Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Mari Berkenalan dengan Logo Baru YIARI

Di usia kami yang menginjak 15 tahun tahun ini, Yayasan IAR Indonesia punya logo baru nih sobat #KonservasYIARI. Logo baru kami ini punya makna dan filosofi yang menggambarkan visi dan misi kami sebagai lembaga yang memiliki pendekatan holistik dalam menjalankan program-program konservasi dan penyelamatan satwa liar dilindungi. Nah, yuk merapat untuk mengenal lebih dalam logo baru kami ini.

Logo baru YIARI

Simbol tangan manusia dan satwa

Gambar tangan satwa di sebelah kiri dan tangan manusia di sebelah kanan dalam posisi sejajar menaungi pohon, menggambarkan bahwa manusia dan satwa berperan seimbang dan sama pentingnya dalam mengayomi dan merawat alam dan seisinya, sekaligus memperlihatkan visi dan misi YIARI untuk menjalankan tugasnya secara holistik. Keberadaan satwa disimbolkan dengan tangan yang berbulu untuk mewakili baik itu satwa liar maupun domestik yang menjadi perhatian YIARI. Posisi yang sama dengan tangan manusia memberi makna di mana kesehatan dari manusia juga tergantung dari kesehatan lingkungan, kesehatan satwa domestik maupun satwa liar. Di sinilah YIARI ikut serta dalam menjaga kesehatan ekosistem dan manusia.

Pohon

Keberadaan pohon sangat penting di planet ini. Berfungsi sebagai paru-paru dunia, pohon juga melambangkan habitat yang diperlukan bagi satwa-satwa untuk hidup. Fungsi penting pohon makin diperlukan dalam kaitannya memperlambat laju perubahan iklim. Untuk itulah, YIARI juga membuat program-program restorasi yang bertujuan untuk menyeimbangkan ekosistem, memulihkan habitat, dan berupaya menahan laju perubahan iklim. Pohon yang ditampilkan mengambil bentuk mangrove yang merupakan benteng pesisir pantai Indonesia. Makna pohon ini penting bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah laut dan pantai.

YIARI

Singkatan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia. Tulisan YIARI berada di tengah sebagai bagian dari batang pohon, melambangkan harapan dan tujuan kerja kami untuk menjadi penopang bagi kehidupan dan kelestarian alam.

Akar

Keberadaan akar di logo ini mewakili tujuan YIARI untuk bisa berakar di masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Simbol akar inilah yang mewakili program-program YIARI di bidang pemberdayaan masyarakat dan pendidikan serta penyadartahuan.

Garis

Melambangkan semangat YIARI membawa visi dan misi yang holistik dalam melindungi satwa dan habitatnya, dengan melibatkan kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah, untuk menciptakan ekosistem yang harmonis, adil, dan bermartabat bagi satwa dan manusia.

Nah, itulah cerita tentang logo kami. Semoga visi dan misi kami yang tergambar dalam logo baru kami ini, bisa terus kami jalankan dengan tentunya dukungan dan kolaborasi dari para Sobat #KonservasYIARI!

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Menjaga Kelestarian Bentang Alam Batutegi

Tak seperti biasanya, rumah bercat kuning di ujung jalan itu terlihat ramai. Dua orang tampak mondar-mandir bergantian membawa tas besar, sementara satunya fokus mengikat barang-barang di atas motor trail. Sabtu (24/07) pagi itu menjadi waktu yang sibuk bagi tim IAR Indonesia mengemas perlengkapan dan bersiap masuk ke hutan untuk melakukan survei di kawasan Hutan Lindung Batutegi.

Survei Keanekaragaman Hayati dengan menggunakan metode smart-patrol ini rutin dilakukan dan merupakan salah satu program kerja sama antara IAR Indonesia dengan Kesatuan Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Batutegi sebagai pengelola kawasan. Sebagai informasi, smart-patrol adalah aplikasi penunjang tim lapangan yang bukan sekadar perangkat untuk mengumpulkan data, namun lebih dari itu, dikembangkan berdasarkan pengalaman praktis dan dibuat untuk membantu perlindungan kawasan konservasi.

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung, kaya akan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Selain memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan seperti tata air, pengendali erosi, dan pemelihara kesuburan tanah, kawasan dengan luasan sekitar 58.000 ha tersebut juga menjadi daerah aliran sungai (DAS) prioritas di Provinsi Lampung, karena fungsinya sebagai catchment area untuk sumber air irigasi.

Tidak hanya itu, HL Batutegi menjadi salah satu rumah dari beragam jenis primata seperti, siamang (Hylobates syndactylus), kukang sumatera (Nycticebus coucang), owa (Hylobates spp), lutung simpai (Presbytis melalophos) serta menjadi habitat yang nyaman bagi kambing gunung (Capricornis sumatraensis), beruang madu (Helarctos malayanus), kucing emas (Pardofelis temminckii), dan tapir (Tapirus indicus).

Survei rutin dilakukan untuk menginventarisir keragaman hayati di kawasan HL Batutegi.

Untuk menjaga kebermanfaatan dan potensi keragaman hayati di dalamnya bukanlah hal mudah. Sejumlah ancaman seperti perburuan satwa, pembukaan lahan secara ilegal yang sering mengintai menjadi tantangan untuk menjaga kelestarian bentang alam Batutegi.

“Secara berkala, seraya melakukan inventarisasi keragaman hayati tidak jarang saya menemukan jerat, jejak perburuan hingga perambahan hutan di dalam kawasan,” tutur Miftakhul Huda, Koordinator IAR Indonesia untuk Program Konservasi Batutegi. Batutegi lanjut Huda bukan sekadar hutan, melainkan sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya yang harus dijaga dan dikelola secara bijak.

Huda mengungkapkan, survei yang dilakukan sejak awal 2019 ini menemukan setidaknya puluhan kasus aktivitas perburuan satwa liar di dalam kawasan HL Batutegi. Temuan tersebut berupa berbagai jenis jerat seperti sling kawat, rotan, getah, hingga jaring untuk menangkap burung. Menurut dia, tingginya angka temuan tanda perburuan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya populasi satwa liar. Hal ini berdampak buruk bagi keberadaan dan kelangsungan hidup satwa liar dan ekosistem di dalamnya.

