Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Setiap Makhluk Punya Peran Terhadap Bumi, Termasuk Orangutan Lho!
Orangutan merupakan primata endemik tanah air yang sampai saat ini masih terus aja ada berita-berita soal mereka masuk ke lahan manusia dan mengakibatkan konflik. Tentunya kita nggak pengen kejadian kayak gini terus terjadi kan, karena ini bisa jadi ancaman bagi kelestarian spesies ini. Namun, masih banyak yang nggak sadar tentang mengapa orangutan harus dilestarikan dan apa pentingnya kehadiran mereka buat alam dan juga tentunya buat kita.
Tujuan menjaga kelestarian orangutan tidak hanya semata-mata agar orangutan tetap eksis saja di muka bumi. Nyatanya, eksistensi orangutan ini juga memiliki implikasi positif bagi ekosistem dan hajat hidup manusia. Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, “Kalau sudah tiada, baru terasa~”. Nah amit-amit kita nggak mau sampai kayak gitu kan.
So, kenapa orangutan penting? Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi dan disebut sebagai umbrella species, yaitu spesies yang memiliki daerah jelajah luas dan memiliki peran dalam mendukung keberlangsungan hidup dari spesies-spesies lain dalam wilayah jelajahnya. Percaya nggak percaya, hilangnya orangutan dapat menyebabkan hilangnya spesies-spesies flora dan fauna lain di hutan. Yup, mereka se-penting itu! Jadi ini sejumlah alasan kenapa mereka penting.
Fungsi Orangutan bagi Hutan
Orangutan merupakan satwa arboreal yang memiliki jenis pakan berupa daun, buah, dan bagian tumbuhan lainnya. Saat orangutan melakukan aktivitas makan, buah, dan biji yang dibuang ke lantai hutan secara tidak sengaja, sisa-sisa makannya itu nantinya dapat tumbuh menjadi individu pohon baru.
Dalam hal ini, orangutan dapat dikatakan memiliki “tugas” sebagai penyebar biji di hutan. Jika populasi orangutan menurun, maka penyebaran spesies pohon akan ikut menurun, frekuensi penyebarannya kian berkurang, atau bahkan penyebarannya akan berhenti. Menurut Ancrenaz et al. (2006), orangutan juga memainkan peran aktif dalam perkecambahan biji untuk beberapa spesies.
Gatot, salah satu orangutan yang tinggal di hutan rehabilitasi kami (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Manfaat Orangutan untuk Ekosistem
Nah, manfaat-manfaat ini akan muncul dari bertumbuhnya pohon-pohon itu tadi! Kayaknya semua sudah tahu kalau pohon punya sejuta manfaat. Sebagai penghasil oksigen, pengatur tata air, sumber pakan, tempat berlindung bagi satwa lain, mencegah longsor, dan masih banyak lagi.
Selain itu, bila populasi orangutan menurun, maka dapat berakibat pada pengurangan cadangan karbon di hutan.
Menurut Queenborough et al. (2009), hal ini dikarenakan jenis pohon besar yang “ditanam” oleh orangutan kebanyakan adalah pohon-pohon yang berkayu padat dan mampu menyimpan lebih banyak karbon. Contoh pohon yang dibantu persebarannya oleh orangutan seperti pohon-pohon dari genus meranti (Shorea), keruing (Dipterocarpus), dan masih banyak lagi.
Hutan tempat orangutan tinggal (Heribertus Suciadi | IAR Indonesia)
Orangutan sebagai Spesies Kunci Kelestarian Ekosistem Hutan
Kondisi populasi dan eksistensi orangutan di hutan memiliki dampak yang dapat merembet pada banyak hal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa orangutan merupakan kunci dari regenerasi hutan yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk di bumi. Hal inilah yang membuat orangutan disebut sebagai umbrella species atau “spesies payung” yang disebutkan tadi. orangutan memegang peranan penting dalam menjaga keragaman dan keberlangsungan dari biodiversitas yang ada terutama ekosistem hutan gambut tempat mereka tinggal..
Seandainya orangutan ngerti bahasa manusia, kita harus banyak-banyak ngucapin terima kasih nih sama orangutan-orangutan di luar sana, mereka sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa buat kita semua!
Hahaha, tapi kita masih bisa berterimakasih dengan cara lain kok. Dengan tidak merusak habitatnya dan merusak populasinya juga dapat menjadi bentuk rasa terimakasih dan penghargaan kita sama orangutan!
Alfatheya Diva
Referensi:
Ancrenaz, M., Lackman-Ancrenaz, I., and Elahan, H. 2006. Seed spitting and seed swallowing by wild orangutans (Pongo pygmaeus morio) in Sabah, Malaysia. J Trop Biol Cons 2: 65-70
Queenborough, S.A., Mazer, S.J., Vamosi, S.M., Garwood, N.C., Valencia, R. and Freckleton, R.P. 2009. Seed mass, abundance and breeding system among tropical forest species: Do dioecious species exhibit compensatory reproduction or abundances? J Ecol 97: 555‐566.
