Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Dampak Kebakaran Hutan Masih Menekan, Penyelamatan Orangutan Terus Dilakukan
Kebakaran hutan besar-besaran pada musim kemarau 2019 lalu masih menyisakan duka. Kerusakan ekologi akibat api tidak bisa pulih begitu saja meskipun hujan sudah kembali membasahi bumi. Efek kebakaran hutan masih terasa hingga saat ini. Sebagai makhluk yang hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan paling merasakan dampak hancurnya hutan akibat kebakaran hutan. Kebakaran yang menghancurkan rumah mereka membuat mereka kehilangan tidak hanya sumber makanan, tetapi juga merampas ruang hidup mereka. Mereka terpaksa mencari tempat yang lebih baik, meskipun kenyataannya hutan sudah benar-benar musnah dan tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Mereka biasanya akan berakhir di kebun atau pemukiman warga dan menghadapi resiko konflik dengan manusia.
Setelah sebelumnya menyelamatkan belasan orangutan yang kehilangan rumah pasca kebakaran besar 2019, tim gabungan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang kembali menyelamatkan dua individu orangutan induk dan anak dari Jalan Pelang-Tumbangtiti km 9, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (2/2).
Seorang warga bernama Purnomo melaporkan adanya orangutan yang sudah 3 hari bersarang di depan rumahnya di jalan Pelang-Tumbangtiti. Menurut keterangannya, orangutan-orangutan ini berasal dari hutan di sebelah timur jalan yang hangus terbakar dan kemudian menyeberang jalan raya. Ironisnya, tempat para orangutan menyelamatkan diri inipun sudah tidak lagi menyisakan pepohohan yang cukup layak untuk mereka makan dan mencari penghidupan.
Penyelamatan dua individu orangutan ini dilakukan lantaran di hutan di di tempat kedua orangutan ini sudah habis terbakar, menyisakan sisa batang pohon yang hangus dan ilalang yang mulai tumbuh. Hanya perlu waktu beberapa minggu untuk menghanguskan hutan dan perlu waktu puluhan tahun untuk bisa merestorasinya kembali.
Ketika tim penyelamat datang, tim menemukan 3 individu orangutan, satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan anaknya yang diperkirakan berusia 3 tahun. Mereka bertahan di pohon kering yang nampak kepayahan menahan beban mereka. Tim penyelamat yang berfokus pada penyelamatan induk dan anak sempat kehilangan orangutan jantan ini.
Tiga individu orangutan yang bersarang di tepi jalan Pelang-Tumbang Titi Km 9, Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kalimantan Barat
“Kami mengutamakan menyelamatkan induk dan anak ini karena kondisi keduanya lebih mengkhawatirkan daripada orangutan yang jantan,“ ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release dan Monitoring yang terjun langsung dalam kegiatan penyelamatan ini. “Orangutan jantan itu masih sangat liar dan masih cukup kuat. Kami pikir dia masih akan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama. Meskipun demikian kami tetap menurunkan tim patroli Orangutan Protection Unit (OPU) kami untuk melakukan patroli dan monitoring di sekitar kawasan ini karena sebenarnya daya dukung kehidupan untuk orangutan bisa dikatakan tidak ada sama sekali,” jelasnya lagi.
Dokter hewan IAR Indonesia bersama Polisi Hutan BKSDA Melakuakan pemeriksaan orangutan yang diberi nama Mama Rawa
Untuk mengevakuasi induk anak ini, tim penyelamat menggunakan senapan bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lapangan, induk orangutan ini mengalami malnutrisi dengan badan yang sangat kurus. Diduga induk anak orangutan ini mengalami kelaparan selama berbulan-bulan. Tidak mengherankan melihat kondisi hutan yang hancur lebur dilalap api pada akhir tahun silam. Pemantauan dari udara menunjukan sudah tidak ada lagi hutan yang layak bagi orangutan ini untuk hidup dalam radius beberapa kilometer.
Saat ini induk anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak untuk menjamin kehidupannya.
“Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja IAR Indonesia, ujar Karmele L. Sanchez, direktur program IAR Indonesia. “Hilangnya hutan dengan skala sebesar ini, membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan ketika orangutan karena kita tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi. Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, Kita harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari kebakaran
Habitat Terusik Pertambangan dan Illegal Logging, Orangutan Masuk ke Kebun Warga.
