Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Tebar Bibit Ikan Nila di Pematang Gadung: Langkah Nyata Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan

Di tengah upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan, sebuah langkah penting diambil oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS).

Pada 17 Maret 2025, mereka secara resmi meluncurkan program budidaya ikan nila berbasis koperasi melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan di Desa Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang. Program ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor, sekaligus sebagai titik awal terbentuknya ekosistem ekonomi lokal yang tangguh dan berbasis komunitas.

Simak kisahnya berikut ini, bagaimana benih ikan yang ditebar membawa harapan baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat!

Koperasi sebagai Fondasi Kemandirian Ekonomi Desa

Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS) lahir dari semangat membangun sistem ekonomi desa yang lebih mandiri dan inklusif. Inisiatif ini mulai dirancang sejak tahun 2024 oleh YIARI bersama masyarakat Desa Pematang Gadung, sebagai respons atas kebutuhan akan wadah ekonomi berbasis komunitas.

Setelah melalui berbagai tahap persiapan, koperasi ini akhirnya diresmikan secara hukum melalui pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Nomor AHU-0003874.AH.01.29 Tahun 2024.

Peluncuran perdana koperasi ditandai secara simbolis dengan kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang melibatkan para anggota koperasi dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan berfokus pada sektor perikanan, koperasi ini kini memiliki 23 anggota aktif yang akan terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.

Kegiatan Tebar Bibit Ikan di Pematang Gadung bersama para anggota KMPGS (Heribertus Suciadi | YIARI)

Melalui koperasi, kami berharap dapat menciptakan kemandirian ekonomi kepada kelompok dampingan kita secara khusus dan masyarakat desa secara umum. Dengan model usaha yang berkelanjutan, anggota koperasi tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang kuat dan berdampak jangka panjang,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.

Dengan hadirnya KMPGS, diharapkan masyarakat Pematang Gadung memiliki pondasi ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada bantuan eksternal, tetapi dibangun melalui kekuatan kolektif dan pengelolaan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Budidaya Ikan Nila dengan Sistem Keramba Jaring Apung (KJA)

Melihat potensi sumber daya perairan yang melimpah di Batang Sungai Pesaguan, KMPGS mengembangkan budidaya ikan nila menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai model usaha utamanya.

Sistem ini dipilih karena mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem air. Dibandingkan metode tradisional, KJA memungkinkan pemantauan kualitas air dan pertumbuhan ikan secara lebih terkontrol.

Pada tahap awal, program ini melibatkan dua unit KJA dengan kapasitas 4.000 ekor ikan nila. Setiap unit dikelola oleh dua anggota koperasi, sehingga total ada empat orang yang terlibat langsung dalam proses budidaya. Unit-unit ini dirancang untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Ketua Koperasi KMPGS, Ilyas, menyampaikan rasa optimisme para anggota dengan adanya dukungan dari berbagai pihak. “Dengan adanya KMPGS, kami merasa lebih percaya diri mengembangkan usaha ini. Kami tidak hanya mendapat bantuan modal, tapi juga pelatihan dan pendampingan untuk mengelola usaha dengan lebih baik,” ujarnya.

Menariknya, usaha ini dijalankan dengan skema permodalan bergulir. Artinya, modal awal yang berasal dari donatur akan dikelola dan dikembangkan oleh koperasi secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, anggota koperasi dapat terus mengembangkan usahanya tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal dalam jangka panjang. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kemandirian ekonomi, tetapi juga menciptakan siklus usaha yang inklusif dan adaptif.

Dukungan Penuh dari Berbagai Pihak

Peluncuran usaha perikanan berbasis koperasi di Desa Pematang Gadung tidak berjalan sendiri.

Berbagai pihak hadir memberikan dukungan nyata, mulai dari instansi pemerintah hingga perwakilan komunitas lokal. Kehadiran mereka menjadi bukti kuat kolaborasi adalah kunci utama dalam membangun ekonomi desa yang berkelanjutan.

Kegiatan Tebar Bibit Ikan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Ketapang melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian; Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan; serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.

Selain itu, hadir pula Camat Matan Hilir Selatan, KPH Ketapang Selatan, Bhabinkamtibmas, anggota komunitas The Power of Mama, LPHD Pematang Gadung, dan perwakilan dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Perwakilan pemerintah menebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)

Kepala Desa Pematang Gadung, Sahdimin, menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terbangun.

Kami sangat mengapresiasi dukungan dari YIARI dan seluruh mitra yang telah membantu mewujudkan program ini. Ini bukan hanya tentang menebar benih ikan nila, tetapi juga menanam harapan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Pematang Gadung,” ujarnya.

Kehadiran para pemangku kepentingan dalam kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)

Lebih lanjut, Sahdimin berharap kolaborasi ini terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan perluasan akses pasar. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan mitra pembangunan, koperasi KMPGS diyakini akan mampu tumbuh menjadi penggerak utama perekonomian desa yang mandiri dan berbasis komunitas.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Budidaya Ikan Nila

Budidaya ikan nila dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) tidak hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dengan menggunakan sistem KJA di sungai, pemanfaatan lahan darat dapat diminimalkan, sehingga tidak perlu membuka lahan baru yang berisiko merusak ekosistem hutan dan lahan basah di sekitar desa.

Dari sisi lingkungan, ikan nila termasuk spesies yang mampu tumbuh dengan baik dalam kondisi perairan yang bersih dan relatif stabil, tanpa perlu penggunaan bahan kimia berbahaya. Dengan begitu, praktik budidaya ini tetap menjaga kualitas air dan keseimbangan ekosistem perairan secara alami.

Secara ekonomi, sistem ini memungkinkan panen yang lebih terukur dan konsisten, sehingga pendapatan anggota koperasi menjadi lebih stabil. Keuntungan yang diperoleh dari hasil panen dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, memperluas skala usaha, hingga membuka peluang ekonomi baru seperti pengolahan hasil perikanan.

Model usaha ini juga memberi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengelola bisnis secara kolektif dan berkelanjutan. Bukan hanya soal keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan sambil mengelola sumber daya secara produktif.

Menuju Ekonomi Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan

Langkah awal yang diambil YIARI dan KMPGS melalui program budidaya ikan nila ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan upaya membangun fondasi jangka panjang menuju desa yang berdaya dan berkelanjutan.

Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi lokalnya melalui pendekatan koperasi dan pengelolaan sumber daya alam secara bijak.

Kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)

Ke depan, koperasi KMPGS memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Tidak hanya dalam skala produksi, tetapi juga melalui diversifikasi usaha seperti pengolahan hasil panen, pengemasan produk lokal, sampai penguatan akses ke pasar yang lebih luas. Semua ini akan membuka lebih banyak peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, Desa Pematang Gadung telah menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan dapat benar-benar diwujudkan melalui kerja sama dan komitmen bersama.

Melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang tampak sederhana di permukaan, telah ditanam benih harapan untuk masa depan desa yang lebih hijau, mandiri, dan sejahtera. Karena pada akhirnya, membangun desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga soal menumbuhkan rasa percaya diri bahwa masyarakat mampu mengelola kehidupannya sendiri—dari desa, oleh desa, dan untuk desa.

Panen Ikan Nila: YIARI Dukung Budidaya Swakelola

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi komunitas lokal yang sangat bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, pengembangan sistem pangan swakelola menjadi solusi yang efektif sekaligus berkelanjutan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan ketahanan pangan lokal, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) aktif mendorong praktik budidaya ikan nila yang ramah lingkungan. Melalui program panen ikan nila, YIARI mendukung peningkatan produksi ikan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya yang efisien, hemat sumber daya, dan selaras dengan prinsip-prinsip konservasi.

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai program panen ikan nila yang dilaksanakan oleh YIARI. Check it out!

