Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Komunitas Power of Mama: Satu Tahun Berkarya bagi Lingkungan
Gak kerasa loh, udah setahun aja ibu-ibu super dari Kabupaten Ketapang ini membantu mengamankan lingkungan dari berbagai ancaman kerusakan alam. Iya nih Sob, ibu-ibu tangguh yang tergabung dalam Komunitas The Power of Mama ini baru aja memperingati satu tahun umurnya yang pertama banget. The Power of Mama ini bukan geng-gengan superhero ala-ala, tapi lebih keren lagi karena mereka adalah ibu-ibu keren yang berhasil jadi pahlawan lingkungan!
Komunitas ini terbentuk tanggal 8 Juni 2022, dan baru-baru ini tanggal 16 Juni 2023 kemarin mereka ngadain acara ultah sekaligus pelatihan dan pengesahan anggota baru. Lahir tanggal 8 Juni kok malah milih tanggal 16 Juni buat merayakan? Nah, sebenernya gampang aja, soalnya pas tanggal itu juga ada pelatihan dasar dan pengesahan buat dua desa yang baru gabung. Kedua desa itu adalah Desa Kuala Tolak dan Desa Sungai Putri di Kecamatan Matan Hilir Selatan. Dua desa ini bikin tambah meriah komunitas TPOM dengan nambahin 32 anggota baru. Sebelumnya anggota TPoM ini terdiri 56 orang anggota dari 4 desa, yakni Desa Pematang Gadung, Desa Sungai Besar di Kecamatan Matan Hilir Selatan, juga Desa Sungai Awan Kiri dan Desa Sukamaju di Kecamatan Delta Pawan.
Foto bersama dalam momen perayaan satu tahun The Power of Mama (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
Semua anggota lama juga hadir untuk mendapatkan penyegaran materi dan peningkatan kapasitas. Mereka juga berbagi cerita soal aksi-aksi mereka, baik yang di lapangan maupun pertemuan-pertemuan dengan pihak lain. Wah, makin akrab aja kayaknya mereka! Jadi, total mereka sekarang udah jadi 88 orang nih, semakin banyak semakin asyik kan?
Nah, kalian pasti pada mikir, apa aja sih yang sudah mereka lakuin selama setahun ini? Cekidot deh, mereka ini tipe-tipe ibu-ibu yang nggak main-main, bawaannya aksi terus. Ngebentuk barisan patroli, ngelawan kobaran api, dan gak pernah capek buat melakukan sosialisasi cara menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Mulai dari area Matan Hilir Utara, Muara PAwan, sampai Matan Hilir Selatan.
Selain itu, mereka juga nggak ketinggalan terjun langsung dalam pertanian dan ngebantu ngajarin masyarakat soal mangrove. Gak cuma itu, mereka juga jadi guru kece nih buat anak-anak, berbagi cerita dan pengetahuan tentang betapa pentingnya jagain lingkungan biar kehidupan kita semua tetap happy, termasuk manusia, satwa, dan alam sekitarnya.
Seru ya, teman-teman? Ini baru satu tahun aja udah banyak banget yang mereka lakuin. Apalagi ini bukan cuma cuap-cuap doang, tapi aksi nyata untuk membantu menjaga lingkungan. Jadi gak sabar lihat aksi mereka ke depannya kayak apa. Pasti lebih keren lagi dengan tambahan anggotanya itu.
Atensi yang muncul dari aksi para mama-mama super ini gak cuma datang dari Kabupaten Ketapang aja lho. Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dapil Kalimantan Barat, Pak Daniel Johan bahkan sengaja mengunjungi ibu-ibu ini di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Senin, 19 Juni 2023, gak lama setelah acara ulangtahun mereka. Gak cuma kunjungan dan ngobrol-ngobrol aja, Pak DJ (Daniel Johan maksudnya) ini juga menyatakan apresiasi dan dukungannya.
Kunjungan Pak Daniel Johan ke Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren pada 19 Juni 2023 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
“Saya mendukung apa yang dilakukan YIARI bersama masyarakat karena ancaman terbesar Indonesia, ancaman terbesar dunia saat ini, selain krisis pangan adalah bencana alam sehingga segala upaya yang bisa kita lakukan untuk mengkonservasi, menjaga, merehabilitasi, melindungi, memberikan dukungan terhadap kekuatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi sangat penting. YIARI bersama masyarakat sudah melakukan seluruh proses itu, cukup lama sehingga perannya menjadi sangat penting untuk kelestarian alam, pelestarian lingkungan,” ujar Pak Daniel.
Beliau juga menegaskan perlunya upaya-upaya nyata berkolaborasi dan berkomitmen dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menjaga alam. “Memastikan sumber-sumber daya hayati itu terjaga dengan baik, adalah bagian dari komitmen untuk mendukung dan menjaga Indonesia agar bencana tidak menjadi ancaman yang semakin serius untuk Indonesia, untuk bumi, dan manusia. Sehingga bukan hanya dalam konservasi, tetapi kita juga mengapresiasi YIARI dalam memberikan penguatan kepada masyarakat di bidang pertanian, di bidang nelayan, perhutanan sosial, hutan adat, dan perekonomian masyarakat. Semua upaya ini perlu kita dukung demi masa depan Indonesia, demi masa depan dunia, dan demi kelangsungan hidup manusia,” ujarnya menambahkan.
