Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Ketahui 4 Langkah Bijak ketika Bertemu Orangutan Liar
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Bertemu dengan orangutan liar mungkin dapat menjadi pengalaman yang unik dan langka. Namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik antara manusia dengan orangutan ketika bertemu baik secara sengaja, maupun tidak sengaja.
Seperti kasus yang terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat pada September 2023 lalu. Seekor orangutan tiba-tiba datang menyerang warga yang sedang mengangkut buah sawit di kebun miliknya. Hal tersebut diduga terjadi karena habitat orangutan terbakar.
Orangutan tersebut membuat warga mengalami luka gigitan di sekujur tubuh dan harus mendapat perawatan intensif. Oleh karena itu, kita butuh kehati-hatian dan pemahaman yang tepat[1] untuk menjaga keamanan diri kita terhadap orangutan.
Berikut adalah 4 langkah bijak yang dapat kita lakukan ketika bertemu orangutan liar!
Menurut penelitian, orangutan liar jarang sekali berperilaku agresif dan menyerang manusia. Selama manusia tidak mengganggu habitat dan teritorinya, orangutan tidak akan menyerang dan berkonflik dengan manusia.
Jadi, tetap tenang ya, Sobat! Hindari membuat suara keras atau tindakan yang dapat membuat orangutan merasa terganggu.
2. Menjauh Perlahan
Langkah yang harus ditempuh ketika bertemu orangutan di ladang adalah menjauh perlahan. Dengan itu mereka tidak akan menghampiri kita. (TIM OPU | YIARI)
Setiap orangutan memiliki teritori untuk mencukupi kehidupannya. Jika bertemu mereka di alam bebas, sebaiknya kita menjaga jarak aman sekitar 10-15 meter, kemudian menjauh dan pergi dari lokasi tersebut secara perlahan. Dengan begitu, kita telah membiarkan mereka hidup dengan tenang di habitatnya!🌳🌿
3. Tidak Melakukan Gerakan Tiba-Tiba
Meski tampak tenang, penting bagi kita untuk tidak bergerak secara tiba-tiba ketika bertemu orangutan supaya tidak memancing agresivitasnya. (Rudiansyah | YIARI)
Orangutan merupakan satwa liar yang sangat sensitif, sehingga kita sebaiknya tidak membuat keributan, mengambil gambar dengan flash, dan membuat gerakan tiba-tiba. Janganlah berlari, berteriak, apalagi memukul, mengusir dan melempari orangutan ketika bertemu dengan mereka.
Jangan sampai kita membuat mereka merasa terancam ya, Sobat!
4. Segera Lapor ke Petugas Pemerintahan
BKSDA terkait dapat dihubungi supaya orangutan yang ditemukan dapat segera dievakuasi (Tim Media | YIARI)
Orangutan biasanya masuk ke lahan warga saat makanan yang disukainya sedang musim, seperti musim buah durian, petai, dan mayang aren. Apabila kita menemukan orangutan liar di sekitar pemukiman warga, segera lapor ke petugas pemerintahan seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau Taman Nasional terdekat kita ya, Sobat!
Meskipun orangutan tidak akan menyerang warga jika tidak merasa terdesak, orangutan tidak seharusnya ditemukan di sekitar pemukiman dan harus kembali ke habitat aslinya. Pelaporan penemuan orangutan liar dapat dilakukan melalui call center BKSDA yang dapat diakses di link berikut ya, Sobat KonservasYIARI !
Nah, itulah 4 langkah bijak yang dapat kita lakukan jika bertemu dengan orangutan liar!
Dengan melakukan langkah tersebut, kita telah berkontribusi untuk menjaga orangutan beserta lingkungan alaminya. Apalagi orangutan sangat rentan terhadap kepunahan sebab memiliki laju reproduksi yang sangat lambat.
Ingat ya, Sobat! mengagumi tidak harus memiliki. Cukup kagumi dari jauh dan biarkan orangutan hidup bebas di habitatnya agar mereka tetap ada di generasi mendatang.
Referensi:
Hastari, B., & Girsang, S. R. M. (2019). Partisipasi Pelaku Ekowisata Dalam Upaya Konservasi di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 6(2), 105-116.
Hockings, K., & Humle, T. (2010). Panduan Pencegahan dan Mitigasi Konflik antara Manusia dan Kera Besar. Switzerland: IUCN, Species Survival Commission.
Marshall, A. J., Lacy, R., Ancrenaz, M., Byers, O., Husson, S. J., Leighton, M., … & Wich, S. A. (2009). Orangutan population biology, life history, and conservation. Orangutans: Geographic variation in behavioral ecology and conservation, 311-326.
Siregar, D. I., Zaitunah, A., & Patana, P. (2015). Pemetaan daerah rawan konflik orangutan sumatera (Pongo abelii) dengan manusia di desa sekitar Cagar Alam Dolok Sibual-Buali. Peronema forestry science journal, 4(1), 120-133.
Hafiza Rizki Nurbaiti
Satukan Persepsi Mengenai Proses Pelaporan, Penyelamatan dan Penanganan Satwa Liar di Jawa Barat Lewat Diskusi Kelompok Terpumpun
Bersama dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar), kami mengadakan diskusi kelompok terpumpun (DKT)/ focus group discussion bagi pihak-pihak yang berkontribusi dalam penanganan dan penyelamatan satwa liar di sekitar Jawa Barat. Pihak-pihak ini di antara lain ialah BBKSDA Jawa Barat, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS), hingga Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten dan Kota Bogor. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu (18/10) di Taman Wisata Alam Gunung Pancar, Babakan Madang, Bogor.
Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Kepala BBKSDA Jawa Barat dan diawali dengan pemberian materi oleh beberapa narasumber yakni drh. Indri Saptorini (YIARI), drh. Muhammad Piter Kombo (Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah) dan drh. Ida Masnur (Aspinall Foundation). Materi yang diberikan kepada peserta mengenai penanganan dan penyelamatan untuk kukang, burung serta primata lainnya seperti lutung dan owa. Tidak lupa terdapat pengantar materi mengenai gambaran penguatan upaya penyelamatan satwa oleh Ir. V. Diah Qurani Kristina, M.Si., mewakili BBKSDA Jawa Barat.
Peserta saat kegiatan pemaparan materi oleh narasumber (Dwi Nur Ayuni | YIARI)
“Saat ini kalau ada apa-apa, masyarakat itu pasti cari damkar. Ada ular masuk rumah cari damkar, ada anak yang kepalanya tersangkut cari damkar,” ucap Ibu Diah. Tidak sedikit laporan dari masyarakat kepada pemadam kebakaran mengenai satwa liar yang masuk ke rumah ataupun satwa liar yang dipelihara kemudian kabur bahkan menyerang pemiliknya. BKSDA juga terkadang mendapatkan laporan dari masyarakat untuk penyerahan satwa liar.
Materi yang disampaikan kepada peserta ditekankan pada bagaimana cara handling dan restrain satwa liar untuk menjaga keselamatan petugas lapang serta satwa liar. Selain itu, pemateri juga menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan saat memindahkan satwa liar yakni disarankan untuk menghindari translokasi satwa saat siang hari karena suhu udara yang tinggi dan berpotensi menimbulkan stres pada satwa.
drh. Ida Masnur menyampaikan kepada peserta bahwa tantangan terbesar dalam upaya penyelamatan satwa liar adalah kesabaran. Menghadapi satwa liar harus sabar dan kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada mereka, jika itu terjadi maka satwa akan stres. Informasi yang ada di lapangan dan kondisi satwa sangat diperlukan, semakin lengkap informasi yang diberikan pada pihak rehabilitasi dapat membantu proses penanganan dan penyelamatan satwa liar.
Setelah pemaparan materi, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk melaksanakan diskusi kelompok terpumpun dengan beberapa studi kasus yang diberikan oleh pendamping. Setiap kelompok terdiri dari berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam penanganan dan penyelamatan satwa liar sehingga kasus dapat diselesaikan dengan melibatkan pihak-pihak terkait.
Peserta saat melaksanakan diskusi kelompok terpumpun (Dwi Nur Ayuni | YIARI)
Setiap kelompok mendapatkan kesempatan memaparkan hasil diskusi selama kurang lebih 15 menit dan mendapatkan tanggapan dari kelompok lain. Diskusi berlangsung baik karena peserta membahas dengan melihat kondisi dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lapangan dengan seksama.
Harapan dari diadakannya kegiatan ini adalah peserta yang hadir memahami proses pelaporan, penyelamatan, dan penanganan satwa liar, menindaklanjuti pelaporan dan menentukan langkah selanjutnya dalam penyelamatan satwa liar, mendapatkan gambaran mengenai langkah-langkah penanganan satwa setelah penyelamatan, serta terjalinnya komunikasi para pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan dan penanganan satwa liar.
Dalam sesi penutup, Richard Stephen Moore, Advisor Program YIARI menyampaikan inisiatif dari DKT ini sebaiknya tidak berhenti di proses penyelamatan satwa liar saja, namun juga penyadartahuan ke masyarakat tentang hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan terhadap satwa liar untuk mengurangi kasus temuan satwa liar di masyarakat. “Upaya-upaya penanganan dan penyelamatan yang sudah kita diskusikan, akan lebih baik jika dibarengi dengan pemikiran ke arah edukasi ke masyarakat terkait larangan memelihara dan memburu satwa liar,” pungkasnya di akhir acara.
Dwi Nur Ayuni
Celaka Satwa Obesitas dan 4 Cara Penanganannya
Halo sobat #KonsevasYIARI, pasti kalian suka kalo melihat satwa atau binatang yang memiliki badan gemoy. Istilah gemoy sekarang digunakan untuk sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Satwa yang memiliki badan gendut atau besar lebih terlihat gemoy, setuju nggak? Meski terlihat lucu dan menggemaskan, satwa yang memiliki badan terlalu besar dapat menyebabkan obesitas loh. Obesitas memiliki dampak negatif pada satwa itu sendiri. Seperti halnya manusia, satwa juga butuh hidup sehat dan menjauhi obesitas. Nah berikut adalah penjelasan terkait obesitas pada satwa.
Apa itu obesitas pada satwa?
Obesitas terjadi dikarenakan ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dikeluarkan. Satwa yang tidak banyak melakukan aktivitas di alam akan lebih rentan terkena obesitas. Kalori yang ada pada tubuh satwa tersebut tidak akan terurai dan disimpan dalam bentuk lemak. Selain hal tersebut, faktor genetik juga dapat menyebabkan lebih rentan terkena obesitas. Obesitas juga merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara tinggi badan dan berat badan.
Bagaimana ciri-ciri satwa yang mengalami obesitas?
