Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Keberhasilan Rescue Dugong di Perairan Pulau Cempedak, Ini Kisahnya!
Seekor dugong betina yang diberi nama “Fitri” berhasil diselamatkan setelah secara tidak sengaja terjerat jaring nelayan di perairan Pulau Cempedak, Kecamatan Kendawangan Kiri, Kabupaten Ketapang, pada Jumat, 31 Januari 2025.
Penyelamatan ini dilakukan berkat laporan cepat dari seorang nelayan bernama Supardi, yang langsung menginformasikan kejadian tersebut kepada pihak terkait. Respons sigap dari tim gabungan pun memungkinkan proses evakuasi dan penyelamatan berjalan lancar.
Seperti apa kisah penyelamatan mamalia laut ini? Simak cerita lengkapnya berikut!
Nelayan dan Respons Cepat Tim Gabungan
Nelayan dan tim gabungan sedang melakukan diskusi terkait rescue dugong (Yayasan WeBe)
Dugong merupakan salah satu mamalia laut yang dilindungi karena populasinya terus menurun. Ancaman terhadap spesies ini berasal dari berbagai faktor, seperti perburuan liar, kerusakan habitat, dan aktivitas manusia lainnya di laut.
Oleh karena itu, penyelamatan dugong “Fitri” menjadi momen penting dalam mendukung upaya konservasi satwa laut di Indonesia.
Supardi, nelayan yang pertama kali menemukan dugong terjerat jaringnya, segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Laporan ini kemudian ditindaklanjuti oleh tim gabungan yang terdiri atas Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan WeBe Ketapang, Lanal Kendawangan, serta Pokdarwis Cempedak Jaya.
Setibanya di lokasi, tim langsung melakukan proses evakuasi dengan pendekatan yang mengutamakan keselamatan satwa. Dugong yang terjebak jaring berisiko mengalami stres berat (shock) atau luka serius jika tidak segera ditangani secara hati-hati.
Setelah berhasil dibebaskan, “Fitri” kemudian dipindahkan ke area yang lebih aman untuk menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tenaga ahli. Proses ini penting guna memastikan kondisi fisiknya sebelum diputuskan apakah dugong tersebut layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.
Pemeriksaan Kesehatan “Fitri”: Dugong yang Kembali Diselamatkan
Proses rescue dugong dilakukan oleh nelayan, dokter hewan, dan tim gabungan di perairan Pulau Cempedak (Yayasan WeBe)
Untuk memastikan kondisi kesehatan sebelum dikembalikan ke laut, dugong betina bernama “Fitri” menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh dokter hewan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), drh. Fina Fadiah.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Fitri berada dalam kondisi cukup baik dan tidak mengalami cedera serius yang mengancam keselamatannya. Menariknya, dari hasil identifikasi fisik dan pencocokan data, diketahui bahwa ini bukan kali pertama Fitri diselamatkan.
“Berdasarkan pemeriksaan, dugong ini merupakan individu yang pernah kami tangani pada April 2024. Fakta bahwa ia kembali muncul di perairan Pulau Cempedak menunjukkan bahwa kawasan ini masih menjadi habitat penting yang harus terus kita lindungi,” jelas drh. Fina.
Karena tidak ditemukan indikasi penyakit atau cedera yang memerlukan perawatan lanjutan, tim memutuskan bahwa Fitri sudah layak untuk segera dilepasliarkan ke habitat aslinya.
Pelepasan “Fitri”: Upaya dalam Konservasi Dugong
Tim rescue sedang mempersiapkan diri di kapal (Yayasan WeBe)
Setelah dinyatakan dalam kondisi stabil, Fitri dikembalikan ke habitat alaminya pada Sabtu, 1 Februari 2025, pukul 13.00 WIB. Proses pelepasan dilakukan secara hati-hati untuk meminimalkan stres pada satwa tersebut.
Fitri tampak berenang perlahan menjauh dari pantai menuju perairan lepas, menandai keberhasilannya kembali ke lingkungan yang lebih aman.
Pelepasan ini menjadi bukti konkret keberhasilan kolaborasi lintas sektor dalam upaya konservasi mamalia laut yang dilindungi. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cempedak Jaya, Hartono, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan ini.
“Hari ini kami berhasil melepaskan dugong dalam kondisi sehat. Kami sangat berterima kasih kepada YIARI, Yayasan WeBe Ketapang, Lanal Ketapang, serta Penjabat Kepala Desa Kedawang Kiri atas dukungannya. Momen ini sungguh berharga bagi kami,” ujarnya.
Senada dengan itu, Apriliyanto, Bintara Pembina Potensi Maritim (Babinpotmar) Pos TNI AL Kendawangan, turut menyampaikan apresiasi terhadap sinergi antara tim penyelamat dan masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga binaan Kampung Nusantara Pulau Cempedak. Dukungan mereka sangat berperan dalam keberhasilan pelepasan ini,” katanya.
Pelepasan dugong Fitri bukan hanya menandai keberhasilan sebuah misi penyelamatan, tetapi juga menjadi simbol harapan bahwa dengan kerja sama dan kepedulian, pelestarian satwa laut dapat terus diwujudkan. Upaya seperti ini merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia bagi generasi mendatang.
Peran Masyarakat dalam Melindungi Dugong
Penyelamatan dugong “Fitri” menjadi pengingat penting akan urgensi menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan. Dugong merupakan spesies yang dilindungi karena memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem lamun—habitat laut dangkal yang menjadi sumber utama makanannya.
Jika populasi dugong menurun drastis, keseimbangan ekosistem lamun pun akan terganggu, dan hal ini dapat memengaruhi keberlangsungan hidup biota laut lainnya.
Sawalludin, penyuluh perikanan setempat, menekankan pentingnya keterlibatan aktif nelayan dalam upaya pelestarian dugong. Ia mengimbau masyarakat pesisir untuk segera melaporkan apabila menemukan dugong yang terperangkap jaring.