Keren banget ya? Wakil rakyat dari Senayan aja sampai dateng lho buat menyampaikan dukungannya ke ibu-ibu di Ketapang ini. Kita bisa belajar banyak nih dari Power of Mama, kalau ada niat dan semangat, nggak ada yang nggak mungkin. Jadi, jangan pernah meremehkan potensi diri kita sendiri untuk berbuat baik bagi lingkungan dan sesama, kayak ibu-ibu hebat di TPOM ini!
Heribertus Suciadi
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Yayasan IAR Indonesia Bentuk Komunitas The Power of Mama Sebuah Gerakan Perempuan untuk Pelestarian Alam
Pentingnya peran perempuan dalam pelestarian alam di masyarakat, mendorong Yayasan IAR Indonesia (YIARI) membentuk The Power of Mama, sebuah komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang Kalimantan Barat. Komunitas ini memiliki kegiatan dengan tujuan untuk menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat di desa tempat mereka tinggal untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal.
Kemunculan komunitas ini berangkat dari kehadiran dua tokoh perempuan di dua desa di Ketapang, yaitu Bu Siti dan Bu Maimun yang selama beberapa waktu berinisiatif melakukan sejumlah kegiatan lingkungan di antaranya pertanian organik dan berkeliling desa untuk mengecek kondisi alam di sekitar mereka terutama dari risiko kebakaran. Inisiatif dari kedua ibu inilah yang kemudian mendorong YIARI untuk membentuk komunitas The Power of Mama yang terdiri dari para perempuan usia 25 tahun hingga 50-an tahun yang tinggal di empat desa di wilayah Ketapang, Kalbar, yaitu Desa Pematang Gadung, Sungai Besar, Sukamaju, dan Sungai Awan Kiri.
Para Mama anggota The Power of Mama memanfaatkan lahan kosong di desa untuk ditanam tanaman yang bernilai ekonomis bagi warga, seperti cabe dan tebu (Ade Dwi Putra | YIARI)
Adapun aktivitas kegiatan The Power of Mama ini akan banyak menekankan pada peningkatan kemampuan dan kapasitas mereka sebagai perempuan yang diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam memberikan perubahan positif bagi lingkungannya. “Dengan berbagai pelatihan yang kami kembangkan untuk mereka, kami berharap para ibu ini memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan yang penting dalam merawat dan menjaga lingkungan alam di desanya. Salah satunya adalah pembekalan dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Wendi Tamariska, Manager Community Development YIARI. Dengan kegiatan ini, harapannya para anggota The Power of Mama dapat memberikan contoh yang baik serta pelopor kegiatan lingkungan hidup di lingkungan mereka.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ibu-ibu ini, terutama Bu Siti dan Bu Maimun dalam menjaga lingkungannya. Komunitas The Power of Mama ini adalah inisiatif mandiri mereka, dan YIARI berperan untuk memfasilitasi dan merealisasikannya. Dengan kehadiran The Power of Mama, kami yakin bahwa desa-desa tempat mereka tinggal akan menjadi desa percontohan yang tidak hanya berhasil dalam menjaga lingkungan, tapi juga menampilkan kekuatan perempuan sebagai bagian terpenting dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program YIARI.
Kebakaran di lahan gambut adalah salah satu ancaman bagi warga di kala cuaca panas dan terik. Oleh karena itu The Power of Mama menjadi pelapor pertama dan pembantu umum apabila terdapat kebakaran lahan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Untuk menjadi anggota The Power of Mama, tidak ada syarat khusus yang diberlakukan. “Siapa pun perempuan yang tertarik bisa bergabung dan nantinya YIARI memberikan bantuan berupa fasilitas patroli seperti kendaraan kendaraan bermotor dan perlengkapan keamanan, pembekalan untuk para anggota berupa pengetahuan umum tentang instansi terkait bencana, keanekaragaman hayati, dampak bencana kebakaran hingga pelatihan pemadaman kebakaran hutan dan lahan,” ujar Argitoe Ranting, Kepala Program YIARI.
The Power of Mama yang didirikan pada 6 Juni 2022, saat ini telah memiliki 46 anggota dari empat desa. Kegiatan yang saat ini mereka lakukan adalah patroli dan monitoring kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.
Tentang Yayasan IAR Indonesia (YIARI)
Yayasan IAR Indonesia adalah sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi primata di Indonesia berbasis penyelamatan, pemulihan, rilis, dan pemantauan pasca-rilis. YIARI juga berkomitmen untuk melindungi primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kolaborasi multi-stakeholder untuk menciptakan ekosistem yang harmonis antara habitat, hewan, dan manusia. YIARI saat ini memiliki dua pusat rehabilitasi satwa yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat dan Bogor, Jawa Barat.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Aksi Kolaborasi Tanam 40 Bibit Pohon di Sungai Deras, Kalimantan Barat di Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Sobat #KonservasYIARI merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 05 Juni 2023 kemarin dengan ngapain nih? Kalau kami merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia melalui kegiatan restorasi ekosistem di Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) dengan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Ketapang Selatan.