Ciri-ciri fisik pada satwa yang mengalami obesitas dapat dilihat secara langsung. Lingkar tubuh telah umum digunakan sebagai alat antropometrik untuk menilai komposisi tubuh dan risiko kesehatan pada individu obesitas. Tubuh satwa yang mengalami obesitas akan cenderung lebih besar daripada satwa sejenisnya. Tingkah laku satwa yang mengalami obesitas dapat diketahui dengan ciri-ciri tidak terlalu banyak bergerak atau beraktivitas, nafsu makan yang berlebih, dan memiliki kesulitan untuk bergerak. Agar lebih jelas membedakan antara satwa obesitas dengan satwa yang tidak mengalami obesitas, yuk kita perhatikan gambar berikut.
Sastro, kukang jawa jantan dengan berat badan ideal (kiri) dan Nia, kukang sumatera dengan kondisi obesitas (kanan), terlihat bahwa perut Nia sudah menyentuh lantai (Fattreza Ihsan dan Imam Arifin | Yayasan IAR Indonesia)
Lalu mengapa obesitas pada satwa itu bahaya?
Penumpukan lemak pada tubuh satwa dapat menyebabkan atau memengaruhi fungsi tubuh saat terserap organ-organ tertentu. Terganggunya fungsi organ tertentu dalam tubuh tentu dapat berdampak pada kesehatan satwa tersebut.
Sistem kekebalan tubuh pada satwa juga akan terancam jika satwa mengalami obesitas. Hal ini dikarenakan satwa tidak banyak bergerak atau melakukan aktivitas sehingga tubuhnya rentan terkena penyakit. Satwa yang mengalami obesitas juga akan terkena gangguan pernapasan. Hal ini dikarenakan terjadinya pembengkakan dan penyempitan pada saluran pernapasan.
Obesitas pada satwa akan memicu banyak penyakit lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan khusus untuk satwa yang mengalami obesitas. Penanganan tersebut antara lain adalah :
Mengontrol porsi makan
Satwa yang mengalami obesitas dapat dibawa ke pusat rehabilitasi. Pemberian makan pada pusat rehabilitasi akan selalu dikontrol dan sesuai dengan porsinya. Makanan setiap satwa sudah ada takarannya. Jadi, untuk mencegah obesitas maka harus memberikan makan yang cukup dan terukur. Sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik.
Memberikan makanan yang sehat dan bergizi
Selain memberikan makanan yang cukup dan tidak berlebihan, kandungan gizi pada makanan juga harus diperhatikan. Dalam penanganan obesitas, pusat rehabilitasi akan berusaha memberikan makanan yang kalorinya tidak terlalu tinggi. Hal ini bertujuan untuk mencegah penumpukan kalori pada tubuh satwa.
Memberi latihan agar satwa terus bergerak dan beraktivitas
Penanganan satwa obesitas juga harus disertai dengan pembiasaan bergerak dan beraktivitas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kalori yang ada pada tubuh satwa dan tentunya sebagai pembiasaan tingkah laku agar kembali seperti semula.
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Pemeriksaan kesehatan oleh tim medis juga diperlukan dalam penanganan satwa obesitas. Hal ini akan terus diberikan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa yang sedang dalam penanganan.
Obesitas sering terjadi pada hewan yang dipelihara oleh manusia. Hal ini terjadi karena sikap sayang terhadap hewan peliharaan yang salah sehingga tidak terkontrol dalam pemberian makannya.
Monyet ekor panjang yang mengalami obesitas (Harish, CC BY-SA 4.0)
Nah sobat #KonservasYIARI, kepedulian terhadap satwa dapat dimulai dengan membiarkan satwa liar hidup di alam bebas. Dengan begitu, satwa akan dapat hidup sehat dan melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Sobat #KonservasYIARI, yuk kita kampanyekan larangan memelihara dan memperjual belikan satwa liar agar tetap terjaga kelestariannya. Kita peduli, satwa lestari!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi:
Audrina MB, Harianto, Puspasari I. 2019. Rancang bangun pemberi makan otomatis pada kucing menggunakan mikrokontroler. Journal of Control and Network System. 8(2) : 182-189. Ghassani YK, Rianti P, Priambada NP, Arifin I, Saptorini I, Prameswari W, Darusman HS. 2022. Penilaian kesejahteraan kukang (Nycticebus spp.) di pusat rehabilitasi primata Indonesia: Pengembangan dan validasi skor kondisi tubuh. American Journal of Primatology. 1-15. https://www.alodokter.com/kenali-ciri-ciri-obesitas-pada-anjing-dan-beragam-risiko-kesehatan-yang-mengintai https://hewania.com/gaya-hidup-sehat-pada-hewan-untuk-menghindari-obesitas/12069/ https://www.royalcanin.com/id/cats/health-and-wellbeing/health-risks-of-overweight-and-obese-cats
Ravy Nur Aziz
Kolaborasi Lembaga Konservasi untuk meningkatkan Kapasitas dalam Pemeriksaan Satwa
Halo Sobat #KonservasYIARI ! Pada tanggal 5 – 9 Juli 2023 dokter hewan kami dan tim berkelana ke Palembang dan Bangka, loh! Ngapain ya?
Jadi, pada tanggal tersebut diadakan acara bertajuk “Pelatihan dan Upaya Peningkatan Kapasitas dalam Pemeriksaan Medis Satwa di Lembaga Konservasi”. Kegiatan ini terbagi di dua lokasi, yaitu di PRS (Pusat Rehabilitasi Satwa) Punti Kayu di Palembang pada 5 – 6 Juli, dan PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Alobi di Bangka pada 8 – 9 Juli.
