Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Orangutan Bisa Terkena Malaria? Misterinya Baru Terungkap Setelah Lebih dari 100 Tahun!

Ketika orang membicarakan ancaman bagi orangutan, biasanya yang terlintas adalah hutan yang ditebang, kebakaran lahan, atau perburuan. Semua itu memang nyata.

Namun ada ancaman lain yang jauh lebih kecil dan nyaris tak terlihat: malaria.

Yup, orangutan di Kalimantan juga bisa terinfeksi penyakit ini. Dalam beberapa kasus, infeksinya bahkan dapat berkembang menjadi kondisi yang serius.

Lalu, seperti apa sebenarnya identitas genetik parasit malaria yang menginfeksi orangutan?

Sebuah penelitian terbaru oleh Anita B. Dharmayanthi dan tim peneliti dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), BRIN, serta mitra internasional, yang dipublikasikan dalam jurnal “The mitochondrial genome sequence of the Bornean orang-utan malaria parasite, Plasmodium pitheci”, akhirnya mulai menjawab misteri tersebut.

Temuan ini membantu ilmuwan memahami parasit tersebut dengan lebih jelas dan membuka jalan bagi penanganan malaria orangutan yang lebih tepat.

Malaria pada Orangutan, Ancaman yang Jarang Dibicarakan

Orangutan kalimantan Rickyna dan Ricko di Pusat Rehabilitasi YIARI, sedang bergelantungan di pohon (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Pada orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), malaria disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium pitheci. Parasit ini menyerang sel darah merah dan dapat memicu gejala yang mirip dengan malaria pada manusia.

Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:

  • demam
  • lemas
  • anemia

Dalam beberapa kasus, infeksi ini bahkan dapat berkembang menjadi kondisi yang cukup serius dan memerlukan penanganan medis.

Kasus malaria pada orangutan cukup sering ditemukan, terutama di pusat rehabilitasi. Di tempat-tempat ini, orangutan yang diselamatkan dari perdagangan ilegal, konflik dengan manusia, atau kehilangan habitat dirawat sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke alam.

Bagi spesies yang populasinya terus menurun, penyakit seperti malaria menjadi tantangan tambahan karena tidak hanya memengaruhi kesehatan individu, tetapi juga proses rehabilitasi dan pelepasliaran.

Parasit yang Sudah Dikenal Lebih dari Satu Abad

Parasit malaria pada orangutan sebenarnya bukan hal baru bagi ilmuwan. Spesies ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1907 dan kemudian diberi nama Plasmodium pitheci.

Namun selama lebih dari satu abad, identitas parasit ini belum benar-benar jelas. Selama ini, para peneliti mengenalinya terutama dari bentuknya di bawah mikroskop, yaitu dengan melihat struktur parasit di dalam sel darah merah orangutan.

Masalahnya, beberapa parasit malaria pada primata memiliki bentuk yang sangat mirip. Tanpa informasi genetik, sulit memastikan apakah parasit yang diamati benar-benar spesies yang sama atau sebenarnya berbeda.

Karena itu, dalam berbagai penelitian muncul beberapa kelompok parasit yang diduga berbeda, seperti:

  • Plasmodium sp. VM
  • Plasmodium sp. VS
  • Plasmodium sp. Pongo clade A
  • Plasmodium sp. Pongo clade B

Namun tanpa bukti genetik yang jelas, para ilmuwan belum dapat memastikan apakah kelompok-kelompok tersebut benar-benar spesies yang berbeda atau sebenarnya masih bagian dari Plasmodium pitheci.

Baru melalui pendekatan genetika modern, para peneliti akhirnya mulai dapat melihat identitas parasit ini dengan lebih jelas.

Temuan Menarik dari DNA Parasit

Orangutan kalimantan dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, terlihat bergelantungan di pohon (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Untuk memahami parasit ini dengan lebih jelas, para peneliti kemudian membaca DNA Plasmodium pitheci dan membandingkannya dengan berbagai sekuens parasit malaria orangutan yang pernah dilaporkan sebelumnya.

Hasilnya cukup menarik.

Beberapa parasit yang sebelumnya dianggap berbeda ternyata memiliki kemiripan genetik yang sangat tinggi dengan Plasmodium pitheci. Parasit yang pernah disebut sebagai VM, VS, serta Pongo clade A dan B kemungkinan besar sebenarnya merujuk pada spesies yang sama.

Temuan ini membantu menjelaskan kebingungan lama dalam penelitian malaria pada orangutan: nama-nama yang muncul di berbagai studi sebelumnya ternyata kemungkinan tidak merujuk pada spesies yang berbeda.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci tidak seseragam yang dibayangkan. Dari sampel yang dianalisis, peneliti menemukan 27 variasi genetik berbeda.

Selain itu, para peneliti juga menemukan satu kelompok parasit lain yang cukup berbeda secara genetik, yaitu Plasmodium sp. Pongo clade C. Perbedaan ini membuat para peneliti menduga bahwa kelompok tersebut mungkin merupakan spesies malaria orangutan yang berbeda dan masih perlu diteliti lebih lanjut.

