Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Kisah Si Primata Malam Kukang Sepanjang 2022
Buat kami, tahun 2022 jadi tahun yang cukup menantang dalam merehabilitasi kukang. Terutama dengan meningkatnya kasus kukang yang tersetrum listrik. Kegiatan rehabilitas kami tentu masih terus berlanjut, namun juga dibarengi dengan penyuluhan dan peningkatan kapasitas terkait konservasi hewan mungil ini kepada instansi dan masyarakat setempat sebagai upaya untuk mendorong perlindungan kukang di habitatnya lewat inisiatif masyarakat.
Di tahun ini, tercatat 25 individu kukang yang telah diselamatkan oleh BKSDA di berbagai daerah dan teman-teman NGO yang akhirnya ditranslokasi ke pusat rehabilitasi kami. Kebanyakan dari mereka adalah korban pemeliharaan satwa dan kecelakaan. Sayangnya, nih, nggak semua kukang ini bisa kembali prima, banyak di antara mereka yang harus mengalami operasi, bahkan amputasi akibat parahnya luka yang diderita.
Contohnya Brodi, si Kukang Jawa. Pada September tahun ini, masing-masing lengan atas dan bawahnya harus diamputasi sebab terluka akibat tersetrum listrik ketika ia melewati kabel listrik di daerah Kuningan. Ini membuat jaringan sel di lengannya mati dan membusuk sehingga harus diamputasi. Jadinya, ia diperkirakan tidak dapat dilepasliarkan kembali karena tidak bisa berjalan dengan sempurna. Selain Brodi, banyak kukang lain yang mengalami kecelakaan tersetrum listrik seperti Elektro dan Kobong pada Januari dan Agustus tahun ini. Oiya, fenomena kukang tersengat listrik di kabel listrik menjadi pusat perhatian kami belakangan ini. Sebabnya, di tahun ini kami menemukan dan sering mendapat laporan bahwa banyak kukang yang mati ataupun terluka akibat sengatan listrik baik di Pulau Kalimantan, Sumatera, maupun Jawa. Dari data yang kami dapatkan melalui kerjasama dengan PLN UID Lampung, di provinsi Lampung sendiri setidaknya tidak kurang dari 1200 kasus kukang tersengat listrik selama tahun 2022. Diperkirakan jumlah kukang yang tersengat listrik di daerah lain juga sama banyaknya dengan kejadian di provinsi ini.
Brodi sesaat sebelum menjalani operasi amputasi lengan kanannya. Luka bakar yang cukup parah pada lengannya membuat jaringan sel di sekitarnya mati dan berpotensi menimbulkan infeksi apabila tidak segera ditangani (Denny Setiawan | IAR Indonesia)
Selain kasus kukang yang tersetrum listrik, ada juga cerita kukang-kukang yang masih saja mengalami perdagangan ilegal. Contohnya adalah satu individu kukang jawa bernama Gipo yang harus dicabut giginya yang terpotong dan berpotensi infeksi. Pada 6 Juni kemarin, ia ditemukan di jalanan Kabupaten Lebak, Banten, padahal dia adalah kukang sumatera. Tim medis kami memperkirakan bahwa Gipo adalah kukang yang sempat dipelihara di rumah dan dipotong gigi secara paksa supaya tidak menggigit “pemilik”-nya. Alhasil banyak sekali gigi Gipo yang harus dicabut dan mengurangi kesempatannya untuk dapat dilepasliarkan di alam. Meski kesempatannya kecil, ia dan semua kukang yang direhabilitasi kami beri pakan yang bernutrisi dan pengayaan supaya cepat pulih baik secara fisik maupun perilaku.
Berbicara mengenai pelepasliaran kukang, kami juga melakukan beberapa kegiatan pelepasliaran kukang bersama BKSDA setempat di beberapa daerah sepanjang tahun ini. Setelah melakukan survei lokasi yang cocok, kami menentukan Cagar Alam Gunung Simpang (CAGS), Hutan Lindung (HL) Batutegi, Hutan Lindung Gunung Tarak, dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah lokasi yang ideal untuk pelepasliaran kukang. Di CAGS, kami melepasliarkan 10 individu kukang jawa bersama BKSDA Jawa Barat pada 25 Maret lalu. Disusul oleh dua pelepasliaran kukang kalimantan yang berbeda di HL Gunung Tarak, yaitu pelepasliaran empat individu kukang bersama BKSDA Kalimantan Barat pada 6 April lalu dan kukang kalimantan bernama Elektro yang tersetrum listrik yang dilepasliarkan pada 16 Januari lalu. Lalu di HL Batutegi kami melepasliarkan enam individu kukang sumatera bersama BKSDA Lampung dan KPHL Batutegi pada 25 Juli lalu. Kegiatan pelepasliaran terakhir dilakukan pada November di Gunung Botol bersama BKSDA Jawa Barat.