“Kami mengimbau masyarakat agar segera melapor saat menemukan dugong tersangkut jaring. Jika masih hidup, penanganan cepat sangat diperlukan untuk menyelamatkannya. Namun, jika sudah mati, penanganan tetap harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” jelasnya.
Apa yang dilakukan oleh Supardi—nelayan yang dengan sigap melapor saat menemukan dugong terjerat—merupakan contoh nyata dampak positif dari kesadaran dan kepedulian masyarakat. Keterlibatan aktif warga pesisir sangat dibutuhkan agar dugong, sebagai spesies yang rentan punah, tetap bisa hidup dan berkembang biak di habitat alaminya.
Harapan ke Depan untuk Konservasi Dugong
Keberhasilan penyelamatan dugong “Fitri” membuktikan pelestarian spesies laut yang terancam punah masih sangat mungkin dilakukan, asalkan ada kerja sama yang kuat antara masyarakat, organisasi konservasi, dan pemerintah.
Meski begitu, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah minimnya edukasi tentang cara penanganan dugong yang terjebak jaring serta lemahnya perlindungan terhadap habitat alaminya dari aktivitas manusia seperti perusakan lamun dan pencemaran laut.
Kesadaran masyarakat pesisir untuk bertindak cepat saat melihat dugong dalam bahaya menunjukkan masyarakat memegang peranan penting dalam upaya konservasi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen jangka panjang untuk menjaga ekosistem laut, baik melalui pengurangan aktivitas yang merusak lingkungan maupun melalui dukungan terhadap program-program konservasi yang telah dijalankan.
Mari bersama-sama menjaga laut kita, agar tetap menjadi rumah yang aman bagi dugong dan berbagai makhluk hidup lainnya yang bergantung pada kelestarian laut!
Kerja Sama Konservasi Laut Kalimantan Barat: Upaya Bersama Jaga Ekosistem Pesisir
Kerja sama dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Wilayah pesisir dan laut menyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi sumber utama penghidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Sayangnya, tekanan akibat eksploitasi berlebihan, dampak perubahan iklim, serta berbagai aktivitas manusia lainnya semakin mengancam keberlanjutan sumber daya tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pengelolaan yang terpadu, berbasis kolaborasi lintas sektor, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam hal ini, sinergi antara lembaga pemerintah, organisasi konservasi, serta komunitas lokal menjadi elemen kunci untuk memastikan kelestarian lingkungan pesisir dapat terjaga secara berkelanjutan.
Salah satu contoh dari upaya kolaboratif ini adalah penandatanganan perjanjian kerja sama antara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, yang bertujuan untuk memperkuat perlindungan serta pengelolaan sumber daya pesisir secara lebih efektif.
Penandatanganan perjanjian kerja sama dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2025 antara YIARI, BPSPL Pontianak, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, serta Yayasan WeBe Konservasi Ketapang.
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat upaya konservasi lingkungan, mendorong pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta meningkatkan keterlibatan akademisi dan komunitas dalam pelestarian ekosistem pesisir dan perairan di wilayah Kalimantan Barat.
Acara penandatanganan berlangsung dalam format hybrid, yakni menggabungkan kehadiran fisik dan partisipasi daring. Sebagian peserta hadir langsung di kantor BPSPL Pontianak, sementara lainnya mengikuti prosesi melalui platform Zoom Meeting.
Format ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas, mendorong transparansi, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Melalui kerja sama ini, diharapkan akan lahir berbagai program yang berdampak nyata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Tujuan Perjanjian Kerjasama YIARI dengan BPSPL Pontianak
Proses penandatanganan dokumen kerjasama antara YIARI dan BPSPL (BPSPL Pontianak)
Melalui perjanjian ini, keempat lembaga berkomitmen untuk memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di wilayah Kalimantan Barat. Adapun tujuan utama dari kerjasama ini yaitu:
1. Menguatkan Jejaring dan Kolaborasi Efektif
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi menjadi elemen penting dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Melalui perjanjian ini, komunikasi dan koordinasi lintas sektor diharapkan semakin terjalin kuat, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam secara lebih efektif dan terpadu.
2. Mendukung Inisiatif Konservasi Berkelanjutan
Dengan luas wilayah laut sekitar 3,25 juta km², Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Perjanjian ini bertujuan memperkuat berbagai inisiatif konservasi agar dapat berjalan secara berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menjamin keberlanjutan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir dalam jangka panjang.
3. Meningkatkan Pengelolaan Sumber Daya Laut di Kalimantan Barat
Perairan Kalimantan Barat merupakan habitat penting bagi sejumlah spesies langka dan dilindungi, seperti penyu, dugong, serta berbagai jenis ikan karang. Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong penerapan sistem pengelolaan berbasis ilmiah dan adaptif, dengan menekankan praktik yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.
4. Menjaga Kekayaan Alam
Komitmen YIARI dan BPSPL untuk menjaga laut Kalimantan Barat (BPSPL Pontianak)
Ancaman terhadap ekosistem laut, seperti pencemaran, perusakan habitat pesisir, dan aktivitas penangkapan ikan yang merusak, semakin meningkat.
Perjanjian ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut, sehingga generasi mendatang masih dapat menikmati dan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Rencana Implementasi Kerjasama
Agar perjanjian kerja sama ini dapat terlaksana secara efektif dan memberikan dampak nyata, keempat lembaga yang terlibat telah merancang rencana implementasi yang mencakup sejumlah program strategis.
Rencana ini disusun berdasarkan prinsip kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Adapun langkah-langkah utama yang akan dijalankan meliputi:
1. Pelatihan dan Penyuluhan
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dan stakeholder lainnya dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Kegiatan yang akan dilakukan mencakup pelatihan konservasi, penerapan teknik budidaya ramah lingkungan, serta pengenalan praktik perikanan berkelanjutan yang mendukung keseimbangan ekosistem.
