Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Biarlah yang Panjang Ekornya Saja
Hayo… nyindir siapa nih?
Ini bukan nyindir kok, ini kita lagi mau cerita soal si ekor panjang
Siapa tuh?
Ini nih, si Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Oh, kenapa dengan mereka?
Jadi gini, waktu 9 Desember 2021 lalu, ada FGD nih di Ruang Rapat Komodo Ditjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem) tentang mengurai konflik monyet ekor panjang di Bogor dan sekitarnya. Nah, ternyata dari acara itu, baru ketahuan nih kalau yang panjang ternyata ga cuma ekornya aja. Konflik yang muncul ternyata panjang juga gaes.
I see, pantesan ngadain FGD ya. Siapa aja yang datang tuh?
Ada dari Pemadam Kebakaran Kota Bogor, Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Depok, Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Bogor, Dinas Kehutanan Provinsi Jabar, Balai Karantina Pertanian Tanjung Priok, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, Balai TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak), Balai Besar TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango), BBKSDA Jabar Bidang Wilayah I Bogor, Pusat Studi Satwa Primata, dan kemudian tentu saja kami dari IAR Indonesia.
Pembukaan FGD Mengurai Konflik MEP di Bogor (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Jadi kenapa sih FGD ini diadain?
Kalian tahu kan kalau akhir-akhir ini di daerah Bogor dan sekitarnya, Monyet Ekor Panjang (MEP) itu suka banget berkeliaran di sekitaran manusia, apalagi di daerah yang berbatasan dengan hutan tempat tinggal mereka. Ketika mereka ketemu manusia, kadang-kadang MEP ini suka gangguin manusia yang pada akhirnya berujung konflik. Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakannya, seperti hasil panen buah kalian dibawa kabur oleh MEP, atau mereka masuk ke rumah dan mengganggu orang di rumah dengan keberadaannya, atau bahkan terkadang MEP juga suka mengganggu anak-anak yang sedang bermain di depan rumahnya. Kalau konflik antara manusia dengan MEP ini dibiarkan saja dan tidak segera ditangani, maka masalah ini bisa berbuntut panjang seperti ekor MEP.
Dari kejadian-kejadian itulah maka lembaga-lembaga ini ngumpul untuk brainstorming gimana cari solusinya. Seru juga sih karena kami jadinya paham situasi-situasi yang dihadapi lembaga-lembaga ini terkait Monyet Ekor Panjang (MEP). Misalnya dari cerita Pak Andi Irawan dari BBKSDA Jabar, penyebab konflik MEP ini bervariasi. Ada yang karena tangkapan, kemudian ada juga karena pemeliharaan yang kemudian diserahkan ke BBKSDA karena pemiliknya bosan, dan juga karena habitatnya berkurang karena ada pembangunan di kawasan tempat habitat MEP ini berada. Lain lagi dengan cerita dari pihak TNGHS yang cerita kalau konflik di tempatnya biasanya terjadi di kawasan wisata. Kemudian dari Dinas Pertanian di Depok, sempet cerita kalau mereka sudah pernah mencoba melakukan penanganan MEP dengan kendang jebak, tapi tidak banyak kemajuan yang terjadi gaes, sehingga memang ada baiknya banyak sosialisasi nih sebagai upaya pencegahan. Wah banyak deh sebenarnya cerita-cerita yang terkumpul di acara tersebut. Yang pasti bermanfaat banget buat kita semua untuk sama-sama mikirin solusinya.
Masih ingat dengan Mas Huda, Manajer Resiliensi Habitat IAR Indonesia? Kali ini beliau memimpin diskusi lanjutan bersama peserta (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Terus apa dong solusinya?
Sebenarnya lebih tepatnya rekomendasi. Jadi dari acara itu, kita semua sepakat perlu adanya pemahaman dan sosialisasi peraturan terkait penanganan konflik satwa, khususnya monyet ekor kepada instansi/lembaga terkait sehingga penanganan konflik MEP dapat berjalan sinergis. Terus kita juga mikir perlu adanya koordinasi dan komunikasi antar instansi, lembaga, hingga komunitas setidaknya di Bogor dan sekitarnya untuk menindaklanjuti laporan konflik MEP dalam bentuk whatsapp grup. Nah kalau sudah ada WA Group kan enak nih komunikasinya, juga bisa share panduan-panduannya, karena itu perlu ada panduan penanganan konflik monyet ekor panjang biar jadi acuan mereka-mereka yang bekerja dalam menangani MEP. Kaitannya untuk pencegahan, FGD ini juga sepakat untuk perlunya diadain lebih banyak penyuluhan dan edukasi nih terutama buat kalian-kalian yang udah melihara MEP dan masyarakat yang ada di sekitar habitat MEP liar.
