Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Keberhasilan Rescue Dugong di Perairan Pulau Cempedak, Ini Kisahnya!

Seekor dugong betina yang diberi nama “Fitri” berhasil diselamatkan setelah secara tidak sengaja terjerat jaring nelayan di perairan Pulau Cempedak, Kecamatan Kendawangan Kiri, Kabupaten Ketapang, pada Jumat, 31 Januari 2025.

Penyelamatan ini dilakukan berkat laporan cepat dari seorang nelayan bernama Supardi, yang langsung menginformasikan kejadian tersebut kepada pihak terkait. Respons sigap dari tim gabungan pun memungkinkan proses evakuasi dan penyelamatan berjalan lancar.

Seperti apa kisah penyelamatan mamalia laut ini? Simak cerita lengkapnya berikut!

Nelayan dan Respons Cepat Tim Gabungan

Nelayan dan tim gabungan sedang melakukan diskusi terkait rescue dugong (Yayasan WeBe)

Dugong merupakan salah satu mamalia laut yang dilindungi karena populasinya terus menurun. Ancaman terhadap spesies ini berasal dari berbagai faktor, seperti perburuan liar, kerusakan habitat, dan aktivitas manusia lainnya di laut.

Oleh karena itu, penyelamatan dugong “Fitri” menjadi momen penting dalam mendukung upaya konservasi satwa laut di Indonesia.

Supardi, nelayan yang pertama kali menemukan dugong terjerat jaringnya, segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Laporan ini kemudian ditindaklanjuti oleh tim gabungan yang terdiri atas Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan WeBe Ketapang, Lanal Kendawangan, serta Pokdarwis Cempedak Jaya.

Setibanya di lokasi, tim langsung melakukan proses evakuasi dengan pendekatan yang mengutamakan keselamatan satwa. Dugong yang terjebak jaring berisiko mengalami stres berat (shock) atau luka serius jika tidak segera ditangani secara hati-hati.

Setelah berhasil dibebaskan, “Fitri” kemudian dipindahkan ke area yang lebih aman untuk menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tenaga ahli. Proses ini penting guna memastikan kondisi fisiknya sebelum diputuskan apakah dugong tersebut layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.

Pemeriksaan Kesehatan “Fitri”: Dugong yang Kembali Diselamatkan

Proses rescue dugong dilakukan oleh nelayan, dokter hewan, dan tim gabungan di perairan Pulau Cempedak (Yayasan WeBe)

Untuk memastikan kondisi kesehatan sebelum dikembalikan ke laut, dugong betina bernama “Fitri” menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh dokter hewan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), drh. Fina Fadiah.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Fitri berada dalam kondisi cukup baik dan tidak mengalami cedera serius yang mengancam keselamatannya. Menariknya, dari hasil identifikasi fisik dan pencocokan data, diketahui bahwa ini bukan kali pertama Fitri diselamatkan.

Berdasarkan pemeriksaan, dugong ini merupakan individu yang pernah kami tangani pada April 2024. Fakta bahwa ia kembali muncul di perairan Pulau Cempedak menunjukkan bahwa kawasan ini masih menjadi habitat penting yang harus terus kita lindungi,” jelas drh. Fina.

Karena tidak ditemukan indikasi penyakit atau cedera yang memerlukan perawatan lanjutan, tim memutuskan bahwa Fitri sudah layak untuk segera dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Pelepasan “Fitri”: Upaya dalam Konservasi Dugong

Tim rescue sedang mempersiapkan diri di kapal (Yayasan WeBe)

Setelah dinyatakan dalam kondisi stabil, Fitri dikembalikan ke habitat alaminya pada Sabtu, 1 Februari 2025, pukul 13.00 WIB. Proses pelepasan dilakukan secara hati-hati untuk meminimalkan stres pada satwa tersebut.

Fitri tampak berenang perlahan menjauh dari pantai menuju perairan lepas, menandai keberhasilannya kembali ke lingkungan yang lebih aman.

Pelepasan ini menjadi bukti konkret keberhasilan kolaborasi lintas sektor dalam upaya konservasi mamalia laut yang dilindungi. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cempedak Jaya, Hartono, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan ini.