Penyerahan bibit ubah secara simbolis ketika pembukaan acara (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Upaya restorasi ekosistem ini dilakukan melalui kegiatan penanaman dengan tema “Solusi untuk Polusi Plastik demi FOLU Net Sink 2030”. Sekitar 50 orang dari berbagai pihak hadir ada kegiatan ini. Pihak-pihak tersebut diantaranya ialah Kodim 1203 Ketapang, Polres Ketapang, Danlanal (Komandan Pangkalan TNI AL), Kejari (Kejaksaan Negeri) Ketapang, Dishub (Dinas Perhubungan) Ketapang, Disdik (Dinas Pendidikan Ketapang), PolPP Ketapang, Perkim LH (Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup) Ketapang, BKSDA Kalbar SKW 1 Ketapang, Mitra Pembangunan Ketapang, Balai Tanagupa (Taman Nasional Gunung Palung), BPDAS Kapuas, KPH Ketapang Selatan, KPH Ketapang Utara, MPK (Mohairson Pawan Khatulistiwa), Yasayan WeBe, Tropenbos Indonesia, Manggala Agni Kalimantan X / Ketapang, Politap (Politeknik Negeri Ketapang), Kecamatan MHS (Matan Hilir Selatan), Ikahut Untan (Ikatan Alumni Kehutanan Universitas Tanjungpura), Distanakbun (Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan) Ketapang, SMPN 7 Matan Hilir Selatan, SMKN 1 Matan Hilir Selatan, Perangkat Desa Pematang Gadung, LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) Pematang Gadung.
Semua undangan kegiatan menggunakan alat perlindungan lengkap sebelum melakukan perjalanan melalui aliran air Sungai Deras (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
Acara seremonial pembukaan kegiatan ini dilakukan di dermaga Desa Pematang Gadung. Selanjutnya para peserta mengikuti kegiatan penanaman di areal penanaman berlokasi di area Restorasi Sungai Deras, Hutan Desa Pematang Gadung yang berjarak 30 menit dari lokasi pembukaan. Perjalanan menuju areal penanaman ditempuh dengan mengarungi Sungai Deras menggunakan kendaraan air atau speedboat.
Sejumlah total 40 bibit ubah jambu (Syzygium sp.) dan bibit bintangur (Calophyllum sp.) dilakukan secara simbolis. Sesungguhnya, kegiatan restorasi ini sendiri sudah berjalan dari awal tahun 2018 nih Sobat #KonservasYIARI. Bahkan hingga saat ini, di area tersebut sudah tertanam 85 ribu bibit di lahan seluas 146 ha, luar biasa ya!
Potret Kepala SPTN Wilayah 11 Melano, Ahmad Sirojudin, S. Hut bersama Direktur Program dan Operasional Yayasan IAR Indonesia, Argitoe Ranting, sebelum melakukan penanaman (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Kegiatan dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup ini juga kami lakukan dalam bentuk edukasi konservasi di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Semoga kegiatan peringatan hari lingkungan hidup ini bisa bermanfaat untuk lingkungan dan memotivasi masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan ya!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Fathia Rosatika
Restorasi Mangrove – Jalan Berliku Penanaman Bakau
Masih ingat kan dengan logo baru kami? Di logo baru kami, terdapat karakter pohon yang kami ambil inspirasinya dari mangrove. Kami mengambil karakter pohon ini berangkat dari aksi nyata kami dalam melakukan penanaman dan restorasi mangrove, terutama di pesisir Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Ketapang. Kegiatan restorasi mangrove yang kami kerjakan bersama PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK) ini memang masih tergolong muda. Kami memulai proyek ini dari tahun 2021. Meskipun baru dua tahun, kami sudah menanam lebih dari 50.000 bibit mangrove di area seluas 15 ha yang tersebar di delapan desa dan empat kecamatan di Kabupaten Ketapang. Dalam penanaman mangrove ini, kami sangat memperhatikan spesies mangrove asli pada masing-masing lokasi sehingga kami menanam lima jenis mangrove yaitu, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera sp., dan Avicennia Alba
Kegiatan ini juga melibatkan lebih dari 100 orang warga desa yang berperan aktif dalam melakukan pembibitan, penanaman, dan perawatan. Tidak hanya itu, mereka juga menganyam ecopolybag dari daun nipah lho untuk pembibitan mangrovenya. Jadi kegiatan ini tidak meninggalkan sampah plastik bekas polybag yang justru mengancam kelestarian ekosistem mangrove dan berpotensi mematikan bibit mangrove yang ditanam.
Tim penanaman di Desa Sungai Besar, Kalimantan Barat terdiri dari para ibu peduli lingkungan (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)
Menanam mangrove itu juga nggak semudah nanam pohon pisang. Salah satu tantangan terbesar dalam penanaman mangrove adalah anakan mangrove itu sangat rentan dan mudah mati dibandingkan dengan anakan pohon yang ada di daratan atau hutan selain hutan mangrove. Kami melakukan pengamatan dan mendapati bahwa pertumbuhan anakan mangrove itu hanya tumbuh 10 cm per tahun dan harus menahan terpaan ombak serta cuaca yang sering berubah. Hal ini yang sering kali kurang dipahami dalam kegiatan restorasi mangrove di Indonesia. Pada kebanyakan restorasi mangrove di Indonesia, kegiatan yang dilakukan hanya fokus pada penanaman dengan pemahaman bahwa mangrove sama dengan pohon lainnya dan perlakuannya pun harus sama: Tanam-tinggal-hidup. Fokusnya hanya pada tanam tanpa pemahaman mendasar sehingga berujung kegagalan.
Program restorasi mangrove memang bukan hanya sekadar tanam dan tinggal. Mangrove yang ditanam perlu dirawat dan dipantau pertumbuhannya, juga dilakukan tanam sisip bila diperlukan. Bahkan, perlu langkah-langkah strategis yang cukup panjang sebelum penanaman ini dilakukan untuk memastikan program restorasi mangrove ini berumur panjang dan berkelanjutan.
