Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Penerapan Aplikasi SMART Patrol Perkuat Pembelajaran Konservasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba

Yayasan Inisiasi Alam dan Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan SMK Kehutanan Bakti Rimba bersinergi dalam kolaborasi edukatif dengan fokus pada implementasi aplikasi SMART Patrol. Kegiatan ini dilaksanakan pada 14 November 2025 di Hutan Penelitian Dramaga, Kota Bogor dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai konservasi satwa liar dan pentingnya pemantauan kawasan hutan.

Sebelum melakukan praktik lapangan, siswa mengikuti sesi pengenalan materi di sekolah. Dalam sesi tersebut, tim YIARI memperkenalkan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) Patrol, yaitu aplikasi sistem patroli berbasis data dan teknologi  yang digunakan untuk mencatat, memantau, dan menganalisis aktivitas patroli konservasi.  Melalui pendampingan langsung, siswa belajar memahami alur pengumpulan data di lapangan, cara pencatatan temuan, hingga pelaporan menggunakan perangkat SMART. 

Pemberian arahan oleh Tim YIARI pada siswa-siswi sebelum melakukan kegiatan lapangan (Elvyra|YIARI)

Kegiatan praktik di Hutan Penelitian Dramaga berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias dari para siswa. Para siswa didampingi tim YIARI yang membantu menjelaskan tata cara penggunaan SMART Patrol di lapangan. Mereka berkesempatan mencoba langsung penggunaan aplikasi SMART dalam simulasi patroli, sehingga memperoleh gambaran nyata tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menjaga kawasan hutan dan satwa liar.

Kepala SMK Kehutanan Bakti Rimba, Ribai, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung tiga kali pertemuan atau satu bulan saja, tetapi dapat diperpanjang minimal satu semester,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, 13 November 2025. Menurutnya, program edukasi dari YIARI sangat melengkapi kompetensi siswa, sejalan dengan fokus sekolah pada rehabilitasi, pemetaan, dan inventarisasi hutan. “Dengan adanya program konservasi satwa liar ini, pengetahuan dan keterampilan anak-anak Bakti Rimba menjadi jauh lebih lengkap,” imbuhnya.

Siswa-siswi sedang mengambil data pengamatan menggunakan aplikasi SMART (Hulwia|YIARI)

Kolaborasi ini merupakan bagian dari program KOAKSI (Kolaborasi Edukasi Konservasi) yang telah berjalan sejak awal Oktober. Program ini menghadirkan berbagai materi dasar konservasi untuk menumbuhkan kesadaran keanekaragaman hayati sejak dini. Hingga saat ini, edukasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba sudah berlangsung empat kali pertemuan.

Pendamping lapangan YIARI, Riki, sedang menjelaskan hasil pengamatan SMART (Hulwia|YIARI)

Melalui penerapan aplikasi SMART Patrol, siswa diharapkan dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan dunia kehutanan dan konservasi. Dukungan dan kesadaran yang tumbuh dari kegiatan ini menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi muda yang peduli serta siap terlibat aktif dalam pelestarian hutan dan satwa liar.

Saat ini, SMART Patrol juga tengah dikembangkan menjadi standar yang digunakan di berbagai Taman Nasional di Indonesia, sehingga kemampuan mengoperasikannya menjadi nilai tambah bagi para siswa. Dengan membekali mereka keterampilan yang selaras dengan kebutuhan lapangan dan perkembangan teknologi konservasi, YIARI dan SMK Bakti Rimba berharap para lulusan semakin siap dan kompeten dalam dunia kerja modern serta mampu memberi dampak jangka panjang bagi masa depan konservasi Indonesia.

Eunike Hana Grasia

Harmoni Bioakustik untuk Konservasi: Cerita dari SIMBA 2025

Perekam akustik merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk memantau keanekaragaman hayati, walaupun demikian penggunaannya masih tergolong jarang. Pada akhir Mei lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri Symposium of Indonesia-Malaysia Bioacoustics 2025 (SIMBA 2025) di Universiti Terengganu Malaysia.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Universiti Terengganu Malaysia ini bekerja sama dengan K. Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics, Cornell Lab of Ornithology, Cornell University dan Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini merupakan wadah untuk membangun jaringan bioakustik dan pertukaran pengetahuan bagi para praktisi bioakustik khususnya di wilayah Indonesia dan Malaysia. 

Diskusi grup membahas panduan bioakustik untuk pemula (Panitia SIMBA 2025)

Ini adalah kali kedua saya berpartisipasi dalam SIMBA, setelah sebelumnya mengikuti SIMBA 2023 yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada. Pada kesempatan ini, saya mewakili Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitas Indonesia (YIARI) untuk menyampaikan hasil sementara penilitian kami mengenai respon suara orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan owa kelawo (Hylobates albibarbis) terhadap suara antropogenik di Hutan Desa Pematang Gadung Kalimantan Barat.

Pengalaman ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat membagikan hasil kerja keras Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pematang Gadung dan YIARI dalam menjaga Hutan Desa Pematang Gadung serta mendapatkan masukan langsung dari para ahli bioakustik. Bukan hanya itu, saya juga berkesempatan bertemu teman lama dan teman baru para peneliti bioakustik dengan penelitiannya yang tak kalah menarik serta peluang untuk belajar dan bekerjasama di masa depan.

Swafoto bersama peserta SIMBA 2025 dari berbagai negara (Ashraft Yusni)

Pembicara utama pada simposium ini adalah Dena Jane Clink dari K. Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics, Cornell Lab of Ornithology, Cornell University dan Asman Adi Purwanto dari BISA Indonesia. Pembicara menyampaikan mengenai perkembangan penggunaan alat perekam bioakustik sebagai alat penting dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati. Metode ini merupakan metode non-invasive yang memungkinkan pengumpulan data skala besar untuk memahami keanekaragaman hayati, di antaranya distribusi spesies, pola perilaku, dan ancaman terhadap ekosistem.