Hari ini kami berhasil melepaskan dugong dalam kondisi sehat. Kami sangat berterima kasih kepada YIARI, Yayasan WeBe Ketapang, Lanal Ketapang, serta Penjabat Kepala Desa Kedawang Kiri atas dukungannya. Momen ini sungguh berharga bagi kami,” ujarnya.

Senada dengan itu, Apriliyanto, Bintara Pembina Potensi Maritim (Babinpotmar) Pos TNI AL Kendawangan, turut menyampaikan apresiasi terhadap sinergi antara tim penyelamat dan masyarakat.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga binaan Kampung Nusantara Pulau Cempedak. Dukungan mereka sangat berperan dalam keberhasilan pelepasan ini,” katanya.

Pelepasan dugong Fitri bukan hanya menandai keberhasilan sebuah misi penyelamatan, tetapi juga menjadi simbol harapan bahwa dengan kerja sama dan kepedulian, pelestarian satwa laut dapat terus diwujudkan. Upaya seperti ini merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia bagi generasi mendatang.

Peran Masyarakat dalam Melindungi Dugong

Penyelamatan dugong “Fitri” menjadi pengingat penting akan urgensi menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan. Dugong merupakan spesies yang dilindungi karena memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem lamun—habitat laut dangkal yang menjadi sumber utama makanannya.

Jika populasi dugong menurun drastis, keseimbangan ekosistem lamun pun akan terganggu, dan hal ini dapat memengaruhi keberlangsungan hidup biota laut lainnya.

Sawalludin, penyuluh perikanan setempat, menekankan pentingnya keterlibatan aktif nelayan dalam upaya pelestarian dugong. Ia mengimbau masyarakat pesisir untuk segera melaporkan apabila menemukan dugong yang terperangkap jaring.

Kami mengimbau masyarakat agar segera melapor saat menemukan dugong tersangkut jaring. Jika masih hidup, penanganan cepat sangat diperlukan untuk menyelamatkannya. Namun, jika sudah mati, penanganan tetap harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” jelasnya.

Apa yang dilakukan oleh Supardi—nelayan yang dengan sigap melapor saat menemukan dugong terjerat—merupakan contoh nyata dampak positif dari kesadaran dan kepedulian masyarakat. Keterlibatan aktif warga pesisir sangat dibutuhkan agar dugong, sebagai spesies yang rentan punah, tetap bisa hidup dan berkembang biak di habitat alaminya.

Harapan ke Depan untuk Konservasi Dugong

Keberhasilan penyelamatan dugong “Fitri” membuktikan pelestarian spesies laut yang terancam punah masih sangat mungkin dilakukan, asalkan ada kerja sama yang kuat antara masyarakat, organisasi konservasi, dan pemerintah.

Meski begitu, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah minimnya edukasi tentang cara penanganan dugong yang terjebak jaring serta lemahnya perlindungan terhadap habitat alaminya dari aktivitas manusia seperti perusakan lamun dan pencemaran laut.

Kesadaran masyarakat pesisir untuk bertindak cepat saat melihat dugong dalam bahaya menunjukkan masyarakat memegang peranan penting dalam upaya konservasi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen jangka panjang untuk menjaga ekosistem laut, baik melalui pengurangan aktivitas yang merusak lingkungan maupun melalui dukungan terhadap program-program konservasi yang telah dijalankan.

Mari bersama-sama menjaga laut kita, agar tetap menjadi rumah yang aman bagi dugong dan berbagai makhluk hidup lainnya yang bergantung pada kelestarian laut!

Pusat Belajar Bahari: Upaya YIARI Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Pulau Cempedak

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan kesadaran lingkungan di Pulau Cempedak, Kalimantan Barat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) membangun sebuah fasilitas edukatif bernama Pusat Belajar Bahari.

Proyek ini tidak dilaksanakan secara mandiri, melainkan melibatkan kolaborasi aktif dengan masyarakat lokal, para pemangku kepentingan setempat, serta mahasiswa magang dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi (FIST).

Peresmian Pusat Belajar Bahari dilaksanakan pada 27 Februari 2025 dan dibuka secara hangat oleh Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez. Dalam momen simbolis tersebut, pembukaan ditandai dengan penyingkapan tirai pada spanduk bertuliskan “Pusat Belajar Bahari”, sebagai lambang dimulainya perjalanan edukatif di kawasan pesisir ini.

