Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kerja Sama International Animal Rescue (IAR) Indonesia dengan Taman Baca Inovator (TBI) dalam Pembukaan Perpustakaan Masyarakat Pertama di Desa Pematang Gadung

Selasa, 29 Agustus 2017. IAR Indonesia merampungkan kerjasama dengan Taman Baca Inovator (TBI) Indonesia, dalam komitmen untuk medukung pelaksanaan konservasi orangutan dan lingkungan hidup di Desa Pematang Gadung dengan membuka TBI yang diberi nama Alfred Russel Wallace. Sebagai bentuk seremonial dan pelibatan pihak pemerintahan terkait di tingkat desa dan kecamatan, dilaksanakan pembukaan perpustakaan yang dihadiri Camat Matan Hilir Selatan, Kapolsek Matan Hilir Selatan, Kepala Desa Pematang Gadung, Kepala sekolah SD dan SMP Setempat, Direktur IAR Indonesia, dan Manager Operasional TBI Indonesia.

Sejalan dengan komitmen Taman Baca Inovator untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan anak-anak di Indonesia dengan menyediakan akses buku bacaan yang berkualitas khususnya di wilayah yang membutuhkan, IAR Indonesia juga berharap taman baca ini menjadi akses pula untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan lingkungan hidup di Pematang Gadung. “Salah satu aspek untuk memberikan informasi yang baik dan benar tentang mencintai dan melindungi hewan seperti Orangutan dan Kukang adalah dengan memberikan akses bacaan buku untuk mengedukasi anak-anak umur 4-12 tahun, sehingga melalui buku-buku yang akan disediakan di Taman Baca Inovator Alfred Wallace, kedepannya akan menjadi investasi bagi anak-anak di Desa Pematang Gadung untuk terus memelihara dan menjaga wilayah tersebut sebagai konservasi Orangutan.” jelasYessi Chandra- Manager Taman Baca Inovator.

Selain itu, pada acara ini juga diberikan kesempatan bagi Camat untuk memberikan sambutan dan tanggapannya mengenai TBI yang baru pertama kali di bangun di Ketapang bahkan di Kalimantan Barat ini. “Saya sangat mendukung adanya Taman Baca ini, sebagai pusat edukasi lingkungan di desa Pematang Gadung, sehingga anak-anak punya kegiatan positif di desa ini” Ungkap Rahmad Rohendi, Camat Matan Hilir Selatan. Sependapat dengan Camat, kades pematang gadung juga mengungkapkan kegembiraan dan harapan yang besar agar TBI ini menjadi alternatif ruang edukasi bagi desanya.

Bersamaan dengan acara seremonial, juga dilakukan kunjungan dan peninjauan langsung oleh Camat dan jajaran pemerintahannya ke ruangan yang telah secara apik di desain oleh tim edukasi IAR dibantu orang lokal pematang gadung. Sejauh ini telah ada 250 judul buku yang di donasikan oleh TBI Indonesia dan akan terus ditambah terutama untuk buku-buku yang membahas tentang permberdayaan masyarakat dan penjagaan lingkungan hidup. “Kami dari IAR sangat apresiasi bantuan dari TBI dan berberapa teman lain seperti Ibu Lina yang menbantu untuk mendirikan perpustakaan ini. Pengetahuan sangat penting untuk kemajuan desa Pematang Gadung dan juga untuk memberi kesempatan kepada anak-anak Pematang Gadung untuk bisa lebih berkembang” Ungkap Karmele, Direktur Program IAR Indonesia.

Ikut meramaikan pembukaan, Pongo Rangers yang merupakan komunitas Lingkungan hidup binaan IAR Indonesia di Desa Pematang Gadung, menyampaikan pesan lingkungan mereka lewat penampilan seni. Adapun seni yang ditampilkan berupa syair gulung, tarian melayu dan teater pohon. Penonton yang juga terdiri dari anak-anak perwakilan SD dan SMP pun sangat antusias menyaksikan jalannya pembukaan ini.

Kedepannya perpustakaan ini juga akan menjadi ruang utama berkumpul untuk kegiatan edukasi lingkungan hidup yang dilaksanakan di desa pematang Gadung, termasuk kegiatan Pongo Rangers. Perpustakaan ini juga menjadi sarana untuk mendukung pogram IAR yang telah berjalan di Pematang Gadung, baik itu program edukasi, maupun perberdayaan masyarakat seperti biogas, pertanian organik dan ekowisata, terutama untuk penyediaan akses informasi berkaitan dengan program yang dilaksanakan.

Dengan dibukanya taman baca ini, diharapkan minat baca anak-anak dan masyarakat bisa meningkat. Selain itu, TBI ini bisa menjadi alternatif tempat untuk melaksanakan edukasi di Pematang Gadung. Dalam jangka panjang, TBI ini juga dipersiapkan untuk menyediakan berbagai informasi yang diperlukan masyarakat baik itu untuk pengetahuan umum sampai pengetahuan khusus seperti tentang pertanian organik ramah lingkungan dan potensi ekowisata.