Pembicara menekankan pentingnya membangun jaringan untuk memadukan penelitian ilmiah dan aksi konservasi yang selaras. Dua inisiatif utama yang sedang berkembang—program BEAT dan SIMBA— merupakan wadah bagi para penggiat bioakustik untuk mengatasi tantangan seperti kurangnya akses teknologi dan pengetahuan dengan mendorong kolaborasi antara peneliti, komunitas lokal, NGO, dan pemerintah. Inisiatif ini secara aktif berperan langsung dalam upaya konservasi spesies di Indonesia dan Malaysia.

Foto bersama peserta SIMBA 2025 di Wetland School of Setiu (Panitia SIMBA 2025)

Selain mengikut simposium, saya berkesempatan mengunjungi Wetland School of Setiu, yang merupakan program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh UMT. Di sini saya belajar mengenai kebudayaan masyarakat Setiu, belajar membuat satar (kudapan khas Terengganu) dan membuat anyaman tikar dari pandan laut yang didampingi langsung oleh ibu-ibu asli Setiu. Uniknya, masyarakat Setiu memiliki budaya pendengar ikan (fish listener) yang diturunkan secara turun-temurun untuk membantu mencari ikan. Sayangnya sudah sangat sedikit orang yang masih memiliki kemampuan ini.

Foto bersama panitia penyelenggara SIMBA 2025 dan seluruh peserta simba 2025 (Universiti Terengganu Malaysia)

Melalui tulisan singkat ini, saya membagikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus berharga untuk saya. Terima kasih untuk K. Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics, Cornell Lab of Ornithology dan Universiti Terengganu Malaysia atas pengalaman yang berharga serta memberikan wadah bagi para pejuang bioakustik untuk belajar dan bertumbuh. Sampai jumpa di lain waktu!

Featured Image: Kennedi membawakan presentasi (Muhajir Hasibuan)

Catatan Magang dan Penelitian Dua Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera di Hutan Gambut Kabupaten Ketapang, Kalbar

YIARI membuka banyak peluang magang dan penelitian. Nah, baru-baru ini, tepatnya di akhir tahun 2023 lalu, ada dua mahasiswa Rekayasa Institut Teknologi Sumatera dari Program Studi Rekayasa Kehutanan yang melakukan magang di YIARI untuk melakukan penelitian bersama kami. Masing-masing dari mereka meneliti hal yang berbeda, alhasil pengalaman yang mereka dapatkan juga berbeda. Seperti apa, sih, kisah mereka selama bekerja bersama YIARI? Yuk, simak bersama-sama!

Kisah Magang Irfan Fauzi

Halo, Sobat #KonservasYIARI! 

Nama saya Irfan Fauzi, sebenarnya banyak nama panggilannya, tapi saya lebih suka kalo di panggil Irfan. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di Institut Teknologi Sumatera dengan mengambil Program Studi Rekayasa Kehutanan yang berfokus pada konservasi satwa. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya diwajibkan untuk melakukan penelitian tugas akhir atau skripsi. Penelitian di bidang konservasi satwa liar termasuk kedalam penelitian yang memerlukan sumber daya yang tinggi mulai dari biaya yang besar, waktu yang lama dan kompetensi yang tinggi. Sempat berpikir untuk pindah ke bidang lain karena hal tersebut. Namun, ketika saya diposisi itu, tiba-tiba saya menerima pesan di group WhatsApp dari salah satu dosen bahwa ada NGO yang bergerak di bidang konservasi dan sedang mengadakan penerimaan penelitian mahasiswa, NGO tersebut adalah YIARI. Saya sudah mengenal YIARI sebelumnya, bahkan saya juga pernah mengundang salah satu orang hebat di YIARI yaitu Mas Robihotul Huda dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan oleh FORESTA ITERA. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meyakinkan diri saya untuk mengajukan diri melakukan penelitian bersama YIARI Ketapang.

Perjalanan Irfan Fauzi menuju Camp Punggur Rawan bersama tim YIARI (Dok: Istimewa)

Perjalanan saya bersama YIARI dimulai pada bulan November 2023. Pada dua bulan pertama (November – Desember 2023) saya menjalani kegiatan magang untuk mengenal lebih jauh tentang YIARI, belajar tentang materi sesuai topik yang saya ambil dan survey lapangan untuk menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Intinya dua bulan tersebut di berikan untuk persiapan penelitian saya agar diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Magang selesai pada pertengahan januari, kemudian penelitianpun di mulai. Saya diarahkan untuk penelitian di hutan desa pematang gadung (HDGP) dengan topik yang saya ambil yaitu tentang mamalia kecil dengan judul “Keanekaragaman Jenis Ordo Scandentia, Rodentia dan Chiroptera di Hutan Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat”.

Selama melakukan penelitian di Hutan Desa Pematang Gadung bersama dengan tim Biodiv banyak pengalaman menarik yang saya alami. Saat di HDGP saya tinggal di camp punggur rawan, camp yang menurut saya adalah keajaiban meskipun camp tersebut ketika musim penghujan, kita tidak akan menemukan daratan di sekelilingnya. Camp punggurawan berada sekitar 1 jam perjalanan menggunakan speedboat dari pelabuhan desa pematang gadung. Posisinya berada sekitar 200 meter dari sungai besar, dibangun diatas air, hanya musim kemarau camp tersebut memiliki dataran disekelilingnya. Ya benar-benar ajaib bagi saya yang sudah cukup sering ke hutan. Kenapa tidak? Hanya disini saya bisa mendapatkan akses internet yang kencang dalam hutan, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dengan pembimbing tugas akhir saya. Selain itu saya juga bisa mendapatkan energi listrik yang cukup baik siang maupun malam, karena di camp Punggur rawan energi listriknya tidak pernah terputus (24 jam). Kemudian dari segi logistik, hanya disini juga saya bisa merasakan minum es teh manis dalam hutan, bagi saya ini adalah salahsatu keajaiban. YIARI memang sangat mengerti terhadap karyawan-karyawannya dengan fasilitas terbaik yang sudah diberikan.

