Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Dari Kebun Warga ke Rimba: Perjalanan Orangutan Menuju Rumah Barunya

Beberapa waktu lalu, warga di Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dikejutkan oleh kemunculan seekor orangutan di pekarangan rumah mereka.

Awalnya dikira hanya monyet biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata satwa dilindungi yang makin jarang terlihat. Kejadian ini bukan pertama kalinya—orangutan masuk ke area kebun dan permukiman karena hutan tempat tinggalnya makin sempit.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, tim dari BKSDA Kalimantan Barat, KPH Ketapang Selatan, dan YIARI pun bergerak cepat. Tujuannya sederhana: membantu orangutan ini kembali ke habitat yang lebih aman, jauh dari aktivitas manusia.

Di artikel ini, kita akan menyelami perjalanan penyelamatan orangutan tersebut—dari laporan warga, proses evakuasi, sampai momen pelepasliaran di Hutan Lindung Gunung Tarak. Sebuah cerita nyata tentang bagaimana manusia dan alam bisa saling menjaga, selama ada kemauan untuk bekerja bersama. Yuk, simak!

Dari Pekarangan Warga ke Alam Liar: Awal Mula Kisah

Orangutan kalimantan jantan yang ditranslokasi dari kebun warga dari Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dimasukkan ke kandang translokasi setelah dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Kemunculan orangutan di sekitar pemukiman Dusun Sumber Priangan terjadi lebih dari sekali. Ia terlihat berjalan di antara pepohonan, mendekati rumah warga, dan memakan buah-buahan di kebun seperti jambu, kelapa, hingga nanas.

Reaksi warga pun beragam—ada yang panik, ada pula yang merasa kasihan. “Awalnya kami kira hanya monyet biasa,” ujar salah satu warga. “Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata orangutan. Kami takut, tapi juga kasihan. Mungkin dia tersesat atau habitatnya terganggu.”

Kejadian ini langsung menarik perhatian tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah melakukan pemantauan, tim menemukan bahwa lokasi tersebut mengalami kerusakan habitat yang cukup parah akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Fragmentasi lahan dan jaraknya yang dekat dengan jalan utama Ketapang–Pontianak juga membuat kehadiran orangutan menjadi sangat berisiko, baik bagi satwa maupun manusia.

Atas dasar itu, setelah koordinasi dengan BKSDA Kalimantan Barat dan KPH Ketapang Selatan, translokasi dianggap sebagai solusi terbaik. Bukan hanya untuk menyelamatkan orangutan, tapi juga untuk mencegah potensi konflik yang bisa membahayakan warga sekitar.

Proses Penyelamatan yang Penuh Perhitungan

Dokter hewan YIARI melakukan pemeriksaan awal setelah orangutan kalimantan dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tim gabungan dari YIARI, BKSDA Kalimantan Barat, dan KPH Ketapang Selatan bergerak sejak dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB, mereka tiba di lokasi untuk memulai proses evakuasi. Karena orangutan merupakan satwa liar yang kuat dan bisa berbahaya jika merasa terancam, proses penanganannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Tim dokter hewan dari YIARI menggunakan senjata bius untuk menenangkan orangutan sebelum dilakukan pemeriksaan medis. Dosis obat dihitung secara cermat, disesuaikan dengan ukuran dan perkiraan berat badan orangutan. Penembakan bius ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan—hanya dilakukan oleh petugas yang memiliki izin resmi dan pelatihan khusus.

Setelah orangutan terbius dan jatuh di atas jaring pengaman, tim medis segera memeriksa kondisinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa orangutan ini memiliki berat sekitar 60–65 kilogram dan terdapat luka lama di punggung tangan kirinya.

Luka tersebut sudah membentuk jaringan ikat, meski masih mengeluarkan sedikit nanah dan darah. Selain itu, beberapa gigi terlihat rusak atau hilang, kemungkinan karena faktor usia. Meski begitu, secara keseluruhan, kondisi orangutan cukup stabil dan memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

Perjalanan Menuju Rumah Baru: Hutan Lindung Gunung Tarak

Setelah memastikan kondisi fisiknya memungkinkan untuk dilepasliarkan, tim segera membawa orangutan menuju lokasi translokasi: kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar tujuh jam, dan melibatkan bantuan masyarakat setempat, terutama saat membawa orangutan masuk lebih dalam ke dalam hutan.

Pemilihan lokasi tidak dilakukan sembarangan. Kawasan ini telah melalui survei kelayakan dan dinyatakan cocok sebagai habitat baru. Selain letaknya yang relatif jauh dari permukiman, hutan ini juga masih memiliki tutupan vegetasi yang baik serta sumber pakan alami yang cukup untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.

Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

Sesampainya di lokasi, kandang dibuka perlahan. Orangutan itu sempat menoleh sejenak sebelum melangkah cepat ke dalam hutan, menjauh dari manusia. Ia memanjat pohon, bergerak lincah, dan menunjukkan perilaku alami yang menjadi tanda kesiapan untuk hidup bebas kembali. Momen ini menjadi titik akhir dari proses penyelamatan, sekaligus awal dari babak baru kehidupannya di rumah yang lebih aman.

Gunung Tarak: Surga Baru bagi Sang Penjelajah Hutan

Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar. “Kami mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat yang membantu proses pelepasan hingga ke dalam kawasan hutan. Ini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi pelestarian hutan dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.

Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, SP., juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak, khususnya masyarakat Dusun Sumber Priangan. Ia mengajak masyarakat di sekitar kawasan lindung untuk terus menjaga hutan sebagai sumber air, oksigen, dan rumah bagi satwa-satwa langka.

Senada dengan itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menekankan bahwa translokasi ini merupakan bagian dari komitmen untuk merespons cepat potensi konflik manusia dan satwa. “Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga habitat alami agar tidak ada lagi satwa yang kehilangan tempat hidupnya,” tegasnya.

Mengapa Kisah Ini Penting untuk Kita Semua?

Kisah orangutan yang tersesat di perkebunan lalu dikembalikan ke hutan ini bukan sekadar cerita penyelamatan satwa. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: semakin menyempitnya habitat alami akibat aktivitas manusia. Ketika hutan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pemukiman, satwa liar kehilangan ruang untuk hidup—dan konflik pun menjadi tak terhindarkan.

Namun di balik tantangan itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa solusi tetap ada. Selama ada kemauan untuk berkolaborasi, konflik bisa diubah menjadi peluang untuk belajar dan bertindak. Masyarakat yang peduli, pemerintah yang responsif, dan lembaga konservasi yang tangguh adalah kombinasi penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Perjalanan orangutan kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak adalah harapan. Harapan bahwa masih ada ruang bagi kehidupan liar untuk pulih. Dan bahwa kita semua punya peran dalam memastikan hutan tetap lestari—bukan hanya untuk orangutan, tapi juga untuk masa depan kita bersama.

Pulih dari Luka, Marisa Dipulangkan ke TANAGUPA

SIARAN PERS

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan pelepasan satu individu orangutan (Pongo pygmaeus) di Bukit Daun Sandar, RPTN II Sempurna, Taman Nasional Gunung Palung, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Kamis (14/11).