Sobat #KonservasYIARI tau gak sih kalau Indonesia itu memiliki 59 jenis spesies primata endemik yang hidup tersebar pada beberapa pulau di Indonesia? Nah, sebagian besar primata di Indonesia itu termasuk dalam kategori dilindungi melalui Peraturan Menteri LHK 106 tahun 2018, karena populasinya yang semakin berkurang di habitatnya. Akan sangat disayangkan jika primata endemik ini punah kan? . Makanya, untuk memaksimalkan upaya konservasi mempertahankan keberadaan serta kesejahteraan mereka di alam, diadakan acara pelatihan ini!
Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk workshop pemeriksaan kesehatan satwa liar ini merupakan kolaborasi antara BKSDA Sumatera Selatan bersama The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAF-IP), Alobi Foundation, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Para dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Yayasan Kalaweit dan OIC-SRA (Orangutan Information Center-Sumatera Rescue Alliance) juga turut berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan kali ini. Perwakilan dokter hewan kami yang berangkat ke Sumatera Selatan untuk menjadi bagian dari acara tersebut ialah drh. Nur Purba Priambada dan drh. Imam Arifin , bersama beberapa tim kami.
Pemeriksaan kesehatan satwa yang dilakukan di antaranya ialahpemeriksaan fisik, pemeriksaan x-ray, pengambilan sampel darah, serta penanganan dan pengobatan satwa. Satwa yang diperiksa diantaranya ialah siamang, owa, kukang, dan kura-kura bajuku. Selain itu, ada pula kegiatan diskusi interaktif hasil kegiatan dan diskusi berbagi cerita kasus perawatan, penanganan, dan pengobatan satwa.
Rangkaian kegiatan pelatihan dan upaya peningkatan kapasitas dalam pemeriksaan medis (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Oiya, ada good news loh, Sob! Ada yang bikin happy banget nih meski awalnya tidak direncanakan, yaitu kegiatan pelepasliaran kukang! Jadi ketika pemeriksaan di PPS Alobi, setelah dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis, juga pemberian rekomendasi terkait masalah kesehatan, nutrisi, perilaku, dan lingkungan fisik, 2 dari 5 kukang yang diperiksa ternyata dinyatakan sudah siap menghadapi dunia nyata, eh maksudnya alam liar! Jadi, di akhir kegiatan, pihak BKSDA dan Alobi Foundation melepasliarkan kedua kukang tersebut di Tahura Bukit Mangkol.
Harapannya, pelatihan ini dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan satwa yang ditangani oleh personil medis di tiap-tiap lembaga konservasi. Semoga akan ada kegiatan kolaborasi konservasi yang dapat diikuti lebih banyak lembaga ya, karena upaya konservasi adalah perjuangan bersama, kan? Panjang umur konservasi Indonesia!
Peserta pelatihan dan upaya peningkatan kapasitas dalam pemeriksaan medis satwa di lembaga konservasi di PPS Alobi usai melaksanakan rangkaian kegiatan (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Fathia Rosatika
Implementasi Konsep One Health, BKSDA Sumsel Gelar Seminar dan Pelatihan Penanganan Primata Hasil Sitaan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama The Aspinall FoundationIndonesian Program (TAF-IP) menyelenggarakan seminar sehari dan pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan pada Senin (30/01), di kantor Resort Konservasi Wilayah IV Kota Palembang. Kegiatan ini guna penyelamatan dan penanganan primata hasil sitaaan atau serahan sukarela untuk melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan protokol dan prosedur yang ada serta mengantisipasi potensi terjadinya zoonosis.
Salah satu konsep yang tumbuh mengenai hubungan manusia, satwa liar, dan lingkungan adalah One Health. Konsep ini lebih menekankan kemanunggalan kesehatan manusia, kesehatan satwa, kesehatan tumbuh-tumbuhan, kesehatan lingkungan, dengan kesehatan planet bumi sebagai sebuah kesatuan. Pendekatan One Health dilaksanakan dengan tiga prinsip, yaitu komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Hadir sebagai narasumber dalam seminar ini, Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, drh. Ida Mansur dari TAF-IP, dan drh. Wendi Prameswari dari YIARI, yang dilanjutkan dengan pelatihan melalui fasilitasi dari TAF-IP dan YIARI.
Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata mengatakan bahwa 80% satwa liar bernilai penting dan terancam punah berada di luar kawasan konservasi, sehingga menyebabkan potensi interaksi negatif satwa dan manusia. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan konservasi perlu didukung dengan upaya konservasi pada kawasan di sekitarnya.
Dokter hewan Purbo Priambada dan dokter hewan Wendi Prameswari memeragakan cara penanganan kukang sumatra yang tepat dan aman bagi para peserta pelatihan (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
“Telah banyak regulasi terkini yang menjadi jalan tengah, misal koridor, bagaimana kawasan bernilai konservasi tinggi dikelola bersama oleh para pihak. Selain itu, juga terdapat pedoman bagaimana memperkuat dan mempertahankan kawasan konservasi tanpa membuka konflik baru, seperti kemitraan konservasi di dalam kawasan konservasi dan perhutanan sosial di luar kawasan konservasi”, kata Kepala Balai Ujang saat menyampaikan paparannya dengan tema perlindungan satwa liar di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera Selatan.
Narasumber lainnya, drh. Ida Masnur dari TAF-IP menyampaikan materi tentang pengelolaan primata di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS)-Primata Jawa di Jawa Barat dan PRS-Lutung Jawa di Jawa Timur. Saat ini terdapat tiga jenis primata yang dikelola, yaitu lutung jawa (Trachypithecus auratus), surili jawa (Presbytis comata), dan owa jawa (Hylobates moloch). Dalam panduan rehabilitasi satwa yang dipedomani, Best Practise Guidelines for the Rehabilitation and Translocation of Gibbons, drh. Ida menjelaskan skema rehabilitasi satwa meliputi kedatangan satwa-karantina, fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pemeriksaan kesehatan, pengayaan perilaku, kajian lokasi pelepasliaran, dan animal welfare.