“Penghuni” Camp Punggur Rawan setelah melakukan observasi di lapangan (Dok: Istimewa)

Topik yang saya ambil dalam penelitian ini mengharuskan kami untuk melakukan flying camp. Jangan tanya soal fasilitas, sudah pasti sangat memadai meskipun kegiatan ini jarang di lakukan oleh tim biodiv itu sendiri. Kegiatan flying camp ini benar-benar untuk memenuhi penelitian saya. Saya sangat terbantu banget penelitian bersama dengan YIARI. Selama pengambilan data saya dibantu oleh Tim patroli dan Tim biodiv yang isinya adalah orang-orang baik dan tulus dalam membantu penelitian saya. Banyak hal menarik yang saya alami ketika pengambilan data di hutan desa pematang gadung salahsatunya dalah dari segi medannya. Hutan desa pematang gadung didominasi oleh area gambut yang ketika berjalan rasanya ingin melepas sepatu dan memberikannya ke gambut, soalnya beberapa meter berjalan gambut selalu menahan sepatu saya. Namun hal tersebut terbayarkan dengan keanekaragaman satwa yang saya jumpai. Saya banyak berjumpa dengan satwa-satwa eksotis. Saya bertemu dengan orangutan, bekantan, monyet ekor panjang, burung rangkong, kucing kepala datar, beberapa jenis ular, burung dan terakhir saya bertemu dengan si pemburu bermata bola. Ya saya berjumpa dengan Tarsius, salahsatu yang membuat saya sedikit sombong dengan kawan-kawan saya. Kenapa tidak sombong, berjumpa dengan tarsius liar itu salahsatu anugerah, bagi kawan-kawan konservasi pasti tau alasannya. Perasaan cape, malas, jenuh itu terbayarkan oleh keanekaragaman satwa yang saya temui. Pokoknya seru dan banyak yang bisa saya dapatkan ketika magang bersama dengan YIARI, tidak dapat saya ceritakan satu persatu Intinya sangat-sangat-sangat memuaskan.

Kisah Magang Farros Daffa Churrifian

Saya Farros Daffa Churrifian, mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kurang lebih satu tahun lalu saya mencari informasi tempat magang di bidang konservasi yang sekaligus bisa melakukan penelitian. Namun salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah pesan yang berisi:

“Yang berminat magang dan riset terkait konservasi di areal Gambut/Hutan Desa di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan YIARI Ketapang silakan hubungi saya. Posisi magang dan penelitian terbuka untuk 2 orang.”

Tawaran yang menggiurkan dari Pak Muhajir, dosen saya, untuk bergabung dalam program magang dan penelitian di YIARI Ketapang menjadi awal dari sebuah petualangan yang penuh makna. Dengan fokus pada konservasi di areal gambut dan hutan desa di Ketapang, Kalimantan Barat, tawaran ini tidak hanya menjanjikan pengetahuan akademis, tetapi juga pengalaman lapangan yang tak terlupakan. Setelah menerima tawaran tersebut, saya merasakan antusiasme dan ketertarikan yang besar. Pertemuan dengan Pak Muhajir membuat saya semakin yakin bahwa langkah ini akan memberi dampak besar pada pengembangan pribadi saya di bidang konservasi satwa liar.

Untuk mengarungi hutan gambut, kami menggunakan speed boat supaya jarak yang ditempuh bisa lebih jauh (Dok: Istimewa)

Ketika tiba di kantor YIARI, saya disambut dengan hangat oleh tim yang ramah dan penuh semangat. Mereka seperti membuka pintu untuk kami sebagai anggota baru keluarga YIARI. Melihat kemegahan YIARI Ketapang secara langsung, dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, membuat saya semakin yakin bahwa saya telah membuat keputusan yang tepat.

Di lingkungan kerja yang hangat ini, saya bertemu dengan para mentor di Divisi Biodiversity seperti Bang Kenned, Bang Busran, dan Bang Lo’o. Mereka bukan hanya berbagi pengetahuan tentang pengolahan data di kantor, tetapi juga membimbing kami tentang kehidupan di lapangan. Dari mereka, saya tidak hanya belajar tentang aspek teknis pekerjaan, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang pentingnya keterlibatan aktif dalam konservasi alam.
Salah satu momen puncak dalam perjalanan ini adalah ketika berada di Camp Punggur Rawan Hutan Desa Pematang Gadung. Camp ini terletak di atas sungai, menyajikan pengalaman yang unik dan mengesankan bagi kami sebagai peserta magang. Fasilitas yang disediakan tidak hanya memenuhi kebutuhan kami, tetapi juga menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman di tengah lingkungan yang alami dan indah.

Ketika observasi, kami menyempatkan diri untuk beristirahat (Dok: Istimewa)

Meskipun medan lapangan yang kami hadapi adalah gambut yang terasa berat, tim lapangan YIARI, terutama Bang Yoyo dan Bang Ujang, senantiasa memberikan dukungan dan bimbingan yang sangat membangun. Mereka tidak hanya mengajar kami keterampilan teknis yang diperlukan di lapangan, tetapi juga memperkuat semangat dan tekad kami untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan.

Selama berada di YIARI, saya mempelajari berbagai kegiatan seperti identifikasi satwa dan penggunaan kamera jebak, serta melakukan sensus satwa dan pengolahan data. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan praktis saya, tetapi juga mengubah pandangan saya tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan memperhatikan ekosistem alam.

Kegiatan yang dilakukan selain belajar bersama tim Biodiversity YIARI, saya juga melakukan penelitian. Penelitian saya mengenai Preferensi Habitat Felidae menjadi tantangan yang nyata. Menghadapi medan yang berat untuk mencapai kamera jebak di setiap lokasi membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Meskipun terkadang terasa melelahkan, setiap langkah yang kami ambil di lapangan membawa kami lebih dekat pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan di alam liar dan ekosistem yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut, seringkali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Jika mengalami hambatan, saya akan beristirahat sejenak agar membuka kembali pikiran saya dan melanjutkan apa yang saya kerjakan.

Namun, di tengah hambatan yang saya alami, saya juga mendapat bantuan dan arahan yang sangat berarti dari Bang Kenned dan Mbak Nova dari tim YIARI. Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing saya melalui setiap langkah analisis, mulai dari pemrosesan data hingga interpretasi hasil.