Kapan Program Ini Dilaksanakan?

Kegiatan panen ikan nila YIARI di Desa Ulak Medang, Ketapang, Kalimantan Barat  (Tim Comdev | YIARI)

Pada Jumat, 28 Februari 2025, YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari melaksanakan panen ikan nila di Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program budidaya perikanan berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pendekatan berbasis komunitas.

Desa Ulak Medang dipilih sebagai lokasi program karena memiliki potensi sumber daya air yang mendukung, serta semangat masyarakat yang tinggi untuk mengembangkan usaha budidaya secara mandiri. Keterlibatan aktif warga menjadi kunci dalam setiap tahap kegiatan—mulai dari pengelolaan kolam, pemberian pakan, hingga proses panen.

Melalui kegiatan ini, YIARI tidak hanya menyalurkan pengetahuan teknis dan pendampingan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai konservasi dalam praktik budidaya agar tetap sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan.

Hasil Panen dan Praktik Budidaya Ramah Lingkungan

Panen ikan nila yang dilakukan di Desa Ulak Medang membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam satu kali panen, masyarakat berhasil memanen 409 kilogram ikan nila. Capaian ini bukan hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas pengelolaan budidaya.

Selama proses budidaya, tingkat kematian ikan (mortalitas) tercatat sebesar 20%, sementara nilai food conversion ratio (FCR) mencapai 1,25. Angka FCR ini menandakan efisiensi yang baik dalam penggunaan pakan—semakin rendah nilai FCR, semakin efisien ikan dalam mengubah pakan menjadi massa tubuh.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan. Sejak awal, program ini dirancang dengan pendekatan konservatif untuk menjaga kesehatan ikan dan kualitas ekosistem perairan. Beberapa prinsip utama yang diterapkan meliputi:

  • Pemantauan kualitas air secara berkala untuk menjaga kondisi optimal bagi pertumbuhan ikan.
  • Pengaturan kepadatan tebar agar ikan tidak stres dan ruang hidup tetap memadai.
  • Pemilihan pakan berkualitas tinggi dan efisien, sehingga mendukung pertumbuhan tanpa mencemari lingkungan.
  • Pengelolaan limbah budidaya secara bertanggung jawab agar tidak merusak ekosistem sekitar kolam.

Tantangan Panen Ikan Nila

Di balik keberhasilan budidaya ikan nila, terdapat sejumlah tantangan signifikan yang dihadapi oleh para pembudidaya di lapangan. Beberapa kendala utama berikut menjadi perhatian serius dalam pengelolaan budidaya yang berkelanjutan.

Berikut tantangan-tantangan beserta solusi yang telah diupayakan oleh YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari:

YIARI dan KUB Alam Lestari bekerjasama untuk panen ikan nila (Tim Comdev | YIARI)

1. Fluktuasi harga jual ikan

Harga jual ikan nila di pasaran cenderung tidak stabil karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fluktuasi permintaan konsumen, musim panen, serta kondisi ekonomi secara umum.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, harga ikan air tawar—termasuk ikan nila—bisa mengalami perubahan antara 10% hingga 20% dalam hitungan bulan, tergantung pada dinamika stok dan permintaan pasar.

Ketidakstabilan harga ini berdampak langsung pada pendapatan pembudidaya, yang kerap kali harus menjual hasil panen dengan harga di bawah biaya produksi. Untuk mengatasi tantangan ini, kami bersama KUB Alam Lestari berinisiatif membangun jaringan pemasaran yang lebih luas dan stabil.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kemitraan langsung dengan pembeli tetap, seperti pasar tradisional dan koperasi. Melalui pendekatan ini, pembudidaya dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar terbuka dan memastikan aliran pendapatan yang lebih terjamin.

2. Tingginya harga pakan

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan nila, yang menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dapat mencapai 60–70% dari total biaya operasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga pakan komersial terus meningkat, didorong oleh mahalnya bahan baku seperti tepung ikan dan kedelai yang sebagian besar masih diimpor.

Kenaikan ini sangat membebani pelaku budidaya, khususnya skala kecil dan menengah. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, kami mulai mengembangkan solusi berbasis lokal melalui produksi pakan alternatif.

Bahan-bahan seperti daun lamtoro, dedak padi, serta maggot (larva lalat BSF) yang kaya protein menjadi pilihan utama. Pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang mudah diakses.

3. Komunikasi Antaranggota Kelompok

Budidaya dalam skema kelompok memerlukan koordinasi dan komunikasi yang solid antaranggota. Setiap individu harus menerapkan standar budidaya yang sama, mulai dari pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, hingga penjadwalan panen.

Namun dalam praktiknya, perbedaan pengalaman, pemahaman teknis, dan cara kerja sering kali menjadi sumber ketidakseimbangan.

Untuk memperkuat sinergi dalam kelompok, kami secara aktif mendorong keterbukaan informasi dan menyelenggarakan pelatihan bersama secara berkala. Selain itu, forum diskusi rutin juga difasilitasi guna memberikan ruang bagi anggota untuk berbagi pengalaman, membahas tantangan teknis, dan mencari solusi bersama.

Komunikasi yang efektif terbukti meningkatkan efisiensi produksi serta membantu mengurangi potensi konflik dalam pengelolaan usaha secara kolektif.

Manfaat Panen Ikan Nila

Hasil panen ikan nila YIARI bersama KUB Alam Lestari  (Tim Comdev | YIARI)

Bagi masyarakat Desa Ulak Medang, panen ikan nila bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan cerminan dari perubahan cara hidup yang lebih berkelanjutan. Program ini memberikan dampak nyata, baik dari sisi pendapatan keluarga maupun kesadaran lingkungan.

Salah satu anggota KUB Alam Lestari, Kusmaheru, membagikan pengalamannya:

“Di panen ikan nila kali ini, keramba saya menghasilkan 100 kg ikan yang langsung terjual habis. Sebelum mengikuti program ini saya kerja tebang kayu. Ya, niat saya sih sebenernya ingin berubah dari kerja kayu, dan saya jalani usaha dengan KUB ini pun, saya melihat dulu keadaan dan bagaimana hasilnya. Kalau memang menghasilkan, langkah baik selanjutnya saya akan berhenti kerja kayu.”

Cerita Kusmaheru menjadi bukti budidaya ikan nila dapat menjadi jalan keluar dari ketergantungan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak hutan. Selain menghasilkan keuntungan ekonomi, kegiatan ini juga mendorong transformasi sosial yang lebih ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, keberhasilan panen turut membuka peluang baru bagi anggota keluarga lain untuk terlibat, mulai dari pengolahan hasil panen hingga distribusi ke pasar lokal. Dalam jangka panjang, ini memperkuat ketahanan keluarga dan memperluas manfaat program ke lapisan masyarakat yang lebih luas.

Menatap Masa Depan Budidaya Berkelanjutan

Budidaya ikan nila yang dikembangkan di Desa Ulak Medang menunjukkan ketahanan pangan dan konservasi lingkungan bisa berjalan beriringan. Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini bukan hanya menghasilkan panen yang sukses, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan sistem pangan mandiri. Budidaya ikan nila bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dapur, tapi juga tentang menjaga hutan tetap lestari, mengurangi tekanan terhadap alam, dan memperkuat kemandirian masyarakat.

Karena pada akhirnya, menanam harapan berarti menuai masa depan.

Sempat Menjadi Peraih Penghargaan Pengendalian Karhutla di Indonesia, The Power of Mama Bagikan Kisah Perjuangannya Mengendalikan Karhutla

Sobat #KonservasYIARI, masih ingat gak sih kalau tahun lalu The Power of Mama (TPoM) yang diwakili oleh Ibu Siti Maimun diundang ke Bogor untuk menerima penghargaan “Clean Air Championship Award 2023”?