Di tahap awal kami melakukan pendekatan persuasif kepada para pemangku kepentingan, terutama masyarakat untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka. Kami juga membentuk komunitas pemuda yang diberi nama SHIELD (sahabat Hijau Eco Lestari Desa) Sungai Besar yang dapat bergerak setiap saat serta untuk mendapatkan dukungan dari banyak pihak.
Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama Yayasan IAR Indonesia turut menanam mangrove di Desa Kuala Tolak, Kalimantan Barat. Penanaman mangrove di desa ini sudah mencapai lebih dari 1000 bibit (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)
Kemudian kami melakukan survei biodiversitas pada ekosistem mangrove dan pemetaan lokasi yang paling terdampak dan perlu dilakukan rehabilitasi. Kami juga melakukan penguatan kelompok masyarakat yang akan melakukan rehabilitasi mangrove dengan mengadakan pelatihan keterampilan dalam melakukan rehabilitasi mangrove.
Terakhir kami melakukan implementasi rehabilitasi mangrove dengan memilih benih mangrove yang sesuai jenisnya dengan lokasi tanam, penyemaian benih hingga menjadi bibit unggul dan memiliki tingkat survival rate yang tinggi, perawatan semasa tahap penyemaian secara intensif dan partisipatif, penanaman bibit mangrove yang siap dan melakukan monitoring hingga perawatan pasca panen selama mungkin hingga bibit mangrove dewasa dan stabil pertumbuhannya.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam restorasi mangrove adalah akuntabilitas program. Sistem monitoring, reporting dan verifikasi (MRV) rehabilitasi mangrove harus bersifat transparan sehingga masyarakat mengetahui efektivitas dari program tersebut karena menggunakan dana publik. Sistem MRV yang andal dan transparan sangat perlu untuk meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas program rehabilitasi mangrove. Jangka waktu pemantauan selama 5 tahun dapat digunakan mengingat tingginya risiko biofisik lingkungan dan sosial yang mungkin terjadi di kawasan sekitarnya.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Galih Hakim dan Heribertus
Investasi Bagi Bumi dengan Restorasi
By the way gaes, kemarin pas Hari Bumi 22 April, kalian masih ingat dengan tema tahun ini kan ya? So tahun ini tuh, dunia ngerayain Hari Bumi dengan tema “Invest in Our Planet. What Will You Do?”. Kayaknya nggak perlu dijelasin panjang lebar deh, karena tagline ini tuh udah kode keras banget supaya kita segera mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang bisa merusak bumi terutama yang bikin iklim di bumi makin ga jelas. Di website earthday.org aja udah dibilang tuh: “Now is the time for the unstoppable courage to preserve and protect our health, our families, our livelihoods.” Tuh kan!
Nah, kami di Yayasan IAR Indonesia udah mulai dari sejak kami berdiri nih, yaitu 14 tahun lalu, untuk ngejalani program-program yang tujuannya untuk merawat dan memulihkan bumi terutama kawasan hutan. Salah satunya program restorasi nih. So, apa sih program restorasi ini? Restorasi ini bukan jenis restoran lho, ini tuh penanaman pohon di lahan-lahan hutan. Sesuai namanya, tujuannya itu supaya kawasan hutan yang rusak atau kehilangan pohon-pohon, jadi terestorasi atau terpulihkan kembali, alias ada lagi tuh anggota keluarga pepohonannya.
Persiapan bibit pohon yang hendak ditanam (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Sejarahnya kami bikin program ini berasal ketika nerima banyak laporan soal orangutan yang masuk ke kawasan Desa Pematang Gadung, di Kalimantan Barat. Jadilah konflik tuh. Warga desa kesel karena orangutan pada masuk ke perkebunan mereka dan makan hasil kebun. Mereka kayak gini tentu ada sebabnya, ya iyalah. Habitatnya mulai terganggu, berkurang kawasan hutannya, sehingga pohon-pohon yang biasanya jadi sumber pakan mereka mulai menipis. Hal ini makin parah sewaktu ada kejadian kebakaran hutan di kawasan Pematang Gadung pada 2015.
Setahun kemudian, tepatnya 2016, kami mulai deh program restorasi ini. Kami melakukannya di lahan tidur terbuka serta area hutan yang sempat terdampak kebakaran hutan. Tujuan utama restorasi ini sebenarnya buat memperbaiki habitat orangutan dengan cara menanam pohon-pohon yang bisa menjadi sumber pakan buat orangutan. Jadi kan kalau di hutan sumber makanan mereka sudah cukup, mereka nggak akan masuk ke lahan manusia.
So, kita mulai tuh program ini dengan tentu saja menanam pohon-pohon yang disukai orangutan. Apa aja tuh? Banyak sebenarnya. Kita sebut sebagian ya. Ada kayu ara, medang, ubah, rambutan hutan, nangka hutan, dan kubing. Nah, abis menanam, masih ada lanjutannya tuh. Kami kemudian harus memastikan pohon-pohon itu tumbuh besar dengan baik.
