Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.
Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭
Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan.
Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.
Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob!
1. Genus Nycticebus (Kukang)
Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)
Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang! Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.
Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢
Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat!
Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.
Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas.
Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.
Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Genus Tarsius (Tarsius)
Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal).
Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil.
Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.
Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭
Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya.
Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman.
3. Genus Macaca (Makaka)
Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎
Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved | iNaturalist)
Macaca nigra (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)
Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.
Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi.
Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya.
Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit.
4. Genus Presbytis (Surili)
Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.
Presbytis percura (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas (Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger (Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)
Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani,Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis.
Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍
Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda.
P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat.
Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).
Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.
Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.
Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.
5. Genus Simias (Simakobu)
Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣
Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas.
Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut.
Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.
6. Genus Pongo (Orangutan)
Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭
Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!
(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Spesies
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orangutan sumatera(Pongo abelii)
Orangutan tapanuli(Pongo tapanuliensis)
Habitat
Hutan Kalimantan
Hutan Sumatra
Hutan Sumatra
Ciri Warna
Warna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.
Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga.
Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantan
Bantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.
Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan.
Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.
Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi.
Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍
Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!
Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8.
Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari
Potensi Transmisi Zoonosis pada Makaka, Berbahaya tapi Bisa Dicegah!
Selamat Hari Makaka Internasional, Sobat #KonservasYIARI! Tanggal 16 Maret diperingati Hari Makaka Internasional. Hari makaka diperingati pertama kalinya pada tanggal 16 Maret tahun 2016, yang dilatarbelakangi oleh kecintaan serta upaya untuk melakukan pelestarian terhadap makaka di seluruh dunia.
Makaka adalah genus primata yang banyak ditemukan di dunia. Populasinya dapat ditemukan mulai dari Maroko, Aljazair, Afghanistan, Cina, Jepang, dan Asia Tenggara (Napier dan Napier 1985), banyak juga ya Sob! Di Indonesia Genus Makaka juga memiliki tingkat persebaran yang luas, terutama di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga kepulauan di Nusa Tenggara. Jenis makaka yang dapat ditemukan di Indonesia di antaranya ialah Macaca nemestrina, M. siberu, M. pagensis, M. nigra, M. nigrescens, M. tonkeana, M. ochreata, M. hecki, M. maura, M. fascicularis (Ruskhanidar et al. 2017).
Aktivitas terlarang masyarakat terhadap Macaca Fascicularis (Monyet Ekor Panjang) di Suaka Margasatwa Angke Kapuk (YIARI)
makaka merupakan salah satu genus yang memiliki tingkat adaptasi cukup baik. Jadi, jangan heran ya Sob, kalau kalian lagi berkunjung ke lokasi yang dekat dengan tempat tinggal makaka ada kemungkinan kalian bakal disamperin hihihi. Seperti foto di atas, merupakan kejadian yang berlokasi di kawasan Suaka Margasatwa Angke Kapuk, Jakarta. Hal tersebut terjadi karena habitat makaka yang berdampingan secara langsung dengan aktivitas manusia yang menyebabkan makaka terbiasa bertemu manusia.
Tapi, jangan sampai kamu melakukan interaksi langsung dengan mereka ya! Karena makaka berpotensi membawa virus, bakteri, dan parasit yang bisa menularkan penyakit ke manusia. Penularan penyakit tersebut biasa disebut zoonosis, yang berarti penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Tau ga kenapa makaka bisa menimbulkan ancaman penyakit bagi manusia? Karena, makaka termasuk ke dalam ordo Primata yang memiliki kemiripan genetik, fisiologis dan perilaku dengan manusia (Schillaci et al. 2005). Satwa primata merupakan agen atau sumber penyakit zoonosis yang signifikan bagi manusia, karena dapat menularkan 25% penyakit menular yang muncul (emerging infectious disease) (Pedersen dan Davies 2009).
Lalu, bagaimana cara penularannya? Terdapat berbagai cara Infeksi bakteri dari makaka ke manusia nih Sob, baik secara langsung atau tidak langsung. Terinfeksi secara langsung jika kamu terkena gigitan atau cakaran dari makaka. Sedangkan infeksi secara tidak langsung di antaranya melalui air yang terkontaminasi, juga makanan yang terkontaminasi kista Entamoeba spp. Selain itu potensial utama infeksi yaitu dari fecal-oral dan kontak langsung antara manusia danNon Human Primates¹(Lastuti 2021). Untuk lebih jelasnya, bisa menyimak poster di bawah ini ya!
Cara Penularan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Lastuti (2021), pada Macaca fascicularis (monyet ekor panjang) di Taman Nasional Baluran menunjukkan hasil positif Entamoeba coli. Bakteri tersebut merupakan agen penyakit yang menginfeksi saluran pencernaan. Selain E.coli masih banyak agen penyakit yang dibawa makaka antara lain Plasmodium knowlesi yaitu parasit pada makaka di kawasan Asia Tenggara (Macaca nemestrina dan M. fascicularis), yang dapat menyebabkan malaria loh Sob. (Jongwutiwes et al. 2011; Millar dan Cox-Singh 2015).
Ohiya, Kalian harus tahu bahwa salah satu zoonosis yang paling signifikan ialah tuberkulosis. Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (Une dan Mori 2007).
Lalu, bagaimana caranya supaya kita tidak tertular zoonosis? Sobat #KonservasYIARI bisa melakukan pencegahan dini dengan cara-cara sebagai berikut ya!