(Baca: Komunitas The Power of Mama Terima Penghargaan Nasional Clean Air Championship Award )

Good news, tahun ini TPoM is back to Bogor loh Sob! Ngapain ya?

Jadi, TPoM yang kembali diwakili Ibu Siti Maimun yang kerap dipanggil Ibu Maimun ini mendapat amanah untuk menjadi narasumber talkshow tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dilaksanakan pada 27 Maret 2024 di IPB International Conference Center (ICC), talkshow ini juga bertajuk “Komunitas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia”.

So, di talkshow ini Ibu Maimun juga ditemani empat narasumber lain yang menceritakan upaya inspiratifnya dalam mengendalikan kebakaran hutan di wilayahnya masing-masing. Seperti Ibu Maimun yang mewakili TPoM, para narasumber talkshow ini juga mewakili kelompoknya yang juga mendapatkan penghargaan Clean air Championship Award tahun lalu. Di antara para narasumber ini, Ibu Maimun-lah yang paling cantik, sebab ia wanita sendiri loh, luar biasa ya! 🤩

Diinisiasi oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia, penghargaan dan talkshow ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan program udara bersih Indonesia.

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya kebanggaan kita, acara kemudian dibuka oleh ketua panitia rangkaian kegiatan yaitu, Prof Bambang Hero Saharjo. Dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, Dr. Ir. Naresworo Nugroho

Acara utama terbagi menjadi dua agenda, yaitu pemberian penghargaan “Clean air Championship Award 2024” dan talkshow. Selain dihadiri para peserta undangan, acara ini juga terbuka untuk masyarakat umum yang turut hadir melalui zoom meeting.

Setelah pemberian penghargaan, talkshow karhutla yang moderatori oleh Dr. Ati Dwi Nurhayati selaku dosen departemen Silvikultur IPB pun dimulai. Pada sesi ini, Ibu Maimun juga menceritakan latar belakang terbentuknya TPoM oleh Mama-Mama di Kabupaten Ketapang,

Suasana Pemberian Penghargaan Program Udara Bersih Indonesia Tingkat Nasional Tahun 2024 (Fattreza Ihsan | YIARI)

“Kebakaran yang banyak terjadi pada tahun 2019, terutama di Desa Sukamaju Kabupaten Ketapang menyadarkan kami, para masyarakat yang terdampak. Kami tentunya  tidak mau hanya menjadi penonton dan penerima akibat dari karhutla yang terjadi, Kami juga ingin ikut serta dalam pengendalian kebakaran hutan. Kami yang dulunya hanya menerima akibat dari kebakaran hutan dan lahan tersebut, sekarang sudah berpikir akan kegiatan pengendalian karhutla. Kami tidak mau hanya menutup mata dan tidak berpangku tangan ketika karhutla terjadi,” terang Ibu Maimun mengenai keresahan yang ia dan kelompoknya alami pada seluruh peserta talkshow. Ia juga menjelaskan upaya-upaya apa yang telah dilakukan oleh TPOM dalam pemadaman api di desa-desa di Ketapang, Kalimantan Barat. “Upaya yang kami lakukan diantaranya pencegahan dengan penyadartahuan dan sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat, Kami juga ikut memadamkan api. Kami bangga bisa memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat di beberapa desa di lingkungan kami dan akan terus memperluas kontribusi kami ke beberapa desa lain,” ujarnya.

Para narasumber lain juga menceritakan pengalaman tentang upaya yang sudah dilakukan dalam pengendalian karhutla untuk menciptakan udara bersih. Selain Ibu Maimun perwakilan TPoM, narasumber yang hadir antara lain Ir. H. Adi Yani, MH. selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Bachyuni Deliansyah, SH.MH. selaku Penjabat Bupati Muaro Jambi, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Andrean selaku Anggota Manggala Agni Daops Sumatera VII, Rengat, Muhammad Nur. S.Pd. selaku Guru SDN 7, Bandar Laksamana, Bengkalis, Riau dan Muhammad Salim selaku Kader Petani Kuburaya Binaan Field Indonesia.

Ibu Maimun menerangkan pengalamannya bersama kelompoknya, The Power of Mama, mengenai upaya mereka dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Fattreza Ihsan | YIARI)

Tidak hanya selesai di ICC, para panitia, peserta, narasumber bersama sama bertolak ke Kampus IPB Dramaga, tepatnya auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen untuk ikut menghadiri acara “Pesona Kampus Hijau.”

Acara ini merupakan kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Media Indonesia dan IPB University berupa talkshow dengan tema “Keberhasilan Indonesia dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan”. Turut dimeriahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang menghadiri acara ini. 

Pada kesempatan ini Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc sebagai Keynote Speaker, memberikan sambutannya, “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya penyebarluasan informasi dan apresiasi kepada seluruh pihak terkait upaya-upaya yang telah dilakukan pengendalian karhutla di Indonesia. Hal ini juga relevan dan komplementer dengan prakarsa Fahutan IPB yaitu penghargaan pada tingkat tapak dan lapangan dalam upaya kerja penanganan Karhutla”

Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI memberikan pandangannya mengenai bagaimana keberhasilan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia (Fattreza Ihsan | YIARI)

Agenda acara dilanjutkan dengan talkshow yang dimoderatori oleh Valerina Daniel. Narasumber talkshow ini ialah Rektor IPB University,  Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi dan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Bambang Hendroyono, MM.

Agenda acara ini pun ditutup dengan grup musik ternama di Indonesia, yaitu ADA Band 🧑‍🎤

Semoga The Power of Mama dapat terus menginspirasi dan memberikan dampak positif, tidak hanya untuk wilayah Ketapang ya, tapi juga Pulau Kalimantan, dan Indonesia! 🔥Semangat terus Mama-Mama TPoM! 🙌

Komunitas The Power of Mama Terima Penghargaan Nasional Clean Air Championship Award

Pada 17 November 2023, komunitas The Power of Mama (TPoM) menerima penghargaan “Clean air Championship Award 2023” tingkat petani, MPA, perorangan wilayah Kalimantan. Penerimaan penghargaan ini diwakili oleh Maimun bertempat di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center, Kota Bogor, Jawa Barat. Penghargaan yang diberikan oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia ini merupakan bentuk apresiasi dalam rangka program udara bersih Indonesia.

Menurut Prof. Bambang Hero Saharjo, selaku Ketua Tim Seleksi Penerima Awards di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional untuk tiga kategori, penghargaan ini pertama kali diadakan pada tahun 2022. “Latar belakang adanya penghargaan ini di antaranya kami melihat peran dari penerima award ini. Ada yang dari MPA (masyarakat peduli api), kemudian ada yang dari petani, kemudian ada yang dari masyarakat, perorangan. Kemudian juga ada dari instansi, seperti dari DLHK. Kemudian dari manggala agni, sampai ke tingkat perorangan. Menurut kami itu sangat penting dalam hal memberi support dan semangat semua level untuk sepakat menciptakan udara bersih. Kami juga dibantu oleh satu tim research dari United Kingdom yang menetapkan 7 kriteria untuk pemilihan penerima award ini. Jadi sebetulnya ini penghargaan internasional,” ujar Prof. Bambang Hero Saharjo yang juga merupakan Direktur Regional Fire Management Research Center (RFMRC) South East Asia di bawah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB.

Dalam pidato yang disampaikan di depan para tamu undangan acara penghargaan ini, Maimun sangat mengapresiasi dukungan yang diterima The Power of Mama terutama dari YIARI dan The Orangutan Project (TOP).