Penanaman pohon di lahan restorasi (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Untuk tahapannya sendiri, kami memulai penanaman dengan melakukan survei lokasi terlebih dulu. Survei lokasi ini untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam dan bisa tumbuh di area itu. Setelah melakukan survei, tim restorasi harus melakukan pembersihan dan bikin plot tanam. Pembersihan ini perlu dilakukan karena semak dan rumput yang ada bisa menganggu pertumbuhan tanaman. Setelah bersih dan plot tanam terbentuk, dilakukan pencarian bibit, penyemaian, dan penanaman. Bibit yang dipilih biasanya diambil dari hutan di sekitar lokasi restorasi supaya bibit yang ditanam cocok dengan kondisi area tanam. Tujuannya ya biar tanaman yang ditanam ini mampu bertahan di musim panas dan musim penghujan. Setelah bibit ditanam, tim akan melakukan monitoring, perawatan, dan penanaman sisip untuk menggantikan bibit yang ditemukan mati. Monitoring ini dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman.
Restorasi ini tidak sesimpel menanam dan bersantai menunggu pohon tumbuh besar. Tantangannya lumayan banyak lho, salah satu yang paling besar adalah cuaca. Kadang, kalau sedang musim hujan, air akan membanjiri lokasi tanam sehingga mengakibatkan banyak bibit yang mati akibat busuk akar. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah menanam bibit asli yang memang cocok dengan daerah tersebut. Kalau kematian bibit tidak bisa dihindari, biasanya tim restorasi akan melakukan tanam sisip di musim kemarau untuk menggantikan bibit yang mati.
Musim kemarau tuh pelik juga gaes. Apalagi kalau kemaraunya panjang beut. Potensi kebakaran hutan dan lahan jadi meningkat. Nah, biar bibit-bibit itu nggak mati, aktivitas penyiraman ditingkatkan dan membuat sekat bakar dengan pohon jenis leban, gelam, dan ubah yang mampu hidup bahkan saat sudah terbakar. Meskipun upaya pencegahan sudah dilakukan semaksimal mungkin, pada tahun 2019 terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan 98% areal restorasi di Hutan Desa Pematang Gadung habis terbakar. Meskipun begitu, tim kami tidak putus asa. Kami kembali bekerja keras dan akhirnya, dalam waktu satu tahun, lokasi ini kembali hijau.
Setelah kegiatan restorasi ini berjalan dengan lancar di Desa Pematang Gadung, program yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung, serta Dinas Kehutanan Kalimantan Barat ini semakin berkembang dan dilanjutkan di beberapa lokasi lain seperti Hutan Lindung Gunung Tarak di Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Kayong Utara, serta di pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Desa Sungai Awan, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.
Sampai saat ini total sudah tertanam lebih dari 100 ribu bibit di lahan seluas 201 ha di wilayah Kalimantan Barat. Targetnya nih gaes, kebutuhan pakan orangutan liar terpenuhi dengan banyaknya pohon yang tumbuh dan hidup dengan baik di area yang semakin bertambah.
Salah satu lokasi restorasi kami di Pulau Rangkong, Ketapang, Kalimantan Barat (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Tidak hanya bermanfaat bagi alam dan orangutan, program restorasi ini juga membantu perekonomian warga desa. Di Desa Pematang Gadung sendiri, progam ini memberikan pekerjaan kepada 21 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok pembuat ecopolybag. Ya, kita nanem pohonnya pake ecoplybag yang terbuat dari anyaman daun nipah, jadi program kami ini anti plastik ya gaes. Selain itu, program ini juga menyediakan lapangan pekerjaan yang melibatkan 22 orang di seluruh site restorasi untuk melakukan penanaman dan perawatan pohon. So, inilah sebagian upaya kami bagi bumi. What about you?
Muda, Beda, dan Berbahaya
Ah iya, lagunya Superman Is Dead bukan?
Bukaaaan, kita lagi mau ngomongin komunitas pemuda di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Ooooh, emang pemuda ini ngapain? Kok beda dan berbahaya?
Bedanya, mereka ini membentuk komunitas untuk melindungi ekosistem mangrove di desa mereka di Sungai Besar. Mereka juga melakukan patroli di dalam kawasan mangrove. Aksi ini berbahaya buat mereka yang coba-coba merusak ekosistem mangrove atau berburu secara ilegal di wilayah mangrove Sungai Besar. Hehe
Ih, keren kali lah.
Iya dong, namanya aja SHIELD. Singkatan dari Sahabat Hijau Eco Lestari Desa. SHIELD ini berperan dalam membentengi kawasan mangrove Desa Sungai Besar dengan melakukan penanaman mangrove dan patroli.
Para anggota SHIELD bersama aparat desa (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Mantep banget ya. Ceritain dong awal mulanya gimana?
Oke. Awalnya kita punya program konservasi mangrove. Program konservasi mangrove yang kita lakukan ini berbasis pada masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar ekosistem mangrove itu. Kebetulan, kita udah lama berkegiatan bareng masyarakat di Desa Sungai besar ini, akhirnya kita inisiasi para pemuda di Sungai Besar untuk membentuk SHIELD tadi. Kita pilih para pemuda karena mereka ini kan sedang di fase kehidupan yang aktif dan haus akan pengetahuan dan pengalaman baru. Kita inisiasi untuk membentuk komunitas untuk menyatukan semangat dan rasa kepedulian terhadap lingkunga. Umumnya, komunitas remaja lebih terbuka dan kritis terhadap suatu perubahan lingkungan yang seharusnya mereka rasa menjadi tanggung jawab mereka dan hak mereka di hari nanti.
Got it. Terus selain menginisiasi, IAR Indonesia ngasi pelatihan-pelatihan atau apa gitu gak?