Cara Pencegahan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI)
Potensi transmisi zoonosis harus diwaspadai karena dapat menyebabkan wabah pandemi. Hal ini bisa dipengaruhi peningkatan distribusi populasi manusia dan aktivitas manusia pada habitat satwa primata yang dapat memicu interaksi manusia dan satwa secara negatif.
Jadi tetap hati-hati dan waspada ya Sob! Jangan sampai tertular dan menularkan penyakit terhadap primata.
3 Perbedaan Penangkaran dan Pusat Rehabilitasi Satwa Liar
Halo Sobat #KonservasYIARI. Seberapa sering kah mendengar kalimat yang berhubungan tentang kelestarian satwa? Jika sering, pasti kalian juga mengetahui kata penangkaran dan rehabilitasi ketika membahas perlindungan satwa. Nah, sudah tau belum apa perbedaan antara kedua kata tersebut?
Rehabilitasi ialah proses merawat dan melatih satwa yang ditangkap agar dapat kembali hidup di alam bebas. Dapat dianggap sebagai periode karantina sebelum satwa dilepasliarkan kembali. Satwa rehabilitasi biasanya memerlukan perawatan khusus, terutama dalam hal kesehatan.
Penangkaran, di sisi lain, adalah usaha untuk memperbanyak satwa dengan mempertahankan kemurnian jenisnya. Dalam penangkaran, tujuan utamanya adalah meningkatkan populasi sambil menjaga keberlanjutan dan kemurnian genetik jenis satwa yang dilindungi.
Sudah paham kan perbedaan antara rehabilitasi dengan penangkaran, Sob?
Agar lebih jelas lagi yuk kita lihat 3 perbedaan antara pusat rehabilitasi dengan penangkaran!
1. Pusat Rehabilitasi Bukan Tempat Perkembangbiakan
Perawat satwa memberikan pakan kukang yang menjalani perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/10/2020). Saat ini tidak kurang dari 100 individu kukang masih menjalani perawatan dan pemulihan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya (Reza Septian | YIARI)
Proses rehabilitasi adalah proses pemulihan dan penanganan satwa yang membutuhkan penanganan khusus. Jadi dalam proses ini satwa hanya diberi penanganan tidak dikembangbiakkan.
Sementara itu, penangkaran merupakan tempat satwa dikembangbiakkan. Akan tetapi dalam perkembangbiakan di penangkaran tetap memperhatikan kemurnian atau keaslian satwa tersebut.
2. Satwa di Pusat Rehabilitasi Tidak Dikomersilkan
Pada penangkaran burung parkit, satwa diperjualbelikan. Hal inilah yang tidak terjadi di pusat rehabilitasi satwa (Flora dan Fauna | 2022)
Perawatan dan penanganan satwa yang direhabilitasi membutuhkan tempat yang steril. Hanya ada petugas terkait saja yang dapat masuk. Jadi tempat rehabilitasi tidak bisa dikunjungi oleh sembarangan orang dan satwa rehabilitasi tidak untuk dikomersilkan.
Berbeda dengan rehabilitasi dimana tidak sembarangan orang bisa melihat prosesnya. Penangkaran dapat dilihat oleh banyak orang sehingga dapat dikomersilkan seperti menjadi tempat wisata.
3. Satwa di Pusat Rehabilitasi Sejatinya Adalah untuk Dilepasliarkan
Pelepasliaran Belukar, salah satu orangutan di pusat rehabilitasi kami pada April 2023 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Satwa rehabilitasi adalah satwa yang membutuhkan penanganan khusus. Sesuai dengan tujuannya rehabilitasi, satwa yang telah melalui proses rehabilitasi akan dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.
Di sisi lain, sesuai dengan tujuan dari proses penangkaran yaitu perkembangbiakan, satwa yang ada dalam penangkaran tidak akan dilepasliarkan kembali.
Nah, sekarang sudah tau dong perbedaan antara rehabilitasi dengan penangkaran?
Kalau persamaannya, keduanya sama-sama mendukung kelestarian satwa ya Sob! Yuk Sobat #KonservasYIARI kita lestarikan satwa dengan mendukung proses rehabilitasi dan penangkaran. Salam lestari!
Referensi:
Anisa N. 2016. Pengelolaan penangkaran rusa sebagai objek wisata di Desa Api-api Kecamatan Waru Kabupaten Penajam Paser Utara (Studi pada UPTD Pembibitan dan Inseminasi Buatan (PIB) Provinsi Kalimantan Timur). Jurnal Ilmu Pemerintah. 4(4) : 1401-1414.
Monpai alias monyet ekor panjang dengan nama latin Macaca fascicularis merupakan jenis satwa liar yang banyak ditemukan hidup berdampingan dengan manusia. Sering sekali konflik antara monpai dan manusia tidak dapat dihindari.
Konflik tersebut dipicu oleh pembiasaan manusia memberi pakan kepada monpai seperti di tempat wisata. Sayangnya, pakan yang diberikan manusia tak jarang bukan pakan alami monpai.
Monpai di atas tempat sampah (Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)
Menurut Putra et al. (2017), monpai memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dengan pakan yang ada di sekitarnya seperti pakan antropogenik (dari manusia atau sampah). Pemberian makanan yang bersifat non-alami serta interaksi manusia dan monpai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis.
Lantasapasajapakanalamimonpaiya?
