Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Adakah Peran Perempuan di Balik Kebun Kopi Batutegi? Fakta di Lapangan

Di kebun kopi Batutegi, Lampung, pekerjaan tidak hanya dilakukan oleh para petani laki-laki. Banyak perempuan juga ikut turun ke kebun, memanen kopi, menjemur biji kopi, sampai membantu merawat tanaman.

Namun meski terlibat di banyak tahap, peran perempuan di kebun sering kali tidak terlalu terlihat. Mereka ada di lapangan, tetapi jarang menjadi bagian yang disorot ketika kita membicarakan pertanian atau pengelolaan hutan.

Menariknya, kebun kopi di kawasan ini juga tidak ditanam secara monokultur. Para petani memadukan kopi dengan berbagai pohon lain seperti cengkeh, pinang, hingga durian. Sistem ini dikenal sebagai agroforestry kopi.

Lalu, seperti apa sebenarnya sistem agroforestry yang berkembang di Batutegi? Dan seberapa besar peran perempuan dalam mengelola kebun-kebun tersebut?

Artikel ini merangkum temuan dari penelitian “Implementasi Agroforestri dan Peran Perempuan dalam Pengelolaan Lahan di KPH Batutegi Provinsi Lampung” yang dilakukan oleh Rini Qurniati, A.M. Putra, dan Duryat dari Universitas Lampung.

Penelitian ini melihat lebih dekat bagaimana kebun kopi di kawasan hutan lindung Batutegi dikelola, serta bagaimana perempuan ikut terlibat di dalamnya.

Adakah Peran Perempuan di Balik Kebun Kopi Batutegi?

Dalam pengelolaan kebun kopi, ada beberapa tahapan kerja yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, terutama pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih besar. Misalnya:

  • membuka atau membersihkan lahan
  • memangkas cabang besar pada tanaman
  • melakukan penunasan

Pada tahap persiapan lahan, perempuan bahkan umumnya tidak dilibatkan. Tahap ini mencakup kegiatan seperti membersihkan gulma, mengolah tanah, hingga membuat lubang tanam, pekerjaan yang dianggap membutuhkan tenaga fisik lebih kuat.

Kondisi ini juga menunjukkan banyak kebun kopi di Batutegi bukan kebun baru yang dibuka dari awal. Sebagian besar lahan sudah lebih dulu ditanami sebelumnya, lalu diteruskan oleh petani yang mengelolanya sekarang.

Peran Perempuan Paling Besar di Tahap Post-Harvest

Meski tidak selalu terlibat di semua tahap pekerjaan, perempuan tetap memegang peran penting dalam rantai kerja pertanian.

Di dua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang menjadi lokasi penelitian (Sumber Makmur dan Wana Tani Lestari), kontribusi tenaga kerja perempuan dalam beberapa kegiatan pemeliharaan kebun tercatat masih relatif kecil, sekitar 7–9 persen.

Di balik keterlibatan tersebut, ada berbagai faktor yang memengaruhi seberapa jauh perempuan bisa ikut bekerja di kebun. Mulai dari jarak lahan yang cukup jauh dari permukiman hingga pembagian kerja dalam keluarga yang membuat perempuan tetap memikul tanggung jawab pekerjaan domestik di rumah.

Karena itu, perempuan lebih banyak terlibat pada pekerjaan yang bisa dilakukan dekat rumah atau setelah panen.

Kebun Kopi yang Tumbuh Seperti Hutan Kecil

Pohon kopi pada agroforestri kopi/Sumber: Pexels

Kebun kopi di Batutegi tidak tersusun seperti kebun monokultur biasa. Di sela tanaman kopi, petani juga menanam berbagai jenis pohon dan tanaman lain, sehingga kebun tampak lebih beragam:

Kebun yang Tidak Monokultur

Selain kopi, kebun-kebun di Batutegi juga ditanami berbagai tanaman lain yang memberi hasil tambahan bagi petani. Beberapa di antaranya adalah cengkeh, pinang, karet, durian, dan kemiri.