2. Penelitian dan Pengembangan
Untuk memastikan setiap langkah konservasi berbasis pada data yang akurat, akan dilakukan serangkaian kajian ilmiah mengenai kondisi ekosistem pesisir dan laut di Kalimantan Barat. Penelitian ini mencakup pemantauan populasi spesies yang dilindungi, identifikasi ancaman terhadap habitat laut, serta penyusunan rekomendasi teknis untuk pengelolaan yang lebih baik.
3. Penguatan Kebijakan dan Regulasi
Dalam upaya memperkuat tata kelola lingkungan, kerja sama ini juga mencakup dukungan terhadap perumusan serta penerapan kebijakan yang berbasis data ilmiah. Selain itu, akan dilakukan pemantauan terhadap pelaksanaan regulasi konservasi untuk memastikan kepatuhan di tingkat lokal maupun regional.
4. Peningkatan Kesadaran Publik
Edukasi masyarakat menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan. Melalui berbagai kegiatan kampanye, sosialisasi, dan penyebaran informasi, program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat luas mengenai pentingnya pelestarian ekosistem laut, serta manfaat pengelolaan sumber daya pesisir secara bijak dan berkelanjutan.
Ekosistem Laut, Tanggung Jawab Bersama
Sinergi antara BPSPL Pontianak, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, YIARI, dan Yayasan WeBe Konservasi Ketapang merupakan langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan kekayaan alam pesisir dan laut.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, pemanfaatan sumber daya laut diharapkan dapat dilakukan secara bijak, tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. Berbagai inisiatif seperti penelitian ilmiah, pendampingan masyarakat, dan penerapan teknologi ramah lingkungan menjadi pilar utama dalam membangun model pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Upaya bersama ini tidak hanya berfokus pada aspek ekologi, tetapi juga menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan demikian, ekosistem laut tetap terjaga, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Selain itu, kegiatan edukasi dan peningkatan kapasitas bagi nelayan serta komunitas lokal menjadi elemen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi berbasis kelautan. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat pesisir yang mandiri, tangguh, dan peduli terhadap pelestarian lingkungan laut.
Featured image: Tim penggagas kerjasama YIARI dan BPSPL demi konservasi laut Kalimantan Barat (BPSPL Pontianak)
Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.
Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭
Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan.
Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.
Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob!
1. Genus Nycticebus (Kukang)
Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)
Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang! Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.
Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢
Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat!
Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.
Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas.
Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.
Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Genus Tarsius (Tarsius)
Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal).
Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil.
Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.
Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭
Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya.
Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman.
3. Genus Macaca (Makaka)
Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎
Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved | iNaturalist)
Macaca nigra (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)
Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.
Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi.
Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya.
Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit.
4. Genus Presbytis (Surili)
Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.
Presbytis percura (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas (Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger (Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)
Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani,Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis.
Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍
Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda.
P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat.
Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).
Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.
Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.
Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.
5. Genus Simias (Simakobu)
Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣
Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas.
Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut.
Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.
6. Genus Pongo (Orangutan)
Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭
Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!
(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Spesies
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orangutan sumatera(Pongo abelii)
Orangutan tapanuli(Pongo tapanuliensis)
Habitat
Hutan Kalimantan
Hutan Sumatra
Hutan Sumatra
Ciri Warna
Warna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.
Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga.
Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantan
Bantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.
Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan.
Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.
Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi.
Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍
Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!
Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8.
Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari
Singkat namun Bermakna, Pengalaman Magang Trio Mahasiswa KSHE IPB melalui Program Merdeka Belajar
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Seneng banget, deh, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) di departemen kami yaitu departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Bagaimana keseruannya? Inilah pengalaman kami bertiga selama magang di YIARI!
HAFIZA RIZKI NURBAITI
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Nama saya Hafiza Rizki Nurbaiti, biasa dipanggil Fiza. Saya mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Pada dasarnya, magang di semester 7 merupakan program MBKM wajib di departemen KSHE, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang tersebut.
Saat stalking media sosialnya YIARI, benak saya langsung berkata “Hah keren banget sosmednya! Pengen deh ngajuin magang di sini!”. Yap! minat dan passion saya memang ada di digital creative, seperti mendesain dan mengedit. Bagaimana YIARI membuat konten kreatif terkait konservasi dan menyampaikan pesan-pesan konservasi di media sosial membuat saya tertarik untuk mempelajari hal tersebut lebih dalam. Alhamdulillah, pada akhirnya, saya dan kedua teman saya yaitu Ayun dan Idon mendapat kesempatan untuk magang di YIARI selama 20 hari.
“Meski singkat, namun bermakna”
Itulah yang saya rasakan selama magang di YIARI.
Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)
Selama magang, saya membuat beberapa desain untuk instagram @iar_indonesia, seperti desain hari besar dan desain hasil kegiatan YIARI yang dikemas secara kreatif dan informatif. Oh ya, saya senang banget karena muka dan suara saya juga bisa debut di instagram @iar_indonesia dari konten reels pengenalan The Power of Mama! Hehe. Selain itu, dalam memperingati Hari Owa Sedunia, saya membuat Filter Instagram sebagai bentuk pembaharuan kampanye konservasi. Filter Instagram tersebut dapat kita temukan dan gunakan di Instagram @gibbonesia, yaitu platfrom kampanye satwa Owa.
Ngomong-ngomong soal Gibbonesia, saat magang saya berkesempatan untuk ikut serta dalam kolaborasi Brotherhood for Nature x Gibbonesia di Lapangan Adiron, Jakarta Selatan. Saya bersama tim kampanye ikut memeriahkan acara peringatan ulang tahun ke-35 Bikers Brotherhood. Dan tahu gak, sih? saya ketemu banyak artis di acara itu!