Orangutan berjenis kelamin betina berusia 6 tahun ini sebelumnya diselamatkan dari kasus konflik manusia – orangutan oleh tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Barat, Balai TANAGUPA dan YIARI di salah satu kebun milik warga di Desa Riam Berasap, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara pada 10 Juli 2024. Marisa diselamatkan setelah induknya ditemukan mati di kebun warga. Berdasarkan hasil nekropsi oleh tim medis YIARI, kematian induknya diduga disebabkan oleh infeksi akibat luka yang cukup dalam di punggungnya. Sementara itu, Marisa juga ditemukan dengan luka parah di kaki kanannya. Luka ini diduga disebabkan oleh senjata tajam.

Melihat kondisi Marisa yang terluka, BKSDA Kalbar memutuskan untuk menitiprawatkan anak orangutan ini ke Pusat Penyelamatan Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Setelah empat bulan menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis dan perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan YIARI, Marisa dinyatakan pulih dan siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya yang lebih aman.

Pemeriksaan Marisa sebelum dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Koordinator tim medis YIARI, Fina Fadiah, menegaskan luka Marisa sudah sembuh dan dia bisa segera dikembalikan ke habitatnya. “Saat ini luka di Marisa sudah sembuh dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kami yakin sudah saatnya Marisa dipulangkan ke habitatnya. Ketika diselamatkan, luka di kakinya cukup parah. Ada fraktur terbuka yang sudah terinfeksi dan bernanah. Luka pada bagian kaki kanannya juga cukup dalam sampai menembus ke otot dan tulang. Untungnya, berkat kerja keras semua tim, saat ini lukanya sudah pulih dan Marisa siap dipulangkan ke TANAGUPA,” terangnya. Dia juga menjelaskan pemulihan ini tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga dengan psikisnya. “Kami merawat Marisa dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa. Kami berupaya mengurangi stresnya dengan meminimalkan kontak langsung dengan Marisa,” tambah Fina.

Untuk mencegah konflik serupa terjadi lagi, orangutan ini dilepaskan di kawasan yang jauh dari pemukiman dan kebun masyarakat. TANAGUPA dipilih menjadi tempat pelepasan karena berdasarkan titik lokasi penyelamatannya, Marisa diperkirakan berasal dari wilayah sekitar perbatasan TANAGUPA. Selain itu, Resort Daung Sandar juga dinilai cukup bagus, karena berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Balai TANAGUPA dan YIARI, jumlah dan jenis pakan masih cukup tinggi. Status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan Marisa di masa depan. Lokasi ini dikelilingi sungai yang bisa menjadi barier alami untuk mencegah orangutan kembali ke kebun masyarakat.

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari pusat rehabilitasi orangutan YIARI, tim berhasil sampai di titik pelepasan. Marisa pun dilepaskan di dalam kawasan TANAGUPA. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan masyarakat yang turut serta membantu membawa orangutan ke dalam kawasan taman nasional.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, Non-profit Organization (NGO), dan masyarakat dalam upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Silverius menekankan pentingnya peran bersama dalam menjaga keberlanjutan ini. “Kami mengundang seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat, untuk menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi satwa liar, terutama orangutan dan habitatnya. Penemuan orangutan di area kebun warga ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat kerjasama, terutama dengan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan habitat orangutan. Jika masyarakat yang tinggal di perbatasan habitat orangutan dapat hidup harmonis berdampingan, orangutan dapat terjaga keberlanjutannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.”

“Hal ini selaras dengan visi YIARI untuk menciptakan dunia di mana manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat. Ini juga mendukung arahan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam sambutannya di upacara serah terima jabatan menteri Kehutanan yang menekankan agar kita semua memiliki spirit bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan alam,” tutupnya.

Kepala Balai TANAGUPA, Himawan Sasongko mengatakan “Pelepasliaran anak orangutan ini adalah bentuk harapan baru setelah kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia. Kami berkomitmen untuk memastikan ia dapat hidup mandiri di habitat alaminya. Dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menggantikan peran induk orangutan dengan menjamin pulihnya kesehatan fisik dan psikis serta perilaku di pusat rehabilitasi dan kemudian memberikan tempat hidup yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya, tapi yang perlu diingat adalah seberapapun hebat dan majunya pengetahuan kita, kita tidak akan pernah, sekali lagi tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang induknya di alam. Melalui upaya pelepasliaran ini, kami berharap anak orangutan dapat menemukan kembali kehidupan baru di habitat alaminya serta menjadi simbol pentingnya harmoni antara manusia dan satwa liar.”

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang  bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan,  pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI  juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara  habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

YIARI: +62 821-5346-2720  (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)

Awal Berseri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Tujuh Orangutan Kembali ke Habitat Asli 

Di awal masa jabatan Raja Juli Antoni sebagai Menhut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan pelepasliaran 7 (tujuh) individu orangutan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya wilayah kerja Resort Mentatai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nanga Pinoh (31/10)

Mereka adalah orangutan yang dititiprawatkan Balai KSDA Kalbar di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI Ketapang sejak tahun 2010 hingga 2020. Semuanya merupakan orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi. Sebelum dilepasliarkan, mereka menjalani masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi orangutan di YIARI di Desa Sungai Awan, Ketapang. 

Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka, sekaligus membuatnya memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat asli. Orangutan semestinya hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia 6-8 tahun. Selama masa pengasuhan inilah, orangutan perlu mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Namun karena berbagai sebab, bayi orangutan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia, sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut. Proses rehabilitasi sampai pelepasliaran ini bisa memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Waktu yang diperlukan dapat mencapai 14 tahun, tergantung kemampuan masing-masing individu.

Pelepasliaran orangutan merupakan satu langkah penting setelah rehabilitasi, sebagai upaya pelestarian satwa liar dilindungi serta pemulihan populasi orangutan di alam. Dari tujuh orangutan yang dilepasliarkan, dua orangutan bernama Rika dan Kamila berjenis kelamin betina. Sementara Aben, Muaro, Onyo, Batis, dan Lambai berjenis kelamin jantan. Hal yang istimewa dari kegiatan pelepasliaran kali ini adalah empat dari tujuh orangutan ini adalah pasangan induk dan anak orangutan asuh. Mereka adalah Kamila-Batis dan Rika-Aben. 

Tim pelepasliaran berangkat dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang pada tanggal 29 Oktober 2024 pada pukul 04.00 WIB. Selama di perjalanan tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa agar tidak mengalami stres di dalam kandang, mengingat jarak tempuh yang sangat jauh (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Rika merupakan orangutan betina yang berasal dari Desa Batu Tajam, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dia diselamatkan dari perdagangan dan pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi oleh WRU BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada 28 Oktober 2013. Pemeliharanya mengaku memperoleh Rika dari anaknya yang membeli orangutan tersebut dari seorang pemburu seharga Rp500.000. Selama tiga bulan dipelihara, Rika diikat dengan rantai di bawah rumah dan diberi makan nasi serta sayur-sayuran. 

Manager Animal Management YIARI, Andini Nurillah, menyatakan bahwa selama sepuluh tahun belajar di pusat rehabilitasi YIARI, Rika menunjukkan kemajuan signifikan dalam menguasai keterampilan bertahan hidup sebagai orangutan. “Tidak hanya menguasai kemampuan bertahan hidup sebagai orangutan, Rika juga terbukti mampu mengajarkan kemampuan ini kepada orangutan lainnya, bahkan dapat menjadi induk asuh yang mumpuni bagi bayi orangutan,” ujar Andini.