Keragaman tanaman ini cukup tinggi. Penelitian mencatat sekitar 75 jenis tanaman di kebun petani di Gapoktan Sumber Makmur dan 47 jenis tanaman di Wana Tani Lestari.

Bagi petani, pola tanam seperti ini memberi lebih dari satu sumber hasil. Selain kopi sebagai komoditas utama, tanaman lain juga dapat dipanen pada waktu yang berbeda.

Struktur Kebun Bertingkat

Keragaman tanaman tersebut juga membentuk struktur kebun yang bertingkat. Tanaman tidak tumbuh secara acak, tetapi membentuk lapisan vegetasi yang berbeda.

Secara umum, kebun terdiri dari:

  • tajuk tinggi, yaitu pohon penaung seperti durian, kemiri, atau pinang
  • tajuk sedang, yang didominasi tanaman kopi
  • lapisan bawah, berupa tanaman lain yang tumbuh di sela-sela kebun

Susunan bertingkat seperti ini merupakan ciri dari sistem agroforestry. Pohon penaung membantu menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, dan membuat kondisi kebun lebih stabil bagi tanaman kopi.

Agroforestri di Batutegi Sudah Berkembang, Tapi Belum Kompleks

Jumlah pohon penaung yang masih terbatas membuat struktur vegetasi kebun belum terlalu berlapis. Dibandingkan dengan sistem agroforestry yang lebih kompleks, komposisi tanaman di Batutegi masih didominasi oleh kopi dengan jumlah pohon penaung yang relatif sedikit.

Namun kondisi ini tidak berarti sistemnya stagnan. Penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir mulai terlihat perubahan pada pola tanam petani.

Tanda-Tanda Sistemnya Mulai Berkembang

Jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, semakin banyak petani yang mulai menambahkan pohon di kebun mereka. Beberapa perubahan yang terlihat antara tahun 2016 dan 2023 antara lain:

  • semakin banyak petani yang menanam 3–5 jenis pohon tinggi
  • jumlah kebun dengan 20–50 pohon tinggi per hektare meningkat
  • sebagian petani bahkan mulai memiliki lebih dari 100 pohon penaung per hektare

Salah satu contoh yang menarik adalah penggunaan pinang sebagai “pohon pagar”. Pohon ini ditanam di batas-batas lahan untuk menandai kepemilikan sekaligus memberi hasil tambahan bagi petani.

Bibit pinang bahkan diproduksi dan didistribusikan oleh kelompok tani sendiri melalui rumah persemaian. Hal ini menunjukkan pengembangan agroforestry di Batutegi tidak hanya datang dari program luar, tetapi juga dari inisiatif petani di tingkat kelompok.

Mengapa Petani Lebih Memilih Pohon Multiguna?

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah jenis pohon yang dipilih petani untuk ditanam di kebun mereka. Meski berada di kawasan hutan lindung, tidak banyak petani yang menanam pohon kayu atau tanaman kehutanan.

Sebaliknya, petani lebih sering memilih pohon multiguna atau multi purpose tree species (MPTS). Jenis pohon ini tetap bisa berfungsi sebagai penaung bagi tanaman kopi sekaligus memberikan hasil ekonomi.

Beberapa pohon yang cukup sering ditemukan di kebun antara lain:

  • cengkeh
  • pinang
  • karet
  • durian

Pilihan ini berkaitan dengan aturan pengelolaan kawasan hutan lindung. Pohon kayu yang ditanam di kawasan tersebut umumnya tidak boleh ditebang. Artinya, meskipun petani menanamnya, mereka tidak bisa memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan.

Karena itu, banyak petani lebih memilih menanam pohon yang tetap memberikan hasil, baik berupa buah maupun komoditas lain yang bisa dijual. Dengan cara ini, kebun tetap memiliki pohon penaung sekaligus memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga petani.

Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan petani dalam memilih tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan lingkungan, tetapi juga oleh kebutuhan ekonomi dan aturan pengelolaan kawasan hutan.

