Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Mengapa Banyak Kukang Korban Perburuan Tampak Baik-Baik Saja?

Di hutan pada malam hari, menemukan kukang sebenarnya tidak terlalu sulit. Ketika disorot senter, mata mereka memantulkan cahaya kuning keemasan yang terlihat jelas di antara daun dan dahan.

Namun pantulan kecil itu juga bisa membawa bahaya.

Bagi sebagian pemburu, cahaya dari mata kukang justru menjadi penanda yang memudahkan mereka membidik sasaran dengan senapan angin. Tanpa suara ledakan keras, peluru melesat menembus tubuh kecil primata nokturnal ini.

Yang mengejutkan, luka akibat tembakan tersebut tidak selalu terlihat.

Banyak kukang yang diselamatkan dan dibawa ke pusat rehabilitasi tampak masih mampu bergerak, memanjat, bahkan makan seperti biasa. Namun ketika dokter hewan melakukan pemeriksaan rontgen, gambaran yang muncul di layar sering kali berbeda: peluru masih bersarang di dalam tubuh mereka.

Temuan inilah yang diungkap dalam penelitian berjudul “Clinical Evaluation and Pathological Findings of Air Rifle Shot in Slow Lorises (Nycticebus spp.) at the Animal Rehabilitation Center of Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor Regency.”

Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan tim dari Universitas Padjadjaran bersama YIARI ini mencoba melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh kukang korban tembakan senapan angin.

Perburuan Kukang dengan Senapan Angin Masih Terjadi

Kasus kukang yang terkena tembakan ternyata bukan kejadian yang jarang. Hal ini terlihat dari data di Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Bogor.

Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis rekam medis kukang yang masuk ke pusat rehabilitasi selama 2015–2022. Dari data tersebut, tercatat:

  • 492 rekam medis kukang
  • 51 kasus yang berkaitan dengan luka akibat peluru atau tembakan

Angka ini menunjukkan bahwa perburuan dengan senapan angin masih menjadi ancaman nyata bagi kukang di alam liar.

Untuk melihat dampaknya lebih dekat, peneliti kemudian memilih 16 kukang jawa (Nycticebus javanicus) dengan data medis paling lengkap. Kukang-kukang ini berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat, seperti Bandung, Ciamis, Bogor, Majalengka, Cirebon, dan Kuningan.

Dari sinilah peneliti mulai menelusuri satu pertanyaan penting: apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh kukang setelah terkena tembakan?

Ketika Tubuh Kukang Diperiksa Lebih Dekat

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan serangkaian pemeriksaan medis pada kukang yang menjadi bagian dari studi ini. Tujuannya adalah melihat apakah ada luka yang tidak terlihat dari luar.

Beberapa metode yang digunakan antara lain:

  • pemeriksaan klinis, untuk menilai kondisi fisik kukang secara umum
  • rontgen (radiografi), untuk mendeteksi peluru yang mungkin tertinggal di dalam tubuh
  • pemeriksaan jaringan dan organ, untuk mengetahui kerusakan yang terjadi di bagian dalam tubuh

Pemeriksaan ini penting karena luka akibat tembakan tidak selalu tampak jelas di permukaan tubuh. Dari luar, beberapa kukang masih terlihat mampu bergerak atau memanjat seperti biasa.

Namun ketika hasil rontgen diperiksa, gambaran yang muncul sering kali berbeda dari yang terlihat.

Peluru dapat tetap tertanam di dalam tubuh, tersembunyi di antara jaringan otot, tulang, atau bahkan berada dekat dengan organ penting. Dalam beberapa kasus, tubuh kukang juga membentuk jaringan di sekitar peluru, sehingga benda asing tersebut tampak seperti “terbungkus” di dalam jaringan tubuh.

Ketika hasil rontgen dianalisis lebih lanjut, para peneliti menemukan gambaran yang cukup mengejutkan. Dari pemeriksaan terhadap 16 kukang dalam studi ini, terdapat total 29 peluru yang masih tertanam di dalam tubuh mereka.

Beberapa peluru yang berhasil dikeluarkan dari tubuh kukang/Sumber: Jurnal Advances in Animal and Veterinary Sciences

Peluru-peluru tersebut tidak hanya berada di satu lokasi, tetapi tersebar di berbagai bagian tubuh, di antaranya:

  • kepala – 8 peluru
  • dada (toraks) – 6 peluru
  • bahu – 4 peluru
  • lengan depan – 3 peluru
  • panggul (pelvis) – 3 peluru
  • leher – 2 peluru
  • kaki belakang – 2 peluru
  • perut – 1 peluru

Temuan ini menyatakan, satu individu kukang bisa saja terkena lebih dari satu tembakan. Bahkan pada salah satu kasus, seekor kukang jawa jantan dewasa yang diselamatkan dari Cirebon ditemukan memiliki lima peluru sekaligus di dalam tubuhnya, yaitu di area kepala, leher, dan bahu.