Merawat Gambut Demi Masa Depan Alam Indonesia
Nilai dan fungsi penting lahan dan hutan rawa gambut bagi keberlangsungan ekosistem yang hidup wilayahnya telah banyak diketahui. Sayangnya, keunikan kondisinya yang rentan terhadap gangguan eksternal tidak banyak dipahami masyarakat luas. Hingga saat ini, lahan gambut di Indonesia masih menghadapi sejumlah ancaman deforestasi dan degradasi akibat pengelolaan dan pemanfaatan yang kurang berkelanjutan.
Kegiatan pembalakan, konversi hutan gambut menjadi lahan industri perkebunan, kehutanan produksi, pemukiman disertai pembangunan drainase berlebihan, serta kebakaran merupakan pemicu dan pemacu utama deforestasi dan degradasi gambut di Indonesia. Deforestasi dan degradasi gambut berdampak pada gangguan hidrologi, penurunan tutupan hutan, subsidensi gambut, peningkatan kerentanan kebakaran, peningkatan emisi gas rumah kaca, kehilangan biodiversitas, dan sederet kerugian sosial ekonomi lainnya.
Mengingat pentingnya kerja sama semua pihak untuk menjaga kawasan gambut ini, Badan Restorasi Gambut Indonesia dan IAR Indonesia mengadakan pelatihan pada 19-21 November 2019. Dalam salah satu agenda pelatihan tersebut, sejumlah warga desa berseragam oranye dengan gambar kubah gambut tampak sibuk memegang pipa besi panjang. Terik matahari yang menyengat tidak mengganggu kesibukan mereka membuat sumur bor. Air bercampur lumpur menyembur keluar dari sumur. Tak ayal, sebagian dari mereka basah kuyup. Namun hal itu tidak mengurangi kegiatan mereka mempraktikkan pembuatan sumur bor untuk membasahkan kembali (rewetting) gambut dalam kegiatan yang bertajuk sosialisasi dan diskusi serta bimbingan teknis pembuatan sumur bor dan sekat kanal.
Selama tiga hari, kegiatan ini dihadiri lebih dari 50 orang yang berasal dari beberapa instansi seperti TNI, Polisi, Manggala Agni, perangkat desa dan warga desa di Kecamatan Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, dan Muara Pawan.
Praktik pembuatan sumur bor yang berlangsung dari pukul 09.00 pagi sampai sore hari ini dilaksanakan di lahan milik IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri pada hari terakhir. Tujuan dari praktik ini adalah supaya pembuatan sumur bor bisa diimplementasikan di desa yang rawan kebakaran serta memiliki lahan gambut yang luas sebagai proses dan upaya pencegahan kebakaran.
Pemberian materi sebagai pengantar pemahaman dilakukan di hari pertama, bertempat di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang. Di pembekalan materi ini, peserta mendapatkan penjelasan pengantar ekosistem gambut dan kelembagaan Badan Restorasi Gambut RI, kebijakan kedeputian bidang konstruksi, operasi dan pemeliharaan restorasi gambut Provinsi Kalimantan Barat, kegiatan restorasi gambut lingkup Provinsi Kalimantan Barat, mekanisme pembangunan anggaran dasar terkait perlindungan dan penanggulangan bencana, program kerja badan penanggulangan bencana daerah terkait penanggulangan bencana berbasis masyarakat, serta penanggulangan karhutla di Kabupaten Ketapang di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang.
Pada hari kedua, peserta diajak meninjau sekat kanal di Desa Tempurukan dan pada hari ketiga, para peserta mempraktikkan pembuatan sumur bor untuk pembahasan kembali lahan gambut.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan dan mensinergiskan program-program BRG yang akan dilaksanakan di Kabupaten Ketapang pada instansi pemerintah kabupaten terkait dan pemerintah desa, memberikan pengetahuan dan pemahaman dasar kepada para peserta dari masyarakat desa serta mempraktikkan tata cara pembangunan sumur bor dan sekat kanal sesuai standar yang ditetapkan.
Harapannya, semua pihak mengetahui peran, fungsi, dan tanggung jawabnya masing-masing terkait pengelolaan kawasan gambut. Terutama bagi para peserta dari desa, dengan mengikuti pelatihan ini, mereka mengetahui dan memahami tentang tata cara pembangunan sumur bor dan sekat kanal sesuai standar yang ditetapkan, dan menjadi pendorong bagi setiap desa untuk menangani serius penanggulangan kebakaran pada lahan gambut dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). RPJMDes ini merupakan rencana per 5 tahun yang dibuat berdasarkan musyawarah desa dan saat ini desa-desa yang terlibat sudah memasukan rencana penanggulangan bencana kebakaran di lahan gambut ke dalam RPJMDes. Hal ini berarti desa-desa ini sudah berkomitmen untuk pengelolaan gambut.