Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Webinar: Perempuan Bercerita Bumi

Dalam sebagian besar kegiatan, kami melibatkan perempuan-perempuan yang tinggal di lokasi-lokasi tempat di mana kegiatan atau program itu berada. Karena kami melihat perempuan merupakan sosok penting dalam pengambilan keputusan di tingkat masyarakat untuk mengambil peran penting dalam upaya konservasi alam. Maka, para perempuan di desa-desa tempat kami bekerja dilibatkan dalam kegiatan pelestarian satwa. Ibu-ibu di desa  juga dilibatkan untuk melakukan pembibitan pohon untuk kegiatan restorasi hutan, maupun pengrajin bagi kantung-kantung ramah lingkungan yang mudah terdaur ulang secara alami, dengan menggunakan bahan-bahan alam seperti daun nipah dan pandan.

Di luar program-program ini, kami juga melihat pentingnya perempuan sebagai sosok yang berperan penting dalam mengedukasi keluarga terutama anak-anak. Perempuan yang terlibat langsung dalam pembentukan karakter anak, bisa menjadi agen advokasi lingkungan. Bagi anak-anak, di masa usia inilah, mereka membentuk nilai-nilai tentang kehidupan, sehingga orangtua terutama bagi sebagian besar masyarakat tradisional yang masih menempatkan perempuan sebagai sosok yang lebih utama dalam mendidik anak, memiliki peran penanaman dini informasi lingkungan yang benar supaya mampu menciptakan pribadi yang kelak lebih ramah lingkungan.

Dalam rangka Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, masyarakat Indonesia merayakan hari ini sebagai momen untuk menandai peran penting perempuan dan emansipasinya. Karena itulah, kami berencana membuat diskusi online yang akan menampilkan  Direktur Program IAR, Dr. Karmele Llano Sanchez – menceritakan pandangannya sebagai perempuan yang telah lama berkiprah di bidang konservasi dan penyelamatan satwa dan lingkungan, serta arah-arah program IAR yang diperuntukkan bagi perempuan. Bersama dengan beliau, akan hadir Reda Gaudiamo, penyanyi, musisi, dan penulis yang dengan talenta seninya, menciptakan karya-karya yang diperuntukkan bagi perkembangan literasi dan pendidikan anak. Pada diskusi ini, kita akan mendengarkan pandangan-pandangan Reda Gaudiamo tentang peran penting literasi dan bagaimana mendongeng merupakan sarana yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk karakter-karakter manusia dengan wawasan lingkungan yang lebih mencintai bumi.

Pembicara

  1. Karmele Llano Sanchez (Direktur Program IAR Indonesia)
  2. Reda Gaudiamo (Penyanyi, Musisi, dan Penulis Sastra dan Buku-Buku Anak)

Moderator

  1. Dewi Ria Utari (Konsultan Komunikasi IAR Indonesia)

Waktu dan tempat

Sabtu, 24 April 2021, Pukul 15.00 WIB

Zoom IAR Indonesia (tautan menyusul)

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan yang serba tidak pasti. Ketidakpastian itu tidak sekadar tentang kita di hari esok, tetapi juga bagaimana lalui hari demi hari. Terlepas dari itu semua kita patut berbangga. Karena pada akhirnya kita mampu melalui tahun ini dengan penuh harapan baik dan suka cita.

Kami juga percaya, di tengah harapan-harapan yang hampir pupus, harapan cerah akan selalu ada pada setiap hati yang tulus. Termasuk, dalam upaya kami untuk mewujudkan kesinambungan ekosistem harmonis bagi lingkungan serta makhluk hidup. Sejak COVID-19 menjangkit ke seluruh belahan dunia, kami telah berkomitmen melalui Pesan Kami untuk menghadapi situasi seperti ini.

Melalui pesan tersebut, kami sangat mendukung upaya Pemerintah Indonesia untuk melakukan langkah-langkah pencegahan guna menekan risiko COVID-19 di lingkup kerja kami, termasuk di beberapa tempat-tempat kami di lapangan. Tidak hanya itu, semua hal sudah kami persiapkan dan antisipasi dengan peningkatan kewaspadaan terhadap aspek keselamatan melalui sejumlah protokol untuk tetap melindungi kesehatan para tim kami dan satwa.

Sejak awal kemunculannya, COVID-19 diduga kuat berasal dari aktivitas eksploitasi satwa liar. Tidak hanya mengancam kesehatan secara global, pandemi COVID-19 juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Berawal dari ancaman ekonomi, ancaman bagi sumber daya alam kemudian mencuat karena masyarakat tertekan hingga sulit mendapatkan penghasilan. Tidak sedikit yang kembali melakukan aktivitas yang mengancam sumber daya alam, seperti perburuan, pertambangan ilegal, dan pembalakan liar.

Peningkatan kegiatan masyarakat di dalam hutan terlihat di beberapa daerah. Masyarakat tertekan dan terpaksa mencari hidup dengan aktivitas yang mengancam habitat dan satwa liar. Sejumlah studi ilmiah dan sebagian besar kelompok peneliti di dunia bahkan secara konsensus memperingatkan bahwa COVID-19 sama dengan wabah penyakit lain yang terjadi dalam dekade terakhir. Salah satu faktor penyebabnya adalah tekanan manusia pada sumber daya alam.

Hal itu juga didukung oleh penelitian terkini menyebut sekitar 60% penyakit yang telah diketahui pada manusia berasal dari hewan, serta 75% penyakit baru yang menyerang manusia dalam tiga dekade terakhir juga berasal dari hewan. Beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan risiko zoonosis ini adalah keseimbangan alam yang terganggu, hubungan yang tidak sehat antara manusia dan satwa liar terutama aktivitas perburuan dan perdagangan, serta gangguan dan kerusakan pada habitat satwa liar.

Salah satu tindakan yang dapat kita untuk mengantisipasi pandemi lainnya di masa depan adalah tetap menjaga keseimbangan ekosistem dengan tidak memperdagangkan dan memelihara satwa liar, karena kegiatan perburuan yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan kepunahan berbagai spesies. Permasalahan ini menjadi sangat penting sebab hal ini bukan sekadar isu konservasi spesies atau kesejahteraan satwa melainkan isu kesehatan manusia secara global.