Beberapa peluru yang berhasil dikeluarkan dari tubuh kukang/Sumber: Jurnal Advances in Animal and Veterinary Sciences

Selain peluru yang tertanam, pemeriksaan medis juga menemukan berbagai kondisi luka lain yang cukup serius, seperti:

  • gigi patah
  • luka pada langit-langit mulut (palatum)
  • pembengkakan kelenjar akibat infeksi benda asing

Dalam beberapa kasus, peluru yang tertinggal juga memicu terbentuknya jaringan di sekitarnya. Hal ini membuat peluru tampak seperti terbungkus oleh jaringan tubuh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa luka akibat tembakan tidak selalu hanya berupa luka terbuka, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan yang tersembunyi di dalam tubuh kukang.

Mengapa Kepala Kukang Sering Menjadi Sasaran?

Dari hasil penelitian ini, peneliti juga menemukan pola menarik. Dari total peluru yang terdeteksi, bagian kepala menjadi lokasi yang paling sering terkena tembakan.

Hal ini ternyata berkaitan dengan perilaku alami kukang di alam.

Saat beristirahat atau tidur di atas pohon, kukang biasanya menggulung tubuhnya seperti bola di atas dahan. Dalam posisi ini, bagian kepala sering menjadi bagian tubuh yang paling terlihat dari bawah.

Selain itu, kukang memiliki lapisan khusus pada matanya yang membantu mereka melihat dalam kondisi cahaya yang sangat minim. Ketika terkena cahaya senter pada malam hari, mata kukang akan memantulkan cahaya berwarna kuning keemasan.

Pantulan inilah yang sering membuat kukang mudah terlihat di tengah gelapnya hutan.

Bagi peneliti, kemampuan ini merupakan adaptasi alami yang membantu kukang beraktivitas di malam hari. Namun bagi pemburu, pantulan tersebut justru menjadi penanda yang memudahkan mereka menemukan kukang di antara dahan pohon.

Karena sumber pantulan berasal dari mata, arah tembakan sering kali langsung mengarah ke kepala. Akibatnya, luka pada bagian ini berisiko lebih serius karena berada dekat dengan organ penting seperti:

  • otak
  • mata
  • saluran pernapasan

Dalam beberapa kasus, peluru yang menembus area wajah juga dapat menyebabkan luka pada langit-langit mulut dan memicu infeksi berat. Cedera seperti ini tentu memperburuk peluang kukang untuk bertahan hidup setelah terkena tembakan.

Tidak Semua Kukang Korban Tembakan Bisa Diselamatkan

Setelah peluru ditemukan melalui rontgen, langkah berikutnya adalah menentukan apakah peluru tersebut bisa dikeluarkan atau tidak. Keputusan ini tidak selalu mudah, karena posisi peluru di dalam tubuh kukang bisa sangat beragam.

Dalam praktiknya, dokter hewan biasanya mempertimbangkan beberapa hal sebelum melakukan operasi, seperti:

  • lokasi peluru di dalam tubuh
  • kedalaman peluru dari permukaan kulit
  • risiko kerusakan organ vital jika peluru diangkat

Peluru yang berada tepat di bawah kulit atau di dalam jaringan otot biasanya masih memungkinkan untuk diangkat melalui operasi. Namun jika peluru tertanam terlalu dalam atau berada dekat organ penting, operasi justru bisa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi kukang.

Karena itu, dalam beberapa kasus dokter memilih tidak mengangkat peluru dan hanya memberikan perawatan medis untuk mencegah infeksi serta membantu proses pemulihan.

Dari total 29 peluru yang ditemukan pada kukang-kukang yang diteliti, 16 peluru berhasil diangkat melalui operasi. Sisanya tetap berada di dalam tubuh karena posisinya terlalu berisiko untuk dikeluarkan.

Hasil akhirnya menyatakan, tidak semua kukang korban tembakan dapat bertahan hidup. Dari 16 individu yang diamati dalam penelitian ini:

  • 12 kukang berhasil selamat setelah menjalani perawatan
  • 4 kukang lainnya tidak tertolong karena luka yang terlalu parah

Apa Manfaat Penelitian Ini bagi Perlindungan Kukang?

Selain mengungkap kondisi luka pada kukang korban tembakan, penelitian ini juga memberikan informasi penting bagi penanganan medis di pusat rehabilitasi satwa.

Temuan tentang lokasi peluru, jenis cedera, serta kondisi jaringan tubuh membantu dokter hewan menentukan langkah pemeriksaan dan perawatan yang lebih tepat. Misalnya, kapan pemeriksaan rontgen perlu dilakukan dan dalam kondisi seperti apa peluru dapat diangkat melalui operasi atau sebaiknya dibiarkan karena terlalu berisiko.