Sementara itu, Aben, orangutan jantan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa liar di Ketapang pada 10 Desember 2019 menjadi bayi orangutan beruntung yang tidak perlu menjalani masa rehabilitasi panjang seperti Rika. Rika dipasangkan dengan Aben untuk menjadi ibu angkat. Hasilnya, Rika bisa mengajari Aben dengan berbagai kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Rika juga bisa menjadi pelindung bagi Aben yang bertubuh mungil. Strategi ini berhasil. Rika menjadi induk yang protektif dan Aben menjadi lebih percaya diri untuk mempelajari hal-hal baru.

Kisah sukses induk-anak asuh orangutan lainnya datang dari Karmila dan Batis. Karmila adalah orangutan betina asal Benua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat. Ia diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dari seorang warga yang mengaku mendapatkan Karmila dai perkebunan sawit di daerah tersebut. Andini menegaskan, selama 14 tahun di YIARI, Karmila telah menjalani proses rehabilitasi intensif dan menunjukkan perkembangan luar biasa. “Ia menjadi orangutan yang mahir mencari makanan, membuat sarang, serta memiliki keterampilan bertahan hidup lainnya yang esensial di alam liar,” tegasnya. Pada 19 November 2020, Karmila mulai disosialisasikan sebagai induk asuh bagi bayi orangutan bernama Batis. Selama masa sosialisasi, Karmila mampu beradaptasi dengan baik, menunjukkan kemampuan keibuan yang kuat, dan berhasil menjadi induk asuh yang andal. Saat ini, Karmila yang diperkirakan berusia sekitar 15 tahun siap untuk dilepasliarkan bersama anak asuhnya, Batis.

Perjalanan memikul kandang para orangutan memasuki kawasan hutan TNBBBR dibantu oleh para porter yang berasal dari warga desa sekitar TNBBBR (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Sementara Batis adalah orangutan jantan yang berasal dari Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Ia diselamatkan pada 17 April 2020 dari kasus pemeliharaan satwa ilegal dilindungi. Sebelumnya, Batis ditemukan oleh seorang warga di hutan saat mengumpulkan kayu dan tidak menyadari orangutan merupakan satwa dilindungi. Selama tiga bulan dipelihara, Batis ditempatkan dalam kandang kayu berukuran 50 x 80 cm dan diberi makan nasi, pisang, pepaya, serta minum air putih bahkan kopi. Ketika diselamatkan, Batis diperkirakan berusia sekitar 1 tahun. Setelah menjalani masa karantina, ia mulai disosialisasikan dengan Karmila, induk asuhnya, pada 19 November 2020. Melalui sosialisasi ini, Batis belajar berbagai keterampilan bertahan hidup, seperti foraging, traveling, dan membuat sarang. Selama empat tahun rehabilitasi, kondisi kesehatannya terpantau baik dan siap untuk dilepasliarkan bersama induk asuhnya, Karmila.

Muaro adalah orangutan jantan asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, yang tiba di YIARI pada 11 Februari 2018. Kisahnya bermula saat ia terpisah dari induknya akibat pembukaan lahan oleh salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit pada Desember 2016. Selama itu, Muaro dipelihara oleh seorang warga desa dan diberi makanan manusia seperti susu, air gula, nasi, dan lauk. Penyelamatan Muaro dilakukan oleh tim gabungan WRU BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada 9 Februari 2018. Setelah enam tahun menjalani rehabilitasi, Muaro yang saat ini berusia delapan tahun sudah menunjukkan kemampuannya untuk hidup liar di habitat aslinya. 

Onyo adalah orangutan jantan yang berasal dari daerah Nek Doyan, Ketapang. Ia pertama kali tiba di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 10 Maret 2013, setelah ditemukan oleh seorang warga di bawah pohon. Berdasarkan penuturan warga, induk Onyo sempat terlihat di sekitar lokasi, namun kemudian pergi menjauh meninggalkan Onyo sendirian. Selama masa pemeliharaan sebelum diserahkan ke YIARI, Onyo diberi makan nasi dan susu kental manis oleh warga setempat. Setelah sebelas tahun menjalani rehabilitasi di YIARI, Onyo yang saat ini diperkirakan berusia 12 tahun dinilai sudah layak dilepasliarkan. 

Selain melalui perjalanan darat dengan kendaraan motor dan berjalan kaki, perjalanan ke lokasi pelepasliaran juga dilakukan dengan mengendarai perahu motor selama 1 jam (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Lambai adalah orangutan jantan yang berasal dari Dusun Tanjung Lambai, Kecamatan Nanga Tayap, Kalimantan Barat. Ia tiba di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) setelah diselamatkan oleh tim gabungan WRU BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada 30 April 2016. Kisah penyelamatannya dimulai ketika seorang karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit menemukan Lambai dalam sebuah kardus yang jatuh dari mobil. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama 8 tahun, Lambai yang saat ini berusia 10 tahun dinilai siap untuk dilepasliarkan di habitat asli.

Rehabilitasi ini diperlukan untuk mengembalikan sifat dan kemampuan alami orangutan untuk bertahan hidup di habitatnya. Di alam bebas, bayi orangutan akan tinggal bersama induknya sampai usia 7-8 tahun. Ia belajar dari induknya tentang bertahan hidup di alam sebagai orangutan. Dikarenakan bayi orangutan dipaksa berpisah dengan induknya untuk dijadikan peliharaan, bayi orangutan kehilangan kesempatan untuk menguasai kemampuan bertahan hidup.

Perjalanan untuk menuju titik pelepasan memerlukan waktu selama 3 hari, dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Sungai Awan, Ketapang menuju titik pelepasan di dalam kawasan TNBBBR. Tim pelepasan berangkat dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang pada tanggal 29 Oktober 2024 pada pukul 04.00 WIB. Selama di perjalanan tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa agar tidak mengalami stres di dalam kandang, mengingat jarak tempuh yang sangat jauh. Memerlukan waktu setidaknya  17 jam bagi tim untuk mencapai di kantor seksi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Nanga Pinoh. Tim beristirahat satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pelepasan. Kegiatan pelepasan ini melibatkan lebih dari 100 orang yang terdiri dari masyarakat, BKSDA Kalbar, BTNBBBR, dan tim YIARI sendiri.

Lambai, salah satu orangutan jantan yang dilepasliarkan di TNBBBR (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan menuju dusun terdekat dengan kawasan TNBBBR. Perjalanan darat ditempuh selama 5 jam, kemudian diteruskan dengan perahu motor selama 1 jam. Tidak sampai di situ, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki memasuki kawasan hutan TNBBBR. 

Didukung oleh para porter yang berasal dari warga desa sekitar TNBBBR, perjalanan dengan memikul kandang ini memakan waktu hingga 5 jam. Setelahnya, keempat orangutan ditempatkan di dalam kandang habituasi agar bisa beristirahat dan sedikit beradaptasi dengan lingkungan baru. Keesokan harinya, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan ketujuh orangutan ini dilepaskan di dua titik pelepasan berbeda.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih menjadi tempat pelepasliaran orangutan mengingat habitat tersebut menyediakan sumber pakan yang melimpah dan sesuai untuk habitat orangutan sekaligus menjadi bukti bahwa habitat di TNBBBR masih aman dan terlindung Hasil survey tim gabungan BTNBBBR dan YIARI menunjukkan jumlah serta jenis pohon pakan orangutan berlimpah. Selain itu, jumlah populasi orangutan di dalam kawasan juga masih sangat sedikit. Status kawasan TNBBBR sebagai kawasan konservasi lebih menjamin keamanan dan kesejahteraan satwa di dalamnya. Sampai saat ini, YIARI telah melepaskan 82 orangutan sejak tahun 2016.