Hafiza di Acara Peringatan Ulang Tahun ke-35 Bikers Brotherhood (Dok. Pribadi)
Yap! Saya berkesempatan untuk ngajak Chef Juna, Kang Ferry Maryadi, A Eddi Brokoli, dan Kak Bimo Kusumo Yudo untuk kampanye edukasi Owa dengan tag line “Sayangi, Lindungi, Owa”. Tag line tersebut merupakan tema hari Owa Sedunia yang dibuat bersama oleh Gibbonesia, KIARA dan SwaraOwa. Seru banget deh!
Oh ya, meski saya ditempatkan di divisi/program Media and Communication, YIARI juga mempersilahkan saya, Ayun, dan Idon untuk saling bertukar informasi atau bahkan berbagi job desc sehingga kami mendapat kesempatan yang sama untuk belajar di seluruh divisi/program YIARI. Selama magang, banyak hal yang saya pelajari, terutama mengenai cara membuat positive campaign terkait konservasi.
Bagaimana YIARI bekerja dengan pendekatan holistik, membuat pemahaman saya terkait konservasi semakin luas. Ternyata, kita tidak bisa sendirian dalam menghadapi isu konservasi. Kita harus dapat berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menyukseskan upaya konservasi yang kita lakukan. Selebihnya, coba deh kalian explore sendiri dengan magang di YIARI! Semua pengalaman yang kalian dapatkan di YIARI pasti berguna untuk kehidupan selanjutnya.
DWI NUR AYUNI
Saya Dwi Nur Ayuni, biasa dipanggil Ayun. Berkuliah di IPB pada program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan membuat saya terobsesi pada kegiatan turun lapang. Saat semester 7 (tujuh) kemarin, saya beserta teman-teman satu program studi (prodi) berkesempatan melaksanakan magang di berbagai lokasi mitra dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE). Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah lokasi magang yang saya pilih, begitu juga dengan teman-teman saya yakni Hafiza dan Virdhan. Saya sempat merasa minder karena mereka berdua adalah orang hebat di bidangnya yakni content creator dan orang yang terhitung sangat sering turun lapang. Namun biarlah, setiap orang punya masa dan ceritanya sendiri.
Seperti yang semua orang tahu, YIARI adalah lembaga non-profit yang berkomitmen dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui program-programnya, YIARI berupaya memahami tantangan perlindungan primata, membangun kesadaran masyarakat, dan bekerja sama dengan pemerintah serta komunitas lokal untuk melestarikan primata. Hal tersebutlah yang semakin memotivasi saya untuk melaksanakan magang di YIARI. Selama magang di YIARI, saya berkesempatan untuk belajar menjadi bagian dari tim kampanye. Namun, dalam beberapa kesempatan saya juga turut serta mengikuti kegiatan dari program Animal Management dan menjadi bagian dari tim media untuk dokumentasi kegiatan.
Hasil magang Ayun di YIARI (Dok. Pribadi)
Kegiatan-kegiatan ataupun tugas yang saya kerjakan selama periode magang, tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar mengenai konservasi satwa dan habitatnya, akan tetapi saya juga belajar untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya perlindungan satwa-satwa langka dan dilindungi. Selama magang, saya ditugaskan untuk membuat beberapa konten berupa artikel dan trivia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan primata terutama kukang dan owa jawa. Meskipun awalnya sulit bagi saya yang jarang menulis, saya berhasil menulis beberapa artikel yang beberapa diantaranya dijadikan bahan konten trivia. Menurut saya, ini adalah hal baru dimana saya mengetahui bahwa dibalik konten edukasi sederhana, perlu usaha yang ekstra mulai dari pencarian bahan konten, yang mana sebagai pembuat konten harus tau dan paham apa yang disampaikan, hingga pengeditan konten dengan visual yang menarik sehingga pembaca atau audiens mudah memahami isi konten.
Ayun di Acara Peringatan Hari Owa Sedunia 2023 di PPTK Gambung, Kabupaten Bandung (Dok. Pribadi)
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan lapangan dalam mendukung konservasi kukang dan owa jawa. Sebagai orang yang lebih suka berkegiatan di luar ruangan, saya sangat menunggu kesempatan ini dan akhirnya yang ditunggu pun datang. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di lapangan, mulai dari koordinasi hingga pembuatan press release supaya khalayak umum mengetahui apa yang sudah dilaksanakan oleh YIARI untuk menjaga komitmennya dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya.
Suasana kerja yang baik dan dukungan yang diberikan oleh tim dari YIARI membuat pengalaman magang pertama saya menjadi sangat berharga dan menyenangkan. Saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kerja ini dan mendapat banyak sudut pandang baru dari rekan-rekan YIARI yang memiliki dedikasi tinggi untuk melindungi primata dan habitatnya. Dengan pengalaman yang saya dapatkan, saya berharap tidak hanya saya, namun semua orang dapat terus berkontribusi dalam upaya pelestarian alam dan menjadi manusia yang membawa perubahan positif dalam masyarakat.
Terima kasih, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.
VIRDHAN AIMAN HADI
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Saya Virdhan Aiman Hadi, silahkan panggil saya, Idon. Sebagai mahasiswa semester tujuh program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, saya berkewajiban melaksanakan magang. YIARI menjadi tempat yang tanpa ragu, langsung saya pilih. Inilah cerita magangku, tentang konservasi dan orang-orang pekerja keras dibalik suara keras primata yang menggaung di alam bebas.
Aktivitas magang Virdhan (Dok. Pribadi)
Pertama kali lihat ada kesempatan magang disini, saya langsung ambil. Kenapa? Magang di YIARI kalo bagi saya tuh “One of a kind..” banget. Dari pertama kuliah, belajar tentang konservasi, salah satu lembaga non pemerintah yang buat saya tertarik ya YIARI ini. Awalnya sih, karena suka belajar primata dan YIARI juga berfokus pada primata, tapi makin kesini makin kesana, kok YIARI ini keren juga. Dari visinya “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat”, kita bisa lihat bahwa YIARI tidak hanya berfokus untuk menyelamatkan satwa tetapi lebih dari itu, masyarakat pun harus terlibat.