Untuk itu, dengan penuh kewaspadaan situasi, kami tetap berupaya mewujudkan komitmen sepanjang tahun ini. Karena kami menyadari potensi dan risiko kehadiran virus apapun dapat terjadi pada waktu yang tidak bisa diprediksi.

Mereka yang terselamatkan

Di tengah wabah COVID-19, kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi tetap ada. Semestinya, kita dapat belajar banyak hal dari wabah yang merebak saat ini. Sebab, selain mengancam kelestarian, perilaku tidak bertanggung jawab seperti itu juga beresiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar.

Tidak hanya itu, masih tergambar jelas dalam ingatan, sedikitnya 18 individu orangutan, termasuk sejumlah satwa liar yang bernasib tidak beruntung telah diselamatkan. Melalui hubungan sinergis serta kerja sama strategis yang kuat dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), kami berhasil melakukannya. Hingga Bukit Kubing dan Bukit Raya, menjadi suaka bagi mereka untuk melanjutkan kembali hidupnya.

Di tengah beragam ketidakpastian, kelahiran generasi baru orangutan tetap menjadi keniscayaan. Kabar menggembirakan itu datang dari TNGP. Orangutan hasil rehabilitasi bernama Susi telah melahirkan bayi orangutan dengan selamat pada akhir Maret 2020. Bayi orangutan betina yang diberi nama Sinar oleh Menteri LHK tersebut merupakan bayi orangutan kedua yang lahir di Gunung Tarak yang berbatasan langsung dengan wilayah TNGP.

Tidak hanya itu, orangutan hasil rehabilitasi bernama Laksmi dan Desi juga memberikan generasi baru orangutan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada tahun ini. Bayi orangutan Laksmi diberi nama Lusiana oleh Wakil Menteri LHK dan bayi Desi diberi nama Dara oleh Menteri LHK. Sinar, Lusiana dan Dara memberi gurat senyum penuh harapan pada kami, selain harapan baru bagi jerih payah konservasi orangutan.

Upaya panjang dalam melestarikan spesies kera kharismatik pulau Kalimantan ini terus dimutakhirkan. Dibayangi minimnya panduan pasti bagaimana cara dan tatalaksana merehabilitasi orangutan, kami berhasil mempelopori pola induk asuh untuk mempercepat respon perilaku serta kemampuan alami orangutan untuk hidup bertahan di hutan. Hal ini menunjukkan bukti bahwa orangutan juga bisa menjadi ibu angkat untuk orangutan lainnya.

Sumber semangat kami datang dari beragam kisah. Meli, bayi kukang malang turut menggores senyum kami di tengah situasi ini. Perjuangan Meli untuk dapat mengecap kehidupan di alam bebas begitu luar biasa. Kini kukang betina itu telah tumbuh menjadi kukang dewasa yang sehat dan akan segera pulang kembali ke habitatnya.

Kesehatan Meli dan ratusan kukang lainnya yang berada di bawah perawatan kami menjadi komitmen sejak kami berdiri. Sebagai pusat rehabilitasi kukang pertama dan terbesar di Indonesia, kesehatan satwa merupakan prioritas kami. Dokter hewan dan tim medis kami yang bertugas dilengkapi standar operasional ketat terhadap pemeriksaan satwa dan peralatan penunjang diagnosa. Di samping itu, aspek keamanan kesehatan dalam hal ini biosekuriti dan biosafety bagi staf kami yang bekerja langsung dengan satwa juga tak luput dari perhatian.

Berkat dukungan dan kerja keras dari semua pihak, kami menorehkan penghargaan atas komitmen kami yang inovatif dan holistik dalam penyelamatan satwa liar dan habitatnya, khususnya di Kalimantan Barat. Penghargaan diberikan oleh BBVA Foundation di Spanyol pada Oktober 2020 untuk kategori keanekaragaman hayati atas upaya pendekatan inovatif dan terintegrasi untuk melindungi keanekaragaman hayati di TNBBBR dan beberapa spesies ikonik di dalamnya termasuk orangutan.

Semua torehan ini tidak lepas dari dukungan dan kerja sama yang sangat baik bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) dan Balai TNBBBR, program kami di Kalimantan Barat dapat terwujud dan berjalan dengan baik.

Masih ada banyak hal lain yang telah kita lalui bersama – yang seolah tak akan pernah usai melalui satu halaman ini. Namun begitu, harapan cerah akan senantiasa menyelimuti upaya kita.

Sebagai penutup, di penghujung tahun ini kami berterima kasih atas dukungan dan komitmen atas semua yang telah kita lakukan bersama. Selamat Tahun Baru 2021! Keniscayaan akan lingkungan hidup yang harmonis akan selalu ada. Tetap jaga kesehatan dan keselamatan bersama.

Penghargaan Untuk Kerja Konservasi IAR Indonesia yang Inovatif dan Menyeluruh

Berkat pendekatannya yang inovatif dan holistik  dalam penyelamatan satwa liar dan habitatnya, khususnya di Kalimantan Barat, IAR Indonesia kembali mendapatkan penghargaan bergensi. Penghargaan kali ini diberikan oleh BBVA Foundation di Spanyol untuk kategori keanekaragaman hayati atas upaya pendekatan inovatif dan terintegrasi untuk melindungi keanekaragaman hayati di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan beberapa spesies ikonik di dalamnya termasuk orangutan.

Penghargaan ini tidak lepas dari peran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Melalui direktorat jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) program IAR Indonesia di Kalimantan Barat dapat terwujud dan berjalan dengan baik. Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez mengupkapkan apresiasinya kepada semua pihak yang berperan penting dalam seluruh kerja konservasi IAR Indonesia. “Saya sangat berterimakasih kepada segenap pengurus, manajemen dan staf IAR Indonesia karena tanpa mereka, program ini tidak akan bisa terealisasi. Saya juga sangat berterimakasih kepada seluruh mitra kerja IAR Indonesia, terutama kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena tanpa dukungan dan keterlibatan mereka, program kami tidak akan bisa berjalan. Terimakasih juga kami haturkan kepada seluruh masyarakat di lokasi program kami di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit baka Bukit Raya karena sebenarnya merekalah pemeran utama dalam program ini.