Data dari kasus-kasus ini juga memberikan gambaran tentang pola perburuan yang terjadi di lapangan. Dengan mengetahui wilayah asal kukang yang tertembak, peneliti dan pengelola konservasi dapat lebih mudah mengidentifikasi area yang membutuhkan pengawasan dan perlindungan habitat yang lebih kuat.

Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya membantu memahami luka yang dialami kukang, tetapi juga memberikan dasar pengetahuan yang penting untuk meningkatkan upaya penyelamatan dan perlindungan satwa tersebut di masa depan.

Luka yang Tak Terlihat dari Perburuan Kukang

Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan tim menunjukkan bahwa dampak perburuan kukang sering kali lebih serius daripada yang terlihat. Luka akibat tembakan tidak selalu tampak jelas dari luar, tetapi dapat meninggalkan peluru dan kerusakan di dalam tubuh yang sulit diketahui tanpa pemeriksaan medis.

Temuan ini membantu membuka gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya dialami kukang korban tembakan. Melalui pemeriksaan seperti rontgen, luka-luka yang sebelumnya tersembunyi akhirnya bisa terdeteksi dan ditangani dengan lebih tepat.

Bagi kukang di alam liar, luka seperti ini mungkin tidak selalu terlihat. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa di balik tubuh yang tampak baik-baik saja, bisa saja ada cedera serius yang terus mereka bawa.

Featured image: Mata kukang mematulkan cahaya berwarna kuning keemasan saat disorot senter di malam hari/Rendi Afandi YIARI

Tautan Jurnal

Clinical Evaluation and Pathological Findings of Air Rifle Shot in Slow Lorises (Nycticebus spp.) At The Animal Rehabilitation Center of Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor Regency. Advances in Animal and Veterinary Sciences. [Buka]

Tanpa Menebang Hutan, Petani Lampung Bisa Raup Rp37 Juta Setahun

Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Tanggamus ketika para petani mulai masuk ke kebun mereka di kawasan Batutegi, Lampung. Di bawah naungan pohon durian dan kemiri, tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan pisang, cabai, bahkan kolam ikan di sudut lahan.

Kebun seperti ini memang tidak terlihat seperti perkebunan pada umumnya. Di satu lahan, banyak jenis tanaman tumbuh bersamaan. Namun justru dari pola tanam inilah para petani mendapatkan penghasilan yang cukup besar.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Ulin: Jurnal Hutan Tropis (2025) meneliti 261 petani di tiga kelompok tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) di KPH Batutegi. Hasilnya, sistem agroforestri menyumbang sekitar 72 hingga 89 persen dari total pendapatan petani, dengan penghasilan rata-rata mencapai puluhan juta rupiah per tahun.

Menariknya, semua itu dilakukan tanpa harus menebang hutan.

Di Batutegi, hutan tetap berdiri, sementara kebun tetap menghasilkan. Lalu, bagaimana sistem agroforestri ini bisa menjadi sumber penghidupan utama bagi petani sekaligus tetap menjaga fungsi hutan?

Agroforestri di Hutan Kemasyarakatan Batutegi

Di kawasan Batutegi, para petani mengelola lahan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), salah satu program Perhutanan Sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan negara secara legal dan berkelanjutan.

Sistem yang mereka terapkan adalah agroforestri, yaitu pola tanam yang menggabungkan berbagai jenis tanaman dalam satu lahan. Di kebun-kebun ini, kopi biasanya menjadi komoditas utama, lalu dipadukan dengan tanaman lain yang punya fungsi berbeda.

Dalam satu lahan, misalnya, petani bisa menanam:

  • Tanaman utama: kopi
  • Pohon penaung: durian, kemiri, jengkol, atau alpukat
  • Tanaman sela: pisang, cabai, dan sereh

Susunan seperti ini membuat kebun tetap produktif sepanjang tahun karena setiap tanaman punya waktu panen yang berbeda.

Sebagian petani juga menambahkan kegiatan lain ke dalam sistem ini, seperti:

  • Budidaya ikan di kolam kecil
  • Beternak lebah madu
  • Memelihara kambing

Semua elemen ini saling mendukung. Tanaman menyediakan naungan dan pakan, sementara kotoran ternak bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami.

Meski lahan yang mereka kelola berada di kawasan hutan lindung, petani tidak menebang pohon untuk dijual sebagai kayu. Mereka hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti kopi, buah-buahan, dan rempah.

Dari sistem inilah sebagian besar penghasilan petani di Batutegi berasal.

Agroforestri Jadi Sumber Pendapatan Utama Petani

Seberapa besar sebenarnya peran agroforestri bagi penghasilan petani di Batutegi?