Kegiatan magang dan penelitian diakhiri dengan presentasi (Dok: Istimewa)


Dengan belajar bersama mereka, saya mulai memahami lebih dalam tentang logika dan metodologi di balik analisis data. Mereka tidak hanya mengajari saya cara menggunakan RStudio dengan efektif, tetapi juga memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana menerapkan berbagai teknik analisis sesuai dengan konteks penelitian. Melalui bimbingan mereka, saya berhasil menyelesaikan analisis data dan akhirnya sampai pada hasil yang signifikan.

Dalam perjalanan magang dan penelitian di YIARI Ketapang, saya telah dibimbing dengan penuh kesabaran dan semangat oleh tim yang luar biasa. Setiap tantangan dan hambatan yang saya hadapi telah menjadi pembelajaran berharga, dan saya merasa bertumbuh baik secara pribadi maupun profesional. Pengalaman ini tidak hanya memberi saya pengetahuan dan keterampilan yang berharga, tetapi juga menginspirasi saya untuk terus terlibat secara aktif di bidang konservasi satwa liar. Terima kasih kepada tim YIARI, atas dukungan, bimbingan, dan inspirasi yang diberikan. Pengalaman ini akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya.

Sejauh Mana Pengembangan Inovasi untuk Kelestarian Hutan dan Penerapannya?

Selamat Hari Hutan Sedunia Sobat#KonservasYIARI! Yap, tanggal 21 Maret merupakan peringatan untuk Hari Hutan Sedunia. Hari Hutan Sedunia tahun 2024 ini mengusung tema “Forests and Innovation: New Solutions for a Better World” atau yang  memiliki arti “Hutan dan Inovasi: Solusi untuk Bumi yang Lebih Baik”. Hari penting ini digagas oleh PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) dan ditetapkan dalam resolusi PBB 67/200 pada 21 Desember 2012. Digagasnya Hari Hutan Sedunia memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan dan pepohonan bagi kehidupan. 

Ilustrasi deforestasi (Aleksey kuprikov | Canva)

Kondisi hutan saat ini

Kondisi hutan saat ini menjadi cerminan bahwa ekosistem hutan sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Dari masa ke masa hutan terus dimanfaatkan tanpa henti, semakin meningkat populasi manusia maka semakin besar pula pemanfaatan ekosistem hutan. Kelengahan menjadi salah satu penyebab menjadikan kondisi hutan semakin kritis.  Permasalahan yang mengancam hutan diantaranya deforestasi, pencemaran lingkungan, perdagangan flora dan fauna ilegal, kerusakan ekosistem, deforestasi dan masih banyak lagi.  

Akan tetapi, kondisi hutan di Indonesia dari tahun 2021-2022 mencetak penurunan deforestasi tertinggi yaitu sebesar 8.4% atau setara dengan 104 ribu ha. Jika dilihat data sebelumnya maka laju deforestasi di Indonesia relatif rendah dan stabil. Hal tersebut merupakan hasil usaha dan berbagai pengembangan inovasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan, yang didukung oleh berbagai pihak lain seperti NGO yang bergerak dibidang lingkungan, akademisi dan peneliti lingkungan, dan pihak lain yang berkontribusi dalam kelestarian hutan.  

Ilustrasi pemanfaatan hasil hutan kayu (KVVS.Studio | Canva)

Manfaat Hutan

Gencarnya kegiatan pelestarian hutan dilatarbelakangi oleh begitu besarnya kontribusi hutan untuk kehidupan.  Terdapat manfaat yang banyak dari adanya ekosistem hutan, diantaranya berupa penunjang untuk produksi pangan. Ekosistem hutan memiliki kontribusi dalam pengaturan iklim, kualitas air dan tanah, keanekaragaman hayati dan penyerbukan yang berdampak untuk sistem pangan pertanian berkelanjutan. 

Ilustrasi pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat (Balasz Simon | Canva)

Selain itu ekosistem hutan juga berpengaruh terhadap kesejahteraan kehidupan makhluk hidup, terutama manusia. Hutan menutupi sekitar 30% dari permukaan bumi, hutan tersebut menyediakan barang-barang yang dimanfaatkan seperti kayu, bahan bakar, makanan dan pakan ternak, tanah, sungai dan waduk untuk keberlangsungan hidup semua makhluk. 

Hutan hampir dimanfaatkan pada seluruh aspek, tidak bisa dipungkiri sektor kehutanan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Diperkirakan lebih dari setengah produksi ekonomi dunia (seperti PDB) bergantung pada jasa ekosistem, termasuk yang disediakan oleh hutan. Lebih dari setengah total penduduk dunia diperkirakan menggunakan hasil hutan bukan kayu adalah penunjang kesejahteraan dan sumber mata pencaharian masyarakat.

Ilustrasi penggunaan inovasi digital (drone mapping) sebagai upaya pelestarian hutan  (Dariolopresti | Canva)

Pemanfaatan inovasi teknologi dan digitalisasi

Pada pemanfaatannya, hutan harus diiringi dengan pengelolaan supaya tetap lestari dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dalam hal ini dicanangkan inovasi yang diterapkan untuk kelestarian hutan yaitu inovasi teknologi 4.0. Inovasi teknologi 4.0 diharapkan untuk membantu membawa perubahan, memungkinkan tata kelola hutan menjadi lebih efisien dan efektif. 

Dari uraian diatas, pasti Sobat#KonservasYIARI pengen tau kan sudah sampai mana sih bidang kehutanan di Indonesia menerapkan inovasi teknologi untuk kelestarian hutan? Jadi, di Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan berbagai pengembangan inovasi teknologi dan pengembangan informasi berbasis aplikasi digital. Bentuk dari pengembangan inovasi tersebut diantaranya Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (SIPUHH), Sistem Penerimaan Negara Bukan Pajak Secara Online (SIMPONI), dashboard pemantau untuk hutan produksi dan Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK).

Pemanfaatan pengembangan inovasi non-teknologi

Pengembangan inovasi tidak hanya melalui teknologi dan digitalisasi, pengembangan inovasi non-teknologi juga tidak kalah penting untuk diterapkan untuk kelestarian hutan. Dalam penerapan inovasi tersebut KLHK juga merilis kebijakan Multiusaha Kehutanan, penerapan beberapa kegiatan usaha dalam satu perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).