Jelas iya dong. Kita memang lebih banyak bantu di peningkatan kapasitas para pemudi ini lewat beberapa pelatihan. Beberapa pelatihan yang udah kita lakuin tuh pelatihan pemilihan bibit mangrove yang layak untuk disemaikan dan dijadikan sumber bibit. Kita juga ngasi pelatihan monitoring pertumbuhan bibit mangrove melalui pertumbuhan tinggi dan jumlah daun serta indeks mortalitas bibit. Kita juga nyediain dua rumah pembibitan sekalian 7500 bibit mangrove untuk praktek penyemaiannya. Kita juga ngasi pelatihan teknik monitoring dan pengambilan data biodiversitas yang ada di dalam ekosistem mangrove.
Banyak juga ya…
Masih ada lagi lho. Kita juga ngapi pelatihan buat warga desa untuk pembuatan rumah pembibitan dan pelatihan pembuatan polybag. Nah kita dorong SHIELD tadi sebagai motor penggeraknya.
Persiapan persiapan menggunakan ecopolybag (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Hasil pelatihannya gimana tuh?
Bagus banget sih hasilnya, mereka udah membibitkan sekitar 12.000 bibit mangrove usia 1-2 bulan. Bibit-bibit ini diambil data pertumbuhan mangrove dari tinggi badan dan jumlah daun serta indeks mortalitasnya. Nantinya, mangrove ini akan ditanam kalau usianya udah xx bulan. Targetnya mereka mau naman 15.000 bibit di lahan seluas 1,5 ha. Mereka juga memberikan pelatihan dan pendampingan langsung pemilihan bibit mangrove yang layak untuk disemaikan dan dijadikan bibit siap tanam kepada masyarakat umum melalui program konservasi mangrove berbasis masyarakat yang mereka terima dari kita. Gak cuma pelatihan, mereka juga ikut memantau dan mengelola rumah persemaian yang dibuat masyarakat.
Keren-keren. Salut deh buat pemuda dan masyarakat Desa Sungai Besar. Btw emang pentingnya mangrove apa sih?
Kita jelasin gambaran umumnya dulu deh ya. Hampir 25% mangrove yang ada di dunia ini berada di Indonesia. Dan dari total luasan mangrove di Indonesia, sebagian besar (41%) ada pesisir Pulau Kalimantan. Nah mangrove ini banyak terancam oleh reklamasi, budidaya sentra perikanan, bahkan diambil kayu untuk bahan bakar. Belum lagi ancaman biodiversity di dalamnya akibat perburuan liar atau racun ikan. Padahal fungsi mangrove banyak banget. Dia tuh menghasilkan berbagai komoditas perikanan dan kehutanan, dia juga berperan untuk mencegah abrasi pantai, menstabilkan daerah pesisir, menyaring limbah secara alami, mencegah intrusi air laut, sebagai habitat dan tempat pemijahan beberapa jenis satwa yang tinggal di wilayah mangrove. Selain itu ekosistem mangrove juga punya potensi yang besar dalam menyerap dan menyimpan karbon. Tahu kan, karbon tuh berkontribusi besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Dengan menjaga ekosistem mangrove artinya kita telah melakukan mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Banyak banget ya ternyata manfaatnya. Boleh dong sekali-kali kita lihat ekosistem mangrove di sana.
Ayuk, kita tunggu kedatangannya ya!
Heribertus Suciadi
Selalu Ada Yang Penting Tentang Mangrove
I know…I know… Karena penting buat lingkungan kan?
Betul! Nah tuh udah tahu jawabannya. Tapi kalian udah tahu nggak arti pentingnya mangrove itu kayak gimana?
Hehehe…nggak terlalu sih…
Nah, jadi secara fisik nih, hutan mangrove punya peran yang sangat penting sebagai pelindung kawasan pesisir dari empasan angin, arus, dan ombak dari laut. Sebaliknya, dia juga berperan sebagai benteng pantai dari pengaruh banjir dari daratan. Lagian tuh ya, sebagai salah satu ekosistem pantai, hutan mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam menunjang kehidupan berbagai biota laut, terutama beberapa jenis ikan, udang, dan kepiting. Hutan mangrove yang terjaga dengan baik akan mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya kelompok nelayan. Nah, peran penting ini kerasa banget buat Indonesia, karena sebagai negara maritim dengan dua per tiga luas wilayahnya adalah lautan, Indonesia memiliki hutan mangrove terbesar di dunia loh. Bayangin aja, 20% atau 1/5 dari total luas mangrove dunia itu ada di Indonesia!
Wih, keren keren.
Iya, tapi sayangnya ada beberapa kegiatan manusia yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove. Dari 3,31 juta hektar, 600 ribu hektar di antaranya teridentifikasi kritis.
Duh kenapa bisa gitu ya?
Macem-macem sih, salah satunya pencemaran lingkungan, terus penebangan mangrove dan konversi hutan mangrove terutama untuk pembangunan tambak. Faktor manusia ini nih yang merupakan faktor paling dominan penyebab rusaknya hutan mangrove. Faktor alam ada juga, tapi gak terlalu signifikan, misalnya aja abrasi gelombang laut dan sedimentasi dari aloran sungai.
Ih, ngeri juga yang kalau ekosistem mangrove yang manfaatnya bejibun itu sampe rusak.
Nah makanya kita ngadain beberapa kegiatan di Hari Mangrove Sedunia.