Penelitian terhadap 261 petani dari tiga gabungan kelompok tani (gapoktan) di KPH Batutegi menunjukkan bahwa agroforestri menyumbang sekitar 72 hingga 89 persen dari total pendapatan petani. Artinya, sebagian besar penghasilan rumah tangga mereka berasal dari kebun agroforestri, bukan dari pekerjaan lain di luar lahan.

Rata-rata pendapatan agroforestri di tiap gapoktan juga cukup menonjol:

GapoktanPendapatan agroforestri
Sumber Makmur37,8 juta per tahun
Wanatani Lestari28,4 juta per tahun
Mandiri Lestari34,1 juta per tahun

Pendapatan ini berasal dari berbagai hasil kebun yang dipanen sepanjang tahun, mulai dari kopi hingga buah-buahan dan rempah.

Sementara itu, pekerjaan lain di luar kebun agroforestri, seperti buruh tani, berdagang, atau membuka usaha kecil, hanya menyumbang sekitar 11 hingga 28 persen dari total pendapatan petani.

Jika dihitung dari total pendapatan rumah tangga per bulan, angkanya secara umum mendekati atau melampaui UMP Lampung tahun 2023, meski ada perbedaan antar-gapoktan.

Temuan ini menunjukkan, kebun agroforestri bukan hanya berperan dalam menjaga kawasan hutan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi rumah tangga petani.

Kopi Jadi Tulang Punggung Pendapatan

Di kebun agroforestri Batutegi, ada banyak jenis tanaman yang tumbuh bersama. Namun dari semua komoditas tersebut, kopi tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi petani.

Penelitian menunjukkan, kopi menyumbang sekitar 32 hingga 46 persen dari total pendapatan agroforestri di ketiga gapoktan yang diteliti. Tidak heran jika tanaman ini menjadi komoditas utama yang paling diandalkan petani.

Selain kopi, ada beberapa komoditas lain yang juga memberi tambahan penghasilan, meski kontribusinya lebih kecil, seperti:

  • Lada: sekitar 3–20 persen
  • Cengkeh: sekitar 1–11 persen
  • Durian: sekitar 2–9 persen
  • Kemiri: sekitar 2–6 persen

Menariknya, ada satu komoditas yang produksinya sangat tinggi di kebun petani, tetapi kontribusinya terhadap pendapatan justru kecil: pisang.

Di banyak kebun agroforestri Batutegi, pisang tumbuh cukup melimpah. Tanaman ini cepat dipanen dan relatif mudah dibudidayakan. Namun karena harga jualnya rendah, nilai ekonominya tidak sebesar kopi atau beberapa tanaman lainnya.

Temuan yang dilakukan Manurung dan tim menunjukkan bahwa dalam sistem agroforestri, banyaknya hasil panen tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya pendapatan. Nilai ekonomi setiap komoditas tetap menjadi faktor penting.

Selain itu, komposisi tanaman di kebun juga tidak selalu sama. Beberapa kebun memiliki lebih banyak pohon buah seperti durian atau kemiri, sementara yang lain lebih didominasi tanaman seperti jengkol atau petai. Perbedaan komposisi inilah yang ikut memengaruhi besarnya pendapatan petani di tiap gapoktan.

Diversifikasi Kebun Membuat Pendapatan Lebih Stabil

Salah satu kekuatan utama agroforestri adalah keberagaman tanaman dalam satu lahan. Bagi petani, ini bukan sekadar soal variasi tanaman, tetapi juga strategi untuk menjaga kestabilan penghasilan.

Di kebun agroforestri Batutegi, tanaman biasanya memiliki waktu panen yang berbeda. Secara sederhana, petani membaginya menjadi dua kelompok:

Kategori TanamanContoh TanamanKarakteristik
Tanaman yang cepat dipanenPisang, cabai, serehDapat dipanen dalam waktu relatif singkat sehingga memberikan pemasukan lebih cepat bagi petani.
Tanaman jangka panjangKopi, durian, kemiri, cengkehMembutuhkan waktu lebih lama untuk berproduksi, tetapi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi sumber pendapatan utama.

Dengan kombinasi seperti ini, petani tidak harus menunggu satu musim panen saja untuk mendapatkan pemasukan. Saat kopi belum dipanen, mereka masih bisa menjual pisang atau cabai. Ketika musim panen kopi tiba, pendapatan biasanya meningkat lebih besar.

Strategi ini juga membantu petani menghadapi risiko. Jika harga salah satu komoditas turun atau panennya gagal, masih ada tanaman lain yang bisa menjadi sumber penghasilan.

Karena itu, agroforestri sering dianggap sebagai sistem pertanian yang lebih tahan terhadap ketidakpastian ekonomi maupun kondisi alam.

Menjaga Hutan Sekaligus Menghasilkan Uang

Agroforestri tidak hanya memberikan penghasilan bagi petani, tetapi juga membantu menjaga fungsi ekologis hutan, terutama di kawasan lindung seperti Batutegi.

