Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin
Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.
Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.
Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.
Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.
Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)
Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.
Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata
Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.
Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.
“Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”
Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)
Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.
Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.
“Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.
Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.
Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.
Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.
Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.
Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.
Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)
Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.
Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.
“Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.
Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.
Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.
Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.
Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.
Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.
“Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.
Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri
Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.
Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.
Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.
Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!
Apa Itu Operasi Sistotomi?
Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.
Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.
Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.
“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.
drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.
“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.
Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.
Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.
Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri
Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.
Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.
“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.
Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.
Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.
“Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.
Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.
Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.
Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?
Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:
Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
Infeksi saluran kemih
Faktor genetik
pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)
Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.
Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.
“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.
Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.
Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.
Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.
“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.
Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi
Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.
Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.
Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.
Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.
“Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.
Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.
Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar
Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.
Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.
Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)
Editor: Hasna Latifatunnisa
Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi
Pernahkah kamu mendengar tentang kukang? Primata dengan mata besar yang menawan dan gerak lambatnya yang hampir tidak terdengar.
Namun, di balik keunikannya, kukang menghadapi ancaman serius yang mengancam kelangsungan hidupnya di alam liar. Mulai dari perburuan ilegal hingga degradasi habitat, setiap hari menjadi perjuangan bagi keberlangsungan spesies ini.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang kukang—mulai dari ciri khas fisik, habitat alami, pola makan, jenis, hingga berbagai ancaman yang terus membayangi. Yuk, kita telusuri kehidupan si bermata besar yang menyimpan segudang “keajaiban” ini!
Pengenalan Kukang
Kukang adalah primata kecil yang tergolong dalam genus Nycticebus, bagian dari keluarga Lorisidae.
Dalam bahasa Inggris, satwa ini dikenal dengan sebutan slow loris karena pergerakannya yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian. Ukuran tubuh kukang relatif kecil, umumnya tidak lebih dari 30 sentimeter.
Sebagai satwa nokturnal, kukang aktif di malam hari. Mereka menghabiskan sebagian besar siang dengan tidur di balik dedaunan lebat atau bersembunyi di celah-celah pohon. Pergerakannya yang pelan dan senyap menjadi mekanisme alami untuk menghindari predator dan menjaga keberadaan mereka tetap tersembunyi.
Kukang tersebar luas di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk India, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan negara-negara lainnya yang memiliki ekosistem hutan tropis. Keberadaan mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan yang menjadi habitat utama.
Ciri Khas dan Perilaku
Salah satu ciri paling mencolok dari kukang adalah sepasang mata besar dan bulat yang memancarkan kesan menggemaskan. Namun, fungsi mata ini lebih dari sekadar penampilan. Sebagai satwa nokturnal, kukang mengandalkan penglihatannya yang tajam dalam gelap untuk mencari makan dan menghindari ancaman di malam hari.
Gerakan kukang yang sangat lambat dan hati-hati bukan tanpa alasan. Ini merupakan bentuk adaptasi alami untuk menghindari perhatian predator. Dengan bergerak perlahan, kukang tidak menimbulkan suara atau gerakan mencolok yang bisa mengundang bahaya. Selain itu, cengkeramannya yang kuat memungkinkan kukang menggantung di dahan pohon dalam waktu lama tanpa kelelahan, sebuah kemampuan penting dalam habitat arboreal.
Keunikan lain dari kukang yang jarang ditemukan pada primata lain adalah kemampuan menghasilkan racun. Kelenjar di bagian siku kukang mengeluarkan zat beracun yang, ketika bercampur dengan air liur, menjadi senjata pertahanan yang efektif. Racun ini dapat dipakai untuk melindungi diri dari predator maupun untuk melumpuhkan mangsa kecil.
Secara perilaku, kukang adalah satwa soliter dan sangat teritorial. Mereka lebih suka hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau saat merawat anak. Salah satu mekanisme pertahanan unik mereka adalah kemampuan untuk “berpura-pura mati”—berhenti total dari pergerakan ketika merasa terancam, sebuah strategi yang dapat mengecoh predator.
Habitat Kukang
Kukang mendiami hutan tropis lembap yang lebat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Mereka ditemukan di berbagai jenis hutan, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan dengan suhu lebih sejuk.
Primata ini sangat bergantung pada keberadaan kanopi pohon yang rapat sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Kanopi rindang tidak hanya menyediakan perlindungan dari predator, tetapi juga menjadi jalur utama bagi kukang untuk berpindah tempat dan mencari makanan tanpa perlu turun ke tanah. Oleh sebab itu, kehilangan habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup mereka.
Makanan Kukang
Kukang adalah omnivora dengan pola makan yang beragam, tergantung pada spesies dan habitat tempat mereka hidup. Diet alaminya mencakup serangga, telur burung, reptil kecil, serta aneka buah-buahan dan getah pohon. Fleksibilitas ini mencerminkan kemampuan adaptasi kukang terhadap kondisi lingkungan, yang memungkinkan mereka memaksimalkan asupan nutrisi yang tersedia di alam liar.
Salah satu sumber makanan yang sangat penting bagi kukang adalah getah pohon. Getah ini kaya akan nutrisi dan relatif mudah ditemukan di habitat hutan tropis. Kukang menggunakan gigi khusus yang tajam (dikenal sebagai dental comb) untuk mengikis permukaan kulit pohon dan merangsang keluarnya getah. Setelah itu, mereka menjilati cairan manis tersebut dengan perlahan.
Selain itu, kukang juga memakan serangga dan hewan kecil lainnya, yang memberikan asupan protein tinggi. Selain penting bagi keseimbangan gizinya, perilaku ini juga berkontribusi pada pengendalian populasi serangga di ekosistem hutan. Dengan memangsa serangga secara selektif, kukang memainkan peran ekologis yang signifikan sebagai pengendali hayati alami.