Secara khusus, dewan juri yang terdiri dari para ilmuwan yang bekerja di bidang lingkungan, komunikator, ahli hukum lingkungan dan pembuatan kebijakan, serta perwakilan dari beberapa LSM konservasi juga memberikan pujian atas strategi konservasi jangka panjang IAR Indonesia dalam ekosistem yang dilanda deforestasi dan alihfungsi lahan.

Sebelumnya pada pertengahan tahun 2020, atas kerja kerasnya, IAR Indonesia juga mendapatkan penghargaan “Shining World Compassion Award” dari organisasi nirlaba kemanusiaan internasional The Supreme Master Ching Hai International Association.

Semua kerja konservasi yang dilakukan IAR Indonesia selama ini dilandasi visi untuk mewujudkan kehidupan di mana manusia dan satwa dapat hidup berdampingan di dalam ekosistem yang berkelanjutan. “Kami berusaha mewujudkan visi kami dengan misi untuk membangun kesadaran akan pelestarian lingkungan hidup dan mengimplementasikan system yang efektif di mana habitat dan satwa dapat terlindungi. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia,” ujar Karmele lagi.

Sejak berdiri pada tahun 2009 silam, IAR Indonesia bermitra dengan KLHK telah menyelamatkan lebih dari 250 orangutan dan melepaskan 129 orangutan, 46 orangutan di antaranya dilepaskan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya sejak 2016 sampai sekarang.

Selain membuka lapangan pekerjaan untuk warga dua desa penyangga kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, yaitu desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring sebagai bagian dari tim monitoring orangutan IAR Indonesia, program ini juga menyerap tenaga kerja sebagai porter logistik, tukang masak, sopir, pemilik perahu, dan lain sebagainya. Berkat pendekatan ini, sekitar 70 warga setempat yang pernah terlibat dalam pembalakan liar kini bekerja untuk IAR dalam penyelamatan dan pemulihan orangutan.

Menyadari bahwa akses penduduk di dua desa penyangga kawasan TNBBR ini jauh dari fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta perlu meningkatkan kesejahteraan manusia, IAR Indonesia juga melakukan program edukasi dan pegembangan masyarakat di dua desa penyangga ini. “Ini adalah salah satu wilayah pedalaman yang miskin di mana masyarakat bahkan tidak memiliki akses yang memadai ke fasilitas kesehatan dan pendidikan. Keadaan ini diperburuk dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang layak di sana. Tekanan ekonomi inilah yang kemudian mendorong mereka melakukan perburuan dan penebangan kayu illegal,” jelas Karmele

Puncaknya adalah pada tahun 2019, dibantu oleh beberapa donatur, IAR Indonesia untuk pertama kalinya memberikan program beasiswa kepada 18 anak yang memenuhi syarat untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Nanga Pinoh. Program yang direncanakan berjalan selama 3 tahun ini  juga akan memberikan kebutuhan sehari-hari dan perawatan kesehatan sampai anak-anak ini dapat menyelesaikan sekolahnya serta dapat menjadi panutan bagi anak-anak dusun lainya.

Melibatkan kaum muda sejak dini dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat secara bertahap, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

Dalam program pemberdayaan masayarakat, IAR Indonesia mendampingi masyarakat untuk mengolah hasil alam secara berkelanjutan tanpa merusak hutan. Pengetahuan inilah yang diupayakan IAR Indonesia dalam semua kegiatan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di area hutan dan area-area yang berdekatan dengan habitat satwa. Selain untuk menghindarkan kemunculan konflik antara manusia dan satwa, informasi tentang pengolahan produk-produk alam dengan bijak, bisa menjadi pekerjaan alternatif dan bahkan utama bagi masyarakat.

Semua pendekatan holistik dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat ini  ini bertujuan untuk mengubah pola pikir masyarakat desa di sekitar taman nasional dari perilaku deforestasi menjadi penjaga hutan dengan menghentikan pembalakan liar di daerah tersebut dan mengajarkan penduduk desa tentang keistimewaan hutan mereka dan bahwa menyelamatkan hutan adalah solusi ekonomi jangka panjang yang lebih berkelanjutan daripada menghancurkannya.

Penghargaan untuk Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap

Riuh tepuk tangan pecah di ruang pertemuan Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang saat perwakilan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang, Adi Mulya memberikan penghargaan Petani Pemanfaatan Lahan Tanpa Bakar kepada Sujana. Pria parubaya ini merupakan petani asal Desa Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat yang konsisten menjaga lingkungan.

“Pemberian penghargaan yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Orangutan Internasional ini merupakan komitmen pemerintah daerah dalam upaya pelestarian lingkungan,” ucap Benyamin, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan IAR Indonesia.

Adi Mulya (kiri) saat memberikan penghargaan Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap kepada Sujana (kanan) di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang.
Adi Mulya (kiri) saat memberikan penghargaan Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap kepada Sujana (kanan) di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang. Rudiansyah/IAR Indonesia.

Dengan tema “Pahlawan untuk Langit Biru” yang diusung pada perayaan Hari Orangutan Internasional tahun ini, Benyamin mengungkapkan bahwa tema ini mengandung pesan kuat. Kebakaran hutan dan lahan selalu menjadi ancaman serius terhadap habitat orangutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Bahkan beberapa area pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia nyaris terbakar dalam kebakaran masif di sumatera dan kalimantan pada 2019 silam.

“Untuk itu, kami sangat menghargai para petani yang melakukan pemanfaatan lahan tanpa bakar. Sujana memperoleh penghargaan atas konsistensinya melakukan pemanfaatan lahan tanpa bakar sejak 1 dekade lalu,” tambahnya. Selain memberikan penghargaan, untuk mendukung pekerjaan Sujana, IAR Indonesia juga memberikan benih tanaman dan seperangkat alat pertanian.