Dengan kata lain, selain membantu memperjelas identitas Plasmodium pitheci, penelitian ini juga memberi petunjuk keragaman malaria pada orangutan mungkin lebih besar dari yang selama ini diketahui.

Mengapa Penemuan Ini Penting bagi Konservasi Orangutan?

Bagi upaya konservasi orangutan, temuan ini punya arti yang cukup besar.

Dengan mengetahui identitas genetik Plasmodium pitheci, para peneliti dan dokter hewan kini memiliki dasar yang lebih kuat untuk memahami dan menangani infeksi malaria pada orangutan.

Secara sederhana, penelitian ini membuka beberapa manfaat penting.

1. Diagnosis malaria bisa menjadi lebih akurat

Selama ini, malaria pada orangutan lebih banyak dikenali lewat pemeriksaan mikroskopis, yang membutuhkan keahlian khusus dan tidak selalu mudah membedakan antarspesies.

Dengan adanya informasi genetik yang lebih jelas, para ilmuwan kini dapat mengembangkan metode deteksi berbasis DNA yang lebih spesifik. Ini memungkinkan parasit malaria dikenali dengan lebih cepat dan lebih akurat.

2. Penanganan medis pada orangutan bisa lebih tepat

Diagnosis yang lebih jelas membantu tim dokter hewan menentukan penanganan yang lebih sesuai bagi orangutan yang terinfeksi malaria.

Jika infeksi dapat dikenali lebih awal, perawatan bisa diberikan sebelum kondisi orangutan menjadi lebih parah. Hal ini sangat penting terutama di pusat rehabilitasi, tempat banyak orangutan yang sedang dalam proses pemulihan setelah diselamatkan dari berbagai ancaman.

3. Membantu pemantauan kesehatan sebelum pelepasliaran

Sebelum orangutan dilepasliarkan kembali ke alam, kondisi kesehatannya harus dipastikan dalam keadaan baik.

Metode diagnosis yang lebih akurat membantu tim konservasi memantau apakah orangutan yang akan dilepasliarkan benar-benar bebas dari infeksi atau tidak. Ini penting agar proses pelepasliaran tidak membawa risiko kesehatan bagi individu tersebut maupun bagi populasi liar.

4. Memberi petunjuk tentang penyebaran penyakit

Keragaman genetik parasit yang ditemukan dalam penelitian ini juga dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana malaria menyebar di antara populasi orangutan.

Informasi ini bisa memberikan gambaran tentang hubungan antar-populasi orangutan dan potensi penyebaran parasit di berbagai wilayah di Borneo.

Bagi spesies yang populasinya terus menurun, pemahaman seperti ini menjadi sangat penting untuk mendukung upaya perlindungan jangka panjang.

Pelajaran Lebih Luas dari Penelitian Ini

Orangutan kalimantan bernama Gatot di Pusat Rehabilitasi YIARI sedang tersenyum (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Penelitian tentang malaria pada orangutan tidak hanya penting bagi konservasi satwa liar. Temuan seperti ini juga mengingatkan kita bahwa kesehatan satwa dan manusia sering kali saling terhubung.

Dalam sejarah malaria, ada beberapa kasus di mana parasit yang awalnya menginfeksi primata akhirnya juga ditemukan pada manusia. Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah Plasmodium knowlesi. Parasit ini awalnya diketahui menginfeksi monyet ekor panjang, tetapi kemudian ditemukan juga dapat menyebabkan malaria pada manusia di Asia Tenggara.

Hal ini menunjukkan batas antara penyakit pada satwa liar dan manusia tidak selalu sepenuhnya terpisah.

Karena itu, memahami parasit malaria pada satwa liar bukan hanya soal melindungi spesies yang terancam punah. Pengetahuan ini juga membantu ilmuwan memahami bagaimana penyakit dapat berevolusi, beradaptasi, dan dalam beberapa kasus berpindah antarspesies.

Seiring meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar, baik karena perubahan penggunaan lahan, deforestasi, maupun aktivitas manusia di kawasan hutan, memahami penyakit pada satwa liar menjadi semakin penting.

Melindungi Orangutan Juga Berarti Memahami Penyakitnya

Penelitian Dharmayanthi dan tim menunjukkan bahwa ancaman bagi orangutan tidak hanya datang dari hilangnya habitat, tetapi juga dari penyakit.

Dengan berhasil memetakan DNA Plasmodium pitheci, para ilmuwan kini memiliki cara yang lebih akurat untuk mengenali parasit malaria pada orangutan. Pengetahuan ini dapat membantu upaya perawatan, pemantauan kesehatan, serta proses rehabilitasi sebelum orangutan kembali ke alam liar.

Pada akhirnya, melindungi orangutan bukan hanya soal menjaga hutan tetap berdiri. Konservasi juga berarti memahami ancaman kesehatan yang mereka hadapi, termasuk penyakit yang sering kali tidak terlihat tetapi dapat memengaruhi kelangsungan hidup mereka.

