Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Peni, Secuil Kisah Bahagia di Tengah Perjuangan Hidup Orangutan

Oleh: Dewi Ria Utari

Siang itu, sorot mata kebahagiaan tim survei dan monitoring mengikuti seekor orangutan betina yang berloncatan di antara liana dan pepohonan sambil menggendong bayi orangutan di pelukannya. Ia begitu lincah. Namun juga hati-hati dan tampak selalu memastikan bahwa bayi di pelukannya tetap aman. Orangutan betina itu bernama Peni

Melihat kondisinya yang telah menjadi ibu, tentu saja ini merupakan kabar bahagia bagi tim survei dan monitoring International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Gunung Tarak. Bagaimana tidak, Peni, orangutan yang merupakan individu yang direhabilitasi, ternyata berhasil beradaptasi di alam liar dan bahkan telah menjadi ibu. Karena keberadaan Peni telah memperlihatkan keberhasilan proses reintroduksi orangutan di Gunung Tarak, tim IAR Indonesia pun menamakan bayinya, Tarak.

Peni saat dijumpai tim monitoring tengah menggendong bayinya di hutan Gunung Tarak. Foto: IAR Indonesia.

Sosok Peni terbilang cukup bersejarah bagi pekerjaan IAR Indonesia dalam hal penyelamatan, rehabilitasi, dan kemudian melepaskan satwa (terutama orangutan) ke alam liar. Sejarah itu diukir sejak Peni diselamatkan. Di usia balitanya, ia mengalami kejadian traumatik. Dalam pelukan ibunya, Peni terusir dari hutan yang semakin menipis karena hutan tersebut akan dialihfungsikan menjadi kebun sawit. Sudah menjadi insting, ibu orangutan yang masih memiliki bayi, akan mencari tempat yang diperkirakannya merupakan sumber makanan. Peni dan Ibunya pun tiba di sebuah desa di pinggir hutan. Alih-alih mendapatkan makanan, warga desa yang ketika kejadian tersebut berlangsung, yaitu 2010, belum banyak yang memiliki kesadaran dan pengetahuan bahwa orangutan merupakan satwa dilindungi, segera merenggut Ibu Peni dari bayinya, dan menenggelamkan sang ibu ke dalam kolam.

Orangutan adalah satwa yang tak bisa berenang. Tentu saja tindakan kejam ini berbuntut nyawa. Dalam keadaan sekarat, si ibu kemudian diikat bersama anaknya, dan mereka dilempari benda apa pun oleh warga desa. Sungguh tindakan yang pada dasarnya memperlihatkan bahwa ketidaktahuan merupakan salah satu sumber dari perbuatan keji.

Induk Peni berusaha melepaskan diri dari ikatan saat tertangkap dan jadi tontonan oleh penduduk karena memasuki area ladang dan kebun penduduk setempat. Untuk bisa melumpuhkannya penduduk memukuli, merendamnya dalam kolam lalu mengikatnya. Diperkirakan akibat hutan-hutan tempat habitat orangutan yang terus menyusut menyebabkan orangutan itu berkeliaran di ladang dan kebun penduduk untuk mencari makan. Foto: Feri Latief (2010).

IAR Indonesia tiba terlambat di Desa Peniraman, Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak, tempat kejadian memilukan ini terjadi. Sambil berupaya meredakan emosi warga, tim medis berusaha menyelamatkan ibu dan bayi orangutan ini. Sayangnya terlambat. Nyawa ibu orangutan tak lagi bertahan. Ia meninggal. Untunglah si bayi masih bisa diselamatkan. Ia pun kemudian segera dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat. Sesampainya di sana, ia pun diperiksa secara lebih lanjut, dan kemudian ia dinamakan Peni – mengacu pada nama desa tempat ia diselamatkan.

Merehabilitasi Peni bukan perkara mudah. Ia diselamatkan dari peristiwa yang membuatnya traumatik. Satwa terutama orangutan, memiliki daya ingatan yang kuat dan menyaksikan kematian ibunya, merupakan pengalaman yang mengguncangkan batin. Rehabilitasi Peni tak hanya berfokus pada bagaimana ia bisa belajar menjadi orangutan sesuai kodrat dan nalurinya, namun juga mengatasi pengalaman traumatiknya.

Peni kecil saat berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: IAR Indonesia.

Perlu kerja sama yang kompak antara tim animal keeper dan medis untuk terus memantau perkembangan Peni di sekolah hutan yang dijalaninya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia. Hingga akhirnya, setelah empat tahun di pusat rehabilitasi, Peni dinilai telah berhasil menjalankan semua kemampuan yang diperlukan orangutan untuk hidup di alam liar. Dari mencari makanan, hingga membuat sarang.