Pemberian penghargaan ini dihadiri oleh Kapolsek Muara Pawan, perwakilan Camat Muara Pawan, Balai Penyuluh Pertanian Muara Pawan, staf Balai Taman Nasional Gunung Palung, Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Ketapang, perwakilan Danramil 1203-12 Matan Hilir Utara, Kadus Pematang Merbau, Ketua RT 07 dan RT 10.

Untuk melibatkan kaum perempuan dan anak-anak, IAR Indonesia juga mengadakan lomba foto kontes ibu anak dan lomba video dakwah konservasi secara daring untuk kaum perempuan.

Perempuan-perempuan tangguh dari desa penyanggah kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Perempuan-perempuan tangguh dari desa penyanggah kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Selain memberikan penghargaan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren dan mengadakan lomba secara daring, pada perayaan hari Orangutan Internasional ini IAR Indonesia juga melakukan kegiatan nonton bareng di beberapa tempat. Antara lain di Taman Baca Inovator di Desa Pematang Gadung, Sekolah adat Arus Kualan di Desa Balai Pinang, dan Pastoran Wisma Emaus di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi.

Film yang disajikan adalah film mengenai kebakaran hutan dan Lahan tahun 2019, serta dua film mengenai orangutan berjudul Kisahku dan Masa Depan Rumahku yang menceritakan kehidupan orangutan bernama Peni dan film dokumenter mengenai perjuangan dan perjalanan pelepasliaran orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya berjudul Into the Wild.

Kegiatan nonton bareng yang mayoritas diikuti oleh anak-anak usia sekolah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa hutan dan satwa yang dilindungi sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan agar di masa depan kita dan anak cucu bisa menikmati keindahan alam serta dapat melihat satwa yang sudah hampir punah.

“Melalui perayaan IOD 2020 ini kita semua tentunya berharap agar dapat terus berkomitmen dan konsisten dengan perlindungan orangutan melalui edukasi yang baik dan benar agar seluruh lapisan masyarakat terus berperan aktif dalam perlindungan orangutan dan habitatnya,” pungkas  Benyamin

Penyelamatan Covita di Tengah Pandemi Covid-19

Di tengah pandemi yang disebabkan oleh virus corona yang ditenggarai berasal dari satwa liar, Unit Penyelamat Satwa Liar – Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bekerja sama dengan IAR Indonesia kembali menyelamatkan satu individu orangutan peliharaan dari Dusun Ampon, Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, Sabtu (29/8/20).

Bayi orangutan betina bernama Covita di dalam kandangnya di Dusun Ampon, Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.

Orangutan berjenis kelamin betina ini awalnya dipelihara secara illegal oleh seorang warga di Dusun Ensayang, Desa Karang Betong, Kecamatan Nanga Mahab, Kabupaten Sekadau. Menurut pengakuannya, dia mendapatkan orangutan ini ketika bekerja kayu di wilayah Babio, Kabupaten Sekadau. Ketika ditemukan, orangutan yang diberi nama Covita ini mengalami cedera pada kaki kanannya. Selama dipelihara oleh pemiliknya, Covita dirantai di sebuah rumah walet dan diberi makan nasi, jambu monyet, air gula dan susu kental manis.

Covita ketika diselamatkan oleh tim gabungan BKSDA dan IAR Indonesia di Dusun Ampon, Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang

Penyelamatan Covita dari pemeliharaan illegal ini dimulai ketika salah satu warga desa lainnya yang mengetahui persoalan satwa liar dilindungi mengetahui keberadaan orangutan ini dan meminta pemiliknya untuk menyerahkannya ke pihak berwenang. Karena desa tempatnya tinggal sulit dijangkau, pemilik orangutan ini membawa Covita ke Dusun Ampon yang lebih mudah diakses. Untuk mencaapi Dusun Ampon, tim gabungan harus melakukan perjalanan darat selama 8 jam dari Pusat Penyelamatan Orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan dan dilanjutkan dengan perahu motor selama 3 jam.

Dari hasil pemeriksaan gigi oleh dokter hewan IAR Indonesia, drh. Adisa, Covita diperkirakan berusia 2,5 tahun. Dia mengatakan ada tonjolan pada tulang paha kanannya. “Kemungkinan besar ini adalah bekas cedera yang dialaminya dulu ketika ditemukan. Selain itu, Covita juga menderita penyakit kulit yang membuat sebagian kulitnya mengelupas dan rambutnya rontok di kedua kaki dan punggungnya,” jelasnya lagi.

Covita menjalani pemeriksaan kesehatan secara singkat oleh drh. Adisa di Dusun Ampon, Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.

Covita saat ini dibawa ke IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang yang memiliki fasilitas pusat rehabilitasi satwa, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Covita akan menjalai masa karantina selama 8 minggu. Selama masa ini, Covita akan menjalani pemeriksaan secara detail oleh tim medis IAR Indonesia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan Covita tidak membawa penyakit berbahaya yang bisa menular ke orangutan lainnya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Ini adalah kali kedua IAR Indonesia bersama BKSDA Kalimantan Barat menyelamatkan orangutan dari dusun ini setelah pada pertengahan tahun lalu, tim gabungan ini menyelamatkan satu bayi orangutan yang juga menjadi korban pemeliharaan satwa liar dilindungi. Selain mengancam kelestarian satwa liar, perilaku tidak bertanggungjawab seperti ini juga beresiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar.

“Di masa pandemi seperti sekarang, penyerahan satwa liar yang dilindungi ini dapat mengurangi kemungkinan bahaya penyakit menular. Semoga upaya karantina dan rehabilitasi Covita dapat berjalan dengan baik sehingga dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya di hutan rimba Kalimantan,” ujar Tantyo Bangun, Ketua Umum YIARI memberikan tanggapan.

Menurut Kepala Balai BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, pemeliharaan illegal Tumbuhan dan Satwa Liar dapat memberikan dampak buruk bagi kedua belah pihak. “Dari sisi satwanya dapat menyebabkan perubahan perilaku alami orangutan dan di sisi lain dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan manusia di sekitarnya,” jelasnya.