Mengingat orangutan yang dilepaskan ini merupakan orangutan hasil rehabilitasi, YIARI bersama BTNBBBR menerjunkan tim monitoring untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orangutan ini di lingkungan barunya. Tim monitoring yang terdiri dari masyarakat desa penyangga kawasan TNBBBR akan mencatat perilaku orangutan setiap 2 menit, dari orangutan bangun sampai tidur lagi setiap harinya. Proses pemantauan berlangsung selama 1-2 tahun, memastikan orangutan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Sepasang anak (Batis) dan ibu asuh (Karmila) orangutan memanjat pohon beberapa saat setelah dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul mengapresiasi upaya bersama ini sebagai permulaan yang baik dalam kepemimpinan Menteri Kehutanan yang baru. “Semoga kegiatan pelepasliaran ini menjadi langkah awal yang baik di awal kepemimpinan Menteri Kehutanan kita, Bapak Raja Juli Antoni.” Dia juga menegaskan bahwa ini adalah upaya nyata dari kolaborasi pelestarian satwa liar di Indonesia. “Saya bangga menjadi bagian dari tim yang memberi kesempatan hidup yang baru bagi orangutan yang sebelumnya perlu diselamatkan dan telah menjalani rehabilitasi. Pelepasliaran tujuh individu orangutan ini adalah bukti nyata dari komitmen bersama dalam upaya bersama pelestarian satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerjasama yang solid antara YIARI, Balai KSDA Kalimantan Barat, dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Setiap individu orangutan yang kami lepasliarkan telah melalui proses rehabilitasi panjang dan menyeluruh, yang bertujuan agar mereka memiliki keterampilan bertahan hidup di habitat aslinya. Kami berharap langkah ini dapat memperkuat populasi orangutan di Kalimantan Barat dan mendukung pelestarian hutan yang menjadi rumah mereka,” tutupnya.

Kepala BTNBBBR, Andi Muhammad Kadhafi, menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak. TNBBBR dipilih sebagai lokasi pelepasliaran mengingat habitat tersebut menyediakan sumber pakan yang melimpah dan sesuai untuk habitat orangutan.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo, mengungkapkan pentingnya pelestarian satwa endemik Kalimantan. Ia menekankan bahwa orangutan adalah bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, yang harus dijaga dan dilestarikan. Dukungan dari semua pihak sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini.

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang  bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan,  pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI  juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara  habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

YIARI: +62 821-5346-2720  (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)

Ketahui 4 Langkah Bijak ketika Bertemu Orangutan Liar

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Bertemu dengan orangutan liar mungkin dapat menjadi pengalaman yang unik dan langka. Namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik antara manusia dengan orangutan ketika bertemu baik secara sengaja, maupun tidak sengaja.

Seperti kasus yang terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat pada September 2023 lalu. Seekor orangutan tiba-tiba datang menyerang warga yang sedang mengangkut buah sawit di kebun miliknya. Hal tersebut diduga terjadi karena habitat orangutan terbakar.

Orangutan tersebut membuat warga mengalami luka gigitan di sekujur tubuh dan harus mendapat perawatan intensif. Oleh karena itu, kita butuh kehati-hatian dan pemahaman yang tepat[1]  untuk menjaga keamanan diri kita terhadap orangutan.

Berikut adalah 4 langkah bijak yang dapat kita lakukan ketika bertemu orangutan liar!

1. Tetap Tenang

Orangutan jarang berperilaku agresif kecuali diprovokasi (Heribertus Suciadi | YIARI)

Menurut penelitian, orangutan liar jarang sekali berperilaku agresif dan menyerang manusia. Selama manusia tidak mengganggu habitat dan teritorinya, orangutan tidak akan menyerang dan berkonflik dengan manusia.

Jadi, tetap tenang ya, Sobat! Hindari membuat suara keras atau tindakan yang dapat membuat orangutan merasa terganggu.

2. Menjauh Perlahan

Langkah yang harus ditempuh ketika bertemu orangutan di ladang adalah menjauh perlahan. Dengan itu mereka tidak akan menghampiri kita. (TIM OPU | YIARI)

Setiap orangutan memiliki teritori untuk mencukupi kehidupannya. Jika bertemu mereka di alam bebas, sebaiknya kita menjaga jarak aman sekitar 10-15 meter, kemudian menjauh dan pergi dari lokasi tersebut secara perlahan.
Dengan begitu, kita telah membiarkan mereka hidup dengan tenang di habitatnya!🌳🌿

3. Tidak Melakukan Gerakan Tiba-Tiba

Meski tampak tenang, penting bagi kita untuk tidak bergerak secara tiba-tiba ketika bertemu orangutan supaya tidak memancing agresivitasnya. (Rudiansyah | YIARI)

Orangutan merupakan satwa liar yang sangat sensitif, sehingga kita sebaiknya tidak membuat keributan, mengambil gambar dengan flash, dan membuat gerakan tiba-tiba. Janganlah berlari, berteriak, apalagi memukul, mengusir dan melempari orangutan ketika bertemu dengan mereka.

Jangan sampai kita membuat mereka merasa terancam ya, Sobat!

4. Segera Lapor ke Petugas Pemerintahan

BKSDA terkait dapat dihubungi supaya orangutan yang ditemukan dapat segera dievakuasi (Tim Media | YIARI)

Orangutan biasanya masuk ke lahan warga saat makanan yang disukainya sedang musim, seperti musim buah durian, petai, dan mayang aren. Apabila kita menemukan orangutan liar di sekitar pemukiman warga, segera lapor ke petugas pemerintahan seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau Taman Nasional terdekat kita ya, Sobat!

Meskipun orangutan tidak akan menyerang warga jika tidak merasa terdesak, orangutan tidak seharusnya ditemukan di sekitar pemukiman dan harus kembali ke habitat aslinya. Pelaporan penemuan orangutan liar dapat dilakukan melalui call center BKSDA yang dapat diakses di link berikut ya, Sobat KonservasYIARI !

Nah, itulah 4 langkah bijak yang dapat kita lakukan jika bertemu dengan orangutan liar!

Dengan melakukan langkah tersebut, kita telah berkontribusi untuk menjaga orangutan beserta lingkungan alaminya. Apalagi orangutan sangat rentan terhadap kepunahan sebab memiliki laju reproduksi yang sangat lambat.

Ingat ya, Sobat! mengagumi tidak harus memiliki. Cukup kagumi dari jauh dan biarkan orangutan hidup bebas di habitatnya agar mereka tetap ada di generasi mendatang.

Referensi:

Hastari, B., & Girsang, S. R. M. (2019). Partisipasi Pelaku Ekowisata Dalam Upaya Konservasi di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 6(2), 105-116.

Hockings, K., & Humle, T. (2010). Panduan Pencegahan dan Mitigasi Konflik antara Manusia dan Kera Besar. Switzerland: IUCN, Species Survival Commission.