Seperti apa kisah di balik pembangunannya? Simak selengkapnya di bawah ini!

Kolaborasi YIARI dengan BPSPL Pontianak

Pembangunan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak. Kepala BPSPL Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menyambut positif inisiatif YIARI dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta pelestarian lingkungan di wilayah pesisir tersebut.

Pemangku kepentingan hingga masyarakat lokal hadir dalam acara ini (Muffidz Ma’sum | YIARI)

“Hari ini kita bersyukur menyaksikan dimulainya sebuah inisiatif yang luar biasa, yakni Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak,” ujar Syarif dalam sambutannya.

Ia juga menekankan kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara YIARI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BPSPL Pontianak. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi contoh nyata kerja sama lintas sektor dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir.

Tak lupa, Syarif menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan proyek ini. Ia menilai para pendukung Pusat Belajar Bahari adalah individu maupun kelompok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan kelestarian lingkungan hidup.

Acara Dihadiri oleh Lebih dari 100 Orang Warga

Siapa sangka, pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak mendapat sambutan yang begitu antusias dari masyarakat setempat. Antusiasme tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir, yakni lebih dari 100 orang, terdiri atas sekitar 70 orang dewasa dan 30 anak usia sekolah.

Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan masyarakat terhadap inisiatif pembangunan Pusat Belajar Bahari.

Lebih dari sekadar menjadi audiens, warga juga terlibat aktif dalam sesi interaktif bersama tim edukasi dari YIARI, menunjukkan ketertarikan dan harapan besar terhadap masa depan pendidikan di wilayah mereka.

Pusat Belajar Bahari disambut baik oleh masyarakat (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Syarif menyebut acara tersebut sebagai momen yang sangat bermakna bagi warga Pulau Cempedak. Ia menyoroti tingginya semangat partisipasi yang ditunjukkan oleh masyarakat sejak awal hingga akhir acara.

Mulai dari sesi sambutan, pembukaan spanduk sebagai simbol dimulainya kegiatan, hingga pengenalan Pusat Belajar kepada masyarakat—semuanya menjadi momen yang penuh makna,” ungkap Syarif.

Sesi Membaca Membuat Acara Lebih Berwarna

Kemeriahan acara pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak semakin terasa dengan hadirnya sesi membaca buku. Buku-buku yang dibacakan merupakan hasil donasi dari Lina Katarsasmita—seorang ibu, guru, dan life coach yang telah lama berkontribusi dalam berbagai program edukasi YIARI.

Selain itu, beberapa koleksi buku juga berasal dari mahasiswa magang UKDW dan FIST yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini.

Sesi membaca ini disambut dengan antusias, terutama oleh anak-anak. Mereka terlihat begitu antusias mengikuti jalannya kegiatan, menjadikan momen ini sebagai salah satu sorotan utama dalam acara.

Seusai sesi membaca, tim edukasi YIARI melanjutkan dengan sesi storytelling, membawakan cerita-cerita yang tak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral dan edukatif tentang kehidupan dan lingkungan sekitar.

Sesi membaca bersama anak-anak di Pembukaan Pusat Belajar Bahari (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Sesi membaca ini disambut dengan antusias oleh warga, terutama anak-anak. Setelah sesi membaca selesai, tim edukasi YIARI juga mengadakan sesi story telling untuk membagikan cerita-cerita yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik, meningkatkan pemahaman tentang banyak aspek kehidupan dan alam sekitar.

Syarif menilai sesi interaktif seperti membaca dan bercerita tidak hanya memperkaya acara secara emosional, tetapi juga memperkuat nilai edukatif dari inisiatif Pusat Belajar Bahari.

Kegiatan ini semakin berwarna dengan kehadiran tim edukasi YIARI, interaksi yang menyenangkan bersama anak-anak, serta pembacaan buku-buku donasi dari Ibu Lina,” ujar Syarif. Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi seperti inilah yang menjadi kunci keberhasilan sebuah program berbasis komunitas.

Pusat Belajar Bahari Jadi Ruang untuk Tumbuh Bersama

Kehadiran Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak diharapkan menjadi langkah nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan masyarakat pesisir. Melalui fasilitas ini, warga memiliki ruang untuk belajar bersama, memperluas wawasan, membangun jejaring sosial, dan tumbuh sebagai komunitas yang peduli terhadap lingkungan dan masa depan bersama.