“Di samping itu, DNA orangutan yang sangat mirip dengan manusia memungkinkannya menjadi perantara berpindahnya penyakit yang dibawanya kepada manusia. Begitu pula sebaliknya manusia dapat menularkan penyakit yang dibawanya kepada orangutan. Jika proses penularan ini berlangsung cepat maka tidak mustahil terjadi bencana kesehatan secara luas. Oleh karena itu menjaga jarak dengan satwa liar adalah hal yang baik bagi kedua belah pihak,” tambahnya lagi.

Perubahan perilaku alami orangutan merupakan kerugian besar bagi satwa orangutan itu sendiri dikarenakan akan sulit bertahan hidup di alam ketika dilepasliarkan. Orangutan tidak mampu mengenali pakan alaminya, tidak mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dan sebagainya.  “Kami berterima kasih kepada IAR Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Ketapang, sebagai salah satu pusat rehabilitasi orangutan di Kalbar. Semoga Covita dapat ‘diliarkan kembali’ di sana sampai nanti layak untuk dilepasliarkan ke rumahnya di alam,” tutupnya.

Memulangkan Orangutan Kalimantan dari Pulau Jawa

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah dan BKSDA Kalimantan Barat atas petunjuk dan arahan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berhasil menyelamatkan dua individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) di wilayah Jawa Tengah, Rabu (5/8).

Orangutan Boboy dievakuasi dari salah satu kediaman pribadi warga Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 5 agustus 2020.

Kedua orangutan dewasa berjenis kelamin jantan ini diselamatkan dari dua lokasi yang berbeda. Satu individu bernama Samson berasal dari lembaga konservasi tak berizin di salah satu taman wisata di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sementara orangutan lainnya yang bernama Boboy, berasal dari kediaman pribadi warga di Semarang, Jawa Tengah.

Orangutan Samson di Lembaga Konservasi tidak Berijin di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Kedua orangutan jantan ini telah untuk dievakuasi ke Pusat Penyelamatan IAR Indonesia di Sei Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dengan menggunakan kapal penyeberangan melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Kamis (06/08) pagi. Sebelumnya, Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang telah memastikan kedua orangutan ini tidak membawa penyakit rabies dan TBC.

Didampingi petugas dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, kedua orangutan berada di dalam kandang transport bersiap memasuki kapal di Pelabuihan Tanjung Emas Semarang

Drh. Temia, dokter hewan IAR Indonesia yang turut memeriksa kondisi kedua orangutan secara langsung menjelaskan, kedua orangutan bernama Samson dan Boboy yang diperkirakan berusia 20 tahun itu telah menjalani pemeriksaan kesehatan yang meliputi pengecekan fisik dan laboratorium untuk mendeteksi potensi penyakit rabies dan TBC. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai syarat karantina yang harus dipenuhi sebelum diberangkatkan ke Ketapang.

“Setibanya di Ketapang, mereka juga akan menjalani masa karantina selama dua bulan dan mendapatkan penanganan medis yang lebih spesifik, observasi, serta perawatan lebih lanjut di fasilitas rehabilitasi orangutan yang dimiliki IAR Indonesia,” ungkap drh. Temia. Sementara itu, BKSDA Kalbar juga sudah memastikan bahwa kandang dan semua fasilitas kesehatan di pusat rehabilitasi IAR Indonesia layak dan memenuhi syarat untuk merawat satwa milik negara ini. Segala proses adminitrasi juga sudah dirampungkan oleh BKSDA Kalbar untuk memastikan satwa ini dapat segera sampai di tempat yang lebih baik tanpa ada hambatan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, Temia menyebut mereka terindikasi malnutirisi yang menyebabkan keduanya mengalami gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya. Hal tersebut juga ditunjukkan dengan sejumlah tanda fisik yang tidak normal di tubuh mereka. Nutrisi tidak seimbang yang diberikan ke mereka selama ini juga dapat membuat keduanya rentan terhadap berbagai penyakit.

“Kondisi keduanya memprihatinkan karena selama ini mereka terkurung di dalam kandang yang sempit dan tidak memenuhi syarat. Tidak hanya itu, pantauan di lapangan juga menunjukan bahwa aspek kesejahteraan (welfare) mereka sebagai satwa tidak terpenuhi,” tambahnya lagi.

Kondisi kandang orangutan Samson di lembaga konservasi tidak Berijin di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Kedua orangutan ini tiba di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang pada Jumat malam (7/8).  Selama perjalanan lebih dari 36 jam dari Semarang menuju Ketapang, kondisi Boboy dan Samson cukup baik. Mereka makan dan minum dengan sangat baik. Setibanya di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia, mereka langsung ditempatkan di dalam kandang karantina yg sudah dilengkapi dengan enrichment daun serta hammock. Tidak ada komplikasi selama perjalanan. Boboy dan Samson akan dimonitoring secara intensif baik dari segi kesehatan maupun perilaku di dalam kadang karantina selama minimal 8 minggu. Hal ini untuk memastikan keduanya benar-benar babas dari penyakit yang berbahaya yang bisa menular ke manusia ataupun satwa lainnya.

Boboy dan Samson tiba di kandang Karantina di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi IAR Indonesis di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan barat.

Statement Darmanto, Kepala Balai KSDA Jawa Tengah:

Keberadaan kedua orangutan dewasa tersebut telah dipantau dan diverifikasi sejak Oktober 2019. Pihak BKSDA Jawa Tengah kemudian melaporkan kepada Direktur Jenderal KSDAE dan Direktur KKH untuk mendapat arahan langsung terkait penyelamatan kedua orangutan tersebut bersama lembaga terkait. Upaya penyelamatan ini merupakan hasil kerja sama dan peran multipihak yang kuat antara pemerintah dalam hal ini Direktur Jenderal KSDAE KLHK, Direktur KKH, BKSDA Jawa Tengah, Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, NGO – Yayasan IAR Indonesia serta Balai KSDA Kalimantan Barat dalam upaya pelestarian spesies kera kharismatik endemik Indonesia yang kian terancam populasinya karena kerusakan habitat, perburuan, perdagangan dan pemeliharaan secara ilegal.