Wah looks good! Semoga hasilnya bener-bener bisa dijalankan ya…
Amin!! Biarlah yang panjang cukup ekornya si MEP aja ya, konfliknya pendek-pendek aja. Sukur-sukur nggak ada.
Ria Utari/Fattreza Ihsan
Konten Pemelihara Monyet di Youtube Meningkat Selama Pandemi
Video yang memperlihatkan aktivitas pemeliharaan primata jenis monyet ekor panjang masih mudah dijumpai di internet. Di Youtube, data terkini menunjukkan konten-konten negatif tersebut meningkat tajam selama pandemi. Tidak kurang dari 334 video monyet ekor panjang telah diunggah oleh 204 saluran di Youtube hingga akhir 2020.
Ismail Agung, Campaign Manager IAR Indonesia mengungkapkan, temuan ini meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 180-an unggahan video. Berdasarkan hasil pantauan, peningkatan jumlah unggahan konten dimulai pada Februari 2020 dan peningkatan paling signifikan terjadi pada Oktober 2020.
Perbandingan jumlah channel dan konten tiap tahunnya antara 2018 hingga 2020 yang memuat konten kekerasan pada monyet.
“Konten-konten video yang kami kumpulkan dikategorikan ke dalam dua kategori utama yaitu video yang mencitrakan monyet dengan kehidupan liar dan video yang mencitrakan monyet dalam penanganan manusia. Dari kedua kategori tersebut, kami menempatkan kembali konten-konten video berdasarkan sub kategori seperti dokumenter, berita, kebun binatang, peliharaan, perdagangan, penyelamatan hingga topeng monyet,” papar Ismail Agung, di Bogor, Jawa Barat.
Hasil dari pembagian kategori konten tersebut, monyet sebagai peliharaan jauh mendominasi dibandingkan konten yang bersifat positif dan mendukung upaya konservasi. Bahkan pertumbuhannya meningkat drastis sepanjang 2020. Kategori monyet sebagai peliharaan bisa dilihat dari bagaimana interaksi antara manusia dan monyet yang ada di dalam video.
Kategori konten yang teramati pada Youtube. Konten memelihara monyet sangat mendominasi.
“Tren pemeliharaan itu kini semakin marak diperlihatkan dan dibagikan melalui Youtube. Jika diakumulasikan lebih lanjut, dalam rentang 2018 hingga 2020 pertumbuhan konten video dan channel pengunggah meningkat lebih dari 200 persen. Jumlah temuan itu bahkan disinyalir bisa lebih banyak, karena pengambilan data baru dilakukan dengan menggunakan kata kunci ‘monyet’ pada kolom pencarian di Youtube,” jelasnya.
Agung melanjutkan, jika melihat hubungan antara jumlah unggahan konten dengan situasi yang terjadi, pandemi yang mulai dirasakan di Indonesia sejak Februari berimbas pada penurunan konten video monyet. Hal ini bisa disebabkan karena perhatian masyarakat yang teralihkan pada situasi pandemi. Namun pada Mei, angka unggahan seperti melanjutkan tren yang terjadi di Desember, dan fluktuatif setelahnya dengan jumlah di atas 20 konten per bulan.
“Di tengah statusnya yang tidak dilindungi, alasan itu kerap disalahartikan sebagai izin untuk mengeksploitasi baik dalam bentuk jual beli dan pemeliharaan. Kenyataan pahit ini juga menjadi ancaman dan eksploitasi bagi kehidupan monyet ekor panjang di alam,” tambahnya.
Pengaruh influencer
Kembali ramainya konten pemeliharaan pada Mei 2020, bukan hanya disebabkan perhatian masyarakat yang mulai berkurang akibat pandemi. Selama kurun waktu Februari-April 2020, isu monyet peliharaan dipengaruhi oleh sejumlah influencer yang membagikan konten monyet peliharaannya.
Dinamika peningkatan konten dan channel yang mengangkat monyet pada Youtube.
Influencer menurut Agung, jelas memberikan pengaruh terhadap persepsi publik. Ketika monyet dilumrahkan sebagai objek peliharaan, tidak menutup kemungkinan akan banyak pengikut melakukan hal yang sama dan berdalih dengan alasan yang serupa.