Dalam sistem ini, pohon-pohon besar tetap dipertahankan di dalam kebun. Berbeda dengan pertanian monokultur yang biasanya membuka lahan secara luas, agroforestri justru menggabungkan berbagai tanaman di bawah naungan pohon.

Karena itu, kebun tetap produktif tanpa kehilangan fungsi ekologisnya. Beberapa manfaat ekologis dari sistem agroforestri antara lain:

  • Menjaga tata air, sehingga kawasan hutan tetap mampu menyimpan cadangan air tanah
  • Mengurangi erosi tanah, terutama di daerah lereng atau perbukitan
  • Menjaga kesuburan tanah melalui siklus alami daun gugur dan bahan organik
  • Mendukung keanekaragaman hayati, karena kebun yang beragam menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa

Hal yang tidak kalah penting, petani di kawasan HKm Batutegi tidak menebang pohon untuk dijual sebagai kayu. Mereka hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti kopi, buah-buahan, atau rempah.

Dengan cara ini, fungsi hutan lindung tetap terjaga, sementara masyarakat di sekitarnya tetap bisa mendapatkan penghidupan dari lahan yang mereka kelola.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meski sistem agroforestri di Batutegi terbukti mampu memberikan penghasilan yang cukup baik bagi petani, bukan berarti sistem ini berjalan tanpa tantangan. Penelitian tersebut menemukan beberapa kendala yang masih dihadapi petani di lapangan.

Beberapa tantangan utama yang masih dihadapi petani antara lain:

  • Harga pisang masih rendah. Produksinya cukup tinggi di kebun agroforestri Batutegi, tetapi nilai jualnya relatif kecil karena jenis yang banyak ditanam adalah pisang janten (pisang uli) yang harganya lebih murah dibandingkan beberapa jenis pisang lainnya.
  • Integrasi peternakan belum banyak dimanfaatkan. Dari ratusan petani yang diteliti, hanya sebagian kecil yang mengembangkan usaha peternakan seperti ikan, lebah madu, atau kambing, padahal kegiatan ini berpotensi menambah pendapatan sekaligus menyediakan pupuk organik bagi kebun.
  • Akses pasar masih terbatas. Banyak petani masih menjual hasil panen kepada pengepul lokal, sehingga pilihan pasar menjadi sempit dan harga jual sering kali kurang menguntungkan.

Beberapa tantangan tersebut menunjukkan bahwa sistem agroforestri masih bisa dikembangkan lebih jauh. Dengan pengelolaan dan dukungan yang tepat, peluang untuk meningkatkan pendapatan petani sebenarnya masih cukup besar.

Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan antara lain:

  • Diversifikasi produk olahan: Pisang yang produksinya melimpah bisa diolah menjadi keripik, sale pisang, atau tepung pisang yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Begitu juga dengan kopi yang bisa diproses menjadi kopi bubuk kemasan.
  • Penguatan pemasaran melalui gapoktan: Dengan kerja sama yang lebih kuat melalui gapoktan, petani memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mendapatkan harga yang lebih adil.

Dari Hutan yang Dijaga, Penghidupan Tumbuh

Kisah para petani di Batutegi menunjukkan bahwa menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak selalu harus saling bertentangan.

Melalui sistem agroforestri, satu lahan bisa menghasilkan banyak hal sekaligus: kopi, buah-buahan, rempah, bahkan hasil peternakan. Di saat yang sama, pohon-pohon tetap berdiri dan fungsi hutan sebagai penyangga lingkungan tetap terjaga.

Temuan penelitian ini memberi gambaran bahwa dengan pengelolaan yang tepat, hutan tidak hanya bisa dilindungi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

Batutegi mungkin hanya satu contoh, tetapi dari sini terlihat bahwa hutan dan penghidupan masyarakat sebenarnya bisa tumbuh bersama.

Tautan Jurnal

Kontribusi Agroforestri terhadap Pendapatan Petani Hutan Kemasyarakatan di KPH Batutegi, Provinsi Lampung. Ulin – J Hut Trop. [Buka]

Featured image: Ilustrasi hutan yang menerapkan agroforestri/Sumber: Pexels

Agroforestri Kopi di Batutegi dan Pelajaran dari Hutan

Pagi di lereng Batutegi, Lampung, selalu dimulai dengan dua aroma yang bercampur di udara: kopi robusta yang baru dipanen dan tanah hutan yang masih lembap.

Di tempat ini, kebun kopi tidak berdiri sendiri. Di antara batang kopi tumbuh pohon jengkol, durian, kemiri, dan berbagai tanaman lain yang menaungi lahan seperti kanopi hutan kecil. Sekilas, kebun ini bahkan lebih mirip hutan daripada perkebunan.