Selain ancaman, tanda-tanda keberadaan satwa juga teridentifikasi lewat survei ini. Tanda itu terdiri dari tapak/jejak, suara, cakaran, kubangan, bekas pakan, kotoran, sarang dan gesekan badan yang terdiri dari kelas primata, aves, dan mamalia. Ini menggambarkan potensi HL Batutegi yang memang kaya akan keragaman hayatinya.

Lewat Program Survei Keanekaragaman Hayati yang dilakukan secara berkala bersama KPHL Batutegi, IAR Indonesia berupaya menjaga dan melestarikan bentang alam HL Batutegi. Kegiatan ini berupa pendataan kekayaan keragaman hayati yang dilakukan secara rutin bersama Polhut KPHL, masyarakat lokal, serta relawan. Pelibatan masyarakat di sini bertujuan untuk dapat menumbuhkan rasa memiliki dan menjaga HL Batutegi. “Selain pendataan, semua temuan yang dicatat tentu nantinya diharapkan menjadi rekomendasi dan strategi pengelolaan konservasi kawasan Batutegi selanjutnya,” tutup Huda.

Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dengan Pengolahan Produk Alam

Alam memberkati manusia dengan beragam kekayaan yang jika diolah dengan bijak, tidak hanya menunjang kebutuhan lahiriah namun juga memberikan kesejahteraan secara ekonomi dan bahkan memberi ruang hidup bagi satwa. Pengetahuan inilah yang diupayakan IAR Indonesia dalam semua kegiatan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di area hutan dan area-area yang berdekatan dengan habitat satwa. Selain untuk menghindarkan kemunculan konflik antara manusia dan satwa, informasi tentang pengolahan produk-produk alam dengan bijak, bisa menjadi pekerjaan alternatif dan bahkan utama bagi masyarakat, ketimbang mereka menjalankan pekerjaan yang merusak alam.

Sejumlah kegiatan yang mengajarkan pada cara-cara pengolahan produk-produk alam dengan bijak, telah dilakukan bagian program Community Development di IAR Indonesia sejak 2017. Sejumlah produk unggulan telah dihasilkan oleh kelompok-kelompok masyarakat di daerah Kalimantan Barat. Di antaranya produk organik seperti pupuk organik cair (POC), mikroorganisme lokal (MOL) dan cuka kayu, dan hasil hutan bukan kayu berupa minyak tengkawang dan madu hutan.

Produk-produk Organik IAR Indonesia
Produk-produk Organik IAR Indonesia

Produk organik dikembangkan sebagai salah satu media edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah dan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. Misalnya pemanfaatan limbah pertanian seperti sabut kelapa, ranting/kayu kering, tempurung kelapa, sampah daun maupun batang pisang dan juga bahan-bahan sekitar yang dapat dimanfaatkan berupa air kelapa, air cucian beras, air gula, maupun sisa buah/buah busuk. Bahan-bahan yang ada inilah selanjutnya dimanfaatkan dengan cara diolah dan difermentasi menjadi produk-produk organik. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta menciptakan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan pemanfaatan limbah pertanian dan bahan-bahan sekitar.

Buah tengkawang yang dikeringkan

Adapun pengolahan tengkawang (Shorea spp) juga menjadi alternatif kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sangat berpotensi. Tengkawang merupakan pohon dari genus Shorea yang buahnya menghasilkan minyak nabati. Lemak tengkawang memiliki sifat yang khas sehingga harganya relatif lebih tinggi dari minyak nabati lain seperti minyak kelapa. Menurut penelitian Alamendah tahun 2009, lemak tengkawang bisa digunakan sebagai bahan pengganti minyak cokelat, bahan lipstik, sabun, lilin, minyak makan dan bahan obat-obatan. Pohon tengkawang di Kalimantan Barat, setiap tahun mampu menghasilkan buah tengkawang sekitar 50.000 ton/tahun (Intan, 2017). Potensi yang besar ini, diharapkan bisa menjadi alternatif pemasukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Madu Desa Ulak Medang

Produk unggulan lainnya yang dikembangkan adalah madu hutan yang berasal dari Desa Ulak Medang. Madu hutan ini berasal dari pohon-pohon rengas, vegetasi khas hutan rawa gambut. Secara umum, permintaan madu hutan di Ketapang, sangat tinggi sehingga madu hutan Ulak Medang berpotensi untuk menjadi memenuhi permintaan. Hal ini secara tidak langsung, membawa pengaruh positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Ulak Medang.

Strategi pemberdayaan untuk meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar hutan dengan pengembangan produk unggulan diharapkan dapat menjadi salah mata pencaharian alternatif yang menjanjikan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat agar tidak ada lagi yang merambah hutan dan membahayakan satwa liar.

 

 

Heribertus Suciadi

Membangun Pandangan Masyarakat tentang Berbagi Ruang Antara Manusia-Satwa

Sebagian besar manusia masih memiliki pandangan yang negatif terhadap keberadaan satwa liar. Beragam pandangan negatif ini di antaranya melihat satwa liar sebagai target buruan, ancaman, bahkan hama. Inilah yang sering kali menjadikan penyebab konflik yang terjadi antara manusia dan satwa terutama terkait dengan teritori kehidupan masing-masing pihak.

Konflik manusia dengan satwa liar bukan hal baru di Indonesia. Laporan kejadian konflik itu juga kerap mewarnai pemberitaan nasional. Selama ini, konflik umum terjadi di pemukiman yang berdekatan dengan hutan. Namun kini, konflik manusia-satwa liar juga terjadi di wilayah perkotaan.

Salah satunya di pemukiman sekitar kawasan Angke-Kapuk, Jakarta Utara yang bersinggungan langsung dengan habitat Monyet Ekor Panjang (MEP) dari kawasan hutan Angke-Kapuk. Di wilayah itu, masyarakat kerap merasa diresahkan dengan kehadiran MEP yang masuk ke perumahan dan mengacak-acak ketertiban.

Padahal, penyebab konflik itu muncul, dikarenakan selain minimnya habitat di wilayah perkotaan, juga didorong oleh perilaku manusia. MEP memiliki tingkat adaptasi yang cepat, sehingga kebanyakan dari mereka akan terbiasa terhadap manusia, terutama dengan adanya perilaku manusia yang memberi makan pada MEP sehingga mendorong munculnya ketergantungan pada MEP terhadap perilaku manusia ini. Kebiasan lainnya yang mendorong konflik adalah pemeliharaan MEP oleh manusia, yang kemudian dtelantarkan dan dibuang saat sudah mereka sudah besar karena dianggap membahayakan pemiliknya.

