaya peningkatan kapasitas dalam pemeriksaan medis satwa di lembaga konservasi di PPS Alobi usai melaksanakan rangkaian kegiatan (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika

Kukang Bisa Menunjukkan Perilaku Abnormal Kalau Sedang Merasa Seperti Ini Loh!

Setiap jenis satwa punya perilaku alamiahnya masing-masing loh Sobat #KonservasYIARI! Kalau sebelumnya sudah dibahas mengenai perilaku makaka, kali ini kita bakal lebih dalam mengenal perilaku kukang. Kukang akan menunjukkan nalurinya melalui perilaku non-aktif (diam dan tidur), perilaku aktif sendiri (berpindah, defekasi atau pengeluaran zat pencernaan,  dan grooming), perilaku makan, dan perilaku sosial seperti allogrooming, bersuara, berkelahi, mengikuti serta tidur berdampingan.

Kukang sedang mencengkram batang pohon untuk memudahkan aktivitas berpindah tempat (Denny Setiawan l Yayasan IAR Indonesia)

Ternyata ada satu perilaku kukang yang muncul di saat tertentu nih sobat! Seperti apa ya perilaku itu? 

Perilaku yang dapat ditunjukkan oleh kukang saat keadaan tertentu ini disebut dengan perilaku abnormal. Perilaku abnormal ini biasanya ditandai dengan perilaku stereotipe atau perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Tanda perilakunya seperti merawat diri berlebihan (overgrooming), menggosok dan membenturkan kepala secara berulang kali ke segala arah (head bobbing), memutar kepala (rolling head) dan menyakiti diri sendiri (self injurious behavior). Perilaku abnormal ini terjadi saat kukang berada di luar habitatnya seperti kandang dan laboratorium. Perilaku tersebut juga jadi indikasi bahwa kukang mengalami stress.

Pada tempat yang berada di luar habitat, kukang bisa stress karena adanya persaingan di dalam kandang seperti perebutan kotak sarang (shelter) dan perebutan makanan. Tingkat stress kukang yang berasal dari hasil sitaan pasar gelap biasanya lebih tinggi. Miris, kukang menerima perlakuan yang tidak memperhatikan prinsip kesejahteraan satwa saat di pasar gelap sehingga memunculkan perilaku abnormal.

Apakah bisa perilaku abnormal kukang dikurangi saat masuk ke kandang rehabilitasi?

Perilaku abnormal ini bisa ikut berkurang saat diberikan tahap pengayaan atau pelatihan bagi kukang. Bentuk pengayaan seperti membuka dan memakan lemper buah dalam kandang rehabilitasi merupakan bentuk pengayaan yang memberikan pengaruh paling besar dalam menekan perilaku abnormal stereotip. Hal ini dapat disebabkan pada pengayaan ini menggunakan buah-buahan yang disukai oleh kukang sebagai bahan utamanya.

Nah gimana Sobat #KonservasYIARI? Sudah semakin tercerahkan bukan mengenai perbedaan antara perilaku normal dan abnormal khususnya pada primata kukang. Untuk itu mari hentikan gerakan pemeliharaan satwa liar yang ternyata bisa berdampak juga pada terganggunya psikologis satwa!

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi :

Sinaga MWA, Masyud B. 2017. Pemanfaatan ruang dan perilaku harian kukang sumatera (Nycticebus Coucang Boddaert, 1785) di Taman Hewan Pematang Siantar (THPS) Sumatera Utara. Jurnal Media Konservasi. 22(3): 304-311. 

[YIARI] Yayasan International Animal Rescue Indonesia. 2013. Laporan teknis pelepasliaran dan pemantauan paska pelepasliaran Kukang Jawa (N.javanicus) di Kawasan Hutan Gunung Salak – Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Bogor (ID): YIARI

Cahya Riza Haromaen