Jarak Kebun dan Pekerjaan Rumah Tangga Membatasi Peran Perempuan

Selain jenis pekerjaan di kebun, penelitian ini juga menemukan bahwa lokasi kebun ikut memengaruhi seberapa besar perempuan bisa terlibat dalam aktivitas pertanian.

  • Di Gapoktan Wana Tani Lestari, banyak kebun yang letaknya relatif dekat dengan permukiman. Kondisi ini membuat perempuan lebih mudah ikut bekerja di kebun karena mereka masih bisa kembali ke rumah untuk mengurus pekerjaan domestik.
  • Situasinya sedikit berbeda di Gapoktan Sumber Makmur. Di sini, beberapa lahan garapan berada cukup jauh dari tempat tinggal petani. Untuk mencapai kebun, petani sering harus menghabiskan waktu lebih lama di lahan, bahkan sesekali menginap di gubuk kerja yang ada di sekitar kebun.

Kondisi seperti ini membuat perempuan lebih sulit ikut terlibat secara rutin di kebun. Selain jarak yang lebih jauh, mereka juga tetap memikul tanggung jawab pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

Apa Artinya bagi Masa Depan Agroforestri di Batutegi?

Penelitian ini menunjukkan bahwa kebun kopi di Batutegi tidak lagi sekadar lahan produksi. Melalui sistem agroforestry, kebun-kebun tersebut mulai berfungsi sebagai lanskap campuran yang memadukan tanaman perkebunan dengan berbagai jenis pohon lainnya.

Bagi kawasan hutan lindung seperti Batutegi, pendekatan ini menjadi semacam jalan tengah. Petani tetap bisa mengelola lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara keberadaan pohon-pohon di kebun membantu menjaga fungsi ekologis kawasan, seperti mengurangi erosi dan mempertahankan tutupan vegetasi.

Meski begitu, sistem yang ada saat ini masih bisa diperkuat. Salah satu langkah yang disarankan dalam penelitian adalah memperkaya jenis pohon di kebun, terutama dengan menanam tanaman dari keluarga legum yang dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah. Beberapa contoh yang disebutkan antara lain:

  • lamtoro
  • gamal
  • dadap

Selain soal keragaman tanaman, aspek sosial juga tidak kalah penting. Perempuan sudah terlibat dalam banyak aktivitas pertanian, tetapi ruang mereka dalam pengambilan keputusan masih relatif terbatas.

Memperkuat peran perempuan (bukan hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian dari proses pengelolaan kebun) dapat menjadi salah satu kunci untuk membuat sistem agroforestry ini lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Ketika Kopi, Hutan, dan Perempuan Bertemu

Kisah dari Batutegi menunjukkan bahwa hubungan antara pertanian dan hutan tidak selalu harus saling bertentangan.

Melalui sistem agroforestry, kebun kopi tetap bisa menjadi sumber penghidupan bagi petani sekaligus membantu menjaga tutupan vegetasi di kawasan hutan lindung.

Di balik sistem ini, ada banyak tangan yang bekerja, termasuk perempuan yang ikut merawat kebun, memanen, hingga mengolah hasil panen, mengingatkan kita bahwa menjaga hutan bukan hanya soal melindungi pohon, tetapi juga memahami bagaimana manusia, kebun kopi, dan lanskap hutan dapat tumbuh bersama dalam satu ruang yang sama.

Tautan Jurnal

Implementasi agroforestri dan peran perempuan dalam pengelolaan lahan di KPH Batutegi Provinsi Lampung. Ulin – Jurnal Hutan Tropis. [Buka]

Sumber:

https://prin.or.id/index.php/JURRIT/article/download/4695/3698/15522

Featured image: Petani perempuan di lahan pertanian/Sumber: Pexels

Sekolah Lapang Peningkatan SDM Kelembagaan Kelompok Tani HKm dan Optimalisasi Lahan Garapan Petani Agroforestri Gapoktan di Batutegi

Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan hutan sekaligus memberikan manfaat pada masyarakat dengan syarat mengembangkan sistem agroforestri. Penerapan sistem agroforestri pada lahan HKm diharapkan menjadi solusi untuk kebutuhan lahan sebagai faktor produksi sekaligus untuk pemulihan hutan terutama sebagai penyangga kehidupan.