Seolah belum menemukan cara yang efektif, konflik yang kerap terjadi di wilayah itu seperti tidak pernah dapat terselesaikan. Karenanya, kerja sama dan komitmen multipihak dirasa sangat perlu untuk setidaknya mengurangi konflik yang kerap terjadi. Pasalnya ihwal permasalahan konflik tersebut tidak mampu ditangani tanpa dukungan berbagai pihak.

“Kerja sama dan komitmen multipihak untuk mengatasi konflik ini sangat penting. Untuk merealisasikan itu, kita perlu melakukan upaya mitigasi serta membuat pedoman dalam penanganan konflik monyet-manusia dengan poin utamanya yakni masalah ini terselesaikan tanpa merugikan kedua pihak dalam hal ini satwa dan manusia,” tutur Robithotul Huda, Manajer Program IAR Indonesia dalam forum Ekspos Upaya Penanganan Konflik Monyet Ekor Panjang di Hutan Angke-Kapuk dan Sekitarnya, di Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta, 24 Juli silam.

Bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK, Dishut DKI Jakarta, mahasiswa kelompok studi primata serta multihpihak lain terkait lainnya yang bertujuan untuk membahas penanganan konflik monyet dengan manusia di daerah urban khususnya Jakarta.

Memberi makan monyet liar menjadi salah satu pendorong agresivitas dan perubahan perilaku mereka.

Selain mengevaluasi pelaksanaan program kerjasama dalam upaya penanganan konflik MEP di kawasan hutan Angke-Kapuk, pertemuan itu juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif parapihak khususnya di wilayah DKI Jakarta dalam upaya-upaya penanganan konflik MEP. Untuk selanjutnya dapat menyusun dan menyepakati SOP mitigasi konflik MEP di wilayah DKI Jakarta, khususnya di hutan Angke-Kapuk.

Sejauh ini menurut Huda, kendati konflik monyet dengan manusia sejatinya sudah banyak terselesaikan di banyak daerah temasuk di kawasan hutan Angke-Kapuk, namun pedoman praktis dalam penanganannya masih belum seragam dan masih bersifat sementara. Hal itulah yang mendorong perlunya dipikirkan pedoman yang disepakati bersama dalam penanganan konflik manusia dengan monyet.

“Selama ini para pihak masih menyelesaikan dengan cara yang berbeda-beda. Meski terkadang tanpa pedoman pun masalah sudah bisa terselesaikan. Namun itu masih belum efektif dan hanya solusi sementara. Belum lagi, tantangan yang kerap muncul adalah kesadaran masyarakat yang masih minim dan menganggap MEP itu hama dan perusak. Padahal sebagaiamana satwa liar lainnya, MEP juga memiliki peran ekologis yang bermanfaat bagi manusia,” ungkap Huda.

Huda melanjutkan, upaya yang telah dilakukan dalam penanganan konflik monyet terus berkembang dan mengalami peningkatan dalam mencapai tujuan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah membentuk tim teknis khusus untuk penanganan konflik di kawasan hutan Angke-Kapuk.

“Program-program yang telah dilaksanakan bersama ini tentunya perlu disampaikan hasil maupun kendala pelaksanaannya sebagai bentuk evaluasi bersama dan untuk tujuan perbaikan di masa datang,” katanya. Hal ini juga diharapkan dapat mempererat kerja sama serta memotivasi peningkatan kontribusi para pihak dalam upaya-upaya penanganan konflik MEP di wilayah DKI Jakarta, khususnya di kawasan hutan Angke-Kapuk. Tujuan besarnya, hasil-hasil yang baik dari pelaksanaan program ini bisa menjadi “role-model” bagi daerah lain yang menghadapi permasalahan dengan karakteristik yang hampir mirip.

Hutan untuk Masa Depan #ForestsforFuture

Hutan hujan di Kalimantan merupakan rumah bagi spesies kera besar kharismatik; orangutan. Tidak hanya itu, hutan hujan juga penting bagi kesehatan masyarakat, dan kestabilan iklim bumi kita.

“Kita semua membutuhkan hutan untuk masa depan kita dan generasi kita.”

Untuk itulah Health In Harmony bersama International Animal Rescue bekerja sama menggalang donasi hingga 30 September 2019 untuk melindungi kawasan hutan di Bukit Baka Bukit Raya, salah satu habitat orangutan yang masih tersisa. Tidak hanya hutan dan satwa di dalamnya, tetapi juga masyarakat yang ada di sekitarnya.

Kolaborasi penggalangan donasi ini berupaya untuk membangun dan menerapkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat, orangutan dan hutan. Bersama dengan Health In Harmony, kami merehabilitasi hutan dan populasi orangutan melalui kombinasi reintroduksi dan pemantauan spesies serta perawatan kesehatan, mata pencaharian alternatif dan program pendidikan bagi masyarakat setempat.

Siswa dari desa penyangga TNBBBR harus menaiki perahu untuk menuju ke sekolah.

Salah satu aspek penting dari kerja sama ini adalah penyediaan layanan kesehatan yang dapat diakses oleh masyarakat. Selama 10 bulan terakhir, tim medis telah melihat lebih dari sepertiga populasi masyarakat lokal dan belasan bayi sehat telah dilahirkan di daerah yang sebelumnya memiliki tingkat kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi.

Berkat kemitraan yang menyelamatkan jiwa ini, keluarga yang tinggal di pinggiran kawasan hutan Bukit Baka Bukit Raya akhirnya mendapatkan bantuan medis yang mereka butuhkan. Ini berarti mereka tidak lagi harus menebang pohon untuk membayar perawatan medis. Bersama-sama, kita bisa menyelamatkan hidup dan menyelamatkan hutan hujan.

Bagaimana donasi akan dipergunakan?

Masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan Bukit Baka Bukit Raya membutuhkan akses ke layanan kesehatan ibu dan anak serta pelatihan pertanian berkelanjutan agar mampu menghentikan penebangan hutan yang berharga ini.