Berangkat dengan ketertarikan dan minat yang tinggi pada dunia konservasi satwa liar dan sistem informasi geografis, saya sangat menikmati seluruh aktivitas yang telah dilakukan selama magang. Ditempatkan pada Divisi Resiliensi Habitat, saya mendapatkan banyak insight baru tentang upaya konservasi. Salah satunya adalah bahwa untuk menjaga keberlanjutan hidup satwa liar, pendekatan terhadap masyarakat di sekitar kawasan sebegitu pentingnya dan itulah yang dilakukan YIARI. Terbukti dari program yang dilakukan seperti pelatihan SMART Patrol, Community Development, dan juga penyadartahuan kepada masyarakat.
Duduk di kantor, memandang laptop, sambil nyeruput kopi, itu kegiatan saya waktu magang, waktu pura-pura jadi pegawai tetap. Mimpi dulu aja sih. Nah, Sebenernya, ngapain sih selama magang? kegiatan saya selama magang secara mudahnya berfokus pada tiga hal. Diawali dengan mengolah data SMART Patrol, analisis tutupan lahan dengan sistem informasi geografis, hingga mengikuti patroli di kawasan Resor Gunung Bodas Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kegiatan yang ketiga, merupakan pengalaman paling berkesan buat saya.
Kegiatan patroli di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Dok. Pribadi)
Selama mengikuti patroli, saya jadi punya banyak kesempatan untuk berbincang dengan Tim YIARI yang ikut. Selama disana, saya jadi “anak bawang” Kang Gepeng, Kang Kojek, Kang Marko, Kang Uling dan Mang Nedi. Meskipun “anak bawang”, mereka tidak sungkan untuk mengajak, mengajarkan dan membantu saya selama melaksanakan patroli. Pengalaman paling berkesan selama patroli adalah tidak hanya menjadi duet maut pengambil data bersama Kang Kojek, tetapi banyak pengalaman seru lain seperti melihat elang jawa dari dekat, mendaki gunung melewati lembah, sampai menikmati hari dari kering, hujan, hingga kering lagi. Pokoknya kalo kata anak jaksel, patrolinya tuh “It’s a wrapped.” Jadi, magang di YIARI itu seru, asik, dan insightful!
Semua keseruan saya selama magang menuntun saya untuk belajar bekerja keras. Karena selama disana, saya dipertemukan dengan banyak orang yang mulai dari nol (bukan SPBU) hingga benar-benar paham dan pandai sama pekerjaannya. Dari warga lokal biasa, sampai jadi Local Hero! Disini, teori-teori kuliah yang saya dapat di kelas tentang memberdayakan masyarakat benar-benar jadi bahan bakar untuk konservasi yang berkelanjutan. Keterlibatan multipihak, benar benar memiliki arti. Lebih dari sekadar motivasi, konservasi juga butuh dedikasi. Bukan waktunya basa basi, saatnya beraksi untuk konservasi. Semoga manusia dapat hidup berdampingan dengan satwa, living peacefully in harmony.
Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!
Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯
Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita!
Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.
Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!
1. Kehebatan si Petani Hutan
Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob?
Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru.
Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi.
Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏
Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan.
Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh.
Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂
2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan
Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga.
Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)
Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.
Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba.
Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya.
Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎
3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba
Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯
Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)
Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.
Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁
Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.
Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.
Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
Romdhoni H, Komala R, Sigaud M, Nekaris KAI, Sedayu A. 2018. Studi pakan kukang jawa (Nycticebus javanicus Goeffroy, 1812) di Talun Desa Cipaganti, Garut, Jawa Barat. Journal of Biology. 11(1): 9-15.
Penyelamatan Lutung Jawa di Bogor, Jawa Barat: Diduga eks Peliharaan
Pada 23 Januari 2024, tim gabungan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Bidang KSDA Wilayah I Bogor dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi melakukan penyelamatan satwa lutung jawa (Trachypithecus auratus). Satwa ini adalah satwa endemik di Pulau Jawa dan dilindungi oleh Pemerintah. Satwa ini juga merupakan satwa langka yang masuk ke dalam daftar satwa terancam punah oleh Redlist IUCN.
Secara kronologis, tim BBKSDA Jawa Barat menerima aduan masyarakat melalui grup WhatsApp Quickresponse Tindak Satwa Liar (TSL) lingkup Bogor pada 22 Januari 2024. Selanjutnya tim berkoordinasi dan berkolaborasi dengan YIARI dalam melakukan evakuasi lutung untuk penyelamatan dan pengamanan satwa di Kotabatu, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dari hasil pemeriksaan awal, lutung jawa ini diperkirakan masih berusia remaja. Lalu, ditemukan pula seutas tali ditemukan masih terikat di pinggangnya. Berdasarkan analisa tim, dari lokasi temuan, usia sang lutung, dan tali yang terikat mengindikasikan bahwa si lutung berasal dari perdagangan dan pemeliharaan ilegal. Biasanya, anakan lutung diburu dari alam, di mana indukannya pasti dibunuh terlebih dulu. Lutung ini kemudian diamankan di kandang translokasi Bidang KSDA Wilayah I untuk ditangani lebih lanjut pada 24 Januari 2024.
Proses pemeriksaan awal lutung jawa oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh Kang Ahong sebagai perawat satwa (Fattreza Ihsan | YIARI)
Meri Juanda, Polisi Kehutanan Mahir BBKSDA Jawa Barat Lingkup Seksi Konservasi Wilayah menyatakan bahwa satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 ini akan dibawa ke kantor bidang terlebih dahulu sebelum dipindah ke pusat rehabilitasi yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap dalam menangani lutung jawa. Beliau juga menyatakan apresiasi kepada masyarakat yang telah melaporkan temuan satwa dilindungi ini kepada stakeholder terkait. “Terima kasih kepada masyarakat semua yang sudah melaporkan satwa dilindungi ini ke Quick Response kami (BBKSDA Jawa Barat). Kami mengapresiasi masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya pelestarian satwa,” ujarnya.