BKSDA Jawa Tengah berterima kasih dan memberikan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat serta mendukung upaya penyelamatan ini demi orangutan mendapatkan kembali kesejahterannya selama menjalani perawatan dan rehabilitasi di IAR Indonesia, di Ketapang, Kalimantan Barat.

BKSDA Jawa Tengah juga berharap semua proses penyelamatan ini, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga perjalanannya sampai ke tujuan berjalan dengan baik dan kedua orangutan tersebut bisa segera pulih serta memiliki kesempatan hidup bebas di habitatnya. Selain itu kami juga, kerja sama ini juga agar tidak terputus dan terus berkelanjutan dalam upaya pelestarian jenis satwa liar lainnya yang terancam punah.

Statement Sadtata Noor Adirahmanta, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat:

Kembali, atas kerjasama yang luar biasa semua pihak, kita berhasil “membawa pulang” 2 individu orangutan Kalimantan ke rumah sementaranya di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan IAR Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat.

Namun di sisi lain, hal ini menjadi keprihatian kita bersama bahwa pemeliharaan satwa liar dilindungi masih banyak dilakukan oleh masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, perlu dilakukan terobosan-terobosan dalam mengkampanyekan pengelolaan keanekaragamanhayati untuk lebih menumbuhkembangkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian jenis-jenis endemik Indonesia tersebut.

Statement Samiyono, dokter hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang:

Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang pada dasarnya mendukung penuh kegiatan penyelamatan dua individu orangutan malang ini dari Semarang ke IAR Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat demi kelestarian orangutan di habitatnya. Semua proses dari segi kesehatan dimulai dari persiapan, pemeriksaan kesehatan hingga hasil pemeriksaan kedua orangutan tersebut, Balai Karantina akan melakukan pendampingan secara langsung. Selain itu, sebagai pihak yang berada di garda terdepan, Balai Karantina akan selalu memastikan kesehatan setiap hewan yang akan masuk maupun keluar wilayah Semarang. Terlebih, hewan itu merupakan hewan yang dilindungi, Balai Karantina akan mengawalnya sebagai tugas dalam upaya pelestarian satwa liar. Balai Karantina berharap, semua tahapan pelaksanaan penyelamatan ini berjalan lancar dan hasil pemeriksaan orangutan menunjukkan hasil yang bagus.

Statement Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia:

Yayasan IAR Indonesia sudah menyelamatkan orangutan di Kalimantan Barat selama lebih dari 10 tahun. Kami masih merasa sangat sedih melihat orangutan yang seharusnya hidup bebas di alam, dikurung dalam kandang selama hidupnya. Proses rehabilitasi orangutan yang sangat rumit dan panjang, akan jauh lebih sulit dilakukan pada orangutan yang yang sejak lahir sudah dikurung di kandang dan tidak pernah belajar hidup di alam bebas selama hidupnya.

Ditambah lagi apabila orangutan ini memiliki penyakit atau kelainan dan cacat akibat pemeliharaan yang salah, orangutan ini tidak akan mampu lagi untuk hidup bebas di habitat aslinya. Mereka harus hidup di sanctuary IAR Indonesia selama sisa hidupnya.

Terlepas darii tu semua, kamu sangat bahagia sekaligus bangga bisa berperan serta dalam upaya penyelamatan orangutan ini untuk membantu memberinya kesempatan untuk hidup lebih sejahtera. Kami berharap, seluruh masyarakat bisa turut berperan dan berpartisipasi dalam menjaga kelestarian orangutan dan habitatnya. Indonesia harus bangga sebagai satu-satunya negara yang memiliki tiga spesies orangutan.

Statement Indra Exploitasia, Direktur KKH KLHK:

Atas upaya penyelamatan dan translokasi orangutan ini Direktur KKH KLHK, Indra Exploitasia menyatakan bahwa, “Kesejahteraan satwa merupakan hal penting dalam upaya konservasi. Untuk itu dalam proses konservasi baik in situ maupun ex situ, terselenggaranya kesejahteraan hewan perlu dijamin dan hal ini juga merupakan mandat undang-undang yang harus dilaksanakan oleh setiap pelaku usaha yang bergerak dibidang konservasi satwa.

IAR Indonesia Menerima Penghargaan untuk Konservasi Penuh Kasih dari Organisasi Kemanusiaan Internasional

IAR Indonesia kembali mendapatkan penghargaan bergengsi, kali ini dari organisasi nirlaba kemanusiaan internasional The Supreme Master Ching Hai International Association.   IAR Indonesia mendapatkan penghargaan “Shining World Compassion Award” atas kerja keras IAR selama ini untuk menyelamatkan orangutan yang terancam punah di Kalimantan, melindungi habitatnya di hutan hujan, dan mendorong pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Selain menerima plakat untuk memperingati penghargaan tersebut, IAR Indonesia juga dihadiahi donasi US $ 20.000 (Rp 290 juta)  untuk mendukung “kerja penuh kasihnya”. Penghargaan ini disertai dengan surat apresiasi kepada Direktur Program IAR Indonesia drh. Karmele Llano Sanchez sebagai pengakuan atas upaya konservasinya yang luar biasa. Menanggapi penghargaan ini, Karmele merasa sangat terhormat dan bangga. Karmele mengatakan, “Atas nama seluruh tim di IAR Indonesia, saya merasa sangat terhormat untuk menerima penghargaan dan sumbangan yang sangat murah hati dari The Supreme Master Ching Hai International Association. Sangat menggembirakan mengetahui bahwa komitmen tim kami untuk melestarikan orangutan dan habitat alami mereka serta mendukung masyarakat setempat, diakui dan dihargai oleh organisasi yang begitu terhormat.”