Semua hasil dari kampanye #ForestsforFuture yang kami lakukan ini, akan membantu masyarakat melepaskan diri dari ketergantungan pada pembalakan liar, beralih ke mata pencaharian alternatif yang berkelanjutan dan hidup selaras dengan hutan. Upaya ini sangat penting jika kita ingin melanjutkan pekerjaan kita dalam melepasliarkan orangutan yang telah diselamatkan dan direhabilitasi ke habitatnya.

Orangutan hasil rehabilitasi yang telah dilepasliarkan di TNBBBR. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia.

Dengan donasi Anda hari ini, Health In Harmony dan International Animal Rescue akan membangun layanan kesehatan dan mengadakan pelatihan pertanian berkelanjutan sebagai salah satu solusi untuk mengakhiri deforestasi, mengembalikan orangutan yang diselamatkan ke habitatnya, mendorong populasi mereka cukup untuk bertahan hidup, dan melakukan survei dan monitoring untuk memastikan mereka berkembang di hutan hujan esensial ini.

Dukungan Anda hari ini untuk menciptakan hutan yang sehat bagi orangutan, komunitas, dan Anda.

Kebakaran Lahan di Sungai Awan Kiri, IAR Indonesia Padamkan Api Bersama Jajaran Kepolisian, TNI, Manggala Agni dan BPBD

Kebakaran lahan dalam skala relatif besar terjadi di Jalan Ketapang Tanjungpura Km. 4, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada Selasa (30/7). Kebakaran yang terjadi di dekat lokasi IAR Indonesia ini pertama kali diketahui sekitar pukul 14.00 WIB oleh warga yang kemudian melapor kepada IAR Indonesia. Dari foto udara, tampak luasan lahan yang terbakar mencapai puluhan hektar dan api masih berkobar serta menimbulkan asap pekat.

IAR Indonesia kemudian meneruskan laporan ini kepada pihak yang berwajib. Menanggapi laporan IAR Indonesia, Polsek Muara Pawan dan Koramil Matan Hilir Utara menerjunkan anggotanya ke lokasi kebakaran. Dibantu oleh Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, tim IAR Indonesia dan Polsek Muara Pawan serta Koramil MHU akhirnya bisa mengendalikan api menjelang pukul 18.00.

Belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran yang menghanguskan puluhan hektar lahan ini. Kapolsek Muara Pawan,Ipda Bagus Tri Baskoro, SH, M.Si. yang turut serta terjun ke lapangan untuk membantu memadamkan api menyatakan pihaknya akan menyelidiki penyebab kebakaran ini dan tidak akan segan-segan menindaknya secara hukum jika ditemukan unsur kesengajaan dalam kebakaran ini. “Saya bersama dengan anggota saya tidak akan tinggal diam menghadapi kasus pembakaran ini. Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi dan jika ditemukan unsur kesengajaan, pelakunya akan kami bawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujarnya.

Seperti yang sudah ditegaskan oleh Sekda Ketapang, H Farhan SE., M.Si. dalam Apel Gelar Pasukan Pencegahan dan kesiapsiagaan Karhutla yang diadakan di halaman kantor Bupati Ketapang Jumat (26/7) lalu, ancaman kurungan penjara dan denda menanti bagi pelaku pembakaran lahan yaitu denda paling tinggi mencapai Rp 10 miliar dan kurungan penjara 10 tahun. Sedangkan hukuman paling ringan adalah pelaku akan diganjar denda Rp 3 miliar dan kurungan penjara selama tiga tahun.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez sangat mengapresiasi kesiapsiagaan Polisi dan TNI serta Manggala Agni dan BPBD dalam menghadapi permasalahan kebakaran lahan. “Kami sangat berterimakasi kepada polisi dan TNI yang merespon laporan kami dengan cepat dan segera datang ke lokasi serta membantu kami mencegah kebakaran meluas. Kami juga berterimakasih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah dengan water bombing-nya yang sangat responsif dan profesional serta Manggala Agni yang datang membantu memadamkan kebakaran sehingga api dapat segera dipadamkan,” ujarnya. “Kami berharap ke depannya tidak ada lagi kebakaran ataupun pihak-pihak yang dengan sengaja membakar lahan karena kebakaran semacam ini mempunyai dampak yang sangat buruk tidak hanya untuk warga masyarakat tetapi juga bisa memusnahkan satwa dan keanekaragaman hayati yang ada,” kata Karmele menambahkan.

IAR Indonesia Membuka Pusat Pembelajaran bagi Kegiatan Konservasi dan Pemberdayaan Masyararakat

Upaya untuk terus meningkatkan edukasi dan penyadartahuan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup bagi masyarakat, mendorong International Animal Rescue (IAR) Indonesia untuk mendirikan sebuah pusat pembelajaran bagi masyarakat umum dengan nama Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Pendirian pusat pembelajaran ini berhasil terwujud berkat kedermawanan seorang filantropis dari negara Inggris, Sir Michael Uren yang telah lebih dari sepuluh tahun, mendukung kegiatan International Animal Rescue dan memiliki kepedulian tinggi akan pembangunan berkelanjutan dalam hal lingkungan hidup di Indonesia, terutama di Kalimantan.

Pusat Pembelajaran ini diresmikan pada Rabu, 10 Juli 2019 dengan dihadiri oleh Alexander Rombonang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Barat, mewakili Gubernur Kalimantan Barat, H. Sutarmidji, S.H., M.Hum, dan H. Farhan, SE, M. Si, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang, Hadi Pranata S. STP, M.Si, Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Marius Marcelus TJ, Mantan Kadishut Provinsi Kalimantan Barat, serta para pejabat daerah lainnya. Hadir mewakili Sir Michael Uren, adalah Alan Knight OBE, Chief Executive dari IAR negara Inggris.

Pusat pembelajaran ini berlokasi di komplek kantor IAR Indonesia di Jl. Ketapang-Tanjungpura, km.1,3 desa Sei Awan Kiri,  RT.10 /  Dsn. Pematang Merbau, Kecamatan Muara Pawan Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk menggerakkan pusat pembelajaran ini, telah disusun visi, misi, dan tujuan sebagai landasan dalam menciptakan program.  Visi yang telah ditetapkan adalah mempertemukan komunitas lokal, sektor swasta, lembaga penelitian akademik, serta organisasi pemerintah dan non-pemerintah untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi manusia dan alam. Sedangkan misi dari pusat pembelajaran ini adalah untuk membangun kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan melalui penelitian dan pendidikan untuk melindungi lingkungan dan memungkinkan pertumbuhan berkelanjutan di Kabupaten Ketapang.