Kegiatan rescue ini dipimpin oleh Imam Arifin, Koordinator Animal Management YIARI sekaligus Dokter Hewan YIARI. Ia memutuskan untuk membius lutung jawa ini supaya proses evakuasi berjalan cepat dan tidak membuat satwa stress lebih lanjut. “Kondisinya (lutung jawa) bagus, ya, Ketika diperiksa pasca pembiusan. Body score condition dari satwa ini juga lumayan optimal. Hanya terdapat ektoparasit seperti kutu sehingga lutung jawa ini juga diberi obat ketika pemeriksaan kesehatan,” ujarnya pasca ia selesai memeriksa sang lutung.
Kondisi lutung sebelum dibawa dan ditindaklanjuti oleh BBKSDA Jawa Barat (Fattreza Ihsan | YIARI)
Lutung ini ditemukan di belakang rumah salah seorang warga di Kotabatu, Ciomas, Bogor, Jawa Barat yang bernama Selpia. Ia menyatakan bahwa lutung ini sudah dua hari berada di pekarangan rumahnya. Ia berinisiatif untuk melaporkan lutung ini ke BBKSDA Jawa Barat dan YIARI setelah mengetahui bahwa lutung jawa adalah satwa dilindungi. “Sepupu saya bilang bahwa lutung adalah satwa yang dilindungi, jadi jangan sembarangan dihampiri. Lalu berdasarkan saran darinya, lutung jawa ini saya laporkan ke pihak yang berwenang,” ujarnya ketika diwawancarai.
.
Mengantar 7 Kukang Jawa ke Gunung Koneng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, mengawali tahun 2024 ini dengan melepasliarkan 7 (tujuh) individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi. Satwa ini termasuk ke dalam satwa dilindungi menurut PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018. Kegiatan kepasliar ini dilakukan hari Jumat, 19 Januari 2024 di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, Balai Taman Nasional Gunung Halimun–Salak, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.
Tujuh kukang jawa yang akan dilepasliarkan ini terdiri dari enam individu kukang jantan bernama Paw-paw, Klap, Kilat, Teru, Ciban, Cibon, serta satu kukang betina bernama Ciben. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat, serta Balai KSDA Yogyakarta. Selain itu, terdapat pula Kukang yang merupakan serahan warga melalui pusat penyelamatan satwa, yang kemudian dititip rawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk menjalani penanganan medis dan proses rehabilitasi sebelum dikembalikan lagi ke habitat aslinya.
Lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan informasi sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Kawasan Resort PTN Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi PTNW III Sukabumi–TNGHS merupakan area pelepasliaran yang sesuai, karena merupakan bagian habitat sebaran kukang jawa. Pertimbangan utama dalam menentukan lokasi rilis adalah daerah yang relatif jauh dari pemukiman, relatif aman dari perburuan atau gangguan, serta terdapat ketersediaan pakan. Lokasi tersebut juga dinilai sesuai berdasarkan kajian kesesuaian habitat pelepasliaran satwa yang dilakukan oleh TNGHS.
Melewati tebing-tebing terjal, tim gabungan pelepasliaran membawa para kukang jawa dalam kandang transport. (Fattreza Ihsan | YIARI)
Kawasan TNGHS dinilai memiliki ketersediaan pakan potensial Kukang yang melimpah, diantaranya terdapat tumbuhan Puspa (Schima wallichii), Bubuay (Plectocomia elongata), Suwangkung (Caryota rumphiana), Rotan (Calamus sp.), serta tumbuhan herba dan pancang lainnya. Terdapat juga jenis-jenis serangga, reptil dan burung kecil seperti kutilang yang juga merupakan pakan kukang.
Populasi kukang jawa jarang dijumpai di kawasan ini sehingga tingkat kompetisi para kukang yang akan dilepasliarkan untuk mencari makanan menjadi rendah. Dengan tingkat ancaman dan gangguan yang dinilai rendah, juga kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal berbatasan dengan kawasan tersebut sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga satwa liar, menjadikan kawasan memenuhi semua syarat dan cocok untuk menjadi lokasi pelepasliaran. Titik pelepasliaran yang berada di TNGHS ini berjarak sekitar 124 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil selama 4 jam, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.
Tahapan pra-translokasi dan pelepasliaran dilakukan dengan membangun kandang habituasi terlebih dahulu, yang terbuat dari jaring dan bambu dengan luas sekitar 18 m2, sebanyak kurang lebih 5 unit. Kandang habituasi berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama 4-5 hari di dalam kawasan TNGHS. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI mengamati perilaku dan kesehatan seluruh kukang tersebut. Apabila dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.
Manajer Animal Management selaku Dokter Hewan YIARI, drh. Nur Purba Priambada mengantar Teru ke kandang habituasinya. Teru adalah kukang jawa yang berasal dari serahan warga ke BBKSDA Jawa Barat tahun 2023 silam. (Fattreza Ihsan | YIARI)
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan, “Kami mengapresiasi hasil kerja bersama antara Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI, serta Balai TNGHS. Kami sangat berbahagia karena dapat mengawali tahun 2024 ini dengan memulai kembali rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, melepas liar 7 (tujuh) individu kukang, satwa liar paling banyak yang diselamatkan dan dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI. Kami berharap momen ini menjadi momentum penambah erat ikatan kebersamaan dan penambah semangat melestarikan satwa liar dilindungi, perlu diingat bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, kebahagiaan hidupnya berada di tengah hutan bukan di tengah rumah anda, apalagi di kandang peliharaan.”
Ir.Irzal Azhar, M.Si, selaku kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengapresiasi kerjasama multipihak dalam upaya konservasi biodiversitas. “Kami memberikan apresiasi kepada YIARI dan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang telah bekerjasama dengan kami dalam konservasi biodiversitas di TNGHS, khususnya pelestarian kukang jawa melalui upaya rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dengan kegiatan ini kami berharap keseimbangan populasi kukang jawa khususnya dan ekosistem TNGHS secara keseluruhan dapat dipertahankan sehingga kawasan TNGHS tetap dapat memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan.”
Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak atas kerjasamanya pada kegiatan pelepasliaran ini. Semoga kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam upaya konservasi satwa liar, terutama kukang bisa terus terjaga, bahkan meningkat. Semoga kesadaran semua pihak dalam melindungi hutan sebagai rumah satwa-satwa liar juga terus meningkat. Hal ini tentunya untuk mewujudkan kelestarian satwa liar agar dapat terus hidup dengan aman di habitat alaminya.”
.
Penemuan Satwa Langka Kambing-hutan Sumatera di Hutan Lindung Batutegi, Lampung
Kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) merupakan satwa langka yang tersebar di Semenanjung Malaka yang meliputi Malaysia dan Thailand, juga Indonesia. Pada 14 Agustus 2023, di Blok Inti KPH Batutegi, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Tercatat bahwa kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh KPH Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia telah menangkap satwa langka ini. Hal ini menambah jumlah temuan satwa eksotis ini menjadi total 3 kali selama pemasangan kamera jebak di tahun 2022-2023. Sebelumnya tim gabungan menemukan spesies kambing-hutan ini pada 14 Juli 2022 dan 4 November 2022.
Kambing-hutan sumatera yang teramati pada 14 Agustus 2023 (Tanggal pada foto tidak sesuai) (YIARI)
Satwa yang termasuk kategori rentan (vulnerable) dalam Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Uni Internasional untuk Konservasi alam ini bisa hidup pada ketinggian 200 hingga 3000 mdpl, hutan hujan, semak-semak, daerah bebatuan, hingga puncak pegunungan. Di Hutan Lindung Batutegi sendiri, spesies kambing ini ditemukan pada ketinggian 1400 sampai 1700 mdpl di ekosistem hutan bervegetasi rapat serta hutan primer.
Kambing-hutan sumatera berstatus dilindungi sebagaimana dalam PP No.7 Tahun 1999 dan Permenlhk 106/2018. Jenis satwa ini juga masuk ke dalam Appendiks I CITES yang menandakan bahwa spesies ini dilarang untuk diperdagangkan di kancah internasional. Selain perdagangan dan perburuan satwa liar, satwa liar ini juga terancam oleh perambahan hutan.
Manajer Senior Resilensi Habitat YIARI Robithotul Huda menyatakan bahwa keberadaan biodiversitas, termasuk kambing-hutan sumatera ini adalah penanda hal baik bagi ekosistem alami di Provinsi Lampung. “Keberadaan biodiversitas disana adalah salah satu indikator bahwa kesehatan hutan dan keamanan kawasan hutan masih terjaga dengan sangat baik. Dengan intervensi yang dilakukan oleh tim dari KPH Batutegi dan YIARI seperti patroli kawasan, pendampingan masyarakat, dan edukasi ke seluruh lapisan masyarakat, keasrian hutan dapat kita pertahankan.” Jelasnya.
Upaya konservasi spesies kambing ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal ini dapat dicapai dengan kolaborasi antar pihak dalam perlindungan habitat, pencegahan ancaman bagi biodiversitas, hingga edukasi bagi masyarakat supaya semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan tergerak untuk turut melindungi satwa langka ini.
6 Fakta Julang Emas, Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga
Sobat #KonservasYIARI tau gak Indonesia memiliki total spesies burung yang kaya banget, totalnya sebanyak 1826 spesies! Salah satunya adalah julang emas, yang sebarannya luas banget. Wilayah sebarannya meliputi Butan Selatan, India Timur, Cina Barat Daya, Asia Tenggara dan Semenanjung Malaysia. Di Indonesia sendiri, julang emas tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, juga termasuk beberapa pulau lepas pantai.
Mereka umumnya hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 2.000 m. Namun jangan salah, Ia gak pernah asal pilih hutan untuk dijadikan habitatnya loh. Julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat karena membutuhkan area hutan yang luas dan terjaga.
Selain fakta tersebut, masih ada beberapa fakta lain burung dengan nama ilmiah Rhyticeros undulatus ini, yuk simak Sob!
1. Satu Keluarga dengan Rangkong
Yoi Sob, Julang emas termasuk dalam famili Bucerotidae, seperti rangkong, enggang, julang, dan kangkareng. Semua jenis burung tersebut dalam bahasa inggris biasa disebut dengan Hornbill. Burung-burung pada famili ini dikenal memiliki
Nama ilmiah ‘Buceros’ dalam bahasa Yunani memiliki arti tanduk sapi, yang merujuk pada bentuk paruhnya. Burung-burung pada famili ini memiliki paruh seperti tanduk sapi yang berwarna terang.
2. Merupakan Satwa Dimorfik
Julang emas jantan(Bobby Muhidin | YIARI)
Julang emas betina (Bobby Muhidin | YIARI)
Julang emas merupakan satwa termasuk dimorfik, yaitu satwa yang dengan penampakan berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan jenis kelamin dari burung ini dapat dilihat dari warna temboloknya, warna kepala, dan warna bulu pada tengkuk.
Tembolok (gular skin) adalah kantong leher burung yang bisa digunakan untuk menyimpan makanan. Warna tembolok julang emas jantan umumnya berwarna kuning terang dengan garis hitam, sedangkan tembolok betina berwarna biru. Warna kepala jantan julang emas krem dengan bulu kemerahan bergantung dari tengkuk, sedangkan kepala dan tengkuk betina berwarna hitam.
3. Betina Menjaga dan Membesarkan Anak dari Lubang Sarang
Tau gak sih kalau burung-burung dari famili Bucerotidae ini memiliki sistem bertelur yang unik, Sob? Mereka membutuhkan lubang pohon alami sebagai tempat tinggal sementara individu betina, sekaligus untuk melindungi ia dan anaknya dari predator. Ia akan berada dalam sarang ini selama masa bertelur, hingga sang anak dinilai siap untuk belajar terbang.