Marshall, A. J., Lacy, R., Ancrenaz, M., Byers, O., Husson, S. J., Leighton, M., … & Wich, S. A. (2009). Orangutan population biology, life history, and conservation. Orangutans: Geographic variation in behavioral ecology and conservation, 311-326.

Siregar, D. I., Zaitunah, A., & Patana, P. (2015). Pemetaan daerah rawan konflik orangutan sumatera (Pongo abelii) dengan manusia di desa sekitar Cagar Alam Dolok Sibual-Buali. Peronema forestry science journal, 4(1), 120-133.

Hafiza Rizki Nurbaiti

3 Perbedaan Penangkaran dan Pusat Rehabilitasi Satwa Liar

Halo Sobat #KonservasYIARI. Seberapa sering kah mendengar kalimat yang berhubungan tentang kelestarian satwa? Jika sering, pasti kalian juga mengetahui kata penangkaran dan rehabilitasi ketika membahas perlindungan satwa. Nah, sudah tau belum apa perbedaan antara kedua kata tersebut?

Rehabilitasi ialah proses merawat dan melatih satwa yang ditangkap agar dapat kembali hidup di alam bebas. Dapat dianggap sebagai periode karantina sebelum satwa dilepasliarkan kembali. Satwa rehabilitasi biasanya memerlukan perawatan khusus, terutama dalam hal kesehatan.

Penangkaran, di sisi lain, adalah usaha untuk memperbanyak satwa dengan mempertahankan kemurnian jenisnya. Dalam penangkaran, tujuan utamanya adalah meningkatkan populasi sambil menjaga keberlanjutan dan kemurnian genetik jenis satwa yang dilindungi.

Sudah paham kan perbedaan antara rehabilitasi dengan penangkaran, Sob?

Agar lebih jelas lagi yuk kita lihat 3 perbedaan antara pusat rehabilitasi dengan penangkaran!

1. Pusat Rehabilitasi Bukan Tempat Perkembangbiakan

Perawat satwa memberikan pakan kukang yang menjalani perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/10/2020). Saat ini tidak kurang dari 100 individu kukang masih menjalani perawatan dan pemulihan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya (Reza Septian | YIARI)

Proses rehabilitasi adalah proses pemulihan dan penanganan satwa yang membutuhkan penanganan khusus. Jadi dalam proses ini satwa hanya diberi penanganan tidak dikembangbiakkan.

Sementara itu, penangkaran merupakan tempat satwa dikembangbiakkan. Akan tetapi dalam perkembangbiakan di penangkaran tetap memperhatikan kemurnian atau keaslian satwa tersebut.

2. Satwa di Pusat Rehabilitasi Tidak Dikomersilkan

Pada penangkaran burung parkit, satwa diperjualbelikan. Hal inilah yang tidak terjadi di pusat rehabilitasi satwa (Flora dan Fauna | 2022)

Perawatan dan penanganan satwa yang direhabilitasi membutuhkan tempat yang steril. Hanya ada petugas terkait saja yang dapat masuk. Jadi tempat rehabilitasi tidak bisa dikunjungi oleh sembarangan orang dan satwa rehabilitasi tidak untuk dikomersilkan.

Berbeda dengan rehabilitasi dimana tidak sembarangan orang bisa melihat prosesnya. Penangkaran dapat dilihat oleh banyak orang sehingga dapat dikomersilkan seperti menjadi tempat wisata.

3. Satwa di Pusat Rehabilitasi Sejatinya Adalah untuk Dilepasliarkan

Pelepasliaran Belukar, salah satu orangutan di pusat rehabilitasi kami pada April 2023 (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Satwa rehabilitasi adalah satwa yang membutuhkan penanganan khusus. Sesuai dengan tujuannya rehabilitasi, satwa yang telah melalui proses rehabilitasi akan dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.

Di sisi lain, sesuai dengan tujuan dari proses penangkaran yaitu perkembangbiakan, satwa yang ada dalam penangkaran tidak akan dilepasliarkan kembali.

YIARI memiliki pusat rehabilitasi kukang di Bogor, Jawa Barat dan pusat rehabilitasi orangutan di Ketapang, Kalimantan Barat. Satwa-satwa yang kurang beruntung, terutama yang terluka dan tersesat akan diselamatkan dan dititiprawat di pusat rehabilitasi.

Nah, sekarang sudah tau dong perbedaan antara rehabilitasi dengan penangkaran?

Kalau persamaannya, keduanya sama-sama mendukung kelestarian satwa ya Sob! Yuk Sobat #KonservasYIARI kita lestarikan satwa dengan mendukung proses rehabilitasi dan penangkaran. Salam lestari!

Referensi:

Anisa N. 2016. Pengelolaan penangkaran rusa sebagai objek wisata di Desa Api-api Kecamatan Waru Kabupaten Penajam Paser Utara (Studi pada UPTD Pembibitan dan Inseminasi Buatan (PIB) Provinsi Kalimantan Timur). Jurnal Ilmu Pemerintah. 4(4) : 1401-1414.

Bphn.go.id, No.8 Tahun 1999

https://ugm.ac.id/id/berita/1807-rehabilitasi-dan-penyelamatan-orangutan/#:~:text=Rehabilitasi%20adalah%20suatu%20proses%20dimana,saat%20dilepas%20di%20alam%20bebas.

Ravy Nur Aziz

Perilaku Langka, Orangutan Kalimantan Makan Kukang

Halo Sobat #KonservasYIARI!

Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang berada di Asia lho! salah satunya di Indonesia. 

Namun orangutan banyak dikenal sebagai primata yang berasal dari Pulau Kalimantan atau Borneo saja. Padahal habitat orangutan di Indonesia berada di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. 

Terdapat 3 spesies orangutan di Indonesia, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatera (Pongo abelii), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). 

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) (Rudiansyah | YIARI)
Orangutan sumatera (Pongo abelii) (andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) (Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)

Ohiya Sobat! orangutan mempunyai aktivitas sehari-hari sama seperti kita. Menurut artikel yang dituliskan oleh Haddad et al. 2017 , aktivitas harian orangutan yang utama dipenuhi oleh kegiatan makan. 

Lantas apa saja sih pakan alami orangutan sebagai primata? Apakah orangutan juga pemakan daging seperti kita?

Menilik Perilaku Memakan Daging pada Orangutan Kalimantan

Orangutan dikelompokkan sebagai primata pemakan segala (omnivora), yang berarti mereka mengonsumsi baik tumbuhan maupun hewan. Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, 90% dari makanannya berupa buah-buahan (frugivorous) selain itu makanannya antara lain kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, madu, dan jamur.

Orangutan memerlukan buah-buahan untuk memenuhi kadar air tubuhnya, seperti buah-buahan yang berdaging lembek, berbiji, termasuk buah berbiji tunggal dan buah beri seperti jenis Ficus sp (Rifanjani et al. 2022). Menurut Samudera et al. 2020, orangutan memenuhi kebutuhan nutrisi pelengkap lainnya dari makanan alternatif berupa biji dan daun muda yang kaya akan kandungan protein dan lemak.

Kukang kalimantan (Nycticebus borneanus) adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang akhir-akhir ini mendapat perhatian karena teramati dimakan orangutan kalimantan (Tim Media | YIARI)

Namun Sobat ada yang berbeda dengan orangutan kalimantan dewasa jantan yang bernama Molong! 