Wah ada perayaannya ya?
Tentu saja! Jadi Hari Mangrove Sedunia atau International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem, diadakan pertama kali tahun 2015 oleh Konferensi Umum UNESCO dan dirayakan setiap tahun di 26 Juli. Tujuan sih buat meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove dan memberikan solusi akan pengelolaan dan konservasi yang berkelanjutan. Jelas fungsinya mangrove banyak banget, dia tuh menghasilkan berbagai komoditas perikanan dan kehutanan, dia juga berperan untuk mencegah abrasi pantai, menstabilkan daerah pesisir, menyaring limbah secara alami, mencegah intrusi air laut, sebagai habitat dan tempat pemijahan beberapa jenis satwa yang tinggal di wilayah mangrove. Selain itu ekosistem mangrove juga punya potensi yang besar dalam menyerap dan menyimpan karbon. Tahu kan, karbon tuh berkontribusi besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Dengan menjaga ekosistem mangrove artinya kita telah melakukan mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.
I see… terus kegiatannya apa aja?
Macem-macem sih, ada lomba foto mangrove, penanaman mangrove, sampai pameran foto, berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuala Satong, Dinas Pariwisata Kabupaten Ketapang, Politeknik Negeri Ketapang, PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa, dan Aliansi Pemuda Pecinta Alam.
Kegiatannya di mana?
Untuk lomba foto sama penanaman mangrove di Mangrove Center Kuala Satong.
Kuala Satong itu di mana sih?
Kuala Satong tuh nama desa di Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Nah di sana, ada kawasan mangrove yang dijadikan tempat wisata. Asik kan, mangrove terjaga, masyarakat pun bisa dapat wisata dan warga lokal bisa dapat tambahan penghasilan. Lumayan luas sih tempatnya. Enam hektar.
Ih kok asik banget sih..
Iya, di sana ada jalur tracking sepanjang 1,5 km. Terus ada jungle track yang terbuat dari kayu sepanjang 300 meter, jadi kalian kalau main ke sana bisa jalan-jalan di dalam hutan mangrovenya. Oh iya, ada enam saung juga yang bisa kalian pake buat istirahat sambal nikmatin suasana hutan.
Wih, kreatif banget ya masyarakat di sana. Awalnya gimana sih kok bisa jadi punya ide buat tempat wisata gitu?
Hmmm, jadi masyarakat Kuala Satong ini memang jempolan gaes. Mereka udah dari dulu paham pentingnya ekosistem mangrove yang ada di desa mereka. Terus di 2008, salah satu tokoh masyarakat Desa Kuala Satong, Syakrani, sudah mulai giat melestarikan ekosistem mangrove. Awalnya Syakrani masih berjuang sendirian, belum banyak yang tertarik untuk memanfaatkan hutan mangrove ini, tapi lama-lama kerja keras Syakrani berbuah manis. Selain mendapat dukungan dari masyarakat, dia juga mendapat dukungan dari pihak pemerintah dan swasta sehingga akhirnya bisa membentuk Kelompok Sadar Wisata serta mewujudkan Wisata Hutan Mangrove di Kuala Satong.
Eh, tadi kan ada lomba foto kan ya? Ceritain dong.
Sure! So, buat ngasi edukasi soal ekosistem mangrove sekalian promosi wisata di Kuala Satong, kita ngadain lomba foto, temanya “Atraksi Wisata di Areal Mangrove”. Lomba foto ini dibagi jadi tiga kategori: flora fauna, bentang alam, dan modelling. Ini lomba fotonya dibagi per kelompok gitu sih, total ada 23 tim dengan 69 orang yang ikutan lomba. Lombanya sendiri 4 hari, dari tanggal 24-27 Agustus. Oh iya, biarpun lomba, tapi kita tetep pake prokes yak, jadi setiap tim secara bergantian melakukan pengambilan gambar di lokasi Wisata Mangrove Kuala Satong menyesuaikan dengan daya tampung lokasi dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Wah keren! Seru banget! Terus hasil karya peserta lombanya bisa dilihat di mana?
Nah, hasil karya peserta lomba sempet dipamerin tuh, di Gedung Kuliah 2 Politeknik Ketapang, dari tanggal 23-25 Agustus 202. Pamerannya ini nampilin hasil karya para peserta lomba. Total ada 42 karya foto dari 23 tim. Pameran ini lumayan rame lho, cuma tiga hari aja tapi jumlah pengunjungnya sampe 575 orang. Itu juga karena dibatasi jumlah pengunjungnya gaes. Jadi hanya ada boleh 25 orang dalam ruangan. Jadi kalau mau datang ke pameran, pengunjung harus daftar dulu di aplikasi untuk ngatur kuotanya.
Kalau yang nanem mangrove gimana tuh?
Kalau nanam mangrovenya sih dua hari, Sabtu, 24 Juli dan Minggu, 25 Juli.
Banyak gak yang ikutan nanam mangrove? Ditanamnya di mana sih?
Yang ikutan nanam lumayan banyak sih, semua peserta lomba ikutan, mulai dari mahasiswa, komunitas pecinta reptil, komunitas fotografi sampe masyarakat umum. Mereka ini nanam bibit mangrove di sekitar track yang terbuka di dalam Kawasan Wisata Mangrove ini. Tujuannya ya buat menambah menambah vegetasi mangrove pada areal yang terbuka akibat pembangunan dan normalisasi sungai.