Berdasarkan hal tersebut, peran inovasi untuk kelestarian hutan sangat signifikan. Seperti pemantauan real-time, efisiensi energi dan biaya, problem solving dan masih banyak lagi. 

Inovasi teknologi ini harus dimanfaatkan secara tepat, jika tidak dimanfaatkan dengan tepat inovasi teknologi dapat berdampak buruk pada hutan. Dampak penyimpangan pemakaian teknologi tersebut dapat mempercepat deforestasi hutan, degradasi hutan, kerusakan ekosistem dan eksploitasi. Jadi, manfaatkan inovasi teknologi/digitalisasi dengan benar ya sob untuk membantu terjaganya kelestarian hutan kita. 

Yuk, ikut berkontribusi untuk bumi yang lebih baik dengan memanfaatkan digitalisasi! Caranya share artikel ini melalui akun media sosial kamu sebanyak-banyaknya ya!

Ria Risyanti

Singkat namun Bermakna, Pengalaman Magang Trio Mahasiswa KSHE IPB melalui Program Merdeka Belajar

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Seneng banget, deh, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) di departemen kami yaitu departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Bagaimana keseruannya? Inilah pengalaman kami bertiga selama magang di YIARI!

HAFIZA RIZKI NURBAITI

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Nama saya Hafiza Rizki Nurbaiti, biasa dipanggil Fiza. Saya mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Pada dasarnya, magang di semester 7 merupakan program MBKM wajib di departemen KSHE, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang tersebut.

Saat stalking media sosialnya YIARI, benak saya langsung berkata “Hah keren banget sosmednya! Pengen deh ngajuin magang di sini!”. Yap! minat dan passion saya memang ada di digital creative, seperti mendesain dan mengedit. Bagaimana YIARI membuat konten kreatif terkait konservasi dan menyampaikan pesan-pesan konservasi di media sosial membuat saya tertarik untuk mempelajari hal tersebut lebih dalam. Alhamdulillah, pada akhirnya, saya dan kedua teman saya yaitu Ayun dan Idon mendapat kesempatan untuk magang di YIARI selama 20 hari.

“Meski singkat, namun bermakna”

Itulah yang saya rasakan selama magang di YIARI. 

Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)
Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)

Selama magang, saya membuat beberapa desain untuk instagram @iar_indonesia, seperti desain hari besar dan desain hasil kegiatan YIARI yang dikemas secara kreatif dan informatif. Oh ya, saya senang banget karena muka dan suara saya juga bisa debut di instagram @iar_indonesia dari konten reels pengenalan The Power of Mama! Hehe. Selain itu, dalam memperingati Hari Owa Sedunia, saya membuat Filter Instagram sebagai bentuk pembaharuan kampanye konservasi. Filter Instagram tersebut dapat kita temukan dan gunakan di Instagram @gibbonesia, yaitu platfrom kampanye satwa Owa.

Ngomong-ngomong soal Gibbonesia, saat magang saya berkesempatan untuk ikut serta dalam kolaborasi Brotherhood for Nature x Gibbonesia di Lapangan Adiron, Jakarta Selatan. Saya bersama tim kampanye ikut memeriahkan acara peringatan ulang tahun ke-35 Bikers Brotherhood. Dan tahu gak, sih? saya ketemu banyak artis di acara itu! 

Hafiza di Acara Peringatan Ulang Tahun ke-35 Bikers Brotherhood (Dok. Pribadi)

Yap! Saya berkesempatan untuk ngajak Chef Juna, Kang Ferry Maryadi, A Eddi Brokoli, dan Kak Bimo Kusumo Yudo untuk kampanye edukasi Owa dengan tag line “Sayangi, Lindungi, Owa”. Tag line tersebut merupakan tema hari Owa Sedunia yang dibuat bersama oleh Gibbonesia, KIARA dan SwaraOwa. Seru banget deh!

Oh ya, meski saya ditempatkan di divisi/program Media and Communication, YIARI juga mempersilahkan saya, Ayun, dan Idon untuk saling bertukar informasi atau bahkan berbagi job desc sehingga kami mendapat kesempatan yang sama untuk belajar di seluruh divisi/program YIARI. Selama magang, banyak hal yang saya pelajari, terutama mengenai cara membuat positive campaign terkait konservasi.

Bagaimana YIARI bekerja dengan pendekatan holistik, membuat pemahaman saya terkait konservasi semakin luas. Ternyata, kita tidak bisa sendirian dalam menghadapi isu konservasi. Kita harus dapat berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menyukseskan upaya konservasi yang kita lakukan. Selebihnya, coba deh kalian explore sendiri dengan magang di YIARI! Semua pengalaman yang kalian dapatkan di YIARI pasti berguna untuk kehidupan selanjutnya.

DWI NUR AYUNI

Saya Dwi Nur Ayuni, biasa dipanggil Ayun. Berkuliah di IPB pada program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan membuat saya terobsesi pada kegiatan turun lapang. Saat semester 7 (tujuh) kemarin, saya beserta teman-teman satu program studi (prodi) berkesempatan melaksanakan magang di berbagai lokasi mitra dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE). Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah lokasi magang yang saya pilih, begitu juga dengan teman-teman saya yakni Hafiza dan Virdhan. Saya sempat merasa minder karena mereka berdua adalah orang hebat di bidangnya yakni content creator dan orang yang terhitung sangat sering turun lapang. Namun biarlah, setiap orang punya masa dan ceritanya sendiri.

Seperti yang semua orang tahu, YIARI adalah lembaga non-profit yang berkomitmen dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui program-programnya, YIARI berupaya memahami tantangan perlindungan primata, membangun kesadaran masyarakat, dan bekerja sama dengan pemerintah serta komunitas lokal untuk melestarikan primata. Hal tersebutlah yang semakin memotivasi saya untuk melaksanakan magang di YIARI. Selama magang di YIARI, saya berkesempatan untuk belajar menjadi bagian dari tim kampanye. Namun, dalam beberapa kesempatan saya juga turut serta mengikuti kegiatan dari program Animal Management dan menjadi bagian dari tim media untuk dokumentasi kegiatan.