Redanya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang rupanya tidak menyurutkan ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan. Orangutan yang sejak pertengahan tahun lalu terancam dengan adanya kebakaran hutan dan lahan, sampai saat ini masih juga terancam dengan aktifitas illegal logging dan pertambangan illegal. Aktifitas-aktifitas illegal ini merusak hutan dan habitat serta mengancam kelangsungan hidup orangutan. Ancaman ini nyata di depan mata dan bukan hisapan jempol belaka.
Tim gabungan IAR Indonesia dan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang kembali menyelamatkan satu orangutan jantan dewasa tidak jauh kawasan pertambangan dan illegal loging di Dusun 4 Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Jumat (24/1).
Orangutan ini pertama kali dilaporkan keberadannya oleh seorang warga pada pertengahan Januari lalu karena memasuki kebunnya. Tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia menindaklanjuti laporan ini dengan melakukan verifikasi dan melakukan mitigasi dengan menggiring orangutan ini masuk kembali ke hutan. Tetapi karena hutan yang ada sudah rusak dan terbuka akibat pertambangan emas illegal dan illegal loging, orangutan yang diberi nama Inap ini kembali masuk ke kebun warga untuk mencari makan.
Tim gabungan akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi orangutan yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun ini dan membawanya ke IAR Indonesia untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sebelum dipindahkan ke hutan yang lebih baik dan aman untuk kehidupannya. Karena orangutan ini adalah orangutan liar, tim menggunakan obat bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sebelum berhasil diselamatkan oleh tim gabungan IAR Indonesia dan BKSDA, warga sempat menjerat orangutan ini dengan tali sehingga menimbulkan luka lecet di tangan orangutan ini. Hal ini disesalkan oleh direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez. “Kami meminta dan sangat berharap kepada masyarakat untuk selalu melaporkan penemuan orangutan kepada petugas terkait seperti BKSDA dan IAR Indonesia karena mencoba menangkap orangutan sendiri tanpa prosedur yang tepat bisa membahayakan manusia dan orangutan ini sendiri,” jelasnya lagi.
Dari survey lokasi, diketahui bahwa hutan yang yang ada sudah terpotong-potong oleh pembukaan lahan untuk pertambangan dan illegal logging. Citra satelit menunjukan bahwa area hutan yang tersisa jauh lebih sempit dibandingkan lahan yang sudah terbuka. Tidak heran orangutan ini keluar untuk mencari makan habitatnya sudah terganggu oleh berbagai kegiatan illegal ini.
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T. “Untuk kesekian kali konflik satwa liar dan manusia terulang kembali. Kapan hal seperti ini akan kita tuntaskan. Sudah saatnya pemerintah bersama para mitra melakukan langkah nyata. Kebijakan menyeluruh, penyadartahuan dan solusi inovatif harus dimulai sekarang”
Gunung Tarak, Rumah Baru bagi Orangutan Korban Kebakaran
Hutan Lindung Gunung Tarak kembali menjadi rumah bagi orangutan yang diselamatkan dari hutan yang rusak terbakar di Kabupaten Ketapang. Setelah sebelumnya menjadi tempat pelepasaan orangutan jantan bernama Junai, kali ini HL Gunung Tarak menjadi rumah baru bagi orangutan betina yang diberi nama Epen. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan melepaskan Epen di dalam kawasan HL Gunung Tarak pada Senin, 20 Januari 2020.
Sebelumnya Epen di selamatkan di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, pada penghujung November 2019. Ketika diselamatkan kondisinya sangat kurus dan mengalami malnutrisi akibat kekurangan makan selama berapa bulan. Epen juga diduga mempunyai bayi karena orangutan ini masih menghasilkan air susu. Ketika menjalani pemeriksaan dan perawatan untuk memulihkan kondisinya, tim medis menemukan adanya peluru yang bersarang pada punggung dan paha Epen.
Setelah sebulan menjalani perawatan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas rehabilitasi bagi satwa liar terutama orangutan, Epen dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di paha dan punggung diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa peluru ini tidak berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatannya.
Hutan lindung yang dikelola olah Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan ini sudah menjadi tempat pelepasan orangutan sejak tahun 2014. Total sudah ada 16 orangutan yang sudah dilepaskan di kawasan ini. Berdasarkan hasil survey habitat dan populasi, lokasi ini cocok untuk menjadi tempat pelepasan orangutan. Selain karena jumlah jenis pakannya yang tinggi, populasi asli orangutan di kawasan inipun masih termasuk rendah.
Selain itu, di dalam kawasan seluas kurang lebih 24.000 juga terdapat stasiun monitoring orangutan dan patroli yang dikelola oleh IAR Indonesia sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan. Staf yang menjalankan kegiatan monitoring orangutan dan patrol hutan ini berasal dari dusun-dusun di sekitar HL Gunung Tarak. Belasan staf ini secara bergantian bertugas untuk memastikan keselamatan dan kehidupan orangutan yang dilepaskan di dalam kawasan ini.
Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, Memberikan kesempatan kedua bagi orangutan merupakan hal yang sangat membahagiakan dan penuh harapan. Meskipun kehilangan habitat karena kebakaran hutan dan alihfungsi lahan untuk perkebunan dan pertanian, orangutan ini mendapatkan kesempatan kedua untuk bisa kembali hidup di habitat aslinya. Semuanya ini berkat kerjasama yang baik antara IAR Indonesia, BKSDA Kalbar dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat.
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T. “Sudah saatnya manusia harus berubah. Sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan. Semua bencana alam, konflik satwa dan lain-lain hanyalah pesan. Pesan yang disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. Ingat lah bahwa konflik-konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama sedang menuju pada kepunahan. Selain itu, kawasan yang di pilih sebagai lokasi pelepasliaran sudah dilakukan observasi dalam penentuan sumber makanan bagi Epen untuk melanjutkan hidup di alam bebas, serta memungkinkan untuk berkembang biak, mengingat ada individu orangutan lain yang juga terdeteksi berada di sekitar lokasi pelepasliaran.”
Pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimatan Barat, Ir. ADI YANI, MH
“Orangutan merupakan spesies “payung” dalam sebuah ekosistem, yang memiliki peran besar dalam menjaga ekosistem secara luas dikarenakan daya jelajah mereka luas dan berdampak positif terhadap kelestarian ekologi yang ada di lokasi tempat hidupnya. Ditemukannya orangutan bernama “Epen” dalam kondisi yang memprihatinkan disebuah lahan perkebunan sawit menandakan bahwa akibat dari pembukaan hutan berdampak terhadap kelangsungan hidup spesies payung ini. Kami berterima kasih kepada pihak YIARI yang secara cepat tanggap menangani dan merehabilitasi epen sampai pada kondisi yang baik dan siap untuk dilepasliarkan. Hutan Lindung Gunung Tarak merupakan lokasi yang masih terjaga untuk pelepasliaran ini, selain itu Hutan Lindung Gunung Tarak memiliki interkoneksi dengan Taman Nasional Gunung Palung yang merupakan lokasi besar tempat hidupnya spesies orangutan. Maka dari itu kita berharap agar epen dapat segera beradaptasi dengan baik dan hidup sebagai hewan yang bebas seperti sediakala. Kami berpesan kepada semua pihak, marilah kita menjaga alam…niscaya alam akan menjaga kita.”
Jumlah Konflik Manusia – Orangutan Terus Bertambah, Induk Anak Orangutan Diselamatkan di Sungai Awan Kiri
Jumlah konflik manusia-orangutan di wilayah yang terbakar sejak Agustus 2019 belum juga surut. Data dari tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia kenunjukan jumlah konflik yang cenderung naik dari bulan September hingga Desember 2019. Awal tahun ini juga belum menunjukan tanda-tanda konflik manusia-orangutan semakin berkurang.
Justru di awal tahun ini, tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I dan IAR Indonesia disibukkan dengan kegiatan penyelamatan dan translokasi dua individu orangutan induk – anak di kebun milik warga di Jalan Ketapang – Tanjungpura Km. 9, Desa Sungai awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Senin, (13/1).
Laporan mengenai keberadaan orangutan induk anak yang diberi nama Qia dan Mama Qia ini didapatkan oleh tim Patroli OPU IAR Indonesia pada tanggal 4 Januari 2020 yang kemudian langsung melakukan mitigasi dengan melakukan penggiringan orangutan kembali ke arah hutan yang tidak jauh dari kebun warga. Namun pada tanggal 8 Januari, tim patroli berjumpa kembali dengan kedua orangutan ini di lokasi yang sama. Setelah dilakukan survey lokasi, terlihat bahwa hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran sehingga hutan ini tidak lagi terhubung ke hutan besar. Karena kondisi inilah, tim IAR Indonesia bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk melakukan penyelamatan dan memindahkan kedua orangutan ini ke lokasi yang lebih baik dan aman.