1. Buah-Buahan
Monpai memakan buah-buahan serta biji-bijian yang mengandung lipida. Buah-buahan diperoleh dari tumbuhan jenis dahu, hampelas, keranji, melinjo, dan Nangka. Buah merupakan bagian dari tumbuhan atau pakan alami yang paling disukai oleh monpai.
Selain buah-buahan, pakan alami monpai adalah daun muda. Daun muda didapatkan monpai dari beberapa jenis pohon seperti bambu, bayur, hampelas, melinjo, dan matoa. Monpai memakan daun muda yang banyak mengandung selulosa.
Rumpun Bambu (Wagino 20100516 / CC BY-SA 3.0)
3. Bunga
Monpai juga memakan bunga walaupun dalam jumlah yang sedikit. Bunga dan kuncup bunga diperoleh monpai dari tumbuhan waru dan waluhan.
Selain sebagai sumber pakan alami, tumbuhan tersebut juga digunakan oleh monpai untuk melakukan aktivitas lainnya seperti bermain, istirahat, dan grooming.
Apakah monpai satwa omnivora?
Monpai bermain di atas pagar ( Monpai di atas tempat sampah (Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)
Ohiya Sobat! ternyata monpai merupakan salah satu satwa pemakan buah (frugivorous) dan tak jarang disebut juga sebagai hewan yang omnivora. Sebagai golongan omnivora yang memakan daging dan tumbuhan, makanannya bervariasi dari buah-buahan, daun, bunga, jamur, serangga, siput, rumput muda, dan lain sebagainya.
Bahkan monpai juga memakan kepiting. Tetapi, 96% konsumsi makanan mereka adalah buah-buahan. Kalau Sobat #KonservasYIARI suka makan buah juga tidak?
Stop beri makan monpai!
Sobat! sekarang ini banyak sekali tempat wisata alam yang sekaligus habitat alami dari monpai. Tak jarang masih ditemukan pengunjung yang memberi makan serta berinteraksi secara langsung dengan monpai. Kira-kira dampak apa ya yang bisa ditimbulkan dari interaksi tersebut?
Dampak dari memberi makan kepada satwa liar terutama monpai akan menyebabkan kebiasaan mereka mencari makan berubah. Bukan lagi mencari makan namun menunggu manusia memberikan makan. Selain itu, tak jarang manusia memberikan makan kepada monpai dengan makanan yang bukan makanan alami monpai!
Pemberian makan oleh manusia kepada monpai juga dapat menyebabkan adanya interaksi secara langsung, hal ini dapat meningkatkan penularan penyakit zoonosis. Monpai dapat menularkan penyakit kepada manusia, begitupun sebaliknya.
Sangat merugikan bukan? oleh sebab itu yuk kita stop memberi makan monpai di alam! Biarkan mereka hidup dengan bebas dan mengekspresikan perilaku alami. Selain itu, yuk kita turut serta menjaga hutan yang merupakan penyedia pakan alami monpai.
Elif Ivana Hendastari
Referensi :
Quinda B, Kanedi M, Nurcahyani N, Panjaitan RHP. 2013. Studi tumbuhan sumber pakan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) di kawasan youth camp taman hutan raya wan abdul ranchman lampung. Jurnal Ilmiah : Biologi Eksperimen dan Keanekaramagan Hayati. 1(1):44-47.
Ismanto A, Nugroho, Piliang. 2016. Tiga macam ransum monyet ekor panjang macaca fascicularis dan pengaruhnya terhadap performa. Jurnal Primatologi Indonesia. 13(1):20-24.
ARA Putra, RPA Lelana, HS Darusman. 2017. Kajian one health: perilaku makan dan preferensi pakan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) di hamparan sampah pasar ciampea bogor sebagai potensi penyebaran zoonosis. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(2):8-14.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Ikuti Kuy Serunya Survei Populasi Monyet Ekor Panjang di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan
Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang, tempat yang baru belum pernah terjamah🎵. Mungkin lagu dari kartun Ninja Hatori itulah yang cocok dinyanyikan untuk menggambarkan petualangan Tim Makaka yang habis berkelana kemarin! Kemana dan ngapain ya mereka? Mencari kitab sakti seperti Sun Go Kong kah? Yuk ikuti ceritanya!
Pada periode Mei – Juli 2023, Tim Makaka kami yang terdiri dari Kang Itang, Kang Amun Nawawi, Kang Dadang, Kang Yudi, Kang Ruli, Kang Hermawan, secara bertahap dan bergantian berkelana ke empat pulau di tiga provinsi. Pulau tersebut di antaranya ialah Pulau Karimunjawa di Jawa Tengah, Pulau Maratua di Kalimantan Timur, Pulau Lasia dan Pulau Simeulue di Aceh. Ketika di Pulau Karimunjawa, Tim Makaka tersebut juga dibantu Kang Riki, Kang Uci dari divisi resiliensi habitat. Nah, mereka kesana bukan untuk mencari kitab sakti seperti Sun Go Kong ya Sob hehe, melainkan mencari pembuktian keberadaan dan estimasi populasi makaka atau monyet ekor panjang (MEP) atau Macaca fascicularis dengan metode survei cepat.
Pengamatan makaka di Pulau Maratua (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)
Sobat #KonservasYIARI tahu gak kalau status konservasi global MEP baru-baru ini diperbarui menjadi terancam punah pada red list atau daftar merah IUCN. Spesies ini juga terdaftar dalam Apendiks II di CITES, yang artinya spesies ini mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.