Untuk memaksimalkan program konservasi kukang tahun ini, di samping kegiatan lapangan sepanjang September tahun ini, kami juga melakukan kegiatan edukasi dan diskusi publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan institusi publik terhadap konservasi primata Indonesia. Edukasi ini di antaranya adalah penyuluhan dan peningkatan kapasitas terkait penanganan satwa liar di daerah Bogor dan Ciamis bagi Pemadam Kebakaran dan masyarakat di sekitar. Bersama BKSDA Jawa Barat, kami memberikan pelatihan mengenai tata cara evakuasi primata yang baik dan benar, juga cara penanganan primata yang aman bagi satwa maupun evakuatornya.
Kami juga melakukan diskusi publik bersama PLN UID Lampung, BKSDA Lampung, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan Konsentris.id terkait kasus tersetrumnya kukang di sepanjang jalur listrik di Provinsi Lampung yang juga menyebabkan padamnya jaringan listrik masyarakat. Hal ini dilakukan supaya tidak ada lagi kasus kukang yang terluka dan mati akibat tersetrum listrik sekaligus melindungi instrumen listrik milik negara dari kerusakan akibat satwa liar yang melintas di kabel listrik. Kasihan ‘kan Sobat IAR melihat kukang tersetrum kabel listrik hanya karena sekadar melintas di pemukiman warga?
Dokter hewan kami, drh. Imam Arifin, memberi materi mengenai kukang kepada Petugas Pemadam Kebakaran Kota Bogor dalam kegiatan penyuluhan penanganan primata di Bogor dan sekitarnya (Yudha | Yayasan IAR Indonesia)
Di tahun ini, tim animal management kami di Ciapus menerima empat dokter hewan spesialis dari Madrid, Spanyol. Mereka adalah dokter spesialis gigi satwa, dokter Aurora Mateo Roman dan dokter Alix Sophie Freeman, satu orang dokter hewan spesialis anestesi, dokter Ana Maria Martin Sanchez, dan satu orang ahli kardiologi satwa, Dr. Nuria Sanchez Alzuria. Mereka datang untuk memberikan peningkatan kapasitas sekaligus melakukan pemeriksaan dan pemberian perawatan bagi kukang-kukang yang sedang menjalani masa rehabilitasi.
Kali ini, 20 kukang menjalani pemeriksaan dan perawatan oleh para dokter spesialis ini. Pemeriksaan dan perawatan gigi kukang ini menjadi penting karena banyak kasus kerusakan pada gigi kukang karena dipotong oleh pemelihara atau patah secara alami sehingga berpotensi atau bahkan sudah terjadi infeksi. Kerusakan gigi kukang yang paling sering terjadi adalah patah gigi dan akar yang kemudian bisa berkembang menjadi infeksi dengan keparahan yang beragam. penanganan yang dilakukan tergantung keparahan dan jenis dari kerusakan gigi itu sendiri, ada yang harus dicabut dan ada yang masih bisa dilakukan root canal treatment atau penambalan.
Kami juga mengundang dokter hewan dari Yayasan Kalaweit dan Yayasan Scorpion untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas. Dalam kegiatan ini, dokter hewan YIARI, Kalaweit, dan Scorpion mendapatkan materi wildlife dentistry, kardiologi dasar, anestesia dasar serta praktek kardiologi dan anestesi. Upaya-upaya konservasi kukang ini nggak bisa kami lakukan tanpa adanya kolaborasi dengan berbagai pihak. Kami sadar bahwa dalam melindungi kukang di habitatnya perlu upaya berbagai ahli di bidangnya. Untuk itulah kami berharap konservasi kukang dapat kembali dilaksanakan di masa depan dengan kerjasama multipihak dan pada akhirnya mampu melindungi kukang lebih banyak di habitatnya.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Fattreza Ihsan/ Heribertus Suciadi
Gipo, Kukang Sumatera yang Tersesat di Jalanan Banten
Namanya Gipo, ia adalah kukang sumatera jantan yang baru saja datang di pusat rehabilitasi kami di Bogor, Jawa Barat dan saat ini sedang diberi perawatan. Kisah kedatangannya ke pusat rehabilitasi kami cukup sedih karena ia datang dalam kondisi terluka.
