Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Menjaga Kehidupan Monyet Ekor Panjang di Jantung Jakarta: YIARI dan BKSDA Jakarta Paparkan Hasil Survei Populasi dan Pakan Alami

Jakarta, 28 Mei 2025 — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta dan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan seminar hasil survei populasi dan potensi jenis pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK), Jakarta Utara. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Resor SMMA ini dihadiri lebih dari 130 peserta dari unsur instansi pemerintah, akademisi, mahasiswa, hingga mitra konservasi.

Seminar ini merupakan tindak lanjut dari survei lapangan yang dilakukan pada Juni hingga Agustus 2024 untuk memperbarui data populasi serta mengidentifikasi jenis pakan alami dan non-alami yang dikonsumsi oleh monyet ekor panjang di dua kawasan tersebut. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya data ilmiah dalam mendukung upaya pengelolaan habitat dan mitigasi konflik manusia dengan satwa liar, terutama di wilayah urban yang padat penduduk.

Aris Hidayat, selaku Manajer Resiliensi Habitat YIARI, mengungkapkan bahwa temuan survei menunjukkan adanya perubahan kepadatan populasi dan jenis pakan monyet ekor panjang akibat tekanan habitat dan kedekatannya dengan aktivitas manusia.

“Populasi monyet di SMMA dan HLAK menunjukkan adaptasi tinggi terhadap lingkungan yang terfragmentasi, namun satwa ini mulai bergantung pada makanan non alami yang berasal dari interaksi dengan manusia. Ini tentu berbahaya, baik untuk kesehatan satwa maupun keselamatan masyarakat,” ujar Aris.

“Hal yang kami soroti adalah pentingnya mengetahui kepadatan populasi monyet di SMMA dan HLAK, serta mengetahui persentase jenis pakan alami dan non alami yang dikonsumsi monyet ekor panjang karena tanpa habitat yang memadai dan perilaku yang sehat, populasi ini akan terus menghadapi tekanan,” tambahnya.

Kepala Balai KSDA Jakarta, Didid Sulastiyo, S. Hut., M.Si., turut menegaskan bahwa data yang diperoleh dari survei ini menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan ke depan.“Perlu dipahami bahwa interaksi negatif antara monyet ekor panjang dengan manusia di SMMA, HLAK dan sekitarnya merupakan masalah bersama, sehingga diperlukan kerja sama para pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan solusi terbaik. Pertemuan ini merupakan kesempatan yang baik bagi kita semua untuk bersinergi dan berkomitmen dalam upaya mitigasi konflik ini. Identifikasi peran masing-masing pihak merupakan langkah awal untuk menyusun strategi jangka panjang dan solusi permanen untuk menciptakan hubungan timbal balik yang positif antara manusia dan satwa liar”.

“Kami mengapresiasi komitmen YIARI dalam mendukung upaya mitigasi konflik monyet ekor panjang di SMMA yang sudah berjalan sejak tahun 2016. Semoga kerja sama ini dapat dilanjutkan di masa yang akan datang dan menjadi inspirasi bagi pegiat konservasi lainnya untuk berperan aktif mendukung kegiatan konservasi keanekaragaman hayati” pungkas Kepala Balai KSDA Jakarta.

Dalam sesi diskusi, teridentifikasi sejumlah rekomendasi strategis untuk mendukung upaya konservasi monyet ekor panjang di kawasan urban. Rekomendasi tersebut meliputi pentingnya melakukan pemantauan populasi secara rutin guna mendapatkan data terkini sebagai dasar kebijakan pengelolaan. Selain itu, peserta juga menekankan perlunya restorasi jenis-jenis tumbuhan pakan alami di kawasan konservasi agar satwa tidak bergantung pada sumber pakan dari manusia. Pemetaan lokasi-lokasi rawan terjadinya interaksi negatif antara satwa dan manusia juga dinilai krusial untuk mendukung mitigasi konflik. Dalam hal ini, pelibatan aktif masyarakat lokal dalam upaya edukasi dan pengawasan kawasan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Terakhir, peserta mendorong penyusunan panduan teknis mitigasi konflik yang berbasis pada temuan lapangan agar dapat diterapkan secara adaptif di wilayah-wilayah serupa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program konservasi jangka panjang YIARI yang berfokus pada pelindungan primata Indonesia, terutama di kawasan yang menghadapi tekanan tinggi akibat aktivitas manusia. Harapannya, hasil survei ini dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan satwa liar di wilayah urban lainnya.

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Call center Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta: 081289643727

YIARI: 087820610580 (Elisabet R.R.B. Hutabarat, Asisten Manajer Konservasi Macaca)