Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Mulai dari Belajar Hal Baru hingga Mengenali Diri: Kisah Inspiratif Fira di Kahiu Academy
Saat pertama kali ditawari mengikuti Kahiu Academy, saya membutuhkan waktu untuk bisa menentukan jawaban. Jika saya bersedia mengikuti Kahiu, maka saya harus keluar dari zona nyaman dan pergi ke suatu tempat yang belum pernah saya singgahi.
Ditambah lagi, itu akan berlangsung dalam jangka waktu yang menurut saya lumayan lama. Bertemu dengan orang baru, tempat yang baru, dan juga suasana baru yang entah akan seperti apa.
Hingga pada akhirnya, saya memutuskan untuk ikut Kahiu Academy. Tidak ada salahnya untuk mencoba dan mempelajari hal baru. Pikir saya waktu itu.
Di hari pertama, saya berkenalan dengan teman-teman dari Melawi dan Batu Lapis. Kami yang berasal dari Ketapang baru datang ketika pembelajaran sudah dimulai. Hal ini membuat saya sedikit merasa segan karena seperti orang baru datang.
Padahal, saya termasuk anak yang mudah bergaul dan cepat beradaptasi. Namun ternyata cukup sulit untuk bisa berbaur, khususnya dengan peserta laki-laki. Dengan peserta perempuan, kami bisa menjalin pertemanan dengan mudah. Masih ada kecanggungan memang antara peserta laki-laki dan perempuan.
Kegiatan Fira saat Menjadi Peserta Kahiu Academy, Salah Satunya yaitu Kelas Pertanian dengan pak Eko yang Membahas Hubungan Timbal balik Kehidupan (Tim Edukasi Kahiu Academy | YIARI)
Belajar keterampilan dan hal-hal baru
Di Kahiu Academy, ada banyak kelas yang harus kami ikuti. Kelas-kelas ini terasa menyenangkan karena ada banyak hal baru yang saya pelajari. Terutama di kelas self assesment. Buat saya, ini membuat saya lebih mengenal diri saya lebih jauh lagi.
Saya belajar untuk bertanya dan jujur kepada diri saya sendiri. Apa yang saya sukai, dan apakah saya mau menjalaninya. Tanpa saya sadari, saya semakin menantikan kelas-kelas berikutnya yang akan diberikan.
Kami juga diajarkan komputer. Di kelas ini kami dibedakan berdasarkan tingkatan. Ada yang basic dan middle. Pembagian kelas ini cukup efektif, karena secara basic saya sempat mempelajari selama di sekolah. Sehingga materi yang diberikan seperti melanjutkan apa yang sudah dipelajari di sekolah.
Sayangnya, hal serupa tidak berlaku di kelas bahasa Inggris. Bersama teman-teman yang lain, kami belajar dari basic. Memang, tidak semua peserta Kahiu ini memiliki jenjang pendidikan yang sama. Pengetahuan dasar setiap peserta jelas berbeda-beda. Meski begitu, setiap kelas tetap menyenangkan untuk saya ikuti.
Tidak semua peserta memiliki minat yang antusias di setiap kelas yang diberikan. Jujur saja, peserta yang kurang berminat pada suatu materi akan cenderung bermain-main atau tidak serius. Terkadang, saya khawatir kalau hal ini bisa mempengaruhi semangat peserta yang lainnya saat mereka benar-benar ingin belajar dan mempraktekannya kelak di rumah masing-masing.
Perubahan sikap menjadi lebih baik
Selama di Kahiu Academy, kami tidak hanya belajar soal keterampilan saja. Kami juga diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan konservasi. Seperti tidak memelihara satwa liar di rumah.
Sebelumnya ini saya anggap ini adalah hal yang sepele. Tapi setelah memahaminya, saya akhirnya sadar kalau hal tersebut berdampak besar bagi kehidupan kita sendiri. Seperti menularkan penyakit, atau justru sebaliknya.
Saya juga baru tahu mengenai kesejahteraan satwa, terutama bagi hewan peliharaan. Selama ini saya hanya mengira bahwa hewan peliharaan itu cukup diberi makan dan minum saja. Ternyata ada hal-hal lain yang akhirnya saya baru tahu dan sadari. Hewan peliharaan juga harus terpenuhi kesehatan dan mengekspresikan perilakunya.
Selain itu juga ada pembelajaran tentang Sex Education. Selama di sekolah, kata ini sangat tabu untuk didengar. Padahal, ini seharusnya menjadi pembelajaran penting yang wajib diajarkan di sekolah. Bahkan, orangtua juga memiliki peran penting dalam memberikan pengertian tentang pergaulan dan memilih pertemanan.
Di usia seperti saya dan teman-teman, kami sangat rentan terjerumus pada kenakalan remaja. Kami masih sangat labil dan mencoba mencari jati diri. Pentingnya Sex Education ini mengajarkan kami akan sebab akibat agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.