Dokter Hewan IAR Indonesia memeriksa kondisi Mama Qia dan bayinya di kebun warga di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Penyelamatan induk orangutan diperkirakan berusia lebih dari 10 tahun dan bayinya yang berusia 2 bulan ini berjalan dengan baik. Setelah melewati serangkain pemeriksaan medis, dokter hewan IAR Indonesia yang memeriksa kedua orangutan ini menyatakan kedua orangutan ini dalam kondisi sehat. “Karena kedua orangutan ini sehat dan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut, maka kami bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk langsung mentranslokasikan mereka ke hutan Sentap kancang yang hanya berjarak sekitar 5 km dari lokasi penyelamatan ini,”ujar Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia.
Hutan seluas lebih dari 40.000 ha ini dinilai cocok sebagai rumah barunya karena selain menyediakan ruang hidup yang luas, jumlah jenis pakan orangutan berlimpah dan kepadatan orangutan di dalamnya belum terlalu tinggi. Karena jalan menuju hutan tidak bisa dilewati kendaraan, kandang dipikul masuk ke dalam hutan dibantu oleh tim Mitra IAR Indonesia. Tidak ketinggalan, anggota tim WRU BKSDA Kalbar pun turut serta membantu memikul kandang.
Pelepasan Mama Qia dan bayinya di Hutan Sentap Kancang, Ketapang, Kalimantan Barat
Meskipun kegiatan ini sukses memindahkan orangutan ke hutan yang lebih baik untuk kehidupannya, tranlokasi semacam hanyalah solusi sementara. Translokasi ini tidak bisa mengurai akar permasalahan sebenarnya. Permasalahan sebenarnya terletak pada alih fungsi dan kerusakan hutan.
Ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan bertambah sejak kebakaran besar melanda sebagian besar wilayah di Ketapang. Hutan yang terbakar menyebabkan banyak orangutan kehilangan tempat tinggal dan dan sumber penghidupannya. Orangutan-orangutan ini pergi meninggalkan rumahnya yang terbakar dan masuk ke kebun warga untuk mencari makan, menyebabkan tingginya jumlah perjumpaan manusia dengan orangutan yang tidak jarang menimbulkan kjonflik yang dapat merugikan orangutan dan manusia itu sendiri.
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, “Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, berpuluh tahun, baik oleh pemerintah maupun bersama para mitra. Namun demikian tantangan dan masalah yang muncul justru semakin meningkat. Sudah saatnya diambil langkah-langkah dan kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh bukan hanya pada sektor konservasi saja tetapi juga pada sektor yang terkait dengan pemanfaatan ruang/wilayah. Akar masalah timbulnya konflik satwa dan manusia lebih banyak berawal dari penataan/pemanfaatan ruang yg belum cukup memberikan perhatian pada aspek konservasi tumbuhan dan satwa liar.”
Pernyataan Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, “Konflik ini muncul karena orangutan kehilangan habitat yang merupakan rumah bagi mereka. Orangutan mencari makan ke kebun warga karena mereka tidak punya pilihan lagi akibat rumahnya yang musnah. Mama Qia mampu mempertahankan hidup dan menjaga bayinya tanpa makanan yang mencukupi selama berbulan-bulan karena instingnya sebagai induk yang mepertahankan hidup anaknya. Kami sangat prihatin dengan melihat bagaimana orangutan ini berusaha mempertahankan hoidup dengan kondisi habitat yang semakin hancur dan musnah. Kami berharap manusia akan sadar bahwa tanpa hutan, tidak hanya orangutan yang tidak bisa mempertahankan eksistensinya di muka bumi, tetapi manusa juga akan mendapatkan konsekuensi yang sama.”
Ketika Laju Perubahan Iklim Semakin Menderu
Oleh: Dewi Ria Utari
Pasca kebakaran yang terjadi di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat, pada akhir Juli hingga September 2019, kami di IAR Indonesia menerima sejumlah laporan tentang banyaknya satwa liar dan dilindungi yang berada di wilayah warga. Habitat mereka telah koyak. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain memasuki area manusia untuk mencari makanan. Untunglah setelah selama bertahun-tahun, NGO dan pemerintah bekerja sama untuk melakukan edukasi tentang sikap dan tindakan yang harus diambil ketika melihat satwa liar dan dilindungi, masyarakat secara sadar memberikan laporan kepada pihak berwenang ketika mendapati satwa liar ada di wilayah mereka.
Dari laporan-laporan warga inilah, IAR Indonesia bersama pemerintah terkait, di antaranya BKSDA setempat melakukan penyelamatan satwa. Dari sejak September hingga Desember ini, kami telah menyelamatkan sembilan orangutan dan satu beruang. Sebagian dari mereka telah dilepaskan kembali ke hutan.