Panduan rehabilitasi satwa tersebut juga dipedomani oleh YIARI dalam penanganan satwa. Dalam pemaparannya, drh. Wendi Prameswari dari YIARI menerangkan bahwa saat ini terdapat dua lokasi PRS Primata yang dikelola YIARI yaitu di Bogor (rehabilitasi kukang) dan Ketapang (rehabilitasi orangutan).
Peserta dari tiap instansi mengemukakan pendapat dan belajar bersama mengenai penanganan yang baik dan tepat bagi primata, terutama mereka yang dievakuasi dari hasil pemeliharaan, perdagangan, ataupun perburuan (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
“Penanganan atau proses evakuasi yang dilakukan YIARI terbagi menjadi dua upaya, yaitu rilis atau rehabilitasi. Proses rilis dapat dilakukan dengan kriteria kondisi kesehatan bagus, misalnya pada kukang dengan kondisi gigi bagus dan lengkap, tidak ada luka, serta mata normal. Sebaliknya, dilakukan rehabilitasi jika kondisi kesehatannya tidak baik”, ungkapnya.
Dalam pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan, peserta diedukasi penerapan praktik handling satwa dan penanaman microchip pada satwa kukang sebagai obyek pembelajaran. Tujuan pemasangan microchip pada satwa adalah untuk identifikasi dan memudahkan penelusuran keberadaan satwa tersebut.
Selain diikuti jajaran pegawai Balai KSDA Sumatera Selatan dan petugas PRS-RKW IV Kota Palembang, pada seminar dan pelatihan ini turut hadir dari unsur Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang, dan Yayasan ALOBI.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Ancaman Malaria Bagi Populasi Orangutan
Kita semua pastinya sudah tahu kan kalau orangutan itu kesamaan DNA-nya dengan manusia sampai 97 persen? Nah kesamaan ini jadi bikin orangutan banyak memiliki sifat-sifat seperti kita, Sobat IAR. Termasuk penyakit yang diderita manusia, bisa juga diderita oleh orangutan. Nah, ini yang sering luput dari perhatian masyarakat umum, bahkan di kalangan peneliti sekalipun. Karena itulah, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) di sela-sela pekerjaan kami menyelamatkan dan merehabilitasi satwa, para dokter hewan kami juga menyempatkan diri melakukan penelitian yang diperlukan bagi komunitas ilmuwan untuk ke depannya bisa menggunakan hasil penelitian ini demi menyelamatkan satwa-satwa yang makin berkurang populasinya.
Di pengujung akhir tahun ini, kabar membanggakan datang dari tim animal management kami, yang baru saja merilis jurnal ilmiah mereka dengan judul “Plasmodium pitheci malaria in Bornean orang-utans at a rehabilitation centre in West Kalimantan, Indonesia.” Jurnal ini dipublikasikan di situs ilmiah Malaria Journal pada 3 Oktober 2022 dan bisa diakses di sini.
Penelitian dan penulisan jurnal ini dilakukan satu tim yang terdiri dari sebagian besar dokter hewan di Indonesia dan internasional. Mereka adalah Karmele Llano Sanchez, Alex D. Greenwood, Aileen Nielsen, R. Taufiq P. Nugraha, Wendi Prameswari, Andini Nurillah, Fitria Agustina, Indra Exploitasia, Gail Campbell-Smith, Anik Budhi Dharmayanthi, Rahadian Pratama, dan J. Kevin Baird.
Tim medis kami memeriksa kesehatan Kumbang, memastikannya bebas dari segala penyakit termasuk malaria (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Nah, mungkin Sobat YIARI bertanya-tanya, kenapa sih kami melakukan penelitian ini. Jadi tuh, kami sering mendapati kasus-kasus gejala mirip kalau manusia kena malaria, pada orangutan yang ada di rehabilitasi kami yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Terus, dokter hewan kami mencari-cari apakah sebelumnya sudah pernah ada penelitian di bidang ini, supaya bisa jadi acuan kami dalam menangani gejala-gejala seperti demam, lemes, nggak mau makan, dan sampai nggak responsif gitu Sob. Ternyata jarang banget tuh laporan soal ini. Lalu, kami pun tergerak untuk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi spesies Plasmodium yang menginfeksi orangutan di bawah perawatan kami, menentukan frekuensi dan karakter penyakit malaria di antara yang terinfeksi, dan menetapkan kriteria untuk diagnosis dan pengobatan yang berhasil.
Untuk meneliti ancaman malaria pada orangutan ini, tim kami mengambil sampel darah seluruh orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami dari tahun 2017 hingga 2021. Didapati 89 dari 131 orangutan yang diambil sampel darahnya, dinyatakan positif malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium pitheci. Selama periode tersebut, 14 kasus (mempengaruhi 13 orangutan) berkembang menjadi malaria klinis (0,027 serangan/orangutan-tahun). Tiga kasus lain ditemukan terjadi dari 2010-2016. Individu yang sakit memiliki gejala demam, anemia, trombositopenia, dan leukopenia.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci sangat sering menginfeksi orangutan pusat rehabilitasi kami. Pada sekitar 14% orangutan yang terinfeksi, penyakit malaria terjadi dan berkisar dari sedang hingga parah di alam. Infeksi atas malaria inilah yang mendorong kami untuk mengajak semua pihak menyadari bahwa malaria turut menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini.