Sesi interaksi bersama anak-anak di Pembukaan Pusat Belajar Bahari (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Harapannya, pusat pembelajaran bahari ini bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus belajar dan tumbuh bersama, serta semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut,” ujar Syarif.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Semoga ini menjadi langkah awal dari banyak hal baik yang akan datang,” tambahnya.

Melalui pengembangan ruang-ruang belajar yang inklusif, YIARI membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Di saat yang sama, kolaborasi menjadi fondasi utama dalam setiap program.

YIARI terus menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, untuk kesejahteraan generasi masa kini dan mendatang.

Featured image: Pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Pak Tono, Sang Local Hero Penjaga Habitat Satwa Laut di Pulau Cempedak

Tahukah kalian bahwa banyak sekali orang-orang hebat yang berjuang untuk kelestarian alam di tempat dia tinggal? Nah, salah satunya adalah Pak Hartono. Bisa dibilang, beliau ini adalah local hero bagi penggerak peduli lingkungan di tempatnya tinggal, yaitu di Pulau Cempedak. Di mana tuh? Kalian pasti kepo. Pulau Cempedak ini berjarak 53,9 km dari kota kecil Kendawangan yang terletak di bagian selatan Kalimantan Barat. Dengan perahu motor kecil, Pulau Cempedak bisa ditempuh dalam waktu 50 menit-1 jam. Penghuninya nggak banyak Sob, hanya 125 KK dengan total sekitar 300-an orang. 

Pulau Cempedak ini salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Ketapang, Kalbar. Andalannya adalah keindahan alamnya yang ciamik banget nih. Pasirnya putih, air lautnya biru dan jernih, dan kerennya lagi, pulau ini sering dilintasi satwa-satwa laut seperti dugong, lumba-lumba, pesut, bahkan sampai paus. Banyak wisatawan ke Pulau Cempedak untuk berenang, menyelam, snorkling, dan memancing. Buat penggemar seafood, Pulau Cempedak surganya. Ikan-ikannya masih fresh, belum lagi bisa menyantap kepiting dan lobster yang seger dan yummy banget.

Keindahan alam laut ini nggak Cuma bisa ditemui di Pulau Cempedak. Ada juga pulau-pulau lainnya di sekitarnya. Pulau Sawi, Pulau Bawal dan beberapa lainnya. Semuanya indah-indah dan satwa-satwa laut yang jarang banget terlihat, seperti dugong dan kawan-kawannya itu, sering mampir di perairan situ. Ternyata ada penyebabnya kenapa mereka suka mampir. Di Pulau Cempedak dan sekitarnya, masih banyak ditemukan habitat lamun, ini tuh semacam rumput laut yang menjadi rumah ekosistem bagi banyak satwa laut. Sayangnya, kata Pak Tono, keberadaan lamun mulai menyusut nih Sob.

Nah, Pak Tono, yang tahun ini berusia 40 tahun, kemudian mengajak temen-temennya sesama nelayan untuk mulai menjaga alam laut nih. Kebetulan beliau ini juga Ketua RT, jadi sosok kepemimpinan beliau ngaruh banget untuk menggerakkan teman-temannya. Lantas, beliau juga dipercaya menjadi ketua Pokdarwis Cempedak Jaya Ketapang yang terbentuk pada tahun 2020. Pokdarwis adalah Kelompok Sadar Wisata, yaitu komunitas masyarakat yang bekerja untuk meningkatkan pariwisata di daerahnya. Di Pulau Cempedak, komunitas ini terdiri dari para nelayan yang menjalankan pemanduan wisata bagi para turis. Komunitas ini awal mulanya terbentuk atas inisiasi Yayasan WeBe Konservasi Ketapang, mitra dari YIARI, yang bertugas untuk memantau dugong dan habitat satwa-satwa laut yang dilindungi dan terancam punah, yang masih banyak ditemukan di sekitar perairan Pulau Cempedak dan sekitarnya. Sejak itu, Pokdarwis Cempedak Jaya hingga sekarang menjalankan kegiatan pengembangan ekowisata, yang mendorong pariwisata yang mendukung kelestarian habitat satwa laut dan ekosistemnya, dengan cara patroli pemantauan dan memandu turis dengan memberikan edukasi dan penyadartahuan pada masyarakat turis untuk turut mendukung habitat dan satwa laut. 