Di satu sisi, meski kanal berbagi video itu memfasilitasi pelaporan terkait konten yang bersifat penyiksaan satwa. Namun fasilitas pelaporan tersebut hanya ada jika menonton Youtube melalui browser komputer. Mengingat jumlah pengguna unik Youtube di Indonesia yang mencapai 83% pengguna mobile, seharusnya fitur ini tersedia di berbagai perangkat.
Temuan lainnya, usia monyet peliharaan yang ditampilkan dalam video memang beragam, akan tetapi sebanyak 93% konten monyet peliharan adalah bayi tanpa induk. Bayi-bayi monyet memang menarik untuk diperlihatkan. Tingkah laku mereka yang lucu dan menggemaskan (serta dianggap jinak), sangat berbeda sekali dengan monyet dewasa yang cenderung agresif atau tak lucu lagi. Monyet dewasa pada video seringkali ditunjukkan dengan kondisi terikat rantai dan dalam kandang yang sempit.
Usia monyet yang tampil dalam konten kekerasan monyet.
“Dengan banyaknya jumlah bayi monyet yang dijadikan konten, tentu patut dipertanyakan dari mana monyet tersebut berasal, bagaimana cara mendapatkannya, dan apa yang terjadi pada induknya,” lanjut Agung.
Siapa yang paling diuntungkan dari maraknya konten-konten pemeliharaan monyet seperti ini. Tak lain pemburu dan pedagang ilegal. Kehadiran konten pemeliharaan monyet akan mendorong minat masyarakat untuk ikut-ikutan mencoba dan membeli. Pada akhirnya, permintaan akan monyet akan mendorong pemburu untuk mengambil lebih banyak monyet dari alam. Pedagang akan menyediakan stok monyet di kandang-kandang sempit dan kotor, agar calon pemelihara merasa iba dan membawanya pulang. Bagikan fakta ini agar semakin banyak primata manusia yang tercerahkan.
Tentang monyet ekor panjang
Monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis keberadaannya mudah dijumpai di hutan-hutan pesisir (mangrove, hutan pantai), hutan di sepanjang sungai, hutan yang berbatasan dengan kebun hingga pemukiman. Monyet ekor panjang (MEP) merupakan salah satu jenis primata yang hidup berkelompok (grouping) dan adaptif dengan perubahan lingkungan sekitar. Di alam, mereka umumnya memakan pelbagai jenis buah, biji-bijian hingga memangsa hewan kecil seperti serangga.
Monyet ekor panjang juga biasa disebut monyet pantai (monpai) merupakan salah satu jenis monyet yang paling banyak ditemukan di seluruh kawasan nusantara. Sebaran habitat alami primata asli Indonesia ini tersebar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga kepulauan di Bali dan Nusa Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, monpai juga ditemukan di tanah Papua sebagai spesies invasif yang dibawa oleh pendatang dari luar pulau.
Data: kukangku.id
Foto: Risanti
Jumlah Konflik Manusia – Orangutan Terus Bertambah, Induk Anak Orangutan Diselamatkan di Sungai Awan Kiri
Jumlah konflik manusia-orangutan di wilayah yang terbakar sejak Agustus 2019 belum juga surut. Data dari tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia kenunjukan jumlah konflik yang cenderung naik dari bulan September hingga Desember 2019. Awal tahun ini juga belum menunjukan tanda-tanda konflik manusia-orangutan semakin berkurang.
Justru di awal tahun ini, tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I dan IAR Indonesia disibukkan dengan kegiatan penyelamatan dan translokasi dua individu orangutan induk – anak di kebun milik warga di Jalan Ketapang – Tanjungpura Km. 9, Desa Sungai awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Senin, (13/1).
Laporan mengenai keberadaan orangutan induk anak yang diberi nama Qia dan Mama Qia ini didapatkan oleh tim Patroli OPU IAR Indonesia pada tanggal 4 Januari 2020 yang kemudian langsung melakukan mitigasi dengan melakukan penggiringan orangutan kembali ke arah hutan yang tidak jauh dari kebun warga. Namun pada tanggal 8 Januari, tim patroli berjumpa kembali dengan kedua orangutan ini di lokasi yang sama. Setelah dilakukan survey lokasi, terlihat bahwa hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran sehingga hutan ini tidak lagi terhubung ke hutan besar. Karena kondisi inilah, tim IAR Indonesia bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk melakukan penyelamatan dan memindahkan kedua orangutan ini ke lokasi yang lebih baik dan aman.