Gubernur Kalimantan Barat yang diwakili Alexander Rombonang (baju putih) tiba di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Rabu (10/07) pagi dan disambut oleh jajaran pengurus Yayasan IAR Indonesia. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Kegiatan dan peruntukan bangunan Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren ini bertujuan sebagai tempat penyebarluasan pengetahuan dan informasi, pengembangan penelitian, pelatihan, pemberdayaan masyarakat, dokumentasi, arsip, dan kerjasama di bidang keanekaragaman hayati, konservasi alam, perlindungan satwa, dan budaya bagi komunitas lokal, generasi muda, swasta, dan pemerintah.

Terletak di atas lahan seluas satu hektar, Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren – Ketapang ini berada di lokasi yang sama dengan kantor IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia. Visi, misi, dan tujuan Pusat Pembelajaran ini direfleksikan dengan pengelolaan bangunan yang menekankan pada zero emission dan zero waste dengan keberadaan fasilitas solar panel dan bio digester.

Bangunan pusat pembelajaran dengan luas lebih kurang 2000 meter persegi dan memiliki desain yang berangkat dari bangunan tradisional Kalimantan ini memiliki sejumlah fasilitas di antaranya akomodasi untuk ruang rapat yang luas untuk lokakarya dan presentasi, kafe, dan banyak ruang terbuka untuk pelatihan maupun seminar, menjadikannya sebagai pusat pembelajaran dengan fasilitas terlengkap pertama di Kalimantan.  Desain bangunan ini dirancang oleh rumah desain Akanoma yang dipimpin arsitek kenamaan Indonesia, Yu Sing, yang secara khusus merancang bangunan Pusat Pembelajaran ini.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele Llano Sanchez mengalungkan kain khas dayak kepada Alan Knight OBE, Chief Executive IAR UK. Penyematan kain khas dayak ini merupakan tanda penghormatan sebagai tamu. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Sebelumnya, Sir Michael Uren Learning Centre ini telah mendapat kunjungan awal oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutananan, Ir. Wiratno, M.Sc pada 5 April 2019. Kunjungan yang juga ditandai sebagai soft launching ini dilakukan secara simbolis oleh Wiratno dengan ritual “Pancung Buluh Muda”. Ritual ini merupakan ritual penyambutan tamu Suku Dayak pada umumnya. “Pancung Buluh Muda” adalah penghormatan kepada tamu agung yang dipercaya untuk memotong bambu muda dengan mandau yang dimaknai membuka ‘pintu damai’ sehingga siapa pun melewati pintu ini akan merasa tenteram dan damai.

“Hormat dan respek saya untuk Sir Michael Uren yang telah membantu mewujudkan Pusat Pembelajaran yang sangat bagus ini. Saya berharap Pusat Pembelajaran ini dapat bertahan sampai lebih dari 100 tahun. Begitu juga dengan seluruh tim IAR Indonesia,” ujar Wiratno dalam pesan yang ditulisnya di atas kanvas. Dalam acara tersebut, Wiratno menanam pohon Tengkawang  di depan gedung Sir Michael Uren Learning Centre.

Tamu undangan berswafoto di ruang gallery Pusat Pembelajaran Sir Michael Uran. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Pernyataan dari Sir Michael Uren:

“Saya sangat yakin bahwa Ketapang Education and Learning Centre akan sangat sukses. Tempat ini akan menawarkan kesempatan tak terbatas dalam meningkatkan kepedulian di kalangan anak muda dan orang dewasa tentang isu-isu lingkungan hidup dan konservasi yang dihadapi Indonesia saat ini. Saya yakin juga bahwa tempat ini akan menjadi pusat tumbuhnya dan berjalannya banyak ide-ide dan inisiatif-inisiatif untuk membantu mengkonservasi keanekaragaman hayati yang menakjubkan yang dimiliki Indonesia, bagi generasi yang akan datang.”

Pernyataan dari Gubernur Kalimantan Barat:

Untuk melindungi ancaman utama keanekaragaman hayati Indonesia, kita harus melakukan konservasi dan pembangunan berkelanjutan yang meliputi aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Karena keberadaan hutan menjaga kehidupan manusia, untuk itulah perlu keterlibatan aktif masyarakat. Di sinilah perlu adanya peningkatan pendidikan. Keberadaan Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren ini diharapkan bisa menunjang upaya konservasi yang melibatkan semua pihak. Karena itu saya mengingatkan kepada IAR Indonesia untuk menyusun program terpadu yang berkesinambungan, dan  kepada pihak Kabupaten Ketapang untuk bisa bekerja sama secara terus menerus. Dan kepada pihak BKSDA dan lembaga lainnya untuk semakin menyatukan visi dalam menyelamatkan lingkungan.

Pernyataan dari Bupati Ketapang:

Kami berkomitmen untuk mendukung program-program Yayasan IAR Indonesia dan berpesan kepada IAR untuk meneruskan penelitian, pengembangan, dan rehabilitasi agar membantu pemerintah Ketapang dalam melestarikan lingkungan. Semoga pusat pembelajaran ini menjadi rujukan baik di Ketapang, Kalimantan Barat dan seluruh wilayah di Indonesia. Kami juga mengharapkan supaya IAR berkoordinasi dengan instansi terkait supaya bisa sejalan dengan visi dan misi Ketapang dan demi Kabupaten Ketapang yang maju dan sejahtera.

Pernyataan Alan Knight, OBE:

“Kami sangat berhutang budi kepada Sir Michael Uren karena memungkinkan kami untuk mendirikan fasilitas luar biasa ini di mana orang dapat belajar tentang lingkungan alam dan margasatwanya, serta melindungi dan melestarikan mereka yang menjadi pekerjaan vital yang dilakukan IAR selama ini. Pusat Pendidikan dan Pembelajaran Sir Michael Uren adalah investasi di masa depan. Ini adalah simbol kepercayaan pada kekuatan pengetahuan dan pemahaman untuk membawa perubahan positif bagi manusia, hewan, dan demi planet yang kita huni bersama dan andalkan untuk bertahan hidup. Saya tidak ragu bahwa setiap orang yang mengunjungi pusat ini akan terinspirasi oleh apa yang mereka pelajari dan ingin berperan dalam melindungi masa depan dunia alami.”