Kukang dikenal sangat selektif dalam memilih makanan. Mereka tidak sembarangan mengonsumsi apa pun yang tersedia, melainkan menunjukkan preferensi terhadap jenis makanan tertentu yang paling sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. Kebiasaan ini merupakan bagian dari strategi bertahan hidup yang cerdas di lingkungan yang terus berubah.
Jenis-jenis Kukang di Indonesia
Indonesia merupakan rumah bagi beberapa spesies kukang, yang masing-masing memiliki karakteristik unik dan menarik. Jenis-jenis kukang di Indonesia antara lain:
1. Kukang Sumatera (Nycticebus coucang)
Nycticebus coucang | Bobby Muhidin (YIARI)
Kukang Sumatera dikenal sebagai salah satu spesies kukang dengan ukuran tubuh terbesar.
Panjang tubuhnya dapat mencapai 27 hingga 38 sentimeter. Ciri khas utama dari kukang ini adalah bulunya yang lebat dengan warna bervariasi, mulai dari cokelat keabu-abuan sampai cokelat kemerahan, biasanya dihiasi oleh garis di punggung yang kontras.
Wajahnya tampak mencolok dengan “topeng” gelap yang melintang dari mata ke mata, serta sepasang mata besar yang sangat menonjol. Kukang Sumatera juga memiliki gigi khusus yang digunakan untuk menggores kulit pohon agar getahnya keluar.
Secara geografis, spesies ini tersebar di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian wilayah selatan Thailand. Mereka mendiami hutan hujan tropis dataran rendah, namun juga bisa ditemukan di hutan sekunder dan hutan mangrove yang masih memiliki vegetasi lebat.
2. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus)
Nycticebus javanicus | Reza Septian (YIARI)
Kukang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan kukang Sumatera, dan memiliki bulu cenderung lebih gelap, berfungsi sebagai kamuflase alami saat beraktivitas di malam hari.
Spesies ini sangat teritorial dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Mereka jarang sekali turun ke tanah, karena pergerakan arboreal lebih aman dari predator. Pola makan kukang Jawa terdiri dari serangga, getah pohon, dan buah-buahan, dengan kecenderungan kuat terhadap konsumsi getah sebagai sumber nutrisi utama.
3. Kukang Kalamasan Kalimantan (Nycticebus menagensis)
Kukang Kalamasan, atau yang juga dikenal sebagai Kukang Filipina, merupakan spesies kukang yang mendiami wilayah pesisir utara dan timur Kalimantan, serta Kepulauan Sulu di Filipina. Dulunya, spesies ini dianggap sebagai subspesies dari kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus), namun studi genetik dan morfologis terbaru telah mengukuhkan statusnya sebagai spesies yang terpisah.
Ciri fisik kukang Kalamasan menyerupai kukang lain, dengan bulu lebat berwarna abu-abu hingga cokelat yang membantu menyamarkan diri di antara pepohonan. Ukurannya relatif kecil, dengan panjang tubuh rata-rata di bawah 25 sentimeter. Seperti kukang lainnya, mereka aktif di malam hari dan mengandalkan indra penciuman serta penglihatan untuk mencari makan.
4. Kukang Kayan (Nycticebus kayan)
Nycticebus kayan | Jmiksanek (Wikimedia)
Kukang Kayan merupakan salah satu spesies kukang yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada dekade terakhir. Nama spesies ini diambil dari Sungai Kayan yang berada di Kalimantan Utara, salah satu wilayah utama dalam sebaran alaminya.
Ciri khas kukang ini terletak pada pola wajahnya yang unik, yakni adanya garis putih tegas yang melintang dari mata ke arah mulut, memberikan tampilan kontras yang khas. Warna bulunya cenderung lebih gelap dibandingkan spesies kukang lainnya, berfungsi sebagai kamuflase di habitat hutan tropis.
Penyebaran kukang Kayan mencakup wilayah tengah hingga utara Pulau Kalimantan, termasuk Brunei, Sarawak, Sabah, Kalimantan Timur, hingga Sungai Mahakam dan Sungai Rajang. Spesies ini menghuni berbagai tipe ekosistem hutan, mulai dari dataran rendah sampai pegunungan, dan bergantung pada kelestarian hutan lebat sebagai tempat berlindung dan mencari makan.
5. Kukang Bangka (Nycticebus bancanus)
Nycticebus bancanus | Denny Setiawan (YIARI)
Kukang Bangka adalah spesies kukang yang secara geografis terbatas pada Pulau Bangka, lepas pantai timur Sumatera. Hidup di lingkungan pulau yang relatif terisolasi, spesies ini mengembangkan beberapa adaptasi unik.
Secara fisik, kukang Bangka berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya di daratan utama, dengan bulu yang cenderung lebih pucat dan padat. Diet mereka serupa dengan kukang lain, terdiri dari buah-buahan, getah pohon, serta serangga kecil.
Karena keterbatasan habitat dan ancaman dari aktivitas manusia, kukang ini termasuk spesies yang rawan terhadap tekanan lingkungan dan memerlukan perhatian konservasi khusus.
6. Kukang Benggala (Nycticebus bengalensis)
Meskipun bukan spesies endemik Indonesia, kukang Benggala ditemukan di beberapa bagian barat wilayah Indonesia, terutama yang berbatasan dengan daratan Asia Tenggara seperti Myanmar, Laos, dan Thailand.
Kukang ini memiliki tubuh lebih besar dan bulu lebih tebal, yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan dengan suhu yang lebih rendah di wilayah pegunungan. Warna bulunya bervariasi dari cokelat muda hingga kelabu, dengan pola wajah khas menyerupai “topeng” gelap.