Potret Pak Hartono di Pulau Cempedak (Rendi Afandi | YIARI)

Pasti kalian bertanya-tanya, apa yang mendorong Pak Tono ini segitu banget aktifnya berkegiatan menjaga alam. Pak Tono, yang memiliki 3 anak ini, sangat prihatin akan masa depan pulaunya. “Kondisi pasir di pulau Cempedak dan pulau-pulau sekitarnya mulai berkurang dibandingkan dulu saat saya kecil. Begitu pula dengan keberadaan lamun yang menjadi ekosistem bagi dugong dan satwa-satwa laut, yang mulai banyak berkurang. Tantangan lainnya adalah keberadaan sampah plastik. Kami belum menemukan solusi bagaimana mengurangi dan mengolah sampah-sampah plastik yang ada di pulau dan laut. Inilah yang menurut saya tantangan terbesar, yaitu mengubah kebiasaan masyarakat di pulau kami untuk meminimalisir penggunaan plastik,” ujarnya. 

Untuk mendorong kepedulian masyarakat, Pak Tono juga prihatin dengan kondisi pendidikan di pulau itu. “Saya merasa bahwa tantangan terbesar di pulau ini adalah mendidik generasi muda untuk lebih sadar lingkungan. Kondisi pendidikan di sini juga sangat minim. Untuk menyekolahkan anak setelah lulus SD, kami harus mencari sekolah di pulau Kalimantan. Dengan ketiadaan sekolah setingkat SMP ke atas, kami harus mendidik anak-anak di sini untuk menjaga lingkungan yang makin menurun kualitasnya,” kata beliau.

Untuk itulah, ia melihat bahwa melalui Pokdarwis, ia berupaya menjadikan komunitas Pokdarwis ini bisa membantu perekonomian masyarakat, sehingga mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya dan juga makin tercerahkan akan pemahaman menjaga lingkungan. Nah, kegiatannya apa aja sih Pokdarwis ini. Menurut beliau, kegiatannya saat ini masih terbatas menjemput turis dari Pulau Kalimantan di Kendawangan, kemudian membawa mereka berkeliling pulau-pulau sambil menjelaskan kekayaan alam di Pulau Cempedak dan sekitarnya, kemudian memasakkan kuliner laut bagi mereka. Tangkapan laut terbesar yang populer buat turis adalah lobster, ikan, dan kepiting. 

Di luar kegiatan pariwisata, Pokdarwis ini melakukan patroli di laut dua hari sekali, dengan perahu berisikan 3 orang. Total anggota Pokdarwis ada 23 orang, yang aktif patroli ada 18 orang. Dalam melakukan patroli, mereka mendata apakah ada kemunculan dugong, pesut, lumba-lumba, atau paus dan juga mendata temuan kematian satwa-satwa laut yang langka itu. Kelompok ini juga menghimbau masyarakat untuk menjaga keberadaan dugong dan mengubah kebiasaan lama masyarakat yang dulu masih suka mengonsumsi dugong. Sebelum Pokdarwis terbentuk, masih sering terjadi kematian dugong, bisa 3-4 ekor kematian di setiap awal dan akhir tahun. Kemudian pada tahun 2019-2020, tercatat 1 kali kematian dugong, dan tahun 2020 hingga sekarang, tercatat 0 kematian. 

Usaha keras Pak Tono ternyata berhasil mengantarkan beliau mendapatkan penghargaan, 1st Runner Up Local Heroes di International Ocean Award 2021. Kemudian Pokdarwis Cempedak Jaya berhasil masuk menjadi salah satu dari 23 finalis Ocean Award 2021. Ia berharap, dengan penghargaan ini, masyarakat makin termotivasi untuk menjaga alam di pulau, sehingga generasi muda masih bisa merasakan kembali bulan-bulan di mana para satwa laut itu hadir. Bulan-bulan seperti Agustus dan April, ketika musim berganti, sering kali mereka menemukan keberadaan dolphin, paus pemburu, pesut, yang melintasi perairan. Semoga anak cucu kita nanti masih bisa melihat keindahan ini ya Sob.

Dewi Ria Utari 

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.