Dia menambahkan: “Kami juga sangat berterima kasih atas sumbangsih yang telah diberikan kepada kami. Dalam beberapa bulan terakhir pekerjaan kami menjadi lebih menantang dari sebelumnya karena pandemi COVID-19 dan biaya yang diperlukan untuk membeli berbagai macam kebutuhan pusat rehabilitasi seperti makanan dan peralatan medis terus meroket sehingga sumbangan ini sangat banyak membantu meringankan beban kami.

Alan Knight OBE, Chief Executive IAR mengatakan: “Setiap orang di IAR Indonesia bekerja tanpa lelah untuk melindungi orangutan yang terancam punah dan untuk menciptakan lingkungan di mana orang dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara damai dan berkelanjutan. Penghargaan dari The Supreme Master Ching Hai International Association adalah kehormatan yang layak diterima. Sumbangan murah hati  yang menyertainya akan mendukung kerja perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.  pada saat ini harus diakui lebih vital dari sebelumnya bagi kesehatan hewan, manusia dan planet secara keseluruhan. ”

Kala Hidup Jakaria Untuk Kesejahteraan Kukang

Sekilas rupa, dia tampak seperti orang kebanyakan. Perawakannya sedang, dengan wajah mudah tersenyum. Sosoknya juga kerap melempar gurauan di kala senggang. Dia adalah Jakaria (38). Sejak 2009 silam, Jakaria menjadi perawat satwa dan menangani kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung di bawah perawatan pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai seorang ahli, dedikasinya sebagai perawat kukang tak diragukan. Kemampuan yang kini ia miliki pun dimulainya dari nol.

Bagi dia, merawat kukang bukan sekadar pekerjaan biasa. Butuh nyali besar untuk memulainya. Karena konsekuensi nyata yang timbul dari pilihan itu, selain riskan tergigit kukang, bersiap tidak bisa menikmati jam tidur seperti orang pada umumnya akan menjadi rutinitas sehari-hari. Hal itu bukan tanpa dasar. Kukang merupakan primata nokturnal atau aktif di malam hari, yang menantang dirinya untuk bisa ikut menyesuaikan kehidupan kukang.

“Mulanya memang sulit untuk beradaptasi dengan jam tidur yang tidak biasa. Tapi demi misi memberikan kesejahteraan bagi kukang yang bernasib tak beruntung, apapun tantangannya perlahan dapat teratasi,” ungkapnya.

Berkat giatnya, Jakaria kini begitu piawai menangani kukang yang berada dalam masa pemulihan. Dari menyiapkan pakan, treatment kandang, mengamati perilaku hingga melakukan handling. Khusus handling, jika tak pandai, bukan tidak mungkin kukang dapat melukai tangannya dengan sekali gigitan.

“Saya sudah tidak mengingat persis berapa kali digigit kukang, tidak terhitung,” ujar dia seraya berusaha mengingat kembali momen pertamanya digigit kukang. Namun begitu, yang paling persis Jakaria iingat adalah saat efek gigitannya tidak hanya membuat tangannya terluka, tapi juga membuatnya sulit tertidur menahan nyeri.

Jakaria (kanan) saat membantu tim medis memeriksa kondisi kukang di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Selama sekitar satu dekade, pria kelahiran Bogor 38 tahun silam ini menjadi perawat kukang. Dalam kurun waktu itu juga dia banyak mengenyam pelajaran dan pengalaman penting yang membuatnya menjadi seperti saat ini. Dia bahkan mengaku, perasannya dengan kukang sudah begitu terikat. Sebagian besar dari sekitar 150 individu kukang yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi, mampu ia kenali. Dari bentuk fisik, perilaku, hingga karakter tertentu pada setiap indvidu.

“Terlebih jika kukang itu sudah lama tinggal dan berada di pusat rehabilitasi, saya tahu persis karakter dan keseharian mereka,” tambah dia. Kendati begitu, selamanya tinggal di pusat rehabilitasi bukanlah harapan dirinya terhadap kukang-kukang itu. Sebab sejatinya, kukang harus hidup di tempat yang sesungguhnya. Mereka memiliki hak yang sama dengan makhluk hidup yang lain. Seperti tempat tinggal yang aman di habitat, mendapatkan pakan alami, bebas berekspresi dan melangsungkan hidup generasinya tanpa ada gangguan.

Namun kenyataan selama ini berkata lain. Sampai saat ini masih ada kukang yang masuk ke sini dengan beragam kondisi. Ada yang cukup baik, tapi tak sedikit yang memprihatinkan karena menjadi korban pedagangan ilegal atau telah lama menjadi hewan peliharaan. Karenanya butuh waktu yang relatif panjang untuk merawat dan memulihkan mereka.

Untuk itu, dia bersama timnya berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan kesejahteraan kukang-kukang selama di bawah perawatan IAR Indonesia. “Meski tak seperti hutan, tempat tinggal mereka yang menyediakan beragam kebutuhannya, saya selalu menaruh harapan penuh agar mereka dapat menikmati kebebasannya kembali setelah selesai menjalani masa pemulihan. Upaya keras ini semata hanya untuk memberikan kesempatan kehidupan kedua bagi mereka,” pungkas dia.

Apa kabar Kukang: Refleksi 10 Tahun IAR Indonesia Menyelamatkan Kukang

Tidak mudah, itu adalah kata yang tepat untuk mereflesikan bagaimana upaya penyelamatan kukang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia selama satu dekade terakhir. Dinamika yang muncul begitu beragam dan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Sebagai pusat rehabilitasi kukang pertama di Indonesia, saat itu tidak banyak acuan dan literatur yang bisa digunakan untuk menangani perawatan kukang di pusat rehabilitasi. Namun karena itu pula, IAR Indonesia akhirnya bisa membuat sebuah standar prosedur komperehensif yang ideal untuk diterapkan oleh lembaga-lembaga lain di pusat penyelamatan satwa lainnya.