Rahayu, salah satu orangutan kalimantan yang merupakan penyintas malaria yang sembuh di pusat rehabilitasi kami (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Dokter Karmele Llano Sanchez menyatakan bahwa sejauh penelitian ini dilakukan, tidak ada bukti bahwa parasit yang menjangkiti orangutan ini bisa berpindah ke manusia atau demikian juga sebaliknya, malaria yang dialami manusia akan menular ke orangutan. “Penelitian ini pada dasarnya sebuah awalan bagi para saintis untuk meneliti malaria lebih dalam lagi,” ujar Dokter Karmele.
Kondisi alam saat ini seperti perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan alam lainnya, sebenarnya menjadi salah satu pendorong banyaknya kasus-kasus kesehatan yang dialami satwa liar, di mana salah satunya epidemiologi penyakit seperti malaria. Bahkan perilaku nyamuk yang menularkan parasit malaria pun, adalah salah satu contoh bagaimana mereka merespon perubahan ini sehingga memberikan dampak bagi kesehatan satwa seperti orangutan. Di sinilah menurut Dokter Karmele, dokter hewan dan para saintis, memiliki tanggung jawab untuk mulai melakukan lebih banyak penelitian tentang patogen dan penyakit satwa liar yang akan mempengaruhi pekerjaan konservasi di masa depan.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Our Wonder Women di Kehidupan Satwa
Nggak cuma Amazon yang punya Princess Diana, kami pun di Yayasan IAR Indonesia punya banyak Princess Diana a.k.a Wonder Woman yang selama ini berperan penting dalam merawat dan melatih satwa-satwa yang tengah dititipkan di pusat rehabilitasi kami di Bogor dan Ketapang, supaya di kemudian hari bisa kembali pulang ke habitatnya. Nah, mumpung kita abis merayakan Hari Kartini di 21 April lalu, kami mau ngenalin nih para wonder woman kami yang keren-keren.
Yang pertama tentu saja jajaran dokter hewan perempuan kami. Buat temen-temen yang ngikutin banget perjalanan kami, tentunya kenal dong ya dengan pendiri Yayasan IAR Indonesia, yaitu dokter Karmele Llano Sanchez. Dokter hewan kesayangan kami ini sibuk banget gaes. Maklum, selain mikirin kesehatan para satwa, sebagai direktur program, Dokter Karmele mesti ngerjain banyak hal, dari mikirin program and kegiatan yang bermanfaat buat masyarakat dan tentu saja lingkungan, sampai menjalin kerja sama dengan mitra-mitra pemerintahan maupun swasta. Kemudian ada satu lagi nih dokter hewan senior kami, yaitu drh. Wendi Prameswari, Animal Management Manager yang bertugas di Bogor. Dok Wendi ini gabung ke kami dari tahun 2011, gaes. Nah, waktu perayaan Hari Kartini, kami ngadain IG Live tuh bersama dua dokter hewan senior kami ini, di situ keduanya cerita banyak hal tentang suka duka, tantangan, dan kebahagiaan dalam menjalankan profesinya dan tentu saja sebagai perempuan yang ternyata ngasih banyak advantage dalam tugas mereka merawat satwa liar. Oiya, cuplikan ceritanya bisa dilihat di sini.
Selain kedua dokter senior ini, kami masih punya banyak wonder woman yang tugasnya berdekatan dengan satwa liar. Di Bogor, ada drh. Indri Saptorini dan di Ketapang ada drh. Siti Hajariah, drh. Inggil R Dewanti, drh. Fina Fadiah, dan drh. Andini. Nggak cuma dokter hewan yang tugasnya penting dalam merawat satwa liar. Ada juga babysitter dan paramedis yang kerjanya berat juga gaes. Di Ketapang, kami ada Ibu Siska Mislia, 45 tahun dan sudah bergabung dengan kami dari tahun 2014 sebagai perawat orangutan. Kemudian ada Kak Fitria Agustina, 28 tahun, yang bertugas sebagai paramedis. Kalau di Bogor, ada juga Teteh Julitasari yang menjadi perawat kukang terlama. Dia gabung dengan kami dari tahun 2018 dan sekarang sudah jadi koordinator pengelola satwa terutama khusus untuk kukang dan monyet.
drh. Indri sedang mengambil sampel darah dari monyet ekor panjang kandidat pelepasliaran (Reza Septian | IAR Indonesia)
Tugas-tugas para wonder woman ini nggak bisa dipandang enteng gaes. Nih ya, kami coba ceritain singkat-singkat aja, karena sebenarnya kalau mau diceritain semua, bakalan jadi novel. Pertama tugas perawat satwa nih atau sering disebut animal keeper atau babysitter untuk orangutan yang masih bayik-bayik. Teh Julitasari cerita nih, tugas dia waktu jadi keeper dan satu-satunya keeper perempuan nih, dari bersihin kandang sampai ngasih makan kukang dan monyet. Tugas ini hampir sama dengan Bu Siska. Dari ngasih makan dan minum orangutan, dia juga harus memantau aktivitas mereka dari pagi sampai sore. “Jadi babysitter tidak mudah. Saya harus membuat mereka punya sifat alami seperti di alam bebas. Namun terkadang ada orangutan yang selalu ingin dekat dan sulit untuk jauh dari saya. Sering kali saya harus menghindar dan terpaksa mengusir orangutan ini supaya menjauhi saya dan mau naik ke atas pohon,” cerita Bu Siska nih gaes.