Ibu Maimun selaku perwakilan The Power of Mama saat menyampaikan pidatonya (Fattreza Ihsan | YIARI)

“Ini suatu penghargaan yang sangat luar biasa, kalau bagi saya orang biasa, ini adalah mimpi. Tapi tentu ini merupakan suatu tanggung jawab yang bakal kami emban ke depannya. Saya berdiri di sini hari ini sebagai perwakilan dari salah satu anggota organisasi kami, yaitu The Power of Mama. Kami dari The Power of Mama itu terinspirasi oleh Ibu Dokter Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI, karena beliau adalah inisiator kegiatan dari komunitas ini, dan oleh ibu Menteri LHK kita, Ibu Siti Nurbaya, karena beliau adalah sosok perempuan yang menjadi contoh bagi kami untuk bergerak dan berjuang di bidang lingkungan hidup. Kami tidak dibayar dan bukan merupakan suatu instansi, namun sebagai relawan yang bergerak di bidang lingkungan. Jadi kami menjadi bagian dari komunitas ini semata-mata dari hati nurani kami,” ujar Maimun, 53 tahun, yang berasal dari Desa Suka Maju, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Sejumlah dukungan yang telah diterima The Power of Mama, disampaikan lebih lanjut oleh Maimun dalam pidatonya. Ia menjelaskan bahwa kelompok The Power of Mama telah menerima sejumlah program peningkatan kapasitas. Di antaranya pelatihan menggunakan drone untuk memantau kawasan yang rawan kebakaran, SMART Patrol, public speaking, dan pemadaman kebakaran. “Kami berharap The Power of Mama ini akan semakin berkembang, semakin maju, juga bisa menginspirasi kaum wanita, kaum ibu-ibu, tentunya yang ada di pedesaan. Karena kebakaran hutan dan lahan itu tentu beradanya di pedesaan, seperti desa kami yang sering terjadi kebakaran. Semoga kegiatan komunitas kami ini bisa diterima di masyarakat, kami mengharapkan itu bantuan dan dorongan dari semua pihak pemerintah yang ada di Indonesia,” ujar Maimun yang juga aktif sebagai fasilitator desa dan penggerak pertanian organik di desanya.

The Power of Mama yang didirikan pada 8 Juni 2022 ini merupakan komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Komunitas ini bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat sekitar untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal. Saat ini kegiatan berfokus pada patroli dan monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.

Selain penghargaan untuk tingkat petani, MPA, perorangan, penghargaan serupa juga diberikan pada tingkat Manggala Agni atau BPBD dan tingkat kelompok di wilayah Kalimantan dan Sumatera (Fattreza Ihsan | YIARI)

YIARI sebagai lembaga yang menginisiasi kemunculan The Power of Mama, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas prestasi yang didapatkan kelompok yang sekarang telah berjumlah 92 ibu-ibu rumah tangga dari 6 desa di Ketapang. “Mereka perempuan hebat yang telah berhasil memberikan inspirasi bagi kita semua, terutama bagi komunitas di sekeliling mereka. Tanggung jawab mereka tidak putus hanya di rumah tangga, tetapi mereka berperan aktif dalam menjaga lingkungan untuk kita semua. Kita harus saling memberi dukungan dan inspirasi sebagai sosok perempuan yang punya peran sangat penting dalam menjaga lingkungan seperti ibu Siti Nurbaya, Menteri LHK yang tidak pernah berhenti menjadi inspirasi untuk kami semua. Kami juga sangat berterima kasih kepada para pihak yang telah memberikan pengakuan atas kerja keras mereka yang telah bekerja dengan sukarela mengamankan lingkungan desa mereka dari kerusakan alam, terutama api. Kami dari YIARI berharap, kemunculan The Power of Mama ini akan menumbuhkan inisiatif-inisiatif masyarakat dalam menjaga alam dan bumi ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI.

Sejalan dengan harapan YIARI ini, Prof. Bambang Hero Saharjo mengungkapkan bahwa perlu banyak upaya-upaya masyarakat untuk menjaga kualitas udara. “Ketika kita bicara tentang kualitas udara itu, tidak berkaca pada hari ini saja. Karena bisa jadi apa yang terjadi sekarang itu adalah kulminasi dari perjalanan-perjalanan sebelumnya.  Di situlah kita melihat ada peran dari masing-masing, apakah itu perorangan, co-leadership dan sebagainya.”

Satukan Persepsi Mengenai Proses Pelaporan, Penyelamatan dan Penanganan Satwa Liar di Jawa Barat Lewat Diskusi Kelompok Terpumpun

Bersama dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar), kami mengadakan diskusi kelompok terpumpun (DKT)/ focus group discussion bagi pihak-pihak yang berkontribusi dalam penanganan dan penyelamatan satwa liar di sekitar Jawa Barat. Pihak-pihak ini di antara lain ialah BBKSDA Jawa Barat, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS), hingga Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten dan Kota Bogor. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu (18/10) di Taman Wisata Alam Gunung Pancar, Babakan Madang, Bogor.

Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Kepala BBKSDA Jawa Barat dan diawali dengan pemberian materi oleh beberapa narasumber yakni drh. Indri Saptorini (YIARI), drh. Muhammad Piter Kombo (Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah) dan drh. Ida Masnur (Aspinall Foundation). Materi yang diberikan kepada peserta mengenai penanganan dan penyelamatan untuk kukang, burung serta primata lainnya seperti lutung dan owa. Tidak lupa terdapat pengantar materi mengenai gambaran penguatan upaya penyelamatan satwa oleh Ir. V. Diah Qurani Kristina, M.Si., mewakili BBKSDA Jawa Barat.

Peserta saat kegiatan pemaparan materi oleh narasumber (Dwi Nur Ayuni | YIARI)

“Saat ini kalau ada apa-apa, masyarakat itu pasti cari damkar. Ada ular masuk rumah cari damkar, ada anak yang kepalanya tersangkut cari damkar,” ucap Ibu Diah. Tidak sedikit laporan dari masyarakat kepada pemadam kebakaran mengenai satwa liar yang masuk ke rumah ataupun satwa liar yang dipelihara kemudian kabur bahkan menyerang pemiliknya. BKSDA juga terkadang mendapatkan laporan dari masyarakat untuk penyerahan satwa liar.

Materi yang disampaikan kepada peserta ditekankan pada bagaimana cara handling dan restrain satwa liar untuk menjaga keselamatan petugas lapang serta satwa liar. Selain itu, pemateri juga menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan saat memindahkan satwa liar yakni disarankan untuk menghindari translokasi satwa saat siang hari karena suhu udara yang tinggi dan berpotensi menimbulkan stres pada satwa.

drh. Ida Masnur menyampaikan kepada peserta bahwa tantangan terbesar dalam upaya penyelamatan satwa liar adalah kesabaran. Menghadapi satwa liar harus sabar dan kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada mereka, jika itu terjadi maka satwa akan stres. Informasi yang ada di lapangan dan kondisi satwa sangat diperlukan, semakin lengkap informasi yang diberikan pada pihak rehabilitasi dapat membantu proses penanganan dan penyelamatan satwa liar.

Setelah pemaparan materi, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk melaksanakan diskusi kelompok terpumpun dengan beberapa studi kasus yang diberikan oleh pendamping. Setiap kelompok terdiri dari berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam penanganan dan penyelamatan satwa liar sehingga kasus dapat diselesaikan dengan melibatkan pihak-pihak terkait.

Peserta saat melaksanakan diskusi kelompok terpumpun (Dwi Nur Ayuni | YIARI)

Setiap kelompok mendapatkan kesempatan memaparkan hasil diskusi selama kurang lebih 15 menit dan mendapatkan tanggapan dari kelompok lain. Diskusi berlangsung baik karena peserta membahas dengan melihat kondisi dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lapangan dengan seksama.