Di antara kasus penyelamatan sembilan orangutan tersebut, kami mendapati keberadaan Epen, orangutan betina dewasa yang diselamatkan dari Desa Sungai Besar dua hari setelahnya. “Orangutan betina ini sangat kurus,” jelas Argito Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia. “Sepertinya orangutan ini telah menderita kelaparan selama berbulan-bulan sejak habitatnya terbakar. Kami juga menduga dia kehilangan bayinya karena orangutan ini masih mengeluarkan air susu. Mungkin bayinya mati karena kekurangan nutrisi. Jilka kami tidak segera menyelamatkannya, mungkin dia sudah mati sekarang,” katanya lagi
Pilihan hutan sebagai tempat mereka pulang pun semakin menipis. Kini, mungkin hanya hutan-hutan berstatus taman nasional yang bisa menjadi “rumah aman” bagi para satwa. Tak ada jaminan di masa depan apakah hutan-hutan yang tak mendapatkan status taman nasional, bisa diperuntukkan bagi kepulangan mereka.
“Kehilangan habitat orangutan karena kebakaran adalah ancaman terbesar bagi orangutan saat ini,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Sungguh memilukan melihat orangutan korban kebakaran hutan ini yang menderita kelaparan, tidak mempunyai apa pun untuk dimakan, sama seperti yang kita saksikan pada 2015. Meskipun demikian, kekuatan untuk tetap hidup dalam kondisi seperti ini cukup mencengangkan. Bagian yang paling menyedihkan adalah kita tidak bisa menghitung berapa banyak dari orangutan ini yang tidak berhasil bertahan dan akhirnya terbakar dalam kebakaran atau mati perlahan karena kelaparan.”
Secara parsial, mungkin kita hanya akan melihat situasi penyelamatan satwa yang terusir dari hutan sebagai habitatnya, sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak pertengahan tahun ini. Namun jika kita bersedia untuk melihatnya secara lebih bijak, karhutla adalah salah satu dari alarm akan perubahan iklim yang tengah terjadi secara global.
Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang disebabkan oleh faktor cuaca. Tidak bisa dipungkiri, cuaca ekstrem ini merupakan salah satu dampak perubahan iklim. World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019 juga menyatakan, perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem. Dengan situasi demikian, kita harus bisa siap untuk bencana kebakaran pada tahun ke tahun berikutnya.
Isu perubahan iklim ini menjadi isu penting dan serius yang dibahas dalam United Nation Climate Change Conference yang berlangsung di Madrid, Spanyol pada 2-13 Desember lalu. Pertemuan yang disebut juga COP25, ini merupakan pertemuan lanjutan para pihak yang hadir pada konvensi PBB tentang perubahan iklim untuk memastikan hasil kesepakatan konvensi tersebut dilaksanakan.
“Kita memerlukan kemauan dan komitmen yang kuat dari semua negara untuk memerangi perubahan iklim. Kebakaran hutan merupakan penghasil rumah kaca terbesar di dunia. Bila kita tidak melindungi hutan yang tersisa, kita tidak hanya akan menderita akibat perubahan iklim, tetapi juga akan menyaksikan keanekaragaman hayati dari Kalimantan, termasuk orangutan, akan musnah,” ujar Karmele.
Penulis penerima banyak penghargaan tingkat dunia, Jonathan Safran Foer menulis dalam buku terbarunya, “We Are The Weather: Saving The Planet Begins at Breakfast”, menyatakan bahwa masalah yang dihadapi dengan krisis yang dialami planet ini, masih banyak dari kita menilai bahwa bencana yang menyertai perubahan iklim – cuaca ekstrem, banjir, kebakaran hutan, hingga kelangkaan sumber daya alam – adalah sesuatu yang abstrak, jauh, dan terisolasi. Mereka yang kerap kali menyangkal keberadaan perubahan iklim, menolak kesimpulan bahwa 97 persen para ilmuwan iklim telah bersepakat bahwa planet ini memanas karena aktivitas manusia.
Di luar para penyangkal ini, di bukunya tersebut, Safran Foer mengajak para pembacanya untuk sama-sama bertanya, bagaimana dengan kita yang mengatakan menerima kenyataan perubahan iklim yang disebabkan manusia? Kita mungkin tidak berpikir bahwa para ilmuwan itu bohong, tetapi apakah kita bisa mempercayai apa yang mereka katakan kepada kita? Keyakinan semacam itu pasti akan menyadarkan kita pada keharusan etis yang mendesak dan melekat, mengguncang hati nurani kita bersama, dan membuat kita bersedia untuk berkorban kecil di masa sekarang untuk menghindari yang dahsyat di masa depan. Bersediakah kita?