Namun, hanya ada sedikit bukti ilmiah tentang ukuran populasi aktual dan distribusi monyet ekor panjang di seluruh Asia Tenggara, Sob. Dari beberapa studi sih, banyak yang menunjukkan perbedaan antara persepsi kelimpahan dan kepadatan MEP sebenarnya, beberapa juga menunjukkan penurunan. Di Indonesia ada empat subspesies MEP yang memerlukan penelitian lebih lanjut, diantaranya M.f. fuscus (Pulau Simeulue), M.f. karimondjawae (Kepulauan Karimunjawa), M.f. lasiae (Pulau Lasia), dan M.f. tua (Pulau Maratua). Oleh karena itu, Tim Makaka pun turun ke lapang untuk memberikan tambahan data subspesies monyet ekor panjang yang hidup di pulau-pulau terluar di Indonesia tersebut.
Perjalanan menuju lokasi pengamatan di Pulau Karimunjawa (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)
Pengamatan dilakukan dengan metode langsung terkonsentrasi (concentration count), yaitu pengamatan pada titik yang diduga sebagai tempat dengan peluang perjumpaan satwa yang tinggi. Pertama, Tim Makaka menentukan lokasi survei cepat melalui studi literatur, riwayat perjumpaan sebelumnya, laporan dan wawancara dengan petugas setempat, juga wawancara dengan organisasi, komunitas lokal, dan masyarakat sekitar. Lalu mulai deh Tim Makaka melakukan pengamatan berdasarkan informasi tersebut.Pengamatan pun dilakukan pada tempat berkumpulnya satwa seperti tempat minum, makan, pohon tidur, maupun tempat yang sering dilintasi oleh satwa.
Di lapangan, Tim Makaka pun mengidentifikasi morfologi, juga menghitung jumlah dan komposisi MEP, serta mendokumentasikan MEP. Gak hanya data MEP yang mereka kumpulkan, informasi mengenai gambaran interaksi masyarakat dengan MEP juga dikumpulkan melalui wawancara langsung pada warga lokal.
Proses wawancara dan Edukasi terkait MEP (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)
Ketika pindah berkala pulau ke pulau, Tim Makaka harus berhadapan tantangan dan kejadian menarik nih Sob. Tantangan yang dialami antara lain akses yang jauh, cuaca, juga adaptasi dengan berbagai macam kondisi masyarakat lokal secara sosial. Lebih seru lagi, ada beberapa cerita menarik ketika Tim Makaka berada di Pulau Lasia. Mungkin kenalan sedikit dulu ya dengan Pulau Lasia, pulau tidak berpenghuni yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera, dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Kondisi lingkungan Pulau Lasia (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)
Beberapa bagian pada pulau ini sebetulnya ada yang dimanfaatkan masyarakat untuk berkebun, namun sudah sekitar satu tahun ditinggal oleh para petani sehingga rumput dan ilalang di Pulau tersebut tinggi, hutannya pun sangat lebat. Pulau ini tuh memiliki seorang yang disebut dengan “Panglima Laut”, yaitu sosok yang tahu kondisi cuaca laut hanya dengan menatap laut dan kondisi sekitar dari kejauhan, keren banget bukan?
Di Pulau Lasia, tantangan awal yang dialami Tim Makaka adalah sulitnya mereka masuk ke bagian dalam pulau karena vegetasi yang begitu lebat sehingga pengamatan dilakukan dengan mengelilingi kawasan hutan yang ada di pinggir pulau. Tantangan selanjutnya datang ketika mereka selesai melakukan pengamatan. Tim yang awalnya berangkat dari camp ke lokasi pengamatan dengan berjalan kaki, tidak bisa kembali dengan jalan kaki. Mereka pun harus dijemput kapal yang dinahkodai oleh bukan sembarang orang melainkan oleh sang Panglima Laut!
Hal ini terjadi karena kegiatan pengamatan selesai terlalu larut, yaitu pada pukul 20.00 dengan kondisi pulau yang benar-benar gelap, dengan air yang mulai pasang, juga banyak karang sekitar pulau yang terjal sehingga sangat tidak memungkinkan kembali dengan berjalan kaki. Tapi proses mereka naik ke kapal tersebut juga tak semudah itu Sob! Mereka harus berenang dulu untuk bisa naik ke kapal tersebut, jadi dibantu dengan pelampung yang dilemparkan dari kapal.
Tim Makaka ini pun sempat mengalami kehabisan air ketika berada di Pulau Lasia😭. Untung saja di pulau tersebut banyak pohon kelapa, jadi tinggal panjat pohon kelapa tersebut aja deh supaya bisa minum, lumayan dapat bonus daging kelapa juga hehe. Memang ya setelah kesulitan pasti ada kemudahan! Ketika kembali dari Pulau Lasia menuju Pulau Simeulue, tim juga mendapat tantangan lain yaitu harus melewati angin kencang dan ombak laut yang tidak tenang, bahkan badan seluruh Tim Makaka pun sampai basah kuyup.