Harapan dari diadakannya kegiatan ini adalah peserta yang hadir memahami proses pelaporan, penyelamatan, dan penanganan satwa liar, menindaklanjuti pelaporan dan menentukan langkah selanjutnya dalam penyelamatan satwa liar, mendapatkan gambaran mengenai langkah-langkah penanganan satwa setelah penyelamatan, serta terjalinnya komunikasi para pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan dan penanganan satwa liar.

Dalam sesi penutup, Richard Stephen Moore, Advisor Program YIARI menyampaikan inisiatif dari DKT ini sebaiknya tidak berhenti di proses penyelamatan satwa liar saja, namun juga penyadartahuan ke masyarakat tentang hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan terhadap satwa liar untuk mengurangi kasus temuan satwa liar di masyarakat. “Upaya-upaya penanganan dan penyelamatan yang sudah kita diskusikan, akan lebih baik jika dibarengi dengan pemikiran ke arah edukasi ke masyarakat terkait larangan memelihara dan memburu satwa liar,” pungkasnya di akhir acara.

Dwi Nur Ayuni

Mengenal Program Holistik YIARI dalam Melindungi Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung

Melindungi kawasan hutan sebagai area habitat satwa liar sekaligus sumber masa depan ekosistem alam, merupakan salah satu fokus kegiatan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), lembaga yang berdiri di Indonesia sejak tahun 2008 dengan penyandang dana utama dari International Animal Rescue (IAR) yang berpusat di Inggris. Salah satu program YIARI adalah bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung untuk berkegiatan di Hutan Lindung (HL) Batutegi yang dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi.

Di HL Batutegi inilah, YIARI telah berkegiatan sejak tahun 2008. Di tahun-tahun awal, kegiatan YIARI masih fokus pada kegiatan yang berhubungan dengan satwa dan habitatnya, di antaranya pada perlindungan dan patroli kawasan serta pelepasliaran satwa liar hasil rehabilitasi YIARI . Namun pada perkembangannya, kerja sama dengan KPH Batutegi mulai berkembang seiring melihat figur kawasan yang berdasarkan SK. 650/Menhut-II/2010, memiliki total luas kawasan sebesar 58.162 hektar, telah berubah menjadi lahan perkebunan dan tersisa ± 17,4 % dari total luas kawasan yang masih alami. 

Landscape Wilayah Hutan Lindung KPH Batutegi (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Upaya mempertahankan kawasan yang masih tersisa ini diperlukan melihat masih ditemukannya keragaman satwa di dalam HL Batutegi di antaranya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), kucing emas (Catopuma temminckii), musang bulan (Paguma larvata), siamang (Symphalangus syndactylus), beruk (Macaca nemestrina), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), simpai (Presbytis melalophos), dan kukang sumatera (Nycticebus coucang). Karena itulah diperlukan pendekatan holistik untuk melindungi kawasan ini dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Mendukung perlindungan dan pengamanan habitat satwa liar kawasan hutan KPH Batutegi
  2. Mendukung upaya pendataan potensi keanekaragaman hayati kawasan hutan KPH Batutegi
  3. Mendukung program pendampingan masyarakat dalam pengelolaan wilayah HKm KPH Batutegi secara optimal sehingga  memberikan manfaat ekonomi maupun ekologis
  4. Mendukung upaya penyadartahuan masyarakat sekitar kawasan tentang fungsi dan manfaat hutan

Untuk itulah pada 15-17 September 2023, YIARI mengundang beberapa perwakilan media nasional yaitu Kompas Cetak/Kompas.id, Tempo.co, Mongabay Indonesia, Suara.com, Lampungpride.com, dan Lampung Post. Para wartawan ini juga berasal dari lembaga-lembaga jurnalisme terhormat di Indonesia, di antaranya Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) dan SIEJ (Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia). 

Di hari pertama, yaitu 15 September, para media diajak untuk mengenal kegiatan pendampingan masyarakat bagi Gapoktan Sumber Makmur. Total anggota Gapoktan Sumber Makmur mencapai 840 petani dari 18 KTH (Kelompok Tani Hutan). Dari kantor program YIARI di Air Naningan, Batutegi, lokasi kegiatan Gapoktan Sumber Makmur ini ditempuh selama 3 jam melalui jalur darat, air, kemudian jalur darat lagi dengan medan yang cukup terjal.

Sesampainya di lokasi, acara dibuka oleh Robithotul Huda selaku Senior Manager Program Resiliensi Habitat YIARI yang mengelola kegiatan di Batutegi. “Kami telah hadir mendampingi petani di kawasan Hutan Lindung Batutegi sejak tahun 2017. Melalui pendampingan, kami mengajarkan cara-cara efektif dalam menerapkan agroforestry. Hal ini dikarenakan banyak petani berpikir bahwa meningkatkan produksi pertanian mereka dengan cara membuka lahan seluas-luasnya. Padahal solusinya bukan itu.

Dengan batasan lahan yang bisa mereka olah menurut UU Perhutanan Sosial yaitu 2 hektar, jika digarap dengan benar dan efektif, hasilnya akan bagus. Untuk pola pendampingan yang kami terapkan adalah melihat terlebih dahulu situasi yang dihadapkan para petani, menanyakan apa harapan mereka, dan dari situ kami masuk pelan-pelan. Dengan cara ini, para petani juga tidak terus menerus tergantung dengan kami,” ujar Robithotul Huda.

Mengunjungi Salah Satu Gapoktan Dampingan YIARI, Gapoktan Sumber Makmur (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Dayat, Ketua Gapoktan Sumber Makmur menyampaikan apresiasi atas kegiatan pendampingan yang telah mereka ikuti selama ini. “Dulu sebelum didampingi YIARI, kami berpikir hanya pada hasil kopi saja. Kini setelah melalui pendampingan, kami jadi mempelajari tanaman-tanaman produksi lainnya yang ternyata sama-sama bagus hasilnya, seperti tanaman kemiri, pala, dan pinang.

Kami berharap semoga seperti nama Gapoktan kami, yaitu Sumber Makmur, pendampingan yang telah kami jalani ini menjadi sumber kemakmuran bagi para anggota kami,” ujar Dayat. Dalam kunjungan ini, para anggota Gapoktan Sumber Makmur mengajak rombongan jurnalis untuk berkeliling melihat fasilitas yang ada sambil bercerita tentang kemampuan yang telah mereka kuasai.

Fasilitas yang ada di antaranya ialah persemaian dan kandang kambing. Bibit yang terdapat pada persemaian menyesuaikan komoditas pilihan petani, di antaranya pala, alpukat, dan pinang. Semai disimpan pada ecopolybag, kantung bibit dari bahan bambu sehingga ramah lingkungan yang juga merupakan hasil produksi mandiri gapoktan ini.

Untuk peternakan, para jurnalis diajak melihat kandang kambing yang ada dirancang khusus ini memiliki sistem yang membuat kandang cenderung lebih higienis dibandingkan kandang kambing biasanya. Lantai kandang dibuat berjarak sehingga kotoran kambing terkumpul otomatis pada bagian bawah kandang. Begitu juga urin kambing yang dialirkan otomatis melalui pipa. Kotoran dan urin ini pun kemudian akan diolah dengan campuran lainnya untuk menjadi pupuk.

Pembekalan yang diberikan oleh YIARI kepada para petani ini dijalankan dengan nama Sekolah Lapang, yang dimentori oleh Eko Sukamto, pakar pertanian organik nasional. Sekolah Lapang ini telah dijalankan selama tiga kali sejak September 2022. “Kami berharap para petani ini bisa menerapkan pertanian alami, di mana pemecahan semua masalah pertanian yang mereka alami itu sebenarnya sudah ada di alam. Misalnya tanaman apa yang bisa mengundang serangga atau binatang-binatang yang bisa membasmi hama pada tanaman kopi, hingga menerapkan satu siklus seperti memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai pupuk bagi tanaman mereka. Menerapkan siklus ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah mereka seperti mahalnya harga pupuk,” ujar Eko Sukamto.