Nah, lubang alami pada pohon tersebut kemudian ditutup menggunakan tanah, lumpur, kotoran dan sisa makanan, sampai besar lubang tersebut hanya sebesar paruh mereka aja. Lubang tersebut akan digunakan sebagai jalur jantan menyuapi betina dengan makanan yang sudah ia kumpulkan dari hutan, juga sebagai pintu mengeluarkan kotoran atau fesesnya.
Dengan jumlah telur yang biasanya berjumlah 2 butir, biasanya hanya satu anak burung yang selamat sampai dewasa. Spesies ini menghabiskan waktu bersarang sekitar 111-137 hari, dengan masa persiapan dan bertelur 13-14 hari, lalu masa pengeraman telur 40 hari dan masa perawatan anak burung 90 hari. Jadi dalam waktu tersebut, sang ibu harus tetap berada dalam sarang tersebut, loh! Luar biasa ya perjuangan sang Ibu!
4. Setia! Sang Jantan akan Memberi Makan Betina Selama Masa Bertelur
Julang emas jantan sedang memberi pakan pada sang betina yang berada di dalam lubang sarang (Aris Subagio | YIARI)
Selain karena monogami, spesies ini juga dikenal setia karena selama masa bertelur, sang jantan lah yang memiliki tugas penting untuk mencari pakan. Gak cuma untuk dirinya sendiri loh, tapi juga untuk sang betina di sarang, sweet banget ya. Makanan utama burung ini adalah buah-buahan seperti buah ficus. Selain itu burung ini juga akan memakan satwa kecil seperti serangga, kadal, katak, dan beberapa satwa kecil lain untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.
Julang emas jantan akan menyimpan pakan pada temboloknya, yang kemudian akan dikeluarkan satu per satu pakan dari dalam temboloknya ke ujung paruh. Ia kemudian memosisikan paruhnya untuk menyuapi sang betina.
Ketika sedang tidak dalam masa bertelur, julang emas akan terbang bersama pasangannya, atau dalam kelompok kecil. Mereka terbang dengan kepakan sayap yang berat dan suara keras.
5. Rentan Punah
1826 spesies burung di Indonesia pada 2023, menunjukkan peningkatan 11 spesies dari tahun sebelumnya. Namun juga menunjukkan pengurangan tiga spesies juga, Sob😞. Ternyata masih ada ancaman terhadap kelestarian burung Indonesia ya.
Kini julang emas Memiliki Status Konservasi Vulnerable atau rentan punah.Hilangnya luasan hutan karena kebakaran hutan, maupun perambahan wilayah hutan menjadi ancaman hilangnya habitat julang emas ini. Ia juga terancam dari perburuan liar karena bentuk paruhnya yang unik. Sedangkan dari cerita diatas, coba bayangkan deh apa yang akan terjadi kalau sang jantan diburu. Otomatis dengan memburu satu julang jantan sama dengan membunuh seluruh keluarga julang, kan? 😭
YIARI rutin melakukan pendataan keanekaragaman hayati satwa dan tumbuhan di beberapa lokasi, salah satunya ialah Hutan Lindung Batutegi. Fungsi pendataan kehati ini adalah untuk melihat potensi kawasan dan kesesuaian kawasan tersebut untuk habitat atau kehidupan satwa liar.
Pendataan jenis burung di kawasan HL Batutegi sendiri telah dilakukan sejak tahun 2009, namun kegiatan ini belum dilaksanakan secara rutin. Survey keragaman satwa mulai dilakukan secara khusus dengan membuat jalur-jalur pengamatan di blok inti kawasan HL Batutegi pada akhir tahun 2016.
Berdasarkan kompilasi data yang telah dilakukan dari 2009 hingga 2021, jumlah jenis burung di kawasan HL Batutegi telah mencapai 245 jenis yang tergabung ke dalam 61 famili. Salah satu spesies yang ditemukan ialah burung langka dan terancam punah ini, julang emas.
6. Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga
Jadi tahu kan Sob, untuk bisa berkembangbiak, julang emas membutuhkan pohon yang besar dan tinggi dengan lubang alami. Pohon dengan karakteristik ini tentunya hanya bisa ditemukan pada area hutan yang luas dan terjaga dong? Karena itu, julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat hutan.
Perkembangbiakan julang emas di wilayah HL Batutegi menunjukkan bahwa kondisi hutan di KPH Batutegi sehat, luas, aman, dan terjaga. Wilayah ini bisa menjadi habitat yang baik bagi sang julang emas tentunya karena peran KPH Batutegi, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan YIARI, yang senantiasa melakukan patroli hutan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam di dalamnya!
Faktanya, hutan juga membutuhkan spesies ini untuk dapat lestari, loh! Dengan daya jelajahnya yang luas, ia dapat membantu penyebaran berbagai benih tumbuhan. Regenerasi vegetasi hutan dapat terjadi secara alami melalui benih tumbuhan sisa makanan atau yang terkandung pada fesesnya.
Semoga kita semua makin sadar akan pentingnya peran julang emas untuk hutan. Satwa cantik dengan suara unik ini seharusnya tetap lestari bebas di hutan ‘kan, bukan di dalam kandang? 🐦🌳
Kemp AC, Boesman PFD. 2020. Wreathed Hornbill (Rhyticeros undulatus). In del Hoyo J; Elliott A; Sargatal J & Christie DA. (eds.). Handbook of the Birds of the World. Vol. Volume 6: Mousebirds to Hornbills. Barcelona: Lynx Edicions. ISBN 978-8487334306.
Robithotul Huda. 2022. Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batutegi, Lampung. Menyingkap Keragaman Burung di Hutan Lindung Batutegi. YIARI (ID): Bogor.