Sejak 2008, IAR Indonesia memfokuskan programnya untuk membantu merawat kukang yang menjadi korban perburuan, perdagangan dan pemeliharaan. Selama itu pula, lebih dari 3.500 individu kukang diselamatkan serta menjalani perawatan di pusat rehabilitasi yang berlokasi di Curug Nangka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Permasalahan yang kerap terjadi pada kukang di tahun-tahun pertama itu sangat tinggi. Di mana angka perdagangannya mencapai 7.000 individu per tahun. Fakta tersebut menjadi dasar bagi lembaga konservasi dunia (IUCN) mengkategorikan status kepunahan satwa untuk meratifikasi ulang status kukang (terutama kukang jawa) menjadi Kritis (Critically Endangered), yang berarti satu tingkat di bawah punah.

Hingga kini, status tersebut masih bertahan setelah lebih dari satu dekade berlalu.

Meski data mengenai angka perdagangan kukang telah mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir yaitu sekitar 2.000 individu per tahun, namun populasi di alam tetap masih dalam ancaman dan tanda tanya besar. Berapa lagi yang masih tersisa dan sampai kapan akan bertahan. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri karena masih minimnya penelitian di lapangan.

Penuh tantangan

Upaya yang dilakukan IAR Indonesia di awal dekade memang penuh dengan tantangan. Mulai dari fasilitas yang belum memadai, jumlah kukang yang masuk, hingga kondisi kesehatan satwa yang tak sepenuhnya baik.

Idealnya, fasilitas pusat rehabilitasi hanya mampu menampung 100 individu kukang. Kapasitas ini tak hanya dipengaruhi oleh area yang terbatas pada lahan seluas 1 hektar, akan tetapi juga dipengaruhi oleh SDM tenaga medis dan perawat satwa. Daya tampung yang ideal akan berdampak pada kesejahteraan satwa yang menjadi etika dasar dalam memperlakukan satwa.

Kasus penegakan hukum yang terjadi di tahun 2013 merupakan kasus terbesar dalam sejarah kejahatan perdagangan kukang. 238 individu kukang sumatera berhasil diselamatkan, lalu dititiprawat di pusat rehab IAR Indonesia.

Kehadiran ratusan kukang secara tiba-tiba tentu tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas yang ada. Meski begitu, IAR Indonesia tetap berusaha untuk memberikan perawatan kepada seluruh kukang, dengan kata lain, tim harus bekerja ekstra untuk itu semua.

Menyembuhkan yang sakit

Di setengah dekade pertama, 70% kukang yang diterima oleh IAR Indonesia berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Seperti, rusaknya gigi akibat dipotong paksa, malnutrisi, infeksi kulit, cacingan dan sederet kasus kesehatan lainnya. Tidak semua kukang dengan kondisi buruk tersebut bisa bertahan lama, beberapa di antaranya seakan mampir hanya untuk berpamitan, sebelum tindakan medis sempat diberikan.

Selain gigi yang dipotong oleh pedagang, tingginya angka kasus kesehatan kukang besar dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan. Pemberian pakan yang tidak sesuai, kebersihan kandang, hingga interaksi antara pemelihara dan satwa.

Di IAR Indonesia, proses menyembuhkan kukang harus melalui prosedur yang panjang. Semua itu dilakukan agar kukang bebas dari luka maupun penyakit yang mungkin diidap.

Untuk memastikan hal tersebut, selama dua minggu pertama di pusat rehab, kukang akan melalui proses karantina dan juga pemeriksaan. Mulai dari cek fisik, hingga cek laboratorium.

Satu individu kukang menjalani pengecekan fisik dan pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Dengan menggunakan mesin x-ray, pemeriksaan fisik kukang tidak hanya sekedar kasat mata. Kondisi tulang tulang yang bengkok menjadi catatan penting bahwa kukang peliharaan tumbuh dengan perlakuan dan nutrisi buruk. Belum lagi masalah baru yang akhir-akhir ini sering ditemukan, teror senapan angin.

Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut akan ditentukan apakah perlu dilakukan tindakan medis seperti operasi atau lolos menuju tahap berikutnya.

Pemeriksaan laboratorium juga tak kalah pentingnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya penyakit zoonosis yang berpotensi menular kepada manusia atau satwa lainnya. Dalam hal ini uji darah dan tubercolosis harus dilakukan karena kukang peliharaan rentan terpapar penyakit.

Proses pemeriksaan kesehatan di atas hanya bagian dari keseluruhan rangkaian perawatan, yang tentunya membutuhkan biaya besar dan tak sebanding dengan angka perdagangannya.

Menyiapkan pulang ke habitat

Tidak semua kukang memiliki kesempatan untuk bisa kembali ke habitatnya. Kondisi fisik yang cacat menjadi penilaian utama dalam penentuan ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kukang untuk bertahan hidup di alam liar nantinya.

Kukang-kukang tanpa gigi adalah salah satu kondisi yang rentan jika harus dilepasliarkan. Meski secara insting liar, mereka akan kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan predator, ataupun kukang liar di alam. Termasuk pula kemampuan mereka mencari pakan alami yang bersumber dari batang kayu keras.

Bukan itu saja, kukang yang terlalu lama dalam pemeliharaan menunjukkan perilaku abnormal yang sulit untuk dipulihkan. Perubahan perilaku satwa tersebut tentu akan menyulitkan jika ia harus dilepaskan kembali ke alam.

Mengembalikan insting liar satwa tentu tidak mudah. Perlu perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan untuk merangsang kembali insting mereka. Oleh karena itu, pengayaan selama perawatan sangat dibutuhkan agar naluri kukang terdorong ke sifat liarnya.

Aktivitas dan perilaku kukang selama di kandang perawatan perlu dipantau dengan metode ilmiah, sehingga hasil yang didapat menjadi sebuah evaluasi dalam penentuan kelayakan pelepasliaran.

Tak ada standar yang pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan kukang selama direhabilitasi. Ada yang cepat, ada juga yang lama. Semua itu kembali kepada kemampuan individu satwa.

Kini, ada 160 individu kukang yang menjadi bagian perawatan pusat rehab IAR Indonesia. 120 lebih di antaranya akan dirawat hingga akhir hayat. Sisanya menanti harapan terwujud untuk bisa pulang ke habitatnya dan kembali berperan bagi alam.