Pada sekolah lapang pertama, para petani ini mulai belajar metode-metode agroforestri yang mampu meningkatkan hasil tani seperti pembuatan pupuk kompos dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).  Kemudian mereka belajar mengembangbiakkan jamur Trichoderma pada sekolah lapang kedua. Trichoderma atau jamur hijau ialah jamur yang berfungsi sebagai fungisida (agen pembunuh jamur) sekaligus dapat bermanfaat sebagai pupuk organik.

Selanjutnya pada sekolah lapang yang ketiga, mereka akan belajar mengambil trichoderma dari alam sehingga bisa membuat indukan trichoderma secara mandiri. Ibu Sriatmiatun, satu satunya wanita peserta sekolah lapang, dengan semangat menjelaskan hasil dan proses pembuatan produk Gapoktan. Produk tersebut di antaranya pupuk kompos atau pupuk padat, POC (Pupuk Organik Cair), MOL (mikroorganisme lokal), pestisida nabati, serta pestisida nabati dua kaki yang dapat membunuh hama dan penyakit. 

Agenda selanjutnya pada 16 September ialah kunjungan ke Stasiun Riset Way Rilau yang merupakan pusat penelitian Hutan Lindung Batutegi. Dari Desa Sumber Makmur, stasiun riset ini dapat ditempuh selama sekitar 2-4 jam, bergantung pada kondisi lingkungan, juga kemampuan fisik masing-masing. Didampingi oleh Kepala UPTD KPH Batutegi, Qadri; Polhut Ahli Madya atau Bapak Kepala Unit Polhut, Ruslan; Apri Supriyanti selaku polisi hutan (polhut), serta tim Resiliensi Habitat lainnya, para jurnalis berdiskusi terkait program RH yang telah dilaksanakan di lokasi Way Rilau ini. Mereka juga melihat langsung praktik penggunaan kamera jebak, juga simulasi penemuan jerat jebakan yang kerap ditemukan ketika melaksanakan patroli hutan.

Melihat kegiatan YIARI di kunjungan ke Stasiun Riset Way Rilau (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Stasiun ini sebenarnya belum launching sepenuhnya, namun nantinya saat diluncurkan secara resmi, maka stasiun ini akan menjadi satu-satunya di Provinsi Lampung. Dengan adanya stasiun ini, kami berharap kegiatan patroli kawasan dan monitoring keanekaragaman hayati menjadi lebih lancar dan sukses dalam mempertahankan keberadaan spesies-spesies yang ada di hutan ini,” ujar Robithotul Huda. 

Sejalan dengan harapannya, Richard Stephen Moore, Advisor Bagi Program YIARI di Jawa Barat dan Provinsi Lampung, menyampaikan bahwa Stasiun Riset Way Rilau bisa menjadi salah satu tahapan untuk mengangkat Batutegi ke wilayah internasional. “Kami berharap stasiun ini bisa menjadi tempat bagi para peneliti dan periset untuk melakukan penelitian di kawasan ini, sehingga bisa memunculkan publikasi-publikasi penting tentang keanekaragamanhayati di Batutegi,” ujar Richard. 

Kepala UPTD KPH Batutegi, Qadri menyampaikan harapannya agar stasiun riset ini dapat membantu mengumpulkan data keanekaragaman hayati untuk kemudian menjadi acuan strategi pengelolaan wilayah KPH. “Semoga stasiun riset ini dapat menjadi sarana prasarana peneliti untuk menggali keanekaragaman hayati di wilayah ini. Kami sangat membutuhkan data keanekaragaman, terutama terkait hewan kunci yang ada di wilayah KPH Batutegi ini. Data tersebut dapat menjadi acuan bagi kami dalam rangka menjaga dan membuat strategi pengelolaan KPH ke depannya. ”

Qadri juga menyampaikan bahwa KPH Batutegi sangat terbantu dengan keadaan YIARI, “Dengan adanya YIARI dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kami merasa terbantu sekali. Rasanya tidak mungkin kami mengerjakan sendiri pengawasan area seluas 58 ribu hektar dengan personil yang terbatas. Terutama dalam upaya pengamanan, patroli, juga pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan, rehabilitasi, juga penyadartahuan terhadap pemuda. Kami merasa beruntung bisa terbantu oleh YIARI, sehingga tahun ini KPH Batutegi mendapatkan predikat KPH efektif tingkat nasional. Salah satu perbedaan yang terlihat ialah perbedaan pola tanam yang diterapkan para petani. Para petani yang tergabung dalam Gapoktan awalnya hanya monokultur menanam kopi, kini perlahan mulai menerapkan pola agroforestri.”

Mengunjungi Taman Baca Jalosi Sanak Negeri dan Melihat Penampilan Tari (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Agenda terakhir kegiatan Media Visit adalah kunjungan ke Taman Baca Jalosi Sanak Negeri yang didirikan oleh Tamar Widadi (32 tahun). Pada Juni 2015, Tamar mulai mengajak anak-anak membaca di rumahnya. Taman baca dampingan YIARI sejak tahun 2019. Kerja sama dan dampingan dari YIARI dimulai dengan edukasi konservasi yang disampaikan melalui permainan, juga lomba mewarnai. “Jalosi berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti lubang angin atau ventilasi, yang kecil namun bermanfaat; sanak memiliki arti anak-anak; negeri memiliki arti negeri kita ini, Indonesia. Jadi harapannya Jalosi Sanak Negeri dapat menjadi sesuatu yang kecil namun bermanfaat untuk anak-anak dalam negeri,” ujar Tamar Widadi. 

Anak-anak yang rutin hadir mengikuti kegiatan berjumlah sekitar 20 – 30 anak. Namun ada pula acara besar tertentu di mana anak-anak yang hadir bisa mencapai 50 bahkan 70 anak. Usia anak-anak yang mengikuti kegiatan di Taman Baca Jalosi bervariasi. Mayoritas anak-anak yang mengikuti kegiatan di taman baca ini berada pada tingkat pendidikan SD kelas 1 sampai kelas 6. Terdapat pula beberapa anak SMP, bahkan beberapa anak yang belum memasuki usia sekolah dengan tingkat TK dan PAUD yang sudah semangat mengikuti kegiatan. Siswa siswi tingkat SMA pun ikut dilibatkan, bukan sebagai peserta melainkan sebagai sukarelawan yang membantu Tamar mengajar anak-anak lainnya sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berkelanjutan.

Kegiatan edukasi konservasi yang dilakukan pada Taman Baca Jalosi ini sangat beragam, kebanyakan disampaikan dengan pendekatan yang santai dengan prinsip belajar dan bermain. Di antaranya dongeng tentang satwa, mewarnai satwa liar seperti owa, nonton bersama film tentang satwa. Taman Baca Jalosi ini juga aktif berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain untuk mengadakan kegiatan pada hari besar peringatan terkait satwa dan lingkungan.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kolaborasi Akbar Aksi Basmi Sampah di Pantai Tanjung Belandang

Seperti biasanya, setiap satu bulan sekali tim Edukasi YIARI, mengadakan kegiatan rutin edukasi pengurangan sampah plastik. Bertempatkan di Pantai Tanjung Belandang, kegiatan yang bernamakan “Kampanye Pengurangan Sampah Plastik” dipersiapkan oleh staf kami dengan bantuan anak-anak dari Beasiswa Kahiu, para penerima program edukasi kami di Desa Sungai Awan Kiri muali dari Jumat siang di tanggal 25 Agustus 2023.

Kegiatan ini kami mulai lebih awal dari biasanya, sebab intensitas curah hujan di daerah Ketapang dan sekitarnya saat ini sering tidak menentunya dan sulit diprediksi. Lantas, kami rencanakanlah kegiatan ini yang dimulai pada pukul 14.00 WIB. Satu demi satu, para peserta berdatangan. Kelompok demi kelompok mulai mengerumuni pinggiran pantai yang seharusnya indah dan terbebas sampah ini.