Polanya dalam mencari makan tidak jauh berbeda dengan spesies kukang lainnya—mereka mengonsumsi buah, getah pohon, dan serangga sebagai bagian utama dari dietnya.
7. Kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus)
Kukang Kalimantan merupakan spesies kukang endemik yang secara eksklusif ditemukan di Pulau Kalimantan. Sebelumnya, spesies ini kerap diklasifikasikan sebagai bagian dari kukang Sumatera atau kukang Menagensis. Namun, analisis genetika dan morfologi terkini telah menetapkannya sebagai spesies yang berdiri sendiri.
Ciri-ciri kukang Kalimantan mencakup ukuran tubuh sedang dengan warna bulu yang bervariasi antara cokelat keabu-abuan hingga kemerahan, serta pola wajah yang menyerupai spesies kukang lain, namun dengan garis yang lebih halus dan kontras warna yang berbeda.
Mereka mengonsumsi serangga, buah-buahan, dan getah pohon, serta sangat bergantung pada keberadaan hutan tropis Kalimantan yang masih utuh untuk bertahan hidup.
Status Perlindungan Kukang
Kukang merupakan salah satu primata yang menghadapi ancaman kepunahan serius. Berdasarkan Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagian besar spesies kukang masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) hingga Terancam Punah (Endangered). Kondisi ini diperparah oleh perburuan liar yang masif dan kerusakan habitat yang semakin meluas.
Dua ancaman terbesar terhadap keberlangsungan hidup kukang adalah perdagangan ilegal dan deforestasi. Kukang kerap diburu untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis karena penampilannya yang dianggap lucu. Tidak jarang, proses penangkapan dilakukan secara brutal, yang menyebabkan luka serius bahkan kematian. Selain itu, bagian tubuh kukang juga digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di beberapa budaya, yang semakin mendorong angka perburuan.
Untuk melindungi spesies ini, berbagai regulasi internasional dan nasional telah diterapkan. Kukang termasuk dalam daftar Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti segala bentuk perdagangan internasional spesies ini dilarang secara ketat.
Di Indonesia, kukang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perburuan, kepemilikan, atau perdagangan kukang tanpa izin merupakan tindakan ilegal dan dapat dikenakan sanksi pidana.
Ancaman yang Dihadapi Kukang
Inilah beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh kukang:
Perdagangan ilegal
Kukang sering menjadi korban perdagangan hewan peliharaan ilegal. Wajahnya yang dianggap menggemaskan menjadikannya buruan utama pasar satwa eksotis. Banyak kukang yang ditangkap dari alam liar secara kejam—taringnya dipotong tanpa bius agar tidak menggigit, yang justru menyebabkan infeksi hingga kematian.
Perdagangan ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak populasi alami kukang.
Penggunaan dalam pengobatan tradisional
Di beberapa daerah, kukang dipercaya memiliki nilai pengobatan. Bagian tubuhnya digunakan sebagai bahan ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Praktik ini memperkuat permintaan pasar gelap dan memperparah perburuan.
Kehilangan dan fragmentasi habitat
Kegiatan seperti pembukaan lahan untuk pertanian, penebangan hutan, dan pembangunan infrastruktur telah mengakibatkan kerusakan parah pada habitat kukang. Hilangnya kanopi pohon yang menjadi tempat hidup utama menyebabkan kukang kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.
Selain itu, fragmentasi habitat membuat populasi kukang terisolasi, yang menurunkan keanekaragaman genetik dan memperbesar risiko kepunahan.
Interaksi negatif dengan manusia
Ketika habitatnya terganggu dan berdekatan dengan pemukiman, kukang kadang dianggap sebagai hama. Banyak yang ditangkap, dibunuh, atau diusir dari habitat aslinya. Interaksi negatif ini sering terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang nilai ekologis kukang.
Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat
Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai status kukang sebagai satwa yang dilindungi menyebabkan banyak orang masih membeli atau memelihara kukang secara ilegal. Kampanye edukasi yang masih terbatas dan minimnya sosialisasi hukum juga memperburuk situasi ini.
Bersama Menjaga Warisan Alam
Di penghujung perjalanan kita mengenal kukang, satu hal menjadi semakin nyata: keberadaan mereka bukan sekadar harta karun biologis, tetapi juga indikator penting dari kesehatan ekosistem hutan kita. Kukang adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan kehidupan yang menjaga keseimbangan alam semesta.
Setiap individu kukang yang menghilang dari hutan menjadi pertanda ekosistem yang mendukung kehidupan kita tengah terganggu. Melindungi kukang berarti menjaga kelestarian hutan tropis dan seluruh kehidupan yang bergantung padanya—mulai dari mikroorganisme tanah sampai pepohonan raksasa, dari burung langka hingga manusia.
Tindakan yang kita ambil hari ini akan menentukan masa depan kukang dan kualitas lingkungan yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Kini saatnya kita bergandengan tangan—masyarakat, pemerintah, lembaga konservasi, dan dunia usaha—untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian alam.
Yuk, pastikan suara dari hutan-hutan kita tidak akan hilang dalam senyap. Biarkan suara kehidupan tetap mengalun, dan biarkan kukang terus berayun di antara cabang pohon, menjadi simbol harapan dan keberlangsungan alam yang lestari!
Featured image: Nycticebus javanicus | Denny Setiawan (YIARI)
Scroll, Click, Act: Bersama Lawan Perdagangan Ilegal Kukang
Perdagangan ilegal satwa liar, terutama melalui media sosial, kian mengancam kelangsungan hidup beragam spesies satwa dilindungi, termasuk kukang. Menyadari pentingnya masalah ini, Global Health Agromaritime-One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB University bersama OHCC Universitas Udayana menggelar talkshow bertajuk “Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks”.
Kegiatan yang diadakan di Aula Transformasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB ini bertujuan meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap ancaman perdagangan ilegal kukang, serta dampaknya terhadap ekosistem dan kesehatan manusia.
Kukang merupakan salah satu satwa dilindungi yang sering menjadi target perdagangan ilegal di Indonesia. Praktik ini tidak hanya mengancam kelangsungan populasinya di alam liar, tetapi juga berisiko memperluas penyebaran penyakit zoonosis—penyakit yang dapat menular dari satwa ke manusia.
Dari kiri, Moderator Acara (S2 Ilmu Biomedis Hewan SKHB IPB) drh. Sarasvathi Cecile, KKHSG Kemenhut drh. Dedi Candra, Koordinator GHA-OHCC IPB drh. Srihadi Agungpriyono, Manager Animal Management YIARI drh. Nur Purba Priambada dalam acara Talkshow Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks, Bogor, Sabtu, 15 Februari 2025 (Cahya Riza | YIARI)
Risiko ini semakin meningkat karena kukang yang diperdagangkan sering mengalami perlakuan yang tidak semestinya, seperti pencabutan gigi untuk menghindari gigitan. Tindakan kejam ini tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi kukang, tetapi juga berpotensi memperbesar risiko infeksi dan penyebaran penyakit yang dapat berdampak pada manusia.
Koordinator Global Health Association – One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB, drh. Srihadi Agungpriyono, menegaskan bahwa pendekatan One Health menjadi strategi penting dalam menangani permasalahan ini.
“Pendekatan One Health telah lama diterapkan untuk menghubungkan kesehatan manusia dan satwa. Oleh karena itu, dalam upaya konservasi ini, kita membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, termasuk ahli kesehatan satwa, kesehatan manusia, lingkungan, serta aspek sosial dan ekonomi yang turut memengaruhi praktik perdagangan satwa liar,” terangnya.
Pendekatan One Health menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan untuk mencegah dampak negatif dari perdagangan satwa liar. Dengan kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan ancaman perdagangan ilegal kukang dapat diminimalisir, sehingga spesies ini dapat terus hidup di habitat alaminya tanpa tekanan dari aktivitas ilegal.
Dari kiri, Moderator Acara (S2 Ilmu Biomedis Hewan SKHB IPB) drh. Sarasvathi Cecile, KKHSG Kemenhut drh. Dedi Candra, Manager Animal Management YIARI drh. Nur Purba Priambada membahas tren perdagangan kukang dalam acara Talkshow Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks, Bogor, Sabtu, 15 Februari 2025(Cahya Riza | YIARI)
Dukungan Kebijakan Tekan Angka Perdagangan Kukang di Sosial Media
Selain aspek kesehatan dan ekologi, upaya pemberantasan perdagangan ilegal kukang memerlukan dukungan regulasi yang lebih ketat. Drh. Dedi Candra menyoroti adanya regulasi baru yang memperkuat perlindungan terhadap satwa liar di Indonesia.
“Kami optimis bahwa pada tahun 2025 ini, perdagangan ilegal kukang dapat ditekan lebih jauh. Salah satu langkahnya melalui pengesahan Undang-Undang No. 32 Tahun 2024, yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Regulasi ini memperketat sanksi serta meningkatkan denda bagi pelaku perdagangan ilegal. Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 17 Tahun 2024 semakin mengoptimalkan upaya penyelamatan satwa liar dilindungi, termasuk kukang,” jelas drh. Dedi dalam kesempatan talkshow ini.
Dengan adanya peraturan yang lebih tegas, diharapkan perdagangan kukang secara daring dapat berkurang secara signifikan, sekaligus memberikan efek jera bagi para pelaku perdagangan ilegal.
Kukang jawa (Nycticebus javanicus) yang direhabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI)
Komitmen Multipihak dalam Konservasi Kukang
Kukang di Indonesia saat ini berstatus Terancam Punah (Endangered) hingga Kritis (Critically Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kondisi ini menjadikan kukang sebagai salah satu fokus utama dalam berbagai upaya konservasi di Indonesia.
Salah satu lembaga yang berperan aktif dalam pelestarian kukang adalah Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam kesempatan ini, drh. Nur Purba Priambada menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam upaya konservasi kukang.
“Dalam 17 tahun perjalanan kami, YIARI berkomitmen untuk memastikan kesejahteraan kukang, tidak hanya melalui rehabilitasi individu, tetapi juga dengan pendekatan holistik yang melibatkan ekosistem secara menyeluruh. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan harmoni antara habitat, satwa, dan manusia,” tuturnya.
Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga konservasi, upaya pelestarian kukang diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, juga menjadi kunci utama dalam mencegah maraknya perdagangan ilegal dan melindungi spesies yang semakin rentan punah ini.
“Penyelamatan kukang bukan hanya tugas para konservasionis, melainkan tanggung jawab bersama.”
Pernyataan ini menjadi pesan kuat dalam talkshow yang membahas ancaman perdagangan ilegal satwa liar. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan kebijakan yang lebih kuat, ada harapan besar bahwa kukang dan satwa liar lainnya dapat terus hidup di habitat aslinya tanpa ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.
Setiap individu dapat berkontribusi dalam upaya konservasi dengan:
Tidak membeli atau mendukung perdagangan satwa liar
Menyebarkan informasi tentang pentingnya pelestarian kukang
Melaporkan aktivitas perdagangan ilegal kepada pihak berwenang
Dengan langkah-langkah konkret ini, kita dapat turut berperan dalam menyelamatkan kukang dan menjaga kelestarian ekosistemnya untuk masa depan!
Translokasi 10 Kukang Jawa ke Gunung Kendeng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Sukabumi, 23 Oktober 2024 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan kegiatan translokasi 10 kukang jawa (Nycticebus javanicus) di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional Gunung Kendeng, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, BTNGHS. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi populasi satwa endemik yang terancam punah.
Pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan terhadap Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi di Indonesia. Kukang Jawa, sebagai satwa endemik dan terancam punah yang terdapat di Kawasan TNGHS, termasuk dalam Permen tersebut. Selain itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga telah mengklasifikasikan jenis primata ini sebagai satwa terancam (endangered).
Pemeriksaan kukang yang berada dalam kandang transport (Rendi Afandi|YIARI)
Adapun sepuluh kukang yang ditranslokasi terdiri dari tiga kukang jantan bernama Petruk, Yuda, Gareng, serta tujuh kukang betina bernama Alon, Citas, Kunthi, Madrim, Bestari, Kajol, dan Loni. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada BBKSDA Jawa Barat dan BKSDA Yogyakarta. Setelah diserahkan, satwa-satwa tersebut dititiprawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, di mana mereka menjalani penanganan medis intensif dan proses rehabilitasi yang komprehensif.
Proses rehabilitasi yang dijalani bertujuan untuk memulihkan kesehatan dan perilaku alami mereka, sekaligus mempersiapkannya untuk kembali ke alam liar. Rehabilitasi ini meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh, pengaturan diet spesifik, serta pemberian fasilitas dan kegiatan yang mendukung perilaku alami mereka. Kegiatan rehabilitasi penting untuk memastikan kukang-kukang tersebut siap dilepasliarkan di habitat.
Pemasangan GPS collar pada kukang (Rendi Afandi |YIARI)
Setelah menyelesaikan proses rehabilitasi, tahapan selanjutnya yaitu translokasi dan habituasi. Translokasi adalah proses pengangkutan satwa dari pusat rehabilitasi ke kandang habituasi di lokasi pelepasliaran (yang berada di kawasan TNGHS), salah satu habitat sebaran kukang jawa di Pulau Jawa.
Kawasan Resort PTN Gunung Kendeng, Seksi PTNW III Sukabumi BTNGHS, dipilih sebagai lokasi pelepasliaran berdasarkan beberapa pertimbangan utama, yaitu ketersediaan pakan, keamanan lokasi dari perburuan atau gangguan, serta jarak yang relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik dengan masyarakat. Selain itu, pemilihan lokasi ini juga telah dikukuhkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Nomor: SK. 50/KSDAE/SET.3/KSA.2/3/2021 tentang Penetapan Lokasi Pelepasliaran Lima Jenis Satwa di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak periode tahun 2021 – 2025. Keputusan ini menetapkan area dengan kesesuaian habitat sebesar 22.848,1 Ha dan area prediksi pelepasan sebesar 15.578,4 Ha, termasuk habitat untuk kukang jawa. Lokasi translokasi ini berjarak sekitar 36 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, dengan perjalanan darat yang memakan waktu sekitar empat jam, diikuti berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.
Di kandang habituasi yang luasnya sekitar 18 m2 dan terbuat dari jaring serta bambu, kukang diberi pakan dan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru secara bertahap selama sekitar satu minggu. Proses adaptasi penting untuk memastikan kukang mampu bertahan sebelum dilepas ke alam. Pelepasliaran juga dilakukan pada malam hari, memberikan mereka akses untuk keluar dari kandang habituasi dan menjelajah habitat baru secara mandiri.
Tim YIARI dibantu beberapa warga lokal membawa kandang transpor kukang melewati wilayah hutan Kawasan Gunung Kendeng (Rendi Afandi |YIARI)
Tahapan terakhir dari proses ini adalah pemantauan pasca pelepasliaran, yang dilakukan selama dua hingga tiga bulan dengan menggunakan GPS collar. Pemantauan bertujuan untuk melacak adaptasi kukang pada habitat baru mereka, memastikan mereka mampu bertahan hidup, mencari makan, dan berperilaku sesuai kebutuhan alaminya.
Translokasi salah satu kukang ke kandang habituasi oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Budhi Chandra, S.H., M.H., (Rendi Afandi |YIARI)
Upaya pelepasliaran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi ekologis kukang di habitat alami mereka, sekaligus sebagai langkah edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi.
Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI, menekankan pentingnya pelepasliaran sebagai indikator keberhasilan dalam konservasi satwa liar. “Pelepasliaran kukang jawa ini merupakan puncak dari upaya penyelamatan panjang dan teliti, dimulai dari proses penyelamatan, rehabilitasi, hingga akhirnya pelepasliaran ke habitat alami mereka. Kami berharap kegiatan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan satwa yang dilepasliarkan, serta menyediakan data untuk studi lanjutan tentang konservasi kukang jawa.”
Seremoni pelepasliaran yang dihadiri oleh BTNGHS, BBKSDA Jabar, YIARI, Camat Kabandungan, Kepala Kepolisian Sektor Klapanunggal, serta Komandan Rayon Militer Klapanunggal (Rendi Afandi |YIARI)
Budhi Chandra, S.H., M.H., selaku Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, memberi tanggapan terkait kegiatan ini. “Pelepasliaran kukang jawa ini bukan hanya langkah penting dalam konservasi satwa yang terancam punah, tetapi juga merupakan wujud nyata komitmen kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa liar dan lingkungan kita.”
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Agus Arianto, S.Hut., turut menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah mendukung program pemerintah dalam pelestarian satwa liar dilindungi. “Kami menghimbau segenap lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan kelestarian satwa liar dilindungi kukang jawa di habitatnya, karena kelestarian dapat terwujud dari kepedulian dan komitmen bersama. Mencintai satwa liar tidak berarti harus dilakukan dengan cara memelihara, sejatinya dengan membiarkannya hidup di alam liar, di habitatnya merupakan bentuk mencintai satwa liar sesungguhnya.”
Translokasi dan Pelepasliaran Kukang, Monyet Ekor Panjang, serta Beruk di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Siaran Pers
Lampung, 27 Juli 2024 – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan mitra kerja Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan program translokasi dan pelepasliaran satwa. Acara ini diadakan di Kawasan Hutan Resort Balik Bukit, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Satwa yang dilepasliarkan adalah empat individu kukang sumatera (Nycticebus coucang), empat individu beruk (Macaca nemestrina), dan dua puluh individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di Indonesia.
Proses translokasi salah satu satwa ke kandang habituasi (Rendi Afandi | YIARI)
Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa telah menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat rehabilitasi YIARI yang memiliki perjanjian kerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat. Mereka dipersiapkan kembali ke alam setelah beberapa di antaranya diserahkan oleh masyarakat Jawa Barat, disita dari aktivitas perdagangan ilegal oleh Pihak Kepolisian (Polda Metro Jaya), atau ditemukan terlibat dalam konflik di sekitar area rehabilitasi. Proses rehabilitasi meliputi penilaian mendalam terhadap kesehatan fisik dan perilaku, memastikan mereka siap beradaptasi dengan lingkungan aslinya.
Pentingnya translokasi dan pelepasliaran terletak pada perannya dalam memulihkan populasi satwa di habitat asli mereka, mengurangi konflik antara manusia dan satwa, serta mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu. Selain membantu memastikan kelangsungan hidup satwa-satwa di alam liar, kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.
Perjalanan menuju kandang habituasi di dalam kawasan hutan TNBBS (Fattreza Ihsan | YIARI)
Resort Balik Bukit di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena menyediakan ekosistem yang ideal untuk keberlangsungan hidup berbagai satwa. Area ini menawarkan berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sekunder hingga tepi hutan dan perkebunan, yang semuanya mendukung kehidupan kukang, monyet ekor panjang, dan beruk. Faktor penting lain dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan pakan alami yang melimpah, seperti tumbuhan, serangga, reptil, dan burung kecil. Selain itu, tingkat kesadaran dan dukungan dari masyarakat setempat juga membantu meminimalkan potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa-satwa yang dilepasliarkan.
Kegiatan seremoni translokasi yang merupakan kolaborasi multipihak (Fattreza Ihsan | YIARI)
Rangkaian kegiatan pelepasliaran turut mengundang masyarakat setempat di Kecamatan Balik Bukit untuk berpartisipasi dalam acara pembukaan rangkaian pelepasliaran satwa. Pada acara pembukaan, masyarakat setempat diimbau untuk lebih peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar di alam. Harapannya, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan wilayah konservasi TNBBS.
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dalam upaya konservasi primata Indonesia melalui penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), reintroduksi/pelepasliaran satwa liar tersebut ke habitat alaminya, hingga pemantauan pasca lepas liar. YIARI memiliki fasilitas Pusat Rehabilitasi Satwa Ciapus yang juga berfungsi sebagai kantor dari YIARI, di Jl. Curug Nangka. Kp. Sinarwangi RT004/RW005, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari – Ciapus, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Sei Awan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. YIARI juga didukung oleh International Animal Rescue (IAR) dan bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi, instansi pendidikan, hingga sektor privat. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, kami berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.
BBKSDA Bersama YIARI Melepasliarkan 6 Satwa Dilindungi Kukang Jawa di Gunung Papandayan
Garut, 7 Mei 2024 – Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) berhasil melepasliarkan enam kukang jawa (Nycticebus javanicus) dikawasan CA/TWA Gunung Papandayan. Enam kukang jawa yang dilepasliarkan terdiri dari tiga individu kukang jantan bernama Apem, Nasrul, Tero, serta tiga kukang betina bernama Cibun, Sambal, dan Jahe. Kukang yang merupakan satwa dilindungi ini merupakan serahan masyarakat di berbagai daerah kepada BKSDA Jawa Barat. Satwa endemik Pulau Jawa ini dinyatakan dapat kembali bebas ke habitatnya setelah menjalankan proses rehabilitasi di pusat rehabilitasi YIARI yang berlokasi di Ciapus, Jawa Barat.
Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Salah satu habitat potensialnya berada di kawasan konservasi Gunung Papandayan Blok Hutan Kawah. Kawasan GP Resort Papandayan blok hutan kawah ini secara administratif berada di desa Karya Mekar, kecamatan Pasir Wangi, kabupaten Garut. Lokasi ini juga berada di dalam Wilayah Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Star Energy Geothermal Darajat.
Penentuan lokasi pelepasliaran ini juga mempertimbangkan ketersediaan pakan, keamanan dari perburuan atau gangguan, juga mempertimbangkan keberadaan populasi satwa yang sudah ada untuk menghindari potensi konflik teritorial. Lokasi pelepasliaran juga harus relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik baru dengan manusia.
Kegiatan pelepasliaran ini merupakan kabar yang menggembirakan karena salah satu dari kukang ini merupakan korban perdagangan satwa liar. Kukang bernama Apem ini datang ke pusat rehabilitasi dengan kondisi gigi yang mengalami infeksi. drh. Indri Saptorini, salah satu dokter hewan YIARI yang menangani Apem mengungkapkan bahwa gigi merupakan organ yang esensial untuk kukang. “Selain sebagai alat untuk mencari makan, gigi kukang juga berfungsi sebagai alat pertahanan diri.” Infeksi gigi yang cukup parah membuat tim animal management YIARI khawatir Apem tidak mungkin bisa dilepaskan ke alam lagi.
Tim pelepasliaran yang terdiri dari Staf BBKSDA Jawa Barat, YIARI, dan masyarakat lokal menembus hutan Gunung Papandayan untuk mencapai kandang translokasi (Rendi Afandi | YIARI)
Pemeriksaan lanjutan Apem menunjukkan infeksi tersebut hanya menyerang beberapa gigi, sehingga masih ada harapan gigi yang tersisa dapat berfungsi dengan baik. Harapan ini pun ternyata terwujud. Tim manajemen satwa yang terdiri dari dokter hewan dan perawat satwa melihat perilaku mencari makan (foraging) dan makan Apem sangat baik, layaknya kukang di alam liar. Kabar baiknya, berdasarkan hasil evaluasi Apem kemudian dinyatakan bisa kembali ke habitatnya di alam!
Kabar ajaib ini juga datang dari Nasrul, kukang jantan serahan masyarakat ke BKSDA Bandung. Ketika sampai ke pusat rehabilitasi, sudah terdapat luka pada matanya. Luka ini menimbulkan infeksi, sehingga dokter hewan harus menanganinya dengan operasi pengambilan mata. Meski kini hanya hidup dengan satu buah bola mata, Nasrul tetap dinyatakan mampu bertahan di alam.
Perjalanan keenam ekor kukang ini dimulai dari kandang rehab ke kandang transport untuk membawa kukang secara aman dan nyaman dalam perjalanan. Sebelum menempuh perjalanan pandang ini tim animal management memastikan mereka tercukupi kebutuhan nutrisinya. Tim pelepasliaran menggunakan empat kandang transport yang masing-masing berisi satu ataupun dua ekor kukang.
Titik pelepasliaran yang berada di Kecamatan Pasirwangi, Garut ini berjarak sekitar 278 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor. Perjalanan ditempuh melalui jalur darat menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar 8 jam, lalu dilanjutkan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit.
Apem, salah satu kukang jawa yang telah direhabilitasi, ditranslokasi ke kandang habituasi oleh Andi Witria Rudianto, Kepala Bidang KSDA Wilayah III BBKSDA Jawa Barat (Rendi Afandi | YIARI)
Sesampainya di lokasi, mereka akan dipindahkan ke kandang habituasi yang telah dibangun dahulu, sebelum nantinya dilepasliarkan ke alam bebas. Kandang habituasi ini berupa area seluas 18 meter persegi yang diberi pagar dari jaring dan bambu ini berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama ± (kurang lebih) 1 minggu. Pada tahapan ini, satwa masih diberikan pakan agar kebutuhan pakan satwa tercukupi, sebelum dilepasliarkan ke luar kandang habituasi. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI akan mengamati perilaku serta kesehatan seluruh kukang tersebut. Jika dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.
Pemerintah Indonesia sudah menetapkan kukang jawa ke dalam satwa yang dilindungi melalui Undang – Undang no. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi dan diperbaharui dengan PermenLHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018. International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga mendaftarkan jenis primata ini sebagai satwa terancam (Endangered). Kukang jawa juga termasuk ke dalam apendiks I menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang artinya dilarang diperjualbelikan.
Upaya konservasi kukang telah banyak dilakukan, diantaranya pelepasliaran dan peningkatan kesadaran masyarakat, sehingga menunjukkan populasi kukang di alam semakin membaik. Jumlah kukang yang dititiprawatkan di pusat rehabilitasi kami pun menunjukkan jumlah yang paling kecil selama 5 – 10 tahun terakhir. Untuk mempertahankan ini, perlu adanya upaya monitoring perdagangan kukang terus menerus untuk memastikan upaya-upaya konservasi yang dilakukan telah berhasil.
Nasrul adalah salah satu kukang yang mendapat perhatian khusus selama rehabilitasi, hal ini karena ia mengalami kebutaan pada mata kanannya. Untungnya hasil pengamatan menunjukkan ia layak untuk dilepasliarkan (Rendi Afandi | YIARI)
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Bapak Irawan Asaad, Ph.D menyampaikan apresiasinya dalam upaya penyelamatan satwa liar. “Kami menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah sekian lama bersama Balai Besar KSDA Jawa Barat melakukan upaya-upaya penyelamatan terhadap satwa liar dilindungi, khususnya Kukang Jawa. Hingga saat ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat mencatat upaya penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar dilindungi Kukang Jawa di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Barat, merupakan satwa liar terbanyak dibandingkan satwa liar lainnya. Hal ini menandakan peredaran ilegal satwa liar kukang di tengah masyarakat dapat dikatakan masih banyak. Penting untuk diperhatikan bersama, bahwa satwa liar kukang merupakan satwa liar yang lebih baik hidup di alamnya, karena satwa liar tersebut bukan satwa peliharaan, bahkan tidak benar secara hukum untuk diperjualbelikan dengan cara-cara bertentangan dengan peraturan perundangan. Pesan kami kepada masyarakat, jangan memelihara kukang dan jangan memperjual belikan kukang, biarkan satwa liar kukang jawa tetap hidup di habitatnya.”
Direktur Utama YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan apresiasinya atas kerjasama multipihak untuk konservasi satwa liar, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat pada kegiatan pelepasliaran ini. Kesadaran dan upaya multipihak dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terciptanya ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia. Untuk itu, terus jaga dan tingkatkan kolaborasi dan sinergi untuk menjaga satwa liar dan habitatnya.”
Kisah Peyot, Kukang Jawa yang Berhasil Diselamatkan Melalui Operasi Gastrotomi
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Di awal tahun 2024 ini, klinik pusat rehabilitasi YIARI telah menangani Trichobezoar berupa rambut yang bersemayam di lambung Peyot. Peyot merupakan kukang betina dewasa yang tinggal di pusat rehabilitasi dari tahun 2016. Pada saat itu Peyot diselamatkan dari kasus perdagangan satwa liar ilegal. Peyot datang ke pusat rehabilitasi dengan kondisi gigi sudah terpotong dan mengalami infeksi sehingga membutuhkan perawatan medis.
Perawatan pertama yang diterima Peyot adalah pencabutan gigi untuk menyembuhkan infeksi sehingga tidak terjadi hal-hal fatal untuk kedepannya, lalu dilanjutkan dengan perawatan dan pemulihan. Setelah berada di pusat rehabilitasi, kondisi Peyot menunjukkan grafik positif yaitu kondisi badan stabil, nafsu makan baik, dan juga aktif di kandang.
Sampai pada bulan Desember 2023, Peyot menunjukkan beberapa gejala yang menandakan kondisi kesehatannya tidak baik. Melihat kondisi Peyot yang tidak seperti biasanya, dokter hewan di pusat rehabilitasi segera mengambil tindakan berupa pemeriksaan kesehatan. Berdasarkan hasil pengamatan, Peyot menunjukkan gejala berupa berupa penurunan aktivitas dan nafsu makan, area perut teraba membesar dan keras, serta ditemukan serat rambut pada feses.
Hasil rontgen yang menunjukkan gumpalan yang berada di lambung Peyot (YIARI)
Setelah dilakukan pemeriksaan tersebut, dilakukan juga tindakan rontgen modifikasi untuk mengetahui lebih lanjut kondisi lambung Peyot yang semakin membesar. Rontgen modifikasi dilakukan dengan cara memasukkan udara ke lambung untuk mendapatkan citra kontras dari lambung. Berdasarkan hasil rontgen Peyot diketahui mengalami Trichobezoar berupa gumpalan rambut.
Trichobezoar merupakan kondisi dimana terdapatnya benda asing yang masuk kedalam lambung dan bisa memenuhi lambung (Tetrania 2022). Berdasarkan hasil wawancara dengan drh. Nur Purba Priambada, dokter hewan yang menangani Peyot, Trichobezoar merupakan hal umum dan lumrah terjadi pada kukang karena aktivitas kukang yang sering menjilati tubuhnya, hal tersebut menjadi penyebab rambutnya tidak sengaja tertelan dan terperangkap di saluran pencernaan ketika rambut yang masuk berlebihan. Selain disebabkan oleh aktivitas kukang menjilati tubuhnya, Trichobezoar juga bisa terjadi akibat overgrooming, yang merupakan aktivitas satwa menggosok badan secara berlebihan yang bisa menyebabkan rambut rontok bahkan menyebabkan kulitnya luka.
Penanganan Trichobezoar pada Peyot oleh drh. Nur Purba Priambada dan drh. Imam Arifin (Rendi Afandi | YIARI)
Setelah dilakukan pemeriksaan, diputuskan dilakukan tindakan operasi gastrotomi. Gastrotomi merupakan upaya pembuatan saluran permanen atau sementara dibuat melalui pembedahan pada dinding perut langsung menuju ke lambung. Pembedahan ini digunakan untuk mengambil gumpalan rambut yang terdapat di lambung Peyot. Terdapat satu gumpalan yang terdapat di lambung Peyot dengan berat total 34 gram.
Kondisi Peyot setelah selesai dilakukan operasi gastrotomi (Rendi Afandi | YIARI)
Bentuk gumpalan rambut yang telah berhasil diangkat dari lambung Peyot (Rendi Afandi | YIARI)
Setelah dilakukan pembedahan, saatnya Peyot masuk ke masa pemulihan. Pada masa pemulihan terdapat perawatan tersendiri di antaranya menjaga kebersihan di sekitar bekas pembedahan, pengawasan kondisi kulit, pemilihan pemberian pakan (makanan dengan tekstur halus). Menurut drh. Nur Purba Priambada, operasi gastrotomi pada kukang membutuhkan waktu satu sampai dua minggu untuk bisa pulih ke kondisi normal. Tetapi, hebatnya Peyot sudah pulih dalam waktu hanya dalam waktu tiga hari. Hal tersebut ditunjukkan dari nafsu makan Peyot yang kembali normal dan beraktivitas seperti biasa, walaupun belum terlalu aktif dan masih memilih makanan lunak. Untuk menghindari kejadian tersebut terulang lagi, perawat hewan di klinik berusaha melakukan serangkaian penanganan lanjutan seperti pemberian obat pelancar pencernaan dan pemberian enrichment.
Setelah dilakukan operasi gastrotomi ini, diharapkan Peyot sehat kembali dan aktivitasnya lebih aktif.
Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.
Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭
Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan.
Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.
Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob!
1. Genus Nycticebus (Kukang)
Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)
Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang! Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.
Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢
Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat!
Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.
Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas.
Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.
Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Genus Tarsius (Tarsius)
Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal).
Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil.
Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.
Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭
Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya.
Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman.
3. Genus Macaca (Makaka)
Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎
Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved | iNaturalist)
Macaca nigra (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)
Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.
Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi.
Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya.
Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit.
4. Genus Presbytis (Surili)
Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.
Presbytis percura (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas (Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger (Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)
Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani,Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis.
Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍
Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda.
P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat.
Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).
Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.
Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.
Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.
5. Genus Simias (Simakobu)
Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣
Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas.
Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut.
Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.
6. Genus Pongo (Orangutan)
Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭
Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!
(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Spesies
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orangutan sumatera(Pongo abelii)
Orangutan tapanuli(Pongo tapanuliensis)
Habitat
Hutan Kalimantan
Hutan Sumatra
Hutan Sumatra
Ciri Warna
Warna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.
Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga.
Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantan
Bantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.
Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan.
Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.
Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi.
Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍
Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!
Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!