Kahiu Academy benar-benar telah membuka mata saya. Ternyata, masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan jenjang sekolah yang diwajibkan pemerintah. Mereka putus sekolah, dan terpaksa bekerja kayu di hutan dan Taman Nasional. Mereka juga rata-rata usianya masih di bawah umur.
Minimnya akses kepada pendidikan dan informasi, menjadikan mereka tidak mengetahui akan dampak yang nantinya ditimbulkan. Sedangkan oknum yang mempekerjakan, justru meraup keuntungan yang begitu besar. Yang pada akhirnya, dampak kerugian besar ini akan dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di sekitarnya.
Perubahan sikap juga menjadi sesuatu yang saya dan teman-teman rasakan selama mengikuti Kahiu. Saya ingat betul, di satu minggu pertama, ada teman kami yang tidak bisa mengontrol emosinya, pemarah, dan juga tidak percaya diri. Sekarang, saya melihat perubahan yang positif dari dirinya dan juga saya pribadi. Saya sangat senang, karena kami bisa menjadi lebih baik dan jauh lebih percaya diri.
Kini, saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk belajar di Kahiu Academy. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dan terapkan kelak ketika kembali pulang. Terima kasih banyak telah mendukung dan mendampingi kami. Memberikan fasilitas, waktu, tenaga dan tentunya biaya yang tidak sedikit. Semoga ini menjadi kebaikan bagi kita semua.
Fira dan Dokter Karmele Llano Sanchez saat Penutupan Acara Kahiu Academy (Tim Edukasi Kahiu Academy | YIARI)
Tentang Fira
Fira Mutia adalah salah seorang peserta Kahiu Academy YIARI batch 2 tahun 2023. Fira berasal dari Sungai Besar, Kabupaten Ketapang. Gadis berusia 24 tahun ini berencana melamar kerja di beberapa perusahaan selepas program Kahiu Academy. Fira yang hobi membaca memiliki ketertarikan untuk menulis, dan berharap bisa membuat sebuah novel kelak.
Memupuk Asa Remaja Putus Sekolah Bersama Kahiu Academy
Sambil terbata-bata, Ucil berbicara di depan kelas. Terlihat jelas raut wajahnya tegang saat mengenalkan dirinya sendiri. Namun tidak hanya dia, suasana serupa juga terlihat dari peserta lainnya yang mendapat giliran setelahnya.
Padahal, kelas saat itu hanya didampingi oleh Dieka, fasilitator yang juga menjabat sebagai Manager Program Edukasi di Melawi, Kalimantan Barat.
“Gapapa klo hari ini kalian deg-degan,” ujar Dieka menenangkan setelah semua peserta mengenalkan dirinya satu persatu.
“Mudah-mudahan, nanti kalian bakal terbiasa buat bicara di depan ya,” kata Dieka menyemangati.
Usai sesi perkenalan, kelas dibubarkan. Peserta dibolehkan untuk beraktivitas bebas. Asal dilakukan di sekitar Learning Centre-YIARI.
Beberapa peserta mulai asik bermain bola voli di lapangan. Sebagian lainnya, sibuk main gawai yang terkoneksi dengan internet. Sesuatu yang jarang mereka nikmati di daerahnya masing-masing.
Kahiu Academy
Perkenalan dari salah satu peserta Kahiu Academy 2 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Hingga empat bulan ke depan, 18 remaja yang terpilih akan mengikuti program Kahiu Academy, sebuah program yang digagas oleh YIARI sejak 2022. Program ini sendiri merupakan program pendidikan keterampilan bagi remaja putus sekolah hingga lulusan SMA.
Peserta yang dipilih berasal dari beragam desa yang menjadi progam pendampingan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat. Seperti Desa Nusa Poring, Desa Mawang Mentatai, Desa Batu Lapis, Desa Sungai Besar, Desa Pematang Gadung, Pulau Cempedak, Desa Tanjung Baik Budi, Desa Kuala Tolak dan Desa Sungai Besar.
Proses pemilihan peserta dilakukan melalui serangkaian tahapan selama tiga bulan lebih. Dimulai dari pengenalan program Kahiu kepada remaja-remaja setempat. Kemudian pengumpulan informasi terhadap kandidat calon peserta yang berminat.
Jika proses awal tersebut telah memenuhi penilaian dan kelayakan, maka syarat terakhir adalah dukungan dan izin orangtua. Hal ini untuk memastikan bahwa peserta akan mengikuti seluruh kegiatan Kahiu hingga selesai nantinya.
Kahiu Academy memang ditujukan untuk membantu anak-anak putus sekolah di desa-desa dampingan YIARI, khususnya yang berbatasan dengan hutan.