Setelah melalui perjalanan panjang dengan berbagai cuaca dan kondisi lapang, tentunya Tim Makaka gak pulang dengan tangan kosong dong Sob, mereka juga membawa hasilnya survei cepatnya! Secara umum, hasilnya menunjukkan bahwa terdapat keberadaan MEP di masing-masing pulau. Ada banyak tantangannya untuk kelestarian MEP, juga satwa lain di pulau ini yang mungkin butuh penelitian lebih lanjut. Interaksi antara MEP dengan manusia di pulau-pulau tersebut juga cukup tinggi, dengan tantangan berbeda pada masing-masing pulau, seperti pariwisata, juga perkebunan. Kesamaan 3 pulau tersebut, kecuali Pulau Lasia yang tidak berpenghuni adalah MEP lebih banyak ditemui di pinggir hutan atau di wilayah yang dekat dengan masyarakat.
Potret MEP di Pulau Simeulue yang disebut masyarakat sebagai lutung (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)
Oiya ada info menarik juga nih tentang panggilan masyarakat kepada MEP. Masyarakat Pulau Maratua menyebut MEP sebagai “kuya”, kemudian masyarakat Pulau Simeulue menyebut MEP sebagai “lutung”. Mungkin mereka mengira MEP tersebut adalah lutung karena warnanya yang cenderung lebih gelap, padahal ada beberapa masyarakat yang tahu bentuk lutung yang sebenarnya.
Seperti pada Pulau Karimunjawa, Maratua, dan Simeulue, kehidupan manusia dan satwa liar seperti MEP secara berdampingan tidak bisa terelakkan. Yang bisa kita lakukan diantaranya adalah menghindari kontak fisik dengan satwa, tidak memberi makan satwa tersebut, juga dengan menjaga lingkungan! Menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan membuang sampah pada tempatnya, bahkan lebih baik lagi jika mengolah sampah organik dengan benar agar satwa liar tidak memakan dari kumpulan limbah organik tersebut!
Kegiatan ini tentunya bisa berlangsung berkat dukungan berbagai pihak terkait. Oleh karena itu kami dari YIARI ingin mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG), Taman Nasional Karimunjawa, BKSDA Kalimantan Timur, BKSDA Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, BKPH Simeulue, Ecosystem Impact, dan seluruh pihak yang sudah mendukung kegiatan survei ini.
Semoga aktivitas ini dapat meningkatkan pemahaman dan informasi terkait keberadaan subspesies monyet ekor panjang dan dapat berkontribusi untuk ilmu pengetahuan di masa yang akan datang! 😊
Fathia Rosatika
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Dipelihara di Luar Habitat, Ternyata Makaka Bisa Berperilaku Abnormal
Primata makaka seperti monyet ekor panjang dan beruk punya perilaku alaminya tersendiri di alam. Di alam, primata makaka bisa mengekspresikan nalurinya melalui tingkah laku normal. Tingkah ini meliputi tingkah agonistik atau perilaku menyerang, tingkah sosial afiliatif (grooming), perilaku seksual, bermain, makan, dan istirahat.
Perilaku saling grooming monyet ekor panjang di dalam kandang (Yayasan IAR Indonesia)
Sobat #KonservasYIARI pasti jadi penasaran selain tingkah laku normal, apa ada tingkah laku makaka lainnya?
Ya, ada! Tingkah laku lainnya itu disebut dengan tingkah laku abnormal. Biasanya perilaku ini bakal muncul saat makaka ada di penangkaran dan laboratorium. Perilaku abnormal ini juga muncul saat makaka berada di tempat pemeliharaan pribadi, pameran, dan juga atraksi.
Munculnya perilaku abnormal ini dikarenakan: satwa ditempatkan di kandang dalam waktu yang lama, dikandangkan sendiri, tidak ada kontak visual atau auditori dengan satwa lain, kandang terlalu sempit, dan tidak ada atau tidak memadainyapengayaan lingkungan. Munculnya tingkah laku abnormal ini bisa dijadikan sebagai tanda atau indikator bahwa satwa yang berada di lingkungan tersebut menderita secara psikologis.
Perilaku diam monyet ekor panjang di kandang (Yayasan IAR Indonesia)
Lalu apa saja tanda perilaku yang menunjukkan tingkah laku abnormal pada makaka?
Tingkah laku abnormal ini bisa ditandai dengan adanya tingkah stereotypies yang punya arti tingkah laku berulang tanpa adanya tujuan atau faedah untuk makaka. Nah contoh dari tingkah laku stereotypies ini antara lain, tingkah laku berjalan bolak-balik, melompat berulang-ulang, jungkir balik, menggoyang-goyangkan badan, mencabuti rambut, menghisap jari, dan menggigit jari tangan atau kaki.
Duh Sobat #KonservasYIARI ternyata selama ini perilaku yang dikira “lucu atau menghibur” adalah pertanda bahwa makaka sedang mengalami tekanan dan penderitaan secara psikologis. Yuk hentikan gerakan pemeliharaan satwa liar! Untuk apa pelihara satwa liar jika hanya membuat satwa itu menderita.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi :
Sajuthi D, Astuti DA, Perwitasari D, Iskandar E, Sulistiawati E, Suprapto IH, Kyes RC. 2016. Hewan Model Satwa Primata Volume I Macaca fascicularis Kajian Populasi, Tingkah Laku, Status Nutrien, dan Nutrisi untuk Model Penyakit. Bogor: PT Penerbit IPB Press.
Cahya Riza Haromaen
Beragam Bentuk Enrichment Makaka, Unik Banget!