Lain lagi dengan cerita paramedis. Kak Fitri cerita nih kalau dia tuh ngeri-ngeri sedap saat harus menangani orangutan yang agresif. “Mesti pintar-pintar menghindar sambil tetap melakukan tugas sebagai tim medis. Solusinya ketika harus mengambil darah, menimbang, atau memeriksa kesehatan orangutan yang agresif, biasanya didampingi rekan kerja lainnya,” ujar Kak Fitri. Tapi meski serem-serem gimana, Kak Fitri enjoy aja dengan pekerjaannya. Dia merasa banyak hal-hal baru yang didapatinya setelah bekerja, yang jauh beda dengan kuliahnya dulu.
Kak Fitri juga sedang membantu mengambil sampel darah dari orangutan (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Kalau drh. Andini, menarik nih pendapatnya soal tantangan kerjaannya gaes. Dokter usia 27 tahun ini justru menilai tantangannya itu ada di manusianya nih. “Memang bekerja dengan satwa liar yang dilindungi tidak bisa dibilang mudah, banyak kendala dalam menghadapai satwa liar, tetapi menurut saya tantangan terberat justru mengedukasi masyarakat bahwa satwa liar adalah hewan liar yang hakikatnya harus berada di alam dan merdeka di hutannya,” katanya. Bener banget nggak sih.
Soal medan pekerjaan yang harus nuntut dokter-dokter hewan perempuan ini masuk keluar hutan, ini memang jadi tantangan berat buat mereka. “Sering kali medan yang harus dilalui di lapangan cukup sulit, misalnya harus berjalan atau bahkan berlarian di tengah rawa gambut yang cukup dalam. Untuk berjalan saja sudah susah. Di sini perlunya kami memaksa diri untuk punya tenaga dan daya tahan yang ekstra,” kata drh. Fina Fadiah. Kebayang tuh, kalau nggak wonder woman, pasti udah pada nyerah tuh.
Orangutan juga perlu diperiksa kesehatannya, oleh karena itu drh. Fina membantu mengeceknya (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Dengan berbagai situasi dan kondisi menantang itulah, kami sendiri salut banget sama para wonder woman yang bertahan hingga sekarang seperti misalnya Teh Julita yang seorang ibu tunggal, dulunya bekerja sebagai penjaga mainan anak-anak di minimarket, kemudian sekarang ahlinya dalam mendata perilaku satwa. Perjalanan para perempuan hebat ini tentunya sangat menginspirasi apalagi saat mendengar para Kartini ini cerita bahwa kebahagiaan dan kebanggaan mereka saat merawat satwa liar itu ketika satwa-satwa ini bisa kembali ke alam liar.
Ria Utari/Heribertus Suciadi
Welcome to the Planetary Health
Wuih ada temuan planet baru nih?
Bukan pake banget. Planetary health ini bukan nama planet, tapi suatu istilah yang sebenarnya refer to kesehatan publik atau masyarakat, gaes.
Oh gitu? Explain please…
Jadi kalau kamu baca-baca atau googling tentang planetary health, ini sebenarnya suatu konsep yang meyakini – dan emang beneran gaes – bahwa kesehatan manusia dan kesehatan keseluruhan isi planet tempat manusia hidup itu, berkaitan dan terhubung banget. Jadi nih kalau lingkungan kita hidup itu ga sehat, itu juga ngaruh ke kesehatan manusia. Nah soal lingkungan yang sehat ini termasuk juga dengan hewan peliharaan kita.
Setuju banget ini. Terus kenapa tiba-tiba ngomongin planetary apa tadi?
Planetary health! Gini, kami mau cerita soal program kami yang berkaitan dengan upaya merealisasikan konsep planetary health ini. Yaitu dengan vaksin.
Wah vaksin untuk covid?
Nggak, ini vaksin untuk hewan peliharaan. Jadi kami baru aja ngasih vaksin ke anjing-anjing peliharaan warga di desa-desa penyangga Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Ada dua desa yang termasuk dalam desa penyangga Taman Nasional ini yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Dokter hewan kami sedang memberikan vaksin bagi anjing milik masyarakat (Tim Medis| IAR Indonesia)
Ooh gitu, kenapa bikin program vaksin untuk anjing-anjing ini?
Jadi gini, hampir seluruh penduduk di dua desa penyangga tadi adalah suku Dayak dan mayoritas punya anjing sebagai hewan peliharaan yang dimanfaatkan untuk menunggu rumah, ladang, atau teman berburu di hutan. Sayangnya, di sana masih banyak anjing yang menderita penyakit kulit dan cacingan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang artinya dapat menular dari manusia ke hewan dan sebaliknya. Nah anjing-anjing yang terkena penyakit ini berkeliaran bebas di sekitar rumah dan kontak langsung dengan manusia. Jadi potensi penularan penyakit antara manusia dan hewan cukup tinggi. Nah terus, kebetulan di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Melawi itu zona merah virus rabies yang sebagian besar penyebab penularannya ke manusia melalui gigitan anjing.
Eh jadi rabies ini bisa menular gitu?
Iya. Rabies tuh merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh virus. Rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi virus rabies yang masuk ke tubuh manusia melalui paparan mukosa yang terbuka, yang paling umum adalah luka yang disebabkan gigitan hewan yang terinfeksi virus tersebut. Virus ini menyerang sistem saraf dan gejala umumnya meliputi demam, sakit kepala, kelebihan air liur, kejang otot, kelumpuhan, dan kebingungan mental.