Featured image: Orangutan kalimantan bernama Ashoka di Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Tautan Jurnal

The mitochondrial genome sequence of the Bornean orang-utan (Pongo pygmaeus) malaria parasite, Plasmodium pitheci. Malaria Journal. [Buka]

Ancaman Malaria Bagi Populasi Orangutan

Kita semua pastinya sudah tahu kan kalau orangutan itu kesamaan DNA-nya dengan manusia sampai 97 persen? Nah kesamaan ini jadi bikin orangutan banyak memiliki sifat-sifat seperti kita, Sobat IAR. Termasuk penyakit yang diderita manusia, bisa juga diderita oleh orangutan. Nah, ini yang sering luput dari perhatian masyarakat umum, bahkan di kalangan peneliti sekalipun. Karena itulah, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) di sela-sela pekerjaan kami menyelamatkan dan merehabilitasi satwa, para dokter hewan kami juga menyempatkan diri melakukan penelitian yang diperlukan bagi komunitas ilmuwan untuk ke depannya bisa menggunakan hasil penelitian ini demi menyelamatkan satwa-satwa yang makin berkurang populasinya.

Di pengujung akhir tahun ini, kabar membanggakan datang dari tim animal management kami, yang baru saja merilis jurnal ilmiah mereka dengan judul “Plasmodium pitheci malaria in Bornean orang-utans at a rehabilitation centre in West Kalimantan, Indonesia.” Jurnal ini dipublikasikan di situs ilmiah Malaria Journal pada 3 Oktober 2022 dan bisa diakses di sini.

Penelitian dan penulisan jurnal ini dilakukan satu tim yang terdiri dari sebagian besar dokter hewan di Indonesia dan internasional. Mereka adalah Karmele Llano Sanchez, Alex D. Greenwood, Aileen Nielsen, R. Taufiq P. Nugraha, Wendi Prameswari, Andini Nurillah, Fitria Agustina, Indra Exploitasia, Gail Campbell-Smith, Anik Budhi Dharmayanthi, Rahadian Pratama, dan J. Kevin Baird.

Tim medis kami memeriksa kesehatan Kumbang, memastikannya bebas dari segala penyakit termasuk malaria (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Nah, mungkin Sobat YIARI bertanya-tanya, kenapa sih kami melakukan penelitian ini. Jadi tuh, kami sering mendapati kasus-kasus gejala mirip kalau manusia kena malaria, pada orangutan yang ada di rehabilitasi kami yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Terus, dokter hewan kami mencari-cari apakah sebelumnya sudah pernah ada penelitian di bidang ini, supaya bisa jadi acuan kami dalam menangani gejala-gejala seperti demam, lemes, nggak mau makan, dan sampai nggak responsif gitu Sob. Ternyata jarang banget tuh laporan soal ini. Lalu, kami pun tergerak untuk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi spesies Plasmodium yang menginfeksi orangutan di bawah perawatan kami, menentukan frekuensi dan karakter penyakit malaria di antara yang terinfeksi, dan menetapkan kriteria untuk diagnosis dan pengobatan yang berhasil.

Untuk meneliti ancaman malaria pada orangutan ini, tim kami mengambil sampel darah seluruh orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami dari tahun 2017 hingga 2021. Didapati 89 dari 131 orangutan yang diambil sampel darahnya, dinyatakan positif malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium pitheci. Selama periode tersebut, 14 kasus (mempengaruhi 13 orangutan) berkembang menjadi malaria klinis (0,027 serangan/orangutan-tahun). Tiga kasus lain ditemukan terjadi dari 2010-2016. Individu yang sakit memiliki gejala demam, anemia, trombositopenia, dan leukopenia.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci sangat sering menginfeksi orangutan pusat rehabilitasi kami. Pada sekitar 14% orangutan yang terinfeksi, penyakit malaria terjadi dan berkisar dari sedang hingga parah di alam. Infeksi atas malaria inilah yang mendorong kami untuk mengajak semua pihak menyadari bahwa malaria turut menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini.

Rahayu, salah satu orangutan kalimantan yang merupakan penyintas malaria yang sembuh di pusat rehabilitasi kami (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Dokter Karmele Llano Sanchez menyatakan bahwa sejauh penelitian ini dilakukan, tidak ada bukti bahwa parasit yang menjangkiti orangutan ini bisa berpindah ke manusia atau demikian juga sebaliknya, malaria yang dialami manusia akan menular ke orangutan. “Penelitian ini pada dasarnya sebuah awalan bagi para saintis untuk meneliti malaria lebih dalam lagi,” ujar Dokter Karmele.

Kondisi alam saat ini seperti perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan alam lainnya, sebenarnya menjadi salah satu pendorong banyaknya kasus-kasus kesehatan yang dialami satwa liar, di mana salah satunya epidemiologi penyakit seperti malaria. Bahkan perilaku nyamuk yang menularkan parasit malaria pun, adalah salah satu contoh bagaimana mereka merespon perubahan ini sehingga memberikan dampak bagi kesehatan satwa seperti orangutan. Di sinilah menurut Dokter Karmele, dokter hewan dan para saintis, memiliki tanggung jawab untuk mulai melakukan lebih banyak penelitian tentang patogen dan penyakit satwa liar yang akan mempengaruhi pekerjaan konservasi di masa depan.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.