Hasil magang Ayun di YIARI (Dok. Pribadi)

Kegiatan-kegiatan ataupun tugas yang saya kerjakan selama periode magang, tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar mengenai konservasi satwa dan habitatnya, akan tetapi saya juga belajar untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya perlindungan satwa-satwa langka dan dilindungi. Selama magang, saya ditugaskan untuk membuat beberapa konten berupa artikel dan trivia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan primata terutama kukang dan owa jawa. Meskipun awalnya sulit bagi saya yang jarang menulis, saya berhasil menulis beberapa artikel yang beberapa diantaranya dijadikan bahan konten trivia. Menurut saya, ini adalah hal baru dimana saya mengetahui bahwa dibalik konten edukasi sederhana, perlu usaha yang ekstra mulai dari pencarian bahan konten, yang mana sebagai pembuat konten harus tau dan paham apa yang disampaikan, hingga pengeditan konten dengan visual yang menarik sehingga pembaca atau audiens mudah memahami isi konten.

Ayun di Acara Peringatan Hari Owa Sedunia 2023 di PPTK Gambung, Kabupaten Bandung (Dok. Pribadi)

Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan lapangan dalam mendukung konservasi kukang dan owa jawa. Sebagai orang yang lebih suka berkegiatan di luar ruangan, saya sangat menunggu kesempatan ini dan akhirnya yang ditunggu pun datang. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di lapangan, mulai dari koordinasi hingga pembuatan press release supaya khalayak umum mengetahui apa yang sudah dilaksanakan oleh YIARI untuk menjaga komitmennya dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya.

Suasana kerja yang baik dan dukungan yang diberikan oleh tim dari YIARI membuat pengalaman magang pertama saya menjadi sangat berharga dan menyenangkan. Saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kerja ini dan mendapat banyak sudut pandang baru dari rekan-rekan YIARI yang memiliki dedikasi tinggi untuk melindungi primata dan habitatnya. Dengan pengalaman yang saya dapatkan, saya berharap tidak hanya saya, namun semua orang dapat terus berkontribusi dalam upaya pelestarian alam dan menjadi manusia yang membawa perubahan positif dalam masyarakat.

Terima kasih, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.

VIRDHAN AIMAN HADI

Halo, Sobat #KonservasYIARI!  

Saya Virdhan Aiman Hadi, silahkan panggil saya, Idon. Sebagai mahasiswa semester tujuh program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, saya berkewajiban melaksanakan magang. YIARI menjadi tempat yang tanpa ragu, langsung saya pilih. Inilah cerita magangku, tentang konservasi dan orang-orang pekerja keras dibalik suara keras primata yang menggaung di alam bebas.

Aktivitas magang Virdhan (Dok. Pribadi)

Pertama kali lihat ada kesempatan magang disini, saya langsung ambil. Kenapa? Magang di YIARI kalo bagi saya tuh “One of a kind..” banget. Dari pertama kuliah, belajar tentang konservasi, salah satu lembaga non pemerintah yang buat saya tertarik ya YIARI ini. Awalnya sih, karena suka belajar primata dan YIARI juga berfokus pada primata, tapi makin kesini makin kesana, kok YIARI ini keren juga. Dari visinya “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat”, kita bisa lihat bahwa YIARI tidak hanya berfokus untuk menyelamatkan satwa tetapi lebih dari itu, masyarakat pun harus terlibat. 

Berangkat dengan ketertarikan dan minat yang tinggi pada dunia konservasi satwa liar dan sistem informasi geografis, saya sangat menikmati seluruh aktivitas yang telah dilakukan selama magang. Ditempatkan pada Divisi Resiliensi Habitat, saya mendapatkan banyak insight baru tentang upaya konservasi. Salah satunya adalah bahwa untuk menjaga keberlanjutan hidup satwa liar, pendekatan terhadap masyarakat di sekitar kawasan sebegitu pentingnya dan itulah yang dilakukan YIARI. Terbukti dari program yang dilakukan seperti pelatihan SMART Patrol, Community Development, dan juga penyadartahuan kepada masyarakat.

Duduk di kantor, memandang laptop, sambil nyeruput kopi, itu kegiatan saya waktu magang, waktu pura-pura jadi pegawai tetap. Mimpi dulu aja sih. Nah,  Sebenernya, ngapain sih selama magang? kegiatan saya selama magang secara mudahnya berfokus pada tiga hal. Diawali dengan mengolah data SMART Patrol, analisis tutupan lahan dengan sistem informasi geografis, hingga mengikuti patroli di kawasan Resor Gunung Bodas Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kegiatan yang ketiga, merupakan pengalaman paling berkesan buat saya.

Kegiatan patroli di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Dok. Pribadi)

Selama mengikuti patroli, saya jadi punya banyak kesempatan untuk berbincang dengan Tim YIARI yang ikut. Selama disana, saya jadi “anak bawang” Kang Gepeng, Kang Kojek, Kang Marko, Kang Uling dan Mang Nedi. Meskipun “anak bawang”, mereka tidak sungkan untuk mengajak, mengajarkan dan membantu saya selama melaksanakan patroli. Pengalaman paling berkesan selama patroli adalah tidak hanya menjadi duet maut pengambil data bersama Kang Kojek, tetapi banyak pengalaman seru lain seperti melihat elang jawa dari dekat, mendaki gunung melewati lembah, sampai menikmati hari dari kering, hujan, hingga kering lagi. Pokoknya kalo kata anak jaksel, patrolinya tuh “It’s a wrapped.” Jadi, magang di YIARI itu seru, asik, dan insightful!

Semua keseruan saya selama magang menuntun saya untuk belajar bekerja keras. Karena selama disana, saya dipertemukan dengan banyak orang yang mulai dari nol (bukan SPBU) hingga benar-benar paham dan pandai sama pekerjaannya. Dari warga lokal biasa, sampai jadi Local Hero! Disini, teori-teori kuliah yang saya dapat di kelas tentang memberdayakan masyarakat benar-benar jadi bahan bakar untuk konservasi yang berkelanjutan. Keterlibatan multipihak, benar benar memiliki arti. Lebih dari sekadar motivasi, konservasi juga butuh dedikasi. Bukan waktunya basa basi, saatnya beraksi untuk konservasi. Semoga manusia dapat hidup berdampingan dengan satwa, living peacefully in harmony.

Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!

Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯 

Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita! 

Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.

Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!

1. Kehebatan si Petani Hutan

Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob? 

Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru. 

Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi. 

Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏

Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan. 

Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh. 

Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂

2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan

Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga. 

Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)

Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.

Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba. 

Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya. 

Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎 

3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba

Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯

Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)

Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.  

Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁 

Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.

Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.

Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi. 

SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!

Illustrasi: Imam Arifin

 

Elif Ivana Hendastari 

Referensi:

 

Penyelamatan Lutung Jawa di Bogor, Jawa Barat: Diduga eks Peliharaan

Pada 23 Januari 2024, tim gabungan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA)  Jawa Barat Bidang KSDA Wilayah I Bogor dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi melakukan penyelamatan satwa lutung jawa (Trachypithecus auratus). Satwa ini adalah satwa endemik di Pulau Jawa dan dilindungi oleh Pemerintah. Satwa ini juga merupakan satwa langka yang masuk ke dalam daftar satwa terancam punah oleh Redlist IUCN.

Secara kronologis, tim BBKSDA Jawa Barat menerima aduan masyarakat melalui grup WhatsApp Quickresponse Tindak Satwa Liar (TSL) lingkup Bogor pada 22 Januari 2024. Selanjutnya tim berkoordinasi dan berkolaborasi dengan YIARI dalam melakukan evakuasi lutung untuk penyelamatan dan pengamanan satwa di Kotabatu, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dari hasil pemeriksaan awal, lutung jawa ini diperkirakan masih berusia remaja. Lalu, ditemukan pula seutas tali ditemukan masih terikat di pinggangnya. Berdasarkan analisa tim, dari lokasi temuan, usia sang lutung, dan tali yang terikat mengindikasikan bahwa si lutung berasal dari perdagangan dan pemeliharaan ilegal. Biasanya, anakan lutung diburu dari alam, di mana indukannya pasti dibunuh terlebih dulu. Lutung ini kemudian diamankan di kandang translokasi Bidang KSDA Wilayah I untuk ditangani lebih lanjut pada 24 Januari 2024.

Proses pemeriksaan awal lutung jawa oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh Kang Ahong sebagai perawat satwa (Fattreza Ihsan | YIARI)

Meri Juanda, Polisi Kehutanan Mahir BBKSDA Jawa Barat Lingkup Seksi Konservasi Wilayah menyatakan bahwa satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 ini akan dibawa ke kantor bidang terlebih dahulu sebelum dipindah ke pusat rehabilitasi yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap dalam menangani lutung jawa. Beliau juga menyatakan apresiasi kepada masyarakat yang telah melaporkan temuan satwa dilindungi ini kepada stakeholder terkait. “Terima kasih kepada masyarakat semua yang sudah melaporkan satwa dilindungi ini ke Quick Response kami (BBKSDA Jawa Barat). Kami mengapresiasi masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya pelestarian satwa,” ujarnya.

Kegiatan rescue ini dipimpin oleh Imam Arifin, Koordinator Animal Management YIARI sekaligus Dokter Hewan YIARI. Ia memutuskan untuk membius lutung jawa ini supaya proses evakuasi berjalan cepat dan tidak membuat satwa stress lebih lanjut. “Kondisinya (lutung jawa) bagus, ya, Ketika diperiksa pasca pembiusan. Body score condition dari satwa ini juga lumayan optimal. Hanya terdapat ektoparasit seperti kutu sehingga lutung jawa ini juga diberi obat ketika pemeriksaan kesehatan,” ujarnya pasca ia selesai memeriksa sang lutung.

Kondisi lutung sebelum dibawa dan ditindaklanjuti oleh BBKSDA Jawa Barat (Fattreza Ihsan | YIARI)

Lutung ini ditemukan di belakang rumah salah seorang warga di Kotabatu, Ciomas, Bogor, Jawa Barat yang bernama Selpia. Ia menyatakan bahwa lutung ini sudah dua hari berada di pekarangan rumahnya. Ia berinisiatif untuk melaporkan lutung ini ke BBKSDA Jawa Barat dan YIARI setelah mengetahui bahwa lutung jawa adalah satwa dilindungi. “Sepupu saya bilang bahwa lutung adalah satwa yang dilindungi, jadi jangan sembarangan dihampiri. Lalu berdasarkan saran darinya, lutung jawa ini saya laporkan ke pihak yang berwenang,” ujarnya ketika diwawancarai.

.

Mengantar 7 Kukang Jawa ke Gunung Koneng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, mengawali tahun 2024 ini dengan melepasliarkan 7 (tujuh) individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi. Satwa ini termasuk ke dalam satwa dilindungi menurut PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018. Kegiatan kepasliar ini dilakukan hari Jumat, 19 Januari 2024 di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, Balai Taman Nasional Gunung Halimun–Salak, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.

Tujuh kukang jawa yang akan dilepasliarkan ini terdiri dari enam individu kukang jantan bernama Paw-paw, Klap, Kilat, Teru, Ciban, Cibon, serta satu kukang betina bernama Ciben. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat, serta Balai KSDA Yogyakarta. Selain itu, terdapat pula Kukang yang merupakan serahan warga melalui pusat penyelamatan satwa, yang kemudian dititip rawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk menjalani penanganan medis dan proses rehabilitasi sebelum dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan informasi sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Kawasan Resort PTN Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi PTNW III Sukabumi–TNGHS merupakan area pelepasliaran yang sesuai, karena merupakan bagian habitat sebaran kukang jawa. Pertimbangan utama dalam menentukan lokasi rilis adalah daerah yang relatif jauh dari pemukiman, relatif aman dari perburuan atau gangguan, serta terdapat ketersediaan pakan. Lokasi tersebut juga dinilai sesuai berdasarkan kajian kesesuaian habitat pelepasliaran satwa yang dilakukan oleh TNGHS.