Untuk pertama kalinya orangutan kalimantan terdokumentasikan memakan kukang. Perilaku memakan daging merupakan kejadian yang sangat langka dalam aktivitas orangutan liar. 

Perilaku langka tersebut dituliskan oleh Makur et al. (2021) dalam jurnal Primates yang berjudul “Slow Loris (Nycticebus bornenus) consumption by a wild Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wrumbii)”

Menurut Makur et al. (2021), pemangsaan dan konsumsi kukang oleh orangutan kalimantan liar belum pernah terjadi. Namun berbeda dengan orangutan sumatera yang tercatat mengonsumsi kukang. 

Penelitian ini mengamati penangkapan dan konsumsi kukang (Nycticebus borneanus) oleh orangutan kalimantan, Molong di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, yang terletak di wilayah Kapuas, Kalimantan Tengah.

Ini merupakan kasus pertama yang didokumentasikan tentang predasi dan konsumsi kukang oleh orangutan kalimantan dan dengan demikian memberikan titik data penting untuk memahami predasi primata pada spesies primata lainnya.

Orangutan terdokumentasi makan kukang (www.unas.ac.id)

Jika kita bandingkan dengan kera besar lainnya yaitu simpanse, simpanse berburu primata lainya, orangutan cenderung hanya bila bertemu. Dalam artikel yang dipublikasi oleh Kumparan, simpanse membutuhkan daging untuk memberikan nutrisi yang tidak bisa mereka dapatkan dari tumbuhan, seperti vitamin A dan B12, zinc, tembaga, dan zat besi. 

Memang Sobat belum ada tulisan mengenai alasan mengapa orangutan memiliki perilaku memakan daging atau primata. Namun hal ini dapat menjadi pembaharuan dalam ilmu pengetahuan khususnya perilaku orangutan kalimantan. 

Yang jelas kita harus sama-sama mendukung upaya pelestarian orangutan si kera besar Asia ini ya!

Elif Ivana Hendastari 

Referensi : 

  1. https://kumparan.com/kumparansains/simpanse-di-tanzania-ternyata-suka-makan-otak-monyet 
  2. Samudera V, Prayogo H, Widhanarto OG. 2020. Analisis kandungan air sumber pakan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) di stasiun riset cabang panti Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 8(4):705-013. 
  3. Haddad AA, Prayogo H, Anwari MS. 2017. Perilaku makan dan jenis pakan orangutan (Pongo pygmaeus) di Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 5(2):300-306. 
  4. Makur KP, Atmoko SSU, Setia TM, Noordwijk MA, Vogel ER. 2022. Slow Loris (Nycticebus bornenus) consumption by a wild Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wrumbii). Primates. 63(1):25-31. 
  5. Rifanjani S, Saputra MM, Siahaan S. 2022. Preferensi pakan orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) di stasiun penelitian cabang panti Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 10(1):14-22. 
  6. https://www.unas.ac.id/berita/studi-terbaru-peneliti-temukan-orangutan-kalimantan-makan-kukang/

Sambutan Seru Masyarakat Saat Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko Kunjungi YIARI Ketapang

Sungguh kebahagiaan dan kebanggan tersendiri kami rasakan ketika Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Moeldoko, S.I.P., dan seluruh jajarannya, mengunjungi Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 20 Juli 2023. Pak Moeldoko mampir ke YIARI dalam rangka undangan Forkominda Ketapang dan beliau memilih YIARI sebagai salah satu destinasi kunjungan kerjanya ke Kabupaten Ketapang. 

Setiba di Learning Centre YIARI di Desa Sei Awan Kiri, Dr. Moeldoko diterima oleh seluruh jajaran pengurus dan manajemen yang diwakili oleh Dewan Pengurus YIARI, Marius Marcellus TJ, SH, MM dan ribuan mitra masyarakat dampingan YIARI. Ribuan? Yoi, sobat KonservasYIARI. Terhitung sampai 1500-an pengunjung hadir menyambut beliau. Sambil menjabat tangan para masyarakat, beliau menerima penjelasan tentang program-program konservasi holistik yang dijalankan YIARI yang berdiri pada 14 Februari 2008, berupa penyelamatan dan rehabilitasi satwa dengan bermitra bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga pendampingan masyarakat di bidang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan. 

Sambutan meriah masyarakat saat Dr. Moeldoko mengunjungi Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Ribuan orang yang hadir itu  adalah dari kelompok dan komunitas dampingan YIARI yang selama ini bekerja dan berkegiatan di ranah konservasi, pertanian berkelanjutan, dan pendidikan berwawasan lingkungan. Di antaranya kelompok The Power of Mama, Zwagery Generation, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). Turut hadir pula komunitas dan kelompok-kelompok etnis dan budaya lokal di Ketapang.

Pak Moeldoko juga masuk ke bagian rehabilitasi orangutan dan satwa bersama pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung dan jajaran SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat sembari mendapatkan penjelasan dari tim Animal Management YIARI tentang seluruh prosedur perawatan satwa liar dari sejak menerima satwa yang diselamatkan, hingga menyiapkan mereka untuk dilepasliarkan kembali. Di area rehabilitasi ini, beliau meresmikan pelepasliaran empat individu orangutan secara simbolis, sekaligus menjadi pengadopsi orangutan Gatot yang dirawat di pusat rehabilitasi YIARI sejak ia masih bayi dari tahun 2016. Terkesan oleh kelengkapan fasilitas dan prosedur rehabilitasi yang dimiliki YIARI, Dr. Moeldoko memberikan apresiasi positif atas kerja keras YIARI sebagai mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat satwa liar dan habitatnya, terutama untuk orangutan.

Dr. Moeldoko di antara masyarakat yang hadir (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah mengunjungi area rehabilitasi orangutan YIARI, Dr. Moeldoko menyambut para mitra masyarakat dampingan YIARI di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren yang masih berada di bagian depan kompleks YIARI di Sei Awan Kiri. Di kesempatan tersebut, Dr. Moeldoko secara khusus mengapresiasi peran perempuan dalam konservasi terutama dalam merehabilitasi orangutan. “Saya kagum pada anak-anak muda yang merelakan hidupnya untuk merawat satwa, dan terutama merawat orangutan. Saya melihat tadi ada anak perempuan yang semestinya bisa berbahagia di kota tetapi ia korbankan kehidupannya untuk menjaga orangutan berada di sini. Ini sungguh pengorbanan luar biasa yang kadang-kadang kita yang di Jakarta dan yang di kota-kota, tidak paham bahwa dari tangan merekalah lingkungan itu terjaga dengan baik,” ujar Dr. Moeldoko dalam kata sambutannya kepada seluruh hadirin yang memadati halaman Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren.

Apresiasi Dr. Moeldoko pada peran perempuan dalam konservasi juga beliau sampaikan bagi kelompok The Power of Mama (TPOM) yang didirikan oleh YIARI pada 8 Juni 2022. “Baru kali ini saya menemukan The Power of Mama dan yang mengejutkan yang dihadapi bukan sembarangan, kalau sama api saja berani apalagi sama yang lain. Di sinilah kita mesti belajar ke Ketapang, di manakalau di tempat lain banyak orang membakar hutan, justru di Ketapang ini semuanya bersiaga untuk menghadapi kebakaran itu. Saya sungguh menaruh rasa hormat kepada ibu-ibu sekalian yang saat ini berdiri paling depan dalam menghadapi kebakaran. Ibu-ibu harus paham bahwa satuan kebakaran kalau di luar negeri itu grade-nya nomor dua dalam melindungi bangsa dan negara. Yang pertama tentara, yang kedua itu satuan kebakaran. Grade kedua yang ditempatkan di tempat yang terhormat dan luar biasa ialah para pemadam kebakaran,” ujar Dr. Moeldoko.