Para peserta yang berkerumun sebelum kegiatan Aksi Bersih Sampah di Pantai Tanjung Belandang dimulai (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Awalnya kami tidak sadar betapa banyaknya jumlah peserta yang hadir di kegiatan aksi bersih sampah ini. Rupanya setelah kami hitung-hitung, jumlah peserta pada kegiatan bulan ini mencapai 195 peserta! Ini adalah rekor buat kami. Di bulan Juli sebelumnya, jumlah peserta yang ikut berjumlah 87 orang, berarti jumlah pesertanya lebih banyak 108 orang.

Kami berpikir, mungkin saja jumlahnya menjadi lebih banyak karena kami mengajak lebih banyak instansi dan komunitas daripada bulan lalu. Di bulan ini kami mengajak 23 instansi dan komunitas, di antaranya adalah instansi pemerintahan seperti Lanal Ketapang, Polisi Pamong Praja Ketapang, Diskominfo Ketapang, Bhayangkari Ketapang, Bhabinkamtibmas eas Sungai Awan Kiri, Dinas Perkim-LH Ketapang, para ibu dari Ikatan Adhyaksa Dharmakarini, Persit KCK, Posyandu, Polsek Muara Pawan, Koramil 12/DPW, Dandim 1203, hingga Dinas Pendidikan Ketapang. Ada juga komunitas yang hadir di aksi bersih sampah kali ini, seperti dari Komunitas PMII, Komunitas RK. Tajam, Komunitas Sako Pramuka Peduli, Komunitas Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Kesatuan Pengelolaan Hutan KTS dan KTU, serta Komunitas Genre. Kami mengajak pula adik-adik sekolah dan universitas. Ada yang datang dari SMP PGRI 3 dan Politap, masing-masing membawa teman sekelasnya yang menurut kami cukup banyak jumlahnya.

Para Siswa dari SMP PGRI 3 bahu-membahu memunguti sampah yang tercecer di sekitar Pantai Tanjung Belandang (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah memastikan semua peserta hadir dan siap, dimulailah acara dengan pembukaan dan safety briefing yang ditujukan untuk untuk keselamatan seluruh peserta. Sehabis pemaparan keselamatan, kegiatan dilanjutkan dengan senam bersama yang dipimpin oleh siswa-siswi dari SMAN 3 Ketapang. Sebanyak 2 kali pemutaran musik senam, peserta tampak antusias dalam mengikuti semua gerakkan. Ramainya peserta yang terlibat menambah serunya kegiatan dan harapannya bisa menambah semangat ketika melakukan kegiatan bersih sampah.

Senam pun selesai, kegiatan dilanjutkan dengan aksi pungut sampah bersama. Rupanya Sobat #KonservasYIARI, selain peserta, para orangtua yang mengantar anak-anak mereka, juga ikut serta dalam memungut sampah.

Untuk lokasi pemungutan sampah ada disekitar titik kumpul kegiatan. Peserta tampak banyak menyebar dan saling membantu antar komunitas untuk memungut sampah. Dalam satu momen kegiatan ini juga diabadikan komunitas Zwageri Generation dari pelatihan komunitas virtual bersama UNJ dan YIARI dalam sebuah video vlog.

Proses penimbangan sampah di samping mobil bak sampah milik Dinas Perkim-LH. Sebanyak 187 kg sampah terkumpul di kegiatan Aksi Bersih Sampah bulan Agustus 2023 ini. (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah kurang lebih 2 jam lamanya, para peserta yang menyebar kami kumpulkan di satu titik dekat bak sampah milik Dinas Perkim-LH untuk melakukan penimbangan sampah. Para peserta mengantri untuk menunggu giliran menimbang hasil jerih payah mereka memungut sampah. Pada akhir penimbangan, terkumpullah 187 kg sampah yang didominasi sampah anorganik, lebih banyak ketimbang bulan Juli lalu yaitu 123 kg. Ternyata, dengan semakin banyaknya peserta yang ikut, bisa meningkatkan jumlah pengumpulan sampah di pantai Tanjung Belandang. Kami sebagai panitia sangat senang masih banyak orang yang tergerak untuk melakukan perubahan di lingkungan sekitarnya.

Akhirnya, mobil bak Dinas Perkim-LH un selesai menampung sampah dan bergegas menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Setelah itu, kami para panitia dan peserta beristirahat sejenak di pantai yang sudah bersih ini dan bercengkerama. Kegiatan kami akhiri dengan senyum dan tawa kebersamaan dan foto bersama di bawah lembayung sore yang hangat.

What a lovely day!

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sambutan Seru Masyarakat Saat Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko Kunjungi YIARI Ketapang

Sungguh kebahagiaan dan kebanggan tersendiri kami rasakan ketika Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Moeldoko, S.I.P., dan seluruh jajarannya, mengunjungi Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 20 Juli 2023. Pak Moeldoko mampir ke YIARI dalam rangka undangan Forkominda Ketapang dan beliau memilih YIARI sebagai salah satu destinasi kunjungan kerjanya ke Kabupaten Ketapang. 

Setiba di Learning Centre YIARI di Desa Sei Awan Kiri, Dr. Moeldoko diterima oleh seluruh jajaran pengurus dan manajemen yang diwakili oleh Dewan Pengurus YIARI, Marius Marcellus TJ, SH, MM dan ribuan mitra masyarakat dampingan YIARI. Ribuan? Yoi, sobat KonservasYIARI. Terhitung sampai 1500-an pengunjung hadir menyambut beliau. Sambil menjabat tangan para masyarakat, beliau menerima penjelasan tentang program-program konservasi holistik yang dijalankan YIARI yang berdiri pada 14 Februari 2008, berupa penyelamatan dan rehabilitasi satwa dengan bermitra bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga pendampingan masyarakat di bidang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan. 

Sambutan meriah masyarakat saat Dr. Moeldoko mengunjungi Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Ribuan orang yang hadir itu  adalah dari kelompok dan komunitas dampingan YIARI yang selama ini bekerja dan berkegiatan di ranah konservasi, pertanian berkelanjutan, dan pendidikan berwawasan lingkungan. Di antaranya kelompok The Power of Mama, Zwagery Generation, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). Turut hadir pula komunitas dan kelompok-kelompok etnis dan budaya lokal di Ketapang.

Pak Moeldoko juga masuk ke bagian rehabilitasi orangutan dan satwa bersama pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung dan jajaran SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat sembari mendapatkan penjelasan dari tim Animal Management YIARI tentang seluruh prosedur perawatan satwa liar dari sejak menerima satwa yang diselamatkan, hingga menyiapkan mereka untuk dilepasliarkan kembali. Di area rehabilitasi ini, beliau meresmikan pelepasliaran empat individu orangutan secara simbolis, sekaligus menjadi pengadopsi orangutan Gatot yang dirawat di pusat rehabilitasi YIARI sejak ia masih bayi dari tahun 2016. Terkesan oleh kelengkapan fasilitas dan prosedur rehabilitasi yang dimiliki YIARI, Dr. Moeldoko memberikan apresiasi positif atas kerja keras YIARI sebagai mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat satwa liar dan habitatnya, terutama untuk orangutan.