Pernyataan dr. Karmele Llano Sanchez

“Kami semua sangat berterima kasih dan terhormat atas kepercayaan yang diberikan Sir Michael Uren kepada kami. Dan kami bangga telah dapat membangun pusat pembelajaran yang luar biasa ini yang akan menjadi milik semua orang Ketapang.”

Profil singkat Sir Michael Uren:

Sir John Michael Leal Uren, lahir pada 1 September 1923, adalah seorang pengusaha berkewarganegaraan Inggris. Beliau menjabat sebagai pimpinan perusahaan manufaktur Civil and Marine dari tahun 1955-2006. Pada tahun 1999, Michael Uren mendapatkan gelar OBE dari kerajaan Inggris dan dianugerahi gelar Sir oleh Ratu Inggris pada 2016 atas jasa filantropisnya.

 IAR Indonesia

Sejak 2008, IAR Indonesia terus tumbuh sebagai lembaga non-profit yang bergerak di bidang kesejahteraan, perlindungan, dan pelestarian satwa liar di Indonesia dengan berbasis pada upaya 3R dan 1M: Rescue, Rehabilitation, Release, dan Monitoring. IAR Indonesia berkomitmen pada penyelamatan dan rehabilitasi dan perlindungan primata Indonesia seperti kukang, monyet, dan orangutan dengan menjalankan dua pusat rehabilitasi di Bogor, Jawa Barat dan Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk mendukung upaya tersebut, IAR Indonesia fokus pada dua hal, yakni perlindungan dan keterhubungan habitat di tingkat lanskap, serta mendorong penegakan hukum dari aktivitas perdagangan satwa ilegal melalui kerjasama dengan instansi pemerintah seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta unit-unit pelaksana di daerah, sektor swasta, Pemda, LSM, serta masyarakat lokal. Hal ini juga senantiasa diiringi dengan penyadartahuan masyarakat dan pemberdayaan komunitas lokal.

Dukungan dan Keterlibatan Kaum Perempuan Menjadi Faktor Penting Kegiatan Konservasi

Dalam kegiatan pelepasliaran lima individu orangutan yaitu Japik, Kibo, Manis, Santi, dan Bujing yang dilakukan IAR Indonesia, bersama BKSDA Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di kawasan hutan TNBBBR pada 28 Juli 2019, keikutsertaan kaum perempuan dari desa-desa penunjang di sekitar TNBBBR, yaitu desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai, menjadi pengalaman istimewa. Untuk pertama kalinya, sekitar belasan perempuan dari desa-desa tersebut dilibatkan sebagai porter yang membawa muatan logistik hingga peralatan seluruh peserta tim pelepasliaran.

Sejak tim IAR Indonesia bersama perwakilan BKSDA Kalbar dan Balai TNBBBR tiba di lokasi desa, para perempuan tangguh ini masing-masing membagi muatan untuk ditempatkan ke dalam tengkalang (keranjang tradisional berukuran besar dari bahan rotan) yang kemudian mereka usung di punggung mereka.  Mereka menempuh perjalanan satu jam dengan perahu, dilanjutkan berjalan kaki selama tiga hingga empat jam melintasi hutan, untuk tiba di Kamp Teluk Ribas yang menjadi lokasi penempatan kelima orangutan di kandang habituasi, sebelum dilepasliarkan. Muatan masing-masing orang ini berkisar 20-30 kg.

Para perempuan tangguh yang menjadi porter logistik ini berasal dari desa penyangga kawasan TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Mengikuti perjalanan para perempuan ini sungguh mengagumkan. Mereka berjalan dengan tangkas dan gesit melewati jalur setapak yang naik turun serta kondisi jalanan yang licin dan berlumpur di banyak bagian setelah berhari-hari sebelumnya diguyur hujan. Ketangguhan mereka sangat patut diacungi jempol, tak kalah dengan para porter pria yang membawa kandang kelima orangutan.

Ketangguhan mereka tak hanya dari sisi fisik. Keikutsertaan mereka dalam pelepasliaran ini memperlihatkan keuletan mereka dalam mencari nafkah bagi keluarga. Sehari-hari, kebanyakan perempuan di desa-desa penunjang TNBBBR ini bekerja di ladang atau di kebun karet. Sebagian dari mereka juga kerap diperbantukan oleh IAR Indonesia untuk menjadi juru masak di Kamp Teluk Ribas, yang merupakan kamp bagi tim survei dan monitoring satwa liar di TNBBBR dan juga sesekali menjadi porter logistik bagi keperluan kamp.

Menyusuri sungai hingga berjalan kaki memasuki pedalaman hutan TNBBBR dengan jalan menanjak dan licin tak menjadi hambatan para porter perempuan tangguh ini. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara dan tujuan IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Keterlibatan perempuan begitu penting, karena merekalah pihak yang memegang peranan dalam mengatur keuangan keluarga, baik untuk keperluan sehari-hari maupun ketika mereka memerlukan biaya tambahan bagi keperluan kesehatan dan pendidikan.

Sebelum terlibat dalam kegiatan-kegiatan IAR Indonesia, kebanyakan keluarga di desa sekitar TNBBBR, menebang pohon dan menjualnya ataupun menjual satwa liar untuk mendapatkan biaya tambahan. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari, masyarakat sekitar memenuhi kebutuhannya dengan berladang.

“Kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia. Mereka mendapatkan penghasilan alternatif yang dapat menggantikan pemasukan yang biasa mereka dapatkan dari pembalakan liar dan membantu melestarikan hutan. Khususnya ketika bekerja dengan wanita, mereka akan pulang ke rumah dengan penghasilan tambahan untuk membantu keluarga mereka. Memberdayakan perempuan adalah salah satu cara paling efektif untuk menyelamatkan hutan. Oleh karena itu kami percaya bahwa peran perempuan dalam konservasi sangat penting dan mata pencaharian alternatif yang mencakup perempuan harus dipromosikan,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

“Saya senang sekali dan selalu menunggu jika ada kegiatan pelepasliaran, karena saya bisa mendapat rezeki tambahan. Memang capek sekali, tapi jika dikerjakan beramai-ramai jadi tidak terasa lelah,” ujar Yati, 38 tahun, salah satu porter yang terlibat.

