Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin
Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.
Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.
Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.
Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.

Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.
Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata
Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.
Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.
“Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”

Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.
Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.
“Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.
Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.
Baca juga: Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi
Kini Barda Ditempatkan di Kandang Perawatan
Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.
Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.
Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.
Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.

Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.
Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.
“Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.
Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.
Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.
Baca juga: Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri
Kukang Bukanlah Objek Perburuan
Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.
Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.
Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.
“Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.