Sobat #KonservasYIARI suka mengamati lingkungan sekitar gak? Atau pernah ikut pengamatan satwa? Kalau masa liburan mau berakhir, pasti Sobat #KonservasYIARI juga melakukan persiapan untuk kembali melakukan kegiatan seperti semula ‘kan? Yang masih bersekolah menyiapkan peralatan sekolahnya, yang bekerja mungkin menyiapkan fisik dan mentalnya untuk kembali berutinitas. Begitu juga satwa di pusat rehabilitasi nih Sob. Dibantu oleh para perawat satwa, para satwa di pusat rehabilitasi pun melakukan persiapan sebelum dilepasliarkan ke alam. Salah satu persiapannya disebut dengan enrichment.
Kandang enrichment tematik tema alam yang dilengkapi dengan hammock, air terjun, tali tambang untuk berayun, serta rolling ball yang diisi dengan biji-bijian (Ruli | Yayasan IAR Indonesia).
Enrichment? Apa tuh?
Singkatnya, enrichment atau pengayaanmerupakan upaya seperti pemberian fasilitas, dan pakan tambahan, juga modifikasi cara pemberian dan jenis pakan tambahan.
Tapi tapi tapi, hal ini tujuannya agar apa sih?
Ada beberapa nih, di antaranya agar:
Satwa di pusat rehabilitasi dapat lebih enjoy menghabiskan waktunya
Mengurangi tingkat kebosanan atau kejenuhan satwa di kandang, sehingga makaka lebih aktif melakukan kegiatan seperti mencari makan
Mengurangi karakter perilaku abnormal (perilaku yang tidak biasa muncul pada satwa liar di alam, umumnya merupakan indikator respon stres ketika dipiara di kandang)
Membantu mempercepat pemulihan stres
Menimbulkan kembali sifat (perilaku) dan naluri alami satwa yang sedang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi
Jadi, enrichment ini seperti pembekalan untuk para satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke alam gitu deh.
Kami juga pernah bahas sedikit terkait enrichment untuk satwa liar di pusat rehabilitasi, boleh disimak juga melalui kedua tautan dibawah ini ya!
Berdasarkan Smithsonian Institute, ada lima tipe enrichment yang bisa diberikan pada hewan, yaitu enrichment habitat, kognitif, sensorik, pakan, serta mainan.
Tak jarang juga ada gabungan dari tipe enrichment tersebut. Enrichment pakan yang diberikan juga bisa disebut dengan food based enrichment, yaitu pemberian pakan yang divariasikan seperti meletakkan pakan dalam wadah yang digantung pada ranting-ranting pohon, sehingga dapat melatih insting berburu dan mencegah terjadinya perilaku abnormal atau stres pada satwa (Kuntum et al. 2020).
Kalau di pusat rehabilitasi YIARI sendiri, enrichment dibagi menjadi dua yaitu, enrichment harian dan enrichment tematik atau enrichment lingkungan. Enrichment tematik merupakan proses pemberian enrichment dinamis untuk meningkatkan pengayaan lingkungan satwa, perubahan lingkungan, meningkatkan pilihan-pilihan enrichment untuk kesejahteraan satwa di kandang rehabilitasi YIARI. Jadi, enrichment tematik ini bisa meliputi enrichment habitat, kognitif, sensorik, serta mainan. Kalau enrichment harian, merupakan enrichment yang diberikan setiap harinya. Ada juga tambahan enrichment bulanan berupa dedaunan yang diletakkan di atas kandang setiap bulannya.
Wah menarik, tapi enrichment yang diberikan satwa sebetulnya berupa apa sih? Ada contoh fotonya gak ya?
Penasaran kan? Ada dong! Kita bahas enrichment hariannya dulu ya! Untuk makaka, berikutjadwal enrichment harian yang diberikan oleh para perawat satwa secara rutin setiap harinya pukul 8 nih Sobat #KonservasYIARI!
Enrichment harian sesuai jadwalnya (Amun Nawawi | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment harian tersebut diantaranya ialah:
Biji-bijian yang diletakkan pada serbuk kayu (Senin)
Pipa yang diisi madu atu yoghurt (Selasa)
Biji-bijian yang dimasukkan ke dalam pipa shake (Rabu)
Kotak kawat yang diisi dengan daun yang kemudian diletakkan di dalam atau di luar kandang (Kamis)
Bola (rollingball) yang diisi dengan biji-bijian (Jumat)
Daun seperti daun kaliandra, bambu, atau daun lainnya yang diletakkan di dalam atau di luar kandang (Sabtu)
Serta enrichment harian pada hari Minggu, pipa yang diisi dengan sirup atau yoghurt (Minggu).
Teratur banget ya enrichment hariannya, kalau enrichment tematiknya seperti apa ya?
Untuk saat ini kandang untuk enrichment tematik yang aktif digunakan ada beberapa tema, juga dengan alat yang beragam di dalam kandangnya, yuk langsung intip!