Kegembiraan Yati juga bertambah ketika anak keduanya, Dea, terpilih menjadi salah satu dari 20 anak dari desa-desa sekitar TNBBBR yang mendapatkan beasiswa pendidikan dari IAR Indonesia. Kebahagiaannya ini menjadi penawar duka setelah kematian suaminya pada Mei lalu. Yati dan para perempuan lainnya ini, bisa menjadi salah satu bukti bahwa melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan bermisi lingkungan hidup, merupakan faktor penting karena merekalah sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga bagi anak-anak mereka. (DRU)

SIARAN PERS: Libatkan Masyarakat Setempat, IAR Indonesia Lepasliarkan Lima Individu Orangutan di TNBBBR

Mengembalikan satwa liar ke habitatnya, telah menjadi bagian dari program IAR Indonesia yang dilakukan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Taman Nasional terkait. Dan pada bulan ini, IAR Indonesia kembali mengadakan pelepasliaran yang telah berlangsung di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada 28 Juni 2019.

Adapun untuk pelepasliaran ini, IAR Indonesia memilih lima individu orangutan yang dinilai telah siap untuk diantarkan pulang ke habitatnya. Kelima orangutan ini dulunya merupakan orangutan bekas peliharaan yang kemudian berhasil diselamatkan dan kemudian menyelesaikan masa rehabilitasi di IAR Indonesia. Mereka adalah satu orangutan jantan bernama Bujing dan empat orangutan betina bernama Kibo, Japik, Manis, dan Santi.

Bujing merupakan orangutan hasil rehabilitasi IAR Indonesia yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa liar dilindungi di daerah Sekadau, Kalimantan Barat pada 2014. Bujing dibeli oleh seorang warga pada 2009 dan dipelihara selama lima tahun di Sandai. Selama dipelihara, leher Bujing dirantai dan hanya diberi alas karung, sebelum akhirnya direhabilitasi IAR Indonesia pada 2014.

“Kondisi Bujing pasca pemeliharaan sangat memprihatinkan, di mana kondisi tulangnya menjadi bengkok. Namun kondisi cacat ini tidak mempengaruhi kapasitas Bujing untuk hidup bebas di alam dan selama direhabilitasi, malah Bujing memperlihatkan kemampuan hidup yang luar biasa. Dan itu juga disaksikan pada saat orangutan dikeluarkan dari kandang pada hari pelepasan,” ujar drh. Elizabeth Riana, dokter hewan di IAR Indonesia.

Setelah menjalani rehabilitasi selama lima tahun, Bujing akhirnya dinyatakan bisa dilepasliarkan di habitat aslinya.
Tidak jauh berbeda dengan Bujing, Japik juga merupakan orangutan korban pemeliharaan. Japik adalah orangutan betina berusia enam tahun yang dulunya dipelihara seorang warga di Balai Bekuak, Ketapang, Kalimantan Barat sejak usianya belum genap satu tahun.

Japik yang akhirnya kini telah hidup bebas di TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Selama dipelihara, Japik dirantai pada sebatang pohon tanpa ada alas maupun atap untuk melindunginya dari panas dan hujan. Setelah dua tahun mengalami siksaan seperti itu, Japik akhirnya diselamatkan tim gabungan IAR Indonesia dan BKSDA Kalimantan Barat pada akhir 2015. Setelah diselamatkan, Japik menjalani masa rehabilitasi di IAR Indonesia Ketapang.

Adapun Kibo, adalah orangutan betina berusia enam tahun yang dulunya dipelihara oleh warga di Desa Harapan, Baru, Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pemeliharanya mengaku menemukan orangutan betina ini ketika masih bayi. Kibo kemudian dipeliharara di dalam kandang berukuran 1m x 1m x 1m di belakang rumah. Setelah menjalani masa rehabilitasi hampir selama lima tahun, Kibo akhirnya dinyatakan layak dikembalikan ke habitat aslinya.

Sedangkan Manis, merupakan orangutan betina yang ditemukan oleh salah satu pekerja ladang di daerah Desa Labai Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang pada 2012. Menurut pemiliknya, Manis ditemukan ketika berumur sekitar tiga hingga enam bulan. Karena kasihan, pemiliknya memelihara Manis selama satu tahun. Pemiliknya mengaku sudah melepaskan Manis ke hutan tetapi Manis kembali lagi ke rumahnya. Manis akhirnya dipelihara lagi selama delapan bulan sebelum akhirnya diserahkan ke BKSDA dan dititiprawatkan ke IAR Indonesia untuk direhabilitasi. Saat ini Manis berusia enam tahun dan berdasarkan hasil pemantauan perilaku, Manis dinyatakan layak untuk dikembalikan ke habitat aslinya.

Sementara Santi, adalah orangutan yang paling lama menjalani masa rehabilitasi. Santi mulai menjalani masa rehabilitasi pada Oktober 2013. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama hampir enam tahun, Santi yang saat ini berusia sekitar delapan tahun dinilai sudah siap kembali ke habitat aslinya.

Dalam proses rehabilitasi, orangutan ditempatkan di dalam pulau-pulau buatan dan dibiarkan bebas mengeksplorasi pulau untuk mensimulasikan kondisi alami seperti di habitat aslinya. Rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami orangutan. Pada masa rehabilitasi ini orangutan akan belajar kemampuan dasar bertahan hidup di alam seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang, yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Saat ini, IAR Indonesia menampung lebih dari 100 individu orangutan untuk direhabilitasi.

Untuk masing-masing orangutan, proses rehabilitasi yang dijalankan tidak bisa dibilang singkat. Proses ini dapat mencapai tujuh hingga delapan tahun tergantung kemampuan masing-masing individu.

Proses pelepasliaran yang menempuh waktu dua hari ini berjalan lancar. Tim pelepasan berangkat dari Pusat Rehabilitasi IAR di Ketapang pada 26 Juni 2019 pukul 04.00 pagi. Selama di perjalanan, tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa, agar tidak mengalami stres di dalam kandang mengingat jarak tempuh yang sangat jauh. Memerlukan waktu sekitar 17 jam bagi tim untuk mencapai kantor seksi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Nanga Pinoh. Di sini, tim beristirahat satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pelepasan.