Bagi sebagian orang, menanam kopi di kawasan hutan lindung mungkin terdengar seperti masalah. Namun bagi petani di Batutegi, keduanya justru bisa berjalan berdampingan melalui sistem agroforestri.

Artikel ini mengulas temuan penelitian “Pemetaan Pola Agroforestri Kopi dengan Metode Transect Walk di KPH Batutegi” yang dilakukan oleh Wijaya dan tim dari Universitas Lampung. Penelitian ini memetakan bagaimana petani mengelola kebun kopi di kawasan hutan lindung melalui sistem agroforestri.

Hutan Kemasyarakatan dan Tantangan Mengelola Kebun di Kawasan Lindung

sebelum membahas lebih jauh tentang agroforestri kopi di Batutegi, kita perlu memahami satu konsep penting: Hutan Kemasyarakatan (HKm).

HKm merupakan bagian dari program perhutanan sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola lahan di kawasan hutan negara secara legal, tanpa mengubahnya menjadi lahan terbuka atau perkebunan monokultur. Tujuannya adalah agar masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi, sementara fungsi ekologis hutan tetap terjaga.

Salah satu aturan penting dalam pengelolaan HKm tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.105 Tahun 2018 yang menetapkan bahwa setiap hektar lahan harus memiliki minimal 400 pohon pelindung.

Keberadaan pohon pelindung ini penting karena membantu menjaga kondisi lingkungan hutan, seperti:

  • mempertahankan siklus air
  • mengurangi risiko erosi
  • menjaga kesuburan tanah
  • menyediakan habitat bagi satwa

Menariknya, bagi petani kopi robusta, keberadaan pohon pelindung sebenarnya bukan hambatan. Tanaman kopi justru membutuhkan naungan untuk tumbuh optimal, dengan intensitas cahaya sekitar 60 persen.

Tantangannya adalah menemukan keseimbangan yang tepat. Jika pohon pelindung terlalu sedikit, tanaman kopi bisa terkena panas berlebih. Sebaliknya, jika terlalu rapat, cahaya yang masuk ke kebun menjadi terlalu sedikit.

Karena itu, banyak petani mulai menerapkan agroforestri kopi, yaitu sistem budidaya yang menggabungkan tanaman kopi dengan berbagai jenis pohon dalam satu lahan.

Untuk melihat bagaimana pola ini diterapkan di lapangan, para peneliti kemudian memetakan kondisi kebun kopi petani di kawasan KPH Batutegi.

Hutan Kemasyarakatan dan Tantangan Mengelola Kebun di Kawasan Lindung

Sebelum membahas lebih jauh tentang agroforestri kopi di Batutegi, kita perlu memahami satu konsep penting: Hutan Kemasyarakatan (HKm).

HKm merupakan bagian dari program perhutanan sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola lahan di kawasan hutan negara secara legal, tanpa mengubahnya menjadi lahan terbuka atau perkebunan monokultur. Tujuannya adalah agar masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi, sementara fungsi ekologis hutan tetap terjaga.

Salah satu aturan penting dalam pengelolaan HKm tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.105 Tahun 2018 yang menetapkan bahwa setiap hektar lahan harus memiliki minimal 400 pohon pelindung.

Keberadaan pohon pelindung ini penting karena membantu menjaga kondisi lingkungan hutan, seperti:

  • mempertahankan siklus air
  • mengurangi risiko erosi
  • menjaga kesuburan tanah
  • menyediakan habitat bagi satwa

Menariknya, bagi petani kopi robusta, keberadaan pohon pelindung sebenarnya bukan hambatan. Tanaman kopi justru membutuhkan naungan untuk tumbuh optimal, dengan intensitas cahaya sekitar 60 persen.

Tantangannya adalah menemukan keseimbangan yang tepat. Jika pohon pelindung terlalu sedikit, tanaman kopi bisa terkena panas berlebih. Sebaliknya, jika terlalu rapat, cahaya yang masuk ke kebun menjadi terlalu sedikit.

Karena itu, banyak petani mulai menerapkan agroforestri kopi, yaitu sistem budidaya yang menggabungkan tanaman kopi dengan berbagai jenis pohon dalam satu lahan.

Untuk melihat bagaimana pola ini diterapkan di lapangan, para peneliti kemudian memetakan kondisi kebun kopi petani di kawasan KPH Batutegi.

Penelitian Agroforestri Kopi di KPH Batutegi

Penelitian ini dilakukan pada November 2023 di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi, Lampung. Studi yang dilakukan oleh Wijaya dan tim dari Universitas Lampung ini melibatkan tiga kelompok tani pengelola lahan HKm, yaitu:

  • Gapoktan Mandiri Lestari
  • Gapoktan Sumber Makmur
  • Gapoktan Wanatani Lestari

Untuk memetakan kondisi kebun, peneliti menggunakan metode transect walk, yaitu pengamatan lapangan dengan berjalan menyusuri kebun secara sistematis sambil mencatat kondisi vegetasi dan struktur lahan.