Ya ampun ngeri banget
Iya banget. Bahkan penyakit rabies ini dapat menyebabkan kematian pada manusia maupun hewan yang terpapar virus ini kalau gak cepetan dapet pengananan khusus berupa penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun dengan Serum Anti Rabies (SAR). Berita baiknya, penyakit rabies bisa dicegah kok. Caranya dengan cara memberikan vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan yang berisiko terpapar. Karena itulah, selain ngasi obat cacing dan obat scabies, kita juga ngadain vaksinasi untuk anjing peliharaan yang ada di Desa Penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Anjing-anjing yang telah disuntik diharapkan akan bebas dari penyakit rabies (Tim Medis| IAR Indonesia)
Ih bagus banget misinya, jadi penasaran kayak gimana kegiatannya
Jadi nih, kita adakan dulu sosialisasi zoonosis untuk warga desa. Kegiatan ini dilakukan di seluruh dusun yang ada di desa penyangga TNBBBR dari Juni sampai Oktober 2021. Kegiatan ini dilakukan secara door to door dengan sasaran masyarakat yang memiliki hewan peliharaan terutama anjing dan sosialisasi ke masyarakat yang masih melakukan aktivitas berburu dan mengkonsumsi hewan buruan yang rentan menularkan penyakit zoonosis. Sosialisasi yang diberikan bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat seputar pengertian zoonosis, bahaya zoonosis, ancaman zoonosis dari hewan liar hasil buruan, pencegahan zoonosis, dan mematahkan mitos yang beredar di masyarakat seputar vaksinasi rabies pada anjing.
Lho ada mitos segala?
Iya, ternyata ada lho. Jadi, ada mitos yang berdar di kalangan warga desa kalau anjing udah divaksin, dia jadi pemalas, termasuk malas ke ladang ikut majikannya. Mereka juga ada yang percaya kalau anjing tidak akan mau menggonggong lagi kalau sudah divaksin. Dan memang masih ada masyarakat yang gak mau anjingnya divaksi gara-gara itu. Untunglah abis kami sosialisasi dan kasih penjelasan, mereka ngebolehin anjingnya divaksin.
Syukur deh kalau udah tercerahkan. Abis sosialisasi ngapain lagi?
Selesai sosialisasi, terus kita melakukan juga pendataan populasi anjing dan pemberian obat cacing untuk anjing. Pendataan ini bertujuan untuk menghitung populasi anjing di desa penyangga sebagai acuan untuk melakukan vaksinasi rabies bareng Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Setelah didata, tim medis kita ngasiin obat cacing dan treatment penyakit kulit. Dari Juni sampai September 2021 lalu, ada 211 ekor anjing yang udah diberi obat cacing dan scabies.
Warga seneng dong anjingnya dapat obat cacing sama obat penyakit kulit?
Senang dong. Selain dapat obat dan perawatan gratis, mereka juga mulai mengerti dengan bahaya zoonosis dan mulai paham dengan tujuan pemberian vaksin. Bahkan mereka tercerahkan atas mitos keliru yang beredar bahwa anjing yang divaksin akan menjadi malas ke ladang.
Mantep deh. Udah berapa anjing yang divaksin?
Tanggal 9-12 November ada 124 ekor anjing yang divaksin. Rencananya kami masih akan lanjutin lagi programnya.
Satu dari ratusan anjing peliharaan masyarakat yang telah kita beri vaksin (Tim Medis| IAR Indonesia)
Banyak juga ya? Ada pihak lain yang membantu?
Ada dong, vaksinasi dilakukan oleh dokter hewan kami dibantu dua orang vaksinator dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Vaksinnya disuntikan melalui injeksi di bawah permukaan kulit. Proses handling anjing dilakukan oleh pemilik untuk menjaga keamanan vaksinator. Selain menyuntikkan vaksin ke anjing, tim juga melakukan sosialisasi tentang efek samping yang dapat muncul pada anjing pasca vaksinasi dan meminta pemilik untuk selalu memperhatikan anjingnya dan menghubungi tim jika timbul efek samping pada anjing.
Terus taunya anjing udah vaksin atau belum gimana? Pake aplikasi semacam Peduli Lindungi?
Ya enggak lah. Anjing yang sudah divaksinasi diberikan kalung merah aja sebagai penanda.
Oooh. Hehe. Kirain.. Respon warga terhadap vaksinasi rabies oke ngga?
Oke banget dong. Ternyata mereka mulai sadar akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit rabies melalui sosialisasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Masyarakat juga senang dan menyambut kegiatan kesehatan hewan ini dengan antusias karena anjing mereka lebih sehat dan bebas dari penyakit kulit setelah dilakukannya pemberian obat cacing dan anti scabies sebelumnya. Mayoritas masyarakat yang awalnya meragukan vaksinasi rabies juga sudah mempersilahkan tim untuk melakukan vaksinasi terhadap anjingnya.
Ada kendala nggak selama kegiatan ini?
Ada, tapi enggak banyak sih, dan bisa diatasi kok. Kemarin kendanya sih lebih ke faktor alam kayak hujan deras yang bikin sungai banjir, jadi tim vaksinasi hasur menunggu dulu beberapa jam supaya air sungai surut. Ini karena kami harus lewat sungai untuk pergi ke dusun-dusun itu dan kalau debit airnya tinggi, bisa membahayakan tim. Selain itu, banyak juga masyarakat yang masih membawa anjingnya ke ladang di tanggal yang sebelumnya sudah diinformasikan, sehingga beberapa anjing belum tervaksinasi.
Wah terus buat yang belum divaksin ini gimana?
Rencananya vaksinasi susulan akan dilakukan kepada anjing yang belum tervaksinasi dan kami mau bikin program kesehatan hewan peliharaan secara rutin di seluruh dusun di Desa Penyangga TNBBBR.