Gipo ditemukan oleh warga di jalan raya Cisoka, Kab. Lebak, Banten pada 6 Juni 2022 lalu. Warga yang menemukan menyadari kalau Gipo bukanlah kukang liar yang sehat yang sedang berjalan-jalan di daerahnya sebab ia terlihat dengan jelas memiliki luka di bagian wajahnya. Kemudian, warga tersebut melaporkan keberadaannya ke pihak Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) untuk dievakuasi.
Setelah dievakuasi, Gipo akhirnya diidentifikasi dan ternyata ia adalah kukang sumatera. Ia kemungkinan tersesat setelah mengalami perdagangan atau pemeliharaan ilegal yang membawanya dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Hal ini dipastikan ketika tim medis Yayasan IAR Indonesia tiba untuk memeriksa Gipo di TNGHS. Tim kami melihat gigi Gipo mengalami kerusakan parah akibat dipotong secara paksa. Pemotongan gigi ini menyebabkan infeksi pada gusi yang akhirnya menyebar hingga ke rongga hidung dan wajah.
Tim medis Yayasan IAR Indonesia sedang melakukan penanganan operasi pencabutan gigi Gipo (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Menilai kondisi Gipo yang cukup parah, akhirnya TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia memutuskan untuk merehabilitasi Gipo. Ia dititiprawat di pusat rehabilitasi satwa kami di Bogor, Jawa Barat untuk mendapatkan perawatan medis. Gipo tiba di pusat rehabilitasi satwa kami pada tanggal 8 Juni 2022.
Sesampainya di pusat rehabilitasi kami, ia dicek keadaan kesehatannya oleh dokter hewan dan paramedis kami. Rupanya karena gigi Gipo sudah mengalami infeksi, tim medis kami memutuskan untuk mengoperasi cabut gigi supaya infeksi yang dialami Gipo tidak semakin parah. Dokter hewan kami, drh. Imam Arifin, memimpin proses operasi ini. “Sebagian giginya pecah dan harus dicabut supaya tidak mengalami infeksi berkelanjutan” ujarnya.
Hasil rontgen rahang Gipo dilihat untuk memastikan tidak ada serpihan gigi yang tertinggal (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Untungnya proses operasi ini berjalan lancar. Setelah proses operasi ini selesai, Gipo dikarantina terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke kandang rehabilitasi bersama kukang-kukang yang lain. Kukang yang sudah dicabut giginya memiliki kemungkinan yang kecil untuk dilepasliarkan kembali karena gigi kukang tidak bisa tumbuh kembali apabila rusak. Namun, kita tetap berharap supaya ia tetap bisa pulih kembali meski sudah giginya sudah tanggal sebagian.
Semoga lekas sembuh ya, Gipo!
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Menyambut Utha: Kukang Malang yang Tersesat
Welcome, Utha! We’re happy to see you!
Ada pendatang baru nih #SobatIAR! Kenalin, ini namanya Utha.
Utha adalah kukang jawa (Nycticebus javanicus) berjenis kelamin jantan. Utha diserahkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cirebon untuk dititiprawatkan di Yayasan IAR Indonesia terhitung mulai tanggal 10 Mei 2022 kemarin.
Utha ketika hendak dititiprawatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cirebon di Yayasan IAR Indonesia (Tim SRM | IAR Indonesia)
Pada awalnya, Utha adalah kukang yang ditemukan dan diselamatkan dari pinggir jalan oleh warga di Kuningan, Jawa Barat. Utha tersesat di wilayah pemukiman warga. Lho.. kok bisa ya? Utha abis main kemana sih? Diduga Utha bisa sampai di pemukiman warga karena ia menjelajah ke pinggir hutan ketika mencari makan, lalu mengalami kecelakaan atau diburu pemburu hingga terluka. Who knows.. Sayangnya, Utha tidak bisa diwawancara guys.