Seringkali, keterbatasan pendidikan ini menjadi alasan mereka untuk melakukan pekerjaan yang menghabiskan waktunya di dalam hutan. Seperti berburu, atau penebang kayu ilegal.
Sayangnya, terkadang hasil yang mereka dapatkan dan tak seberapa itu lebih cepat habis untuk hal-hal yang konsumtif dan nirfaedah.
Melalui program Kahiu Academy, para peserta akan diberikan beragam materi keterampilan. Mulai dari keterampilan komputer, pertanian organik, pengelasan, mengemudi, fotografi, hingga kelas literasi keuangan yang dapat membantu mereka dalam pengelolaan dana.
Selain keterampilan, tentunya ada juga materi-materi tambahan lainnya yang bertujuan mengenalkan peserta terhadap upaya-upaya konservasi. Hal-hal yang tentu saja merupakan bagian dari visi misi YIARI terhadap pelestarian satwa dan alam.
Di samping itu, pengembangan karakter yang positif pada setiap peserta juga menjadi harapan yang tumbuh selama program ini berlangsung.
Sambutan dari Argito Ranting selaku Direktur Program YIARI (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Motivasi untuk Belajar
“Saya ingin ikut Kahiu karena saya tertarik belajar pertanian,” ucap Deli saat proses wawancara.
Deli yang berasal Batu Lapis mengungkapkan alasannya ini karena melihat ibunya yang berladang dan menjual hasil sayurnya.
“Kalau saya punya ilmu tentang bertani, nanti bisa dipakai untuk bantu ibu di ladang,” terang Deli menjelaskan harapannya.
Lain halnya dengan Andika. Remaja yang putus sekolah saat kelas 2 SMP ini lebih tertarik belajar komputer. Saat ditanya motivasinya mengikuti Kahiu Academy, Andika hanya ingin mengubah nasib keluarganya.
“Bapak saya kerja kayu. Saya berhenti sekolah karena ingin bantu bapak. Dia sudah tua,” papar Andika menceritakan alasannya.
“Tapi saya tidak mau kerja kayu seperti bapak. Kalau saya sama seperti bapak, mungkin nanti anak saya juga nasibnya sama seperti saya,” kata Andika.
Kisah Ucil bisa jadi lebih menyentuh. Dia putus sekolah sejak kelas 3 SD. Pengalaman dirisak saat sekolah membuatnya enggan untuk lanjut sekolah. Baginya, sekolah itu tempat yang horor.
Di usia saat itu, Ucil bahkan sudah mulai ikut bekerja kayu, sempat pula menjadi kernet perahu. Bahkan hubungannya dengan orangtuanya pun tidaklah harmonis. Selama ia bekerja, penghasilan yang didapat selalu diminta untuk membantu melunasi hutang keluarga.
“Saya diusir dari rumah sama bapak,” Ucil menceritakan dirinya.
“Gara-gara saya minta bapak supaya berhenti minum-minum,” tambahnya.
Masa lalu Ucil yang kelam terlihat ketika sesi awal yaitu mengenali diri sendiri. Di sesi ini, Ucil kesulitan menuliskan hal-hal yang ia sukai. Meski begitu, Dieka tidak khawatir. Dia melihat motivasi Ucil untuk belajar setelahnya.
“Malam-malam dia WA, minta buku dan pulpen untuk menulis. Dia bilang mau belajar supaya bisa lebih mengenali diri,” kata Dieka menceritakan pengalamannya tentang Ucil.
Perkenalan dari salah satu peserta Kahiu Academy 2 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Memupuk Asa
Kebanyakan dari peserta memiliki latar belakang keluarga yang bekerja di hutan. Berburu dan kerja kayu seakan menjadi pilihan bagi yang tidak memiliki banyak pilihan dan keterampilan.
Beberapa keluarga lainnya ada juga yang sudah bertani. Sayangnya, sistem ladang berpindah masih menjadi pilihan utama. Yang mana proses ini seringkali dilakukan dengan cara membuka hutan dan pembakaran lahan.
Sejak awal pelibatan, peserta memahami bahwa tidak ada jaminan pekerjaan atau modal biaya yang akan diberikan oleh YIARI setelah program selesai.
Meski begitu, pendampingan akan tetap dilakukan oleh fasilitator untuk memantau perkembangan peserta.
Dengan peningkatan keterampilan yang diberikan di Kahiu Academy, tentu saja harapannya adalah membuka peluang kerja yang lebih luas bagi peserta, atau peluang lainnya yang bisa mereka kembangkan di desa masing-masing.
Setidaknya, peningkatan keterampilan ini menjadi modal penting agar tidak terus terjebak pada pekerjaan merambah hutan, yang suatu saat bisa saja tak mampu lagi mereka pikul.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.