Beberapa hal yang diamati dalam metode ini meliputi:

  • jenis tanaman yang tumbuh di kebun
  • jumlah dan sebaran pohon pelindung
  • jarak tanam kopi
  • kombinasi tanaman yang ditanam bersama kopi
  • kondisi lanskap dan struktur vegetasi

Melalui pendekatan ini, peneliti dapat melihat langsung bagaimana pola agroforestri terbentuk di lapangan.

Dua Pola Agroforestri Kopi yang Ditemukan

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kebun kopi di KPH Batutegi dapat dibagi ke dalam dua pola utama, yaitu agroforestri sederhana dan agroforestri kompleks.

Perbedaan keduanya terlihat dari jumlah jenis pohon pelindung, kerapatan tajuk, dan susunan vegetasi di dalam kebun:

1. Agroforestri Sederhana

Model Pola Tanam Agroforestri Sederhana Mandiri Lestari

Pada pola ini, kebun kopi hanya dikombinasikan dengan beberapa jenis pohon pelindung, biasanya kurang dari lima jenis.

Beberapa tanaman pelindung yang paling sering ditemukan antara lain jengkol (Archidendron pauciflorum) dan petai (Parkia speciosa).

Kedua jenis pohon ini termasuk Multi-Purpose Tree Species (MPTS), yaitu pohon yang memiliki lebih dari satu manfaat. Selain berfungsi sebagai penaung kopi, buahnya juga memiliki nilai ekonomi bagi petani.

Ciri utama agroforestri sederhana antara lain:

  • jumlah jenis pohon pelindung relatif sedikit
  • tajuk kebun lebih terbuka
  • jarak tanam kopi lebih teratur, biasanya sekitar 2,5 m × 2,5 m

Di beberapa lokasi, petani juga menanam tanaman lain sebagai tanaman sela, seperti pisang, lada, cabai, dan terong. Tanaman tambahan ini membantu petani mendapatkan sumber pendapatan lain selain kopi.

2. Agroforestri Kompleks

Model Pola Tanam Agroforestri Kompleks Sumber Makmur

Berbeda dengan pola sederhana, kebun dengan agroforestri kompleks memiliki keragaman tanaman yang jauh lebih tinggi.

Jumlah jenis pohon pelindung biasanya lebih dari lima jenis, sehingga struktur vegetasinya menyerupai hutan alami. Beberapa tanaman yang sering ditemukan antara lain:

  • durian (Durio zibethinus)
  • kemiri (Aleurites moluccanus)
  • mahoni (Swietenia mahagoni)
  • pulai (Alstonia scholaris)
  • pisang (Musa paradisiaca)

Selain itu, terdapat pula beberapa jenis pohon kayu seperti johar, sonokeling, dan waru.

Karakteristik utama agroforestri kompleks meliputi:

  • keragaman tanaman lebih tinggi
  • tajuk kebun lebih rapat dan berlapis
  • jarak tanam kopi cenderung lebih rapat, sekitar 2 m × 2

Di beberapa kebun, petani juga menanam lada sebagai tanaman tumpang sari. Tanaman lada biasanya merambat pada pohon pelindung yang sekaligus berfungsi sebagai penopang.

Keragaman tanaman dalam sistem ini memberikan berbagai manfaat ekologis, seperti:

  • membantu menjaga keseimbangan ekosistem kebun
  • mengurangi risiko serangan hama
  • meningkatkan ketahanan lahan terhadap perubahan iklim

Petani juga memiliki sumber penghasilan yang lebih beragam, mulai dari kopi, buah-buahan, hingga kayu.

Namun penelitian ini juga menunjukkan satu hal penting: jumlah jenis pohon saja tidak selalu menentukan kualitas agroforestri. Untuk memahami hal ini, para peneliti kemudian melihat lebih jauh bagaimana sebaran dan struktur pohon di dalam kebun.

Temuan Penting Penelitian: Sebaran Pohon Lebih Penting daripada Jumlah Jenis

Hasil penelitian di KPH Batutegi menunjukkan bahwa agroforestri tidak cukup dinilai dari banyaknya jenis pohon yang ada di kebun. Yang tak kalah penting adalah bagaimana pohon-pohon itu tersebar dan membentuk struktur vegetasi di dalam lahan.

1. Banyak Jenis Pohon Belum Tentu Berarti Lebih Baik

Agroforestri kompleks sering dianggap lebih ideal karena memiliki lebih banyak jenis tanaman. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa banyaknya jenis pohon tidak otomatis membuat suatu kebun lebih baik.