Selain tersesat, pada saat itu Utha tampak sedang dalam keadaan sakit. Karena warga yang menyelamatkan Utha bingung harus melapor dan menyerahkan Utha kepada siapa, akhirnya warga tersebut memutuskan untuk memelihara Utha untuk sementara waktu. Utha dipelihara oleh warga selama kurang lebih satu bulan sampai akhirnya diserahkan ke pihak yang berwenang, yakni BKSDA Cirebon.
Hasil rontgen Utha sedang diperiksa oleh tim medis Yayasan IAR Indonesia untuk mengetahui penyebab luka di matanya (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Pada kedatangannya di Yayasan IAR Indonesia, Utha berada dalam kondisi kurang sehat, mengalami sejumlah luka di bagian kepala, mata kanannya mengalami kebutaan serta rongga matanya masuk ke dalam. Selain itu, Utha juga didiagnosa mengalami dehidrasi. Huhuhu, kasian Utha😢💔. Walaupun demikian, beruntungnya taring dan gigi Utha masih lengkap dan utuh.
Saat ini Utha sedang diberikan sejumlah pengobatan dan perawatan untuk memulihkan kondisi fisiknya oleh para dokter hewan dari Yayasan IAR Indonesia di Ciapus, Bogor. Harapannya, kondisi Utha akan terus membaik agar Utha punya kesempatan untuk dilepasliarkan kembali pada habitat aslinya nanti.
Alfatheya Diva
BKSDA Cirebon dan IAR Indonesia Selamatkan Bayi Kukang Tanpa Induk di Kebun Warga
Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama IAR Indonesia telah menyelamatkan satu individu bayi kukang jawa (Nycitebus javanicus) yang ditemukan di kebun milik warga Desa Padabeunghar, Kecamatan Pesawahan, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (17/12) kemarin.
Kepala Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Slamet Priambada mengatakan, keberadaan bayi kukang yang diberi nama Meli itu pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Meliyana pada Senin (16/12). Meliyana menemukannya dalam keadaan tergeletak dengan kondisi lemah di tengah kebun tanpa ada induknya.
“Mengetahui bahwa kukang merupakan satwa dilindungi, Meliyana kemudian melaporkan temuannya dan menyerahkan bayi kukang yatim itu ke pihak kami untuk mendapat penanganan lebih lanjut,” ungkap Slamet.
Diperkirakan, bayi kukang dengan jenis kelamin betina yang terpisah dari induknya itu berusia kurang dari satu bulan. Selanjutnya kata Slamet, bayi kukang malang itu dievakuasi dan dibawa oleh tim medis IAR Indonesia untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih mendalam di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia, Bogor, Jawa Barat.
“Kukang itu akan dirawat oleh IAR Indonesia karena usianya masih bayi dan belum mampu mencari makan sendiri. Nantinya setelah sehat dan mampu bertahan hidup, bayi kukang tersebut akan segera dilepasliarkan ke beberapa tempat pilihan, yakni Gunung Sawal Kabupaten Ciamis, Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan, dan Gunung Masigit Kareumbi Kabupaten Sumedang yang merupakan habitat kukang jawa,” tambahnya.
Meli tengah menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia.
Indri Saptorini, dokter hewan IAR Indonesia yang memeriksa Meli menjelaskan, dari hasil pemeriksaan pertama kali kondisi Meli terlihat lemah. Hal itu dikarenakan bayi kukang tidak mendapat perawatan alami dari induknya. Selain itu ditemukan juga luka kecil di bagian punggung yang kemungkinan besar karena terjatuh dan terlepas dari pelukan induknya.
“Bayi kukang umumnya akan bergantung pada induknya hingga berumur 6 bulan. Karenanya saat ini Meli akan dirawat secara intensif dengan mengamati kondisinya secara berkala setiap 2 jam. Tim medis juga menempatkannya di tempat khusus yang hangat agar kondisinya terus membaik,” jelas Indri.
Indri melanjutkan, proses perawatan terhadap bayi kukang itu akan panjang. Setelah kondisinya membaik, Meli akan dipindahkan ke kandang khusus dan diberi pengayaan (enrichment) untuk menstimulasi perilaku alamiahnya agar siap dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Di samping itu, selama masa rehabilitasi, Meli juga akan dipantau perilaku hariannya oleh perawat satwa guna memastikan dia sehat dan mampu bertahan hidup di alam.