Aih serunya.. jadi pengen ikutan!
Siap! Nanti kami kabari kalau ada kegiatan lainnya ya.
Have You Done Something for Your Earth?
Hemmm…not much sih. Btw, kenapa nih tiba-tiba ngomongin soal bumi?
Gini, kan 5 Juni lalu kita ngerayain Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Nah, karena tema tahun ini Restorasi Ekosistem, Yayasan IAR Indonesia ngadain acara spesial nih sob.
Wih jadi penasaran. Acaranya apaan sih?
Kami ngajakin adik-adik pelajar SMK Negeri 1 Matan Hilir Utara di Ketapang Kalimantan Barat, untuk nanam pohon sama ngebersihin sampah plastik di Desa Sungai Besar yang terletak di Kecamatan Matan Hilir Selatan di Ketapang. Seru lho acaranya, ada 110 murid dari kelas X yang ikutan nanem bibit pohon di halaman sekolah mereka ini. Kan halaman sekolah mereka luas banget tuh, tapi sayangnya masih gersang.
Nah, kebetulan nih pas banget kan sama tema Hari Lingkungan Hidup yang ngangkat soal restorasi. Apalagi sesuai dengan mandatnya PBB nih, Restorasi Ekosistem itu bisa ditunjukkan dengan berbagai cara, dari nanam pohon, penghijauan di tempat tinggal kita, bikin taman-taman sekitar kita lebih hijau, ngubah pola makan kita jadi lebih sehat, dan ngebersihin sungai dan pantai. PBB juga ngasih saran nih supaya kegiatan restorasi ini banyak ngelibatin anak muda.
Ih keren banget… terus gimana sih ceritanya bisa kolaborasi ama sekolah ini?
Nah ini juga ada ceritanya nih. Jadi kami kan sering nih ngajak temen-temen pelajar buat jadi relawan untuk kegiatan dan program-program kami, terus pas kami main ke sekolah ini, kepala sekolah SMK Negeri 1 Matan Hilir Utara tertarik nih bikin kegiatan kolaborasi. Selain karena tujuannya baik, kebetulan sekolah ini sedang berupaya jadi sekolah adiwiyata.
Wah, sekolah adiwiyata nih apa ya?
Gelar ‘Sekolah Adiwiyata’ ini diberikan buat sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Ada program-programnya nih sob buat sekolah untuk bisa dapat gelar ini. Itu ada ketentuannya, ngikutin Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 5 Tahun 2013 tentang pedoman pelaksanaan program Adiwiyata.
Terus nih, program ini biasanya dilaksanakan dengan berdasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Nah, biasanya nih, suatu sekolah yang sudah bikin program dengan tiga prinsip utama ini, bisa dapat gelar Adiwiyata karena dianggap berhasil jadi tempat buat pelajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta norma dan etika bagi siswa-siswinya untuk menjadi dasar bagi terciptanya kesejahteraan.
Oh paham-paham. Terus apa saja bibit pohon yang ditanam?
Banyak, ada bibit kaliandra, durian, gandaria, sama belimbing darah. Totalnya sekitar 70-an bibit yang udah ditanam mereka. Pengennya sih nantinya pohon-pohon ini akan tumbuh besar dan subur, sekolah kan jadi adem tuh, mau belajar atau main sambil belajar jadi enak banget tuh. Lagian kalau ada pohon buah gitu kan yang ngerasain manfaatnya gak cuma kita manusia, tapi hewan-hewan pun bisa ikuta juga dapet manfaatnya.
Mereka bisa makan buahnya, bikin sarang juga boleh banget. Asik banget kan kalau pagi-pagi di sekolah belajar sambal dengerin kicauan burung di alam? Nambah konsentrasi banget tuh kalau lagi ngerjain ulangan.
Wiiih, asik yak. Bayanginnya aja udah adem nih. Guru-gurunya pada ikutan gak?
Ya jelas ikut dong, kepala sekolahnya langsung yang memimpin kegiatan. Kepala sekolah SMKN 1 Matan Hilir Selatan, Pak Israel Tangel ini bilang juga kalau harusnya kegiatan pelestarian lingkungan bukan hanya dilakukan oleh lembaga atau organisasi tertentu saja, akan tetapi semua pihak harus terlibat aktif termasuk unsur-unsur pendidikan seperti guru dan pelajar di sekolah. Masuk akal banget kan? Emang seharusnya kegiatan pelestarian dilakukan oleh semua orang, kan semua orang juga butuh udara bersih buat hidup yang nyaman.
Got it. Kalau yang dari IAR sendiri siapa aja yang ikut?
Dari IAR sendiri, selain menerjunkan tim edukasi dan penyadartahuan, ada Mba Rahmanita, Manager HRD. Kalau dia sih bilangnya dari dulu pengen banget ngajakin semua orang untuk lebih peduli dengan lingkungan, melakukan aksi kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan melakukan penanaman pohon. Menurutnya, kondisi lingkungan yang dirasakan sekarang adalah warisan generasi terdahulu sehingga apabila lingkungan ini dititipkan dalam keadaan baik, maka kita juga harus mengembalikan untuk generasi ke depan juga dalam keadaan baik.
Mantap! Lain kali ajakin kita ya ikut acara kayak gini
Beneran ikut ya next time. Kalau mau tahu acara-acara kami, sering-sering cek website dan akun medsos kami ya sob, siapa tahu ada yang deketan sama lokasi kamu.