Kualitas agroforestri juga ditentukan oleh susunan vegetasi di dalam kebun, termasuk seberapa merata pohon-pohon pelindung tumbuh di seluruh lahan.

2. Sebaran Pohon yang Merata Lebih Menentukan

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran sebaran pohon pelindung di dalam kebun.

Jika pohon hanya terkonsentrasi di satu titik, sementara bagian lain terlalu terbuka, keseimbangan lingkungan kebun bisa terganggu. Dampaknya antara lain:

  • area yang terlalu rapat akan kekurangan cahaya matahari
  • area yang terlalu terbuka membuat tanaman kopi terpapar panas berlebih
  • kondisi mikroklimat kebun menjadi kurang stabil

Sebaliknya, pohon yang tersebar lebih merata dapat membantu:

  • menjaga naungan bagi tanaman kopi
  • mempertahankan kelembapan tanah
  • mengurangi risiko erosi
  • mendukung keanekaragaman hayati di kebun

3. Penambahan Pohon Baru Masih Terbatas

Penelitian ini juga menemukan bahwa penambahan pohon baru setelah izin HKm diterbitkan masih relatif rendah.

Di beberapa kelompok tani, hanya sekitar 6–10 persen pohon yang berusia di bawah dua tahun. Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanaman pohon pelindung masih perlu terus diperkuat.

Karena itu, pengembangan agroforestri di kawasan ini masih membutuhkan:

  • pendampingan yang berkelanjutan
  • dorongan untuk menanam pohon pelindung baru
  • pengelolaan kebun yang lebih terencana

Pelajaran dari Petani Batutegi untuk Masa Depan Agroforestri

Penelitian di KPH Batutegi memperlihatkan bahwa petani memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengelola kebun kopi mereka. Perbedaan ini terlihat dari pilihan tanaman, intensitas pengelolaan, hingga tingkat keragaman pohon pelindung di masing-masing lahan.

1. Mandiri Lestari: Kopi dan Lada dalam Satu Lahan

Di Mandiri Lestari, petani banyak menggabungkan kopi dengan lada dalam sistem tumpang sari. Dalam pola ini, pohon pelindung tidak hanya menaungi kopi, tetapi juga menjadi penopang bagi tanaman lada. Strategi ini membuat satu lahan bisa menghasilkan lebih dari satu komoditas bernilai ekonomi.

2. Sumber Makmur: Vegetasi Tumbuh Lebih Alami

Di Sumber Makmur, sebagian petani tinggal cukup jauh dari lahan garapan. Karena itu, kebun tidak selalu dikelola secara intensif. Menariknya, kondisi ini justru membuat vegetasi di beberapa kebun berkembang lebih alami dan membentuk struktur lahan yang cukup beragam.

3. Wanatani Lestari: Keragaman Pohon Paling Tinggi

Wanatani Lestari mencatat keragaman jenis pohon pelindung paling tinggi di antara ketiga kelompok tani. Beberapa kebunnya tampak menyerupai hutan kecil dengan tajuk yang berlapis. Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan antaranggota kelompok masih bervariasi, sehingga tidak semua lahannya memiliki kondisi yang sama.

Dari ketiga contoh ini terlihat bahwa agroforestri bukan sistem yang seragam. Setiap kelompok tani punya cara sendiri dalam menyesuaikan kebun dengan kondisi lahan, kebutuhan ekonomi, dan pola pengelolaan masing-masing.

Ketika Kopi dan Hutan Tumbuh Bersama

Kisah petani kopi di KPH Batutegi menunjukkan, menjaga hutan dan mencari penghidupan tidak selalu harus menjadi pilihan yang saling bertentangan.

Melalui agroforestri, para petani menemukan cara untuk menjalankan keduanya sekaligus. Kebun kopi tetap produktif, sementara pohon-pohon pelindung membantu menjaga keseimbangan lingkungan di sekitarnya.

Namun penelitian ini juga memberi pengingat penting: keberhasilan agroforestri tidak hanya bergantung pada banyaknya jenis pohon yang ditanam, tetapi juga pada bagaimana pohon-pohon tersebut dikelola dan tersebar secara seimbang di dalam kebun.

Dengan pengelolaan yang tepat, kebun kopi tidak hanya menjadi lahan produksi, tetapi juga bagian dari lanskap hutan yang tetap hidup, produktif, dan berkelanjutan. Dari Batutegi, kita belajar bahwa pertanian dan konservasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Featured image: Pohon kopi robusta/Sumber: Pexels

Tautan Jurnal

Pemetaan Pola Agroforestri Kopi dengan Metode Transect Walk di KPH Batutegi. Jurnal Hutan Tropis. [Buka]

Sumber:

https://journal.trunojoyo.ac.id/agrovigor/article/download/749/661

https://peraturan.bpk.go.id/Details/163515/permen-lhk-no-105-tahun-2018