PRESS RELEASE: PELEPASLIARAN ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus) “PELANSI” KE AREAL HUTAN PEMATANG GADUNG KALIMANTAN BARAT

Ketapang, Selasa 11 Desember 2012

          Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan Yayasan IAR Indonesia di Ketapang kembali melepasliarkan Orangutan setelah melewati masa rehabiitasi, “Pelansi” adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), pemberian nama ini memiliki cerita tersendiri dimana orangutan ini ditemukan di hutan dekat Dusun Pelansi Kuala Satung, Kabupaten Ketapang pada bulan April 2012 dalam keadaan menyedihkan dengan luka membusuk akibat jerat pemburu ditangan kanannya yang sangat serius dan nyaris terputus. Orangutan jantan ini diperkirakan sekitar 13 tahun, proses penyelamatan dari luka yang sangat serius menyebabkan tangan kanannya harus di amputasi sampai mendekati batas siku demi menyelamatkan hidupnya. Dari hasil pemeriksaan kondisi kesehatan dan pengamatan perilaku selama berada di Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan IAR Ketapang,  Pelansi dinyatakan siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di areal hutan Desa Pematang Gadung karena hutan asalnya sudah habis dikonversi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.  Selama proses pelepasliaran Pelansi dipasangi alat micro-chip berfungsi sebagai penandaan bahwa orangutan tersebut pernah dirawat di pusat rehabilitasi. 
             Direktur Eksekutif Yayasan IAR Indonesia drh. Karmele LIano Sanchez menyampaikan “Pelansi adalah Orangutan liar selama 12 tahun lebih hidup di hutan, jadi disegerakan setelah lukanya sembuh untuk segera dilepasliarkan kembali karena cacat mental akibat perburuan dan deforestrasi habitat lebih susah diobati dari pada luka fisik…” Dalam arti sebaiknya Orangutan yang berada dipusat rehabilitasi berasal dari penyelamatan dialam atau masih belum terlalu lama berinteraksi dengan manusia siap secara fisik dan mental untuk segera dilepasliarkan kembali kehabitat alami untuk mempertahankan sifat liarnya. Pelansi akan di monitor secara intensif untuk beberapa waktu oleh Tim dari Yayasan IAR Indonesia dan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA KalBar) – Seksi Konservasi Wilayah I Kabupaten.  Monitor ini adalah untuk mengetahui adaptasi Pelansi di habitat aslinya setelah beberapa waktu di rawat di pusat rehabilitasi. Metode yang di gunakan adalah dengan mengikuti aktivitas harian Pelansi mulai dari bangun tidur sampai kembali kepohon tidurnya dan untuk meyakinkan bahwa kondisi cacat yang di alaminya tidak berpengaruh banyak dalam beraktivits dan bertahan hidup di hutan.
        Banyak alasan Orangutan seharusnya hidup dihabitat aslinya tetapi berada di pusat rehabilitasi, diantaranya berasal dari serahan masyarakat setelah dipelihara atau hasil sitaan, akibat perburuan liar, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, penebangan liar, pertambangan, perdagangan ilegal maupun konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.  Berdirinya pusat rehabilitasi untuk merawat dan menyembuhkan orangutan yang sakit atau terluka, anak orangutan yang ditinggal induknya, selanjutnya dilatih agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan sehingga dapat bertahan hidup dan siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya.  Menyedihkan karena tidak semua orangutan yang ada di pusat rehabilitasi dapat dilepasliarkan kembali dengan beberapa alasan penting, seperti perilaku yang tidak mampu hidup kembali di hutan, faktor kesehatan atau penyakit permanen sehingga tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali.
         Faktor penting dilakukan upaya penyadartahuan dan edukasi terhadap masyarakat untuk bersama menjaga satwa langka dilindungi oleh Pemerintah ini adalah penegakkan hukum yang tegas melalui tertib peredaran terhadap perdagangan ilegal dan perburuan liar oleh Pemerintah yang didukung mitranya baik lembaga non-pemerintah dan partisipasi pihak swasta demi mendukung sukses upaya tersebut. Orangutan adalah jenis primata yang tercantum dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red List sebagai kategori satwa (Critically Endangered) sangat terancam punah, program rehabilitasi dan reintroduksi orangutan, digolongkan sebagai “Flagship Species”, yakni sebagai salah satu upaya dalam rangka mendukung pelestarian orangutan di habitat aslinya. 
             Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat memberikan dukungan penuh yang dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Kabupaten Ketapang dan Yayasan IAR Indonesia dalam upaya pelepasliaran orangutan Pelansi ke areal hutan Pematang Gadung.  dukungan penuh dari Drs. Hendrikus M,Si sebagai Bupati Ketapang Kalimantan Barat, beliau menyampaikan “hutan bukan saja penyaring udara tetapi juga menjaga keanekaragaman  hayati, dan saya tidak  ingin generasi mendatang  hanya mendapat cerita mengenai kelimpahan  sejumlah  spesies seperti Orangutan dongeng karena terbabat habis, serta jangan sampai anak cucu kita hanya mengetahui gambarnya  saja..”
Pemilihan areal hutan Pematang Gadung telah melalui tahap studi penilaian terlebih dahulu dan diketahui memiliki habitat dan daya dukung lingkungan yang sesuai sebagai lokasi pelepasliaran Pelansi.  Hutan Pematang Gadung di dominasi dengan tipe hutan rawa gambut dengan kedalaman lebih dari 5 meter dan memiliki nilai konservasi tinggi serta keanekaragaman flora dan fauna yang masih alami.
Informasi lebih lanjut, hubungi:
Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan
Yayasan IAR Indonesia, Kab. Ketapang
Tel./Fax:+62-(0)534-3038075
Balai Konservasi Sumber Daya Alam
(BKSDA) Kalimantan Barat
Seksi Konservasi Wilayah I Kab. Ketapang
Tel./Fax: +62-(0)534-31213