Beberapa makaka sedang bermain di atas roda treadmill (Ruli | YayasanIAR Indonesia)
Kandang enrichment tema tersembunyi dengan rumah jamur untuk bersembunyi (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment tematik dengan tema taman bermain dengan beragam alat untuk bermain (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Jadi, kurang lebih begitulah sekilas informasi terkait enrichment makaka yang penulisannya dibantu oleh Kang Ruli atau yang biasa dipanggil Jubel, selaku perawat satwa yang bertanggung jawab terhadap enrichment makaka. Nah, Sobat #KonservasYIARI sudah sedikit lebih paham tentang enrichment Makaka kan? Next time bahas apalagi ya? Bahas enrichment kukang seru kaliya?👀
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi: Gakkum MenLHK. 2020. Buku Panduan Penanganan (Handling) Satwa Primata. https://gakkum.menlhk.go.id/assets/filepublikasi/Buku_Panduan_Penanganan_(Handling)_Satwa-Primata_Final_ok.pdf Kebun Binatang Nasional dan Institut Biologi Konservasi Smithsonian, https://nationalzoo.si.edu/animals/animal-enrichment Kuntum R, Yusuf R, Darusman HS. 2020. Evaluasi Manajemen Pemeliharaan terhadap Endoparasit Saluran Pencernaan pada Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Jurnal Primatologi Indonesia. 17 (1): 22-27.
Fathia Rosatika
Merayakan Keberagaman Primata Nonmanusia di Hari Primata Indonesia 2023
Yayasan IAR Indonesia berkolaborasi dengan Forum Orangutan Indonesia pada Januari lalu menyelenggarakan perayaan Hari Primata Indonesia (HPI) 2023. Tak kurang 27 organisasi bergabung dalam kegiatan HPI 2023 yang tersebar di dekat ataupun di luar habitat. Tahun ini, kami mengangkat tema “Setiap Primata Itu Berarti”. Tema ini dipilih sebagai pengingat bahwa kehadiran primata nonmanusia merupakan bagian dari ekosistem yang memberikan banyak kebaikan yang sangat berarti. Sebagai aktivitas kolaborasi, kami membebaskan kolaborator untuk melakukan berbagai kegiatan misalnya mengunggah konten edukatif di media sosial, penggalangan dana, seminar/webinar atau gelar wicara dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini dipilih agar kolaborator bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing organisasi.
Kilas Balik Peringatan HPI
Peringatan HPI pertama kalinya digiatkan pada 2014 oleh PROFAUNA Indonesia. Organisasi yang bergerak di bidang konservasi hutan dan perlindungan satwa liar ini prihatin terhadap perdagangan ilegal primata yang semakin marak pada 2013. Tanggal 30 Januari dipilih didasari pada kampanye “Primate Freedom Tour” pada 2011 di kota-kota di pulau Jawa dan Bali untuk perlindungan primata Indonesia.
Di tahun-tahun sebelumnya, kami juga mengorganisasikan HPI dengan tema “Hidup Selaras: Manusia dan Primata Saling Menjaga Alam”. Gelar wicara, pertunjukan seni, dan challenge menjadi kegiatan yang kami lakukan bersama beberapa kolaborator. Sedangkan pada 2021, webinar menjadi aktivitas utama kami yang mengangkat “Serba-serbi Primata di Media Sosial”. Selain itu, kami juga menggalang dana melalui penjualan cendera mata bersama Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia untuk disalurkan ke Wildlife Rescue Centre, Yogyakarta.
Salah satu topik bahasan dalam webinar untuk memperingati Hari Primata Indonesia di tahun 2021 adalah dampak negatif pemeliharaan primata. Disini drh. Meri dari Jakarta Animal Aid Network / Jaringan Satwa Indonesia memaparkan akibat-akibat buruk dari pemeliharaan primata di rumah (Foto: Yayasan IAR Indonesia)
Semarak HPI 2023
Sejauh pengamatan kami, kegiatan HPI 2023 telah dilakukan dengan berbagai bentuk. Misalnya diskusi, kampanye, edukasi dan penyadartahuan, kemah konservasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengamatan kami, semarak HPI 2023 dirayakan di beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi oleh kolaborator.
Di Sumatera, sebuah organisasi pemerhati primata di Kabupaten Natuna bernama Mantau Kekah misalnya, melakukan pengamatan kekah (Presbytisnatunae) di Desa Mekar Jaya, Kabupaten Natuna. Yayasan IAR sendiri berkegiatan kemah yang bertajuk Batutegi Conservation Camp di KPH Batutegi, Lampung yang diikuti oleh beberapa komunitas. Selain mengenalkan tentang Yayasan IAR Indonesia, peserta juga diajak berdiskusi asyik tentang konservasi primata di Indonesia, menanam pohon, serta pengenalan camera trap.
Kegiatan penanaman pohon dilangsungkan pada Conservation Camp sebagai ajang menyebarluaskan kesadaran lingkungan bagi para pemuda Batutegi, Lampung (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Yayasan Orangutan Indonesia mengadakan Diskusi dan Kampanye bersama Kader Konservasi tingkat SMA sederajat di Kotawaringin Barat. Setelahnya, dilakukan Focus Group Discussion yang berkaitan dengan Rencana Tindak Lanjut yang dilakukan bersama Generasi Muda.
Bergesar ke timur, kolaborasi dalam kampanye penyadartahuan primata berlangsung semarak. Balla Konservasi Wallacea dan Sikola Ale’ beserta BKSDA Sulawesi Selatan, TN Bantimurung Bulusaraung, dan Fauna dan Flora Internasional berkongsi melakukan kegiatan ini di car free day di Jalan Boulevard dan Samangki di Kabupaten Maros pada Minggu (29/1).