Perjalanan dilanjutkan keesokan paginya, 27 Juni 2019, menuju Dusun Mengkilau, yang berada di kawasan TNBBBR yang merupakan dusun terdekat menuju lokasi pelepasliaran. Perjalanan ini dilalui dengan kendaraan mobil dan menempuh waktu lima jam. Dalam perjalanan ini, anggota Koramil dan Polsek Kecamatan Menukung bergabung bersama tim. Sesampainya di Dusun Mengkilau, perjalanan diteruskan dengan perahu motor selama satu jam menuju kamp Teluk Ribas, yaitu kamp survei dan monitoring yang didirikan oleh IAR Indonesia. Di kamp inilah, kelima individu ditempatkan di kandang habituasi terlebih dahulu, untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan berjam-jam, sekaligus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang baru. Keesokan paginya, 28 Juni 2019, tim kembali melakukan perjalanan menuju titik pelepasan yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk mengantarkan pulang kelima individu ini ke rumah baru mereka.

Tim pengangkut kandang transportasi orangutan untuk menuju titik pelepasan terdiri dari masyarakat lokal di desa penyangga kawasan TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Kegiatan pelepasliaran kali ini sangat menarik, karena baru pertama kali inilah, IAR Indonesia juga melibatkan kaum perempuan dari dusun setempat untuk menjadi porter yang mengangkut logistik dan perlengkapan para peserta tim pelepasliaran. Mereka mengangkutnya ke dalam keranjang tradisional dari bahan rotan yang dinamakan tengkalak dalam bahasa Dayak Ransa. Perjalanan para porter wanita ini bergabung bersama para porter pria yang membawa lima kandang berisi orangutan yang masing-masing memiliki berat antara 100 hingga 150 kg. Perjalanan ini memakan waktu hingga lima jam menuju Kamp Teluk Ribas. Keesokan harinya, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju titik pelepasan.

Keterlibatan masyarakat setempat menjadi pengembangan yang terus dilakukan IAR Indonesia dalam program-programnya. Kali ini, dengan melibatkan kaum perempuan, IAR Indonesia berupaya untuk bisa lebih membantu ekonomi masyarakat. Perempuan sebagai sosok yang berperan penting dalam mengatur perekonomian rumah tangga, merupakan pihak yang perlu dilibatkan dalam kegiatan konservasi. Dengan pemasukan tambahan ini, kaum perempuan di dusun penunjang di TNBBBR bisa menggunakannya untuk keperluan kesehatan atau pendidikan anak-anak mereka tanpa harus mencari pemasukan tambahan dari kegiatan yang berisiko merusak alam.

“Kegiatan pelepasliaran ini tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia. Anggota tim monitoring orangutan, kuli angkut, juru masak, dan semua orang yang terlibat dalam kegiatan pelepasliaran ini juga mendapatkan penghasilan alternatif yang dapat menggantikan pemasukan yang biasa mereka dapatkan dari pembalakan liar dan membantu melestarikan hutan. Khususnya ketika bekerja dengan wanita, terutama kepada para wanita super ini yang telah membantu kami pada pelepasliaran ini, mereka akan pulang ke rumah dengan penghasilan tambahan untuk membantu keluarga mereka. Memberdayakan perempuan adalah salah satu cara paling efektif untuk menyelamatkan hutan. Oleh karena itu kami percaya bahwa peran perempuan dalam konservasi sangat penting dan mata pencaharian alternatif yang mencakup perempuan harus dipromosikan,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

Perempuan-perempuan hebat yang mengangkut logistik tim pelepasliaran orangutan menuju kamp monitoring. Beban yang mereka angkat mencapai 30-50 kg. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih menjadi tempat pelepasliaran orangutan karena hutannya yang masih alami dan bagus. Survei dari tim IAR Indonesia juga menunjukkan jumlah pohon pakan orangutan yang berlimpah. Selain itu statusnya sebagai kawasan taman nasional akan lebih mampu menjaga orangutan ini dan habitatnya sebagai kawasan konservasi. Dari kajian yang pernah dilakukan juga oleh tim ahli dari IAR Indonesia, di lokasi TNBBBR resor Mentatai yang menjadi lokasi pelepasliaran orangutan, tidak ditemukan keberadaan orangutan dan dinyatakan orangutan wilayah ini telah punah dalam 20-30 tahun terakhir. Oleh karena itu upaya untuk pelepasan orangutan sangat penting sekali. Sampai saat ini IAR Indonesia telah melepaskan 41 orangutan di TNBBBR sejak tahun 2016.

Karena orangutan yang dilepaskan merupakan orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orangutan ini di lingkungan barunya. Tim monitoring yang terdiri dari warga desa penyangga kawasan TNBBBR ini akan mencatat perilaku orangutan setiap dua menit dari orangutan bangun sampai tidur lagi setiap harinya. Proses pemantauan ini berlangsung selama satu hingga dua tahun untuk memastikan orangutan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

“Kegiatan penyelamatan satwa liar, baik translokasi maupun rehabilitasi, memang harus terus dilakukan tanpa lelah. Dalam hal ini kami memberikan apresiasi sebesar besarnya kepada para mitra atas partisipasi dan kontribusinya. Namun demikian, hal ini belumlah cukup. Ada tugas lebih besar lagi yg harus diupayakan bersama-sama secara terus menerus, yakni mengubah mindset masyarakat dalam memandang satwa liar. Mari kita gencarkan kampanye dan pendidikan konservasi secara masif terutama kepada generasi muda agar ke depan lebih peduli pada konservasi lingkungan dan satwa liar,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut. M.T.

“Sebagai lokasi pelepasliaran orangutan, kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) harus dijaga agar orangutan yang dilepasliarkan dapat membentuk populasi baru, sehingga orangutan tetap lestari. Untuk itu perlu dukungan dari berbagai pihak untuk ikut menjaga kawasan taman nasional sebagai habitat orangutan, karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tidak dapat bekerja sendiri,” kata Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Agung Nugroho, S.Si., M.A. (HS-DRU)