Nah buat kalian yang masih penasaran dengan serunya acara kunjungan Pak Moeldoko, bisa melipir baca Siaran Pers kami dan videonya di link youtube kami.

Dewi Ria Utari

Perjuangan Orangutan Covita dari Malnutrisi Hingga Lepas Liar di Hutan

Sobat #KonservasYIARI masih ingat dengan Covita? Itu lho, bayi orangutan betina yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa liar dilindungi di waktu pandemi kemarin. Covita yang saat itu masih berusia dua tahun diselamatkan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada akhir Agustus 2020. Dia  dipelihara secara ilegal oleh seorang warga di Dusun Ensayang, Desa Karang Betong, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau. Kondisinya saat itu mengalami malnutrisi dan menderita penyakit kulit. Setelah diperiksa di Pusat Penyelamatan dan Konservasi kami, hasil rontgen menunjukan adanya patahan pada tulang paha kanan peluru senapan pada paha kiri Orangutan Covita. 

Untungnya, sekarang Covita sudah hidup bebas dan merdeka di habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Kok bisa? Gimana ceritanya? Kan dia masih bayi, emang bisa bertahan hidup sendiri gitu? Eits tenang dulu, Covita ini enggak sendirian di hutan kok gengs. Dia dilepaskan bersama induk asuhnya bernama Faini.

Kondisi Covita ketika direscue (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Makin bingung ya gimana ceritanya kok Covita bisa sampai punya induk asuh segala? Jadi, setelah diselamatkan dan mendapat perawatan intensif dari tim medis kami di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang, Covita menjalani masa rehabilitasi untuk mengembalikan kemampuan bertahan hidupnya sebagai orangutan. Asal Sobat #KonservasYIARI tahu, bayi orangutan di alam akan tinggal dengan induknya selama 6-8 tahun sebelum bisa hidup mandiri. Selama tinggal dengan induknya inilah anak orangutan belajar mencari makan, memanjat, membuat sarang dan sebagainya. Covita yang udah ditinggal induknya dalam usia semuda itu menjadi clueless bagaimana bertahan hidup sebagai orangutan di dalam hutan, makanya proses rehabilitasi itu diperlukan di sini.

Untungnya dalam proses rehabilitasi ini, Covita bertemu dengan orangutan betina bernama Faini, yang diselamatkan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat  dan YIARI dari daerah Desa Randau Jekak, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang pada Desember 2015. Orangutan ini juga mengalami nasib malang, kehilangan induknya dan menjadi korban pemeliharaan ilegal satwa dilindungi. Faini yang saat ini berusia sekitar 10 tahun ini sangat perhatian dengan Covita. Bahkan mereka kemudian mengembangkan ikatan alami sebagai ibu dan anak. Faini sangat protektif terhadap Covita dan sebaliknya, Covita terlihat nyaman dan menjadi lebih percaya diri ketika bersama Faini. Selama masa rehabilitasi, interaksi antara keduanya menimbulkan hal positif. Berkat Faini, Covita berani menjelajah hutan tempat rehabilitasi karena Faini juga aktif menjelajah. Covita memang belum mahir membuat sarang tapi bersama Faini, dia menunjukkan kemajuan yang sangat pesat untuk orangutan seusianya. 

Saat Faini membuat sarang untuk mereka berdua, Covita selalu berusaha membantu orang tua asuhnya membuat sarang dengan cara mengumpulkan ranting dan daun. Salah satu hal positif tentang Covita adalah dia masih semi-liar dan sangat jarang melakukan kontak atau mendekati para pemelihara hewan. Bahkan ia cenderung menjauhi manusia dan kerap menyulitkan tim medis atau animal keeper yang ingin melakukan pemeriksaan. Mereka juga lebih aktif di atas pohon. Covita dan Paini adalah orangutan yang sangat pandai mencari makan. Kemampuan mencari makan keduanya sangat mencengangkan karena kamus spesies makanan hutan yang mereka kenal jauh lebih banyak dibandingkan orangutan lainnya. Inilah yang membuat tim kami tidak ragu memasukan nama keduanya dalam daftar orangutan yang akan segera dilepasliarkan.

Perjuangan pelepasliaran Covita dan orangutan lainnya di dalam kawasan TNBBBR pada 26 Juni 2023 (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Selain mereka berdua, ada empat orangutan lainnya, yaitu Budi, Tulip, Binaca, dan Jamilah yang juga dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBBR pada 26 Juni 2023.Mereka semua juga mengalami nasib malang sebagai korban pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi. Budi yang merupakan satu-satunya orangutan jantan dalam pelepasliaran kali ini dulunya sempat dipelihara di dalam kandang ayam selama berbulan-bulan dan hanya diberi makan kental manis sehingga dia mengalami malnutrisi parah sampai tubuhnya membengkak. Budi diselamatkan dari daerah Kubing, Dusun Sawah Sempurna, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Desember 2014 ketika masih berusia 1 tahun. Setelah menjalani masa rehabilitasi selama 9 tahun, Budi akhirnya memperoleh kebebasan sejati di habitat alaminya.

Orangutan lainnya, Tulip, diselamatkan pada April 2012 dari kasus pemeliharaan ilegal oleh warga Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Saat ini Tulip diperkirakan berusia 13 tahun. Sementara Bianca merupakan orangutan betina berumur ± 7 tahun berasal dari hasil penyelamatan Balai KSDA Kalimantan Barat di daerah Desa Randau Jungkal Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang pada tanggal 5 Oktober 2016. Terakhir ada Jamilah, orangutan betina berusia 9 tahun yang diselamatkan di daerah Sandai, Kabupaten Ketapang pada Februari 2016.

Yuk kita doakan mereka semua sehat selalu di rumah mereka di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Heribertus Suciadi

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko Apresiasi YIARI dan Mitra Masyarakat dalam Kunjungan Kerja di Ketapang, Kalbar

Ketapang, Kalimantan Barat – Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Moeldoko, S.I.P., dan seluruh jajarannya, mengunjungi Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada Kamis, 20 Juli 2023. Setelah Dr. Moeldoko tiba di bandara Rahadi Oesman Ketapang dengan disambut oleh Forkominda Ketapang, jajaran TNI dan Kepolisan Ketapang, serta OPD (Organisasi Perangkat Daerah), beliau menuju ke YIARI yang berlokasi di Desa Sei Awan Kiri, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

Setiba di YIARI, Dr. Moeldoko diterima oleh seluruh jajaran pengurus dan manajemen yang diwakili oleh Dewan Pengurus YIARI, Marius Marcellus TJ, SH, MM di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren yang didirikan YIARI pada 10 Juli 2019. Di situ, beliau menerima penjelasan tentang program-program konservasi holistik yang dijalankan YIARI yang berdiri pada 14 Februari 2008, berupa penyelamatan dan rehabilitasi satwa dengan bermitra bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga pendampingan masyarakat di bidang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan.