Dokter Hewan IAR Indonesia memeriksa kondisi Mama Qia dan bayinya di kebun warga di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Penyelamatan induk orangutan diperkirakan berusia lebih dari 10 tahun dan bayinya yang berusia 2 bulan ini berjalan dengan baik. Setelah melewati serangkain pemeriksaan medis, dokter hewan IAR Indonesia yang memeriksa kedua orangutan ini menyatakan kedua orangutan ini dalam kondisi sehat. “Karena kedua orangutan ini sehat dan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut, maka kami bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk langsung mentranslokasikan mereka ke hutan Sentap kancang yang hanya berjarak sekitar 5 km dari lokasi penyelamatan ini,”ujar Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia.
Hutan seluas lebih dari 40.000 ha ini dinilai cocok sebagai rumah barunya karena selain menyediakan ruang hidup yang luas, jumlah jenis pakan orangutan berlimpah dan kepadatan orangutan di dalamnya belum terlalu tinggi. Karena jalan menuju hutan tidak bisa dilewati kendaraan, kandang dipikul masuk ke dalam hutan dibantu oleh tim Mitra IAR Indonesia. Tidak ketinggalan, anggota tim WRU BKSDA Kalbar pun turut serta membantu memikul kandang.
Pelepasan Mama Qia dan bayinya di Hutan Sentap Kancang, Ketapang, Kalimantan Barat
Meskipun kegiatan ini sukses memindahkan orangutan ke hutan yang lebih baik untuk kehidupannya, tranlokasi semacam hanyalah solusi sementara. Translokasi ini tidak bisa mengurai akar permasalahan sebenarnya. Permasalahan sebenarnya terletak pada alih fungsi dan kerusakan hutan.
Ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan bertambah sejak kebakaran besar melanda sebagian besar wilayah di Ketapang. Hutan yang terbakar menyebabkan banyak orangutan kehilangan tempat tinggal dan dan sumber penghidupannya. Orangutan-orangutan ini pergi meninggalkan rumahnya yang terbakar dan masuk ke kebun warga untuk mencari makan, menyebabkan tingginya jumlah perjumpaan manusia dengan orangutan yang tidak jarang menimbulkan kjonflik yang dapat merugikan orangutan dan manusia itu sendiri.
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, “Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, berpuluh tahun, baik oleh pemerintah maupun bersama para mitra. Namun demikian tantangan dan masalah yang muncul justru semakin meningkat. Sudah saatnya diambil langkah-langkah dan kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh bukan hanya pada sektor konservasi saja tetapi juga pada sektor yang terkait dengan pemanfaatan ruang/wilayah. Akar masalah timbulnya konflik satwa dan manusia lebih banyak berawal dari penataan/pemanfaatan ruang yg belum cukup memberikan perhatian pada aspek konservasi tumbuhan dan satwa liar.”
Pernyataan Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, “Konflik ini muncul karena orangutan kehilangan habitat yang merupakan rumah bagi mereka. Orangutan mencari makan ke kebun warga karena mereka tidak punya pilihan lagi akibat rumahnya yang musnah. Mama Qia mampu mempertahankan hidup dan menjaga bayinya tanpa makanan yang mencukupi selama berbulan-bulan karena instingnya sebagai induk yang mepertahankan hidup anaknya. Kami sangat prihatin dengan melihat bagaimana orangutan ini berusaha mempertahankan hoidup dengan kondisi habitat yang semakin hancur dan musnah. Kami berharap manusia akan sadar bahwa tanpa hutan, tidak hanya orangutan yang tidak bisa mempertahankan eksistensinya di muka bumi, tetapi manusa juga akan mendapatkan konsekuensi yang sama.”
Membangun Pandangan Masyarakat tentang Berbagi Ruang Antara Manusia-Satwa
Sebagian besar manusia masih memiliki pandangan yang negatif terhadap keberadaan satwa liar. Beragam pandangan negatif ini di antaranya melihat satwa liar sebagai target buruan, ancaman, bahkan hama. Inilah yang sering kali menjadikan penyebab konflik yang terjadi antara manusia dan satwa terutama terkait dengan teritori kehidupan masing-masing pihak.
Konflik manusia dengan satwa liar bukan hal baru di Indonesia. Laporan kejadian konflik itu juga kerap mewarnai pemberitaan nasional. Selama ini, konflik umum terjadi di pemukiman yang berdekatan dengan hutan. Namun kini, konflik manusia-satwa liar juga terjadi di wilayah perkotaan.
Salah satunya di pemukiman sekitar kawasan Angke-Kapuk, Jakarta Utara yang bersinggungan langsung dengan habitat Monyet Ekor Panjang (MEP) dari kawasan hutan Angke-Kapuk. Di wilayah itu, masyarakat kerap merasa diresahkan dengan kehadiran MEP yang masuk ke perumahan dan mengacak-acak ketertiban.
Padahal, penyebab konflik itu muncul, dikarenakan selain minimnya habitat di wilayah perkotaan, juga didorong oleh perilaku manusia. MEP memiliki tingkat adaptasi yang cepat, sehingga kebanyakan dari mereka akan terbiasa terhadap manusia, terutama dengan adanya perilaku manusia yang memberi makan pada MEP sehingga mendorong munculnya ketergantungan pada MEP terhadap perilaku manusia ini. Kebiasan lainnya yang mendorong konflik adalah pemeliharaan MEP oleh manusia, yang kemudian dtelantarkan dan dibuang saat sudah mereka sudah besar karena dianggap membahayakan pemiliknya.
Seolah belum menemukan cara yang efektif, konflik yang kerap terjadi di wilayah itu seperti tidak pernah dapat terselesaikan. Karenanya, kerja sama dan komitmen multipihak dirasa sangat perlu untuk setidaknya mengurangi konflik yang kerap terjadi. Pasalnya ihwal permasalahan konflik tersebut tidak mampu ditangani tanpa dukungan berbagai pihak.
“Kerja sama dan komitmen multipihak untuk mengatasi konflik ini sangat penting. Untuk merealisasikan itu, kita perlu melakukan upaya mitigasi serta membuat pedoman dalam penanganan konflik monyet-manusia dengan poin utamanya yakni masalah ini terselesaikan tanpa merugikan kedua pihak dalam hal ini satwa dan manusia,” tutur Robithotul Huda, Manajer Program IAR Indonesia dalam forum Ekspos Upaya Penanganan Konflik Monyet Ekor Panjang di Hutan Angke-Kapuk dan Sekitarnya, di Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta, 24 Juli silam.
Bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK, Dishut DKI Jakarta, mahasiswa kelompok studi primata serta multihpihak lain terkait lainnya yang bertujuan untuk membahas penanganan konflik monyet dengan manusia di daerah urban khususnya Jakarta.
Memberi makan monyet liar menjadi salah satu pendorong agresivitas dan perubahan perilaku mereka.
Selain mengevaluasi pelaksanaan program kerjasama dalam upaya penanganan konflik MEP di kawasan hutan Angke-Kapuk, pertemuan itu juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif parapihak khususnya di wilayah DKI Jakarta dalam upaya-upaya penanganan konflik MEP. Untuk selanjutnya dapat menyusun dan menyepakati SOP mitigasi konflik MEP di wilayah DKI Jakarta, khususnya di hutan Angke-Kapuk.
Sejauh ini menurut Huda, kendati konflik monyet dengan manusia sejatinya sudah banyak terselesaikan di banyak daerah temasuk di kawasan hutan Angke-Kapuk, namun pedoman praktis dalam penanganannya masih belum seragam dan masih bersifat sementara. Hal itulah yang mendorong perlunya dipikirkan pedoman yang disepakati bersama dalam penanganan konflik manusia dengan monyet.
“Selama ini para pihak masih menyelesaikan dengan cara yang berbeda-beda. Meski terkadang tanpa pedoman pun masalah sudah bisa terselesaikan. Namun itu masih belum efektif dan hanya solusi sementara. Belum lagi, tantangan yang kerap muncul adalah kesadaran masyarakat yang masih minim dan menganggap MEP itu hama dan perusak. Padahal sebagaiamana satwa liar lainnya, MEP juga memiliki peran ekologis yang bermanfaat bagi manusia,” ungkap Huda.
Huda melanjutkan, upaya yang telah dilakukan dalam penanganan konflik monyet terus berkembang dan mengalami peningkatan dalam mencapai tujuan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah membentuk tim teknis khusus untuk penanganan konflik di kawasan hutan Angke-Kapuk.
“Program-program yang telah dilaksanakan bersama ini tentunya perlu disampaikan hasil maupun kendala pelaksanaannya sebagai bentuk evaluasi bersama dan untuk tujuan perbaikan di masa datang,” katanya. Hal ini juga diharapkan dapat mempererat kerja sama serta memotivasi peningkatan kontribusi para pihak dalam upaya-upaya penanganan konflik MEP di wilayah DKI Jakarta, khususnya di kawasan hutan Angke-Kapuk. Tujuan besarnya, hasil-hasil yang baik dari pelaksanaan program ini bisa menjadi “role-model” bagi daerah lain yang menghadapi permasalahan dengan karakteristik yang hampir mirip.