Dr. Moeldoko di antara masyarakat yang hadir (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah mengunjungi area rehabilitasi orangutan YIARI, Dr. Moeldoko menyambut para mitra masyarakat dampingan YIARI di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren yang masih berada di bagian depan kompleks YIARI di Sei Awan Kiri. Di kesempatan tersebut, Dr. Moeldoko secara khusus mengapresiasi peran perempuan dalam konservasi terutama dalam merehabilitasi orangutan. “Saya kagum pada anak-anak muda yang merelakan hidupnya untuk merawat satwa, dan terutama merawat orangutan. Saya melihat tadi ada anak perempuan yang semestinya bisa berbahagia di kota tetapi ia korbankan kehidupannya untuk menjaga orangutan berada di sini. Ini sungguh pengorbanan luar biasa yang kadang-kadang kita yang di Jakarta dan yang di kota-kota, tidak paham bahwa dari tangan merekalah lingkungan itu terjaga dengan baik,” ujar Dr. Moeldoko dalam kata sambutannya kepada seluruh hadirin yang memadati halaman Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren.

Apresiasi Dr. Moeldoko pada peran perempuan dalam konservasi juga beliau sampaikan bagi kelompok The Power of Mama (TPOM) yang didirikan oleh YIARI pada 8 Juni 2022. “Baru kali ini saya menemukan The Power of Mama dan yang mengejutkan yang dihadapi bukan sembarangan, kalau sama api saja berani apalagi sama yang lain. Di sinilah kita mesti belajar ke Ketapang, di manakalau di tempat lain banyak orang membakar hutan, justru di Ketapang ini semuanya bersiaga untuk menghadapi kebakaran itu. Saya sungguh menaruh rasa hormat kepada ibu-ibu sekalian yang saat ini berdiri paling depan dalam menghadapi kebakaran. Ibu-ibu harus paham bahwa satuan kebakaran kalau di luar negeri itu grade-nya nomor dua dalam melindungi bangsa dan negara. Yang pertama tentara, yang kedua itu satuan kebakaran. Grade kedua yang ditempatkan di tempat yang terhormat dan luar biasa ialah para pemadam kebakaran,” ujar Dr. Moeldoko.

Nah buat kalian yang masih penasaran dengan serunya acara kunjungan Pak Moeldoko, bisa melipir baca Siaran Pers kami dan videonya di link youtube kami.

Dewi Ria Utari

Komunitas Power of Mama: Satu Tahun Berkarya bagi Lingkungan

Gak kerasa loh, udah setahun aja ibu-ibu super dari  Kabupaten Ketapang ini membantu mengamankan lingkungan dari berbagai ancaman kerusakan alam. Iya nih Sob, ibu-ibu tangguh yang tergabung dalam Komunitas The Power of Mama  ini baru aja memperingati satu tahun umurnya yang pertama banget. The Power of Mama ini bukan geng-gengan superhero ala-ala, tapi lebih keren lagi karena mereka adalah ibu-ibu keren yang berhasil jadi pahlawan lingkungan!

Komunitas ini terbentuk tanggal 8 Juni 2022, dan baru-baru ini tanggal 16 Juni 2023 kemarin mereka ngadain acara ultah sekaligus pelatihan dan pengesahan anggota baru. Lahir tanggal 8 Juni kok malah milih tanggal 16 Juni buat merayakan? Nah, sebenernya gampang aja, soalnya pas tanggal itu juga ada pelatihan dasar dan pengesahan buat dua desa yang baru gabung. Kedua desa itu adalah Desa Kuala Tolak dan Desa Sungai Putri di Kecamatan Matan Hilir Selatan. Dua desa ini bikin tambah meriah komunitas TPOM dengan nambahin 32 anggota baru. Sebelumnya anggota TPoM ini terdiri 56 orang anggota dari 4 desa, yakni Desa Pematang Gadung, Desa Sungai Besar di Kecamatan Matan Hilir Selatan, juga Desa Sungai Awan Kiri dan Desa Sukamaju di Kecamatan Delta Pawan.

Foto bersama dalam momen perayaan satu tahun The Power of Mama (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

 Semua anggota lama juga hadir untuk mendapatkan penyegaran materi dan peningkatan kapasitas. Mereka juga berbagi cerita soal aksi-aksi mereka, baik yang di lapangan maupun pertemuan-pertemuan dengan pihak lain. Wah, makin akrab aja kayaknya mereka! Jadi, total mereka sekarang udah jadi 88 orang nih, semakin banyak semakin asyik kan?

Nah, kalian pasti pada mikir, apa aja sih yang sudah mereka lakuin selama setahun ini? Cekidot deh, mereka ini tipe-tipe ibu-ibu yang nggak main-main, bawaannya aksi terus. Ngebentuk barisan patroli, ngelawan kobaran api, dan gak pernah capek buat melakukan sosialisasi cara menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Mulai dari area Matan Hilir Utara, Muara PAwan, sampai Matan Hilir Selatan.

Selain itu, mereka juga nggak ketinggalan terjun langsung dalam pertanian dan ngebantu ngajarin masyarakat soal mangrove. Gak cuma itu, mereka juga jadi guru kece nih buat anak-anak, berbagi cerita dan pengetahuan tentang betapa pentingnya jagain lingkungan biar kehidupan kita semua tetap happy, termasuk manusia, satwa, dan alam sekitarnya.

Seru ya, teman-teman? Ini baru satu tahun aja udah banyak banget yang mereka lakuin. Apalagi ini bukan cuma cuap-cuap doang, tapi aksi nyata untuk membantu menjaga lingkungan. Jadi gak sabar lihat aksi mereka ke depannya kayak apa. Pasti lebih keren lagi dengan tambahan anggotanya itu.

Atensi yang muncul dari aksi para mama-mama super ini gak cuma datang dari Kabupaten Ketapang aja lho. Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dapil  Kalimantan Barat, Pak Daniel Johan bahkan sengaja mengunjungi ibu-ibu ini  di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Senin, 19 Juni 2023, gak lama setelah acara ulangtahun mereka. Gak cuma kunjungan dan ngobrol-ngobrol aja, Pak DJ (Daniel Johan maksudnya) ini juga menyatakan apresiasi dan dukungannya. 

Kunjungan Pak Daniel Johan ke Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren pada 19 Juni 2023 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

“Saya mendukung apa yang dilakukan YIARI bersama masyarakat karena ancaman terbesar Indonesia, ancaman terbesar dunia saat ini, selain krisis pangan adalah bencana alam sehingga segala upaya yang bisa kita lakukan untuk mengkonservasi, menjaga, merehabilitasi, melindungi, memberikan dukungan terhadap kekuatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi sangat penting. YIARI bersama masyarakat sudah melakukan seluruh proses itu, cukup lama sehingga perannya menjadi sangat penting untuk kelestarian alam, pelestarian lingkungan,” ujar Pak Daniel.

Beliau juga menegaskan perlunya upaya-upaya nyata berkolaborasi dan berkomitmen dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menjaga alam. “Memastikan sumber-sumber daya hayati itu terjaga dengan baik, adalah bagian dari komitmen untuk mendukung dan menjaga Indonesia agar bencana tidak menjadi ancaman yang semakin serius untuk Indonesia, untuk bumi, dan manusia. Sehingga bukan hanya dalam konservasi, tetapi kita juga mengapresiasi YIARI dalam memberikan penguatan kepada masyarakat di bidang pertanian, di bidang nelayan, perhutanan sosial, hutan adat, dan perekonomian masyarakat. Semua upaya ini perlu kita dukung demi masa depan Indonesia, demi masa depan dunia, dan demi kelangsungan hidup manusia,” ujarnya menambahkan.

Keren banget ya? Wakil rakyat dari Senayan aja sampai dateng lho buat menyampaikan dukungannya ke ibu-ibu di Ketapang ini.  Kita bisa belajar banyak nih dari Power of Mama, kalau ada niat dan semangat, nggak ada yang nggak mungkin. Jadi, jangan pernah meremehkan potensi diri kita sendiri untuk berbuat baik bagi lingkungan dan sesama, kayak ibu-ibu hebat di TPOM ini!

Heribertus Suciadi

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.