Pada 2014, Peni dilepasliarkan di Gunung Tarak. Di hutan inilah, Peni kembali bertemu dengan teman-teman orangutan yang juga direhabilitasi oleh IAR Indonesia, yaitu Helen, Prima, dan Susi. Meski sudah dilepasliarkan, sudah menjadi prosedur wajib di IAR Indonesia, kehidupan para orangutan rehabilitasi ini tetap dimonitor. Tak hanya untuk memantau kemampuan mereka bertahan hidup, namun juga proses adaptasi mereka dengan orangutan liar.

Kabar menggembirakan pun muncul tahun ini. Tim survei dan monitoring yang sebelumnya cukup lama tidak menyaksikan keberadaan Peni, dikejutkan dengan pemandangan membahagiakan di mana ia tampak menggendong bayi orangutan.

Peni adalah kisah sukses kami, kisah membahagiakan yang memberikan harapan dan semangat bahwa kerja keras lembaga-lembaga penyelamatan satwa tidak sia-sia. Tentu saja dukungan dari pemerintah sangat memberikan andil dalam memberikan ruang bagi satwa-satwa dilindungi ini bisa menemukan rumah tempat ia hidup dan bereproduksi. Tanpa dukungan dari Taman Nasional Gunung Tarak, bisa jadi Peni tak menemukan kehidupan baru. Hutan-hutan seperti Taman Nasional di Gunung Tarak ini adalah masa depan mereka. Dan kita memerlukan lebih banyak lagi hutan bagi mereka.

Dengan Satu Mata, Junai Melanjutkan Hidup di Gunung Tarak

Ketapang, Kalbar –  Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya, ia diselamatkan dalam kondisi mata kiri mengalami kebutaan. Saat diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada 20 September lalu, Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya. Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut.

Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya.

Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai pada Senin, 11 November 2019.

Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017. Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014.

Untuk memastikan kondisi Junai terus selamat dan mampu melanjutkan hidupnya, IAR Indonesia menempatkan tim patroli dan monitoring yang telah berada di sana sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan.

Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.

“Sebelumnya kami pernah juga melepaskan orangutan yang satu kakinya lumpuh akibat peluru pada tahun 2016 di HL Gunung Tarak, orangutan ini kami pantau setiap hari selama beberapa bulan dan terbukti bahwa orangutan ini mampu bertahan hidup dengan normal walaupun salah satu kakinya lumpuh akibat ada belasan peluru yang beberapa di antaranya mengenai saraf tulang belakangnya,” ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia. “Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,”tambahnya lagi.

 

Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez,

Orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin. Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai. Orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung, dimana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya. Jika peluru sampai kena kedua matanya, orangutannya bisa menjadi cacat untuk selamanya dan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya. Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut”

Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T.

Sebagai penggiat konservasi, kita mempunya satu pekerjaan rumah, yakni membangun pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada hutan, ekosistem dan satwa liar. Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, tapi penganiayaan terhadap satwa liar masih saja terus berlangsung. Penyelamatan satwa liar sudah sering dilakukan, namun itu tidak akan pernah cukup selama kita tidak mampu merubah mindset masyarakat dan generasi muda untuk lebih ramah pada satwa liar.

Pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimatan Barat, Untad Dharmawan

Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologis pada suatu ekosistem dalam hal ini adalah ekosistem hutan. Karena masing-masing dari setiap komponen yang ada dalam kesatuan ekosistem tersebut pada dasarnya memiliki peran dan relung ekologisnya masing2-masing sehingga akan tercipta suatu keseimbangan yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya.

Orangutan sebagai salah satu dari satwa langka yang dilindungi adalah merupakan Satwa khas bumi Kalimantan yang saat ini kehidupannya “terancam punah” akibat berbagai macam tekanan terhadap keberadaan hutan sebagai habitat kehidupan Orangutan. Tekanan berupa deforestasi, desertifikasi, overeksploitasi hutan, kebakaran hutan dan ditambah lagi perburuan liar semakin mengancam keberadaan orangutan itu sendiri.

Upaya yang telah dilakuan oleh Lembaga IAR indonesia selama ini dengan terus berupaya menyelamatkan, merawat, merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan ke habitatnya patut kita apresiasi. Selain ini merupakan langkah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan fungsi hutan, juga ini merupakan upaya sadar kita untuk  “memanusiakan manusia” sebagai khalifah dimuka bumi.