Little Fireface Project yang berbasis di Garut terlibat dalam gelar wicara yang mengangkat topik tentang miskonsepsi terkait spesies kukang (Nycticebus sp.). Rimba Experiences melakukan kegiatan serupa bersama komunitas-komunitas di sekitar Ciwidey, Bandung. Terakhir, Asta Conservation memperingati HPI 2023 dengan membuat give away berupa Kalender Satwa 2023 yang diterbitkan secara terbatas.
Merayakan Keanekaragaman Primata Indonesia
Keberadaan primata di Indonesia adalah suatu kebanggaan terhadap kekayaan hayatinya. Hingga saat ini, keanekaragaman spesies primata di Indonesia berjumlah 64 spesies. Tidak mungkin di tahun-tahun selanjutnya akan bertambah seiring dengan penelitian terkini.
Krabuku ingkat (Cephalopachus bancanus) adalah salah satu satwa dilindungi di Indonesia yang hidup di pedalaman hutan Sumatra. Tugas kita sekarang adalah melindunginya dari berbagai macam ancaman yang mengancam populiasinya di alam (Muhidin | Yayasan IAR Indonesia)
Dari yang berukuran kecil seperti tarsius, hingga yang berukuran besar seperti orangutan. Dari yang bersembunyi di kegelapan malam seperti kukang, hingga menikmati senja seperti bekantan. Primata Indonesia selayaknya cerminan kehidupan sosial kita. Hidup dalam komunitas yang besar seperti yaki, atau hidup dalam keluarga kecil nan harmonis selayaknya siamang.
Perayaan Hari Primata Indonesia dilaksanakan setiap tahunnya pada tanggal 30 Januari. Peringatan ini tentu bukanlah sekadar perayaan semata. Ada makna dan pesan yang selalu menjadi pengingat kita, akan pentingnya keberadaan primata Indonesia, untuk kita jaga, untuk kita lestarikan, untuk tetap menjadi kebanggaan Indonesia.
Sebelum menutup artikel ini, kami punya pantun:
Kaki bekantan ada selaputnya
Kami tunggu kolaborasimu di HPI berikutnya!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Afrizal Abdi
Bijak Berwisata dan Berinteraksi dengan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Masih ingatkah Sobat KonservasYIARI dengan kasus serangan monyet ekor panjang yang bernama monpai di salah satu objek wisata? Selain dalam bentuk serangan, interaksi negatif dengan monpai dapat mengakibatkan penularan penyakit (zoonosis). Jadi penyakit ini menular dari satwa vertebrata ke manusia atau sebaliknya melalui infeksi patogen seperti bakteri, virus, fungi dan parasit secara alami. Semua hal itu bisa terjadi jika Sobat KonservasYIARI tidak bijak dalam berwisata. Bukannya menghilangkan kepenatan, justru malah mendatangkan petaka!
Lalu bagaimana sih cara agar kita bisa berwisata dengan bijak dan aman?
1. Hindari memberi makan kepada monpai
Monpai memiliki makanan alaminya sendiri yang disesuaikan dengan anatomi tubuhnya. Pemberian makan sembarangan dapat menimbulkan masalah bagi monpai, pengunjung wisata, maupun masyarakat sekitar. Insting alami monpai akan tumpul akibat ketergantungan pada sumber makanan dari pengunjung dan mendorong perilaku memalak. Lebih parahnya lagi ketika wisata sepi, monpai bisa saja mencari makanan ke pemukiman warga atau warung di tempat wisata.
Monyet ekor panjang memakan pisang di Suaka Margasatwa Muara Angke. Apabila makaka semakin sering diberi makanan oleh manusia, maka ia akan semakin ketergantungan dengan kita (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
2. Hindari kerumunan kelompok monyet
Baik di alam maupun di tempat penangkaran ex-situ, monpai hidup dalam kelompok besar. Induk monpai selalu melindungi anak-anaknya, mereka tidak segan-segan untuk menyerang secara tiba-tiba apabila merasa terganggu. Wah alih-alih berwisata justru bisa berujung pada celaka. Jadi sebisa mungkin untuk menghindari kerumunan kelompok monyet ekor panjang saat berwisata.
Sekelompok monyet ekor panjang atau monpai di hutan (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
3. Hindari berswafoto dengan monpai
Jika ingin mengambil foto satwa liar, kita dapat mengambilnya dari jarak yang aman dan lakukan tanpa harus menyentuh serta mengganggu monpai. Kemudian abadikanlah monpai dengan tingkah laku dan ekspresi alaminya. Tindakan berswafoto yang tidak bijak dapat menggiring persepsi yang bertentangan dengan tujuan konservasi. Selain itu interaksi yang terlalu dekat dengan monpai saat swafoto dapat menularkan penyakit (zoonosis).
Konflik antara monyet ekor panjang dan manusia akan semakin mudah terjadi seiring berkurangnya jarak antara manusia dan MEP (Fakultas Kehutanan UGM)
4. Bawa kembali sampahmu
Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.
Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.
Penyediaan tempat sampah yang cukup di lokasi wisata sangat penting dilakukan untuk mengurangi konflik antara manusia dan monpai (Tim HMC | Yayasan IAR Indonesia)
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi :
Nanda IMAP. 2020. Analisis risiko penularan zoonosis dari serangga konsumsi. Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia. 2(2): 132-155.
Rahman H, Sartika. 2022. Upaya pencegahan travel disease dalam persepsi travel agent. Jurnal penelitian kesehatan suara forikes.