Melewati tebing-tebing terjal, tim gabungan pelepasliaran membawa para kukang jawa dalam kandang transport. (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kawasan TNGHS dinilai memiliki ketersediaan pakan potensial Kukang yang melimpah, diantaranya terdapat tumbuhan Puspa (Schima wallichii), Bubuay (Plectocomia elongata), Suwangkung (Caryota rumphiana), Rotan (Calamus sp.), serta tumbuhan herba dan pancang lainnya. Terdapat juga jenis-jenis serangga, reptil dan burung kecil seperti kutilang yang juga merupakan pakan kukang.

Populasi kukang jawa jarang dijumpai di kawasan ini sehingga tingkat kompetisi para kukang yang akan dilepasliarkan untuk mencari makanan menjadi rendah. Dengan tingkat ancaman dan gangguan yang dinilai rendah, juga kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal berbatasan dengan kawasan tersebut sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga satwa liar, menjadikan kawasan memenuhi semua syarat dan cocok untuk menjadi lokasi pelepasliaran. Titik pelepasliaran yang berada di TNGHS ini berjarak sekitar 124 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil selama 4 jam, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.

Tahapan pra-translokasi dan pelepasliaran dilakukan dengan membangun kandang habituasi terlebih dahulu, yang terbuat dari jaring dan bambu dengan luas sekitar 18 m2, sebanyak kurang lebih 5 unit. Kandang habituasi berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama 4-5 hari di dalam kawasan TNGHS. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI mengamati perilaku dan kesehatan seluruh kukang tersebut. Apabila dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.

Manajer Animal Management selaku Dokter Hewan YIARI, drh. Nur Purba Priambada mengantar Teru ke kandang habituasinya. Teru adalah kukang jawa yang berasal dari serahan warga ke BBKSDA Jawa Barat tahun 2023 silam. (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat,  Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan, “Kami mengapresiasi hasil kerja bersama antara Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI, serta Balai TNGHS. Kami sangat berbahagia karena dapat mengawali tahun  2024 ini dengan memulai kembali rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, melepas liar 7 (tujuh) individu kukang, satwa liar paling banyak yang diselamatkan dan dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI. Kami berharap momen ini menjadi momentum penambah erat ikatan kebersamaan dan penambah semangat melestarikan satwa liar dilindungi, perlu diingat bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, kebahagiaan hidupnya berada di tengah hutan bukan di tengah rumah anda, apalagi di kandang peliharaan.”

Ir.Irzal Azhar, M.Si, selaku kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengapresiasi kerjasama multipihak dalam upaya konservasi biodiversitas. “Kami memberikan apresiasi kepada YIARI dan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang telah bekerjasama dengan kami dalam konservasi biodiversitas di TNGHS, khususnya pelestarian kukang jawa melalui upaya rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dengan kegiatan ini kami berharap keseimbangan populasi kukang jawa khususnya dan ekosistem TNGHS secara keseluruhan dapat dipertahankan sehingga kawasan TNGHS tetap dapat memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan.”

Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak atas kerjasamanya pada kegiatan pelepasliaran ini. Semoga kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam upaya konservasi satwa liar, terutama kukang bisa terus terjaga, bahkan meningkat. Semoga kesadaran semua pihak dalam melindungi hutan sebagai rumah satwa-satwa liar juga terus meningkat. Hal ini tentunya untuk mewujudkan kelestarian satwa liar agar dapat terus hidup dengan aman di habitat alaminya.”

.

Penemuan Satwa Langka Kambing-hutan Sumatera di Hutan Lindung Batutegi, Lampung

Kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) merupakan satwa langka yang tersebar di Semenanjung Malaka yang meliputi Malaysia dan Thailand, juga Indonesia. Pada 14 Agustus 2023, di Blok Inti KPH Batutegi, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Tercatat bahwa kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh KPH Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia telah menangkap satwa langka ini. Hal ini menambah jumlah temuan satwa eksotis ini menjadi total 3 kali selama pemasangan kamera jebak di tahun 2022-2023. Sebelumnya tim gabungan menemukan spesies kambing-hutan ini pada 14 Juli 2022 dan 4 November 2022.

Kambing-hutan sumatera yang teramati pada 14 Agustus 2023 (Tanggal pada foto tidak sesuai) (YIARI)

Satwa yang termasuk kategori rentan (vulnerable) dalam Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Uni Internasional untuk Konservasi alam ini bisa hidup pada ketinggian 200 hingga 3000 mdpl, hutan hujan, semak-semak, daerah bebatuan, hingga puncak pegunungan. Di Hutan Lindung Batutegi sendiri, spesies kambing ini ditemukan pada ketinggian 1400 sampai 1700 mdpl di ekosistem hutan bervegetasi rapat serta hutan primer.

Kambing-hutan sumatera berstatus dilindungi sebagaimana dalam PP No.7 Tahun 1999 dan Permenlhk 106/2018. Jenis satwa ini juga masuk ke dalam Appendiks I CITES yang menandakan bahwa spesies ini dilarang untuk diperdagangkan di kancah internasional. Selain perdagangan dan perburuan satwa liar, satwa liar ini juga terancam oleh perambahan hutan.

Manajer Senior Resilensi Habitat YIARI Robithotul Huda menyatakan bahwa keberadaan biodiversitas, termasuk kambing-hutan sumatera ini adalah penanda hal baik bagi ekosistem alami di Provinsi Lampung. “Keberadaan biodiversitas disana adalah salah satu indikator bahwa kesehatan hutan dan keamanan kawasan hutan masih terjaga dengan sangat baik. Dengan intervensi yang dilakukan oleh tim dari KPH Batutegi dan YIARI seperti patroli kawasan, pendampingan masyarakat, dan edukasi ke seluruh lapisan masyarakat, keasrian hutan dapat kita pertahankan.” Jelasnya.

Upaya konservasi spesies kambing ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal ini dapat dicapai dengan kolaborasi antar pihak dalam perlindungan habitat, pencegahan ancaman bagi biodiversitas, hingga edukasi bagi masyarakat supaya semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan tergerak untuk turut melindungi satwa langka ini.