Masyarakat sebagai pelaku utama dalam skema HKm merasakan dampak yang besar, karena masyarakat memiliki akses untuk dapat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang dapat membantu dalam meningkatkan kesejahteraannya. Pengelolaan HKm akan berjalan dengan baik melalui sebuah wadah yaitu berupa kelompok tani hutan. Partisipasi aktif petani dalam kegiatan kelembagaan memberikan dampak positif yaitu berupa peningkatan pendapatan dari usaha tani yang signifikan dengan tetap memperhatikan kelestarian lahan HKm itu sendiri.

Pembuatan pupuk organik padat dan cair adalah salah satu materi pembelajaran dalam sekolah lapang yang diterima oleh Gapoktan Sumber Makmur (Tim Comdev | IAR Indonesia)

Pada praktiknya, petani penggarap belum mampu menerapkan sesuai dengan aturan yang berlaku dalam skema HKm. Hal ini juga terjadi pada tiga Gapoktan yang saat ini didampingi oleh YIARI di dalam wilayah kelola KPHL Batutegi, yaitu di Gapoktan Sumber Makmur, Mandiri Lestari dan Wanatani Lestari. Maka dari itu perlu adanya upaya dalam hal peningkatan SDM kelompok tani, baik dari segi kelembagaan kelompoknya dan juga tentang budidaya tanaman di lahan HKm nya. Hal ini penting dilakukan karena dalam pengelolaan lahan HKm upaya pelibatan masyarakat harus dilakukan dengan memperkuat kelembagaan masyarakat. Selanjutanya peningkatan pengetahuan kelompok tani tentang budidaya tanaman di lahan HKm juga sangat penting dilakukan karena banyak petani yang mengalami kendala dalam hal budidaya, seperti kecilnya angka hasil produksi tanaman, cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang belum tepat dan juga tentang pemberian pupuk yang selama ini banyak dari petani menggunakan pupuk kimia sebagai bahan untuk meningkatkan hasil produksi tanaman tanpa memperhitungkan dampak negatif yang akan timbul dikemudian hari.

Menjawab masalah diatas, maka YIARI mencoba membuat kegiatan yang bertujuan untuk menjawab permasalahan yang selama ini dihadapi petani dengan partisipasi aktif masyarakat petani HKm dalam sebuah kegiatan “Pendampingan sekolah lapang peningkatan SDM kelembagaan kelompok dan optimalisasi lahan garapan petani agroforestri”. Sehingga petani bisa memperoleh peningkatan pendapatan dan keberadaan lahan HKm tetap terjaga kelestariannya. Dampak positif tersebut nantinya dapat dilihat dari kondisi tutupan lahan HKm dan juga peningkatan pendapatan yang diperoleh oleh petani HKm sebelum dan sesudah adanya pendampingan yang dilakukan.

Para petani Gapoktan Wanatani Lestari dan Mandiri Lestari mendapat pemaparan teknik pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dari Bapak Eko Sukamto, penyuluh pertanian dari Kalimantan Barat (Tim Comdev | Yayasan IAR Indonesia)

Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan Sekolah Lapang ini adalah :  (1) Meningkatkan pemahaman petani tentang kelembagaan kelompok di lahan HKm; (2) Memperkuat pemahaman petani tentang penerapan system agroforestry; (3) Mengenalkan dan memberikan pemahaman mengenai budidaya tanaman dengan penerapan agroforestri, pentingnya pupuk organik dan pengendalian OPT di lahan HKm;  (4) Melatih petani untuk bisa membuat pupuk organik secara mandiri dan mampu melakukan pengendalian OPT di lahan HKm.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.