Total hadir sekitar 1500 orang dari kelompok dan komunitas dampingan YIARI yang selama ini bekerja dan berkegiatan di ranah konservasi, pertanian berkelanjutan, dan pendidikan berwawasan lingkungan. Di antaranya kelompok The Power of Mama, Zwagery Generation, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). Turut hadir pula komunitas dan kelompok-kelompok etnis dan budaya lokal di Ketapang sebagai bagian dari mitra strategis YIARI dalam menggerakkan semangat menjaga hutan dan keanekaragaman hayati di Kabupaten Ketapang.

Sambutan simbolis untuk Dr. Moeldoko oleh Dewan Pengurus YIARI, Marius Marcellus TJ, SH, MM ( Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Begitu tiba di YIARI, Dr. Moeldoko mengunjungi bagian rehabilitasi orangutan dan satwa bersama pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung dan jajaran SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat sembari mendapatkan penjelasan dari tim Animal Management YIARI tentang seluruh prosedur perawatan satwa liar dari sejak menerima satwa yang diselamatkan, hingga menyiapkan mereka untuk dilepasliarkan kembali. Di area rehabilitasi inilah, Dr. Moeldoko meresmikan pelepasliaran empat (4) individu orangutan secara simbolis, sekaligus menjadi pengadopsi orangutan Gatot yang dirawat di pusat rehabilitasi YIARI sejak ia masih bayi dari tahun 2016. Terkesan oleh kelengkapan fasilitas dan prosedur rehabilitasi yang dimiliki YIARI, Dr. Moeldoko memberikan apresiasi positif atas kerja keras YIARI sebagai mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat satwa liar dan habitatnya, terutama untuk orangutan.

Setelah mengunjungi area rehabilitasi orangutan YIARI, Dr. Moeldoko menyambut para mitra masyarakat dampingan YIARI di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren yang masih berada di bagian depan kompleks YIARI di Sei Awan Kiri. Di kesempatan tersebut, Dr. Moeldoko secara khusus mengapresiasi peran perempuan dalam konservasi terutama dalam merehabilitasi orangutan. “Saya kagum pada anak-anak muda yang merelakan hidupnya untuk merawat satwa, dan terutama merawat orangutan. Saya melihat tadi ada anak perempuan yang semestinya bisa berbahagia di kota tetapi ia korbankan kehidupannya untuk menjaga orangutan berada di sini. Ini sungguh pengorbanan luar biasa yang kadang-kadang kita yang di Jakarta dan yang di kota-kota, tidak paham bahwa dari tangan merekalah lingkungan itu terjaga dengan baik,” ujar Dr. Moeldoko dalam kata sambutannya kepada seluruh hadirin yang memadati halaman Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren.

Dr. Moeldoko meresmikan pelepasliaran empat (4) individu orangutan secara simbolis (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

“Baru kali ini saya menemukan The Power of Mama dan yang mengejutkan yang dihadapi bukan sembarangan, kalau sama api saja berani apalagi sama yang lain. Di sinilah kita mesti belajar ke Ketapang, di mana kalau di tempat lain banyak orang membakar hutan, justru di Ketapang ini semuanya bersiaga untuk menghadapi kebakaran itu. Saya sungguh menaruh rasa hormat kepada ibu-ibu sekalian yang saat ini berdiri paling depan dalam menghadapi kebakaran. Ibu-ibu harus paham bahwa satuan kebakaran kalau di luar negeri itu grade-nya nomor dua dalam melindungi bangsa dan negara. Yang pertama tentara, yang kedua itu satuan kebakaran. Grade kedua yang ditempatkan di tempat yang terhormat dan luar biasa ialah para pemadam kebakaran,” ujar Dr. Moeldoko.

Apresiasi Dr. Moeldoko pada peran perempuan dalam konservasi juga beliau sampaikan bagi kelompok The Power of Mama (TPOM) yang didirikan oleh YIARI pada 8 Juni 2022 dengan tujuan untuk menjadikan kaum perempuan dan para ibu rumah tangga di Ketapang, sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal. TPOM secara rutin melakukan patroli dan penyadartahuan kepada masyarakat untuk menjaga kawasan sekitar tempat tinggal mereka dari risiko bencana kebakaran.

Dari hasil kunjungan ini, Dr. Moeldoko terkesan akan pendekatan holistik YIARI yang berhasil menempatkan diri sebagai lembaga konservasi mitra pemerintah yang berhasil bermitra dengan semua pihak dan memunculkan program-program pendampingan masyarakat, beasiswa bagi para anak yang hidup di desa-desa penyangga taman nasional, peningkatan literasi konservasi bagi anak-anak, peningkatan UMKM yang ramah lingkungan, hingga pendampingan bagi para perempuan untuk lebih terlibat dalam kesetaraan peran dalam menjaga alam dan lingkungan. Dr. Moeldoko bahkan mendorong keterlibatan YIARI untuk membantu program-program pemerintah terutama untuk menyelaraskan antara pembangunan kota-kota masa depan yang berwawasan lingkungan. “Pemerintah telah memiliki program menuju zero emission, yaitu tidak ada lagi polutan-polutan dan polusi yang berkembang di dunia. Indonesia mengikuti protokol Paris, komitmen presiden sangat jelas, kita menuju ke sana agar kelangsungan hidup anak cucu kita ke depan semakin baik. Kita sekarang menghadapi lingkungan yang luar biasa, untuk itu ada program dengan nama transisi energi yang merupakan salah satu tema besar yang dibicarakan ketika G20 kemarin dan diikuti lagi di pertemuan KTT ASEAN. Saya sangat kagum di tengah-tengah kota ini ada 200 hektar hutan yang terlindungi dengan baik dan terjaga dengan baik dan mohon ini nanti terjaga sampai selamanya. Karena dari hutan banyak yang kita dapatkan, salah satunya kelangsungan air. Air sudah menjadi isu global, krisis air sudah mulai di mana-mana, jadi ini harus terjaga dengan baik,” ujar Dr. Moeldoko menambahkan.

Penyampaian sambutan dan apresiasi dari Dr. Moeldoko (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Pihak YIARI yang diwakili oleh Bapak Marius Marcellus, menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya atas waktu yang disempatkan Dr. Moeldoko untuk menyapa masyarakat yang berkumpul di YIARI. “Kunjungan Bapak Dr. Moeldoko ke YIARI, sungguh memberikan semangat dan afirmasi bagi pekerjaan kami selama ini. Sejak YIARI resmi berdiri pada tahun 2008, kami telah bergerak dari lembaga yang sebelumnya berfokus pada rehabilitasi satwa liar, kemudian menjadi lembaga konservasi yang holistik untuk bisa menciptakan kehidupan yang harmonis bagi seluruh warga bumi, tidak hanya untuk manusia, namun juga satwa. Terutama di Ketapang, di mana keanekaragaman hayati masih tinggi, kami terus berjuang bersama masyarakat untuk bisa menjadi salah satu paru-paru bagi Indonesia. Kami siap mendukung pemerintah dalam setiap programnya, terutama dalam hal menjaga cakupan hutan dan isinya. Pesan dan harapan Dr. Moeldoko di kunjungan ini, akan kami sambut dan jalankan,” ujar Marius Marcellus, Dewan Pengurus YIARI.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika