Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Pengamanan Hutan bersama KPH Batutegi: Misi Menjaga Jantung Hutan Sumatera dari Perambahan

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Lampung merupakan salah satu kawasan hutan paling vital di Pulau Sumatra. Kawasan ini menjadi habitat alami bagi beragam flora dan fauna, termasuk spesies endemik yang hanya ditemukan di Indonesia.

Namun, ancaman perambahan hutan yang semakin masif berpotensi merusak keseimbangan ekologis dan mengganggu keberlangsungan hidup spesies di dalamnya. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini dapat berdampak jangka panjang bagi kelestarian lingkungan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menerapkan pendekatan konservasi berbasis teknologi. Tim gabungan di lapangan terus melakukan pengamanan dan pengawasan terhadap potensi perusakan.

Seperti apa strategi dan penerapannya? Simak uraian berikut ini!

Mengenal Kesatuan Pengelolaan Hutan Batutegi 

Hutan Lindung Batutegi membentang seluas ±58.174 hektare di wilayah Provinsi Lampung, mencakup tiga kabupaten: Tanggamus, Lampung Barat, dan Lampung Tengah. Selain berfungsi sebagai daerah aliran sungai (DAS) prioritas, kawasan ini juga menyimpan kekayaan biodiversitas tinggi yang memiliki nilai ekologis dan konservasi luar biasa.

Sejak tahun 2008, YIARI telah aktif melakukan kegiatan konservasi di kawasan ini, dengan fokus awal pada perlindungan satwa liar serta rehabilitasi habitat. Patroli rutin dan pemantauan populasi satwa menjadi bagian dari upaya perlindungan tersebut.

Kolaborasi antara YIARI dan KPH Batutegi semakin diperkuat seiring meningkatnya ancaman perambahan hutan. Menyikapi hal ini, pada tahun 2025, YIARI kembali melanjutkan program pengamanan hutan bersama KPH Batutegi sebagai wujud komitmen jangka panjang dalam menjaga ekosistem hutan tetap lestari.

Dengan dukungan teknologi modern seperti sistem pemantauan berbasis GPS, drone pengawas, dan aplikasi pelaporan cepat, tim di lapangan mampu merespons potensi ancaman secara lebih efisien. Strategi ini tidak hanya menekan angka perambahan, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan dan sumber daya hayati yang berkelanjutan.

Menelusuri Jejak Perambahan di Hutan Rindingan

Potongan sisa kayu penebangan liar di Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Memahami kondisi dan ancaman di lapangan merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam upaya menjaga kelestarian hutan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Blok Inti Rindingan, sebuah kawasan konservasi strategis di Hutan Lindung Batutegi.

Kawasan ini tidak hanya menjadi habitat penting bagi berbagai spesies langka, tetapi juga menyediakan jasa ekosistem yang vital bagi lingkungan sekitar.

Sayangnya, Blok Inti Rindingan menghadapi tekanan berat akibat aktivitas perambahan ilegal yang terus berlangsung. Pembukaan lahan tanpa izin, penebangan pohon secara liar, serta praktik perburuan satwa mengganggu keseimbangan alam dan mempercepat kerusakan ekosistem.

Jika dibiarkan, dampaknya dapat meluas: mulai dari terganggunya sumber air, menurunnya keanekaragaman hayati, hingga kerusakan sistem ekologis yang menopang kehidupan masyarakat lokal.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, KPH Batutegi bersama YIARI terus memperkuat upaya pengamanan hutan. Salah satu bentuk nyata dari komitmen ini diwujudkan melalui patroli gabungan yang dilakukan secara berkala.

Pada 22 Januari 2025, tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut) KPH Batutegi dan staf lapangan YIARI melakukan patroli intensif di Blok Inti Rindingan. 

Medan yang berat dan akses yang terbatas tidak menyurutkan semangat tim untuk menjangkau area-area rawan perambahan guna melakukan pendataan dan pengamatan langsung terhadap kondisi hutan.

Polhut KPH Batutegi dan Tim YIARI menemukan sebuah gubuk liar beratap warna biru di tengah area perambahan Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Hasil patroli menunjukkan, sebagian kawasan telah mengalami kerusakan akibat aktivitas ilegal. Tim menemukan sejumlah bukti seperti gubuk liar yang dibangun secara sembunyi-sembunyi, jejak kendaraan berat, sisa kayu tebangan, serta lahan yang mulai dibuka tanpa izin resmi.

Temuan ini mengonfirmasi praktik perambahan masih menjadi ancaman nyata dan mendesak untuk segera ditangani.

Oleh karena itu, pengawasan dan patroli tidak hanya penting sebagai tindakan pencegahan, tetapi juga sebagai bentuk penegakan hukum yang konsisten.

Langkah-langkah konkret dan berkelanjutan sangat diperlukan agar kelestarian Hutan Lindung Batutegi, khususnya Blok Inti Rindingan, dapat terus terjaga bagi generasi mendatang.

Teknologi dan Tindakan Cepat dalam Pengamanan Hutan

Untuk merespons temuan lapangan secara efektif, tim patroli melakukan pendataan terhadap area terdampak sekaligus segera mengambil tindakan pengamanan yang terukur. Berbekal dukungan teknologi pemantauan canggih, proses pengawasan kini dilakukan secara lebih sistematis, akurat, dan responsif.

Salah satu teknologi utama yang dimanfaatkan adalah Global Forest Watch (GFW)—sebuah platform berbasis citra satelit yang memungkinkan deteksi perubahan tutupan hutan secara real-time.

Dengan sistem ini, aktivitas perambahan dapat dipantau sejak dini, sehingga tim dapat langsung mengarahkan patroli ke titik-titik rawan.

Tampak atas area terdampak perambahan di Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Untuk menjangkau area yang sulit diakses, tim juga mengoperasikan drone yang memberikan gambaran visual menyeluruh tentang kondisi hutan dari udara.

Sementara itu, aplikasi SMART Patrol dimanfaatkan untuk mencatat dan menganalisis temuan di lapangan. Data yang dikumpulkan melalui aplikasi ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan, mulai dari penentuan pola patroli hingga perumusan strategi tindak lanjut.

Penggunaan teknologi tidak hanya mempercepat respons terhadap perambahan, tetapi juga memungkinkan evaluasi yang lebih komprehensif terhadap efektivitas pengamanan hutan. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu menekan risiko kerusakan sekaligus mendukung perencanaan konservasi jangka panjang yang berkelanjutan dan adaptif.

Satu Tahap dalam Melindungi Habitat

Patroli gabungan yang dilaksanakan pada 22 Januari 2025 merupakan salah satu langkah penting dalam upaya berkelanjutan melindungi habitat Hutan Lindung Batutegi.

Kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk menghentikan praktik perambahan, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi besar dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan.

Namun, perlindungan habitat tidak berhenti pada patroli dan penindakan semata. Setelah titik-titik perambahan berhasil diidentifikasi, tahap selanjutnya adalah pemulihan ekosistem yang terdampak. Proses rehabilitasi—seperti penanaman kembali pohon di lahan terbuka—menjadi komponen penting dalam memperbaiki struktur hutan dan memulihkan fungsi ekologisnya.

Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi kunci dalam menciptakan perlindungan yang berkelanjutan. Edukasi dan pemberdayaan komunitas lokal terus dilakukan agar mereka tidak hanya memahami pentingnya menjaga hutan, tetapi juga memiliki alternatif penghidupan yang tidak bergantung pada eksploitasi sumber daya hutan secara ilegal.

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan

Melindungi Hutan Lindung Batutegi bukanlah upaya sesaat, melainkan komitmen jangka panjang demi memastikan keberlangsungan ekosistem dan kehidupan yang bergantung padanya. Upaya ini mencakup berbagai aspek—dari patroli rutin, penerapan teknologi pemantauan, hingga pemberdayaan komunitas lokal sebagai garda terdepan pelestarian.

KPH Batutegi, YIARI, serta para pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat sinergi dan kolaborasi. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi fondasi kuat dalam menjaga kelestarian ekosistem secara menyeluruh.

Namun, menjaga hutan bukan hanya tugas mereka yang berada di garis depan. Ini adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, untuk turut mendukung pelestarian hutan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menyebarkan informasi tentang pentingnya konservasi hutan kepada orang sekitar.
  • Mendukung penggunaan produk yang ramah lingkungan dan diproduksi secara berkelanjutan.
  • Mengurangi konsumsi kertas dengan memilih dokumen digital atau menggunakan kertas daur ulang.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon atau mendukung program reforestasi dan konservasi lokal.

Setiap langkah kecil memiliki arti besar bagi masa depan hutan kita. Jangan biarkan praktik perambahan terus merusak warisan alam yang begitu berharga. Kini saatnya kita bergerak bersama—menjaga hutan berarti menjaga kehidupan itu sendiri!

Featured image: Sebuah gubuk ilegal berwarna biru di tengah lokasi perambahan Hutan Lindung Batutegi

Editor: Hasna Latifatunnisa

Sejauh Mana Pengembangan Inovasi untuk Kelestarian Hutan dan Penerapannya?

Selamat Hari Hutan Sedunia Sobat#KonservasYIARI! Yap, tanggal 21 Maret merupakan peringatan untuk Hari Hutan Sedunia. Hari Hutan Sedunia tahun 2024 ini mengusung tema “Forests and Innovation: New Solutions for a Better World” atau yang  memiliki arti “Hutan dan Inovasi: Solusi untuk Bumi yang Lebih Baik”. Hari penting ini digagas oleh PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) dan ditetapkan dalam resolusi PBB 67/200 pada 21 Desember 2012. Digagasnya Hari Hutan Sedunia memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan dan pepohonan bagi kehidupan. 

Ilustrasi deforestasi (Aleksey kuprikov | Canva)

Kondisi hutan saat ini

Kondisi hutan saat ini menjadi cerminan bahwa ekosistem hutan sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Dari masa ke masa hutan terus dimanfaatkan tanpa henti, semakin meningkat populasi manusia maka semakin besar pula pemanfaatan ekosistem hutan. Kelengahan menjadi salah satu penyebab menjadikan kondisi hutan semakin kritis.  Permasalahan yang mengancam hutan diantaranya deforestasi, pencemaran lingkungan, perdagangan flora dan fauna ilegal, kerusakan ekosistem, deforestasi dan masih banyak lagi.  

Akan tetapi, kondisi hutan di Indonesia dari tahun 2021-2022 mencetak penurunan deforestasi tertinggi yaitu sebesar 8.4% atau setara dengan 104 ribu ha. Jika dilihat data sebelumnya maka laju deforestasi di Indonesia relatif rendah dan stabil. Hal tersebut merupakan hasil usaha dan berbagai pengembangan inovasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan, yang didukung oleh berbagai pihak lain seperti NGO yang bergerak dibidang lingkungan, akademisi dan peneliti lingkungan, dan pihak lain yang berkontribusi dalam kelestarian hutan.  

Ilustrasi pemanfaatan hasil hutan kayu (KVVS.Studio | Canva)

Manfaat Hutan

Gencarnya kegiatan pelestarian hutan dilatarbelakangi oleh begitu besarnya kontribusi hutan untuk kehidupan.  Terdapat manfaat yang banyak dari adanya ekosistem hutan, diantaranya berupa penunjang untuk produksi pangan. Ekosistem hutan memiliki kontribusi dalam pengaturan iklim, kualitas air dan tanah, keanekaragaman hayati dan penyerbukan yang berdampak untuk sistem pangan pertanian berkelanjutan. 

Ilustrasi pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat (Balasz Simon | Canva)

Selain itu ekosistem hutan juga berpengaruh terhadap kesejahteraan kehidupan makhluk hidup, terutama manusia. Hutan menutupi sekitar 30% dari permukaan bumi, hutan tersebut menyediakan barang-barang yang dimanfaatkan seperti kayu, bahan bakar, makanan dan pakan ternak, tanah, sungai dan waduk untuk keberlangsungan hidup semua makhluk. 

Hutan hampir dimanfaatkan pada seluruh aspek, tidak bisa dipungkiri sektor kehutanan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Diperkirakan lebih dari setengah produksi ekonomi dunia (seperti PDB) bergantung pada jasa ekosistem, termasuk yang disediakan oleh hutan. Lebih dari setengah total penduduk dunia diperkirakan menggunakan hasil hutan bukan kayu adalah penunjang kesejahteraan dan sumber mata pencaharian masyarakat.

Ilustrasi penggunaan inovasi digital (drone mapping) sebagai upaya pelestarian hutan  (Dariolopresti | Canva)

Pemanfaatan inovasi teknologi dan digitalisasi

Pada pemanfaatannya, hutan harus diiringi dengan pengelolaan supaya tetap lestari dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dalam hal ini dicanangkan inovasi yang diterapkan untuk kelestarian hutan yaitu inovasi teknologi 4.0. Inovasi teknologi 4.0 diharapkan untuk membantu membawa perubahan, memungkinkan tata kelola hutan menjadi lebih efisien dan efektif. 

Dari uraian diatas, pasti Sobat#KonservasYIARI pengen tau kan sudah sampai mana sih bidang kehutanan di Indonesia menerapkan inovasi teknologi untuk kelestarian hutan? Jadi, di Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan berbagai pengembangan inovasi teknologi dan pengembangan informasi berbasis aplikasi digital. Bentuk dari pengembangan inovasi tersebut diantaranya Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (SIPUHH), Sistem Penerimaan Negara Bukan Pajak Secara Online (SIMPONI), dashboard pemantau untuk hutan produksi dan Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK).

Pemanfaatan pengembangan inovasi non-teknologi

Pengembangan inovasi tidak hanya melalui teknologi dan digitalisasi, pengembangan inovasi non-teknologi juga tidak kalah penting untuk diterapkan untuk kelestarian hutan. Dalam penerapan inovasi tersebut KLHK juga merilis kebijakan Multiusaha Kehutanan, penerapan beberapa kegiatan usaha dalam satu perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).

Berdasarkan hal tersebut, peran inovasi untuk kelestarian hutan sangat signifikan. Seperti pemantauan real-time, efisiensi energi dan biaya, problem solving dan masih banyak lagi. 

Inovasi teknologi ini harus dimanfaatkan secara tepat, jika tidak dimanfaatkan dengan tepat inovasi teknologi dapat berdampak buruk pada hutan. Dampak penyimpangan pemakaian teknologi tersebut dapat mempercepat deforestasi hutan, degradasi hutan, kerusakan ekosistem dan eksploitasi. Jadi, manfaatkan inovasi teknologi/digitalisasi dengan benar ya sob untuk membantu terjaganya kelestarian hutan kita. 

Yuk, ikut berkontribusi untuk bumi yang lebih baik dengan memanfaatkan digitalisasi! Caranya share artikel ini melalui akun media sosial kamu sebanyak-banyaknya ya!

Ria Risyanti

Singkat namun Bermakna, Pengalaman Magang Trio Mahasiswa KSHE IPB melalui Program Merdeka Belajar

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Seneng banget, deh, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) di departemen kami yaitu departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Bagaimana keseruannya? Inilah pengalaman kami bertiga selama magang di YIARI!

HAFIZA RIZKI NURBAITI

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Nama saya Hafiza Rizki Nurbaiti, biasa dipanggil Fiza. Saya mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Pada dasarnya, magang di semester 7 merupakan program MBKM wajib di departemen KSHE, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang tersebut.

Saat stalking media sosialnya YIARI, benak saya langsung berkata “Hah keren banget sosmednya! Pengen deh ngajuin magang di sini!”. Yap! minat dan passion saya memang ada di digital creative, seperti mendesain dan mengedit. Bagaimana YIARI membuat konten kreatif terkait konservasi dan menyampaikan pesan-pesan konservasi di media sosial membuat saya tertarik untuk mempelajari hal tersebut lebih dalam. Alhamdulillah, pada akhirnya, saya dan kedua teman saya yaitu Ayun dan Idon mendapat kesempatan untuk magang di YIARI selama 20 hari.

“Meski singkat, namun bermakna”

Itulah yang saya rasakan selama magang di YIARI. 

Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)
Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)

Selama magang, saya membuat beberapa desain untuk instagram @iar_indonesia, seperti desain hari besar dan desain hasil kegiatan YIARI yang dikemas secara kreatif dan informatif. Oh ya, saya senang banget karena muka dan suara saya juga bisa debut di instagram @iar_indonesia dari konten reels pengenalan The Power of Mama! Hehe. Selain itu, dalam memperingati Hari Owa Sedunia, saya membuat Filter Instagram sebagai bentuk pembaharuan kampanye konservasi. Filter Instagram tersebut dapat kita temukan dan gunakan di Instagram @gibbonesia, yaitu platfrom kampanye satwa Owa.

Ngomong-ngomong soal Gibbonesia, saat magang saya berkesempatan untuk ikut serta dalam kolaborasi Brotherhood for Nature x Gibbonesia di Lapangan Adiron, Jakarta Selatan. Saya bersama tim kampanye ikut memeriahkan acara peringatan ulang tahun ke-35 Bikers Brotherhood. Dan tahu gak, sih? saya ketemu banyak artis di acara itu! 

Hafiza di Acara Peringatan Ulang Tahun ke-35 Bikers Brotherhood (Dok. Pribadi)

Yap! Saya berkesempatan untuk ngajak Chef Juna, Kang Ferry Maryadi, A Eddi Brokoli, dan Kak Bimo Kusumo Yudo untuk kampanye edukasi Owa dengan tag line “Sayangi, Lindungi, Owa”. Tag line tersebut merupakan tema hari Owa Sedunia yang dibuat bersama oleh Gibbonesia, KIARA dan SwaraOwa. Seru banget deh!

Oh ya, meski saya ditempatkan di divisi/program Media and Communication, YIARI juga mempersilahkan saya, Ayun, dan Idon untuk saling bertukar informasi atau bahkan berbagi job desc sehingga kami mendapat kesempatan yang sama untuk belajar di seluruh divisi/program YIARI. Selama magang, banyak hal yang saya pelajari, terutama mengenai cara membuat positive campaign terkait konservasi.

Bagaimana YIARI bekerja dengan pendekatan holistik, membuat pemahaman saya terkait konservasi semakin luas. Ternyata, kita tidak bisa sendirian dalam menghadapi isu konservasi. Kita harus dapat berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menyukseskan upaya konservasi yang kita lakukan. Selebihnya, coba deh kalian explore sendiri dengan magang di YIARI! Semua pengalaman yang kalian dapatkan di YIARI pasti berguna untuk kehidupan selanjutnya.

DWI NUR AYUNI

Saya Dwi Nur Ayuni, biasa dipanggil Ayun. Berkuliah di IPB pada program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan membuat saya terobsesi pada kegiatan turun lapang. Saat semester 7 (tujuh) kemarin, saya beserta teman-teman satu program studi (prodi) berkesempatan melaksanakan magang di berbagai lokasi mitra dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE). Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah lokasi magang yang saya pilih, begitu juga dengan teman-teman saya yakni Hafiza dan Virdhan. Saya sempat merasa minder karena mereka berdua adalah orang hebat di bidangnya yakni content creator dan orang yang terhitung sangat sering turun lapang. Namun biarlah, setiap orang punya masa dan ceritanya sendiri.

Seperti yang semua orang tahu, YIARI adalah lembaga non-profit yang berkomitmen dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui program-programnya, YIARI berupaya memahami tantangan perlindungan primata, membangun kesadaran masyarakat, dan bekerja sama dengan pemerintah serta komunitas lokal untuk melestarikan primata. Hal tersebutlah yang semakin memotivasi saya untuk melaksanakan magang di YIARI. Selama magang di YIARI, saya berkesempatan untuk belajar menjadi bagian dari tim kampanye. Namun, dalam beberapa kesempatan saya juga turut serta mengikuti kegiatan dari program Animal Management dan menjadi bagian dari tim media untuk dokumentasi kegiatan.

Hasil magang Ayun di YIARI (Dok. Pribadi)

Kegiatan-kegiatan ataupun tugas yang saya kerjakan selama periode magang, tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar mengenai konservasi satwa dan habitatnya, akan tetapi saya juga belajar untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya perlindungan satwa-satwa langka dan dilindungi. Selama magang, saya ditugaskan untuk membuat beberapa konten berupa artikel dan trivia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan primata terutama kukang dan owa jawa. Meskipun awalnya sulit bagi saya yang jarang menulis, saya berhasil menulis beberapa artikel yang beberapa diantaranya dijadikan bahan konten trivia. Menurut saya, ini adalah hal baru dimana saya mengetahui bahwa dibalik konten edukasi sederhana, perlu usaha yang ekstra mulai dari pencarian bahan konten, yang mana sebagai pembuat konten harus tau dan paham apa yang disampaikan, hingga pengeditan konten dengan visual yang menarik sehingga pembaca atau audiens mudah memahami isi konten.

Ayun di Acara Peringatan Hari Owa Sedunia 2023 di PPTK Gambung, Kabupaten Bandung (Dok. Pribadi)

Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan lapangan dalam mendukung konservasi kukang dan owa jawa. Sebagai orang yang lebih suka berkegiatan di luar ruangan, saya sangat menunggu kesempatan ini dan akhirnya yang ditunggu pun datang. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di lapangan, mulai dari koordinasi hingga pembuatan press release supaya khalayak umum mengetahui apa yang sudah dilaksanakan oleh YIARI untuk menjaga komitmennya dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya.

Suasana kerja yang baik dan dukungan yang diberikan oleh tim dari YIARI membuat pengalaman magang pertama saya menjadi sangat berharga dan menyenangkan. Saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kerja ini dan mendapat banyak sudut pandang baru dari rekan-rekan YIARI yang memiliki dedikasi tinggi untuk melindungi primata dan habitatnya. Dengan pengalaman yang saya dapatkan, saya berharap tidak hanya saya, namun semua orang dapat terus berkontribusi dalam upaya pelestarian alam dan menjadi manusia yang membawa perubahan positif dalam masyarakat.

Terima kasih, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.

VIRDHAN AIMAN HADI

Halo, Sobat #KonservasYIARI!  

Saya Virdhan Aiman Hadi, silahkan panggil saya, Idon. Sebagai mahasiswa semester tujuh program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, saya berkewajiban melaksanakan magang. YIARI menjadi tempat yang tanpa ragu, langsung saya pilih. Inilah cerita magangku, tentang konservasi dan orang-orang pekerja keras dibalik suara keras primata yang menggaung di alam bebas.

Aktivitas magang Virdhan (Dok. Pribadi)

Pertama kali lihat ada kesempatan magang disini, saya langsung ambil. Kenapa? Magang di YIARI kalo bagi saya tuh “One of a kind..” banget. Dari pertama kuliah, belajar tentang konservasi, salah satu lembaga non pemerintah yang buat saya tertarik ya YIARI ini. Awalnya sih, karena suka belajar primata dan YIARI juga berfokus pada primata, tapi makin kesini makin kesana, kok YIARI ini keren juga. Dari visinya “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat”, kita bisa lihat bahwa YIARI tidak hanya berfokus untuk menyelamatkan satwa tetapi lebih dari itu, masyarakat pun harus terlibat. 

Berangkat dengan ketertarikan dan minat yang tinggi pada dunia konservasi satwa liar dan sistem informasi geografis, saya sangat menikmati seluruh aktivitas yang telah dilakukan selama magang. Ditempatkan pada Divisi Resiliensi Habitat, saya mendapatkan banyak insight baru tentang upaya konservasi. Salah satunya adalah bahwa untuk menjaga keberlanjutan hidup satwa liar, pendekatan terhadap masyarakat di sekitar kawasan sebegitu pentingnya dan itulah yang dilakukan YIARI. Terbukti dari program yang dilakukan seperti pelatihan SMART Patrol, Community Development, dan juga penyadartahuan kepada masyarakat.

Duduk di kantor, memandang laptop, sambil nyeruput kopi, itu kegiatan saya waktu magang, waktu pura-pura jadi pegawai tetap. Mimpi dulu aja sih. Nah,  Sebenernya, ngapain sih selama magang? kegiatan saya selama magang secara mudahnya berfokus pada tiga hal. Diawali dengan mengolah data SMART Patrol, analisis tutupan lahan dengan sistem informasi geografis, hingga mengikuti patroli di kawasan Resor Gunung Bodas Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kegiatan yang ketiga, merupakan pengalaman paling berkesan buat saya.

Kegiatan patroli di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Dok. Pribadi)

Selama mengikuti patroli, saya jadi punya banyak kesempatan untuk berbincang dengan Tim YIARI yang ikut. Selama disana, saya jadi “anak bawang” Kang Gepeng, Kang Kojek, Kang Marko, Kang Uling dan Mang Nedi. Meskipun “anak bawang”, mereka tidak sungkan untuk mengajak, mengajarkan dan membantu saya selama melaksanakan patroli. Pengalaman paling berkesan selama patroli adalah tidak hanya menjadi duet maut pengambil data bersama Kang Kojek, tetapi banyak pengalaman seru lain seperti melihat elang jawa dari dekat, mendaki gunung melewati lembah, sampai menikmati hari dari kering, hujan, hingga kering lagi. Pokoknya kalo kata anak jaksel, patrolinya tuh “It’s a wrapped.” Jadi, magang di YIARI itu seru, asik, dan insightful!

Semua keseruan saya selama magang menuntun saya untuk belajar bekerja keras. Karena selama disana, saya dipertemukan dengan banyak orang yang mulai dari nol (bukan SPBU) hingga benar-benar paham dan pandai sama pekerjaannya. Dari warga lokal biasa, sampai jadi Local Hero! Disini, teori-teori kuliah yang saya dapat di kelas tentang memberdayakan masyarakat benar-benar jadi bahan bakar untuk konservasi yang berkelanjutan. Keterlibatan multipihak, benar benar memiliki arti. Lebih dari sekadar motivasi, konservasi juga butuh dedikasi. Bukan waktunya basa basi, saatnya beraksi untuk konservasi. Semoga manusia dapat hidup berdampingan dengan satwa, living peacefully in harmony.

Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!

Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯 

Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita! 

Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.

Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!

1. Kehebatan si Petani Hutan

Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob? 

Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru. 

Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi. 

Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏

Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan. 

Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh. 

Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂

2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan

Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga. 

Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)

Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.

Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba. 

Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya. 

Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎 

3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba

Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯

Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)

Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.  

Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁 

Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.

Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.

Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi. 

SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!

Illustrasi: Imam Arifin

 

Elif Ivana Hendastari 

Referensi:

 

Penyelamatan Lutung Jawa di Bogor, Jawa Barat: Diduga eks Peliharaan

Pada 23 Januari 2024, tim gabungan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA)  Jawa Barat Bidang KSDA Wilayah I Bogor dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi melakukan penyelamatan satwa lutung jawa (Trachypithecus auratus). Satwa ini adalah satwa endemik di Pulau Jawa dan dilindungi oleh Pemerintah. Satwa ini juga merupakan satwa langka yang masuk ke dalam daftar satwa terancam punah oleh Redlist IUCN.

Secara kronologis, tim BBKSDA Jawa Barat menerima aduan masyarakat melalui grup WhatsApp Quickresponse Tindak Satwa Liar (TSL) lingkup Bogor pada 22 Januari 2024. Selanjutnya tim berkoordinasi dan berkolaborasi dengan YIARI dalam melakukan evakuasi lutung untuk penyelamatan dan pengamanan satwa di Kotabatu, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dari hasil pemeriksaan awal, lutung jawa ini diperkirakan masih berusia remaja. Lalu, ditemukan pula seutas tali ditemukan masih terikat di pinggangnya. Berdasarkan analisa tim, dari lokasi temuan, usia sang lutung, dan tali yang terikat mengindikasikan bahwa si lutung berasal dari perdagangan dan pemeliharaan ilegal. Biasanya, anakan lutung diburu dari alam, di mana indukannya pasti dibunuh terlebih dulu. Lutung ini kemudian diamankan di kandang translokasi Bidang KSDA Wilayah I untuk ditangani lebih lanjut pada 24 Januari 2024.

Proses pemeriksaan awal lutung jawa oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh Kang Ahong sebagai perawat satwa (Fattreza Ihsan | YIARI)

Meri Juanda, Polisi Kehutanan Mahir BBKSDA Jawa Barat Lingkup Seksi Konservasi Wilayah menyatakan bahwa satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 ini akan dibawa ke kantor bidang terlebih dahulu sebelum dipindah ke pusat rehabilitasi yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap dalam menangani lutung jawa. Beliau juga menyatakan apresiasi kepada masyarakat yang telah melaporkan temuan satwa dilindungi ini kepada stakeholder terkait. “Terima kasih kepada masyarakat semua yang sudah melaporkan satwa dilindungi ini ke Quick Response kami (BBKSDA Jawa Barat). Kami mengapresiasi masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya pelestarian satwa,” ujarnya.

Kegiatan rescue ini dipimpin oleh Imam Arifin, Koordinator Animal Management YIARI sekaligus Dokter Hewan YIARI. Ia memutuskan untuk membius lutung jawa ini supaya proses evakuasi berjalan cepat dan tidak membuat satwa stress lebih lanjut. “Kondisinya (lutung jawa) bagus, ya, Ketika diperiksa pasca pembiusan. Body score condition dari satwa ini juga lumayan optimal. Hanya terdapat ektoparasit seperti kutu sehingga lutung jawa ini juga diberi obat ketika pemeriksaan kesehatan,” ujarnya pasca ia selesai memeriksa sang lutung.

Kondisi lutung sebelum dibawa dan ditindaklanjuti oleh BBKSDA Jawa Barat (Fattreza Ihsan | YIARI)

Lutung ini ditemukan di belakang rumah salah seorang warga di Kotabatu, Ciomas, Bogor, Jawa Barat yang bernama Selpia. Ia menyatakan bahwa lutung ini sudah dua hari berada di pekarangan rumahnya. Ia berinisiatif untuk melaporkan lutung ini ke BBKSDA Jawa Barat dan YIARI setelah mengetahui bahwa lutung jawa adalah satwa dilindungi. “Sepupu saya bilang bahwa lutung adalah satwa yang dilindungi, jadi jangan sembarangan dihampiri. Lalu berdasarkan saran darinya, lutung jawa ini saya laporkan ke pihak yang berwenang,” ujarnya ketika diwawancarai.

.

Mengantar 7 Kukang Jawa ke Gunung Koneng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, mengawali tahun 2024 ini dengan melepasliarkan 7 (tujuh) individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi. Satwa ini termasuk ke dalam satwa dilindungi menurut PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018. Kegiatan kepasliar ini dilakukan hari Jumat, 19 Januari 2024 di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, Balai Taman Nasional Gunung Halimun–Salak, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.

Tujuh kukang jawa yang akan dilepasliarkan ini terdiri dari enam individu kukang jantan bernama Paw-paw, Klap, Kilat, Teru, Ciban, Cibon, serta satu kukang betina bernama Ciben. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat, serta Balai KSDA Yogyakarta. Selain itu, terdapat pula Kukang yang merupakan serahan warga melalui pusat penyelamatan satwa, yang kemudian dititip rawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk menjalani penanganan medis dan proses rehabilitasi sebelum dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan informasi sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Kawasan Resort PTN Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi PTNW III Sukabumi–TNGHS merupakan area pelepasliaran yang sesuai, karena merupakan bagian habitat sebaran kukang jawa. Pertimbangan utama dalam menentukan lokasi rilis adalah daerah yang relatif jauh dari pemukiman, relatif aman dari perburuan atau gangguan, serta terdapat ketersediaan pakan. Lokasi tersebut juga dinilai sesuai berdasarkan kajian kesesuaian habitat pelepasliaran satwa yang dilakukan oleh TNGHS.

Melewati tebing-tebing terjal, tim gabungan pelepasliaran membawa para kukang jawa dalam kandang transport. (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kawasan TNGHS dinilai memiliki ketersediaan pakan potensial Kukang yang melimpah, diantaranya terdapat tumbuhan Puspa (Schima wallichii), Bubuay (Plectocomia elongata), Suwangkung (Caryota rumphiana), Rotan (Calamus sp.), serta tumbuhan herba dan pancang lainnya. Terdapat juga jenis-jenis serangga, reptil dan burung kecil seperti kutilang yang juga merupakan pakan kukang.

Populasi kukang jawa jarang dijumpai di kawasan ini sehingga tingkat kompetisi para kukang yang akan dilepasliarkan untuk mencari makanan menjadi rendah. Dengan tingkat ancaman dan gangguan yang dinilai rendah, juga kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal berbatasan dengan kawasan tersebut sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga satwa liar, menjadikan kawasan memenuhi semua syarat dan cocok untuk menjadi lokasi pelepasliaran. Titik pelepasliaran yang berada di TNGHS ini berjarak sekitar 124 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil selama 4 jam, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.

Tahapan pra-translokasi dan pelepasliaran dilakukan dengan membangun kandang habituasi terlebih dahulu, yang terbuat dari jaring dan bambu dengan luas sekitar 18 m2, sebanyak kurang lebih 5 unit. Kandang habituasi berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama 4-5 hari di dalam kawasan TNGHS. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI mengamati perilaku dan kesehatan seluruh kukang tersebut. Apabila dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.

Manajer Animal Management selaku Dokter Hewan YIARI, drh. Nur Purba Priambada mengantar Teru ke kandang habituasinya. Teru adalah kukang jawa yang berasal dari serahan warga ke BBKSDA Jawa Barat tahun 2023 silam. (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat,  Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan, “Kami mengapresiasi hasil kerja bersama antara Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI, serta Balai TNGHS. Kami sangat berbahagia karena dapat mengawali tahun  2024 ini dengan memulai kembali rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, melepas liar 7 (tujuh) individu kukang, satwa liar paling banyak yang diselamatkan dan dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI. Kami berharap momen ini menjadi momentum penambah erat ikatan kebersamaan dan penambah semangat melestarikan satwa liar dilindungi, perlu diingat bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, kebahagiaan hidupnya berada di tengah hutan bukan di tengah rumah anda, apalagi di kandang peliharaan.”

Ir.Irzal Azhar, M.Si, selaku kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengapresiasi kerjasama multipihak dalam upaya konservasi biodiversitas. “Kami memberikan apresiasi kepada YIARI dan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang telah bekerjasama dengan kami dalam konservasi biodiversitas di TNGHS, khususnya pelestarian kukang jawa melalui upaya rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dengan kegiatan ini kami berharap keseimbangan populasi kukang jawa khususnya dan ekosistem TNGHS secara keseluruhan dapat dipertahankan sehingga kawasan TNGHS tetap dapat memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan.”

Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak atas kerjasamanya pada kegiatan pelepasliaran ini. Semoga kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam upaya konservasi satwa liar, terutama kukang bisa terus terjaga, bahkan meningkat. Semoga kesadaran semua pihak dalam melindungi hutan sebagai rumah satwa-satwa liar juga terus meningkat. Hal ini tentunya untuk mewujudkan kelestarian satwa liar agar dapat terus hidup dengan aman di habitat alaminya.”

.

Penemuan Satwa Langka Kambing-hutan Sumatera di Hutan Lindung Batutegi, Lampung

Kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) merupakan satwa langka yang tersebar di Semenanjung Malaka yang meliputi Malaysia dan Thailand, juga Indonesia. Pada 14 Agustus 2023, di Blok Inti KPH Batutegi, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Tercatat bahwa kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh KPH Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia telah menangkap satwa langka ini. Hal ini menambah jumlah temuan satwa eksotis ini menjadi total 3 kali selama pemasangan kamera jebak di tahun 2022-2023. Sebelumnya tim gabungan menemukan spesies kambing-hutan ini pada 14 Juli 2022 dan 4 November 2022.

Kambing-hutan sumatera yang teramati pada 14 Agustus 2023 (Tanggal pada foto tidak sesuai) (YIARI)

Satwa yang termasuk kategori rentan (vulnerable) dalam Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Uni Internasional untuk Konservasi alam ini bisa hidup pada ketinggian 200 hingga 3000 mdpl, hutan hujan, semak-semak, daerah bebatuan, hingga puncak pegunungan. Di Hutan Lindung Batutegi sendiri, spesies kambing ini ditemukan pada ketinggian 1400 sampai 1700 mdpl di ekosistem hutan bervegetasi rapat serta hutan primer.

Kambing-hutan sumatera berstatus dilindungi sebagaimana dalam PP No.7 Tahun 1999 dan Permenlhk 106/2018. Jenis satwa ini juga masuk ke dalam Appendiks I CITES yang menandakan bahwa spesies ini dilarang untuk diperdagangkan di kancah internasional. Selain perdagangan dan perburuan satwa liar, satwa liar ini juga terancam oleh perambahan hutan.

Manajer Senior Resilensi Habitat YIARI Robithotul Huda menyatakan bahwa keberadaan biodiversitas, termasuk kambing-hutan sumatera ini adalah penanda hal baik bagi ekosistem alami di Provinsi Lampung. “Keberadaan biodiversitas disana adalah salah satu indikator bahwa kesehatan hutan dan keamanan kawasan hutan masih terjaga dengan sangat baik. Dengan intervensi yang dilakukan oleh tim dari KPH Batutegi dan YIARI seperti patroli kawasan, pendampingan masyarakat, dan edukasi ke seluruh lapisan masyarakat, keasrian hutan dapat kita pertahankan.” Jelasnya.

Upaya konservasi spesies kambing ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal ini dapat dicapai dengan kolaborasi antar pihak dalam perlindungan habitat, pencegahan ancaman bagi biodiversitas, hingga edukasi bagi masyarakat supaya semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan tergerak untuk turut melindungi satwa langka ini.

Lomba Cepat Tepat “Hutan dan Kehidupan”: Bersama Young Forester Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Generasi Muda

Dalam rangka memberi pendidikan dan penyadartahuan lingkungan kepada generasi muda, terutama generasi Z di Provinsi Lampung, Young Forester mengadakan kegiatan rangkaian Lomba Cepat Tepat (LCT) dan Workshop “Hutan dan Kehidupan”. Young forester adalah organisasi binaan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung yang terdiri dari rimbawan dan staf muda lembaga pemerintahan. Tahap penyisihan LCT dilakukan pada 11 Desember secara daring, dan babak final pada 14 Desember 2023 di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Bandar Lampung. Kegiatan LCT ini didukung oleh berbagai pihak dan instansi di masyarakat, meliputi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP), Rainforest Alliance, Pertamina, dan Tanggamus Electric Power. Kompetisi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa di tahun sebelumnya yaitu Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” di Kabupaten Tanggamus, Lampung. 

Mengingat kegiatan lomba cepat tepat yang sukses dan berdampak bagi para peserta yang diadakan pada tahun sebelumnya, pada tahun ini Dinas Kehutanan Provinsi Lampung mengajak Young Forester untuk melakukan suatu kegiatan positif dengan tetap mengutamakan unsur konservasi didalamnya, sehingga diadakannya kembali kegiatan Lomba Cepat Tepat pada tahun ini dengan isu dan keragaman hayati di seluruh hutan Provinsi Lampung. Dari 56 tim yang terdiri dari 3 orang per sekolah yang mendaftar di babak penyisihan online, sebanyak 30 tim lolos ke dalam babak perempat final.

Suasana saat pertandingan perempat final Lomba Cepat Tepat “Hutan dan Kehidupan” (Fattreza Ihsan | YIARI)

Di babak final, SMA Negeri 2 Kota Agung berhasil menyabet juara pertama. Disusul oleh SMA YP Unila yang meraih juara kedua dan SMA Negeri 1 Purbolinggo yang meraih juara ketiga. Salah seorang anggota tim yang mewakili juara pertama ini, Frenika Rorensia mengungkapkan kesannya mengenai bagaimana ia mendapatkan pengalaman dan ilmu baru yang ia tidak dapatkan di sekolah ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba ini.

“Saya menjadi lebih paham mengenai isu perubahan iklim, karena kami mempelajari lagi mengenai perubahan iklim untuk mengikuti lomba ini. Ada beberapa hal yang tidak dipelajari di sekolah mengenai isu perubahan iklim, seperti materi mengenai SDGs (Sustainable Development Goals)”, ujar Franika.

Momen Pemberian Piala dan Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung,  Ir. Yanyan Ruchyansyah, M.Si., kepada para peserta dari SMA Negeri 2 Kota Agung (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kesan dari peserta LCT ini juga sejalan dengan tujuan kegiatan yang disampaikan oleh Eko Prasetyo, S.Hut., Penyuluh Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung selaku Ketua Pelaksana LCT ini, dimana kesadaran mengenai isu lingkungan harus segera disampaikan kepada para generasi muda. “Sebagai penyuluh kehutanan, dalam menghadapi generasi generasi muda, terutama anak sekolah, kita harus bisa menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga hutan itu penting bagi mereka, secara tidak langsung,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan sarana untuk mendekatkan pendidikan konservasi kepada masyarakat muda di Lampung.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah, M.Si., momen kegiatan LCT ini juga menjadi strategi dalam mendorong pengembangan staf muda Dinas Kehutanan yang tergabung dalam organisasi Young Forester ini. “Tanpa adanya batasan fungsi, tanpa adanya batasan atasan-bawahan, saya harap kegiatan ini mampu mengeksplor potensi-potensi para staf muda kami. Karena merekalah yang nantinya akan memegang jabatan penting dalam pemerintahan sebagai ASN,” tegasnya.

Kegiatan LCT “Hutan dan Kehidupan” ini kemudian ditutup dengan workshop dari lembaga swadaya masyarakat yang beroperasi di Sumatera. Di antaranya ialah pemaparan dari YIARI, WCS-IP, Rainforest Alliance, serta komunitas Pramuka Saka Wanabakti. Masing-masing lembaga memberi penyuluhan dan penyadartahuan terkait bidang-bidang kerjanya bagi para siswa SMA/SMK yang hadir di acara ini.

Hutan Kalimantan, Habitat bagi Primata di Indonesia

Halo Sobat #KonservasYIARI!

Tentu Sobat tahu ya bahwa hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia, hal ini disebabkan karena luasnya lho!  menurut BPS dikutip dari databoks.katadata.co.id luas hutan Kalimantan tahun 2021 mencapai 28.526.033 ha.

Berbagai jenis pohon tumbuh disana, bahkan orang lebih mengenal hutan Kalimantan dengan sebutan Borneo. Borneo berasal dari nama pohon Borneol yang banyak tumbuh di hutan Kalimantan. 

Tidak heran jika hutan Kalimantan menjadi habitat berbagai jenis satwa liar khususnya bagi primata. Mulai dari primata kecil hingga primata besar seperti orangutan.  

Banyak jenis primata membutuhkan pepohonan yang tinggi untuk beraktivitas, mencari makan, membuat sarang, dan bermain. 

Namun sangat disayangkan Sobat, tidak banyak masyarakat yang mengetahui jenis-jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan. 

Oleh sebab itu, yuk kita simak berbagai jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan!

1. Bekantan

Bekantan merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan yang banyak ditemukan pada ekosistem gambut seperti hutan mangrove, rawa, dan hutan pantai. Monyet dengan ciri-ciri khas hidung yang panjang ini memiliki nama ilmiah Nasalis larvatus

Bekantan (Nasalis larvatus) (Gazagazasanid / CC BY-SA 4.0 DEED)

Bekantan juga sering disebut monyet belanda, mungkin karena rambutnya berwarna cokelat kemerahan ya Sobat. Bekantan juga merupakan primata diurnal dimana banyak melakukan aktivitas di siang hari. Selain itu, bekantan merupakan perenang yang ulung karena memiliki selaput kulit seperti katak pada bagian telapak kaki dan tangannya.

Ohiya Sobat, saking bangganya karena memiliki primata endemik dan unik ini, bekantan dijadikan landmark Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Patung setinggi 6,3 meter ini dibuat di tepi Siring Sungai Martapura. Bahkan bekantan dijadikan maskot salah satu tempat rekreasi, yaitu Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta. 

Monumen Bekantan di Banjarmasin (Astari28 / CC BY-SA 4.0 DEED)
Maskot Dunia Fantasi, Jakarta (Putra15894 / Lisensi Dokumentasi Bebas GNU)

Namun sayangnya menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan bekantan kini terancam punah (endangered), tentu salah satu penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan hutan. Padahal ya Sobat, bekantan ini memiliki fungsi sebagai pengatur silvikultur hutan dengan memakan daun dan pucuk pepohonan.

2. Orangutan 

Orangutan merupakan kera besar yang hanya berada di Asia, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia habitat orangutan hanya berada di hutan Sumatra dan Kalimantan, loh!

Hutan Kalimantan menjadi habitat salah satu jenis orangutan, yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Tahu gak Sob? Orangutan Kalimantan merupakan hewan arboreal terbesar di dunia loh! 🤩

Orangutan kalimantan / bornean orangutan (Pongo pygmaeus) (matthewkwan, some rights reserved (CC-BY-ND) / iNaturalist)

Orangutan kalimantan memiliki ciri fisik rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan, dengan gradasi warna pada wajah dimulai dari merah muda, merah hingga hitam. Primata endemik hutan Kalimantan ini memiliki lengan yang panjang serta jakun yang besar untuk mengeluarkan suara yang besar memanggil rombongan orangutan. 

Keberadaan orangutan kalimantan menurut IUCN kini kritis di alam (critically endangered). Sedih sekali ya Sobat! Kalau kita lihat orangutan dan hutan memiliki hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Orangutan berperan sebagai penyebar biji-bijian dan membantu pepohonan di hutan untuk beregenerasi. 

3. Kukang

Kukang merupakan primata yang dijuluki satwa yang lucu dan menggemaskan, padahal Sobat kukang itu merupakan satwa berbisa. Kukang memiliki cairan bisa dilengannya dan taring yang tajam. Apabila bisa tersebut tersalurkan ke tubuh manusia melalui gigitannya dapat menyebabkan demam dan pembengkakan.  

Di Pulau Kalimantan terdapat tiga  jenis kukang, yaitu kukang kalamasan kalimantan (Nycticebus menagensis), kukang kalimantan (Nycticebus borneanus), dan kukang kayan (Nycticebus kayan).

Kukang kalimantan / bornean slow loris (Nycticebus menagensis) (Phil Benstead, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Status konservasi dari ketiga jenis kukang yang hidup di hutan Kalimantan ini adalah rentan (vulnerable). Waduh jangan sampai status konservasi ini naik ya Sobat!

Kukang merupakan satwa nokturnal yang sangat menyukai sari bunga kaliandra. Kukang memiliki peran penting bagi ekosistem sebagai pengendali hama serangga, membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan.

Sekarang ini masih banyak masyarakat Indonesia yang menyamakan kukang dengan kungkang lho! Tentu mereka berbeda ya. Coba Sobat lihat gambar berikut ini untuk melihat perbedaan kukang dan kungkang. 

Kukang kayan / kayan river slow loris 
 (Nycticebus kayan) (mike_hoit, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Kungkang / sloths (Travis Kurtz, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

4. Owa

Owa merupakan kera kecil yang setia lho! Owa merupakan satwa monogami, setia dengan pasangannya. Owa banyak menghabiskan waktunya di atas pohon atau biasa disebut satwa arboreal. 

Jenis owa endemik Pulau Kalimantan adalah owa kalawat (Hylobates muelleri). Wilayah sebarannya berada di bagian tenggara dan timur Pulau Kalimantan, tepatnya di sebelah timur Sungai Barito, Kalimantan Selatan hingga sebelah utara Sungai Karangan, Kalimantan Timur. 

Owa kalawat / Müller’s bornean gibbon (Hylobates muelleri) (Mike Prince / CC BY 2.0 DEED)

Owa kalawat menyukai kanopi hutan yang rapat, hal ini disebabkan Ia suka sekali berayun (brankiasi). Owa kelawat memiliki suara yang unik hal ini berguna untuk mempertahankan wilayahnya.

Primata endemik ini memiliki tubuh yang ditutupi oleh rambut berwarna cokelat atau abu-abu dan dilengkapi dengan alis yang berwarna terang.

Menurut IUCN, owa kalawat kini terancam punah (endangered). Banyak mitos-mitos mengenai obat-obatan yang berasal dari owa kalawat menjadikan satwa ini banyak diburu. Alasan lain yang membuat populasi spesies ini menurun ialah deforestasi.

5. Lutung

Jenis lutung yang hidup di hutan Kalimantan adalah Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus). Lutung kelabu merupakan monyet yang hidup arboreal dengan ciri-ciri memiliki rambut tubuh berwarna hitam dengan ujung warna putih atau kelabu. 

Lutung kelabu / silvered lead monkey (Trachypithecus cristatus) (Wilson Yau, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Eits Sobat, faktanya bayi lutung kelabu memiliki warna rambut oranye lho! Seiring masa pertumbuhan warna tersebut berubah menjadi kelabu. 

Bayi lutung kelabu (Wilson Yau, some rights reserved (CC-BY-NC) / iNaturalist)

Lutung kelabu merupakan lutung berukuran sedang dengan status konservasi menurut IUCN adalah rentan (vulnerable). Salah satu penyebabnya adalah masyarakat menganggap lutung kelabu adalah hama. 

Ohiya Sobat, lutung juga diangkat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia, yaitu Lutung Kasarung. Siapa disini Sobat yang pernah mendengar cerita rakyat tersebut?

Itulah Sobat beberapa jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan, sebenarnya jika kita ulik lagi masih banyak loh! Jadi tidak heran ya jika hutan Kalimantan menjadi habitat bagi primata.

Namun sangat disayangkan hampir seluruh jenis primata yang hidup di hutan Kalimantan berada dalam status konservasi yang sangat mengkhwatirkan. Jadi sudah menjadi tanggung jawab kita untuk turut serta dalam menjaga kelestarian hutan dan tentunya primata di Indonesia. 

Bayangkan Sobat jika hutan rusak atau hilang? Tentu satwa liar di dalamnya juga akan hilang dan punah, lho! 😨

Referensi : 

  1. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/04/29/sebuah-ikon-dari-banjarmasin-patung-bekantan 
  2. https://pantaugambut.id/kabar/rasau-dan-bekantan#:~:text=Dalam%20ekosistem%20gambut%2C%20bekantan%20memiliki,yang%20kemudian%20tumbuh%20semakin%20lebat
  3. https://prcfindonesia.org/bekantan-monyet-unik-dari-pulau-kalimantan/
  4. https://museum.biologi.ugm.ac.id/2023/08/29/tiga-perbedaan-fisik-spesies-orang-utan/
  5. https://betahita.id/news/lipsus/5814/tiga-spesies-orangutan-indonesia-begini-ciri-khasnya-.html?v=1608672443
  6. https://kukangku.id/jenis-jenis-kukang-di-dunia-7-jenisnya-hidup-di-indonesia/
  7. https://yiari.id/kukang-dan-tantangan-konservasinya/#:~:text=Kukang%20memiliki%20peran%20penting%20di,atau%20tumbuhan%20hutan%20itu%20sendiri.
  8. https://gardaanimalia.com/owa-kelawat-primata-endemik-kalimantan-yang-terancam-punah/ 
  9. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Lutung_Kelabu#:~:text=Lutung%20Kelabu%20atau%20dalam%20nama,ujung%20warna%20putih%20atau%20kelabu
  10. https://kalsel.antaranews.com/berita/115812/lutung-primata-eksotik-penghuni-baru-camp-riset-tim-roberts 
  11. Featured image: Gunung Lumut, Kalimantan Timur; Jan van der Ploeg / CC BY-NC-ND 2.0 DEED

Elif Ivana Hendastari